Selalu Ada Solusi

Aku terbang melintasi awan
Mendarat mulus disambut senyuman
Orang bergantian menyampaikan masalah
Kita jalan bareng mencari celah
.
Diskusi mengawali sebuah keputusan
Rencana pun mulai dijalankan
Mengurai masalah dengan aksi
Ada hambatan itu pasti
.
Hidup itu sebenarnya gampang
Perjalanan memang penuh aral melintang
Beban bagi yang patah arang
Ditambah rasa takut yang kian meradang
.
Setiap masalah ada solusinya
Yang penting dikerjakan semampunya
Dorong dengan doa sekhusyuknya
Biarkan kuasa Tuhan selebihnya
.
Teruslah bersemangat.
Teruslah berdoa.
Teruslah berkarya.
@elnusakonstruksi
.
Salam 1T

Pertanyaan sebagai Tameng

Ada nasihat orang tua dan guru yang masih terpatri hingga kini.
.
Kata beliau, ajukan pertanyaan ini untuk dirimu sendiri saat kamu menerima hadiah dari orang lain sebagai tambahan dari imbalan jerih payahmu saat berkarya.
.
“Jika aku tidak di posisi saat ini, apa hadiah yang diberikan ini akan ada untukku?”
.
Saat jawabannya :

“Belum tentu”.

Maka hadiah itu patut ditolak. Apalagi jika jawaban dari pertanyaan itu:

“Tidak bakal”.

So, pemberian itu harus ditolak.
.
Pertanyaan semacam itu, salah satu filter untuk mencegah diri menerima gratifikasi, luxury hospitality, atau valuable gift lainnya.
.
Semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa memberikan petunjuk dalam setiap langkah kita.

Kisah Si Sedotan

“Saat ini keadaan sangat tidak menguntungkan buat kita. Sebentar lagi kita harus me-review biaya produksi. UMR sedang dirumuskan pemerintah daerah. Nampaknya akanada kenaikan yang besar. Kenaikan UMR akan mengerek biaya-biaya lain. Biayalogistik akan naik. Perusahaan trucking saya dengar juga akan menaikkan harganya. Sementara policy harga yang diberikan perusahaan juga tidak berubah. Masih seribu rupiah per botol,” jelas Direktur Operasional sembari mengaitkan dengan tantangan eksternal dan internal.

“Coba tim Research & Development dan tim sourcing mencoba mencari jalan agar kita tetap survive,” beliau memulai memberikan arahan. “Cari alternatif material yang lebih murah. Bentuk botol juga sepertinya perlu direview. Coba dipikirkan bagaimana agar harga botol, lid, dan sedotan bisa turun. Kalau bisa turun satu rupiah saja itu sudah lumayan,” begitu komandan tertinggi dalam operasi itu memberikan beberapa ide.

Memang benar, menurut hitung-hitungan kami jika masing-masing bahan baku dan kemasan yang jumlahnya 5 item itu bisa turun satu Rupiah saja berarti ada sekira 5 Rupiah yang bisa dihemat. Jika dikalikan dengan 1 hari produksi yaitu sejumlah satu 1.500.000 botol, maka dalam sehari bisa di hemat 7.500.000 juta Rupiah. Dan dalam satu bulan bisa dihemat kira-kira senilai 225 juta Rupiah. Wow… itu benar-benar jumlah yang tidak sedikit. Nilai itu sudah hampir setara 0,5% dari total potensial sales. Jika dibandingkan dengan biaya gaji karyawan termasuk biaya lebur, maka setidaknya bisa untuk memberi gaji kurang lebih 64 orang.

Kami pun mulai bekerja. Tim R&D memutar otak dengan keras untuk mengutak-atik desain kemasan. Bentuk dan ketebalan botol mulai didesain ulang. Tentu saja kami meminta kerjasama dengan perusahaan pembuatan cetakan atau mold. Kepada perusahaan tersebut kami minta memberikan proposal baru untuk desain perubahan mold botol.

Straw atau sedotan tidak luput dari sentuhan ulang. Spesifikasi lid (seal penutup botol). Lid menjadi lebih rumit karenamaterial utama masih banyak yang diimpor. Komponen itu terbuat dari perpaduan antara aluminium dengan plastik. Kami coba cari perusahaan lokal. Tangerang, Cikarang dan juga Malang kami jajagi. Kompetensi inti mereka memang membuat penutup botol. Kami yakin dengan teknologi yang dimiliki peusahaan yang memang ahlinya dalam lid, semua bisa dicari jalan keluarnya. Mereka bersedia melakukan percobaan beberapa spesifikasi baru.

