Mengurangi Produk Cacat

Mengurangi Produk Cacat

.

Saat memulai usaha, tak jarang orang melakukan uji coba. Memadukan beberapa bahan dijadikan satu olahan. Tak jarang pula, tidak sesuai harapan kita sebagai pengolah. Belum lagi, kalau menurut sang pengolah sudah mantap, tapi menurut konsumen kurang oke. Buktinya, pelanggan tidak pesan kembali. Repeat order adalah satu satu tanda/indicator, jika produk tersebut bermutu, sesuai kebutuhan pembeli.

Kalau uji coba terus bisa rugi? Betul. Definisi produk cacat dari Peneliti Teknik Industri di beberapa perguruan tinggi adalah produk yang gagal memenuhi standar spesifikasi yang disyaratkan oleh pelanggan, tapi masih dapat diperbaiki dengan biaya tertentu.

Jelas produk cacat akan menambah biaya. Bagaimana menghindarinya?

Sebagai contoh pebisnis pemula untuk menjual paket rending siap makan. Bumbu rempah-rempahnya mudah diperoleh. Ada kemiri, bawang putih, bawang merah alias brambang, cabe merah besar, cabe merah keriting, jahe, lengkuas, kunyit, ketumbar, pala, jinten, dan garam, kadang ditambahkan juga gula. Bahan utama tentu saja daging sapi dan santan kelapa.

Meski rending ini dikenal sebagai makanan khas Padang atau Sumatera Barat, namun sudah melegenda nasional bahkan mendunia. Tentu saja ada aneka rasa rendang sesuai dengan kearifan local. Saya mengenal rending di Kota Malang, rasanya dominan manis dan gurih. Tentu beda dengan rending asli Padang.

Ini yang bisa dijadikan target pembeli yang akan disasar. Racikan bumbunya tentu berbeda. Lain komposisi, lain rasa. Bagaimana agar tidak banyak produk cacat?

Perlu kita cermati resep mana yang dipilih. Proses bisnisnya seperti apa? Proses bisnis ini termasuk alir proses memilih bumbu, kompisisi dan memasak bumbu hingga matang.

Apa boleh pakai bumbu instan yang banyak dijual di pasar. Tinggal ambil sachetnya, ikuti petunjuk. Boleh saja. Itu pilihan. Namun, ada risiko. Bumbu sachet adalah hasil pabrikan yang punya potensi menjadikan rending yang diolah tidak memiliki kekhasan produk rending yang kita mau atau pelanggan mau. Apalagi jika kita ingin mendapatkan keunikan dan rending yang lain daripada yang kebanyakan.

Bagaimana dengan bumbu giling racikan yang tren sekarang ini? Relatif mudah. Tinggal bilang sama Abang penjual bumbu giling, dia yang ambil dan langsung dimasak sesuai prosedur. Ada risiko jika langsung kita pesan bumbu racikan rending, si Abang pakai kirologi alais perkiraan saat ambil bumbu giling. Rasa bisa tidak seragam. Bisa punya potensi produk cacat.

Ada cara yang bisa dikompromikan. Kita beli bumbu giling, tapi tidai dicampur langsung jadi satu. Pencampurnya adalah kita. Disesuaikan dengan resep awal yang kita punya. Sangat dianjurkan ditimbang sesuai komposisinya. Jadi, bumbu giling dibeli secara satuan. Ketika akan meracik, kita buat tabel racikan. Berapa gram bawang putih? Bawang merah? Dst. Bisa diikuti resep-resep yang telah dimiliki atau bisa merujuk pada referensi di Mbah Google (ini ekstremnya). Ketika bumbu telah usai dimasak, sebelum santan dan potongan daging dimasukkan, bubu bisa dirasakan terlebih dulu oleh beberapa orang. Jika ada kekurangan, maka bisa dicatat dan ditambahkan. Memang ada masalah jika ada satu bumbu yang kelebihan perlu siasat lebih. Bisa juga, dikuatkan pilihan rasa sesuai keinginan konsumen yang dibidik.

Cara tersebut, dapat mengurangi produk cacat. Bagian terpenting adalah pencatatan kurang, tambah bumbu, lama proses masing-masing tahapan. Pemilihan material kemasan dan suhu saat dikemas juga tak boleh luput dari pengamatan dan pencatatan. Karena catatan ini akan menjadi proses bisnis selanjutnya. Apalagi jika produk rending sudah bisa diterima pelanggan dan siap untuk diproduksi massal.

