Bisnis Kehormatan

BISNIS KEHORMATAN

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc.

Menegakkan wajah dan mempertahankan kehormatan pribadi di atas kemiskinan yang panjang, bukanlah perkara gampang.

Tapi bertahan dalam kemiskinan yang panjang di tengah gemerlap dunia materi dengan tetap mempertahankan tingkat produktivitas ilmiah yang tinggi, tentu saja jauh lebih sulit.

Tapi itulah, inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi.  Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.

Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka.

Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi
itulah masalahnya : HARTA yang kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup.

Maka, perintah menjadi kaya beralasan di sini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.

Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen.
Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya.
Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchable.

Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalah. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan inurid beliau. Misalnya, Kitab Al Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.

Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah.

Sebab, bisnis tidak boleh mengganggu ‘bisnis’ mereka yang lain.

Sebab, mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu.

Sebab, mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu. Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses.

Demikianlah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqah, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab  Al Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses.

Namun, beliau hanya menjawab dengan enteng….

“Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa“

Pahlawan itu . . .

Sepuluh November adalah salah satu tanggal istimewa.

Bagi saya, juga sangat spesial. Selalu teringat kisah bapak saya almarhum. Bagaimana beliau mengisahkan pertempuran itu. Strategi. Keberanian arek-arek Suroboyo. Bahkan saat harus mundur sembari diberondong peluru. Dibombardir dari laut. Belum lagi di kejar pesawat sembari menyalakkan senapan mesinnya. Pun bagaimana bapak sebagai tentara yang baru juga dibentuk tercerai berai. Berpencar. Ia bersama beberapa rekannya mundur hingga Pacet, Mojokerto. Bersembunyi di hutan. Sebelum akhirnya menyusun kekuatan kembali. Penuturan yang penuh semangat. Saya pun terbawa suasana. Seakan berada dalam peristiwa itu.

Kisah itu entah berapa kali dituturkannya kepada saya. Saat sebelum akhir hayat pun kenangan itu beliau ceritakan kembali.

Nampaknya beliau sangat ingin memberikan pembekalan bahwa berjuang itu harus. Pakai strategi juga kudu. Rasa tak kenal menyerah, mesti terus menyala.

Belum lagi pelajaran lain semasa beliau hidup. Kejujurannya. Kesederhanaannya. Bagaimana memimpin tim. Saat beliau selalu mendahulukan kepentingan anggota timnya. Apalagi ketika bicara soal logistik. Kesejahteraan. Juga tak bisa saya lupakan adalah pesan dan teladannya untuk terus berbagi. Tak henti membantu orang lain. Meski hanya sepiring nasi sop plus sambel kecap. Kala sempit atau lapang. Tidak harus selalu uang. Tak melulu materi. Bisa tenaga. Dapat pula sekedar nasihat. Semangat. Atau mencarikan jalan keluar. Solusi.

Upayamu bersama garwa tercinta (baca : ibu saya) menghidupi, mendidik dan membesarkan kami, 13 anak-anaknya sangat luar biasa. Itu semua tetap kau jalani dengan memegang teguh prinsip-prinsip dasar kehidupan. Jujur, tulus dan amanah. Saya saksi keteguhan itu.

Terima kasih, Pak. Insya Allah, saya akan meneruskan cita-citamu. Memang tidak bisa semuanya. Tidak mudah. Setidaknya beberapa telah saya wujudkan. Belum besar. Tapi terus tumbuh.

Kalau boleh saya beri gelar, bagi kami engkaulah pahlawan itu…

Seperti petuah Bung Hatta :

“Pahlawan yang setia itu, berkorban bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”

Tapi kami sekeluarga ingat bagaimana wejanganmu ketika tidak mau sebutan itu. Tapi namamu selalu tersemat manis dan ada tempat khusus di hati ini.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa Bapak semasa hidup. Nasihat, aksi dan juga teladan Bapak dicatat Allah azza wajalla sebagai amal soleh yang tiada kenal putus.