Beberapa bulan kemudian hasilnya kelihatan. Salah satu perusahaan produsen straw berkenan melakukan inovasi sesuai arahan kami. Mereka mengubah desain sedotan menjadilebih ramping. Mereka juga menambahan material tambahan. Sedotan menjadi lebih kokoh. Tetap keras tidak mleyot (baca : bengkok) saat digunakan untuk mencoblos penutup botol. Istilah kami, kurus tapi keras.

Terobosan kecil itu memberikan harga beli kami, lebih rendah 0,7 rupiah per pcs. Lumayan. Artinya, setidaknya ada saving Rp. 1,15 juta per hari. Atau sejumlah Rp. 34,5 juta per bulan. Kalau UMR saat itu Rp. 3 juta. Maka setidaknya bisa menyelamatkan 11 orang. Jika 5 dari 11 orang itu mempunyai 1 istri dan 1 anak, maka menyelamatkan 21 orang. Dampak domino yang luar biasa dengan aksi kecil bernama sedotan.

Hikmah dari inisiatif early involvement sebuah proses.

.

Penggalan kisah dari Buku Cost Killer. Edisi daur ulang untuk menyemangati diri sendiri dan tim agar terus melakukan inovasi seberapa pun kecilnya.

Loyalitas, Apa atau Siapa?

Ketika seseorang memilih menjadi karyawan atau pekerja, maka harus menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah tidak dapat memilih atasan atau pemimpinnya. Sedangkan yang sudah menjadi keharusan adalah ia harus membantu atasannya. Siapa pun dia yang ditetapkan menjadi atasan. Banyak nasihat dan pengalaman hidup menyatakan:

“Ada dua aturan saat jadi karyawan. Aturan pertama, buat atasanmu terlihat hebat dimata orang banyak. Sedangkan aturan kedua, pegang teguh aturan pertama”.

Dalam konteks perusahaan, bagaimana membantu atasan agar terlihat hebat di muka umum? Membantu atasan dengan memenuhi apa yang diharapkannya, itu sudah memadai. Apa saja itu? Ada beberapa hal yang penting. Menuntaskan pekerjaan dengan tepat (kualitas dan waktu). Tidak ada tugas yang terbengkalai. Assignment mangkrak atau tidak dikerjakan, tidak ada dalam kamus karyawan. Selanjutnya, sebagai karyawan yang memberi solusi. Jadi pekerja yang solutif. Hadir dan memberi masukan dan menyodorkan solusi atas masalah yang ada. Karyawan juga harus punya komitmen. Apa yang telah disepakati dikerjakan. Ada satu hal yang penting, loyal atau punya loyalitas. Sebagai pekerja bersedia berkorban energi, waktu, dan pikiran di luar jam kerja. Patuh dan setia.

Nha ini, loyalitas itu apa? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) :

loyalitas/lo·ya·li·tas/ n kepatuhan; kesetiaan

Loyalitas kepada atasan itu apa artinya mengerjakan semua perintah atasan? Sebentar. Tentu perintah tersebut perlu dipilah terlebih dulu. Sebagai anggota tim harus menjalankan perintah yang sesuai peraturan baik hukum atau perusahaan, norma, etika dan tentu saja agama yang diyakini. Kok agama dibawa-bawa? Ehm . .tentu saja, karena kita yakin adanya kehidupan yang abadi setelah kehidupan di dunia ini. Ada Zat yang Maha Pengatur dan Maha Kuasa yang memberikan guidance kepada hambaNYA agar selamat di dunia dan akhirat.

Susahnya kalau pimpinan memberi perintah yang tidak sesuai peraturan atau norma. Bagaimana sikap kita. Sebagai anggota tim, bisa menolak. Tentunya dengan cara yang baik. Sebaiknya disampaikan empat mata. Kita memberikan masukan atau penolakan berdasarkan knowledge based dan juga hal lain yang terkait. Kalau sudah demikian dan tetap saja kita dipaksa menjalankannya. Waduh. Ini yang berat, pasti ada konsekuensinya. Risiko yang dihadapi pekerja bisa dipinggirkan, dimutasi, atau diberhentikan. Bisa dipecat. Khawatir atau risau itu pasti. Lha, gimana nggak risau? Dipecat artinya bisa menganggur.  Penghasilan bisa mandeg. Roda ekonomi bisa berantakan. Tidak salah punya pikiran begitu. Ini yang sering ditakuti. Namun, rasa takut itu jangan sampai melebihi logika dan keyakinan kita. Justru ini yang jauh lebih berbahaya.

