Peningkatan Produksi, Penghematan Biaya

Peningkatan Produksi, Penghematan Biaya

 

Usaha meningkat itu dambaan semua pengusaha. Usaha mikro juga termasuk. Biasanya dikelola sendiri, diurus sendiri, sekarang melebarkan usaha. Peningkatan produksi bisa dengan penambahan kapasitas di rumah produksi sendiri. Menambah mesin atau orang yang dikaryakan. Atau bisa juga membuka cabang di beberapa tempat untuk memperluas distribusi.

Bukan perkara mudah. Beda tangan, beda hasil. Bisa saja itu terjadi. Namun sudah harus bisa ditangani dari sekarang. Oleh karenanya, proses bisnis dan prosedur bisa dituliskan tidak sekedar dalam ingatan. Banyak memang persiapannya. Tapi jangan sampai persiapan ini mengendurkan semangat.

Banyak hal yang bisa menjadi penyemangat. Di samping meningkatkan keuntungan, dengan peningkatan produksi ada kesempatan memberi peluang usaha bagi orang lain.

Peningkatan produksi atau biasa disebut scale up itu menambah keuntungan. Ya iyalah. Kan jualan tambah banyak, maka jumlah keuntungan lebih banyak. Ehm… yang dimaksud keuntungan ini, supaya sama pemahaman, adalah prosentasenya tau disebut margin nya.

Begini salah satu ilustrasinya. Kalau biasanya kita jualan 100 pcs, mendapatkan penghasilan, 1.000. Biaya pembelian bahan baku 600. Biaya operasional 100. Untung bersih 300. Prosentase keuntungan yang 300 ini dibandingkan dengan penghasilan (revenue) adalah 30%. Inilah yang disebut margin.

Scale up menjadi 1.000 pcs. Penghasilan 10.000. Penghasilan, naik 10 kali. Biaya pembelian bahan baku seharusnya naik 10x juga. Biaya operasional menjadi 1.000. Nha ini, yang menarik. Biaya bahan baku. Biaya pembelian bahan baku bisa turun. Kok bisa? Contoh sederhana, saat bila beli 1 kg telur harganya misal Rp. 25ribu. Kalau beli 10 Kg, biasanya ada diskon, katakanlah menjadi Rp. 23.500. Turun Rp. 1.500,- atau 6%. Lumayan. Jika beli lebih banyak lagi, malah bisa mendapatkan diskon lebih banyak. Bahkan ada kemudahan lain, misal: barang diantar ke rumah, pembayaran tunda, dll.

Coba kita tangkap saja peluang ini. Biaya bahan baku turun 4%, sehingga perhitungan menjadi :

Penghasilan                                        : 10.000,-

Biaya Pembelian Bahan Baku :   5.760 ,-

(sebelumnya 6.000 mendapat diskon 240 atau 4)

Biaya Operasional                               :   1.000,-

(dianggap naik juga 10x lipat, meski bisa juga dihemat)

Keuntungan bersih                              :   3.240,-

(naik 240 rupiah atau marjin dari 30% menjadi 32,4%)

Dalam hal ini marjin naik 8% dengan penghematan 4% pada pembelian bahan baku. Penghematan ini karena peningkatan kapasitas produksi atau scale up.

Disinilah manfaat scale up ada peluang penghematan biaya. Di samping mendapatkan kenaikan keuntungan karena penjualan bertambah, juga mendapatkan keuntungan tambahan dari penghematan biaya produksi dan lainnya.

