Saved by The Bell

Suatu pagi, baru saja duduk di ruangan, saya mendapatkan telpon :

“Pak, bagaimana ini, kok barang saya ditolak”, cetus dia.

“Kami sudah cari yang sesuai dan user sudah oke ketika tes akhir. Tapi sama tim gudang, malah tidak diterima. Ini barangnya masih di area parkir. Saya tidak mau bawa pulang lagi. Mohon solusinya !” sambungnya dengan nada tinggi.

Saya pun mencoba menenangkan dan meminta waktu untuk melakukan crosscheck. Jalur yang benar ketika ada vendor yang tidak puas. ia kontak fungsi pengadaan.

Singkat cerita, setelah kontak dengan tim gudang dan memeriksa dokumen yang menerima di kota lain, generator tersebut memang harus dibawa pulang oleh pemasok. Dengan kata lain, ditolak. Equipment hasil refurbish (baca : bukan barang baru, hasil rekondisi peralatan lama) itu, tidak sesuai dengan spesifikasi yang tertulis. Ini juga berkat bantuan teknologi, informasi sangat cepat berbalas dan dikumpulkan.

Lho kok bisa ? Padahal sudah diuji coba dan dinyatakan oke oleh tim pengguna. Biasa jadi saat tes, hanya dilihat dan dirasakan fungsinya.  Tapi dokumen pendukungnya tidak sesuai dengan kontrak awal. Terjadi perdebatan termasuk juga dengan tim pengguna, karena mereka akan menggunakan alat itu mendukung proyek.

Masalah itu pun tuntas setelah sepekan kami mengumpulkan beberapa pihak dan tentunya mengacu pada dokumen kontrak yang telah disepakati.

Sebagai gambaran, jika melihat fisik, seperti tidak ada masalah atas hasil rekondisi. Sepintas ya. Namun, setelah ditelisik lebih teliti, pada nomor seri mesinnya berbeda. Mesin tersebut adalah mesin yang sudah obsolete (tidak diproduksi lagi oleh pabriknya). Informasi ini diperoleh dari tim sales engineer pabrikan generator, yang kami hadirkan. Sistem lama pakai manual, sedangkan dalam dokumen, diminta sistem yang electric. Karena sistem tersebut sekarang masih diproduksi. Sehingga suku cadang dan layanan pendukung lainnya mendapatkan jaminan dari engine manufacturer.

Saved by the bell. Ya, kami diselamatkan oleh dokumen kontrak. Jika tidak, kami akan punya genset yang jaminan suku cadang dan layanan perawatan yang diragukan. Bahkan, tdak ada support. Kami berpikir ketika itu, membeli produk yang baru saja dilengkapi kontrak. Termasuk bagaimana layanan purna jualnya. Apalagi ini peralatan lama yang diperbarui, perlu pagar yang lebih banyak dan rapi.

Kontrak dengan pemasok ibarat ban cadangan. Sangat bermanfaat jika dibutuhkan pada saat yang tepat. Kontrak punya setidaknya 3 peran utama.

Pengawal pelaksanaan. Sebagai pedoman untuk melakukan follow-up dan monitoring pelaksanaan pesanan yang kita minta.

Acuan tindakan. Ada ketidaksesuaian, ada masalah yang terjadi dan perubahan situasi dan kondisi di tengah pelaksanaan dapat dimungkinkan. Acuan untuk menyelesaikannya dengan dokumen kontrak.

Tolok ukur hasil. Hasil akhir dari suatu produk dan/atau jasa dapat berbeda dengan yang diharapkan. Misal terjadi ketidaksesuaian mutu, biaya yang tak terduga, dan keterlambatan. Tolok ukur adalah dokumen kontrak. Pembahasan lebih kuantitatif dan punya dasar yang sama.

Coba dibayangkan ketika itu tidak ada dokumen kontrak. Saya yakin masalah akan berbelit. Energi yang dicurahkan bisa sangat besar.

Sahabat, tidak ingin terjadi seperti itu, bukan ? Mari kita ikat hubungan kita dengan pemasok menggunakan kontrak. Lakukan perikatan tertulis. Karena kita tidak tahu hal yang akan terjadi masa depan. Upaya manusia biasa adalah melakukan antisipasi.

