Tak Hentinya Bersyukur

Alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Hanya itu yang patut saya ucapkan dalam 3 hari ini.

Sabtu pagi, saya bersama teman-teman TEMPA (Trainer Mentoring Program) asuhan Mas Indrawan Nugroho membuat video pendek tentang pesan-pesan pelatihan. Saya pamit lebih dulu setelah ‘take’ 3 actions. Terima kasih juga kepada sahabat Harri Firmansyah R, Mohamad Wirzal Azraqi, Fay Irvanto, Bambang Nugroho dan teman-teman lain atas masukannya.

Saya pun meluncur ke bandara menuju Malang. Silaturahim ke ibu saya.

Di luar kuasa manusia, pesawat ketika diumumkan akan mendarat, tapi berputar entah berapa kali. Ada penumpang yang bilang 8. Ada yang bilang 10 kali. Saya hitung sekira 1 jam 10 menit, kami mengudara di atas Bangil-Sidoarjo-Pandaan. Mutar-muter terus. Hanya doa yang bisa dilakukan.

Alhamdulillaah pesawat mendarat mulus. Terbetik kabar setelah di darat. Ternyata Bandara Abdul Rahman Saleh tertutup awan tebal dan hujan deras. Tampak landasan pacu masih basah dan beberapa tergenang air.

Setiba di Tlogomas, saya pun makan sore bersama ibu saya. Sayangnya, bakso keliling langganan sejak SMP telah ludes. Alhamdulillaah berarti laris Bakso Cak No ini.

Selepas maghrib saya pamit menghadiri undangan adik2 panitia PSCS 2016. Pergelaran Seni Citra Smanti. Selepas isya’ saya memasuki arena. Alhamdulillaah, acara lancar. Gawean adik-adik itu sukses. Itu menurut ukuran saya, terlihat dari rapinya acara dan animo penonton. Saya pulang sebelum acara usai. Sudah terlalu larut.

Ahad pagi, bakda sholat subuh dan setelah sarapan buah, saya sempatkan ke lahan seorang teman yang minta dibantu dikembangkan. Plus saya ziarah ke makam bapak dan adik saya. Alhamdulillaah, pagi yang cerah. Perjalanan lancar. Tidak sampai sejam semuanya tuntas.

Pas melakukan transaksi di ATM untuk beberapa kebutuhan harian. Handphone tertinggal. Saya sadar setibanya di rumah. Alhamdulillaah, pas balik ke anjungan tunai mandiri itu, gadget masih utuh.

Sembari ngobrol sama ibu dan kakak, bakda dhzuhur, ada teman Nelly- NoerLailly K bersama suaminya, yang silaturahim sembari menawarkan usaha properti tanpa riba. Alhamdulillaah, dapat pencerahan. Plus rasa senang dan bahagia, karena banyak sahabat yang mulai berbisnis secara syar’i. Sesuai tuntunan Rasulullaah SAW.

Saya berencana balik lewat Bandara Juanda. Rencana ingin pakai public transportation. Saya kangen naik bus umum. Ibu pun menyarankan agar berangkat lebih dini. Hujan mulai mengguyur, mengiringi persiapan saya. Ketika tiba di mulut gang, jalan macet. Pemandangan umum, katanya, kalau pas Ahad. Apalagi hujan. Orang hampir bersamaan keluar dari tempat wisata. Dihitung normal plus lihat aplikasi di Mbah Google. Tak terkejar waktunya. Naik motor ke terminal, hujan lumayan deras. Tak jadi pilihan.

Saya kontak teman-teman yang punya mobil sewa. Alhamdulillaah, teman SMP yang memang sejak lama usaha sewa mobil, memberikan response dan langsung meluncur menjemput saya.

Alhamdulillaah, dengan peristiwa itu, ibu dan kakak perempuan saya ikut mengantar ke bandara. Kebersamaan pun bertambah, sayangnya kami tidak sempat mampir makan rawon. Mengejar waktu.

Saya tiba di bandara persis sejam sebelum pesawat berangkat. 3,5 jam perjalanan. Macet. Arus balik wisatawan. Alhamdulillaah, sholat pun ditunaikan di musholla bandara yang bersih dan nyaman.

Tidak lama masuk pesawat, saya pulas. Pas bangun ketika ada pengumuman, pesawat harus balik ke Bandara Juanda. Return to base. Pesawat mendarat mulus. Jadi heran kenapa balik. Kata salah satu crew, pesawat menabrak burung. Ada yang terganggu sistem pengatur kecepatan. Saya tidak tahu persis seperti apa. Alhamdulillaaah, diketahui masalahnya dan balik mendarat dengan selamat.