Upaya menurunkan produk cacat, berarti menambah potensi keuntungan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Beli atau Buat Sendiri

Beli atau Buat Sendiri

 

Ada warung di dekat salah satu sekolah favorit di Pondok Aren yang berjualan dengan menu dasar tunggal. Apa itu? Mi rebus atau mi goreng. Variannya dibedakan dengan segala macam teman si mi instan. Ada telor dadar. Telur rebus. Kornet. Baso. Atau pangsit bsah dan kering.. Minumnya ada yang dingin dan panas. Teman makan juga disediakan, krupuk dan gorengan.

Warungnya laris manis. Saya pernah mencoba menikmati bersama teman-teman setelah usai sebuah acara. Saya takjub. Ternyata mi gorengnya menggunakan mi instan produksi pabrik mi di Surabaya. Bumbunya juga pakai bumbu yang sudah ada dalam kemasan. Ia tak membuat bumbu baru. Kalau kita pesan Mi Goreng Kornet, maka ia pun mengambil kornet kaleng. Dia korek pakai sendok makan dan diaduk saat mi hasil tirisan dimasukkan mangkok. Jadilah mi goreng siap santap. Kadang dia menyiapkan cabe rawit diiris sebagai penambah rasa pedas.

Minumannya juga tidak ada yang dia buat dari nol. Sang penjual menggunakan minuman sachet yang dijual lazimnya di pasar. Kalau pingin Es Mangga, dia ambil sachet dari merek terkenal itu yang dia potong dan tuangkan serbuknya ke dalam gelas. Ia memang bilang, ini bukan mangga segar.

Gorengan juga begitu. Ternyata ia tidak menggoreng sendiri. Buktinya, kami tidak melihat wajan atau percikan minyak goreng di tembok. Kedainya Nampak bersih. Setelah, kami cek. Betul. Ia memesan dari tetangganya yang memang biasanya jual gorengan. Hanya saja ia memesan dengan irisan yang khas.

Abang ini sudah berjualan 3 tahun saat, kami mampir makan sore itu. Artinya ia survive. Usahanya bertahan. Ia bisa membayar 2 karyawan yang membantunya. Ia juga tidak pernah terlambat membayar sewa kedai mungil itu.

Fenomena ini banyak kita temui. Bahan yang kita jual, memang tidak harus membuat sendiri. Bisa jadi dengan pesan atau beli dari orang lain, bisa lebih efisien. Bisa meraup untung.

Gorengan misalnya, bisa dipesan dengan harga khusus. Misal, minta dibuatkan tempe kemul (tempe diselaputi tepung dan digoreng) dengan harga Rp. 500 per bijinya. Nanti kita bisa jual lagi dengan paket mi atau memang dijual ketengan (alias per pc atau per biji). Tak jarang kita lihat, orang makan mi rebus atau mi goreng, ambil tempe goreng atau tahu gorengnya, bisa 2-5 pc sekali makan.

Kenapa mi menggunakan mi instan bukan mi basah yang diolah dulu? Nha itu, penjual memanfaatkan salah satu ciri pembeli. Pembeli inginnya mi cepat saji. Kebetulan juga, ia tak perlu mengolah atau membuat bumbu. Sudah ada dalam kemasan. Satu paket dengan bungku mis instan. Belum lagi, rasanya standar. Ini juga keuntungan sendiri. Rasa yang seragam.

Yang terpenting konsumen diberikan pemahaman bahwa yang dia jual adalah mi yang berasal dari mi instan. Bukan mi masak dadakan. Nilai tambahnya di samping dari ongkos memasak dan juga ongkos mencuci piring. Bisa diambil dari ‘teman’ nya mi. Telur, kornet, baso, atau pangsit.

Harga mi instan, Rp. 2.500,- per bungkus, setelah dimasak dan ditambah variasi, dijual Rp. 10.000, – pun masih bisa diterima konsumen. Apalagi penyajiannya menarik.

