Tentang Visi

Tentang Visi
By Ari Wijaya

Perjalanan Madinah ke Makkah menyisakan satu rasa penasaran. Saya simpan karena ada perintah leader group umroh untuk mematikan handphone hingga prosesi umroh tuntas.

Penasaran tentang apa itu ? Visi 2030 Saudi ! Saya jadi nyambung dengan upaya perusahaan yang kita cintai ini yang sedang mengubah visinya.

Ini dia visi 2030 itu :

“Saudi Arabia..the heart of the Arab and Islamic worlds, the investment powerhouse, and the hub connecting three continents”

visi/vi·si/ adalah pandangan atau wawasan ke depan. Itu sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Saya coba ketengahkan pada sesi tulisan ini.

Apa yang ada dibenak jika ditanya tentang Arab Saudi ? Negeri kaya raya ? Ya. Apa sumber kekayaannya? Hampir dipastikan dijawab : Minyak ! Makanya tidak salah kalau disebut negeri Petrodolar.

Mereka kini berupaya berubah. Arab Saudi akan mengalihkan sumber pendapatan negerinya bukan lagi dari emas hitam itu. Tidak lagi dari oil and gas.

Beberapa program terkait dengan program haji dan umroh. KSA atau Kingdom of Saudi Arabia akan mulai menggarap peningkatan diharapkan hingga 30 juta jamaah umroh setiap  tahun. Saat ini tercatat baru 8 juta jamaah per tahun.

Ini salah satu menjawab penasaran saya. Kenapa pembangunan infrastruktur terkait untuk meningkatkan kapasitas dan pelayanan jamaah pun ditambah. Jalan raya diperlebar. Ketika perjalanan Jeddah-Madinah. Maupun beberapa tempat yang kami lewati dan kunjungi.

Pengembangan bandara di Taif. Sekira 70km sebelah Tenggara Kota Mekkah. Pun pembangunan Bandara Jeddah yang baru. Pembangunan hotel-hotel baru. Dan tentunya,  yang ditunggu umat Islam, penyelesaian perluasan Masjidil Haram.

Masih banyak program-program yang visioner lainnya.

Inisiasi ini ditugaskan kepada Mohammad bin Salman bin Abdul Azis. Pemuda berusia 31 tahun. Mantan Gubernur Riyadh. Saat ini, Menteri Pertahanan Arab Saudi.  Sekaligus Wakil Putra Mahkota Raja Arab Saudi.

Targetnya, Arab Saudi tidak lagi bergantung pada minyak bumi. Usaha yang patut dicermati. Karena memang Arab Saudi punya potensi besar lain yang kini digali kembali. Dan lebih serius.

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa:

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian”

Insya Allah, tidak lama lagi terwujud kembali. Mereka mengubah cara berpikir dan bertindak sebagai antisipasi perubahan. Jalan ke arah itu pun sudah mulai menampakkan hasil.

Makkah, 8 Januari 2017

Sembari menunggu giliran mandi, selepas umroh bersama group.

Ketaatan Itu Mahal

Ketaatan Itu Mahal
By Ari Wijaya

Dalam balapan formula 1 dikenal ada beberapa strategi. Pembalap harus ikuti arahan team managernya. Abai bisa berakibat fatal.

Perusahaan pun demikian ada arahan strategis CEO. Pun harus pula ditaati. Kalau tidak bisa jadi perusahaan tidak maju seperti yang diharapkan. Dalam lingkup yang lebih kecil, arahan dan perintah atasan harus ditaati.

Bukit Uhud adalah hikmah yang sangat besar. Perang antara pasukan Rasulullaah SAW dengan Pasukan Koalisi Kaum Quraisy. Pada awal pertempuran pasukan Nabi Muhammad SAW memukul mundur pasukan lawan yang jumlahnya 5 kali lipat. Strategi menempatkan pasukan pemanah di atas bukit sangat jitu. Itulah kuncinya. Rasulullaah SAW memerintahkan, apa pun yang terjadi pasukan pemanah tidak boleh meninggalkan posisinya. Baru boleh beranjak setelah ada perintah Nabi Muhammad SAW.

Pasukan musuh pun kocar kacir. Kemenangan nampak di depan mata. Musuh terlihat mundur, tapi perang belum usai.

Harta dan perbekalan yang dibawa musuh tertinggal di camp. Ditinggal kabur. Terlihat jelas dan banyak. Ghanimah !

Perang belum dinyatakan usai. Pasukan pemanah khilaf. Mereka ikut turun dari gunung. Meninggalkan pos. Melanggar perintah sang pemimpin, Rasulullaah SAW.

