Bosan Jadi Pion ?

“Novendra diprediksi 3 tahun lagi dapat meraih gelar Grand Master (GM)”, begitu bunyi head line sebuah media online.

Ya, GM adalah salah satu istilah gelar pada olahraga catur. Cabang olah raga yang tidak sepopuler sepakbola di negeri ini. Gelar GM menjadi dambaan pecatur. Itu masih langka. Beberapa nama telah mengharumkan nama Indonesia. Tercatat seperti Utut Adianto, Susanto Megaranto, Irene Kharisma, Medina Aulia. Dua nama terakhir adalah GM perempuan yang dimiliki Indoensia.

Permainan Catur berisi bidak hitam dan putih yang digerakkan dan memakan lawan. Ada Raja, Ratu, Menteri, Kuda, Benteng dan Pion alias Prajurit.

Dalam kesempatan ini, perkenankan saya menyoroti bidak yang satu ini. Pion alias prajurit. Coba lihat dengan seksama. Satu giliran demi giliran. Ia selalu berjalan maju. Meski hanya satu-satu langkahnya. Tak pernah mundur. Tak jarang, karena kepentingan strategi, ia dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Umpan.

Perhatikan dalam beberapa kejadian. Dalam situasi tertentu ia bisa menjadi penyelamat dan kunci kemenangan. Kapan ? Ketika ia berhasil maju hingga batas akhir. Ia bisa berganti peran menjadi Benteng, Kuda, Menteri atau Ratu sekali pun. Hampir dipastikan semangat bertambah. Aura kemenangan nampak lebih terlihat cerah.

Sahabat, tahun berganti bisa jadi posisi kita masih sama. Memang sebagian orang berkata itu kondisi merugi. Betul, jika dilihat dari sisi tidak memanfaatkan kelebihan dan kesempatan. Tapi jika posisi memang harus bertahan. Kesempatan belum ada. Kondisi perusahaan tidak beranjak baik. So, posisi sama pun patut kita syukuri. Bisa jadi pion lagi, prajurit lagi, posisinya.

Bosan jadi pion ? Ehm.. tahan. Tak perlu berkecil hati. Saran saya, jangan dipelihara, sahabat. Singkirkan  pikiran semacam itu. Setidaknya kita tetap punya semangat maju. Meski tidak secepat lainnya. Semangat bidak pion tadi patut kita ambil hikmahnya. Ia tetap maju. Paling parah, berhenti. Tapi, prajurit itu tak pernah membuat langkah mundur. Itu yang terpenting.

Bagaimana menyikapinya ? Kita tambah pengetahuan. Tambah kemampuan. Nampak seperti berhenti, bukan. Sejatinya, kita bergerak. Yah, otak dan pikiran kita terus diperkaya. Berbagai cara maju kita lakukan. Plus tiada henti bermunajat, menghamba kepada Sang Maha Pencipta.

Pion pun bisa menjadi penyelamat. Pemberi percikan semangat kemenangan. Pada saat yang tepat sang prajurit bisa punya peranan hebat.

Lha kalau pion saja punya semangat bak pendekar pilih tanding, apalagi yang lainnya, bukan ?

Yuk terus berbenah. Maju meski hanya selangkah. Terus berikhtiar dan berdoa. Insya Allah kemenangan berpihak kepada kita yang terus berusaha.

“Dan orang-orang yang berusaha untuk (mencari keridlaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”

(QS Al-‘Ankabuut : 69)

Selamat menjalankan amanah di tahun 2017 ini. Apa pun itu, mari kita niatkan sebagai salah satu amal sholeh terbaik kita.

Spasi

Bung Hatta, pernah memberikan nasihat. Sangat relevan dengan kondisi kekinian negeri kita.

“Jatuhbangunnyanegaraini,sangattergantungdaribangsainisendiri.Makinpudarpersatuandankepedulian,Indonesiahanyalahsekedarnamadangambarseuntaianpulaudipeta.Janganmengharapkanbangsalainrespekterhadapbangsaini,bilakitasendirigemarmemperdayasesamasaudarasebangsa,merusakdanmencurikekayaanIbuPertiwi.”

