Keep Moving

Beberapa bulan terakhir ini, terasa berat. Koran memberitakan ada belasan perusahaan melakukan efisiensi. Bahasa lebih lunak dari PHK. Seorang sahabat yang bekerja di daerah Karawang pun, jadi salah satunya. Sejawat yang lain juga tidak tenang. Ada yang mulai merintis buka usaha. Mereka menyiapkan sekoci. Tak jarang ada yang volunteer tanpa menunggu pemutusan hubungan kerja. Beralih berwirausaha. Banyak juga yang berupaya menambah kompetensinya. Agar tetap jadi pilihan. Layaknya pendekar pilih tanding. Upaya beragam dilakukan agar tetap bertahan dan tumbuh berkembang.

Pengusaha ? Setali tiga uang. Meski ini tidak berlaku umum. Teman yang jadi pengusaha pun geleng-geleng kepala. Lesu. Ia malah meminta masukan, bagaimana kalau bisnisnya ditutup. Berganti bidang lain. Panjang lebar diskusinya.

Sepakat dengan beberapa solusi. Simpulan penting adalah jalan terus tapi nambah lini bisnis. Ia mengambil langkah cepat melakukan overhaul. Perbaikan menyeluruh. Seluruh tim dilibatkan. Memang bisnisnya gitu-gitu saja. Tapi efek dominonya yang patut dipertahankan. Belasan karyawan menyandarkan hidupnya melalui usaha kecil yang dikelolanya.

Memang berat. Jalan tak mulus. Tapi jika berhenti, malah menutup kesempatan. Memberi batas peluang. Meneruskan perjalanan adalah pilihan jitu. Keep moving. Apalagi jika diarungi bersama. Bisa dengan keluarga dekat. Sejawat seperjuangan. Atau bahkan kolaborasi yang lebih besar lagi.

Setidaknya hasil diskusi kecil itu memberikan tiga pesan kuat.

Berdoa dan berharap. Setiap kesulitan ada kemudahan. Itu janji Allah SWT,  Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Menyediakan waktu khusus untuk berdoa menata hati, bersimpuh berharap kepadaNYA. Saat kebanyakan manusia terlelap tidur. Bermunajat dengan sepenuh hati. Ini usaha langit.

Adaptif. Menyikapi perubahan dengan positif. Melakukan review atas apa yang terjadi. Memberikan response yang sesuai kebutuhan pelanggan. Customer accomodation. Menggunakan bantuan teknologi, jika diperlukan. Perkembangan teknologi informasi punya akselerasi yang jauh lebih cepat dai yang diharapkan. Patut dimanfaatkan.

Kolaborasi. Saat seperti ini, berjalan sendirian akan jauh melelahkan. Malah mudah dan lebih cepat kehabisan tenaga. Bergandengan tangan. Membangun budaya kerja tim. Memecahkan masalah bersama kelompok internal. Bahkan, bekerja sama dengan pihak lain. Tidak mudah. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Pepatah Cina mengatakan :

“To get through the hardest journey we need take only one step at a time, but we must keep on stepping”

Keep moving, Sahabat !

Semoga ikhtiar itu menjadi catatan upaya kita. Highlight notes bahwa kita bukan hamba yang gampang menyerah. Allah azza wajalla, Tuhan Yang Maha Memberi juga memberikan keberkahan usaha langit dan usaha bumi. Menetapkan kita jadi juaranya.

Salam Terobosan !

This is ariWAY.

Silakan disebarkan jika tulisan ini membawa manfaat.

Kambuhan

Entah berapa sudah terkena OTT. Operasi tangkap tangan. Terlepas, masih perlu bukti lanjutan. Faktanya memang marak. Berita seliweran. Hampir setiap hari, running text senada muncul.

Suap. Korupsi. ‘Titipan’ proyek. Kongkalikong. Uang sukses pemenangan tender. Sogokan agar lulus ujian. Uang ‘terima kasih’ agar masuk sekolah tertentu.  Duit damai agar ringkas urusan. Entah apa lagi istilahnya.

Kata ahli manajemen, yang terlihat itu masih kecil. Kejadian yang tak terlihat, bisa jadi berjibun. Iceberg. Gunung es. Mungil terlihat di atas, besar menggelayut di bawah.