Sehingga dengan menggunakan bahan yang kita beli semua bahan setengah jadinya, juga tidak menjadi masalah. Karena dalam usaha tujuan utama adalah mendapatkan keuntungan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Tak Punya Peralatan, Masalah Buatmu?

Tak Punya Peralatan, Masalah Buatmu?

 

Tantangan awal memulai usaha adalah alat yang tidak memadai. Betul? Kalau jawaban paling banyak adalah iya, maka jangan berkecil hati. Kita bisa menggunakan alat yang ada. Kalau benar-benar tidak memiliki, maka kalau mampu kita bisa beli. Masih tidak ada dana? Silakan menggunakan cara pertemanan atau hubungan darah. Pinjam ke saudara, teman atau tetangga. Kalau di kota besar, bisa jadi pinjam peralatan masak itu tidak lazim. Tapi, jika di daerah masih dimungkinkan.

Mendiang ibu saya, punya beberapa alat masak bahkan ukuran yang sekali masak bisa untuk 25 orang. Beliau dulu memang punya kegemaran memasak. Jika ada acara di desa atau kenduri tetangga, tak jarang, rumah kami jadi tempat masak. Ibu saya bertindak sebagai kepala juru masak.

Saat itu, peralatan masak yang terbilang lengkap tersebut, sering berpindah rumah. Alias dipinjam tetangga.

“Lha kalau untuk usaha, mosok pinjam?” begitu sergah salah seorang teman yang terkena PHK tapi punya keinginan usaha kecil.

Tentu saja, itu jika terpaksa. Pinjam pun bisa ke orang terdekat yang sangat mengenal pribadi peminjam. Lebih baik, jika kita membelinya. Pemblian alat produksi ini kita sebut investasi. Ini juga dihitung dalam biaya produksi.

Sahabat saya ini, berkeinginan berjualan nasi kebuli. Maklum, dia salah satu penggemar nasi olahan khas negeri Arab. Paduan beras agak panjang, ada lemak daging, rempah-rempah, di dalamnya ada potongan daging dan kurma. Setelah berpikir panjang, ia memulai dengan menjadi perantara, menjual kembali produk salah seorang anggota komunitas penggemar nasi kebuli. Tapi, ia mempunyai formula khusus. Kemasan ia sediakan dengan isi yang ia tentukan. Acarnya pun ia buat sendiri dengan penyesuaian. Ada potongan nanas muda, acar timur dan acar wortel. Ini cara cerdasnya. Kemasan nasi kebuli yang berbebtuk tampah untuk 4-6 orang. Ia ubah menjadi kemasan 1 porsi 1 kotak.

Setelah beberapa kali ia mendapatkan pelanggan dan mulai mendapatkan repeat order, ia memulai membuat mandiri. Memang masih dengan peraltan yang ada, menanak nasinya menggunakan rice cooker biasa. Rasa memang ia sadari, agak berbeda. Tapi potongan daging baik ayam, kambing, maupun sapinya ia olah sedemikian agar empuknya juga sama dengan proses pemasakah yang ditungku. Ia puny acara sendiri dengan menggunakan panci yang ada di rumah.

Peralatan bisa juga dimodifikasi dengan kapasitas yang kita rencanakan. Boleh saja membeli peralatan baru yang sesuai. Tapi tidak ada salahnya memanfaatkan yang kita punya.

Kapan kita harus investasi membeli peraltan yang sesuai? Tentu saja, ketika kapasitas produksi dengan peralatan yang ada sudah sangat tidak memadai dan menjadi tidak efisien.

Sebagai contoh penanak nasi dengan kapasitas 2 liter beras. Hasilnya setara 16 porsi nasi. Ketika mendapat order  30 porsi, menanak 2x masih bisa dikompromi. Waktu tunggu 30 menit, sekali tanak. Jika pesanan sudah 50 porsi, maka perlu dipikirkan membeli rice cooker yang lebih besar. Kenapa? Agar waktu tunggu tidak terlalu lama. Pelanggan tentunya mengingkan pesanan yang tidak terlalu lama. Maunya pesan, langsung ada dihadapan. Apalagi jika pesanan harus dikirim dengan fasilitas kendaraan. Butuh waktu lebih lama. Pembeli sudah ngeces alias ngiler dan tidak boleh dibairkan menunggu lama. Punya potensi, pelanggan pergi ke lapak lain, karena waktu saji yang terlampau lama. Itulah kenapa, menunggu adalah satu pemborosan. Pemborosan mengurangi keuntungan.

