Momen Perubahan

Hari ini bagi sebagian manusia atau organisasi merupakan hari istimewa. Termasuk PT. Elnusa Tbk. yang memperingati hari ulang tahunnya yang ke-47.

Momen istimewa seperti ini acapkali dibarengi dengan kegiatan positif. Tidak jarang, orang melakukan resolusi. Momentum perubahan. Perbaikan diri dan organisasi.

Perubahan perlu penggerak. Dalam kontek Indonesia, penggerak utama sejatinya adalah umat Islam. Kenapa ? Karena penduduk muslim di Indonesia dominan, 87% .

Mari kita coba retas sedikit saja dari salah salah satu ibadah yang dijalani. Satu saja, hikmah shalat berjamaah.

Saya yakin di dalam suatu masjid, dengan atau tanpa adanya tanda shaf (tanda shaf : tulisan sebagai tanda barisan sholat), jamaah berbaris rapi. Begitu iqamah dikumandangkan. Tertib. Kalau pun ada yang mencong, sebelahnya mengajak meluruskannya. Baik dengan kode. Tak jarang dengan tarikan kecil pada sarung atau celana rekan di sebelahnya.

Pernahkah melihat tayangan film atau foto atau bahkan sahabat mengalaminya sendiri ? Sholat berjamaah di Masjid Haram Mekkah. Saat tawaf, crowded, penuh sesak, bukan ? Bisa puluhan ribu jumlahnya. Tapi, begitu dikumandangkan adzan, jamaah pun mulai berbaris rapi. Tertib. Terlihat Indah. (catatan : Tawaf adalah berjalan/berlari kecil mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah).

So, ajaran untuk tertib sudah ada sejak sholat diajarkan kepada kita. Ajarannya luhur. Tak disangsikan lagi.

Namun, sangat disayangkan apa yang terjadi dewasa ini, ketika keluar dari masjid budaya tertib itu seakan hilang. Wuusss…. hampir tak berbekas.

Kita masih membatasi diri dalam beberapa hal. Sholat adalah urusan ibadah. Urusan di luar masjid menjadi hal lain. Kita tidak total membumikan ajaran Rasulullaah. Belum merasuk penuh dalam kehidupan sehari-hari. Belum kaffah. On-off terus. Putus Sambung

Contoh kejadian yang sering dijumpai, bahwa ketertiban itu nampak hilang di luar masjid  yang patut kita renungkan bersama, adalah :

R2 atau roda dua, melawan arus. Mangambil lajur jalan orang atau pengendara lain. Pas di persimpangan, kendaraan bertumpuk. Macet. Terkunci. Perlu waktu relatif lama mengurainya. Parahnya, tidak jarang berombongan. Banyak yang mengikuti aksi itu. Tak jelas siapa yang memulainya.

Bagaimana dengan roda empat atau R4 ? Idem ditto. Setali tiga uang. Sebagai contoh sederhana, berkenadara di jalan tol. Sudah ada larangan menggunakan bahu jalan. Bahu jalan hanya untuk darurat. Jalan untuk ambulan, polisi, keperluan darurat lainnya. Tapi apa yang terlihat ? Bahu jalan seperti jalan tol di dalam jalan tol. Dipakai dengan laju yang tidak pelan pula. Tak peduli kelas mobilnya. Bus, angkutan umum, mobil pribadi pun turut masuk. Pas ada kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, penanganan lambat. Lha wong, bahu jalannya dipakai tidak semestinya. Ambulan, polisi, mobil derek pun terlambat tiba.

Kalau sudah ada kondisi darurat seperti itu, jalan jadi macet. Penanganan lambat, seperti kasus Brexit (baca : Brebes Exit) pada Lebaran lalu. Pengguna jalan muring2. Ngedumel. Marah. Parahnya turut ngomeli pejabat yang berwenang pula. Bisa jadi aparat sudah berusaha maksimal. Kita sebagai user yang tidak disiplin.

Praktek yang ditemui, masih ada yang berusaha menjadi baik. Tidak jarang ada yang peduli dengan kejadian seperti itu. Mencoba memberi teguran atau mengingatkan. Eeee… kalau diingatkan malah lebih galak.

“Sok tertib, Lu !”

“Kapan nyampe’ nya. Bisa telat ini masuk kerja, kalau ngikuti aturan”.

Jawaban yang sering dilontarkan.

Banyak alasan mengemuka. Pembenaran. Justifikasi.

Apakah terpikirkan oleh kita ? Bisa jadi, karena itulah kita tertinggal dari bangsa lain. Bahkan dari umat yang kita bilang tak mengenal Tuhan sekali pun. Kita memang dalam tataran kajian, namun prakteknya masih harus ditingkatkan.

Ijinkan saya mengemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan juga termuat dalam kitab hadits yang riwayatkan oleh Ibnu Majah.

“Barang siapa memulai dalam agama Islam perbuatan yang baik, maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut. Dan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa memulai dalam Islam perbuatan yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang mengikuti setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”

Akankah kita menjadi bagian dari itu ? Orang yang memikul beban dosa karena suatu aksi tidak baik yang kemudian diikuti orang lain ?