Yuk, terus berkarya membangun negeri dengan melakukan hal yang kecil sekalipun.

Salam Terobosan !

This is ariWAY

Silakan menyebarkan artikel ini jika sahabat mendapatkan manfaat. Bisa kontak saya di : ariwijaya@gmail.com untuk diskusi lebih intensif atau bergabung dengan Facebook Group dengan klik :

 https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Sedikit Itu Rasa

Sahabat, pernahkah membantu menghitung uang dari kotak amal ? Atau melihat isi kotak amal ?

Coba diperhatikan. Isinya beragam, bukan ? Ada uang kertas yang licin atau lusuh. Tak jarang juga berisi uang logam. Pecahannya pun variatif. Ada seribuan hingga lembaran seratus ribu. Lebih dominan mana ? Sebenarnya itulah potret kondisi ekonomi masyarakat.

Tak jarang ada komentar,

“Alhamdulillaah, ada juga yang memasukkan uang merah ini (baca : uang kertas dengan nominal 100ribu)”.

Atau celetukan dan candaan sembari merapikan lembaran-lembaran uang :

“Duh kasihan, uang ini. Lecek, kusam, tapi banyak kali jumlahnya. Jadi agak lama kita harus menghitungnya”.

Sabahat, mari kita kesampingkan dulu bentuknya. Mari kita retas bagaimana nilai dari uang itu. Kita ambil contoh, pecahan 2 ribu sang penghuni kotak amal.

Suatu profesi, katakanlah, tukang bangunan. Tukang ojek pangkalan. Atau tukang linting rokok. Ia bekerja keras dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Upah yang mereka terima biasanya harian. Profesi yang tidak boleh sakit. Apa pasal ? Kalau sakit ia tidak menerima upah. Ia kehilangan pemasukan.

Jumlah upah mereka beragam. Tergantung daerah lokasi kerja. Ada juga berdasarkan keahlian dan lamanya bekerja. Kalau boleh saya ambil sampel, jasa profesinya adalah 100 ribu per hari. Ini contoh untuk memudahkan gambaran saja.

Ia bersedekah 2 ribu rupiah. Nilai itu besar atau kecil ? Itu relatif. Itu rasa. Coba kita bandingkan uang yang dimasukkan ke kotak amal dengan penghasilannya hari itu. Hasil nya adalah 2%. Ya, dua per seratus dari hasil keringat hari itu.

Ada profesi lainnya. Pengacara misalnya. Profesional muda lainnya. Waktu kerjanya kita anggap sama. Pukul 8 pagi hingga teng kembali ke rumah pukul 5 sore. Pekerjaan yang digelutinya bisa menghasilkan Rp 2,5 juta per hari. Ini juga sebagai ilustrasi. Ia memasukkan uang Rp. 50 ribu dalam boks hijau milik masjid. Kadar ikhlasnya, anggaplah sama.

Wow.. limpul, kata Orang Medan. Lima puluh ribu rupiah !

Uang gede ? Eiit tunggu dulu, secara nilai, belum tentu, lho. Ia cemplungkan uang 50 ribu dari hasil jerih payah yang 2,5 juta rupiah. Itu artinya 2% juga !

Sama seperti gambaran sebelumnya, bukan ? So, bolehkah saya sebut, 2 ribunya orang yang berpenghasilan 100 ribu dengan 50 ribu infaqnya yang penghasilan 2,5 juta, punya nilai yang sama.

Bedanya ketika tukang bangunan mengeluarkan 2 ribu, sisa uang di sakunya 98 ribu. Bandingkan dengan satunya. Pengeluaran 50 ribunya, meninggalkan sisa 2,45 juta ! Masih relatif jauh lebih banyak.

Masihkah kita melihat bahwa seribu, dua ribu atau lima ribu, itu kecil ? Sedikit ? Ternyata itu cuma rasa, bukan ? Jumlah yang menurut perasaan yang melihat. Sudut pandang pemberi infaq ternyata berbeda. Sedikit itu rasa.

Ada yang lebih penting lagi adalah nasihat Nabi Muhammad SAW ini :

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

 

Yuk sedekah ! Tak usah risau dan malu, berapa pun jumlahnya.