Tapi bagaimana jika tempatnya berbeda dan berjauhan. Biaya pengangkutan bahan bisa naik juga. Memang betul. Inilah yang disebut kekuatan tawar. Harus pandai memanfaatkan bargaining power atau kekuatan tawar saat kebutuhan kita lebih banyak bahkan meningkat tinggi. Ketika seseorang beli sedikit kekuatan tawar akan lemah. Tapi saat membeli lebih banyak bahkan 10x, maka kekuatan tawar bisa dimainkan. Misal : beli ditempat yang sama, namun pada jarak tertentu, mendapatkan fasilitas biaya kirim gratis. Ini sering juga kita lihat pada toko atau supermarket. Belum lagi, dengan pengadaan yang besar, tak diperlukan pembayaran tunai. Tapi pembayaran tunda. Misal 30 hari setelah barang diterima. Dari perputaran dana ini punya manfaat. In sya Allah masih banyak lagi fasilitasnya.

Semoga menambah semangat meningkatkan produksi.

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Ukuran yang Pas, Keuntungan Naik

Ukuran yang Pas, Keuntungan Naik

 

Pernahkah saat membeli makanan ringan alias jajanan, bungkusnya besar? Saat dikonsumsi, terlewat mengontrol penutupnya. Eh.. pas ingin makan lagi, ternyata makanan di dalamnya melempem, ada semut. Intinya tidak sesuai harapan semula. Bahkan sisa yang di dalam bungkus itu kadang dibuang. Bagi pembeli ini tentu saja kerugian. Losses. Parahnya, pembeli tidak mengulang alias tidak mau membeli produk itu lagi. Konsumen tidak balik lagi adalah kehilangan terbesar dalam usaha.

Padahal sang penjual dengan kemasan yang lebih besar, bermaksud mengurangi harga, Maklum harga kemasan juga tidak murah.

Menentukan kemasan yang pas, sesuai kebutuhan pelanggan, bukan hal yang mudah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Menetapkan Target Pasar/Konsumen

Konsumen yang seperti apa yang akan disasar. Konsumen agen atau mau dijual lagi, atau ketengan alias kepada penikmat akhir, end-user?  Untuk anak-anak, orang dewasa, pria atau wanita? Kalau untuk agen atau akan dijual lagi, maka kemasan besar bisa dijadikan pertimbangan. Tapi kalau akan dijual langsung satuan, maka kemasan yang isinya habis sekali makan, juga patut diperhitungkan.

 

  1. Menarik dan Gampang Dilihat

Pandangan pertama itu selalu menggoda. Prinsip ini juga perlu untuk kemasan. Bagaimana kemasan punya bentuk dan warna yang mudah dilihat dan tentunya menarik perhatian. Minimal orang yang melihat mau mendekat dan akhirnya membeli.

 

  1. Unik atau Punya Ciri khas

Ciri khas ini untuk meudahkan orang mengingat. Banyak orang lupa akan nama, tapi bentuknya bisa disebutkan dengan baik. Kemasan yang berbentuk unik, akan membantu mengingat merek bahkan isinya. Ada makanan dengan bungkus segi enam. Atau kemasan menggunakan pelepah pisang kering, dsb. Bungkus yang unik mencirikan produk. Saat ditenteng atau dipajang, orang akan mengingat produk tersebut. Orang pun mudah mengingat dan menularkan kepada yang lain.

 

  1. Ukuran Kemasan

Kemasan ibarat baju. Jika kekecilan juga tidak nyaman. Longgar juga tidak bagus baik dari sisi penampakan maupun biaya. Di samoing itu bungkus harus sesuai dengan produk di dalamnya. Ukuran pun harus memperhatikan kebutuhan konsumen. Bagaimana kemudahan dibawa baik saat tangan kosong atau saat harus dikemas.

 

  1. Edisi Khusus/Spesial

Kemasan adalah iklan berjalan. Kadang perlu juga dibuat dengan memanfaatkan momen khusus. Misal, berbentuk ketupat lebaran. Atau bungkus yang menyerupai bintang. Tentunya masih ingat ada produk sabun dengan kemasan gelas. Setelah sabun habis, gelasnya bisa dipakai untuk kesehariannya.

 

  1. Strategi Harga

Harga juga mempengaruhi kemasan, meski produk di dalamnya sama. Kita akan berjualan jamu instan untuk konsumen manca negara. Harga yang dibidik juga premium. Maka kemasan juga perlu dipikirkan yang premium. Misal menggunakan sachet celup. Sekali celup bisa dibuang. Di samping itu tehan lama ketika disimpan.