Patut menjadi renungan bersama.

Menjadi insan yang taqwa perlu perjuangan. Penuh cobaan. Perlu keteguhan. Dan yang lebih penting lagi adalah dimulai dari aksi yang kecil.

Janji Allah SWT sangat jelas, seperti termaktub dalam Surat At Talaq ayat 2-3 :

“…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Karena kita berjumlah besar. Dominan. Ini lah yang saya sebut kita menjadi penggerak utama. Seyogyanya kita yang jadi motor. Karena ajaran Rasulullaah adalah luhur. Kita yang perlu membumikannya. Menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Saya yakin kita ingin terhindar dari dosa yang berantai dan tak berujung. Dosa karena aksi yang tidak baik dan diikuti banyak orang.

Mari kita bumikan ajaran Rasulullaah. Kita praktekkan. Kita bawa dan menempel pada keseharian tindak tanduk kita. Di mana pun kita berada.

Karena kita adalah wajah umat Islam. We are the face of Islam.

Semoga berkenan.

(Catatan ini disaripatikan dari Khutbah Jumat, 9 September 2016 di Masjid Baitul Hikmah Elnusa, Cilandak, Jakarta)

 

 

Chief Servant

Dua hari lalu saya dikejutkan oleh sebuah kartu nama. Di bawah namanya tertulis “Chief Servant”. Setahu saya beliau adalah CEO & President Director salah satu perusahaan asuransi ternama.

Ternyata beliau mengubah paradigma melalui sebutan dan jabatan. Ya, ‘Kepala Pelayan’. Betul juga karena ia memimpin ribuan karyawan yang memang melakukan pelayanan terkait jasa perlindungan kepada pelanggan perorangan maupun korporasi.

Ini mirip yang dilakukan Tim Supply Chain di salah satu perusahaan roti ternama di Indonesia pas saya bergabung 13 tahun lalu (Salam hormat saya untuk Pak Haji Zainal). Perubahan nama sopir menjadi Distribution Representative (Disrep) dan keneknya diberi sebutan Assistant Distribution Representative (Asdisrep). Ketika itu tugas mereka memang tidak sekedar nyupiri truk untuk mengirimkan roti ke toko pelanggan. Mereka juga melakukan aktivitas pelayanan lainnya. Mereka menata produk di rak. Melakukan pemilahan dan pengambilan kembali jika ada yang kadaluwarsa. Plus melakukan penagihan. Nama itu juga memberi kebanggaan tersendiri bagi pemegang peran.

Memori saya berputar. Saya jadi teringat pelatihan dua tahun lalu tentang bagaimana melayani dengan hati yang dibawakan Agni Shanti Mayangsari. Pelatihan untuk seluruh leader yang tersebar di Indonesia. Pemimpin pada fungsi pelayanan di jajaran bagian umum dan property manaegemnt. Pelatihan Hearty Service yang dibawakan dengan sepenuh hati. Sejatinya kita adalah pelayan. Ketika pelayan memberikan servicesnya dengan sepenuh hati, hasilnya wow, spektakuler. Di luar dugaan. Hasil yang melebihi ekspektasi seluruh stake holder.

Semoga Pak Kepala Pelayan (salam hormat saya Pak Sabam) juga segera mendapatkan hasil yang spektakuler. Meski, perubahan nama jabatan nampak sepele. Mindset bisa berubah. Hasil bisa jauh melampaui batas yang diharapkan.

Perkenankan saya berbagi buah tangan, karya Agni Shanti Mayangsari untuk dapat menjadi rujukan bagi pelaku di bidang pelayanan. Tanpa terkecuali. Karena memang sejatinya kita adalah abdi, pelayan.

Goodluck, Chief !

Pun kepada Sahabat yang lain, selamat menikmati…

Salam terobosan ! Terus bekarya untuk negeri !

Berikut ini salah satu artikel tersebut.

Tiga Jurus Jitu Menerobos Hati Customer

by Agni S. Mayangsari, Hearty Service Trainer

Surabaya, 2 September 2016

Happy Customer Day everyone!

Yup hari ini ditetapkan sebagai Hari Pelanggan. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan melakukan hal-hal berbeda hari ini untuk merayakannya. Klo kamu? Hal apa yang kamu lakukan secara berbeda hari ini untuk membahagiakan pelangganmu?

Well… Sebelum jawab pertanyaan diatas, jawab yang ini dulu ya: Siapa sih pelangganmu?

Mungkin ada yang jawab: para pasien di RS tempatnya bekerja, para nasabah di Bank tempatnya bekerja, para tamu di Hotel tempatnya bekerja, para masyarakat yang dilayani oleh instansi tempatnya bekerja, para peserta didik di Sekolah tempatnya bekerja, dll. Jika jawaban kamu adalah salah satu dari yang saya tulis ini, maka kamu memilih tipe Customer External sebagai jawabanmu.

Tapi… apakah saat menjawab pertanyaan tentang “Siapa sih pelangganmu?”, juga terlintas wajah rekan-rekan sejawat di tempatmu bekerja? Apakah kamu juga terpikir akan keluarga tercintamu di rumah? Sadarkah kita bahwa mereka juga customer kita, customer internal.