Beberapa penumpang ada yang mencoba cari pesawat lain untuk esok hari. Maklum saya ini naik penerbangan terakhir. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Alhamdulillaah, pesawat pengganti siap dalam sekira 30-45 menit. Kami pun diterbangkan ke Bandara Soeta. Tiba di terminal yang baru dan megah itu, sekira pukul 00.30 WIB. Saya langsung naik taksi yang tidak perlu menunggu lama menuju rumah. Iya lah.. lha wong hampir pukul 1 dini hari… hi.. hi .. hi..

Sesampai di rumah, saya tidak berani merebahkan badan di kasur. Bisa tertidur. Karena saya janji untuk mengantar anak mbarep ke Bandara Soeta menuju kota tempat acara pertukaran mahasiswa di negeri seberang.

Waktu sempit itu saya gunakan untuk ngobrol. Tentunya juga meminta anak mbarep melakukan sholat bareng. Alhamdulillaah.

Saya ke bandara disetiri tetangga, sesuai rencana sebelumnya. Dia pun sudah bangun dan siap. Kalau tidak, saya nampaknya tidak kuat nyetir, Ngantuk berat. Alhamdulillaaah. Saya sempatkan tidur sepanjang perjalanan.
Bakda sholat subuh, anak mbarep check-in dan saya balik. Tidur lagi sepanjang perjalanan.

Alhamdulillaah, segar sekarang.

Saya pun berkata dalam hati :

Hai Ari WijayaDj,

‘Maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan ?”

Allahu akbar wa lillaahilhamd !

Momen Perubahan

Hari ini bagi sebagian manusia atau organisasi merupakan hari istimewa. Termasuk PT. Elnusa Tbk. yang memperingati hari ulang tahunnya yang ke-47.

Momen istimewa seperti ini acapkali dibarengi dengan kegiatan positif. Tidak jarang, orang melakukan resolusi. Momentum perubahan. Perbaikan diri dan organisasi.

Perubahan perlu penggerak. Dalam kontek Indonesia, penggerak utama sejatinya adalah umat Islam. Kenapa ? Karena penduduk muslim di Indonesia dominan, 87% .

Mari kita coba retas sedikit saja dari salah salah satu ibadah yang dijalani. Satu saja, hikmah shalat berjamaah.

Saya yakin di dalam suatu masjid, dengan atau tanpa adanya tanda shaf (tanda shaf : tulisan sebagai tanda barisan sholat), jamaah berbaris rapi. Begitu iqamah dikumandangkan. Tertib. Kalau pun ada yang mencong, sebelahnya mengajak meluruskannya. Baik dengan kode. Tak jarang dengan tarikan kecil pada sarung atau celana rekan di sebelahnya.

Pernahkah melihat tayangan film atau foto atau bahkan sahabat mengalaminya sendiri ? Sholat berjamaah di Masjid Haram Mekkah. Saat tawaf, crowded, penuh sesak, bukan ? Bisa puluhan ribu jumlahnya. Tapi, begitu dikumandangkan adzan, jamaah pun mulai berbaris rapi. Tertib. Terlihat Indah. (catatan : Tawaf adalah berjalan/berlari kecil mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah).

So, ajaran untuk tertib sudah ada sejak sholat diajarkan kepada kita. Ajarannya luhur. Tak disangsikan lagi.

Namun, sangat disayangkan apa yang terjadi dewasa ini, ketika keluar dari masjid budaya tertib itu seakan hilang. Wuusss…. hampir tak berbekas.

Kita masih membatasi diri dalam beberapa hal. Sholat adalah urusan ibadah. Urusan di luar masjid menjadi hal lain. Kita tidak total membumikan ajaran Rasulullaah. Belum merasuk penuh dalam kehidupan sehari-hari. Belum kaffah. On-off terus. Putus Sambung

Contoh kejadian yang sering dijumpai, bahwa ketertiban itu nampak hilang di luar masjid  yang patut kita renungkan bersama, adalah :

R2 atau roda dua, melawan arus. Mangambil lajur jalan orang atau pengendara lain. Pas di persimpangan, kendaraan bertumpuk. Macet. Terkunci. Perlu waktu relatif lama mengurainya. Parahnya, tidak jarang berombongan. Banyak yang mengikuti aksi itu. Tak jelas siapa yang memulainya.