 

Banyak konsumen yang tertarik karena kemasan. Sabun coleh dengan kemasan plastic dibandingkan dengan kemasan gelas. Bisa jadi, orang yang tertarik membeli gelasnya, sabun justru menjadi semacam sampingan. Dengan begitu peluang pembeli bisa lebih banyak. Itu artinya peluang penjualan semain tinggi, keuntungan bisa dicapai berlipat.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Manajemen Produksi untuk UMKM

Manajemen Produksi untuk UMKM

 

Menjalankan usaha agar dapat  bertahan dalam persaingan, termasuk usaha yang berskala mikro, perlu dilakukan beberapa bidang pengelolaan. Pengelolaan atau manajemen yang diperlukan:  administrasi, sumber daya manusia, pengelolaan operasional/produksi, dan juga pemasaran. Semuanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tapi harus dilakukan bersamaan. Semakin berimbang, semakin ideal dan bagus.

Pengelolaan administrasi diantaranya adalah pencatatan, baik rekap order, pembelian bahan baku, keuangan, dan masukan/kritikan pelanggan. Pengelolaan sumber daya manusia. Lha kalau semua saya kerjakan sendiri, tetap saya harus dipisahkan. Berapa lama merekap order. Berapa lama waktu dibutuhkan saat membeli bahan baku. Butuh waktu saat mengolah bahan baku menjadi produk jadi, Dan seterusnya. Kenapa penting? Karena saat kita membutuhkan bantuan orang lain atau asisten, sudah diketahui butuh berapa. Manajemen pemasaran juga perlu ditata. Apa dilakukan mandiri atau dijalankan orang lain? Pakai media apa? Frekuensi berapa kali melakukan iklan, dll.

Bagaimana dengan manajemen produksi? Ini yang coba lebih dikupas lebih dalam. Pengelolaan produksi atau manajemen operasional pada dasarnya merupakan proses pengubahan bahan mentah menjadi produk atau jasa yang diinginkan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Jadi kalau membuat susu jahe instan, maka bagaimana mengolah susu, jahe dan guka menjadi produk yang diinginkan pelanggan. Tentu perlu keputusan-keputusan yang diambil agar barang dan jasa yang diproduksi memiliki nilai jual. Pemilik usaha yang menentukan suatu tingkat produksi yang dapat memberikan keuntungan lebih dengan meminimumkan biaya produksi. Disinilah bagiamana pentingnya menentukan bahan baku seperti apa yang akan dibeli dengan memaksimalnya dalam proses produksi. Mustahil usaha membuat barang jadi bisa berjalan jika tidak ada bahan yang memungkinkan dalam proses produksi itu sendiri. Banyak pendapat terkait manajemen produksi yang dapat dilakukan supaya usaha mikro yang ada tetap dapat berjalan dan berkembang lebih besar kedepannya:

  1. Bahan Baku

Produk jadi bisa memanfaatkan bahan baku yang ada di sekeliling tempat usaha. Jika tidak ada, dapat dibeli dengan biasanya memanfaatkan bahan baku yang ada disekeliling mereka. Misal, kebun sendiri, bahan yang ada di rumah, dll. Ketika tidak ada bahan baku dari lingkungan sekitar, maka bisa membeli dari pasar terdekat.

  1. Mutu Produk

Sangat penting untuk selalu menjaga kualitas dari barang yang diproduksi supaya pelanggan tidak mudah ke lain hati, eh ke lain lapak. Pemeriksaan dengan teliti terhadap bahan baku, proses produksi hingga produk perlu dilakukan. Bisa secara random atau sampling, Bila perlu dan produksi tidak terlalu besar, pengecekan bisa dilakukan satu persatu.