Di saat itulah, pasukan berkuda Quraisy melihat peluang. Karena pasukan di atas bukit itulah yang membuat mereka tunggang langgang. Mereka mengitari bukit. Dan menghantam balik.

Serangan balik yang dahsyat. Banyak yang gugur termasuk Paman Nabi, Hamzah RA. Tercatat 70 an orang menjadi syuhada.

Ketaatan itu mahal. Nampak sepele. Berasumsi pekerjaan sudah tuntas. Seharusnya perintah bahwa tugas selesai adalah dari sang pemberi perintah. Bukan ukuran kita sang penerima. Jika belum, maka apa pun alasannya, pekerjaan belum usai.

Semoga perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita semua. Bagaimana menyikapi perintah. Merawat ketaatan. Ketaatan itu mahal. Abai bisa berakibat fatal.

Jabal Uhud hanya berjarak sekitar 5 Km dari Masjid Nabawi Madinah. Bukit yang menjadi saksi sejarah. Pun hikmah bagi kita semua.

Madinah, 7 Januari 2017

Selepas makan malam bersama rombongan

Antrian yang Dirindukan

Antrian yang Dirindukan
By Ari Wijaya

Pernahkah antri beli tiket kereta api menjelang lebaran ? Atau antri menukarkan tiket Final Piala AFF ? Atau antrian periksa kesehatan ? Atau menunggu giliran beli makanan ?

Capek ? Kadang kesal. Harap-harap cemas.

Tapi itu semua rela dilakukan. Why ? Karena ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Mendapat hal yang spesial. Keutamaan. Beda lho nonton langsung di lapangan bola. Atau  mendapatkan apa yang diinginkan. Diidamkan. Apalagi setelah lama ditunggu.

Sama halnya ribuan orang yang rela disekat beberapa lapis menunggu giliran. Mereka mengantri masuk Raudhah. Area antara mimbar masjid Nabawi dan rumah Rasulullaah SAW.

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga.”

Hadits  ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah.

Taman surga yang ada di dunia. Banyak keutamaan melakukan ibadah di tempat ini. Pahalanya berlipat ganda.

Banyak dalam Al Qur’an digambarkan seperti apa surga itu. Dan tentunya, menjadi tempat yang paling diiginkan bagi orang beriman.

Kalau sudah seperti itu. Siapa pun akan rela mengantri. Antrian yang selalu dirindukan.

Madinah, 5 Januari 2017
Menjelang waktu isya’.

Note :
Saya mendoakan agar teman-teman berkesempatan antri dan masuk Raudhah.

Silakan berniat mulai sekarang. Termasuk usaha fisik lainnya. Salah satu yang utama, menabung. Tiada yang tidak mungkin.

Semoga menginspirasi dan menyemangati teman-teman.

Teko

Teko
By Ari Wijaya

(inspired by Jamil Azzaini’s story at Jeddah, Saudi Arabia)

Siapa yang pernah punya teko? Atau setidaknya pernah lihat ? Itu lho tempat minum sebelum dituang ke gelas. Biasanya sih berwarna hijau ada paduan putihnya (baca : loreng seperti baju tentara).

Yuk kita perhatikan dengan baik. Kalau yang keluar kopi susu, maka apa isi di dalam teko?

Pasti wedhang kopi susu. Nggak bakalan air putih.

Begitu pula, jika yang keluar dari teko pas dituang, air putih biasa. Pastinya di dalam teko isinya nggak bakalan teh.

Kita ini ibarat teko. Apa yang kita keluarkan baik amal,
sedekah, atau pun ucapan. Tergantung seperti apa diri kita.

Kalau sering keluar kata-kata kotor. Ujaran memaki seperti sudah biasa. Maka bagaimana isi otak atau tubuh orang itu ? Nampaknya tak perlu dijawab, bukan ? Retoris.

Lha, terus bagaimana agar teko berisi baik ? Ingat pelajaran Biologi, tubuh kita tersusun dari apa? Ya, 70% berupa cairan, bukan?

Hubungannya apa ? Begini, ada air zamzam. Sumber mata airnya tiap hari didoakan ribuan manusia. Bagaimana tidak, saat thawaf mengelilingi ka’bah, sarat dengan doa. Belum lagi oleh orang yang berdiam diri di Masjidil Haram, tilawah,  membaca Al Qur’an. Bahkan pada waktu tertentu didoakan oleh jutaan manusia. Ibadah haji. Sehingga banyak manfaat yang didatangkan air zamzam ini.

Jadi, memperbanyak doa dan perbuatan positif akan mempengaruhi isi tubuh kita. Bergaul dengan orang sholeh akan mempengaruhi tubuh kita. Menghindari perbuatan dan kumpulan yang tidak perlu. Kelompok yang non produktif juga perlu dijauhi. Pun, kita buat kelompok yang aksinya membawa kemaslahatan.