Bagaimana dengan kita ? Mari kita lakukan introspeksi. Masihkah untuk mendapat proyek, dilakukan iming-iming titipan ? Apa menyimpan biaya agar terlihat menggiurkan ? Atau ada yang bilang : 

“Biasa itu, kalau mau menang yang harus tahu diri. Bagi dikit nggak apalah”
“Kalau nggak ngikut gitu, kapan kita dapat proyek ? Bagaimana kita hidup ?”

Jangan anggap kecil. Kecil itu, kelak bisa jadi kesalahan fatal. Edward Coke, Hakim Agung Inggris, yang sangat disegani pada masanya, memberi nasihat :

“Though the bribe be small, yet the fault is great”

Apalagi pernah sakit parah, hampir kolaps. Terseok-seok gara-gara kasus integrity. Penyembuhannya perlu sumber daya yang tidak sedikit. Ketika sakit itu sudah sembuh. Bisa jadi belum tuntas. Tapi jangan sampai kambuh. Biasanya, obatnya lebih lama. Lebih mahal.

Lebih baik ditanggalkan. Segera. Jangan jadi penyakit kambuhan. Jangan khawatir akan rezeki Allah. Pintu rezeki akan terbuka lebar.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.”
(HR. Ahmad)

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, memberi jalan dan kemudahan bagi kita.

Pendidikan Sang Pendongkrak

Apa yang banyak ketahui tentang Australia ? Kanguru, binatang berkantong itu ? Bisa jadi. Senjata tradisional mereka, bumerang. Boleh juga. Suku aboriginnya. Tak salah juga. Tetangga yang sering berantem opini dengan Indonesia. Itu juga jawaban.

Bagaimana perekonomian Australia ? Banyak yang mengatakan, negeri ini termasuk salah satu negara maju. Tahun 2015 PDB per kapita mereka USD 52.400. PDB totalnya USD 1.200 Triliun. Tercatat 70% disumbangkan oleh sektor jasa, termasuk pendidikan.

Pendidikan atau lebih tepatnya higher education penyumbang PDB ? Ya, betul. Siapa yang tidak kenal dengan universitas ternama di Negeri Kanguru itu. Data tahun lalu, 8 universitas di Australia masuk 100 besar perguruan tinggi di dunia. Mereka disebut Group of Eight (Go8). Itulah daya tariknya. Sehingga pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara mau bersusah payah menggali ilmu di Australia. Meski biayanya pun tidak murah. Tercatat 600ribu mahasiswa dari luar Australia yang belajar di sana. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemasukan penting. Tahun 2014 tercatat USD 16 Milyar masuk ke kantong pemerintah Australia.  Logis jika sektor pendidikan menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto.

Pengalaman negeri tetangga kita itu yang ingin saya kupas untuk ditiru.

Apakah kita punya potensi itu ? Punya. Saya ambil contoh Kota Malang. Sebuah kota di tengah Provinsi Jawa Timur.

Kenapa Malang ? Sebagai gambaran, Malang dianugerahi julukan Kota Pendidikan. Ini juga julukan yang pas. Jumlah perguruan tinggi di Malang tercatat lebih dari 50. Perguruan tinggi negeri saja, banyak pilihannya seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian.

Perguruan tinggi swasta diantaranya : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara.

Jika kita berkaca pada Australia, maka modal dasar telah dimiliki Kota Malang. Jika perguruan tinggi yang disebutkan tadi bisa membuka kelas internasional. Tidak perlu semua program studi. Jurusan tertentu yang disiapkan. Selektif dan bersinergi. Dampak atas inisiatif itu akan menjadi efek domino.

Program Studi Ekonomi Syariah dibuka kelas internasional di UIN Maliki dosen utama dari UIN Maliki dengan dosen tamu dari UB, UM, UIN Maliki, UMM. UIN Maliki punya sumber daya yang mumpuni ketika bicara tentang syariah.

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dibuka di UM dengan dosen tamu bekerja sama dengan UIN Maliki, UMM, Unisma. Mengapa UM ? Institusi ini punya catatan moncer dalam pengembangan tenaga pendidik.