Semua rezeki itu dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih. Rezeki kita sudah dijamin. Coba kita perhatikan, seekor cicak. Ia binatang yang diciptakan merayap. Sedangkan makanan utamanya, serangga seperti nyamuk. Nyamuk hidupnya di udara alias terbang. Menarik bukan, cicak yang merayap di tembok, makananya terbang alias di udara. Berapa cicak mati karena kurang makan? Pernah melihat cicak mati kelaparan? Kayaknya jarang, bukan? Kebanyakan cicak mati karena diplinteng alias diketapel orang. Cicak diburu orang untuk dikeringkan dan dijadikan bahan obat. Itulah kuasa Allah SWT. Rezeki mahluk ciptaan Tuhan itu sudah ditetapkan. Tak ubahnya kita, manusia. Jadi tak perlu khawatir. Kalaulh misalnya, dipecat (naudzubillahi mindzalik), yakinlah ada tempat lain yang baik. Itu ada syarat dan kondisi. Selama kita bergerak, berkarya, rezeki itu ada. Mohon izin saya membagi nasihat orang tua di sini:

“Ora obah, ora mamah. Tidak bergerak (alias bekerja/berkarya), tidak bisa memperoleh penghasilan/tidak makan.”

So, kita harus yakin atas ketetapan rezeki. Atasan kita adalah salah satu perantara rezeki. Keyakinan atas iman kita yang harus melekat dan meninggi dihati dam implementasi. Sehingga loyalitas itu dipahami sebagai kesetiaan kepada profesi dan pekerjaan. Loyal kepada atasan sesuai peraturan dan norma. Karena profesi itu bisa bersifat konstan. Atasan bisa silih berganti sesuai masanya. Kepatuhan atau kesetiaan seperti ini yang seharusnya dijaga, melekat dalam diri kita.

Memang benar kata orang bijak:

“Without loyalty, you won’t accomplish anything.”

Tapi, mari kita memosisikan loyalitas pada tempat yang tepat, agar selamat di dunia dan di akhirat.

Mau?

TRUST

TRUST
Oleh: Dr. TA. Kurniawan, ST., MSc.

Kita biasa mengartikan trust sebagai kepercayaan, jika itu berkaitan dengan kata benda. Forbes, sebuah media global yang bereputasi, dalam salah satu tulisannya menempatkan kepercayaan sebagai faktor paling penting menuju kesuksesan, baik pada konteks personal maupun institusional. Saat ini, dunia dihadapkan pada rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap 4 institusi dasar, yaitu pemerintah, media, bisnis, dan lembaga nonpemerintah (NGO), sebagaimana dirilis oleh Edelman Trust Barometer. Tingkat kepercayaan yang rendah akan mengakibatkan atmosfer interaksi yang tidak positif yang pada ujungnya sangat berpengaruh pada kinerja personal dan institusional. Terlebih lagi, dunia saat ini berada pada era informasi dengan beragam platform teknologi digitalnya menuntut tingkat kepercayaan yang sangat tinggi jika kita ingin tetap bisa eksis di tengah gelombang disruptif yang datang secara cepat dan tidak bisa dengan mudah diprediksi.

Paul J. Zak, seorang profesor di Claremont Graduate University USA yang menekuni bidang Neuroeconomics, menjelaskan hasil penelitian neurosciencenya bahwa brain chemical oxytocin level dalam diri seseorang yang distimulasi oleh lingkungan yang mampu membangun culture of trust akan sangat berpengaruh pada tingkat loyalitas dan produktivitas dirinya dalam lingkungan kerja. Berdasarkan ekperimennya, Prof. Zak menemukan fakta bahwa produksi Oxytocin yang tinggi (identik dengan kepercayaan yang tinggi) dari seseorang bisa distimulasi dengan merekayasa perilaku manajemen yang positif, antara lain mengenali keunggulan ( recognize excellence), memberikan tugas yang menantang tetapi bisa diselesaikan ( induce challenge stress), memberikan keleluasan bekerja dengan cara mereka sendiri ( discretion in how they do their work), membangun relasi dengan sengaja ( intentionally build relationships). Penelitian ini membuktikan secara ilmiah bahwa lingkungan kerja yang dibangun dengan kepercayaan yang tinggi akan berpengaruh positif pada kondisi psikologis pekerja sehingga berdampak pada kinerjanya.