  1. Persediaan/Stok

Persediaan adalah salah satu pemborosan. Menjaga stok produksi barang harus dilakukan agar sirkulasi uang tetap berputar dengan baik dan lancar tidak mengalami perubahan secara drastis. Kekurangan jumlah barang yang hendak dijual, karena akan membuat konsumen kecewa. Mereka bisa pindah ke produk lain. Bahaya ini. Menimbun stok barang, juga bisa mengkhawatirkan, sementara pelanggan belum bisa ditarik minatnya secara optimal. Uang mati istilahnya. Cash flow bisa berantakan.

  1. Pergudangan (Pindah/Simpan)

Proses penyimpanan stok produk jadi perlu perhatian supaya tidak mengalami kerusakan yang dapat menyebabkan produk tidak dapat dijual. Apalagi jika produk kita punya masa kadaluwarsa. Pemeriksaan dan perawatan berkala terhadap tempat penyimpanan barang perlu dilakukan secara berkala. Jika menggunakan freezer misalnya, perlu dicek bagaimana suhunya. Terlebih jika sering listrik padam di wilayah tersebut.

  1. Purna Jual

Layanan ini juga tidak boleh dilupakan. Konsumen yang telah berkenan membeli produk kita adalah kesyukuran. Keberadaan mereka perlu dirawat. Setidaknya jika ada keluhan dapat diresponse dengan cepat. Mendengar juga masukan untuk memperbaiki produk kita. Bisa masukan terkait produk, kemasan atau pengirimannya. Indikator yang relative mudah sebagai tanda bahwa produk kita diterima adalah ada pemesanan berulang dan meningkat. Di samping itu semakin luasnya masyarakat yang mengetahui tentang produk yang sedang di pasarkan.

Manajemen yang dapat diterapkan agar usaha dapat tetap berjalan bahkan berpotensi bisa berkembang menjadi lebih besar hanya dari usaha modal kecil yang ditekuni dengan serius.

 

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Stok Barang Mending Lebih atau Kurang?

Stok Barang Mending Lebih atau Kurang?

 

Pada kawasan sebuah kota tidak jauh dari Jakarta, ada beberapa WA Group yang berisi promosi dan pasar bagi komunitas. Ini salah satu upaya sesame warga untuk memromosikan produk dan bahkan bisa beli produk teman.

Suatu saat saya mendapatkan jawaban dari WA sebuah WAG UMKM.

“Pak, barangnya habis. Besok saya kabari”, begitu jawaban atas pesanan makanan yang saya pesan.

Padahal sekeluarga pingin banget merasakannya. Esoknya, saat ada tawaran, ternyata kita sudah mendapatkannya dari tempat lain.

Saya yakin, banyak yang mengalami hal seperti itu saat belanja lewat daring. Bagi penjual tentunya, tidak enak juga menolak permintaan pelanggan. Sayang banget. Banyak faktor kenapa stok tidak diperbanyak. Ada juga memang konsisten ingin menjual segitu saja. Habis jam berapa pun, ia tidak menambah produksi. Ia ingin menciptakan rasa penasaran, kpada pembeli. Namun, ada juga yang tidak siap bahan bakunya atau kemasan. Satu bahan kebanyakan. Bahan lain kurang. Faktor kedua ini yang perlu dipecahkan.

“Kadang kita buat 100 pak, tidak habis, Bingung juga mau dikemanakan. Eee.. pas buat lebih sedikit, orderan banyak banget. Kita nggak ada bahan”, salah seorang penjual menanggapi WA saya saat saya bilang bahwa saya sudah ada makanan yang kami minati.

Bagaimana supaya persediaan bisa memenuhi harapan pelanggan? Data memegang peranan penting. Persediaan yang tidak pas pemborosan juga. Semua order pasti dicatat. Baik dikertas, dilayar WA, dan sebagainya. Perlu dirapikan. Bisa saja diambil rata-rata dalam 1 bulan. Kemudian dilihat juga saat mana permintaan turun. Waktu apa permintaan naik.