Mari kita buka pintu lebar, bagi siapa pun yang ingin memberikan hartanya untuk sarana ibadah. Siapa tahu, kita dicatat sebagai orang yang memberikan fasilitas kebaikan. Insya Allah, semuanya dapat menjadi sarana menghantarkan ke surga. Pasrahkan kepada Allah azza wajalla, bobot penilaiannya.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

 

Special note :

Jika ingin berinfaq membantu pembangunan Tempat Pendidikan Al Quran di Masjid Ar Ridho (lokasi : Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan), sahabat dapat menyalurkannya via :

Bank Muamalat Indonesia | 304 003 1990 | Yayasan Ridho Illahi .

Terima kasih. Jazakallaah khair.

Tak Hentinya Bersyukur

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Hanya itu yang patut saya ucapkan dalam 3 hari ini.

Sabtu pagi, saya bersama teman-teman TEMPA (Trainer Mentoring Program) asuhan Mas Indrawan Nugroho membuat video pendek tentang pesan-pesan pelatihan. Saya pamit lebih dulu setelah ‘take’ 3 actions. Terima kasih juga kepada sahabat Harri Firmansyah R, Mohamad Wirzal Azraqi, Fay Irvanto, Bambang Nugroho dan teman-teman lain atas masukannya.

Saya pun meluncur ke bandara menuju Malang. Silaturahim ke ibu saya.

Di luar kuasa manusia, pesawat ketika diumumkan akan mendarat, tapi berputar entah berapa kali. Ada penumpang yang bilang 8. Ada yang bilang 10 kali. Saya hitung sekira 1 jam 10 menit, kami mengudara di atas Bangil-Sidoarjo-Pandaan. Mutar-muter terus. Hanya doa yang bisa dilakukan.

Alhamdulillaah pesawat mendarat mulus. Terbetik kabar setelah di darat. Ternyata Bandara Abdul Rahman Saleh tertutup awan tebal dan hujan deras. Tampak landasan pacu masih basah dan beberapa tergenang air.

Setiba di Tlogomas, saya pun makan sore bersama ibu saya. Sayangnya, bakso keliling langganan sejak SMP telah ludes. Alhamdulillaah berarti laris Bakso Cak No ini.

Selepas maghrib saya pamit menghadiri undangan adik2 panitia PSCS 2016. Pergelaran Seni Citra Smanti. Selepas isya’ saya memasuki arena. Alhamdulillaah, acara lancar. Gawean adik-adik itu sukses. Itu menurut ukuran saya, terlihat dari rapinya acara dan animo penonton. Saya pulang sebelum acara usai. Sudah terlalu larut.

Ahad pagi, bakda sholat subuh dan setelah sarapan buah, saya sempatkan ke lahan seorang teman yang minta dibantu dikembangkan. Plus saya ziarah ke makam bapak dan adik saya. Alhamdulillaah, pagi yang cerah. Perjalanan lancar. Tidak sampai sejam semuanya tuntas.

Pas melakukan transaksi di ATM untuk beberapa kebutuhan harian. Handphone tertinggal. Saya sadar setibanya di rumah. Alhamdulillaah, pas balik ke anjungan tunai mandiri itu, gadget masih utuh.

Sembari ngobrol sama ibu dan kakak, bakda dhzuhur, ada teman Nelly- NoerLailly K bersama suaminya, yang silaturahim sembari menawarkan usaha properti tanpa riba. Alhamdulillaah, dapat pencerahan. Plus rasa senang dan bahagia, karena banyak sahabat yang mulai berbisnis secara syar’i. Sesuai tuntunan Rasulullaah SAW.

Saya berencana balik lewat Bandara Juanda. Rencana ingin pakai public transportation. Saya kangen naik bus umum. Ibu pun menyarankan agar berangkat lebih dini. Hujan mulai mengguyur, mengiringi persiapan saya. Ketika tiba di mulut gang, jalan macet. Pemandangan umum, katanya, kalau pas Ahad. Apalagi hujan. Orang hampir bersamaan keluar dari tempat wisata. Dihitung normal plus lihat aplikasi di Mbah Google. Tak terkejar waktunya. Naik motor ke terminal, hujan lumayan deras. Tak jadi pilihan.