Enak dibacakah ? Bingung ? Petuah yang hebat tersebut menjadi sulit dibaca. Walhasil sulit di mengerti.

Coba dibaca lagi dengan format ini.

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

Saya yakin, sekarang pesan ini lebih gampang dibaca. Maknyes. Lebih mengena. Cepat merasuk ke dalam jiwa.

Apa pembedanya ? Ya. Untaian kalimat terakhir menggunakan spasi. Spasi hanya jarak antar kata. Namun menjadi pembeda. Kalimat lebih mudah dicerna. Nasihat salah satu proklamator kemerdekaan negeri kita itu pun, jelas maknanya.

Tak ubahnya menggerakkan roda perusahaan. Ada kalanya perlu berhenti sejenak. Memberi jarak atas rutinitas.

Upaya jeda tersebut bisa berupa membuat kegiatan yang lain dari biasanya. Kegiatan di dalam ruang, bisa diganti dengan diskusi di kafe. Menyelesaikan masalah di kebun, misalnya. Menuntaskan masalah dengan ceria, fun.

Kalau biasa bekerja di lapangan, bagaimana ? Tiap hari ketemu hutan. Ladang. Alam terbuka. Coba, sesekali datang ke kantor pusat. Menikmati ruang kerja teman. Atau mampir di perpustakaan. Rasakan bedanya.

Bisa juga pergi ke suatu tempat favorit. Berlibur. Itu juga salah satu cara. Tidak harus mahal, kok.

 Journal Applied Research in Quality of Life menerbitkan salah satu hasil penelitiannya. Rasa bahagia akan meningkat tajam bagi orang yang berlibur dibandingkan dengan mereka yang tidak liburan. Tidak hanya itu, satu kali liburan juga dapat membuat seseorang merasa bahagia selama 8 bulan. Merefresh kinerja otak selama bekerja.

Spasi nampak sepele. Tapi ia menjadi pembeda. Mari kita temukan dan ciptakan spasi perjalanan kita. Insya Allah, itu akan menambah daya dorong berkarya.

 

 

Passion !

Passion bermakna strong emotionLoveStrong interest. Dalam Bahasa Indonesia punya arti nafsu. Gairah. Keinginan besar. Kegemaran.

Satu kata yang menggelitik karena punya banyak makna. Bisa lari kemana-kemana lamunan kita.

Passion Gua nggak disini, nih”. Bosen, Gua. Buntu. Nggak bisa berkembang”, ujar seorang kawan.

Benarkah demikian ? Bisa juga terjadi pada sahabat ?

Semoga tidak. Tapi, jika ragu-ragu. Mari kita cek masing-masing.

Salah satu guru saya mengajarkan cara menemukan passion yang realif mudah. Ini bisa juga berbeda pendapat. Debatable. Setidaknya, metoda ini cukup untuk membantu menjawab dalam waktu singkat.

Tiga tugas yang harus dijawab. Di tambah satu pertanyaan uji.

Tugas pertama. Coba sebutkan beberapa kegiatan yang sahabat lakukan dengan suka cita. Kalau pun diajak diskusi tentang kegiatan itu, kagak ada matinye. Nyerocos terus (baca: antusias).

Tugas kedua, terkait dengan task sebelumnya. Jika keuangan terbatas. Dana cekak. Aktivitas mana dari yang disebutkan tadi, bisa menghasilkan uang. Setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Task ketiga. Coba ditemukan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Dan yang lebih penting, menurut penilaian orang lain, sabahat melakukan aktivitas itu dengan sangat baik.

Pekerjaan atau kegiatan yang muncul di ketika task tersebut, sudah bisa dikatakan passion. Ya itulah, passion sahabat.

Mari jawaban itu diuji. Jawaban atas pertanyaan berikut ini adalah konfirmasi.

Apakah para sahabat rela berjibaku ? Rela berkorban waktu. Gampang mengeluarkan uang.  Tak surut berpeluh basah. Energi ditumpahkan. All out. Rela atas semua itu agar menjadi yang terbaik dalam bidang pekerjaan atau kegiatan itu? Apakah berkenan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Melakukan pekerjaan itu walau tanpa dibayar?