Banyak dari kita yang piawai melayani customer tipe pertama, yaitu para customer eksternal namun lupa berlaku ramah pada customer internal. Pada hari pelanggan ini, ijinkan saya berbagi 3 jurus ampuh menerobos hati customer terutama pada menit-menit pertama bertemu dengan mereka.

1. Senyum
Iya, senyum. Menggerakkan bibirmu ke kanan-kiri secara seimbang dengan setulus hati. Kuncinya ada pada kata seimbang. Karena jika gerakan bibirmu tak seimbang antara kanan-kiri, ia bisa bermakna senyum yang menghina atau sinis. Dan tahukah kamu senyum ini adalah senjata ampuh pertama yang bisa menjadikan hubungan dengan orang lain menjadi lebih mudah. Senyum juga merupakan simbol sambutan dan penerimaan pada orang lain, termasuk para customermu.

2. Kontak Mata
Apalah arti senyum jika tak disertai kontak mata. Maka, jurus kedua yang dibutuhkan untuk mendampingi senyum adalah: menatap mata customermu. Tentu dengan tatapan yang ramah. Tatapan mata yang berasal dari mata yang sedikit menyipit dan alis sedikit menurun. Bukan sekedar tatapan mata kosong bahkan melotot. Begitu pentingnya tatapan mata atau eye contact ini, sampai dianjurkan dalam dunia pelayanan untuk memberikan eye contact tidak kurang dari 60% dari total interaksimu dengan customermu.

3. Anggukan Kepala.
Jurus ketiga inilah yang bikin jlebb saat menerobos ke hati pelangganmu. Anggukan kepala adalah bentuk penghargaan pada orang lain. Dan basic needs of people is to be recognized. Kebutuhan mendasar setiap orang adalah dihargai keberadaannya. Maka sempurnakan senyum dan tatapan matamu dengan anggukan kepala. Anggukan kepala ini bisa kamu ubah arahnya sesuai tipe customermu. Jika eksternal, mengangguklah dengan anggun ke bawah. Jika ia rekanmu, customer internalmu, kamu bisa gerakkan dagumu sedikit ke depan.

Tiga jurus ampuh ini bisa kamu lakukan bahkan sebelum kamu berkesempatan melayani customermu. Hanya butuh beberapa detik saja untuk melakukan tiga jurus jitu ini. Ketika kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu atau sedang melayani customer di depanmu, misalnya, tiga jurus tadi bisa kamu gunakan untuk menerobos hati customer yang sedang menunggu atau yang baru tiba di tempat pelayananmu. Mudah bukan?

Yuk mulai sekarang perbanyak: Senyum + Kontak Mata + Anggukan Kepala, dan lihat bagaimana para hati customermu akan tertembus olehmu.

 

www.heartyservice.com

Beritahu yang Kau Mau

Saya dulu pernah ulang alik Medan-Jakarta. Jumat malam pulang ke Jakarta. Ahad malam atau Senin dinihari terbang balik Medan. Katanya saya termasuk pegawai PJKA. Pulang Jumat Kembali Ahad. He.. he…

Kalau pas Senin, mendarat langsung ngantor. Tanpa mampir dulu ke rumah. Ketika itu jarak kantor dengan Bandara Polonia cuma selemparan batu. Jalan kaki jadi pilihan utama.

Suatu ketika, belum buka laptop, sejawat sudah menghampiri.

“Ri, gua ada program. Gini, gua mau beri perusahaan genteng dan material, silo semen. Kapasitas sekira 10 ton. Dinding silonya, ditempeli dengan nama perusahaan kita”, ujarnya sambil nyeruput teh.

Silo itu tempat penyimpanan semen curah. Konstruksinya ada yang dari beton. Ada juga yang terbuat dari konstruksi baja. Silo yang dimaksud teman saya adalah yang jenis konstruksi baja.

“Jadiii.. ini agar mereka terus beli semen sama kita.. Gituu…”, tambahnya.

“Mantaps.. menarik itu. Apa yang bisa aku bantu agar program itu gol ?”, tanya saya untuk memastikan.

“Bantu gua, cari kontraktor agar budget gua masuk … tuh. Termasuk suruh dia yang buat desainnya, ya. Terus kalau bisa sebulan lagi sudah bisa go!”, ujarnya semangat.

Saya antusias sekali dengan diskusi pagi itu. Sejawat saya di marketing berupaya untuk melibatkan saya yang berada pada fungsi pengadaan lebih awal.

Saya sampaikan inisiasi itu pada 2 orang tim saya. Kami segera mencari informasi terkait permintaan itu. Daftar vendor pun dibuka. Singkat cerita, beberapa kontraktor lokal diundang. Saya menerangkan maksud undangan dan kebutuhan kami.

Tidak lama, kami mendapat response. Ada yang menolak karena keterbatasan waktu dan tenaga.  Ia punya proyek yang berbarengan. Tapi ada 3 perusahaan yang antusias. Desain dan proposal biaya pun bervariasi.

