Kegundahan Seorang Ayah

KEGUNDAHAN SEORANG AYAH

Oleh: Satria Hadi Lubis

.

Menjelang ajalnya, lelaki tua itu merasa gundah dan gelisah. Air matanya mengalir membayangkan hisab yang akan diterimanya kelak. Tak henti-hentinya ia berzikir dengan suara bergetar diliputi rasa takut dan harap bahwa ia telah menjalankan amanah kehidupan ini dengan baik.

.

Ada satu yang masih mengganjalnya yang membuatnya begitu gundah untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Lelaki tua yang sepanjang hidupnya selalu berjuang membela kebenaran ini kemudian mengumpulkan anak-anaknya. Lalu terjadilah dialog yang Allah abadikan di dalam surah al Baqarah ayat 133:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

.

Lelaki tua itu adalah Nabi Yaqub as. Kegundahan beliau bukan karena masa depan materi anak-anaknya, tapi masa depan iman dan tauhid anak-anaknya. Subhanallah….inilah kegundahan seorang ayah yang paham betul apa makna warisan sesungguhnya. Bukan harta atau materi yang perlu dikuatirkan sebagai warisan untuk masa depan anak-anaknya, tapi iman dan tauhid.

.

Kegundahan Nabi Yaqub as adalah kegundahan setiap ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Kegundahan yang membuat seorang ayah berdoa siang dan malam dan menangis di sepertiga malam memikirkan iman anak-anaknya. Gelisah…apakah ia sudah menjadi ayah yang benar. Apakah upayanya sudah maksimal untuk mendidik anak-anaknya. Ia takut anak-anaknya akan menyeretnya ke neraka, karena belum maksimal mendidik anak-anaknya.

.

Kegundahan seorang ayah yang hanya bisa dijawab dengan iman dan tauhid dari anak-anaknya. Kegundahan yang hanya bisa dijawab dengan perbuatan sholih anak-anaknya, baik ketika ia masih hidup maupun sesudah meninggal.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, prestasi seabreg anaknya belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, kebaikan dan kecintaan anak-anak kepadanya di masa tua belum cukup membuatnya tenang jika anaknya jauh dari iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan warisan harta benda yang membuatnya kuatir menelantarkan anak-anaknya sepeninggalnya, tapi warisan iman dan tauhid.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bukan balas jasa materi yang ia harapkan dari anak-anaknya. Tapi doa dari anak yang sholih. Baik ketika ia baru meninggal, maupun sesudah lama ia meninggal. Ia yakin doa anak-anaknya akan mengurangi siksa kuburnya.

.

Bagi ayah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidurnya menjadi tidak nyenyak karena di kepalanya terus terngiang-ngiang ayat Allah berikut:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kebahagiaan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Qs. An Nisa’ : 9).

.

Wahai anak-anakku….jika engkau mencintai ayahmu buatlah ia tenang dan bangga dengan iman dan tauhidmu. Bukan oleh prestasi semu, yang hanya menipumu dan menipunya. Bukan oleh prestasi semu yang tidak berguna di hari keabadian, bagimu dan baginya.

.

*) Satria Hadi Lubis biasa disingkat SHL, adalah dosen dan juga penulis produktif dan best seller. Tulisan ini beliau dedikasikan dalam memperingati Hari Anak Nasional, 23 Juli 2021

Kaidah Amal Pengganti

KAIDAH “AMAL PENGGANTI”

Oleh: Ust. Aunur Rafiq Saleh

Dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat 92 friman Allahyang artinya:

“Dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (QS. At-Taubah: 92)

• Allah memberikan berbagai kesempatan istimewa bagi orang-orang beriman, agar mereka meraih derajat sangat tinggi dan dekat di sisi-Nya. Tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya karena suatu sebab syar’i yang tidak memungkinkannya, seperti kesempatan jihad di jalan Allah dan lainnya.