Bagaimana dengan roda empat atau R4 ? Idem ditto. Setali tiga uang. Sebagai contoh sederhana, berkenadara di jalan tol. Sudah ada larangan menggunakan bahu jalan. Bahu jalan hanya untuk darurat. Jalan untuk ambulan, polisi, keperluan darurat lainnya. Tapi apa yang terlihat ? Bahu jalan seperti jalan tol di dalam jalan tol. Dipakai dengan laju yang tidak pelan pula. Tak peduli kelas mobilnya. Bus, angkutan umum, mobil pribadi pun turut masuk. Pas ada kecelakaan atau kondisi darurat lainnya, penanganan lambat. Lha wong, bahu jalannya dipakai tidak semestinya. Ambulan, polisi, mobil derek pun terlambat tiba.

Kalau sudah ada kondisi darurat seperti itu, jalan jadi macet. Penanganan lambat, seperti kasus Brexit (baca : Brebes Exit) pada Lebaran lalu. Pengguna jalan muring2. Ngedumel. Marah. Parahnya turut ngomeli pejabat yang berwenang pula. Bisa jadi aparat sudah berusaha maksimal. Kita sebagai user yang tidak disiplin.

Praktek yang ditemui, masih ada yang berusaha menjadi baik. Tidak jarang ada yang peduli dengan kejadian seperti itu. Mencoba memberi teguran atau mengingatkan. Eeee… kalau diingatkan malah lebih galak.

“Sok tertib, Lu !”

“Kapan nyampe’ nya. Bisa telat ini masuk kerja, kalau ngikuti aturan”.

Jawaban yang sering dilontarkan.

Banyak alasan mengemuka. Pembenaran. Justifikasi.

Apakah terpikirkan oleh kita ? Bisa jadi, karena itulah kita tertinggal dari bangsa lain. Bahkan dari umat yang kita bilang tak mengenal Tuhan sekali pun. Kita memang dalam tataran kajian, namun prakteknya masih harus ditingkatkan.

Ijinkan saya mengemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan juga termuat dalam kitab hadits yang riwayatkan oleh Ibnu Majah.

“Barang siapa memulai dalam agama Islam perbuatan yang baik, maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut. Dan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa memulai dalam Islam perbuatan yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang mengikuti setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”

Akankah kita menjadi bagian dari itu ? Orang yang memikul beban dosa karena suatu aksi tidak baik yang kemudian diikuti orang lain ?

Patut menjadi renungan bersama.

Menjadi insan yang taqwa perlu perjuangan. Penuh cobaan. Perlu keteguhan. Dan yang lebih penting lagi adalah dimulai dari aksi yang kecil.

Janji Allah SWT sangat jelas, seperti termaktub dalam Surat At Talaq ayat 2-3 :

“…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”

Karena kita berjumlah besar. Dominan. Ini lah yang saya sebut kita menjadi penggerak utama. Seyogyanya kita yang jadi motor. Karena ajaran Rasulullaah adalah luhur. Kita yang perlu membumikannya. Menerapkannya pada kehidupan sehari-hari.

Saya yakin kita ingin terhindar dari dosa yang berantai dan tak berujung. Dosa karena aksi yang tidak baik dan diikuti banyak orang.

Mari kita bumikan ajaran Rasulullaah. Kita praktekkan. Kita bawa dan menempel pada keseharian tindak tanduk kita. Di mana pun kita berada.

Karena kita adalah wajah umat Islam. We are the face of Islam.

Semoga berkenan.

(Catatan ini disaripatikan dari Khutbah Jumat, 9 September 2016 di Masjid Baitul Hikmah Elnusa, Cilandak, Jakarta)

 

 

Terima Kasih

Terima kasih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna : rasa syukur.

Saya memaknai hal yang serupa dengan melebarkan artinya. Terlebih ketika memberikan pelatihan atau sharing session kepada orang lain.

Terima punya arti menerima ilmu dari orang lain atau mendapatkan dari media lain. Termasuk mengolah ilmu dan pengetahuan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Kasih sebenarnya berarti rasa sayang, cinta. Kami memaknai juga dengan memberi (bahasa Jawa informal, kasih berarti memberi).

Itulah semangat yang saya tanamkan di dalam hati ketika diminta memberikan ceramah, memotivasi atau memberikan pelatihan kepada orang atau organisasi lain. Terima ilmu dan pengetahuan itu, kemudian saya berikan lagi kepada yang membutuhkannya. That’s the real meaning of ‘terima kasih’. Mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain adalah rasa syukur yang sesungguhnya. Insya Allah.

Semoga itu menjadi catatan amal sholeh yang pantas saya sodorkan di Padang Maghsyar kelak.

Mau bergabung dengan semangat dan gerakan yang sama ? Yuk, kita mulai dengan berbagi dan beraksi setidaknya untuk lingkungan di sekitar kita.

Beraksilah !