Kami konsultasikan desain kepada tim marketing, apakah memang sesuai ekspektasinya. Mereka cocok dengan salah satu desain milik perusahaan. Masalah lain timbul. Ketika saya beritahu harga dari desain yang dipilih. Proposal lebih tinggi dari anggaran yang dipunya. Tapi teman saya tadi sudah kesengsem (baca : suka banget). Tak mau pindah ke lain hati eh.. kontraktor.

Tim berupaya membedah biaya yang diajukan kontraktor. Ada peluang, beberapa item memang nampak lebih mahal dari harga pasar di Medan. Plus ada informasi dari marketing, bahwa silo juga akan dibangun lagi di 3 tempat lainnya. Alhamdulillah, setelah 2 kali negosiasi dengan kontraktor yang dipilih, ketemu kesepakatan. Harga final 2% lebih rendah dari budget sejawat saya. Lumayan.

Beri tahu kebutuhan lebih awal sangat penting. Ini juga menunjukkan bahwa user punya perencanaan yang matang. Bagi tim procurement juga menyenangkan. Lho kok bisa ? Iya. Pengadaan punya waktu analisis lebih lama. Apalagi jika ada spesifikasi yang kompleks, termasuk membuat desain misalnya. Pekerjaan penting tapi tidak mendesak. Negosiasi dengan posisi tidak mupeng (baca : muka pengen banget) tentunya juga lebih fleksibel. Tidak kepepet. Bukan rahasia, jika posisi terdesak waktu, harga berapa pun terasa murah, bukan ? Dengan perlibatan lebih awal, biaya punya potensi dihemat.

Sahabat, ingin mendapatkan benefit seperti itu ? Yuk, beritahu yang kau mau, dan itu lebih awal. Rasakan bedanya.

Terus berkarya untuk negeri.

Salam Terobosan !

This is ariWAY

Jika sahabat mendapat manfaat dari artikel ini, boleh lho.. dibagikan kepada sejawat yang lain.

Jika ingin diskusi lebih rinci, silakan kirim email ke :

ariwijaya@gmail.com

atau boleh juga bergabung dengan Facebook Group :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Lagi dan Lagi

Suatu saat saya di WA teman. Ternyata ia berpindah tempat berkarya.

“Mas, apa bisa kita ketemu. Ada yang ingin aku diskusikan”, pesannya singkat dan padat.

Saya langsung angkat telpon. Maklum, surprise dan janur gunung (baca : tumben), karena lama sekali kami tidak berkomunikasi. Singkat cerita, ia mendapat tugas baru untuk membenahi rantai pasokan perusahaan tempat ia bekerja. Supply chain menagement-nya perlu dirombak.

Pagi itu sesuai janji, kami bertemu di salah satu tempat nongkrong sekaligus toko kelontong. Sobat saya yang satu ini, sebelum cerita mengomentasi tubuh saya yang tambun. Tambah melar. Jauh berbeda dibanding dulu pas terakhir kami bertemu sebelum kena PHK.

Ia pun mulai menerangkan proses bisnisnya. Ia minta pendapat, darimana aksi harus dimulai. Agak sulit menggambarkannya ketika itu, meski keterangan bisnis prosesnya nampak tidak ada masalah. Sebagai upaya Saya hanya menimpali dengan cerita beberapa kasus yang saya angap serupa dengan bisnisnya. Bisnis material bahan bangunan. Tetap saja, masih ngambang. Belum ada titik temu.

Saya pun minta ijin bisa berkunjung ke lokasi pabriknya di MM2100, Bekasi. Ini penting untuk melihat kondisi nyata. Disepakati hari Jumat siang.

Kunjungan singkat dan juga peninjauan ke lapangan pun, mendapat simpulan penting. Ada 3 hal besar yang saya catat : Alur proses yang tidak efisien, mutu produk yang tidak sesuai dan  penempatan bahan baku, barang jadi dan barang rusak yang bercampur dalam satu tempat.

Saya coba fokus satu hal. Alur proses. Ternyata ada aliran  bahan baku yang bertumpuk dalam satu jalur dengan barang jadi. Sehingga tempuk alias tida bergerak, jika dipaksakan. Antrian menjadi relatif lama, utamanya untuk pengangkutan produk jadi. Tidak mengherankan ketika terlihat banyak truk yang mengular di jalan komplek industri itu.

Saya menyarankan ada sodetan atau membuat pintu baru untuk finished goods. Kebetulan masih ada space yang memungkinkan mewujudkan inisiasi itu. Pembenahan yang bisa jadi sederhana. Hasilnya bisa berbeda. Proses muat tidak perlu waktu tunggu yang lama. Pemenuhan order pelanggan juga menjadi lebih cepat.

Apa yang menjadi benang merah ? Proses bisnis sudah ada. Dokumen pun lengkap. Langkah penting lainnya adalah kondisi lapangan yang sesuai dengan alur proses yang diskenariokan. Bagaimana jika tidak memungkinkan  ? Berkaca kasus tadi, jika tanah tidak memadai lagi, maka perlu diatur jadwal yang sesuai. Agar tidak terjadi tumpah tindih aktivitas bongkar muatan bahan baku dengan muat bahan jadi.