Mari bersama-sama kita  memperbaiki diri dengan amalan pribadi dan amalan jama’i (bersama) yang baik. Teko kita insya Allah akan berisi baik. Outputnya pun jadi baik dan bermanfaat bagi orang di sekitar kita.

Jeddah, 4 Januari 2017

Saat melaju menuju Kota Madinah Al Munawaroh. Mengawali ibadah umroh awal tahun ini.

Bosan Jadi Pion ?

“Novendra diprediksi 3 tahun lagi dapat meraih gelar Grand Master (GM)”, begitu bunyi head line sebuah media online.

Ya, GM adalah salah satu istilah gelar pada olahraga catur. Cabang olah raga yang tidak sepopuler sepakbola di negeri ini. Gelar GM menjadi dambaan pecatur. Itu masih langka. Beberapa nama telah mengharumkan nama Indonesia. Tercatat seperti Utut Adianto, Susanto Megaranto, Irene Kharisma, Medina Aulia. Dua nama terakhir adalah GM perempuan yang dimiliki Indoensia.

Permainan Catur berisi bidak hitam dan putih yang digerakkan dan memakan lawan. Ada Raja, Ratu, Menteri, Kuda, Benteng dan Pion alias Prajurit.

Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyoroti bidak yang satu ini. Pion alias prajurit. Coba lihat dengan seksama. Satu giliran demi giliran. Ia selalu berjalan maju. Meski hanya satu-satu langkahnya. Tak pernah mundur. Tak jarang, karena kepentingan strategi, ia dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Umpan.

Perhatikan dalam beberapa kejadian. Dalam situasi tertentu ia bisa menjadi penyelamat dan kunci kemenangan. Kapan ? Ketika ia berhasil maju hingga batas akhir. Ia bisa berganti peran menjadi Benteng, Kuda, Menteri atau Ratu sekali pun. Hampir dipastikan semangat bertambah. Aura kemenangan nampak lebih terlihat cerah.

Sahabat, tahun berganti bisa jadi posisi kita masih sama. Memang sebagian orang berkata itu kondisi merugi. Betul, jika dilihat dari sisi tidak memanfaatkan kelebihan dan kesempatan. Tapi jika posisi memang harus bertahan. Kesempatan belum ada. Kondisi perusahaan tidak beranjak baik. So, posisi sama pun patut kita syukuri. Bisa jadi pion lagi, prajurit lagi, posisinya.

Bosan jadi pion ? Ehm.. tahan. Tak perlu berkecil hati. Saran saya, jangan dipelihara, sahabat. Singkirkan  pikiran semacam itu. Setidaknya kita tetap punya semangat maju. Meski tidak secepat lainnya. Semangat bidak pion tadi patut kita ambil hikmahnya. Ia tetap maju. Paling parah, berhenti. Tapi, prajurit itu tak pernah membuat langkah mundur. Itu yang terpenting.

Bagaimana menyikapinya ? Kita tambah pengetahuan. Tambah kemampuan. Nampak seperti berhenti, bukan. Sejatinya, kita bergerak. Yah, otak dan pikiran kita terus diperkaya. Berbagai cara maju kita lakukan. Plus tiada henti bermunajat, menghamba kepada Sang Maha Pencipta.

Pion pun bisa menjadi penyelamat. Pemberi percikan semangat kemenangan. Pada saat yang tepat sang prajurit bisa punya peranan hebat.

Lha kalau pion saja punya semangat bak pendekar pilih tanding, apalagi yang lainnya, bukan ?

Yuk terus berbenah. Maju meski hanya selangkah. Terus berikhtiar dan berdoa. Insya Allah kemenangan berpihak kepada kita yang terus berusaha.

“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridlaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

(QS Al-‘Ankabuut : 69)

Selamat menjalankan amanah di tahun 2017 ini. Apa pun itu, mari kita niatkan sebagai salah satu amal sholeh terbaik kita.

Spasi

Bung Hatta, pernah memberikan nasihat. Sangat relevan dengan kondisi kekinian negeri kita.

“Jatuhbangunnyanegaraini,sangattergantungdaribangsainisendiri.Makinpudarpersatuandankepedulian,Indonesiahanyalahsekedarnamadangambarseuntaianpulaudipeta.Janganmengharapkanbangsalainrespekterhadapbangsaini,bilakitasendirigemarmemperdayasesamasaudarasebangsa,merusakdanmencurikekayaanIbuPertiwi.”

Enak dibacakah ? Bingung ? Petuah yang hebat tersebut menjadi sulit dibaca. Walhasil sulit di mengerti.