• Agar semua orang bisa mendapatkan berbagai kesempatan istimewa tersebut, Allah memberikan kesempatan yang sama dalam bentuk amal pengganti. Sekalipun pahalanya tidak sama sepenuhnya tetapi mendekati keutamaannya, karena statusnya sebagai amal pengganti.

• Seperti orang-orang yang tidak bisa ikut berjihad bersama Nabi saw karena tidak punya dana untuk membiayai keberangkatan mereka, sebagaimana disebutkan ayat di atas, padahal mereka serius ingin bisa ikut berjihad. Kepada orang-orang seperti ini, Allah memberikan pahala seperti pahala yang didapat orang-orang yang berangkat ke medan jihad. Karena Allah mengetahui kesungguhan hati mereka. Sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya di kota Madinah terdapat sekelompok laki-laki, tidak ada lembah yang kalian tembus dan perjalanan yang kalian tempuh, kecuali mereka bersama kalian di dalam mendapatkan pahalanya karena udzur telah menghalangi mereka.” (Sunan Ibnu Majah 2755)

• Allah memberi keutamaan kepada muadzin. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi muadzin sekalipun banyak orang yang menginginkannya. Sebagai gantinya, Nabi saw mensyariatkan menjawab adzan agar kesempatan mendapat keutamaan adzan itu bisa didapatkan semua.orang.

• Allah memberi keutamaan kepada orang-orang yang menunaikan rangkaian ibadah haji khususnya mulai tanggal 1-10 Dzul Hijjah. Tetapi tidak semua orang bisa menunaikannya sekalipun sangat menginginkannya. Sebagai gantinya, Allah menjadikan sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sebagai hari-hari terbaik dunia untuk melaksanan berbagai amal saleh, agar mereka juga mendapat keutamaan yang didapatkan oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji.

• Allah memberi keutamaan kepada orang-orang yang berperang di jalan Allah. Tetapi tidak semua orang bisa melakukannya sekalipun menginginkannya. Sebagai gantinya, Allah memberikan pahala berperang di jalan Allah bagi orang yang ikut menyiapkan bekal atau kebutuhan orang yang berangkat ke medan jihad. Sabda Nabi SAW:

“Barang siapa yang mempersiapkan (bekal) orang yang berperang di jalan Allah berarti dia telah berperang (mendapat pahala berperang). Dan barang siapa yang menjaga (menanggung urusan rumah) orang yang berperang di jalan Allah dengan baik berarti dia telah berperang.”(Shahih al-Bukhari 2631)

• Demikianlah, setiap kesempatan istimewa yang tidak bisa diraih oleh semua orang, Allah selalu memberikan amal pengganti agar semua orang memiliki kesempatan yang sama. Maka jangan sia-siakan amal pengganti yang diberikan.

• Bahkan ada amal pengganti yang agak sedikit berbeda dari kaidah di atas. Sejumlah orang miskin merasa iri kepada kesempatan amal yang dimiliki orang-orang kaya, karena bisa beramal banyak dengan hartanya sedangkan orang-orang miskin tidak bisa melakukannya. Kemudian Nabi saw memberikan amal pengganti buat mereka, sebagaimana riwayat berikut ini:

“Dari Abu Hurairah -dan ini adalah hadis Qutaibah- Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: Maksud kalian? Mereka menjawab: Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan? Mereka menjawab; Baiklah wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali. Abu shalih berkata; Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya!” (Shahih Muslim 936)

Bangkitlah Negeriku

Bangkitlah Negeriku

Oleh: Tate Qomaruddin

.

Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
.
Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan
.
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
.
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
.
Selama matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah!

.

Goresan pena yang menyiratkan kondisi negeri. Untaian kata yang mampu menggelorakan semangat, menggerakkan aksi untuk negeri. Masih banyak karya dan aksi nyata beliau. Semoga karsa dan karya almarhum Kang Tate Qomaruddin menjadi amal jariyah. Allaahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.