Allaahumaghfirlana waliwaalidainaa warhamhum kamaa rabbayaanaa sighaaraa….

Doa yang sama teriring untuk para pejuang Indonesia . . .

 

 

 

Brawijaya untuk Indonesia !

Berkumpul kembali merajut kenangan.
Melanjutkan mimpi yang belum terwujud.
Beraksi berbagi kepada sesama.
Turut memberi solusi kepada negeri.
 
Kembali menyambangi kampus.
Kawah candradimuka saat muda.
Gemblengan guru dan sejawat membuat kita kuat.
Menemui mereka kembali adalah penghormatan.
Penghargaan.
Respect.
 
Kampus itu kini melahirkan agen perubahan.
Anak muda berwajah optimis bertebaran.
Mereka adalah generasi pembangun selanjutnya.
Kehadiran kita bisa menambah energi.
 
Mari kobarkan semangat !
Brawijaya untuk Indonesia !
 
Ayo oket, Ker !
#NgalupNgalam
Ojo lali, buka link iki, ben ora penasaran yo… :
http://reuniub.com/

Enam Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

Mengingat Lagi 6 Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

by Tim Vanaya Coaching Institute

Tulisan pada buku karangan James MacGregor Burns, “LEADERSHIP”, New York: Harper & Row, 1978 (lebih dari 350 halaman) ternyata merupakan wawasan baru terkait pengembangan gagasan charismatic leadership dan transformational leadership pada abad ini. Buku ini menjadikan studi baru tentang kepemimpinan terutama perbandingan antara kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional.

Kepemipinan transaksional mengemukakan ada dua karakteristik utama tipe kepemimpinan transaksional, yaitu:

Pertama, pemimpin menggunakan serangkaian imbalan untuk memotivasi para anggota.

Kedua, pemimpin hanya melakukan tindakan koreksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang ditetapkan.

Kepemimpinan transaksional dengan demikian mengarah pada upaya mempertahankan keadaan yang telah dicapai.

Sedangkan para pemimpin transformasional memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

Mereka (para pemimpin transformasional) dengan jelas memandang diri mereka sendiri sebagai agen-agen perubahan (change agents). Mereka berjuang untuk membuat suatu perbedaan dan untuk mentransformasikan organisasi di bawah tanggung jawab mereka.

Mereka berani (courageous). Mereka mampu berurusan dengan resistensi (pihak-pihak yang melawan). Mereka mengambil posisi, mengambil risiko, meng-konfrontir realitas.

Mereka percaya kepada orang-orang yang dipimpinnya (believe in people). Mereka mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang sudah dikembangkan dengan baik perihal motivasi, menaruh kepercayaan dan pemberdayaan.

Mereka didorong oleh seperangkat nilai yang kuat (a strong set of values). Mereka terus belajar (life-long learners). Mereka melihat kesalahan, baik kesalahan mereka sendiri atau kesalahan orang lain, sebagai kesempatan untuk belajar.

Mereka dapat mengatasi masalah-masalah yang mengandung kompleksitas (complexity), ketidakpastian (uncertainty) dan kemenduaan (ambiguity).

Mereka adalah visioner-visioner (visionaries).

Pada era saat ini,  perusahaan dihadapkan pada tantangan yang besar yaitu keberagaman para karyawan handal dan berkompeten. Keberagaman ini tidak hanya berdasarkan gender, budaya, latar-belakang pendidikan ekonomi, agama, namun juga fenomena keberagaman generasi. Saat ini di tempat kerja terdapat tiga generasi yang bertemu dan saling berinteraksi yaitu generasi zoomer, generasi X dan generasi Y.

Coaching sebagai salah satu penerapan gaya kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kemitraan dalam sebuah proses percakapan yang mendalam untuk pembangkitan pemikiran dan kreativitas berpikir, yang mengilhami sehingga dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalisme. Pemimpin didorong agar dapat mengembangkan timnya. Coaching gaya kepemimpinan masa depan ini berfokus pada perlakuan anggota tim sebagai manusia, dan menilai bawahan sebagai pribadi yang memiliki potensi besar untuk dapat berkembang dan mencapai hasil terbaik.