Coba dibaca lagi dengan format ini.

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

Saya yakin, sekarang pesan ini lebih gampang dibaca. Maknyes. Lebih mengena. Cepat merasuk ke dalam jiwa.

Apa pembedanya ? Ya. Untaian kalimat terakhir menggunakan spasi. Spasi hanya jarak antar kata. Namun menjadi pembeda. Kalimat lebih mudah dicerna. Nasihat salah satu proklamator kemerdekaan negeri kita itu pun, jelas maknanya.

Tak ubahnya menggerakkan roda perusahaan. Ada kalanya perlu berhenti sejenak. Memberi jarak atas rutinitas.

Upaya jeda tersebut bisa berupa membuat kegiatan yang lain dari biasanya. Kegiatan di dalam ruang, bisa diganti dengan diskusi di kafe. Menyelesaikan masalah di kebun, misalnya. Menuntaskan masalah dengan ceria, fun.

Kalau biasa bekerja di lapangan, bagaimana ? Tiap hari ketemu hutan. Ladang. Alam terbuka. Coba, sesekali datang ke kantor pusat. Menikmati ruang kerja teman. Atau mampir di perpustakaan. Rasakan bedanya.

Bisa juga pergi ke suatu tempat favorit. Berlibur. Itu juga salah satu cara. Tidak harus mahal, kok.

 Journal Applied Research in Quality of Life menerbitkan salah satu hasil penelitiannya. Rasa bahagia akan meningkat tajam bagi orang yang berlibur dibandingkan dengan mereka yang tidak liburan. Tidak hanya itu, satu kali liburan juga dapat membuat seseorang merasa bahagia selama 8 bulan. Merefresh kinerja otak selama bekerja.

Spasi nampak sepele. Tapi ia menjadi pembeda. Mari kita temukan dan ciptakan spasi perjalanan kita. Insya Allah, itu akan menambah daya dorong berkarya.

 

 

Passion !

Passion bermakna strong emotionLoveStrong interest. Dalam Bahasa Indonesia punya arti nafsu. Gairah. Keinginan besar. Kegemaran.

Satu kata yang menggelitik karena punya banyak makna. Bisa lari kemana-kemana lamunan kita.

Passion Gua nggak disini, nih”. Bosen, Gua. Buntu. Nggak bisa berkembang”, ujar seorang kawan.

Benarkah demikian ? Bisa juga terjadi pada sahabat ?

Semoga tidak. Tapi, jika ragu-ragu. Mari kita cek masing-masing.

Salah satu guru saya mengajarkan cara menemukan passion yang realif mudah. Ini bisa juga berbeda pendapat. Debatable. Setidaknya, metoda ini cukup untuk membantu menjawab dalam waktu singkat.

Tiga tugas yang harus dijawab. Di tambah satu pertanyaan uji.

Tugas pertama. Coba sebutkan beberapa kegiatan yang sahabat lakukan dengan suka cita. Kalau pun diajak diskusi tentang kegiatan itu, kagak ada matinye. Nyerocos terus (baca: antusias).

Tugas kedua, terkait dengan task sebelumnya. Jika keuangan terbatas. Dana cekak. Aktivitas mana dari yang disebutkan tadi, bisa menghasilkan uang. Setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Task ketiga. Coba ditemukan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Dan yang lebih penting, menurut penilaian orang lain, sabahat melakukan aktivitas itu dengan sangat baik.

Pekerjaan atau kegiatan yang muncul di ketika task tersebut, sudah bisa dikatakan passion. Ya itulah, passion sahabat.

Mari jawaban itu diuji. Jawaban atas pertanyaan berikut ini adalah konfirmasi.

Apakah para sahabat rela berjibaku ? Rela berkorban waktu. Gampang mengeluarkan uang.  Tak surut berpeluh basah. Energi ditumpahkan. All out. Rela atas semua itu agar menjadi yang terbaik dalam bidang pekerjaan atau kegiatan itu? Apakah berkenan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Melakukan pekerjaan itu walau tanpa dibayar?

Jika jawabannya masih ya. Maka itu benar-benar passion. Pupuk terus. Lanjutkan !

Richard Branson mengatakan :

“Finding your passion means you’ll always work, but never have a job”

Jika bukan, yuk, temukan lagi. Mari gali lagi. Bila perlu, lakukan perubahan.

Passion ini penting dalam mendorong berkarya. Menikmati setiap assignment dengan suka cita. Bahagia sepanjang hayat.

Insya Allah.

Perkenankan juga, saya membagikan artikel dari Richard Branson terkait tulisan ini.

https://www.virgin.com/richard-branson/finding-your-passion-means-youll-never-have-job

 

Salam Terobosan.

This is AriWAY