Jadi, mari mempertimbahkan peralatan produksi dengan seksama, agar bisa menambah profit.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Proses Bisnis, Apa Lagi Itu?

Proses Bisnis, Apa Lagi Itu?

 

Produk dengan kualitas konsisten itu salah satu harapan pelanggan. Bahkan, kadang dijumpai, pembeli tidak peduli dengan kenaikan harga ketika kualitas bisa kita jaga. Jika makanan, maka ‘rasa’ jadi kunci.

“Duh, kok rasanya beda dengan orderan kemarin?”, begitu bunyi WA yang masuk ke produsen.

Sang peracik makanan bisa dipastikan garuk-garuk kepala. Betap tidak, ia merasa sudah memasukkan bumbu dan aliran proses sama saja seperti hari berikutnya.

Kenapa bisa terjadi? Kadang ada yang dilupakan, tidak jarang orang mengandalkan ingatan. Boleh saja, tapi harus diakui, ingatan pun bisa pudar bahkan hilang. Belum lagi, ketika waktu tidak memadai dan membutuhkan orang lian, apa yang dibenak kita dan ditylarkan kepada orang lain bisa berubah. Itulah pentingnya proses bisnis.

“Walah, ini kan usaha masih kecil-kecilan, nggak perlu proses bisnis segala”, begitu alasan yang banyak didengar.

Kita harus berpikir bahwa otak kita ada batasnya. Belum lagi, kalau kapasitas membesar, kita butuh asisten. Kalau seudah begitu, kita membutuhkan semua tangan memiliki kemampuan yang relatif sama.

Proses bisnis itu sederhana. Membuat minuman kopi misalnya:

Beli biji kopi > disangrai > digiling > ditimbang > dimasukkan gelas > ditambah air panas > diaduk > disajikan.

Aliran proses tersebut ditulis. Ini kuncinya. Ditambahkan lagi. Keterangan tambahan pada tiap proses, misalnya lagi:

  • Saat membeli biji kopi (berapa % robusta, berapa % Arabica)
  • Proses sangria: disangrai dengan proses (api seberapa besar, berapa lama).
  • Penggilingan: dilakukan hingga menghasilkan butiran seberapa besar?
  • Satu sajian membutuhkan berat berapa gram kopi bubuk?.
  • Air yang diseduh, setelah mendidih ditunggu pada suhu berapa agar siap dituang dan rasa tidak berubah. Berapa mili untuk 1 sajian.
  • Proses pengadukan, apakah searah jarum jam, atau berlawanan arah jarum jam.

Itulah proses bisnis dan yang lebih penting dituliskan. Bisa di dalam buku tulis biasa. Atau dicetak dan delaminating. Yang penting saat siapa saja yang ditugaskan menyeduh kopi, melihat proses bisnis tersebut.

Idem ditto seperti meracik makanan yang lebih komplek. Bumbu yang dibutuhkan bisa belasan. Urutan proses akan sangat memperngaruhi rasa. Kadang, ada yang berpikir, lupa satu empon-empon, kemudian disusulkan pada akhir proses. Rasa bisa jadi berubah.

Proses bisnis yang ditulis akan memberikan rasa aman baik bagi pengolah atau yang ditugaskan memasak. Dan tentunya bagi pelanggan. Karena tidak ada lagi ilmu kirologi alias kiro-kiro (baca : kira-kira). Seperti apa itu? Ambil garam secukupnya dan taburkan saat air mendidih. Nha, kata ‘secukupnya’ ini sangat berbeda persepsi. Bagi seorang chef yang setiap hari melakukan mengolah makanan, bisa menggunakan jimpitan jarinya. Tapi bagi pemula, bisa jadi jimpitannya kebanyakan alias berlebih atau sebaliknya, kurang. Oleh karenanya, perlu ditulis, misal: 5 gram untuk 1 takar sajian.

Apalagi ketika membutuhkan asisten untuk mengolahnya, pembagiannya pun perlu ditulis. Si A melakukan proses apa hingga apa. Begitu juga si B dan seterusnya.