Program Studi Teknologi Pertanian diinisiasi di UB dengan dosen tamu melibatkan Unmer, UMM, ITN. UB punya resources dan reputasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan ini.

Program studi Penyuluh Pertanian dibuka di STPP dengan dosen tamu UB, UIN Maliki. STTP sudah terkenal punya output tenaga penyukuh handal yang tersebar di negeri ini.

Bisa jadi jurusan lainnya. Masih terbuka. Rektor dan pimpinan yang lain insya Allah lebih tahu program studi yang punya potensi.

Bagaimana kualitasnya ? Saya yakin saat ini perguruan tinggi di Malang berlomba untuk meraih akreditasi yang paripurna. Assessment dilakukan oleh Kementrian Ristek dan Dikti, tapi juga lembaga internasional. Itu juga pondasi yang sangat baik.

Siapa pasarnya ? Pasar utama ditujukan di negeri seputaran Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Dapat menggunakan lobbying solidaritas negara ASEAN atau Konferensi Asia Afrika.

Sejarah mencatat, Negeri Jiran, Malaysia, sesuai sejarah, pernah mendatangkan tenaga pendidik Indonesia ke negerinya. Pun mengirim putra-putri terbaiknya ke Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi ternama.

Masih ingatkah pada jaman Pak Harto (Presiden Soeharto), bahwa petani terbaik dari beberapa negara di Afrika untuk belajar pertanian dan peternakan di negeri kita.

Bagaimana efeknya ? Pendapatan daerah kota Malang sesuai APBD 2016 adalah sebesar Rp. 1,73 Triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya Rp. 370 M. Baru 21%. Pemko Malang punya keinginan meningkatkan PAD. Apa dampaknya jika jasa pendidikan tadi semakin mendunia ?

Inilah yang sejalan. Tempat tinggal tentunya akan lebih banyak dibutuhkan. Rumah tinggal, guest house, hotel, dan apartemen akan naik demand-nya. Ini sumber penghasilan bagi daerah. Belum lagi expenses mereka. Belanja mahasiswa juga diharapkan meningkat. Bandara Abdul Rahman Saleh frekuensi penerbangannya bisa lebih banyak. Ia lebih ramai setidaknya pas liburan semesteran. Perputaran uang relatif lebih besar. Peluang usaha menjadi lebih terbuka. Ya, efek domino.

Pendidikan yang bisa memperkuat perekonomian daerah. Ia jadi sang pendongkrak. Bukan tidak mungkin mengubah dunia, setidaknya Kota Malang.

Bagaimana Abah Anton, Walikota Malang ? Insya Allah, ide ini bisa digodok lebih matang. Dikembangkan lebih luas. Tentunya melakukan sinergi dengan para pimpinan perguruan tinggi di Malang.

Semoga ide kecil ini dapat turut serta memberikan sumbangsih upaya peningkatan pendapatan asli daerah.

Semoga Pak Walikota berkenan.

Salam satu jiwa.

 

Sedikit Itu Rasa

Sahabat, pernahkah membantu menghitung uang dari kotak amal ? Atau melihat isi kotak amal ?

Coba diperhatikan. Isinya beragam, bukan ? Ada uang kertas yang licin atau lusuh. Tak jarang juga berisi uang logam. Pecahannya pun variatif. Ada seribuan hingga lembaran seratus ribu. Lebih dominan mana ? Sebenarnya itulah potret kondisi ekonomi masyarakat.

Tak jarang ada komentar,

“Alhamdulillaah, ada juga yang memasukkan uang merah ini (baca : uang kertas dengan nominal 100ribu)”.

Atau celetukan dan candaan sembari merapikan lembaran-lembaran uang :

“Duh kasihan, uang ini. Lecek, kusam, tapi banyak kali jumlahnya. Jadi agak lama kita harus menghitungnya”.

Sabahat, mari kita kesampingkan dulu bentuknya. Mari kita retas bagaimana nilai dari uang itu. Kita ambil contoh, pecahan 2 ribu sang penghuni kotak amal.

Suatu profesi, katakanlah, tukang bangunan. Tukang ojek pangkalan. Atau tukang linting rokok. Ia bekerja keras dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Upah yang mereka terima biasanya harian. Profesi yang tidak boleh sakit. Apa pasal ? Kalau sakit ia tidak menerima upah. Ia kehilangan pemasukan.

