Followership Bernilai Ibadah

Kepemimpinan adalah peran yang dijalankan oleh seseorang yang diberikan kepercayaan oleh pengikutnya guna memikul tanggung jawab sebagai perwakilan organisasi. Seorang leader umumnya berasal dari pengikut. Leader tanpa follower, tak akan ada. Pemimpin tanpa pengikut, bukan pemimpin sebenarnya. Sehingga, pemimpin dengan pengikut tak dapat dipisahkan. Satu paket lengkap.

Follower wajib taat kepada pemimpinnya selama bukan dalam kemaksiatan. Dalam agama Islam, ada pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad:

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci, kecuali jika ia disuruh berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”

Follower ini bukan sembarang pengikut. Pengikut yang dapat membawa manfaat. Alm. Dr. Handry Satriago, CEO GE Indonesia 2011-2023, dalam disertasinya : Examining The Followers’ Influence on Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect, menyatakan bahwa:

“Peranan dan kemampuan pengikut atau bawahan atau follower secara aktif memengaruhi dan berdampak positif pada kinerja pimpinan (leader) dan keberhasilan organisasi. Di samping itu, persepsi, keyakinan, dan perilaku kritis pengikut atau follower terhadap pemimpinnya atau leader secara positif berhubungan dengan tingkat kinerja pemimpin tersebut.

Contoh sehari-hari followership ini adalah pelaksanaan sholat berjamaah. Makmum tidak pernah mempertanyakan siapa imamnya. Ia berbaris berderet dan berbaris rapi ketika iqamah dikumandangkan. Makmum sholat berjamaah, tunduk/mengikuti (mutaba’ah) kepada imam.

Ada lagi yang fenomenal. Masih ingat kisah Khalid bin Walid, Panglima Perang yang Ahli Strategi dan Pemberani. Ia memenangkan setiap pertempuran yang dipimpinnya. Beliau mendadak diganti oleh Umar bin Khattab RA. Apa reaksinya?

“Demi Allah, jika Kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat keislamanmu jauh lebih baik daripada aku. Dan kamu telah dijuluki sebagai “Yang dipercaya oleh Nabi”? Aku tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi”

Itu jawaban spontan dan lugas Khalid bin Walid. Beliau mengeluarkan pernyataan untuk Umar bin Khattab RA, dihadapan Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya. Sesaat setelah beliau dibebastugaskan oleh Umar bin Khatab RA.

Apa yang terjadi setelah itu? Apa beliau berkemas lalu pulang? Muthung? Tidak! Sama sekali tidak! Beliau, masya Allah, tetap berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi followernya Abu Ubaidah.

Terlihat jelas bahwa pengikut yang baik dan setia adalah mitra kritis. Bagaimana menjadi mitra kritis itu ?

  1. Kritis dan  memiliki pendirian. Mau dan mampu menelaah, bahkan memberikan pendapat bertolak belakang sekali pun. Namun, tetap berpegang teguh pada value, dalam hal ini Al Qur;an dan Hadits.  Bukan, sekedar ‘yes man‘.
  2. Aktif berinteraksi. Berdiskusi dan bahkan berani berdebat berdasarkan data dengan pemimpin.
  3. Memberikan ide dan nilai. Memberikan masukan yang konstruktif dan juga nilai yang dipahami bersama. Bahkan jika itu bertentangan dengan ide pemimpin.

Terus apa manfaat menjadi pengikut setia alias mitra kritis? Tentu saja organisasi menjadi kuat dan berkembang. Kok bisa? Iya, karena good follower akan menciptakan pemimpin yang efektif. Timbul rasa saling menghargai dan percaya. Respect dan trust ini adalah modal utama menjadikan organisasi yang kuat dan berkembang. Mari menelisik firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 59 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Muhammad, dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dan juga sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

“Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka terhadapku maka ia telah durhaka terhadap Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin (amir), maka ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka terhadap pemimpin maka ia telah durhaka kepadaku.”

So, menjadi follower yang baik bisa menjadikan organisasi maju dan berkembang. Tentunya, hal yang baik itu akan menjadi tambahan catatan amal kebaikan kita. Followership pun bisa bernilai ibadah.

Wallaahu a’lam bishawab.

Beras Jatah dan Harapan

Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, masih banyak pemandangan seorang pegawai negeri sipil dan/atau anggota TNI/Polri membawa beras jatah pada akhir bulan. Tak terkecuali dosen. Ada yang beras jatahnya dijual. Uang hasil penjualan menjadi penghasilan tambahan. Beberapa, dibelikan beras dengan varietas yang lain. Pembelinya bisa koperasi atau toko mracang di pasar.