Saya kontak teman-teman yang punya mobil sewa. Alhamdulillaah, teman SMP yang memang sejak lama usaha sewa mobil, memberikan response dan langsung meluncur menjemput saya.

Alhamdulillaah, dengan peristiwa itu, ibu dan kakak perempuan saya ikut mengantar ke bandara. Kebersamaan pun bertambah, sayangnya kami tidak sempat mampir makan rawon. Mengejar waktu.

Saya tiba di bandara persis sejam sebelum pesawat berangkat. 3,5 jam perjalanan. Macet. Arus balik wisatawan. Alhamdulillaah, sholat pun ditunaikan di musholla bandara yang bersih dan nyaman.

Tidak lama masuk pesawat, saya pulas. Pas bangun ketika ada pengumuman, pesawat harus balik ke Bandara Juanda. Return to base. Pesawat mendarat mulus. Jadi heran kenapa balik. Kata salah satu crew, pesawat menabrak burung. Ada yang terganggu sistem pengatur kecepatan. Saya tidak tahu persis seperti apa. Alhamdulillaaah, diketahui masalahnya dan balik mendarat dengan selamat.

Beberapa penumpang ada yang mencoba cari pesawat lain untuk esok hari. Maklum saya ini naik penerbangan terakhir. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Alhamdulillaah, pesawat pengganti siap dalam sekira 30-45 menit. Kami pun diterbangkan ke Bandara Soeta. Tiba di terminal yang baru dan megah itu, sekira pukul 00.30 WIB. Saya langsung naik taksi yang tidak perlu menunggu lama menuju rumah. Iya lah.. lha wong hampir pukul 1 dini hari… hi.. hi .. hi..

Sesampai di rumah, saya tidak berani merebahkan badan di kasur. Bisa tertidur. Karena saya janji untuk mengantar anak mbarep ke Bandara Soeta menuju kota tempat acara pertukaran mahasiswa di negeri seberang.

Waktu sempit itu saya gunakan untuk ngobrol. Tentunya juga meminta anak mbarep melakukan sholat bareng. Alhamdulillaah.

Saya ke bandara disetiri tetangga, sesuai rencana sebelumnya. Dia pun sudah bangun dan siap. Kalau tidak, saya nampaknya tidak kuat nyetir, Ngantuk berat. Alhamdulillaaah. Saya sempatkan tidur sepanjang perjalanan.
Bakda sholat subuh, anak mbarep check-in dan saya balik. Tidur lagi sepanjang perjalanan.

Alhamdulillaah, segar sekarang.

Saya pun berkata dalam hati :

Hai Ari WijayaDj,

‘Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ?”

Allahu akbar wa lillaahilhamd !

Musuhnya Orang Sukses by Jamil Azzaini

Anda ingin berhasil? Ingin menikmati hidup? Anda ingin selalu bertumbuh? Bila jawabannya YA, maka Anda perlu mengenali siapa musuh Anda.

Musuh terbesar ternyata bukan dari luar diri Anda, musuh itu Anda didalam diri Anda, dia bisa ikut kemanapun Anda pergi. Maka kenalilah agar Anda bisa memenjarakan musuh sejati Anda.

Musuh pertama bernama ALASAN.

Cobalah perhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di atas rata-rata, mereka semua menjauhi alasan. Mereka lebih fokus pada peluang dan solusi dari berbagai kejadian yang terjadi.

Alasan ini terkadang datang dalam bentuk pembenaran-pembenaran. Misalnya, “Ya wajarlah dia sukses sebab semua fasilitas tersedia. Sementara saya hidup dalam banyak keterbatasan, sudah bisa hidup begini saja sudah alhamdulillah.” Ucapan itu terlihat benar dan bijak, padahal terkandung alasan yang melemahkan. Ketahuilah, alasan itu mematikan kreativitas, membuat pikiran buntu dan membuat hidup Anda semakin kalah dan terpuruk.

Musuh kedua bernama TAKUT GAGAL.