Dengan data tersebut kita bisa melakukan perkiraan berapa kebutuhan pelanggan yang sudah bisa menerima produk yang ditawarkan. Data rata-rata penjulaan yang akan dijadikan patokan. Produk kita tentunya punya daftar bahan baku yang dibutuhkan. Itu biasa disebut bill of material (BOM). Ehm, singkatannya kok mengerikan. Boleh saja disebut BOMA. Bahan atau material yang dibutuhkan untuk merakit, mencampur atau memproduksi produk akhir itulah BOMA. BOMA akan menjadi alat pengendali produksi. Supaya persediaan baik bahan baku maupun produk akhir menjadi optimal. Lebih bagus lagi jika dalam BOMA juga disertakan toleransi produk catat. Misalnya dalam proses pengadukan, ada bahan yang tercecer dll. Toleransi yang kita berikan misalnya 1%, maka jika kita butuh untuk produksi normal bahan 100, maka dalam BOMA ditulis 100 + 1% atau sama dengan 101.

Sebagai contoh, membuat produk Suhu Jahe Instan 100 kg, dibutuhkan; susu bubuk 50 kg, bubuk jahe 30kg, gula aren bubuk 20kg. Karena ada toleransi bahan tercecer dalam proses produksi adalah 1%, maka pada BOMA ditulis:

Susu Bubuk : 50,5kg. | Bubuk Jahe: 30,3kg. | Gula Aren bubuk: 20,2 kg

Dari BOMA tersebutlah kita akan belanja.

Tapi saya pingin ada stok produk akhir, bagaimana caranya?

Stok atau persediaan, dalam contoh pembuatan susu jahe instan, maka perlu diperhatikan adalah batch atau kemampuan mesin mixer/pengadukan. Jika kapasitasnya 5-6 kg, maka sebaiknya persediaan adalah kelipatan mesin kita. Atau bisa juga kelipatan kemasan bahan baku. Namun, dalam proses produksi lebih diutamakan kapasitas mesin. Dalam proses pembuatan BOMA ini segala aspek yang berhubungan dengan keuangan perlu dicatat. Termasuk menghitung berapa biaya produksi.

Sehingga persediaan atau stok itu mending lebih atau kurang, tentunya bisa dijawab berdasarkan data. BOMA menjadi patokan atau acuan. Ini agar kita bisa menjamin bahwa jumlah bahan yang dibeli, produk akhir yang jadi bisa sesuai harapan pelanggan. Setidaknya kita mengurangi kekecewaan pelanggan karena kehabisa stok. Atau juga mengurangi biaya kita akibat persediaan yang berlebihan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Daya Tarik, Kemasan Menarik

Daya Tarik, Kemasan Menarik

 

Suatu saat ada rekan berjualan nasi rames. Ia memberikan pengumuman ke beberapa WA Group. Ia mengemasnya dengan bungkusan ketas coklat berlapis tipis plastik. Kebetulan masjid yang biasa menyelenggarakan acara kajian pagi, memesan nasi ramesnya. Kajian rutin setiap akhir pekan yang ditutup dengan sarapan bersama. Beberapa jamaah yang membuka bungkusan dan melahapnya. Ada yang dihampar dilantai dengan alas kertas bungkus. Ada yang dibuat seperti pincuk. Ada yang sibuk mencari piring ke ruang marbot. Ada yang mengurungkan sarapan bersama dan ijin membawa bungkusan sarapan ke rumahnya. Kemasan kertas itu pun ditenteng,. Jika ada tas plastik, ada yang membawanya dengan tas.

Pemandangan itu memancing beberapa diskusi. Menariknya, pemilik usaha juga ada di tengah-tengah peserta. Evaluasi juga dilakukan setelah acara usai. Beberapa panitia berkumpul sejenak. Salah satunya adalah terkait konsumsi. Diskusi dimulai dari porsi makanan dan ragam makanan.