Organisasi yang Sehat

Organisasi yang Sehat

Kata organisasi tentunya sudah tidak asing di telinga kita. Secara tidak langsung sudah dikenalkan sejak SD atau SMP. Ada Pramuka, PMR, Organisasi Siswa Intra Sekolah. Atau bisa jadi, ada juga yang kenal nama lebih awal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

organisasi/or·ga·ni·sa·si/ n 1 kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu; 2 kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama;

Dari definisi tersebut organisasi bisa beragam dari sosial, keagamaan, politik bahkan pemerintah. Perusahaan pun sejatinya adalah sebuah organisasi. Tak jarang kita temui organisasi yang namanya melambung, kemudian surut bahkan tak beraktivitas lagi. Loyo akhirnya mati suri. Ada juga yang baru muncul langsung melejit. Beberapa bahkan sudah ada sejak zaman awal kemerdekaan negeri ini, hingga kini masih eksis. Sehat bahkan sangat kuat.

Timbul keingintahuan, bagaimana organisasi bisa sehat? Beberapa tokoh memberikan hasil kajiannya. Izinkan dalam kesempatan ini dikemukan 3 syarat utama agar organisasi tetap sehat bahkan kokoh tak tertandingi.

Orientasi

Setiap organisasi harus mempunyai prinsip atau asas. Apa sih asas atau prinsip itu? Kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak. Asas harus ditetapkan. Setelah asasnya mantap, maka pedoman sebagai arah kemana tujuan organisasi harus juga dirancang. Ini setidaknya ada ketentuan-ketentuan dasar, bagaimana kita harus mencapai tujuan. Tak kalah pentingnya adalah tujuan organisasi itu dibentuk. Apa maksud sebuah organisasi dibentuk.

Tiga hal kunci ini: prinsip, pedoman dan tujuan, diramu dijadikan satu menjadi satu kata: orientasi. Orientasi mantap, salah satu syarat sehat dapat dipenuhi.

Organisasi berupa negara bisa diambil contoh adalah orientasi negara yang kita cintai ini. Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Jika perusahaan biasanya ada pada visi misinya perusahaan.

Loyalitas

Loyalitas atau dalam sebutan lain adalah kepatuhan, kesetiaan. Kesetiaan tentunya kepada pemimpin atau leader. Tentu saja pemimpin ini masih bersyarat. Sebagai orang yang beriman, maka pemimpin yang patut mendapatkan kesetiaan adalah yang taat kepada Tuhan Yang Mahaesa dan juga taat kepada nabi pembawa tuntunan Tuhan Sang Maha Pencipta kepada hambaNYA. Termasuk terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Biasanya dalam organisasi, loyalitas diawali dengan adanya sumpah anggotanya. Semacam pakta atau janji.

Aksi atau Kegiatan

Aksi atau kegiatan juga menjadikan organisasi sehat. Layaknya tubuh manusia, kalau diam saja alias mager, bisa jadi malah tidak sehat. Harus banyak bergerak. Begitu juga organisasi. Dalam melakukan aksi dilandasi dengan rasa dan jiwa pengorbanan. Baik waktu, pikiran, tenaga, bahkan materi. Jam e rusak, kesak e jeru (Jamnya rusak artinya tak kenal waktu. Kantongnya dalam artinya harus rela mengeluarkan dana jauh lebih banyak).

Perlu juga adanya kesungguhan dalam beramal. Kalau sudah yakin, maka upaya harus total. Berusaha sekuat tenaga, sepenuh hati dan sepenuh minat dalam melaksanakan kegiatan hingga tuntas. Meski kadang hanya segelintir yang mengikuti kita. Bahkan sendirian sekali pun.