Apakah tidak boleh takut? Boleh dan sangat dianjurkan untuk takut kepada Allah, takut berbuat maksiat, takut makan gaji buta dan sejenisnya. Namun Anda tidak boleh TAKUT GAGAL. Mengapa? Karena kegagalan itu pasangan sejatinya kesuksesan.

Tak ada orang sukses yang tak pernah gagal. Bahkan setiap kita pasti punya jatah kegagalan, habiskanlah selagi masih muda. Jangan sampai kegagalan justru datang di saat kita sudah tak bertenaga karena dimakan usia. Jadikan gagal menjadi pelajaran di dalam kampus kehidupan.

Musuh ketiga bernama ENTAR.

Entar alias malas dan sering menunda-nunda pekerjaan. Saat orang tua minta tolong dengan ringan Anda menjawa “entar bu.” Saat teman Anda minta tolong ucapan yang otomatis keluar “entar ya.” Saat ada pekerjaan di depan Anda yang terucap “entar ah.”

Apabila kata entar sudah sering terucap secara otomatis dari mulut Anda, itu pertanda salah satu musuh kehidupan sudah mengalahkan Anda. Segeralah sadar, lawan dan kini giliran Anda memenjarakan musuh yang bernama entar itu. Jangan terbiasa menunda pekerjaan. “Jangan mudah berkata entar tapi segeralah enter (masuk) dalam pekerjaan Anda” begitulah nasehat dari orang bijak.

Musuh kehidupan itu banyak, tapi tiga hal tersebut adalah “pemimpinnya”.

Segera kalahkan, bila kita ingin hidup di atas rata-rata.

 

*Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia

CEO Kubik Leadership. Owner puluhan bisnis yang juga penulis buku.

Kunjungi web beliau : www.jamilazzaini.com

Pinangan Perlu Persiapan

Eh.. ngomong-ngomong, apakah sahabat punya pasangan ? Suami ? Istri ? Sudah ada ? Bagi yang belum, segera ya. Saya doakan. Jika jawabannya, sudah punya, coba putar memori sejenak.

Bagaimana proses lamaran sang pujaan hati ? Ada yang sangat beruntung. Sekali mengutarakan maksud, langsung diterima. Tak jarang, yang harus melalui jalan berliku. Melakukan pendekatan lewat teman, saudara atau bahkan orang tua. Eeee… sudah all out, tidak disetujui. Proposal ditolak. Nggak putus asa, coba lagi dengan cara lain. Pas berhasil, meski dengan berbagai syarat, rasanya bagaimana ? Dunia seakan bernyanyi untuk kita. Indah. Bahagia tak terkira.

Dalam proses bisnis, mirip prosesnya ketika kita ingin mendapatkan barang atau jasa. Pasangan dalam hal ini vendor kita, sudah hadir di hadapan. Untuk mendapatkannya, kita melakukan upaya mencapai kesepakatan. Itulah proses negosiasi.

Negosiasi menjadi jembatan untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai kesepakatan. Bukan sesuai maunya atau hak kita saja. Hampir dipastikan, tidak ada yang ingin gagal dalam negosiasi. Ini seperti ungkapan Chester Karras, Doktor alumni University of Southern California. Ia yang menemukan metoda negosiasi yang efektif. Cara yang telah dipakai luas dan mendunia.

“In Business as in Life, You Don’t Get What You Deserve, You Get What You Negotiate”

Kualitas persiapan menghadapinya adalah kunci sukses tidaknya negosiasi. Banyak jalan melakukan persiapan. Dalam kesempatan ini saya ketengahkan secara singkat 4 aktivitas persiapan yang powerful.

Apa itu ?