Jumlah upah mereka beragam. Tergantung daerah lokasi kerja. Ada juga berdasarkan keahlian dan lamanya bekerja. Kalau boleh saya ambil sampel, jasa profesinya adalah 100 ribu per hari. Ini contoh untuk memudahkan gambaran saja.

Ia bersedekah 2 ribu rupiah. Nilai itu besar atau kecil ? Itu relatif. Itu rasa. Coba kita bandingkan uang yang dimasukkan ke kotak amal dengan penghasilannya hari itu. Hasil nya adalah 2%. Ya, dua per seratus dari hasil keringat hari itu.

Ada profesi lainnya. Pengacara misalnya. Profesional muda lainnya. Waktu kerjanya kita anggap sama. Pukul 8 pagi hingga teng kembali ke rumah pukul 5 sore. Pekerjaan yang digelutinya bisa menghasilkan Rp 2,5 juta per hari. Ini juga sebagai ilustrasi. Ia memasukkan uang Rp. 50 ribu dalam boks hijau milik masjid. Kadar ikhlasnya, anggaplah sama.

Wow.. limpul, kata Orang Medan. Lima puluh ribu rupiah !

Uang gede ? Eiit tunggu dulu, secara nilai, belum tentu, lho. Ia cemplungkan uang 50 ribu dari hasil jerih payah yang 2,5 juta rupiah. Itu artinya 2% juga !

Sama seperti gambaran sebelumnya, bukan ? So, bolehkah saya sebut, 2 ribunya orang yang berpenghasilan 100 ribu dengan 50 ribu infaqnya yang penghasilan 2,5 juta, punya nilai yang sama.

Bedanya ketika tukang bangunan mengeluarkan 2 ribu, sisa uang di sakunya 98 ribu. Bandingkan dengan satunya. Pengeluaran 50 ribunya, meninggalkan sisa 2,45 juta ! Masih relatif jauh lebih banyak.

Masihkah kita melihat bahwa seribu, dua ribu atau lima ribu, itu kecil ? Sedikit ? Ternyata itu cuma rasa, bukan ? Jumlah yang menurut perasaan yang melihat. Sudut pandang pemberi infaq ternyata berbeda. Sedikit itu rasa.

Ada yang lebih penting lagi adalah nasihat Nabi Muhammad SAW ini :

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

 

Yuk sedekah ! Tak usah risau dan malu, berapa pun jumlahnya.

Mari kita buka pintu lebar, bagi siapa pun yang ingin memberikan hartanya untuk sarana ibadah. Siapa tahu, kita dicatat sebagai orang yang memberikan fasilitas kebaikan. Insya Allah, semuanya dapat menjadi sarana menghantarkan ke surga. Pasrahkan kepada Allah azza wajalla, bobot penilaiannya.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

 

Special note :

Jika ingin berinfaq membantu pembangunan Tempat Pendidikan Al Quran di Masjid Ar Ridho (lokasi : Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan), sahabat dapat menyalurkannya via :

Bank Muamalat Indonesia | 304 003 1990 | Yayasan Ridho Illahi .

Terima kasih. Jazakallaah khair.

Tak Hentinya Bersyukur

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Hanya itu yang patut saya ucapkan dalam 3 hari ini.

Sabtu pagi, saya bersama teman-teman TEMPA (Trainer Mentoring Program) asuhan Mas Indrawan Nugroho membuat video pendek tentang pesan-pesan pelatihan. Saya pamit lebih dulu setelah ‘take’ 3 actions. Terima kasih juga kepada sahabat Harri Firmansyah R, Mohamad Wirzal Azraqi, Fay Irvanto, Bambang Nugroho dan teman-teman lain atas masukannya.

Saya pun meluncur ke bandara menuju Malang. Silaturahim ke ibu saya.

Di luar kuasa manusia, pesawat ketika diumumkan akan mendarat, tapi berputar entah berapa kali. Ada penumpang yang bilang 8. Ada yang bilang 10 kali. Saya hitung sekira 1 jam 10 menit, kami mengudara di atas Bangil-Sidoarjo-Pandaan. Mutar-muter terus. Hanya doa yang bisa dilakukan.