Salah satunya yang mengernyitkan dahi pemilik usaha adalah perubahan packaging. Dia diminta mengubahnya, pakai kemasan kotak kertas atau plastik. Dilengkapi dengan sendok. Kenapa dahi berkerut? Jelas itu menambah biaya. Apalagi jika harga dipatok sama. Diskusi singkat diputuskan, bahwa kemasan diubah dan biaya kemasan ditanggung panitia. Penggantian ini bukan tanpa alasa. Ini memudahkan orang menikmati makanan. Potensi makanan berserakan di lantai diharapkan berkurang.

Pekan selanjutnya, makanan pagi itu hadir dengan beda penampilan. Hampir semua jamaah menyambut baik. Berdecak kagum atas peningkatan yang diberikan. Makanan di dalamnya pun tidak ambyar. Ada yang membawa pulang ke rumah juga dengan mudah. Ditenteng dengan mudah.

Dua hari berselang, Mas Bagus, sang pemilik bercerita setelah Sholat Maghrib tuntas.

“Pak, Alhamdulillaah, saya dapat order lumayan ini dari jamaah untuk acara mereka”, katanya mengawali obrolan dengan muka berbinar.

“Pemesan minta saya pakai kemasan kotak plastik seperti di masjid lusa. Katanya, menarik dan lebih rapi”, sambungnya.

Ternyata pelanggan itu melihat juga dari sisi estetika alias indah dipandang mata. Kemasan punya fungsi protektif dan juga promosional. Kemasan melindungi produk dari pergerakan saat berpindah tangan atau pindah lokasi. Kemasan untuk menarik perhatian kepada sebuah produk dan memperkuat citra produk. Ada juga memang dibuat dengan kombinasi kedua tujuan dari keduanya. Marketing dan logistik dimana kemasan menjual produk dengan menarik perhatian dan mengomunikasikannya. Hal ini yang ditangkap oleh salah satu jamaah tadi.

Philip Kotler, salah seorang Ahli Pemasaran di Dunia, pada bukunya Manajemen Pemasaran (1999) mengemukakan empat fungsi kemasan sebagai satu alat pemasaran alias marketing, yaitu :

  1. Potret Diri. Kemasan harus menarik, menyebutkan ciri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang mendukung produk yang ada di dalamnya.
  2. Pemikat Pelanggan. Konsumen dengan sukarela membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan dan prestise dari kemasan yang lebih baik.
  1. Citra Usaha. Perusahaan atau usaha dapat dikenal kekuatannya dari kemasan yang dirancang dengan cermat dalam mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau merek produk.
  2. Inovasi. Kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen, seperti kemudahan saat dibawa atau dikonsumsi. Hal ini juga memberikan keuntungan bagi produsen.

Penambahan kemasan yang menarik, tentu saja menambah biaya. Tapi biaya tersebut bisa ditutup dari hasil penjualan yang meningkat. Adanya promosi dari kemasan itu sendiri. Bisa saja mengurangi biaya promosi. Karena kemasan yang dibawa kemana-mana atau sedang berpindah tempat, telah menjadikan orang lain tahu dan tertarik.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Memulai Jualan Jasa

Memulai Jualan Jasa

 

Tak sedikit orang yang memilih memulai jualan jasa. Bhakn ada yang sudah berancang-ancang saat masih bekerja normal. Menyiapkan diri dengan bekal ketrampilan tertentu.  Menurut beberapa orang yang telah menekuninya, ada alasan yang bisa dijadikan rujukan. Bisa dimulai kapan saja dan minim investasi peralatan. Betul juga.

Sebagai contoh. ada seseorang yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi pemelihara gedung bertingkat. Ia biasa memperbaiki saluran air (plumber) baik saluran perpipaan air bersih kamar mandi hingga pembuangan limbah. Ia menguasai betul seluk beluk pipa dan air. Jika merawat gedung bertingkat yang lebih kompleks, maka untuk perumahan tumah tinggal bisa relatif lebih mudah.