Kepercayaan ternyata harus diusahakan dan dibangun, dan bukan diminta. Eksperimen ini menjelaskan bahwa manajemen harus membangun lingkungan kerja yang mampu menumbuhkan kepercayaan dari para pekerja, sama sekali bukan hanya sekedar meminta para pekerja untuk begitu saja percaya kepada manajemen.

Ilmu pengetahuan yang kita ketahui saat ini, ternyata membuktikan kebenaran perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang mampu mentransformasikan sebuah jazirah yang terbelakang dan tidak beradab menjadi sebuah masyarakat yang mampu menjadi kiblat peradaban terbaik dunia yang pernah ada. Dan, itu berawal dari kepercayaan. Beliau mendapatkan gelar al-Amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya, dari masyarakat jahiliyah Mekkah jauh sebelum beliau mendapatkan risalah kenabian pada usia 40 tahun. Dengan modal integritas pribadi yang terbangun dari awal dan teruji itulah, beliau mampu menjalankan tugasnya sebagai Rasul dengan penuh keteladanan. Beliau tidak meminta orang untuk percaya dan taat kepadanya, tetapi pada akhirnya orang kemudian menaruh kepercayaan dan taat kepada beliau sekaligus mengikuti risalah beliau, mulai dari yang paling kaya sampai paling miskin, dari yang paling berkuasa sampai yang tidak punya kekuasaan sama sekali. Bahkan, jauh sesudah masa kehidupan beliau, risalah itu masih tetap diikuti oleh kita saat ini yang terpisah ribuan tahun lamanya. Maka, sangat bijak jika saat kita memperingati kelahiran beliau dalam rangka Maulid Nabi, bukan aspek seremoninya yang dikedepankan tetapi aspek revitalisasi diri dan institusi untuk meneladani pribadi yang dipercaya itulah yang mesti ditumbuhkembangkan.

Kepercayaan dan ketaatan bukanlah diminta, tetapi diberikan oleh mereka yang memang melihat dan merasakan bahwa diri kita memang pantas untuk dipercaya dan ditaati.

Salam perubahan.

©️ 2021-2022
Komunitas Perbaikan Tanpa Henti

Sejarah dan Kita

Rekan-rekan Leaders dan juga Young Guns..
.
Ada keniscayaan sangat berharga dalam sejarah yang patut menjadi pelajaran kita semua. Bahwa kemenangan, kegemilangan tidak dapat diperoleh atau terjadi dengan instan. Selalu ada peristiwa penting yang menjadi pemantik dan pembuka bagi peristiwa penting berikutnya.
..
Perjuangan para founding fathers negeri ini juga memberikan banyak contoh. Mereka berjuang silih berganti untuk melawan kolonialisme di masing2 daerah. Berhasil dipadamkan, dengan durasi perang yang berbeda. Semua berubah, ketika ada peristiwa 28 Oktober 1928. Ada sumpah persatuan. Cara berjuang pun berubah. 17 tahun kemudian Indonesia merdeka.
.
Kalau menilik jauh lebih ke belakang, Perjanjian Hudaibiyah Tahun 628 atau 6 tahun setelah Nabi Muhammad berpindah dari Mekkah ke Madinah. Sebuah perjanjian yang memberikan gencatan senjata dan kebebasan saling mengunjungi 2 kota penting itu. Seperti jeda setelah beberapa tahun terjadi perang yang dahsyat dan membawa banyak korban jiwa. Tak berselang lama, 2 tahun setelah perjanjian itu, Mekkah dapat dikuasai dengan damai. Mereka bersatu.
.
Pemboman Hirosima Nagasaki yang memilukan itu, mengakhiri Perang Dunia yang menelan korban puluhan juta manusia. Perang yang melibatkan banyak negara. Enam tahun konflik yang sangat luas dan mematikan.
.
Jika saya bawa ke konteks perusahaan yang kita cintai ini, beberapa milestone juga menandakan hal yang serupa.
.
Kita dulu didirikan oleh founding fathers adalah sebuah perusahaan penguliran. Namanya Purna Bina Nusa. Setelah 28 tahun ada perubahan, ditambahnya bisnis Fabrikasi Konstruksi. Kita pernah 1 tahun lebih ‘puasa’ karena API sebagai tool kita dicabut. Setelah itu kita mau dan mampu bangkit. Ini yang penting, mau. Alias berkeinginan kuat dan bahu membahu untuk berubah lebih baik. Kita juga diberi kepercayaan mengelola bisnis maintenance. Kita diberikan lagi ruang belajar dan alat mendapatkan keuntungan.
.
Kali ini cobaan pun datang. Ada lini bisnis yang menggerus kerja bareng kita semua. Dalam. Ya, lubang yang menganga ini membuat kita tertatih untuk naik kembali. Satu dua orang berulah, kita semua harus menanggung risiko dan bebannya. Inilah rasa satu keluarga.
.
Tak boleh menerus diratapi. Harus kita perbaiki dan bangkit lagi. Harus dimulai menyusun rencana dan aksi. Kemenangan harus kita raih kembali. Kemenangan itu kalau diperusahaan adalah revenue naik dan punya untung yang besar.
.
Keniscayaannya, tidak ada kemenangan diraih dengan instan. Tidak ada.
.
Peristiwa penting masa ini, kita jadikan titik tolak kebangkitan. Itu semua dimulai dengan ‘mau’ atau tidak. Ini bukan mau yang artinya akan, tapi mau bermakna bersedia. Karena kalau kemampuan, yakinlah kita semua punya itu. Butuh waktu pastinya. Bisa tuntas cepat? Bisa banget.
.
Bagaimana? Kita mulai lagi memantapkan amanah alias integrity. Adaptasi dengan cepat. Berubah sikap. Mengubah metoda kerja. Manambah kompetensi. Memompa semangat.
.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Maha benar Allah dengan segala firmanNYA.
.
Yuk kita saling menyemangati. Memberikan ide dan krasa. Dan tentunya kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif.
.
Mau?
.
.
Catatan:
Pesan ini disampaikan kepada seluruh leader dan juga anggota tim masing-masing leader. Mencermati upaya perbaikan yang sedang dilakukan. Menambah semangat untuk terus menelurkan karsa, karaya dan doa.