Kepemimpinan dan leadership coaching berperan menjaga keefektifan organisasi dengan memelihara potensi kepemimpinan dalam diri sendiri dan orang lain agar menjadi lebih produktif dan menyenangkan.  Penggabungan seorang pemimpin yang menggunakan kepemimpinan transformational dan melakukan coaching maka dia memiliki dampak perubahan perilaku dan kinerja terhadap coachee lebih baik dibandingkan tipe kepemimpinan transaksional.

Catatan : 

Artikel ini kiriman otomatis via email dari sahabat sekaligus guru saya, Ananta Dewandhono. Terima kasih ya, Mas ADD. Beliau aktif di Sembada Pratama, School of Supply Chain & Logistic bentukan Asosiasi Logistik Indonesia. Beliau adalah CEO Vanaya Coaching Institute : www.vanaya.co.id

Semoga bermanfaat.

Merajut Asa dari Malang

Beberapa malam ini, pesan WA dari sahabat seliweran. Satu grup secara khusus saya pantengi (perhatian serius). Mereka mengeluarkan ide bagaimana memberikan sumbangsih untuk perbaikan negeri ini. Terharu juga. Meski kadang diselingi rasa geli. Ada saja yang iseng. Terlepas itu semua, wow ternyata masih banyak anak bangsa yang ingin turut berkontribusi dalam pembangunan negeri ini. Positif !
Mencari ide yang tepat dan juga nendang bukan perkara mudah. Apalagi ini mengumpulkan berbagai disiplin ilmu. Acara yang dikemas lintas fungsi. Multi keinginan. Ada yang serius. Tetap fun. Olah raga tak ketinggalan. Ada upaya berbagi bagi sesama. Nha ini.. jangan sampai ketinggalan, melepas rindu. Ehm.. rindu teman kuliah. Yang ini tak perlu diperpanjang, bukan ? Boleh juga, kangen kampus. Melihat perkembangan kawah candradimuka yang semakin mendunia prestasinya. Nggak salah juga, jika rindu kulinernya. Rujak cingur. Tahu telor. Tahu campur. Sego pecel. Bakso Malang. Es Tawon. Kalau disebut bisa 2 halaman bolak balik ini…
Bagaimana membungkus rasa rindu yang tetap produktif. Tidak sekedar kangen-kangenan. Itulah salah satu pekerjaan rumah bagi Panitia Reuni Universitas Brawijaya.
Misi besar lain yang tak kalah penting adalah bagaimana kumpul-kumpul itu nantinya dapat memberikan sumbangsih pikiran dan karya nyata untuk negeri. Kami mengajak merajut asa bersama. Negeri besar ini perlu uluran tangan kita.
Banyak yang ingin dilakukan oleh panitia. Tapi kadang tangan kami tidak cukup. Waktu sangat tidak memadai dengan jumlah ide yang perlu direalisasikan. Tapi pilihan harus ditetapkan dengan resources yang terbatas. Mohon maaf atas kekurangan itu. Yakinlah, panitia berusaha memberikan yang terbaik.
Kami sangat terbantu jika sahabat berkenan berbagi melalui :
Bank BRI (kode antar bank 002)
0433 01 000552 569
a.n. Panitia Reuni Universitas Brawijaya
Konfirmasi bisa melalui WA Bendahara : Erny 08158057212
Dan yang lebih penting adalah kehadiran sahabat di Kota Malang pada tanggal 7-10 Desember 2017. Bisa hadir seluruh rangkaian, kami sangat berterima kasih. Hanya satu hari saja, juga tak masalah.
Umak nggak oket, nggak neam blas, Ker !
Mari catat diri untuk hadir ! Jangan segan update info via link :
Manfaatkan juga program perjalanan hemat bersama Citilink. Salah satu maskapai berbiaya rendah kebanggaan Indonesia. Ingin berangkat bareng dengan Citilink bisa kontak koordinatornya : Sam Umar Basya (WA : 085774850095) atau Ketua Ikatan Alumni terdekat.
Ladub bareng, ker !
Mari menciptakan harapan baru bagi negeri !
Merajut asa dari Malang !
Salam Satu Jiwa,
#ngalupngalam