Jika jawabannya masih ya. Maka itu benar-benar passion. Pupuk terus. Lanjutkan !

Richard Branson mengatakan :

“Finding your passion means you’ll always work, but never have a job”

Jika bukan, yuk, temukan lagi. Mari gali lagi. Bila perlu, lakukan perubahan.

Passion ini penting dalam mendorong berkarya. Menikmati setiap assignment dengan suka cita. Bahagia sepanjang hayat.

Insya Allah.

Perkenankan juga, saya membagikan artikel dari Richard Branson terkait tulisan ini.

https://www.virgin.com/richard-branson/finding-your-passion-means-youll-never-have-job

 

Salam Terobosan.

This is AriWAY

Keep Moving

Beberapa bulan terakhir ini, terasa berat. Koran memberitakan ada belasan perusahaan melakukan efisiensi. Bahasa lebih lunak dari PHK. Seorang sahabat yang bekerja di daerah Karawang pun, jadi salah satunya. Sejawat yang lain juga tidak tenang. Ada yang mulai merintis buka usaha. Mereka menyiapkan sekoci. Tak jarang ada yang volunteer tanpa menunggu pemutusan hubungan kerja. Beralih berwirausaha. Banyak juga yang berupaya menambah kompetensinya. Agar tetap jadi pilihan. Layaknya pendekar pilih tanding. Upaya beragam dilakukan agar tetap bertahan dan tumbuh berkembang.

Pengusaha ? Setali tiga uang. Meski ini tidak berlaku umum. Teman yang jadi pengusaha pun geleng-geleng kepala. Lesu. Ia malah meminta masukan, bagaimana kalau bisnisnya ditutup. Berganti bidang lain. Panjang lebar diskusinya.

Sepakat dengan beberapa solusi. Simpulan penting adalah jalan terus tapi nambah lini bisnis. Ia mengambil langkah cepat melakukan overhaul. Perbaikan menyeluruh. Seluruh tim dilibatkan. Memang bisnisnya gitu-gitu saja. Tapi efek dominonya yang patut dipertahankan. Belasan karyawan menyandarkan hidupnya melalui usaha kecil yang dikelolanya.

Memang berat. Jalan tak mulus. Tapi jika berhenti, malah menutup kesempatan. Memberi batas peluang. Meneruskan perjalanan adalah pilihan jitu. Keep moving. Apalagi jika diarungi bersama. Bisa dengan keluarga dekat. Sejawat seperjuangan. Atau bahkan kolaborasi yang lebih besar lagi.

Setidaknya hasil diskusi kecil itu memberikan tiga pesan kuat.

Berdoa dan berharap. Setiap kesulitan ada kemudahan. Itu janji Allah SWT,  Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Menyediakan waktu khusus untuk berdoa menata hati, bersimpuh berharap kepadaNYA. Saat kebanyakan manusia terlelap tidur. Bermunajat dengan sepenuh hati. Ini usaha langit.

Adaptif. Menyikapi perubahan dengan positif. Melakukan review atas apa yang terjadi. Memberikan response yang sesuai kebutuhan pelanggan. Customer accomodation. Menggunakan bantuan teknologi, jika diperlukan. Perkembangan teknologi informasi punya akselerasi yang jauh lebih cepat dai yang diharapkan. Patut dimanfaatkan.

Kolaborasi. Saat seperti ini, berjalan sendirian akan jauh melelahkan. Malah mudah dan lebih cepat kehabisan tenaga. Bergandengan tangan. Membangun budaya kerja tim. Memecahkan masalah bersama kelompok internal. Bahkan, bekerja sama dengan pihak lain. Tidak mudah. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Pepatah Cina mengatakan :

“To get through the hardest journey we need take only one step at a time, but we must keep on stepping”

Keep moving, Sahabat !

Semoga ikhtiar itu menjadi catatan upaya kita. Highlight notes bahwa kita bukan hamba yang gampang menyerah. Allah azza wajalla, Tuhan Yang Maha Memberi juga memberikan keberkahan usaha langit dan usaha bumi. Menetapkan kita jadi juaranya.

Salam Terobosan !