Alhamdulillaah pesawat mendarat mulus. Terbetik kabar setelah di darat. Ternyata Bandara Abdul Rahman Saleh tertutup awan tebal dan hujan deras. Tampak landasan pacu masih basah dan beberapa tergenang air.

Setiba di Tlogomas, saya pun makan sore bersama ibu saya. Sayangnya, bakso keliling langganan sejak SMP telah ludes. Alhamdulillaah berarti laris Bakso Cak No ini.

Selepas maghrib saya pamit menghadiri undangan adik2 panitia PSCS 2016. Pergelaran Seni Citra Smanti. Selepas isya’ saya memasuki arena. Alhamdulillaah, acara lancar. Gawean adik-adik itu sukses. Itu menurut ukuran saya, terlihat dari rapinya acara dan animo penonton. Saya pulang sebelum acara usai. Sudah terlalu larut.

Ahad pagi, bakda sholat subuh dan setelah sarapan buah, saya sempatkan ke lahan seorang teman yang minta dibantu dikembangkan. Plus saya ziarah ke makam bapak dan adik saya. Alhamdulillaah, pagi yang cerah. Perjalanan lancar. Tidak sampai sejam semuanya tuntas.

Pas melakukan transaksi di ATM untuk beberapa kebutuhan harian. Handphone tertinggal. Saya sadar setibanya di rumah. Alhamdulillaah, pas balik ke anjungan tunai mandiri itu, gadget masih utuh.

Sembari ngobrol sama ibu dan kakak, bakda dhzuhur, ada teman Nelly- NoerLailly K bersama suaminya, yang silaturahim sembari menawarkan usaha properti tanpa riba. Alhamdulillaah, dapat pencerahan. Plus rasa senang dan bahagia, karena banyak sahabat yang mulai berbisnis secara syar’i. Sesuai tuntunan Rasulullaah SAW.

Saya berencana balik lewat Bandara Juanda. Rencana ingin pakai public transportation. Saya kangen naik bus umum. Ibu pun menyarankan agar berangkat lebih dini. Hujan mulai mengguyur, mengiringi persiapan saya. Ketika tiba di mulut gang, jalan macet. Pemandangan umum, katanya, kalau pas Ahad. Apalagi hujan. Orang hampir bersamaan keluar dari tempat wisata. Dihitung normal plus lihat aplikasi di Mbah Google. Tak terkejar waktunya. Naik motor ke terminal, hujan lumayan deras. Tak jadi pilihan.

Saya kontak teman-teman yang punya mobil sewa. Alhamdulillaah, teman SMP yang memang sejak lama usaha sewa mobil, memberikan response dan langsung meluncur menjemput saya.

Alhamdulillaah, dengan peristiwa itu, ibu dan kakak perempuan saya ikut mengantar ke bandara. Kebersamaan pun bertambah, sayangnya kami tidak sempat mampir makan rawon. Mengejar waktu.

Saya tiba di bandara persis sejam sebelum pesawat berangkat. 3,5 jam perjalanan. Macet. Arus balik wisatawan. Alhamdulillaah, sholat pun ditunaikan di musholla bandara yang bersih dan nyaman.

Tidak lama masuk pesawat, saya pulas. Pas bangun ketika ada pengumuman, pesawat harus balik ke Bandara Juanda. Return to base. Pesawat mendarat mulus. Jadi heran kenapa balik. Kata salah satu crew, pesawat menabrak burung. Ada yang terganggu sistem pengatur kecepatan. Saya tidak tahu persis seperti apa. Alhamdulillaaah, diketahui masalahnya dan balik mendarat dengan selamat.

Beberapa penumpang ada yang mencoba cari pesawat lain untuk esok hari. Maklum saya ini naik penerbangan terakhir. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Alhamdulillaah, pesawat pengganti siap dalam sekira 30-45 menit. Kami pun diterbangkan ke Bandara Soeta. Tiba di terminal yang baru dan megah itu, sekira pukul 00.30 WIB. Saya langsung naik taksi yang tidak perlu menunggu lama menuju rumah. Iya lah.. lha wong hampir pukul 1 dini hari… hi.. hi .. hi..