Pemandangan itu membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik punya ide. Beberapa dosen mendapatkan beras bulanan melalui koperasi. Kami melakukan komunikasi dan memperoleh kesepakatan harga. Sehingga dalam 1 tahun, akan mendapatkan dana yang tetap. Ada tambahan layanan, uang tunai diurus dan diantar langsung. Sehingga tidak perlu repot ulang alik ke koperasi. Margin yang fixed adalah sepuluh rupiah per kilogram. Ya, Rp. 10,-/Kg. Sebagai gambaran uang kuliah saat itu Rp. 120.000,- per semester.

Dana itu kami kelola. Setiap awal bulan, kami bergiliran ke koperasi. Uang tunai hasil penjualan diambilkan lantas diantarkan kepada masing-masing dosen menggunakan amplop coklat. Kadang titip juga ke Pegawai Tata Usaha, jika tidak ketemu dosen yang dituju. Zaman itu belum banyak transaksi menggunakan transfer atau sejenisnya. Masih jadul. Cash keras.

Lha . . terus kemana larinya uang lebih tadi? Anak-anak muda tadi membuat Yayasan. Namanya Yayasan Persaudaraan. Kegiatannya fokus : pengumpulan/penjualan beras jatah dan membantu siswa/mahasiswa yang membutuhkan dukungan dana.

Sumber dananya dari dana ‘keuntungan’  pengelolaan beras jatah. membiayai mahasiswa dan siswa SMA/SMK yang berotak cemerlang, namun kurang beruntung secara ekonomi. Punya potensi putus sekolah. Dana itu setiap awal bulan, diantar ke rumah siswa. Sekalian bertemu siswanya dan juga orang tuanya. Seleksinya pun sederahana, getok tular alias dari mulut ke mulut. Di tambah kesaksian para pengusul.

Beberapa dosen suatu saat, ada yang tahu cerita kemana larinya uang beras jatah itu. Ketika mereka tahu bahwa untuk bea siswa. Mereka marah.

Lho, koen iku kok nggak kondo-kondo, lek ojir e di gawe mbiayai arek sekolah. Ngerti ngono aku nggak gelem nerimo ojir tekan dodolan beras jatahku“, begitu ujar salah satu dosen. (Terjemahan bebasnya: Kenapa kamu tidak cerita, jika dana itu digunakan untuk bea siswa. Kalau tahu seperti itu, saya tidak mau menerima uang hasil penjualan beras jatah).

Pertemuan atau lebih tepatnya pemanggilan itu, menjadi awal. Kekagetan menular. Beliau para dosen, ingin turut berbagi. Alhamdulillaah.

Walhasil, dosen yang tahu kegiatan kami, justru memberikan semua hasil penjualan beras jatahnya. Tidak mau lagi menerima amplop coklat kami. Kami pun kewalahan, dana tambah banyak. Positifnya, penyaluran ditambah, terutama usulan siswa yang pernah ditunda, karena kekurangan dana.

Pengurus Yayasan Persaudaraan pun silih berganti. Ketika pengurus akan lulus, kami mencari mahasiswa penerima estafet pengelolaan. Hand over, bagaimana tata kelola mengurus perputaran beras jatah, kemana penyalurannya hasil penjualan. Plus ada laporan keuangannya. Hampir dipastikan saldonya nol  setiap akhir bulan. Jika ada tambahan pemasukan, maka mencari lagi siswa/mahasiswa yang membutuhkan.

Pengurus terakhir yang saya ingat adalah seorang mahasiswi yang saat ini menjadi petinggi salah satu perusahaan multi nasional industri pengolahan susu. Sayangnya, setelah itu tidak terlacak. Apa pun itu, semoga menjadi amal kebaikan bapak/ibu dosen dan juga para pengurus.

Beras jatah itu telah banyak memberikan harapan baru.

Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

People and Process

Diskusi dengan orang yang kenyang makan asam garam kehidupan, sangat menyenangkan. Apalagi sembari ngopi. Santai tapi bermakna.

Kala itu topik yang hangat adalah bagaimana menjadikan pabrik lebih efisien dan timnya juga lebih produktif.

Ngopi sore itu, beliau menyimak cerita saya yang diberi amanah memimpin pabrik.

Wis bener iku, fokus o nang pipel karo proses (sudah pas, fokus pada perbaikan orang/sdm dan proses)”, tukasnya senior saya ini dengan cepat dan lugas.

Saya terperangah atas timpalan yang tanpa tedeng aling-aling itu. Saya pun manggut-manggut. Maklum sepanjang hidupnya ia memang berkecimpung di dunia pabrik. Usia yang sudah melewati 60 tahun, beliau belum lepas dari dunia manufaktur. Ia lulusan terbaik pada masanya di Teknik Mesin Universitas Brawijaya. Kangmas satu ini juga pernah mengenyam pendidikan lanjut di negara yang kompetisi sepak bolanya jadi panutan dunia.