Setiap inisiasi membumikan proses bisnis harus dicoba. Direalisasikan. Karena dengan begitu ada pengalaman. Jika gagal terus ? Sebenarnya tidak ada kata gagal. Kita belum menemukan solusi yang pas. Terus membuat aksi. Tidak diam pasrah bongkokan.

Persis seperti pesan Richard Branson :

“The best way of learning about anything is by doing.”

Sahabat, mari kita cek lagi apakah proses bisnis yang sudah kita buat sesuai dengan kondisi di lapangan ? Jika belum, masih banyak peluang adjustment. Perbaikan yang berkesinambungan. Aksi lagi dan lagi.

Salam terobosan !

Terus berkarya untuk negeri.

This is ariWAY

FLIP dan VUCA

FLIP dan VUCA

by Rhenald Kasali, Guru Besar UI

Koran Sindo,  21 Februari 2013

Di sana gelap di sini terang. Ketika Eropa dilanda krisis, pengusaha Aksa Mahmud bisa memborong pesawat-pesawat kecil yang dipakai untuk bisnis logistiknya menembus kota-kota terpencil di Papua. Susi Air juga maju pesat, dari 22 pesawat carter kini sudah 45.

Di Hilman Restaurant yang asri di kantor pusat Susi Air di Pangandaran, suatu malam saya menikmati makan malam bersama pilot-pilot muda Susi Air.  Saya absen mereka satu persatu. Dua  orang berkebangsaan Spanyol, dan masing-masing satu dari Prancis, Belanda, Finlandia, Italia dan New Zealand. Muda, gagah, disiplin dan sudah mulai mengerti bahasa Indonesia.

Mengapa mereka mau bekerja di Susi Air? Harap maklum, dari 700 pegawai Susi, 200 adalah berkebangsaan asing. Jangan salah, gaji mereka tidak besar-besar amat, dibandingkan mahasiswa saya yang baru lulus tentunya. Ada 2 hal, yang pertama mereka perlu jam terbang, dan pelatihan yang bagus (Susi Air memiliki fasilitas pelatihan yang baik) dan kedua, yang lebih penting, negeri mereka sedang dilanda krisis yang membuat mereka benar-benar menjadi generasi VUCA:

Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Lantas kalau Anda bertanya mengapa Susi Air tidak pakai pilot lokal saja, maka jawabnya adalah di sini terjadi short supply. Pasokan pilot jauh di bawah kebutuhan industri jasa aviasi nasional yang melonjak tinggi belakangan ini.

Lantas apakah generasi muda Indonesia yang sedang menikmati aneka gadget, gaya hidup,  berangan-angan jadi wirausaha hebat dan menikmati kemajuan ekonomi akan terbebas dari gejolak VUCA?

Pasca 2015
Benar investasi besar-besaran sedang banjir mendatangi Indonesia saat ini menyongsong pasar bebas Asean bersama mitra-mitra dagang besar lainya di 2015. Indonesia telah dilirik sebagai ladang baru bagi investor global. Kalau anda terbang rendah naik Susi Air dari Halim Perdanakusumah, anda bisa melihat secara kasat mata. Geliat roda ekonomi tengah bergerak di kantong-kantong Industial Estate mulai dari Bekasi hingga Purwakarta. Data-data di BKPM juga menunjukan kemajuan serupa di Jawa Tengah, Jawa Timur dan propinsi-propinsi yang sudah siap lainnya.

Persaingan antara para pemberi kerja dan investor akan menjadi kenyataan di tahun ini. Sementara tahun 2015 indonesia akan memiliki presiden baru yang harus bertempur habis-habisan menegakan disiplin, membuang  tradisi  “asal bapak senang”, menata kembali subsidi (yang kini banyak dihambur-hamburkan kepada pihak yang tidak berhak), meremajakan birokrasi, memperbaiki mutu pendidikan, memperkuat indrustri (dan menekan import), menjalankan komitmen moratorium ekspor tenaga kerja ke luar negri (untuk sektor-sektor informal) terutama di kantong-kantong TKI, mengharmonisasikan hubungan pusat-daerah, menghapus tumpang tindih yang begitu kuat antara satu kementrian dengan kementrian lainnya (juga intra kementrian), menerapkan UU Aparatur Sipil Negara yang baru, menjalankan UU Pengolahan sampah (yang harus sudah dijalankan sejak tahun ini), memperbaiki kualitas penegakkan hukum, meningkatkan produksi pangan , mempercepat pembangunan infrastruktur, mengeksekusi mati penjahat-penjahat narkotika, dan tentu saja memberantas korupsi.