Setelah itu semua apakah cukup? Belum. Masih ada satu lagi, konsisten atau taat asas. Sedikit tapi terus menerus jauh lebih punya manfaat dan daya gedor, daripada banyak tapi sesekali. Lebih hebat lagi kalau banyak dan juga konsisten. Itu ideal banget. Apalagi jika amal kebaikan, kegiatan positif dilakukan secara bersama-sama dan dikoordinasikan lebih rapi. Bakal dahsyat hasilnya.

Ehm . . setelah kita paham 3 syarat menjadikan organisasi yang sehat. Yuk, kita lakukan penilaian mandiri, organisasi yang kita ikuti atau kita berada di dalamnya seperti apa? Sebagai anggota sebuah organisasi, kita sebagai anggota sudah seperti apa? Apa yang masih perlu ditingkatkan? Bagaimana sikap kita? Diam atau bergerak melakukan perbaikan?

Itu semua berpulang kepada kita. Jika mau sehat dan tetap kokoh berdiri bahkan menyebarkan kebaikan ke seantero negeri, bukan hal yang tabu memulai perubahan.

Kompas Etis Kepemimpinan

KOMPAS ETIS KEPEMIMPINAN

Oleh: YUDI LATIF

Hanya karena panggilan sejarah yang tak terelakkan, demi menghindari perpecahan bangsa yang baru merdeka, pemimpin besar perang kemerdekaan Amerika Serikat George Washington mau menerima pengangkatannya sebagai presiden AS yang pertama. Setelah masa jabatan kepresidenan pertamanya berakhir, dia berniat kembali ke kompleks peternakannya. Namun, niat itu terpaksa ia urungkan, mengingat kondisi republik muda yang masih goyah dirundung konflik elit kekuasaan.

Setelah masa jabatan keduanya berakhir, dia bisa saja berkuasa lagi hingga kapan ia mau. Tapi, kompas etis kepemimpinannya mengatakan “enough is enough”. Keberlangsungan republik tak boleh bergantung pada seseorang sebesar dan sehebat apapun orang itu. Tunas-tunas baru harus meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.

Praktik kekuasaan Washington itu kemudian menjadi konvensi, standar etis masa bhakti kepresidenan, Meski Konstitusi AS aslinya tidak memberikan batasan berapa kali seseorang bisa memegang jabatan Presiden, namun setiap ada orang yang berhasrat mencalonkan lagi setelah dua kali terpilih, kepekaan rasa mahunya selalu tak sanggup menghadapi pertanyaan gaib nurani publik. “Apakah anda merasa lebih hebat dari Washington?”

Demikianlah, warisan terhebat dari seorang pemimpin adalah standar dan visi etis yang ditinggalkannya. Sumbangsih kepemimpinan tidak ditentukan oleh seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan nilai apa yang dibudayakannya selama berkuasa. Kepemimpinan negara ini pusat teladan, ibarat mata air yang darinya mengalir sungai-sungai kehidupan yang memasok air ke hilir. Seperti apa mutu air di hulu akan memengaruhi mutu kehidupan di hilir.

Dalam demokrasi luhur adab, hukum berenang di lautan etika. Defisit institusi dan peraturan selalu bisa ditutupi oleh kedalaman moralitas penyelenggara negara dan warganya. Dalam demokrasi rendah adab, surplus pasal konsitusi dan undang-undang tak membuat kepastian dan tertib hukum, melainkan selalu dicari celahnya untuk disiasati demi kepentingan sesaat. Setiap ada usulan untuk mengembalikan konsitusi ke rel yang benar, selalu ada penumpang gelap yang membonceng di belakangnya.

Berbagai ekspresi ketidakpatutan etis dalam ruang publik kita mengindikasikan rendahnya literasi moral di lingkungan elit negeri. Seperti tak punya rasa malu, saut tingkat keterpaparan Covid-19 melonjak dan keterpurukan sosial-ekonomi memagut, elit politik masih berlomba mendendangkan lagu keberhasilan dalam adu pencitraan. Seperti tak bisa merasa, tingginya kedudukan dan pengaruh dulan politik seolah bisa menerabas apapun ambang kepatutan.