“Developing your people”.
Manusia adalah mahluk yang bersumber daya. Mudah beradaptasi. Namun, kompetensinya harus digodok dan diarahkan dengan benar. Acapkali, dihadapkan pada sumber daya yang apa adanya. Situasi ini bukan membuat menyerah. Tapi dicari gapnya, dilatih, dimentoring, dicoaching. Digembleng. Namun, kalau masih ndableg (tidak mau berkembang), terpaksa dicari gantinya. Sehingga, setidaknya SDM yang dimiliki mampu menghasilkan produk bermutu. Memnuhi syarat minimal. Pada perjalanannya, mereka menjadi pendekar pilih tanding. Menjadi aset yang tak tertandingi. Dilirik banyak kompetitor

“The right process will produce the right results.”
 Proses produksi harus sempurna. Bagaimana urutan proses yang benar. Meminimalkan pemborosan atau waste. Mesin produksi dipelihara dan dipastikan kapasitasnya. Dan tentunya tidak henti melakukan inovasi dan perbaikan berkesinambungan. Pada akhirnya produk yang dihasilkan, bermutu tak terkalahkan.

Wejangan yang disampaikan sangat menarik. Ide atau masukan atau wejangan yang besar akan menjadi benar-benar besar dan berdampak, ketika dieksekusi alias dilaksanakan.

Sebelum diskusi semakin berat, saya pun menyeruput kopi sembari menikmati Roti Moho.

Mantap.

Cost Killer Membuat Bahagia dan Bangga

Bapak saya almarhum adalah seorang purnawirawan. Kegiatan beliau setelah purna tugas adalah menjadi Ketua LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) dan juga merangkap Ketua RW. Tradisi perayaan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan atau lebih populer disebut Águstusan adalah salah satu kegiatan yang menjadi kesibukan beliau setiap tahun.

Tahun itu seperti biasa kecamatan mengadakan lomba karnaval, gabungan antara karya seni, atraksi dan gerak jalan antar desa. Oleh kepala desa, Bapak diberi amanah sebagai ketua tim desa. Beliau tertantang. Masalahnya, ternyata dana yang disediakan pihak desa tidak banyak, alias cekak. Ingin tampil bagus tapi uang tidak ada. Yah… nasib.

Bapak tidak menyerah. Beliau memutar otak, mencari jalan. Dikontaknya salah satu kenalan beliau, seorang dosen IKIP Malang untuk membantu. Namanya Pak Oediono. Dari hasil berdiskusi dengan Pak Oediono muncullah ide untuk membuat miniatur Burung Garuda. Ukurannya lumayan besar, lebih dari tinggi badan saya ketika itu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SMP.

Bahan utama rangka burung Garuda dari bambu. Isi dan kulitnya dari kertas semen yang direndam air dan diberi kanji, tepung tapioca yang dicairkan dengan air panas bisa menjadi lem perekat. Alasnya juga dari bambu. Setelah jadi miniatur burung garuda itu terlihat sangat gagah, tetapi ringan tidak berat. Untuk membawanya cukup dipanggul oleh 4 orang.

Untuk tim gerak jalan pesertanya adalah tim ibu-ibu. Pelatihnya, Bapak sendiri. Penghematan. Untuk baju seragam tim gerak jalan dicari baju yang paling banyak dimiliki. Tentu saja paling banyak dipunyai adalah atasan warna putih dan bawahan hitam. Biar tidak terlalu polos maka disepakati menggunakan asesoris tambahan. Dan pilihlah hasduk atau dasi pramuka yang merah dan putih yang biasa dipakai anak-anak sekolah.

Yang tak kalah menarik adalah sutau ketika saya dibonceng Bapak dengan Zundaap (motor roda 2 yang bisa dikayuh seperti sepeda) untuk menemui waker. Waker adalah orang yang diberi amanah menjaga kebun tebu. Kebun itu milik salah satu pabrik gula ternama di Malang. Beliau ternyata meminta tebu sekira 100 batang dari waker. Tebu dipilih yang lurus. Alhamdulillaah diluluskan, bahkan diberi lebih.

Saya bersama beberapa kawan diminta Bapak untuk mengangkut dari kebun tebu ke halaman rumah. Sepanjang jalan kami pun bertanya-tanya untuk apa batang-batang tebu ini. Kebingungan kami semakin menjadi, ketika tebu-tebu itu dibersihkan dan dipotong 1,5 meter-an.

Kami anak-anak memperhatikan tanpa berkedip. Ujung tebu itu selanjutnya dilancipkan dengan memakai pisau besar yang di kampung saya disebut bodeng. Setelah bersih dan rapi batang tebu itu kemudian diberi bendera dari kertas minyak berwarna merah dan putih.