Namun, setelah proses bisnis ditulis. Harus dijaga kerahasiaannya. Karena ini salah satu rahasia dapur. Olahan resep yang bisa jadi menjadi master piece alias karya andalan sang produsen.

Proses bisnis itu bisa menjadi kunci keberhasilan, terutama untuk menjaga konsistensi mutu produk.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Aku Urus Semua

Aku Urus Semua

 

Memulai usaha memang tidak gampang. Melihat orang lain mulai jualan, nampak mudah. Apalagi ketika melihat pelanggannya berjubel. Laris manis. Pas didekati, ternyata jualan tahu goreng. Tahu pong. Dalam benak terbersit, ‘cuma tahu’, tapi yang beli rela antri. Apa susahnya: beli tahu, potong, goring, kemas. Kadang ada langsung yang mencontoh, tapi tak semudah apa yang dilihat. Memang semua hal pasti ada prosesnya. Ada jalan hingga seseorang mencapai suatu titik seperti itu. Antrian mengular.

Mari mengura dari jalur yang normal. Saat memulai usaha, semua urusan ditangani sendiri. Belanja bahan baku, persiapan, mengolah hingga pemasaran dan penjualan. Diurus sendiri semua. Apa masalah? Tidak juga. Selama masih dapat ditangani dan efisien, boleh saja.

Dini hari untuk mengolah bahan, pagi dijual, ada juga yang diantar sendiri ke pelanggan. Sorenya kulakan alias membeli bahan baku.

“Usaha saya masih kecil, apa mungkin menggunakan jasa orang lain?”

Sangat mungkin. Banyak contohnya. Tapi perlu dihitung untung ruginya. Kenapa begitu? Karena namanya usaha atau bisnis, maka semua upaya harus berujung keuntungan. Memakai jasa orang lain, bukan hal yang tabu. Dalam masa seperti ini, kolaborasi juga bisa menambah keuntungan. Ada orang yang jago produksi, tapi maaf, nggak jago jualan. Sebaliknya, ada orang, barang apa saja, kalau di tangannya, ludes terjual. Bertangan dingin.

Gambaran sederhana berjualan nasi pecel. Bumbu pecel dibuat sendiri. Racikan bumbu dapur, menyangrai kacang tanah, menumbuk dilakukan sendiri. Peyek teri dan kacang juga dibuat sendiri. Sayuran dibeli di pasar atau memetic sendiri di halaman. Misal kembang turi. Di masak sendiri. Di tata di atas nampan. Siap jualan. Menunggu pelanggan dating. Bagi orang yang baru pertama jualan, pasti menemui kesulitan. Baru dikenal. Orang lalu lalang belum menaruh perhatian. Bisa jadi ada satu dua yang mampir. Cocok. Cerita kepada yang lain. Ini seperti marketing gratis.  Orang yang menerima kisah pengalaman kita, ada yang tertarik, ada juga yang biasa saja. Jadi wajar juga, pas baru buka, dengan cara begitu, lapak jualan kita belum seramai yang ditargetkan. Kemungkinan besar butuh waktu relatif lama.

Apa mungkin usaha yang baru saya rintis, bisa ramai pembeli? Mungkin. Caranya kolaborasi. Sebagai contoh, bisa menggunakan sistem afiliasi. Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia:

afiliasi/afi·li·a·si/ n 1 pertalian sebagai anggota atau cabang; perhubungan

Itu lho, kita menggunakan jasa orang terdekat kita, pasangan, anak, keponakan, sahabat, teman satu sekolah untuk melakukan promosi usaha kita. Semacam salesman Jika kita mau jualan tahu pong, orang lain yang kita sebut afiliasi tadi kita berikan informasi produk kita. Apa keunggulannya. Bagaimana cara order nya. Sekalian membuka semacam pre-order. Kalau afiliasi kita punya 10 WAGroup, masing-masing katakanlah punya 100 anggota. Kita punya 15 orang afiliasi, maka aka ada 15.000 promosi. Artinya ada potensi, 15.000 pembeli. Jika saja kita pakai hitungan pesimis, 1% saja yang berminat membeli, maka ada 150 orang. JUmalh yang bisa dibilang lumayan buat pemula.