  1. Cari alternatif terbaik terhadap suatu kesepakatan. Lebih populer disebut BATNA (best alternative to a negotiated agreement). Lakukan analisis berbagai kemungkinan yang ada dalam negosiasi, sehingga menemukan berbagai alternatif yang pada akhirnya mendapatkan keuntungan yang optimal. Karena harus siap tidak mendapatkan semua yang kita inginkan.
  2. Buat Agenda. Susun setiap tahapan ketika tatap muka. Topik yang dibahas apa saja dan urutan waktunya. Hal ini agar negosiasi berjalan efektif dan efisien. Kita tahu, kapan harus jeda atau bahkan dihentikan.
  3. Kembangkan daftar pertanyaan kritis. Hal ini untuk melakukan review bersama atas proposal yang diajukan vendor. Plus lakukan latihan seakan-akan terjadi negosiasi yang sebenarmya. Ini dikenal dengan Murder Boards, Mock Negotiations dan Crib Sheets.
  4. Siapkan draft agreement. Draft setidaknya berisi syarat dan kondisi standar yang berlaku umum ditambahkan dengan hal-hal yang sesuai dengan kebijakan internal. Dengan adanya rancangan ini pembahasan bisa straight to the point terhadap hal-hal yang masih berbeda. Di samping itu, dokumen tersebut sebagai pengetahuan hak dan kewajiban masing-masing secara dini.

Bagaimana sahabat ? Nampak relatif mudah bukan ? Bisa jadi, tak beda jauh ketika sahabat mempersiapkan pinangan dari pujaan hati. Memperbesar peluang untuk mendapatkan yang sesuai dengan idaman.

Mari kita terapkan agar hasil yang dicapai, utamanya sesuai dengan harapan kita.

Salam terobosan !

This is ariWAY

 

Jika sahabat mendapat manfaat dari artikel ini, silakan disebarkan.

Kunjungi  www.ariwijaya.com

Join di FB Group “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis” dengan klik :

https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Atau kirim email ke : ariwijaya@gmail.com

Jadikan Ia Kekasihmu

Pekan Olahraga Nasional kembali berlangsung. Perhatian pun tertuju ke tanah Sunda sebagai tuan rumah. Apa olahraga favorit sahabat ? Saya yakin punya jawaban beragam. Sepakbola bisa jadi tetap dominan. Kalau saya, suka atletik. Bukan tanpa alasan. Saya pernah jadi sprinter tingkat Porseni saat sekolah dasar hingga SMA. Eh.. nggak percaya, ya ?

Sahabat, ada cabang atletik yang tidak sepopuler lari sprint 100 meter. Ia unik karena memadukan lentingan galah dan lompatan sang atlet. Jika galah yang dipakai nggak pas, sehebat apa pun sang atlet, bisa tak melewati target. Pemilihan galah menjadi salah satu hal kunci. Galah pun seakan jadi guling saat tidur. Dirawat sepenuh hati. Menyatu. Iya betul, itu cabor lompat galah. Galah dulu ada yang memakai bambu atau rotan. Sesuai kemajuan teknologi bahan, berkembang menjadi berbahan alumunium. Dewasa ini digunakan fiber glass sebagai bahan galah.

Perpaduan galah dan atlet. Perumpamaan yang saya setarakan dengan bagaimana melakukan pengembangan vendor yang kita punya.

Perusahaan kita berkembang, salah satunya berkat kontribusi pemasok. Tentunya supplier pun juga harus turut maju. Sepakat, bukan ?

Ibarat pasangan hidup, maka kita harus berusaha saling merawat. Memupuk asa bersama. Mau berbagi duka dan bahagia. Mencari solusi bersama.

Ada Kiat Tigaka (3K) yang akan saya ketengahkan dalam kesempatan ini.

Keterbukaan informasi.

Berikan informasi rencana perusahaan. Baik penjualan atau peluncuran produk/jasa baru. Minta pemasok menjabarkan bisnisnya. Sehingga, kedua belah pihak saling memahami bisnis. Harapannya, vendor akan memberikan layanan dan solusi atas kebutuhan kita. Tidak sekedar bicara harga.

Kerjasama menghasilkan value.

Ajak vendor melakukan kerjasama jangka panjang. Jadikan ia mitra strategis. Sehingga fokus berpindah. Tidak hanya sekedar mendapatkan harga termurah. Tolok ukurnya pada mutu sesuai dengan harga yang telah dibayarkan. Ini yang disebut value. Pemasok akan berusaha memberikan the best offering yang misalkan di dalamnya termasuk pengelolaan persediaan, after sales services untuk memenuhi spesifikasi yang kita sodorkan. Vendor memberikan solusi yang meringankan beban kita.