Tinggi rendahnya keadaban elit politik itu bisa bisa dilihat dari caranya menghormati dan memajukan dunia pendidikan. Bahkan semasa perang dunia sekalipun, lumbung ilmu seperti Universitas Heidelberg dan Sorbonne tak disentuh serangan militer.

Kebiadaban suatu bangsa terlihat dari usaha politisasi dan eksploitasi dunia pendidikan untuk tujuan tujuan pragmatis. Elit politik di negeri ini malah berlomba meraih gelar-gelar akademis dengan cara-cara yang dapat merendahkan standar mutu dan wibawa dunia akademis.

Yang lebih memprihatinkan lagi, para ilmuwan dan dunia pendidikan sendiri sebagai benteng nalar dan moral juga hanyut dalan arus pengkhianatan intelektual. Bukan bicara benar pada kekuasaan, tetapi membungkuk pada kekuasaan. Para spin doctors (konseptor, surveyor, influencer politik) menjadi instrumen rekayasa penyimpangan politik.

Para rektur perguruan tinggi tega merendahkan martahat dunia pendidikan dengan “menjual” bangku dan gelar akademik dengan harga yang murah.

Tak ada konstitusi yang bisa dipenuhi imperatifnya tanpa basis moral. Seperti diingatkan John Adams pada para milisi Massachusetts, “Konsitusi kita dibuat hanya bagi orang-orang religius dan bermoral.” Pasal konstitusi terus ditambah, berbagai undang-undang terus diproduksi, namun tak membuat negara ini berjalan di atas rel yang benar, karena kita mengalami defisit keteladanan dan semangat moral penyelenggara negara.

Jauh-jauh hari Mr. Soepomo telah mengingatkan: “Paduka Tuan Ketua, yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidup negara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun kita membikin undang-undang yang menurut kata-katanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat para penyelenggara negara, pemimpin pemerintahan itu bersifat perseorangan, undang-undang dasar tadi tentu tidak ada artinya dalam praktek.”

Tanggung jawab terpenting dari pemimpin negara adalah sebagai “penjaga konstitusi”. Dalam ketidaksempurnaan konstitusi dan kelembagaan yang ada, kepemimpinan kharismatik bisa menutupinya dengan kewibawaan moral. Dalam kaitan itu, Lyndon B. Johnson mengingatkan, “Tugas berat seorang presiden bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.”

Untuk mengetahui apa yang benar, seorang Presiden harus menemukan panduan dari norma-norma fundamental. Bahwa praktik demokrasi harus disesuaikan dengan mandat konstinusi, karena pengertian ‘demokrasi konstitusional’ tak lain adalah demokrasi yang tujuan ideologis dan teologisnya adalah pembentukan dan pemenuhan konstitusi.

Setelah mengetahui apa yang benar, Presiden harus bisa bertindak benar dengan integritas moral yang tak mudah goyah. “Sebagai presiden,” seru Abraham Lincoln, “Aku tak punya mata kecuali mata konstitusi. Dengan mata konstitusi, presiden bisa mengetahui apa yang benar Dengan integritas moral, presiden bisa bertindak benar, yang bisa mewariskan standartis dalam kehidupan republik. Bahwa hidup ini pendek, sedang kehidupan itu panjang. Maka, janganlah demi kepentingan penghidupan-kekuasaan jangka pendek. kepemimpinan mengorbankan prinsip-prinsip kehidupan untuk jangka panjang.
.

Artikel tersebut dimuat pada 24 Juni 2021: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2021/06/24/kompas-etis-kepemimpinan/

Editor: MADINA NUSRAT

*) Yudi Latif, Ph.D. Beliau menamatkan studi S1 pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (1990), S2 dalam Sosiologi Politik dari Australian National University (1999), dan S3 dalam Sosiologi Politik dan Komunikasi dari Australian National University (2004). Aktivitas lainnya: Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia). Anggota ahli Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID). Anggota Dewan Pendiri Rektor Universitas Paramadina Mulya, Jakarta . Beliau juga sebagai Pimpinan, Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan (PeKiK-Indonesia). Selain itu, beliau adalah Pemimpin Redaksi, “Biografi Politik” dan Pemimpin Redaksi Majalah ‘Kandidat’.