Ehm.. kalau begitu bisa juga dilakukan sendiri. Ada produsen yang Ketua Majelis Taklim, Ketua Pengajian Remaja Putri, Ketua Arisan, Ketua Ikatan Alumni, atau komunitas lainnya. Itu juga bisa dilakukan. Dari belanja, memasak, mengemas, dan jualan. Semua diurus sendiri. Termasuk promosi. Bisa juga. Pengantaran jarak pendek, dalam kota, bisa menggunakan jasa ojek online alias ojol. Pengiriman luar kota bisa menggunakan jasa kurir yang saat ini banyak pilihan.

Pilihan itu bisa dikaji dengan seksama. Yang terpening bagaimana produk dikenal, orang tertarik membeli, dan akhirnya menjadi pembeli dan pelanggan setia.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Surat Cinta

Malam ini mendapat surat cinta dari Coach Dr. Fahmi. Pesan beliau jelas dan bernas.

.
.
10 PROTOKOL PENDAMPINGAN BISNIS:
BUSINESS COACHING DAN MENTORING BISNIS

5 Aturan Umum
A. Jangan menyedot darah UMKM yang tinggal sedikit. Tapi alirkan darah UMKM agar mampu bertumbuh.

B. Pendampingan bisnis adalah kegiatan profesional dan dilakukan oleh tenaga profesional untuk membantu UMKM bertumbuh berkelanjutan.

C. Jangan mencari-cari klien dengan penawaran proposal berlebihan (hard proposal).
Jangan menciptakan ketergantungan berlebihan. Jangan memperalat klien untuk alat promosi berlebihan.

D. Kelas grounded bukan untuk mencari dan membidik klien. Boleh menemukan klien dalam lingkungan grounded.

E. 10 Protokol Pendampingan:
1. Asas dan prinsip dasar pendampingan bisnis bagi UMKM adalah ASAS MENOLONG. Pendampingan bisnis wajib mengutamakan asas menolong bukan membebani secara berlebihan. Berlebihan jika tdk proporsional dengan hasilnya.

2. Pendampingan bisnis hanya bisa dilakukan setelah beberapa dokumen berikut ditandatangani secara sah dan meyakinkan:
– MOU dan perjanjian
– TOR (term of reference)
– Kerangka Kerja Operasional
– Batas waktu
– Biaya tetap
– Objective and key result
– Honor dan jasa per tindakan dan hasil.

3. Pendampingan bisnis hanya boleh dilakukan oleh tenaga profesional dengan syarat:
– Berdasarkan modul acuan yang jelas
– Dengan RoadMap yang disetujui
– Proses dan Hasil bisa dilacak dan dievaluasi.

4. Coach dan Mentor pendamping wajib melayani secara seksama bukan menguras biaya operasional yang berlebihan. Meminta fasilitas yang wajar dan sdh disetujui dalam bagian perjanjian.

5. Proses pendampingan mengikuti pola yang sdh ditetapkan dengan fokus pada panduan 9 pilar bisnis dan 9 pilar leadership dengan 10 hasil statistik terukur.

6. Coachee dan Mentee dapat menperoleh layanan ekstra tanpa berbayar jika proses pendampingan belum menampakkan hasil nyata before after yang signifikan.

7. Coachee dan Mentee wajib disiplin menjalankan tindakan eksekusi dan tagih hasil brutal tanpa kompromi.

8. Caoch dan Mentor wajib menjaga komitmen layanan dan kualitas pendampingan yang berorientasi pada 10 hasil akhir yang terukur.

9. Semua bentuk jasa pendampingan bisnis wajib menghasilkan secara nyata 10 statistik terukur:
– peningkatan kinerja manajemen 1)
– pertumbuhan omzet dan asset 2)
– peningkatan produktifitas 3)
– menurunkan biaya 4)
– meningkatkan disiplin kerja 5)
– membangun budaya kerja unggul 6)
– meningkatkan daya saing 7)
– memperluas pasar 8)
– mempercepat pertumbuhan 9)
– meningkatkan skala bisnis 10).

10. Proses pendampingan dilakukan secara santun dan tdk melanggar etika. Menjaga martabat wanita dan menjaga kehormatan relasi antar manusia.

Malang 12 Juni 2021

Terima kasih
Coach Dr. Fahmi

Memerdekakan Pendidikan

Memerdekakan Pendidikan

Oleh : KH. Imam Zarkasyi *)

.