This is ariWAY.

Silakan disebarkan jika tulisan ini membawa manfaat.

Kambuhan

Entah berapa sudah terkena OTT. Operasi tangkap tangan. Terlepas, masih perlu bukti lanjutan. Faktanya memang marak. Berita seliweran. Hampir setiap hari, running text senada muncul.

Suap. Korupsi. ‘Titipan’ proyek. Kongkalikong. Uang sukses pemenangan tender. Sogokan agar lulus ujian. Uang ‘terima kasih’ agar masuk sekolah tertentu.  Duit damai agar ringkas urusan. Entah apa lagi istilahnya.

Kata ahli manajemen, yang terlihat itu masih kecil. Kejadian yang tak terlihat, bisa jadi berjibun. Iceberg. Gunung es. Mungil terlihat di atas, besar menggelayut di bawah.

Bagaimana dengan kita ? Mari kita lakukan introspeksi. Masihkah untuk mendapat proyek, dilakukan iming-iming titipan ? Apa menyimpan biaya agar terlihat menggiurkan ? Atau ada yang bilang : 

“Biasa itu, kalau mau menang yang harus tahu diri. Bagi dikit nggak apalah”
“Kalau nggak ngikut gitu, kapan kita dapat proyek ? Bagaimana kita hidup ?”

Jangan anggap kecil. Kecil itu, kelak bisa jadi kesalahan fatal. Edward Coke, Hakim Agung Inggris, yang sangat disegani pada masanya, memberi nasihat :

“Though the bribe be small, yet the fault is great”

Apalagi pernah sakit parah, hampir kolaps. Terseok-seok gara-gara kasus integrity. Penyembuhannya perlu sumber daya yang tidak sedikit. Ketika sakit itu sudah sembuh. Bisa jadi belum tuntas. Tapi jangan sampai kambuh. Biasanya, obatnya lebih lama. Lebih mahal.

Lebih baik ditanggalkan. Segera. Jangan jadi penyakit kambuhan. Jangan khawatir akan rezeki Allah. Pintu rezeki akan terbuka lebar.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.”
(HR. Ahmad)

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, memberi jalan dan kemudahan bagi kita.

Pendidikan Sang Pendongkrak

Apa yang banyak ketahui tentang Australia ? Kanguru, binatang berkantong itu ? Bisa jadi. Senjata tradisional mereka, bumerang. Boleh juga. Suku aboriginnya. Tak salah juga. Tetangga yang sering berantem opini dengan Indonesia. Itu juga jawaban.

Bagaimana perekonomian Australia ? Banyak yang mengatakan, negeri ini termasuk salah satu negara maju. Tahun 2015 PDB per kapita mereka USD 52.400. PDB totalnya USD 1.200 Triliun. Tercatat 70% disumbangkan oleh sektor jasa, termasuk pendidikan.

Pendidikan atau lebih tepatnya higher education penyumbang PDB ? Ya, betul. Siapa yang tidak kenal dengan universitas ternama di Negeri Kanguru itu. Data tahun lalu, 8 universitas di Australia masuk 100 besar perguruan tinggi di dunia. Mereka disebut Group of Eight (Go8). Itulah daya tariknya. Sehingga pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara mau bersusah payah menggali ilmu di Australia. Meski biayanya pun tidak murah. Tercatat 600ribu mahasiswa dari luar Australia yang belajar di sana. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemasukan penting. Tahun 2014 tercatat USD 16 Milyar masuk ke kantong pemerintah Australia.  Logis jika sektor pendidikan menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto.

Pengalaman negeri tetangga kita itu yang ingin saya kupas untuk ditiru.

Apakah kita punya potensi itu ? Punya. Saya ambil contoh Kota Malang. Sebuah kota di tengah Provinsi Jawa Timur.

Kenapa Malang ? Sebagai gambaran, Malang dianugerahi julukan Kota Pendidikan. Ini juga julukan yang pas. Jumlah perguruan tinggi di Malang tercatat lebih dari 50. Perguruan tinggi negeri saja, banyak pilihannya seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian.

Perguruan tinggi swasta diantaranya : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara.