Habibie dan Pesawat Itu

Berinteraksi dengan beliau hampir 27 tahun lalu. Seliweran Malang-Jakarta kadang Malang-Jakarta-Bandung. Menyita waktu tapi tetap mengasyikkan. Beberapa kali juga silaturahim. Tak berubah. Tetap semangat dan berapi-api. Apalagi kalau bicara teknologi Indonesia. Tentu saja menyisakan kenangan. Sosok yang selalu optimis. Cinta sama tanah airnya selangit. Juga cinta kepada istri dan keluarganya. Ya, itulah seorang pria yang bernama BJ. Habibie.

Tentunya sahabat juga bisa mengail ingatan tentang beliau. Suka dukanya. Perjuangannya. Dan kiprahnya untuk Indonesia. Termasuk salah satu yang fenomenal adalah desain, manufaktur dan penerbangan perdana pesawat turboprop Tetuko CN235.

Kemarin saya mendapat pesan singkat nan padat dari guru sekaligus sahabat saya, Pak Jamil Azzaini yang baru saja bersilaturahim dengan beliau. Ternyata Pak Jamil bawa oleh-oleh.

Perkenankan saya cuplik buah tangan dari beliau untuk sahabat.

Anda tahu pesawat angkut pertama milik RI? Namanya Dakota RI-001 Seulawah, dibeli dari sumbangan rakyat Aceh. Memiliki pesawat untuk sebuah negara yang baru saja merdeka ternyata memunculkan kepercayaan diri, memunculkan semangat patriotisme dan memperlancar akses ekonomi Sumatera dan Jawa. Bukan hanya itu, jalur penerbangan ke luar negeri pun menjadi terbuka.

Pesawat terbang bukan hanya rangkain besi yang bisa terbang. Pesawat terbang juga salah satu modal untuk mengangkat harga diri bangsa. Sebelum industri pesawat kita (IPTN) ditutup atas permintaan IMF, setiap saya berkunjung ke luar negeri dan memperkenalkan diri dari Indonesia, sebagian besar mereka mengungkapkan kekagumannya dengan Indonesia karena bisa membuat pesawat terbang.

Alhamdulillah, Juni 2017 Program R 80 mendapatkan dukungan dari pemerintah dan dinyatakan sebagai program Strategis Nasional. Pesawat R 80 murni buatan Indonesia yang diarsiteki oleh bapak BJ Habibie. Mari kita dukung program ini agar menjadi program milik bersama rakyat Indonesia. Selain bantuan doa, mari kita bantu dengan menyisihkan penghasilan kita untuk ikut berpartisipasi dalam program ini.

Berapapun keterlibatan kita, itu merupakan bukti bahwa kita punya komitmen untuk mengangkat harkat dan derajat negeri ini menjadi negeri yang disegani negara lain. Mengangkat kepercayaan diri rakyat dan menambah keyakinan bahwa kita negara besar dan siap melakukan hal-hal yang besar.

Ya, pesawat bukan hanya sekedar rangkain besi tetapi juga menerbangkan mimpi banyak orang, kebanggaan, keyakinan, menumbuhkan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan harga diri sebuah bangsa. Segera berpartisipasi melalui :

https://kitabisa.com/JamilAzzainiR80

Mari ajak orang lain juga untuk menyukseskan program ini sebagai salah satu bukti bahwa kita masih sangat peduli dengan kejayaan dan kebesaran negeri ini.