Pendidikan nasional kita sudah seharusnya memasukkan pendidikan jiwa merdeka, mewujudkan kepribadian sebagai warga negara yang sudah merdeka. Pendidikan ini merupakan kebalikan dari jiwa pendidikan kolonial yang hanya menyiapkan peserta didik menjadi pegawai.

.

Cita-cita anak didik yang hanya ingin menjadi pegawai, membuat mereka tak mampu membuka mata, untuk melihat apa yang harus dikerjakan, dan harus dipikirkan. Selain sekedar menjadi pegawai. Kita sudah lama merdeka. Seharusnya sudah ada perubahan. Bahkan pembaharuan dalam jiwa pendidikan.

.

Ada beberapa kerusakan mental dari pendidikan kolonial.

  1. Orang yang sudah bersekolah tak mau bekerja kalau tidak menjadi pegawai. Mata hatinya pun tertutup dan pikirannya buntu. Tidak melihat dan mengerti pekerjaan maupun usaha yang masih amat banyak dan sangat bermanfaat dikerjakan.
  2. Anak atau pemuda yang tidak diangkat atau tidak mendapat tempat dalam kepegawaian, akan kecewa dan frustasi. Yang lebih berbahaya jika kekecewaan ini menggerakkan mereka melakukan hal-hal yang merusak dan merugikan. Seperti menjadi pencopet, penggedor, penipu, atau menuntut-nuntut, dan lain-lain.
  3. Apabila mereka sudah diangkat menjadi pegawai dan sudah meraih cita-citanya itu, mereka pun mati. Tidak berbuat apa-apa jika tidak diperintah atasannya. Tidak melihat hal-hal yang masih dapat dikerjakan dan diusahakan untuk kepentingan pribadi, masyarakat, dan negara.
  4. Lemahnya perekonomian bumiputera. Karena anak-anak pribumi yang bersekolah hanya bercita-cita menjadi pegawai, tidak berpikir dan tidak mengetahui usaha-usaha perekonomian kecil dan menengah yang masih dapat dikerjakan, akhirnya perekonomian dan perdagangan kecil dan menengah dalam negeri pun sekarang ini masih dipegang orang-orang non pribumi yang tidak bersekolah. Apa sebabnya? Karena mereka tidak mungkin dan tidak ingin menjadi pegawai.

.

Ada sedikit kalangan orang bumiputera yang tidak sekolah, lalu berhasil memegang peranan dalam ekonomi. Kemudian mereka mulai menyekolahkan anaknya agar usahanya dapat meningkat. Tetapi ternyata, sesudah anak itu lulus sekolah, sangat sedikit atau bahkan tak ada yang mau meneruskan usaha orang tuanya. Mereka lebih senang menjadi pegawai, karena banyak menganggap bahwa menjadi pegawai kedudukannya lebih terhormat, dan penghidupan akan lebih terjamin.

.

Bagaimana memberantasnya? Yang jelas, caranya dengan menanamkan pendidikan nasional yang jiwa bebas merdeka, memiliki keyakinan hidup, berkepribadian, berakhlak, dan berTuhan. Sejak pendidikan di lingkungan rumah tangga, taman kanak-kanak, hingga perguruan tinggi. Ada istilah wiraswasta. Istilah ini sering hanya diartikan sebagai pengusaha swasta yang sukses. Padahal sebenarnya yang harus diambil adalah jiwa kewiraswastaannya. Dalam kata-kata ini terkandung maksud kebebasan, kepribadian, dan keyakinan hidup.

.

Jiwa kewiraswastaan yang berdasarkan Pancasila dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), harus ditanamkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Andaikata sesudah itu mereka menjadi pegawai, in sya Allah mereka akan menjadi pegawai yang baik, yang dapat hidup tak sebagai alat yang mati.

.

.

*) KH. Imam Zarkasyi adalah salah satu pendiri Pondok Modern Darusalam Gontor,  Ponorogo, bersama KH. Ahamd Sahal dan KH Zainuddin Fananie. Lebih dikenal dengan Trimurti. Wafat di Madiun pada 30 April 1985 dalam usia 75 tahun.
Buah pena beliau ini dimuat di Majalah Gontor, Edisi 9 Tahun XVIII, Januari 2021.