Banyak juga ya PR nya?
Itu sebabnya Indonesia tidak lepas dari VUCA, sehingga akan ada banyak kejutan yang harus siap diantisipasi sesaat setelah presiden baru terpikih. Sampai kini Anda belum tahu siapa calon terkuat kepala Negara, apalagi kualitas mentri-mentrinya. Tetapi semakin mereka menunda masalah semakin besar Volatility (dynamic change) dan Uncertainties yang harus dihadapi dunia usaha dan birokrasi. Apalagi bila perekonomian Eropa membaik. Pilot-pilot asing akan kembali pulang, padahal dari kebutuhan 1200 – 1500 pilot baru setiap tahunnya, Indonesia hanya baru mampu menyediakan 100 – 150 orang. Belum lagi dana-dana internasional yang begitu cepat berpindah.  Jadi jauhkanlah diri anda dari pikiran kalau ekonomi membaik semua pasti akan lebih baik. Sejarah mengajarkan kepada kita, ladakan-ledakan besar justru banyak terjadi di tanjakan yang berat. Dan di sana akan ada banyak kendaraan-kendaraan yang terkapar, mogok, bahkan harus ditarik ke belakang.

FLIP
Liz Guthridge, pakar VUCA memperkenalkan metode FLIP unuk mengantarkan generasi-generasi baru menghadapi dunia VUCA. Ia mengatakan:

“If you stand still, you’ll fall behind. Movement alone, however, doesn’t guarantee success”.
Jadi diam saja tidak menyelesaikan masalah.   Anda perlu mitra-mitra yang tepat dan bisa menjadi komplemen yang tangguh.

FLIP adalah akronim dari:

Focus, Listen, Involve, dan Personalize.

Di abad VUCA ini, menurutnya, CEO-CEO dan pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu :
Menfokuskan pikiran dan tindakannya pada sasaran yang berdaya hasil tinggi (Focus),
Mendengarkan (Listen) pada siapa yang harus didengar (yang penting-penting dan berdaya hasil tinggi),
Membangun keterlibatan yang luas dengan menghapus tradisi feodalisme atau kebiasaan bekerja pada silo masing-masing (Involvement);
Dan menjalin percakapan penuh arti dengan stakeholder secara personal, bahkan massal (Personalize).

Mungkin Anda mengatakan “saya sudah FLIP kok”, namun saya harus menyampaikan FLIP yang sudah Anda jalankan mungkin tidak tepat. Telah banyak suara bising yang semuanya minta didengar di sini. Televisi saja sering mengangkat isu-isu yang tidak penting, tetapi penuh drama sehingga seakan-akan sudah menjadi masalah besar. Bayangkan, stasiun televisi berita (swasta, nasional) yang begitu besar saja menurunkan berita pagi (pukul 06.00) dari Kota Medan tentang kebakaran sebuah bengkel kecil. Kalau kemampuan reportase dan mengangkat berita para awak media saja masih seperti ini, bisa dibayangkan betapa kusutnya persepsi kita tentang dunia yang kita hadapi.  Demi kecil kita jadikan pegangan bahwa itu kemauan rakyat, tuntutan orang luka batin kita anggap sebagai hal yang harus dimenangkan.

Saya juga memiliki banyak pengalaman pribadi dalam menerima umpan balik masyarakat dari tulisan-tulisan yang saya angkat. Sebuah organisasi guru yang sangat vokal misalnya mati-matian menolak gagasan-gagasan saya tentang perubahan pendidikan. Anehnya saya menduga pandangan mereka benar karena mereka adalah kumpulan guru-guru. Mereka jugalah yang memberi umpan kepada Mahkamah Konstitusi untuk menghapuskan RSBI. Namun setelah saya dengarkan, dan pelajari ternyata mereka sebagian besar bukanlah guru.  Mereka hanya mewakili suara orang-orang iseng yang ingin eksis, ingin didengar, ingin terlihat pandai namun mempunyai goresan-goresan tajam lukan batin yang tak jelas dari mana sumbernya. Mereka telah menjadi alat kaum “losers” yang takut kehilangan proyek-proyek buku atau pelatihan-pelatihan yang biasanya bisa didapat karena buruknya sistem pendidikan nasional. Tetapi demi impresi yang besar, orang-orang seperti itu dibiarkan menjadi “member” aktif dakam beberapa organisasi guru. Bayangkan apa jadinya bila pandangan oang-orang “sakit” diterima sebagai masukan penting oleh Mahkamah Konstitusi? Kalau para pengambil keputusan sudah genit ingin jadi presiden, maka bukan masa depan lagi yang akan dibangun, melainkan popularitas yang dapat dibaca dari “keras-tidaknya” aung-an kemarahan pada social media dan social TV.

Jadi berhati-hatilah dalam berselancar di atas papan selancar FLIP. Pilih mana yang harus difokuskan, bebaskan pemimpin dari kegenitan populos, pilih siapa yang harus didengar (dan perhatikan bahasa mereka), bangun keterlibatan yang sehat, serta jalin hubungan personal (customize).

Bersiaplah memperbaharui kepemimpinan. Itulah FLIP untuk mengendalikan Volatilitas, Ketidakpastian, Kompleksitas dan Keragu-raguan.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Ah… Lama Kali’

Pertemuan pagi itu serasa bukan rapat. Mencekam. Betapa tidak, tim user dari fungsi business development melaporkan ada barang yang dipesan belum tiba. Mile stone penting. Barang yang terlambat diterima itu punya potensi memperlambat launching produk yang digadang-gadang. Tentu saja, hal ini yang membuat suasana menjadi nggak enak. Bisa dipahami.