Saya jadi teringat salah satu pesan Pak Habibie ketika itu memberi wejangan bagi kami yang masih culun ketika itu :

“Kegagalan hanya terjadi ketika kita menyerah.”


Beliau menasihati bahwa tidak ada orang yang berhasil tanpa mengalami jungkir balik, perjuangan. Bisa jadi mengalami down, jatuh. Tidak apa-apa. Kegagalan bukan akhir. Kegagalan bukan pertanda bahwa tidak mampu. Yang terpenting adalah bangkit dari kegagalan. Tak berhenti. Mencoba lagi dengan lebih keras dan lebih cerdas.

Sahabat…. nampaknya, beliau ingin menegaskan kembali pesan itu.

Mau mengikuti dan mendukung program beliau ?

Bisa jadi kueciiil sumbangsih kita, tapi setidaknya itu menunjukkan dukungan dan ikatan kita.

Mari sahabat kita bergotong royong ! Kecil tapi bersama. Bisa membesar dan berpengaruh. Silakan bergabung bersama dengan klik link ini: https://kitabisa.com/JamilAzzainiR80

 

Saudagar Tangguh

Sebulan lalu, saya bersyukur mendapat tantangan sekaligus peluang. Nah lho. Yup, nano-nano rasanya. Sodoran kegiatan yang tentunya memberi warna lain dalam perjalanan training.

Tantangan ? Iya. Tantangan ! Karena harus membuat materi pelatihan yang cespleng berdurasi 45 menit. Materi itu didesain khusus. Tentunya harus langsung menyentuh harapan audiens. Kebutuhan peserta. Peserta yang mendengar langsung bisa punya ‘call to action’. Langsung bisa bertindak !

Peluang ? Tentu saja. Setiap sodoran kegiatan akan memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar lagi. Pun memberikan panggung bagi saya. Tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan. Tak bisa dipungkiri, menjadi alat pemasaran baru. Baik bagi saya dan juga materi yang dihadirkan.

Apalagi kali ini untuk turut berkontribusi terhadap tumbuh kembangnya usaha mikro, kecil, dan menangah. UMKM. Event ini diselenggarakan oleh Serikat Saudagar Nusantara. Mereka menggelar Festival Saudagar Nusantara dari 27 Oktober hingga 29 Oktober 2017. Bertempat di Sentul International Convention Center, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Sebuah kehormatan bagi saya bisa hadir dan berkontribusi di event yang besar ini. Saya yakin, sahabat juga punya rasa yang sama.

Sahabat, mau bisnisnya tumbuh dan berkembang ? Bisnisnya ingin besar. Punya jejaring kuat. Ingin saling menguatkan dan membesarkan UMKM. Menjadi Saudagar Tangguh ? Sekaligus mendapatkan manfaat lain ? Yuk sempatkan waktu akhir pekan ini. Mari merapat ke Sentul. Daerah bagian dari Bogor yang menggeliat dan tambah besar ini.

Insya Allah, saya akan berada di sana dan memberikan sharing knowledge & experience tentang :

“Tiga Jurus Menjamin Ketersediaan Pasokan Bahan Baku”

Kapan ?

SABTU, 28 Oktober 2017 pukul 15.00-16.00 WIB khusus di Hall/Tenda Besar : Klub Inovator Bisnis (KIB).

Undangan ini spesial untuk sahabat semua. Free of charge. Namun, karena keterbatasan tempat, mohon perkenan sahabat memberikan konfirmasi kehadiran melalui WA dengan format :

FSN_KIB_Nama_NamaUsaha

Konfirmasi dikirimkan kepada Ayu : 085692053051.

Saya tunggu di sana ya !

Mari tumbuh berkembang bersama menjadi Saudagar Tangguh !

 

Catatan Khusus dan Penting :

Bagi sahabat yang ingin hadir, dipersilakan mencetak tiket masuk melalui web :

http://kopdarsaudagar.com/fsn/