Jika kita berkaca pada Australia, maka modal dasar telah dimiliki Kota Malang. Jika perguruan tinggi yang disebutkan tadi bisa membuka kelas internasional. Tidak perlu semua program studi. Jurusan tertentu yang disiapkan. Selektif dan bersinergi. Dampak atas inisiatif itu akan menjadi efek domino.

Program Studi Ekonomi Syariah dibuka kelas internasional di UIN Maliki dosen utama dari UIN Maliki dengan dosen tamu dari UB, UM, UIN Maliki, UMM. UIN Maliki punya sumber daya yang mumpuni ketika bicara tentang syariah.

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dibuka di UM dengan dosen tamu bekerja sama dengan UIN Maliki, UMM, Unisma. Mengapa UM ? Institusi ini punya catatan moncer dalam pengembangan tenaga pendidik.

Program Studi Teknologi Pertanian diinisiasi di UB dengan dosen tamu melibatkan Unmer, UMM, ITN. UB punya resources dan reputasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan ini.

Program studi Penyuluh Pertanian dibuka di STPP dengan dosen tamu UB, UIN Maliki. STTP sudah terkenal punya output tenaga penyukuh handal yang tersebar di negeri ini.

Bisa jadi jurusan lainnya. Masih terbuka. Rektor dan pimpinan yang lain insya Allah lebih tahu program studi yang punya potensi.

Bagaimana kualitasnya ? Saya yakin saat ini perguruan tinggi di Malang berlomba untuk meraih akreditasi yang paripurna. Assessment dilakukan oleh Kementrian Ristek dan Dikti, tapi juga lembaga internasional. Itu juga pondasi yang sangat baik.

Siapa pasarnya ? Pasar utama ditujukan di negeri seputaran Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Dapat menggunakan lobbying solidaritas negara ASEAN atau Konferensi Asia Afrika.

Sejarah mencatat, Negeri Jiran, Malaysia, sesuai sejarah, pernah mendatangkan tenaga pendidik Indonesia ke negerinya. Pun mengirim putra-putri terbaiknya ke Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi ternama.

Masih ingatkah pada jaman Pak Harto (Presiden Soeharto), bahwa petani terbaik dari beberapa negara di Afrika untuk belajar pertanian dan peternakan di negeri kita.

Bagaimana efeknya ? Pendapatan daerah kota Malang sesuai APBD 2016 adalah sebesar Rp. 1,73 Triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya Rp. 370 M. Baru 21%. Pemko Malang punya keinginan meningkatkan PAD. Apa dampaknya jika jasa pendidikan tadi semakin mendunia ?

Inilah yang sejalan. Tempat tinggal tentunya akan lebih banyak dibutuhkan. Rumah tinggal, guest house, hotel, dan apartemen akan naik demand-nya. Ini sumber penghasilan bagi daerah. Belum lagi expenses mereka. Belanja mahasiswa juga diharapkan meningkat. Bandara Abdul Rahman Saleh frekuensi penerbangannya bisa lebih banyak. Ia lebih ramai setidaknya pas liburan semesteran. Perputaran uang relatif lebih besar. Peluang usaha menjadi lebih terbuka. Ya, efek domino.

Pendidikan yang bisa memperkuat perekonomian daerah. Ia jadi sang pendongkrak. Bukan tidak mungkin mengubah dunia, setidaknya Kota Malang.

Bagaimana Abah Anton, Walikota Malang ? Insya Allah, ide ini bisa digodok lebih matang. Dikembangkan lebih luas. Tentunya melakukan sinergi dengan para pimpinan perguruan tinggi di Malang.

Semoga ide kecil ini dapat turut serta memberikan sumbangsih upaya peningkatan pendapatan asli daerah.

Semoga Pak Walikota berkenan.

Salam satu jiwa.

 

Sedikit Itu Rasa

Sahabat, pernahkah membantu menghitung uang dari kotak amal ? Atau melihat isi kotak amal ?

Coba diperhatikan. Isinya beragam, bukan ? Ada uang kertas yang licin atau lusuh. Tak jarang juga berisi uang logam. Pecahannya pun variatif. Ada seribuan hingga lembaran seratus ribu. Lebih dominan mana ? Sebenarnya itulah potret kondisi ekonomi masyarakat.