Tanam dan Tanam Lagi

Pagi itu kami survey tempat atau area bahu jalan yang akan ditanami pohon penghijauan. Beberapa lokasi telah kami tandai dengan menancapkan bambu. Sekalian, bambu itu sebagai perancah alias penguat dan pelindung batang pohon saat awal ditanam.
.
Kami memang menanam pohon dengan pilihan bahu jalan. Kami bersyukur menetap pada komplek yang jalan aksesnya lebar. Lebarnya ada yang 8 hingga 12 meter, termasuk bahu jalannya.
.
Sorenya, saat akan dilakukan penggalian lubang tanam, beberapa tonggak berubah tempat. Kami heran. Tak lama ada tokoh masyarakat yang menghampri.
.
“Mas, tadi saya pindah bambunya. Lokasi tadi bakal jadi jalan masuk”, sembari menunjuk lahan kosong yang sudah lama tak disentuh. Mohon maaf, nggak enak kalau nanti dibilang tidak dirawat.
.
“Ooo gitu, mohon maaf, ya Pak. Tanah ini ini mau dibangun klaster perumahan? jawab salah satu rekan.
.
“Wah, saya nggak tahu. Lha wong, pemiliknya saja saya hampir nggak pernah ketemu. Itu tadi perkiraan saja. Nanti, kalau pohonnya besar bisa menyusahkan”, sahutnya.
.
Kami pun mengiyakan. Menghormati pendapat beliau. Walaupun, sebenarnya kalau ditanam juga tidak apa-apa. Masih lama. Pohon seperti Mahoni Super, Jati Super atau Pohon Pelangi (Eucalyptus Rainbow), butuh waktu 3 agar membesar sepaha orang dewasa. Terlebih, gambar desain klasternya juga belum ada. Mana sebenarnya area yang bakal jadi jalan masuk/keluar.
.
Kenapa tidak apa2? Ya itu anjuran Nabi Muhammad SAW. Tanam dulu, kalau ada kendala tidak apa2 dipindah atau ditebang, tapi tanam lagi di area lain. Terlepas apa pun situasinya, saat ada bibit tanam dulu, tanam lagi.
.
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya”
(HR. Bukhari)
.
In sya Allah akan menjadi amal jariyah. Bayangkan jika pohon itu ditanam dan bermanfaat, kemudian ada yang mengambil bibit atau bijinya, ditanam lagi. Begitu seterusnya. Tabungan kita bisa menggunung.
.
.
Semoga menjadi penyemangat kita.

Perlunya Pengelolaan Keuangan

Perlunya Pengelolaan Keuangan

 

Setiap pemilik usaha, tentunya akan menggunakan sumber daya yang dimikilinya secara efektif dan efisien sesuai sasaran atau target yang ingin dicapainya. Sumber daya itu bisa berupa, bahan baku, peralatan, manusia dan juga dana. Inilah yang disebut manajemen atau pengelolaan.

 

Manajemen menjadi urat nadi perusahaan. Hidup matinya perusahaan ditentukan oleh pengelolaannya. Tak peduli perusahaan itu masih berskala mikro atau besar sekali pun. Hanya beda skala saja. Salah satunya adalah pengelolaan dana atau keuangan.

 

Apa sih itu menajemen keuangan atau pengelolaan keuangan? Secara umum dapat diartikan sebagai proses penanganan keuangan usaha. Dapat dimulai dari membuat anggaran, menetapkan target, pencatatan pemasukan dan pengeluaran serta bagaimana melakukan investasi. Banyak teori yang berseliweran, namun dalam kesempatan ini dikemukan 3 hal saja.