Sesampai di rumah, saya tidak berani merebahkan badan di kasur. Bisa tertidur. Karena saya janji untuk mengantar anak mbarep ke Bandara Soeta menuju kota tempat acara pertukaran mahasiswa di negeri seberang.

Waktu sempit itu saya gunakan untuk ngobrol. Tentunya juga meminta anak mbarep melakukan sholat bareng. Alhamdulillaah.

Saya ke bandara disetiri tetangga, sesuai rencana sebelumnya. Dia pun sudah bangun dan siap. Kalau tidak, saya nampaknya tidak kuat nyetir, Ngantuk berat. Alhamdulillaaah. Saya sempatkan tidur sepanjang perjalanan.
Bakda sholat subuh, anak mbarep check-in dan saya balik. Tidur lagi sepanjang perjalanan.

Alhamdulillaah, segar sekarang.

Saya pun berkata dalam hati :

Hai Ari WijayaDj,

‘Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ?”

Allahu akbar wa lillaahilhamd !

Momen Perubahan

Hari ini bagi sebagian manusia atau organisasi merupakan hari istimewa. Termasuk PT. Elnusa Tbk. yang memperingati hari ulang tahunnya yang ke-47.

Momen istimewa seperti ini acapkali dibarengi dengan kegiatan positif. Tidak jarang, orang melakukan resolusi. Momentum perubahan. Perbaikan diri dan organisasi.

Perubahan perlu penggerak. Dalam kontek Indonesia, penggerak utama sejatinya adalah umat Islam. Kenapa ? Karena penduduk muslim di Indonesia dominan, 87% .

Mari kita coba retas sedikit saja dari salah salah satu ibadah yang dijalani. Satu saja, hikmah shalat berjamaah.

Saya yakin di dalam suatu masjid, dengan atau tanpa adanya tanda shaf (tanda shaf : tulisan sebagai tanda barisan sholat), jamaah berbaris rapi. Begitu iqamah dikumandangkan. Tertib. Kalau pun ada yang mencong, sebelahnya mengajak meluruskannya. Baik dengan kode. Tak jarang dengan tarikan kecil pada sarung atau celana rekan di sebelahnya.

Pernahkah melihat tayangan film atau foto atau bahkan sahabat mengalaminya sendiri ? Sholat berjamaah di Masjid Haram Mekkah. Saat tawaf, crowded, penuh sesak, bukan ? Bisa puluhan ribu jumlahnya. Tapi, begitu dikumandangkan adzan, jamaah pun mulai berbaris rapi. Tertib. Terlihat Indah. (catatan : Tawaf adalah berjalan/berlari kecil mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah).

So, ajaran untuk tertib sudah ada sejak sholat diajarkan kepada kita. Ajarannya luhur. Tak disangsikan lagi.

Namun, sangat disayangkan apa yang terjadi dewasa ini, ketika keluar dari masjid budaya tertib itu seakan hilang. Wuusss…. hampir tak berbekas.

Kita masih membatasi diri dalam beberapa hal. Sholat adalah urusan ibadah. Urusan di luar masjid menjadi hal lain. Kita tidak total membumikan ajaran Rasulullaah. Belum merasuk penuh dalam kehidupan sehari-hari. Belum kaffah. On-off terus. Putus Sambung

Contoh kejadian yang sering dijumpai, bahwa ketertiban itu nampak hilang di luar masjid  yang patut kita renungkan bersama, adalah :

R2 atau roda dua, melawan arus. Mangambil lajur jalan orang atau pengendara lain. Pas di persimpangan, kendaraan bertumpuk. Macet. Terkunci. Perlu waktu relatif lama mengurainya. Parahnya, tidak jarang berombongan. Banyak yang mengikuti aksi itu. Tak jelas siapa yang memulainya.

Bagaimana dengan roda empat atau R4 ? Idem ditto. Setali tiga uang. Sebagai contoh sederhana, berkenadara di jalan tol. Sudah ada larangan menggunakan bahu jalan. Bahu jalan hanya untuk darurat. Jalan untuk ambulan, polisi, keperluan darurat lainnya. Tapi apa yang terlihat ? Bahu jalan seperti jalan tol di dalam jalan tol. Dipakai dengan laju yang tidak pelan pula. Tak peduli kelas mobilnya. Bus, angkutan umum, mobil pribadi pun turut masuk. Pas ada kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, penanganan lambat. Lha wong, bahu jalannya dipakai tidak semestinya. Ambulan, polisi, mobil derek pun terlambat tiba.