“Nggak tahu tuh Pak, kalau pakai procurement, lama. (baca : membeli  menggunakan fungsi pengeadaan sesuai aturan perusahaan). Sudah biasa itu !”, cetusnya ketika ditanya kenapa salah satu tonggak yang sudah disepakati malah molor.

Ia menggambarkan bahwa timnya menggunakan sistem pengadaan yang sesuai prosedur, ternyata tidak sesuai yang diharapkan. Namun, ketika ditelisik lebih jauh dengan menghadirkan salah satu Kepala Seksi pengadaan, ternyata memang ada spesifikasi yang berubah dalam dokumen permintaan pembeliannya. Purchase Requisition berubah spesifikasi.

Tentunya anda yang berperan sebagai pengguna akhir dan ada prosedur tertentu dalam pembelian, pernah punya pengalaman yang sama.

“Lama kali’…. “

“Masa gitu aja, harus ganti dokumen”, begitu gerutu kita sebagai user.

Acapkali kita geram atas kejadian itu. Mari kita bedah, kenapa terjadi demikian.

Pernahkah anda membeli sesuatu, sendiri ? Nggak pakai menyuruh orang lain. Cepat bukan ? Tidak bertele-tele.

Tapi, pernahkah juga membeli barang yang sama, namun ketika itu anda harus mengerjakan yang lain. Barang itu dibutuhkan segera. Anda pun meminta tolong anak atau asisten rumah tangga atau tukang ojek pangkalan di dekat rumah. Kesempatan saat itu, anda menggunakan jasa orang lain. Bukan anda sendiri yang membeli. Coba diputar lagi memorinya. Pernah ?

Pernahkah mendapatkan barang yang tidak sesuai harapan ?

“Waduh, bukan barang yang ini. Aku mau shampoo yang ukuran sedang. Biar gambang dimasukkan tas”.

Atau sudah berharap cemas dan menunggu, eee….mendapat telpon :

“Pak, harganya ternyata naik. Uangnya nggak cukup. Apa dibelikan merek lain ?”

Bahkan, parahnya ketika sudah menjamur (baca : menunggu lama banget), barang yang diharap, tak didapat jua.

“Paak…. Maaaf. Barangnya sudah saya cari di 5 toko di komplek. Nggak ada. Terus, saya coba lanjut ke jalan besar itu. Sama. Di 4 toko, kosong. Barang yang bapak minta tadi, nggak ketemu juga”, tukas orang tersebut sambil bersimbah peluh. Terengah-engah pula, karena belinya pakai sepeda onthel.

“Lho, kenapa nggak beli merek lain ?” response anda sembari menghela nafas dengan nada kecewa.

“Lha…. Bapak nggak bilang tadi, makanya saya balik dulu” gerutu sang pembeli.

Saya yakin ada yang mengomel karena peristiwa itu. Kesal. Emosi. Terlebih, gara-gara peristiwa itu, pekerjaan tertunda. Mangkrak. Akhirnya, harus ada perintah ulang. Bahkan, tak jarang yang akhirnya berangkat beli sendiri. Biasanya, jika sudah nggak strantan (baca : tidak sabar).

Ilustrasi tadi menggambarkan, itulah bedanya ketika anda membeli sendiri. Dibandingkan dengan menggunakan jasa orang lain. Benang merahnya adalah pada pengambilan keputusan pembelian.

Ketika anda melakukan pembelian mandiri, maka keputusan seluruhnya ada di tangan anda.

Misalnya, dibenak anda, akan membeli barang merek A dengan harga 100, di Toko Ekspres Gembol. Anda menuju toko itu, ternyata harganya sudah naik, 110. Tak bisa ditawar. Mencoba beralih ke beberapa toko, ternyata harga memang sudah berubah. Pasaran, ada di kisaran 100 lebih. Ketika anda  membutuhkannya, maka dengan sendirinya akan dengan cepat membuat keputusan. Menerima penawaran itu. Atau beralih ke produk lain. Jika menerimanya, anda harus rela merogoh saku lebih dalam. Alias menaikkan anggaran anda. Keputusan bisa diambil langsung. Anda pengguna dan pegang kendali saat itu. Walhasil, barang A terbeli. Satu urusan usai.

Dalam hal ini faktor QCD (quality, cost, delivery) telah digabung jadi satu faktor pengambil keputusan. Harga memang lebih sedikit dari budget awal. Tapi mutu sesuai harapan. Dan lagi, faktor waktu dibutuhkannya juga pas. Apalagi waktu menjadi penentu utama. Pengambilan keputusan dilakukan oleh satu orang. Anda sendiri yang bertindak sebagai user dan buyer alias pembeli sekaligus.

Sekarang coba dibayangkan jika dalam suatu proses bisnis, anda melakukan pembelian dengan melibatkan beberapa pihak. Melewati beberapa rantai. Anda butuh barang A. Berangkat ke gudang atau mengunjungi sistem. Anda menuliskan permintaan barang. Jika ada stok yang memadai, maka tim gudang persediaan akan memenuhinya. Jika stok tidak mencukupi ? Ada dua opsi, mau sewa atau beli ? Diambil keputusan, membelinya. Maka, tim gudang menerbitkan permintaan pembelian. Purchase Requisition atau PR. Tim pengadaan menerima PR dan memulai proses pembelian. Buyer menghubungi vendor. Terjadi kesepakatan. Barang dikirim ke gudang. Proses penerimaan dan pencatatan. Setelahnya serah terima barang A. Tuntas. Itu jika berlangsung tanpa cacat. Dokumen lengkap dan jelas.