 

  1. Rencana Kerja & Anggaran

Perencanaan menjadi salah satu kunci keberhasilan. Ketika kita gagal merencanakan, maka kita merencanakan untuk gagal. Begitu pepatah yang sering kita dengar. Dalam bisnis bisa kita tetapkan akan menghasilkan apa, berapa, bagaimana, kapan dibuat dan butuh apa. Sehingga dapat diketahui dibutuhkan dana berapa dan dari mana asal dananya.

 

Misal pembuat jamu, akan membuat jamu per hari berapa? Apa ada rencana peningkatan produksi? Dari berapa menjadi berapa? Apa perlu tambahan peralatan? Atau perlu tambahan sdm?

 

  1. Pencatatan

Pencatatan yang diperhatikan adalah pengeluaran untuk apa, kapan, berapa jumlahnya. Pemasukan juga dilakukan dari mana asalnya, kapan, berapa jumlahnya. Banyak ditemukan buku khusus untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan. Lebih sederhana lagi, setiap nota dicobloskan ke paku yang ada papannya. Ada 2 paku: paku untuk pengeluaran itu artinya bon pembelian. Paku berikutnya, untuk pemasukan, berisi bukti order atau pembayaran dari pelanggan. Misal setiap sore direkap, agar memudahkan ingatan kita. Misal jika ada nota yang keterangan tidak lengkap, maka setidaknya masih teringat. Pencatatan ini juga untuk menghindari tercampurnya dana pribadi dengan dana usaha.

 

Rekap bisa menggunakan buku yang dibuat khusus. Atau dengan perkembangan zaman yang saat ini, bisa menggunakan excel. Lebih bagus lagi jika beli sistem.

 

  1. Laporan Keuangan

Setidaknya berisi laporan rugi laba usaha dalam periode tertentu. Sebaiknya ada setiap akhir bulan kalender. Sehingga pada setiap akhir tahun, pemilik usaha tinggal melakukan konsolidasi laporan bulanan. Lebih baik lagi jika ada berapa harta/asset, hutang/piutang, dan modal usaha.

 

Laporan keuangan ini semakin rapi dan lengkap menunjukkan semakin professional pengelolaan usaha. Lebih jauh, jika membutuhkan modal dari luar, katakanlah pihak perbankan, dokumen ini biasanya yang ditanyakan dan dijadikan bahan acuan.

 

Banyak cerita yang ditemui, ada usaha yang membesar di luar dugaan dalam waktu singkat. Dan juga sangat cepat terpuruk ketika baru saja membesar. Artinya, belum sempat menikmati keuntungan yang tinggi, usaha sudah meredup bahkan tutup. Dalam beberapa kasus, sebab musababnya adalah pengelolaan keuangan yang tidak menggunakan tata kelola yang baik.

 

Sebagai contoh, ada kendaraan yang dibeli untuk kelancaran pemasaran dan penjualan, namun ternyata lebih sering digunakan untuk keperluan pribadi. Uang opersionalnya, beli BBM, uang tol, dll dicatat dalam usaha. Campur aduk. Lho, kan usaha ini milik pribadi, apa salahnya mobil digunakan pemiliknya. Boleh saja. Namun, biaya harus dipisahkan, mana yang mendukung peningkatan penjualan. Mana yang untuk keperluan pribadi. Bisa saja, ternyata pengeluaran mendukung aktivitas penjualan lebih besar dari kenaikan penjualan. Ternyata, biaya penggunaan kendaraan digunakan kepentingan pribadi dibebankan kepada usaha.

 

Kedisiplinan pengelolaan keuangan berpengaruh pada kelangsungan sebuah usaha. Harus tegas, mana pengeluaran untuk pribadi, mana untuk usaha, Membeli asset apakah untuk keperluan menaikkan kapasitas produksi, atau untuk gengsi.

 

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.