Tak jarang ada komentar,

“Alhamdulillaah, ada juga yang memasukkan uang merah ini (baca : uang kertas dengan nominal 100ribu)”.

Atau celetukan dan candaan sembari merapikan lembaran-lembaran uang :

“Duh kasihan, uang ini. Lecek, kusam, tapi banyak kali jumlahnya. Jadi agak lama kita harus menghitungnya”.

Sabahat, mari kita kesampingkan dulu bentuknya. Mari kita retas bagaimana nilai dari uang itu. Kita ambil contoh, pecahan 2 ribu sang penghuni kotak amal.

Suatu profesi, katakanlah, tukang bangunan. Tukang ojek pangkalan. Atau tukang linting rokok. Ia bekerja keras dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Upah yang mereka terima biasanya harian. Profesi yang tidak boleh sakit. Apa pasal ? Kalau sakit ia tidak menerima upah. Ia kehilangan pemasukan.

Jumlah upah mereka beragam. Tergantung daerah lokasi kerja. Ada juga berdasarkan keahlian dan lamanya bekerja. Kalau boleh saya ambil sampel, jasa profesinya adalah 100 ribu per hari. Ini contoh untuk memudahkan gambaran saja.

Ia bersedekah 2 ribu rupiah. Nilai itu besar atau kecil ? Itu relatif. Itu rasa. Coba kita bandingkan uang yang dimasukkan ke kotak amal dengan penghasilannya hari itu. Hasil nya adalah 2%. Ya, dua per seratus dari hasil keringat hari itu.

Ada profesi lainnya. Pengacara misalnya. Profesional muda lainnya. Waktu kerjanya kita anggap sama. Pukul 8 pagi hingga teng kembali ke rumah pukul 5 sore. Pekerjaan yang digelutinya bisa menghasilkan Rp 2,5 juta per hari. Ini juga sebagai ilustrasi. Ia memasukkan uang Rp. 50 ribu dalam boks hijau milik masjid. Kadar ikhlasnya, anggaplah sama.

Wow.. limpul, kata Orang Medan. Lima puluh ribu rupiah !

Uang gede ? Eiit tunggu dulu, secara nilai, belum tentu, lho. Ia cemplungkan uang 50 ribu dari hasil jerih payah yang 2,5 juta rupiah. Itu artinya 2% juga !

Sama seperti gambaran sebelumnya, bukan ? So, bolehkah saya sebut, 2 ribunya orang yang berpenghasilan 100 ribu dengan 50 ribu infaqnya yang penghasilan 2,5 juta, punya nilai yang sama.

Bedanya ketika tukang bangunan mengeluarkan 2 ribu, sisa uang di sakunya 98 ribu. Bandingkan dengan satunya. Pengeluaran 50 ribunya, meninggalkan sisa 2,45 juta ! Masih relatif jauh lebih banyak.

Masihkah kita melihat bahwa seribu, dua ribu atau lima ribu, itu kecil ? Sedikit ? Ternyata itu cuma rasa, bukan ? Jumlah yang menurut perasaan yang melihat. Sudut pandang pemberi infaq ternyata berbeda. Sedikit itu rasa.

Ada yang lebih penting lagi adalah nasihat Nabi Muhammad SAW ini :

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

 

Yuk sedekah ! Tak usah risau dan malu, berapa pun jumlahnya.

Mari kita buka pintu lebar, bagi siapa pun yang ingin memberikan hartanya untuk sarana ibadah. Siapa tahu, kita dicatat sebagai orang yang memberikan fasilitas kebaikan. Insya Allah, semuanya dapat menjadi sarana menghantarkan ke surga. Pasrahkan kepada Allah azza wajalla, bobot penilaiannya.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

 

Special note :

Jika ingin berinfaq membantu pembangunan Tempat Pendidikan Al Quran di Masjid Ar Ridho (lokasi : Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan), sahabat dapat menyalurkannya via :

Bank Muamalat Indonesia | 304 003 1990 | Yayasan Ridho Illahi .

Terima kasih. Jazakallaah khair.