Kalau sudah ada kondisi darurat seperti itu, jalan jadi macet. Penanganan lambat, seperti kasus Brexit (baca : Brebes Exit) pada Lebaran lalu. Pengguna jalan muring2. Ngedumel. Marah. Parahnya turut ngomeli pejabat yang berwenang pula. Bisa jadi aparat sudah berusaha maksimal. Kita sebagai user yang tidak disiplin.

Praktek yang ditemui, masih ada yang berusaha menjadi baik. Tidak jarang ada yang peduli dengan kejadian seperti itu. Mencoba memberi teguran atau mengingatkan. Eeee… kalau diingatkan malah lebih galak.

“Sok tertib, Lu !”

“Kapan nyampe’ nya. Bisa telat ini masuk kerja, kalau ngikuti aturan”.

Jawaban yang sering dilontarkan.

Banyak alasan mengemuka. Pembenaran. Justifikasi.

Apakah terpikirkan oleh kita ? Bisa jadi, karena itulah kita tertinggal dari bangsa lain. Bahkan dari umat yang kita bilang tak mengenal Tuhan sekali pun. Kita memang dalam tataran kajian, namun prakteknya masih harus ditingkatkan.

Ijinkan saya mengemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan juga termuat dalam kitab hadits yang riwayatkan oleh Ibnu Majah.

“Barang siapa memulai dalam agama Islam perbuatan yang baik, maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut. Dan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa memulai dalam Islam perbuatan yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang mengikuti setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”

Akankah kita menjadi bagian dari itu ? Orang yang memikul beban dosa karena suatu aksi tidak baik yang kemudian diikuti orang lain ?

Patut menjadi renungan bersama.

Menjadi insan yang taqwa perlu perjuangan. Penuh cobaan. Perlu keteguhan. Dan yang lebih penting lagi adalah dimulai dari aksi yang kecil.

Janji Allah SWT sangat jelas, seperti termaktub dalam Surat At Talaq ayat 2-3 :

“…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Karena kita berjumlah besar. Dominan. Ini lah yang saya sebut kita menjadi penggerak utama. Seyogyanya kita yang jadi motor. Karena ajaran Rasulullaah adalah luhur. Kita yang perlu membumikannya. Menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Saya yakin kita ingin terhindar dari dosa yang berantai dan tak berujung. Dosa karena aksi yang tidak baik dan diikuti banyak orang.

Mari kita bumikan ajaran Rasulullaah. Kita praktekkan. Kita bawa dan menempel pada keseharian tindak tanduk kita. Di mana pun kita berada.

Karena kita adalah wajah umat Islam. We are the face of Islam.

Semoga berkenan.

(Catatan ini disaripatikan dari Khutbah Jumat, 9 September 2016 di Masjid Baitul Hikmah Elnusa, Cilandak, Jakarta)

 

 

Terima Kasih

Terima kasih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna : rasa syukur.

Saya memaknai hal yang serupa dengan melebarkan artinya. Terlebih ketika memberikan pelatihan atau sharing session kepada orang lain.

Terima punya arti menerima ilmu dari orang lain atau mendapatkan dari media lain. Termasuk mengolah ilmu dan pengetahuan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Kasih sebenarnya berarti rasa sayang, cinta. Kami memaknai juga dengan memberi (bahasa Jawa informal, kasih berarti memberi).

Itulah semangat yang saya tanamkan di dalam hati ketika diminta memberikan ceramah, memotivasi atau memberikan pelatihan kepada orang atau organisasi lain. Terima ilmu dan pengetahuan itu, kemudian saya berikan lagi kepada yang membutuhkannya. That’s the real meaning of ‘terima kasih’. Mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain adalah rasa syukur yang sesungguhnya. Insya Allah.

Semoga itu menjadi catatan amal sholeh yang pantas saya sodorkan di Padang Maghsyar kelak.

Mau bergabung dengan semangat dan gerakan yang sama ? Yuk, kita mulai dengan berbagi dan beraksi setidaknya untuk lingkungan di sekitar kita.