Ia memulai dengan menawarkan jasa setelah lepas kerja. Terlebih saat akhir pekan. 1 hari saja. 1 hari lainnya betul-betul untuk istirahat. Promosi bisa dilakukan dengan mendompleng kepada rekan atau sejawat yang sudah punya usaha. Menjadi tenaga lepas atau job order. Tarif per jam bisa disesuaikan misalnya dengan UMR. Katakanlah Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta Rp. 4,3 juta, maka upah per jam adalah Rp. 25 ribu. Jika pekerjaan ringan selesai 4 jam, maka misal dipasang tariff Rp. 150ribu (sudah termasuk uang makan). Jika pekerjaan berat dan membutuhkan seharian, memasang tarif Rp. 250 ribu. Ilustrasi seperti itu dapat digunakan untuk menghitung tarif jasa.

Bagaimana jika sudah mulai order banyak dan kewalahan. Jika sudah mandiri, maka perlu mempersiapkan kader alias tenaga yang terampil dan handal sesuai dengan spesifikasi yang diminta pelanggan. Setidaknya, kemampuannya mirip orang yang tadi sudah dipercaya. Katakanlah grade A.  Ada beberapa cara:

  • Mendidik dari awal, tentunya perlu dihitung biaya pelatihannya. Bagaimana menentukan kualifikasinya. Misal jadi kenek dulu dengan fee yang 70% dari fee tukang grade A. Bagaimana dengan biaya pelatihan, bisa dipikul bersama karyawan atau dibiayai dengan metoda semacam ikatan dinas
  • Memanfaatkan tenaga yang sudah ada di lingkungan perawatan gedung. Ini bisa lebih efisien. Karena ada saja orang yang berkemampuan namun tidak diketahui pelanggan. Ada orang berkemampuan, tapi waktu tidak dapat dijadwalkan. Disinilah dibutuhkan kolaborasi dan saling tukar informasi. Saling terbuka jasanya. Misal jika si A yang dapat order dan dibagi/mengajak tim lainnya, maka si A mendapat tambahan 5% dari fee yang dipotong dari fee rekan yang lain.
  • Menggunakan sistem. Dibuat data based tukang perawatan gedung. Di dalamnya berisi nama, alamat, nomor telpon dan skill yang telah dimiliki. Tarif bisa menggunakan sistem management fee atau marketing fee. Atau bisa juga, jualan jasa diproposalkan oleh pemilik sistem, yang terpenting tukang mendapatkan haknya sesuai dengan keahlian dan persyaratan yang umum.

Jualan jasa sangat bergantung kepada individu. Karena pijakan awal adalah kepercayaan. Ini yang menjadi kunci, sehingga kepercayaan harus pula dibangun dan ditanamkan kepada seluruh anggota tim.

Risiko terbesar usaha jasa adalah ketika satu diantara anggota tim melakukan hal yang merusak kepercayaan. Mengecewakan pelanggan. Bisnis bisa tutup. Karena biasanya merembet juga kepada nama individu termasuk pemilik usaha.

Karena nila setiti, rusak susu sebelanga.

Namun, sebaliknya, jika kepercayaan itu dijaga bahkan pelanggan puas. Tidak jarang akan menjadi pemasar gratis. Meluas dengan tidak disengaja, karena bukan kita sebagai pemasarnya, tapi pelanggan. Referral marketing.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Mengurangi Produk Cacat

Mengurangi Produk Cacat

.

Saat memulai usaha, tak jarang orang melakukan uji coba. Memadukan beberapa bahan dijadikan satu olahan. Tak jarang pula, tidak sesuai harapan kita sebagai pengolah. Belum lagi, kalau menurut sang pengolah sudah mantap, tapi menurut konsumen kurang oke. Buktinya, pelanggan tidak pesan kembali. Repeat order adalah satu satu tanda/indicator, jika produk tersebut bermutu, sesuai kebutuhan pembeli.