Rahasia Besar Idul Fitri

Rahasia Besar di Balik Hari Raya Umat Islam
Saripati pesan-pesan Syaikh Mustafa Siba’i dalam Buku ‘Hakadza Allamatni Al Hayah’. Sebagai reminder bagi saya dan semoga bagi sahabat semua.

.

Disalin dari : Telegram Generasi Shalahuddin

.

“Bagi orang berakal, hari raya adalah kesempatan untuk taat pada Allah. Ia bisa bersilaturahim, berbagi dan menolong orang-orang. Sedangkan bagi orang bodoh, hari raya dianggapnya kesempatan untuk bermaksiat mengumbar syahwatnya. Bagi orang yang lalai, ia menganggap hari raya sebagai ajang balas dendam, sama seperti yang dipikirkan anak kecil.”

.

“Hari raya memberikan kita pelajaran sosial yang berharga: ternyata kebahagiaan masyarakat banyak lebih besar dampak positifnya daripada kebahagiaan pribadi yang tak dirasakan banyak orang. Di hari raya, rasa bahagia masuk ke hati manusia sampai pada orang-orang yang sedih, sakit dan sedang bermasalah. Hal itu terjadi karena kebahagiaan hari raya tercipta bukan dari diri pribadi tertentu, melainkan dari masyarakat. Dan kebahagiaan masyarakat ini menutup kesedihan kecil yang dirasakan sebagian orang itu.”

.

“Kalau saja orang-orang muslim bertakbir dengan hatinya sebagaimana mereka bertakbir dengan lisannya di hari raya; sungguh mereka akan mengubah wajah sejarah. Kalau saja Umat Islam menghadiri shalat jama’ah di masjid sebagaimana mereka menghadiri shalat Ied, akan hancurlah tipu daya musuh-musuh.”

.

“Berusahalah juga untuk melukis kebahagiaan di wajah anak-anak tetanggamu sebagaimana kau membahagiakan anak-anakmu sendiri di hari raya. Semua itu, agar kebahagiaan anak-anakmu pun semakin sempurna di hari kemenangan.”

.

“Kalau hari raya sudah menjadi acara seremonial semata, maka akan hilanglah rasa bahagia dari jiwa, akan tercabutlah dampak positifnya dari akar masyarakat dan jadilah hari raya hanya sebagai ajang untuk melakukan hal-hal tak berguna dan menghabiskan waktu.”