Bagaimana jika ada dokumen yang tidak lengkap dan tidak jelas. Misalkan, ternyata anda membutuhkan lebih dari jumlah itu. Atau barang yang di pasaran ada perubahan spesifikasi. Barang yang anda maksud sudah ada improvement. Ada perbedaan. Yang lama sudah obsolete. Belum lagi jika, seperti tadi, ada perubahan harga. Harga pasar sudah melebihi pagu yang ditetapkan user. Tentunya, jika tanpa ada keterangan tambahan, sudah barang tentu, buyer akan menahan pembelian. Ia akan melakukan konfirmasi kepada tim gudang dan bahkan kepada user. Ehmm.. pasti butuh waktu lebih lama lagi agar barang akan diterima?

Terlihat jelas ada perbedaan besar, utamanya dalam hal waktu serah terimanya.

Adakah jalan keluarnya ? Pasti ada. Kenapa pasti ? Karena kita yang membuat sistem. Proses bisnisnya yang membuat tim itu sendiri. Kita duduk bersama untuk menciptakan sistem baru yang akuntabel, auditable, dan tentunya dapat lebih baik dari sisi QCD untuk mendukung kebutuhan pengguna.

Ada sistem penunjukan langsung dengan syarat dan kondisi tertentu. Pakai early supplier involvement. Ada strategic sourcing. Bisa menjalin long term contract, strategic alliance. Atau blanket order. Semua sistem tersebut akan lebih mempercepat proses akuisisi. Pecepatan mendapatkan kebutuhan yang kita inginkan. Tapi, tetap saja tidak dapat mengalahkan pembelian mandiri. Alias anda yang membutuhkan yang berangkat beli sendiri.

Apakah tidak boleh beli sendiri ? Boleh saja. Namun, sekali lagi, jika proses bisnis dan sistem prosedur yang dibuat, memang memperbolehkan hal tersebut.

Memang tepat yang dikatakan Casey Stengel. Salah satu legenda baseball AS. Namanya pernah dicatat dalam Baseball Hall of Fame tahun 1966.

“Finding good players is easy. Getting them to play as a team is another story”.

Perbedaan besar itu nyata. Ibarat mengayuh sepeda balap. Setiap mata rantai harus menapak pada roda gigi dengan benar. Saat pedal dikayuh, sepeda berjalan. Keputusan ada di tangan kita. Rantai akan ditempatkan pada roda gigi yang mana ? Sekali kayuh agar melaju kencang ? Atau kita butuh yang kayuhan ringan seperti ketika jalan menanjak ?

Itu semua membutuhkan mata rantai yang bersinergi. Saling memperkuat. Kompak. Tidak bisa sendiri. Sehebat apa pun individu itu.

“I cannot say whether things will get better if we change; what I can say is they must change if they are to get better.”

Itu pesan Georg C. Lichtenberg, Ilmuwan Jerman penemu Angka Lichtenberg)

Saya yakin anda dan saya ada pada salah satu mata rantai itu. Sehingga kita terhindar dari.. ah, lama kali !

Mari sahabat, kita retas lagi proses bisnis kita. Tempat mana yang harus diperkuat. Atau satu dua aktivitas perlu dibuang. Atau bahkan justru perlu ditambah. Yang penting berujung pada perbaikan yang memberikan peluang penghematan.

Terus berkarya membangun negeri !

Salam terobosan !

This is ariWAY

Silakan disebarkan jika artikel ini membawa manfaat. Saya undang juga sahabat bergabung dalam forum diskusi “di Facebook Group : “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis”

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Terima Kasih

Terima kasih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna : rasa syukur.

Saya memaknai hal yang serupa dengan melebarkan artinya. Terlebih ketika memberikan pelatihan atau sharing session kepada orang lain.

Terima punya arti menerima ilmu dari orang lain atau mendapatkan dari media lain. Termasuk mengolah ilmu dan pengetahuan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Kasih sebenarnya berarti rasa sayang, cinta. Kami memaknai juga dengan memberi (bahasa Jawa informal, kasih berarti memberi).

Itulah semangat yang saya tanamkan di dalam hati ketika diminta memberikan ceramah, memotivasi atau memberikan pelatihan kepada orang atau organisasi lain. Terima ilmu dan pengetahuan itu, kemudian saya berikan lagi kepada yang membutuhkannya. That’s the real meaning of ‘terima kasih’. Mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain adalah rasa syukur yang sesungguhnya. Insya Allah.

Semoga itu menjadi catatan amal sholeh yang pantas saya sodorkan di Padang Maghsyar kelak.

Mau bergabung dengan semangat dan gerakan yang sama ? Yuk, kita mulai dengan berbagi dan beraksi setidaknya untuk lingkungan di sekitar kita.