Kalau uji coba terus bisa rugi? Betul. Definisi produk cacat dari Peneliti Teknik Industri di beberapa perguruan tinggi adalah produk yang gagal memenuhi standar spesifikasi yang disyaratkan oleh pelanggan, tapi masih dapat diperbaiki dengan biaya tertentu.

Jelas produk cacat akan menambah biaya. Bagaimana menghindarinya?

Sebagai contoh pebisnis pemula untuk menjual paket rending siap makan. Bumbu rempah-rempahnya mudah diperoleh. Ada kemiri, bawang putih, bawang merah alias brambang, cabe merah besar, cabe merah keriting, jahe, lengkuas, kunyit, ketumbar, pala, jinten, dan garam, kadang ditambahkan juga gula. Bahan utama tentu saja daging sapi dan santan kelapa.

Meski rending ini dikenal sebagai makanan khas Padang atau Sumatera Barat, namun sudah melegenda nasional bahkan mendunia. Tentu saja ada aneka rasa rendang sesuai dengan kearifan local. Saya mengenal rending di Kota Malang, rasanya dominan manis dan gurih. Tentu beda dengan rending asli Padang.

Ini yang bisa dijadikan target pembeli yang akan disasar. Racikan bumbunya tentu berbeda. Lain komposisi, lain rasa. Bagaimana agar tidak banyak produk cacat?

Perlu kita cermati resep mana yang dipilih. Proses bisnisnya seperti apa? Proses bisnis ini termasuk alir proses memilih bumbu, kompisisi dan memasak bumbu hingga matang.

Apa boleh pakai bumbu instan yang banyak dijual di pasar. Tinggal ambil sachetnya, ikuti petunjuk. Boleh saja. Itu pilihan. Namun, ada risiko. Bumbu sachet adalah hasil pabrikan yang punya potensi menjadikan rending yang diolah tidak memiliki kekhasan produk rending yang kita mau atau pelanggan mau. Apalagi jika kita ingin mendapatkan keunikan dan rending yang lain daripada yang kebanyakan.

Bagaimana dengan bumbu giling racikan yang tren sekarang ini? Relatif mudah. Tinggal bilang sama Abang penjual bumbu giling, dia yang ambil dan langsung dimasak sesuai prosedur. Ada risiko jika langsung kita pesan bumbu racikan rending, si Abang pakai kirologi alais perkiraan saat ambil bumbu giling. Rasa bisa tidak seragam. Bisa punya potensi produk cacat.

Ada cara yang bisa dikompromikan. Kita beli bumbu giling, tapi tidai dicampur langsung jadi satu. Pencampurnya adalah kita. Disesuaikan dengan resep awal yang kita punya. Sangat dianjurkan ditimbang sesuai komposisinya. Jadi, bumbu giling dibeli secara satuan. Ketika akan meracik, kita buat tabel racikan. Berapa gram bawang putih? Bawang merah? Dst. Bisa diikuti resep-resep yang telah dimiliki atau bisa merujuk pada referensi di Mbah Google (ini ekstremnya). Ketika bumbu telah usai dimasak, sebelum santan dan potongan daging dimasukkan, bubu bisa dirasakan terlebih dulu oleh beberapa orang. Jika ada kekurangan, maka bisa dicatat dan ditambahkan. Memang ada masalah jika ada satu bumbu yang kelebihan perlu siasat lebih. Bisa juga, dikuatkan pilihan rasa sesuai keinginan konsumen yang dibidik.

Cara tersebut, dapat mengurangi produk cacat. Bagian terpenting adalah pencatatan kurang, tambah bumbu, lama proses masing-masing tahapan. Pemilihan material kemasan dan suhu saat dikemas juga tak boleh luput dari pengamatan dan pencatatan. Karena catatan ini akan menjadi proses bisnis selanjutnya. Apalagi jika produk rending sudah bisa diterima pelanggan dan siap untuk diproduksi massal.

Upaya menurunkan produk cacat, berarti menambah potensi keuntungan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.