Komitmen

Ciptakan rasa saling membutuhkan. Kita punya keinginan untuk tumbuh dan maju pesat. Tentunya perlu dukungan penuh dari vendor. Pemasok pun bisa meminta sebaliknya. Misalkan perencanaan yang baik, pembayaran yang on time. Komitmen yang saling menumbuhkan sangat penting. Terlebih ketika terjadi perubahan drastis yag di luar jangkauan. Berbeda jauh dari rencana awal. Sehingga yang tumbuh adalah niat dan tindakan mencari solusi.

Ibarat pertemanan, vendor bukan teman biasa. Jadikan vendor kekasihmu. Karena ketika pertalian itu lebih erat dan serius, beda rasa dan aksi. Kekasih yang pas akan memberi semangat untuk mencapai lebih.

Mari sahabat kita rehat sejenak. Kita putar ulang kondisi yang ada. Apakah posisi pemasok sahabat masih layaknya teman biasa ? Atau bahkan sering putus sambung ? Kalau ya, mari segera resmikan menjadi kekasih.

Salam Terobosan !

This is ariWAY

 

Takut . . .

Pernahkah sahabat dipanggil pejabat penting ? Duduk cuma berdua. Berbicara empat mata. Bangga ? Bisa jadi. Karena itu kesempatan langka. Tidak semua orang bisa merasakannya. Atau malah sebaliknya ? Takut ?

Saya pernah dapat kesempatan itu. Tapi takut setengah hidup. Apa pasal ? Dokumen impor yang saya tandatangani bermasalah. Ada 2 dokumen tagihan. Satunya dari saya. Satunya menempel pada pallet produk yang saya impor. Berbeda angkanya. Sehingga perhitungan bea masuk ada perbedaan. Masalah selesai setelah bolak-balik ke ruangan Pak Pimpinan Kantor. Pejabat tertinggi Bea Cukai di Bandara Soeta. Selama dua hari memberi penjelasan atas kejadian tersebut. Masih beruntung saya tidak ‘menginap’.

Kejadian nampak sederhana. Barang yang kami datangkan memang tidak masuk dalam rencana awal. Forecasting yang dibuat meleset. Meski perubahan yang membawa keuntungan. Permintaan meningkat tajam. Diluar dugaan. Produk habis lebih cepat di gudang kami. Meminta tambahan produski memungkinkan, namun waktu kirimnya, baru 3 bulan lagi. Setelah menyebar pemintaan bantuan ke beberapa negara, ada titik terang. Beruntung rekan di Negeri Ginseng justru overstock. Aksi kami disambut baik karena membantu mereka mengurangi persediaan. Simbiosis mutualisme.

Kami agak grusa-grusu mempersiapkan dokumen impornya. Transaksi inter company dalam satu group, kami menganggap sudah sama tahu prosedurnya. Namun meleset. Dokumen yang dibuat untuk custom clearance berbeda. Bukan menipu. Tapi ada kebijakan kami ketika ada transfer stock memang hanya biaya pokok penjualan yang ditagihkan. Itu yang menjadi dasar pembuatan dokumen pembayaran bea masuk.

Peristiwa itu pelajaran berharga bagi saya dan tim. Melakukan hal yang benar dan teliti bisa jadi peluang penghematan. Ada biaya yang tidak perlu dikeluarkan. Lho kok ? Ya. Jika memastikan sebelum bertindak, tidak berasumsi, maka proses dokumen awal bisa mulus. Dua hari ulang alik ke kantor bea cukai adalah biaya, bukan ? Meski terhindar dari penalti, tetap saja ada waktu yang terbuang. Ada tenaga yang dikeluarkan tidak pada tempatnya.

So, meski sudah ada prosedur, memastikan kembali bukan hal yang tabu. Agar tepat pada awalnya. Phil Crosby, salah satu pemikir bidang manajemen mutu, mengatakan :

“It is always cheaper to do the job right the first time.”

Mau begitu ? Mari kita lakukan hal yang tepat pada awalnya. Karena itu bisa menjadi peluang pengeluaran biaya yang tidak perlu.

Semoga pengalaman tersebut dapat menginpirasi sahabat semua.

Salam Terobosan !

This is ariWAY