Kami pun melongo.  Oooo… bambu runcing. Bedanya bambu ini dari tebu. Kami semua tertawa ceria melihat bambu runding dari tebu itu.

“Le, nanti kalau kalian haus. Bisa dimakan itu tebunya ya. Tapi kalau bisa, hausnya ditahan setelah panggung kecamatan,” begitu pesan Bapak sambil tersenyum.

Saya baru paham. Bapak melakukan terobosan agar tidak perlu repot menyediakan minuman dan makanan kecil bagi para peserta karnaval. Jika kami haus saat usai karnaval, ‘bambu runcing’ itu bisa kami makan. Caranya dengan dikerokoti (baca: dikupas dan dipotong pakai gigi). Tebu memang berenergi. Rasanya manis dan menyegarkan. Wah…. benar-benar cost killer yang cerdas.

Masalah belum selesai. Pakaian saat defile bagaimana? Kata Bapak, karena konsepnya perang gerilya, maka teman-teman seusia saya atau paling besar masih SMA, diminta memakai baju sehari-hari. Tidak perlu seragam. Paling ditambah sarung atau asesoris yang ada di rumah. Rakyat berjuang ketika itu memang nggak pakai seragam toh? Benar juga.

Tahun itu desa kami juara karnaval se-Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.  Seingat saya tiga tahun berturut-turut desa kami juara karnaval se-kecamatan.

Bapak saya almarhum melakukan cost killer dengan menyiasati resources yang minim. Hasilnya justru di luar dugaan. Alih-alih sekedar meramaikan Agustusan, kami malah jadi juara dan perhatian se-Kabupaten Malang. Kami bahagia dan bangga.

Catatan:
Mengenang Almarhum Kapten (Purn.) Djohariman, veteran Perang 10 November 1945, Operasi Dwikora 1964, dan Operasi Trisula 1968.

Mengasah Diri dan Tak Mudah Menyerah

“I trained 4 years to run 9 seconds. People don’t see results in 2 months and give up.”
__Usain Bolts, Pemegang Rekor Dunia 100m dan 200m. Peraih 8 medali emas Olimpiade
.
Usain Bolt memberi pesan bahwa berlatih selama 4 tahun untuk bisa lari 100m dengan catatan 9 detik. Saat itu rekor lari dunia masih di atas 10 detik. Sedangkan kebanyakan orang saat mencoba sesuatu masih 2 bulan saja dan tidak melihat hasilnya, sudah berhenti dan menyerah.
.
Mari kita cermati, bagaimana Usain Bolts memperoleh hasil gemilang itu.
.
Usain Bolts lahir dari keluarga pedagang toko kelontong di sebuah kota kecil berpenduduk 1.500 orang di Jamaika. Ia menderita skoliosis, (tulang belakang melengkung) yang membuat kaki kanannya 13 mm lebih pendek dari kaki kirinya. Kondisi ini menyebabkan langkahnya tidak rata, dengan kaki kirinya tertinggal lebih lama di tanah dibandingkan kaki kanannya, dan membentur tanah dengan kekuatan yang lebih kecil. Secara teori ada hambatan fisik untuk menjadi pelari hebat.
.
Kondisi itu tidak menyurutkan niat dan keinginannya menjadi pelari cepat/sprinter.
.
Ia memulai ikut lomba lari sejak usia 15 tahun. Saat usia 18 tahun ia ikut Olimpiade 2004 di Athena, ia gagal. Saat usia 19 tahun, ia ikut Kejuaraan Dunia Atletik tahun 2005. Ia boleh dibilang gagal lagi.
.
Pada tahun 2007, ia mendapat Medali Perak saat lomba 200m. Pada lari 100m ia berhasil mencatatkan waktu 10,03 detik.
.
Pada Mei 2008 ia berhasil mempercepat larinya menjadi 9,76 detik untuk 100m. Saat September 2008, ia menorehkan waktu 9,72 detik. Ia mengalahkan juara dunia 100m ketika itu, Tyson Gay.
.
Ia butuh waktu 4 tahun untuk membuat catatan waktu 9 detik.
.
Pada Olimpiade 2008 ia meraih medali emas 100m dengan catatan 9,69 detik. Satu tahun berikutnya di Berlin, ia menajamkan rekor lari 100m menjadi 9,58 detik dan menjadi juara dunia.
.
Rekor itu hingga saat ini masih belum terpecahkan.
.
So, dari sekelumit sejarah itu, ada benang merahnya, Usain Bolt berlatih selama 4 tahun untuk bisa lari 100m dengan catatan 9 detik. Saat itu rekor lari dunia masih di atas 10 detik. Sedangkan kebanyakan orang saat mencoba sesuatu masih dalam hitungan pekan atau bulan, tidak melihat hasilnya,  menghentikan usahanya dan menyerah.
.
Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang mudah menyerah.