 

Jari jemari saya mengetik nama Bung Hatta. Nampaknya, Allah SWT memberikan saya waktu untuk mengenang beliau. Menapaktilasi sejarah panjang sepak terjang beliau. Meski saya tidak pernah mengalami langsung interaksi. Tapi rasa itu membawa saya seakan berada di dalamnya. Saat saya membaca beberapa artikel tentang beliau.

Apalagi ditemani lagu ciptaan Bung Iwan Fals. Lagu dan lirik yang didedikasikan untuk mendiang Mohammad Hatta.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

Saya mencoba memahami pesan-pesan beliau. Pesan yang tentunya mengena dan tepat di mana pun kita berada. Apa pun peran kita. Salah satu quote Bung Hatta adalah :

“Apa yang DILAKUKAN oleh orang SETELAH mendengar suatu KHOTBAH, jauh LEBIH PENTING dari apa yang DIKATAKANNYA tentang khotbah itu”

(Mohammad Hatta | 12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980)

Bapak bangsa kita itu, mengajarkan tentang aksi ! Berperan serta. Singsingkan lengan baju. Kerja nyata ! Tidak sekedar berteori. Saur manuk (baca : debat kusir) tanpa ada simpulan.

Diskusi boleh ? Boleh saja. Tapi yang lebih penting adalah mewujudkan hasil diskusi. Apalagi ketika berbicara mengenai kemaslahatan ummat. Termasuk di dalamnya berhubungan dengan pelanggan.

Siapa yang tidak kenal konsep-konsep beliau ? Tapi siapa juga yang tidak mengenal aksi-aksi beliau ? Sangat seimbang, bukan ?

Saya punya anggota tim. Ketika ada komplain dari pelanggan, ia berpikir keras. Jika ini meluas, maka ia bisa kehilangan pelanggan. Apalagi situasi seperti sekarang, pelanggan belum banyak. Itu artinya pemasukan juga masih minim.

Komplain bisa jadi dipandang sederhana. Ada tamu mengunjungi pelanggan kami. Pelanggan itu adalah penyewa ruang di gedung kami. Sang visitor kebingungan mencari lokasi ruang yang ia tuju di gedung yang kami bangun. Tidak ada penunjuk jalan di tembok pas dekat lift. Kebetulan, front line officer (baca : penerima tamu yang merangkap tenaga pengamanan) juga belum ada. Tamu bingung sehingga ia kehilangan waktu.

Ia langsung melakukan aksi. Dia mendesain bagan penunjuk jalan. Setelah jadi dan akan dipasang. Signage tadi ternyata tetap membingungkan ketika diuji. Beberapa rekan kerja, ketika diminta menerjemahkan arti tanda arah tersebut, masih menunjukkan tidak sesuai arah yang diinginkan pembuat. Ia pun agak kecewa.

Apakah sepertinya itu sia-sia ? Sama sekali, tidak ! Dia action ! Itu yang terpenting. Jika ada yang belum sesuai harapan, ada peluang perbaikan. Setidaknya aksi pertamanya menjadi tolok ukur membuat desain revisi.

Beraksilah. Meski kadang itu belum tepat. Jangan takut salah. Itu jauh lebih bermakna, daripada hanya sekedar menyampaikan atau meneruskan berita.

Biaya Bukan Alasan Lagi !

Sore ini, proses visitasi akreditasi Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB), tuntas sudah. Selanjutnya, masih ada upaya yang jauh lebih penting. Ya, berdoa. Bersimpuh bermunajat kepada Illahi Robbi. Saya melihat, upaya civitas akademika UB, utamanya Teknik Mesin UB sudah maksimal. All out. Semoga akreditasi A dapat dipertahankan.

Usai acara itu, baru mulai beranjak pulang, saya mendapatkan pesan WA dari salah seorang senior. Isinya adalah hasil rembugan (baca : musyawarah) dari Ikatan Alumni UB di tempat yang terpisah. Satu saja ! Intinya ajakan bagaimana memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk kuliah. Utamanya yang punya kendala keuangan. Nampak sejalan dengan salah satu komentar assessor saat visitasi tadi :

“Prosentase mahasiswa penerima beasiswa masih minim”

Gayung bersambut. Alumni menggagas membuat rekening khusus untuk Bea Siswa. Dari alumni untuk mahasiswa. Sehingga tak ada lagi alasan tidak bisa kuliah karena biaya. Saatnya bergerak. Terus bersemangat bagi mahasiswa. Biaya bukan alasan lagi. Tancap gas, kejar prestasi.

Semoga ini salah satu perwujudan :

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”

(QS 94 : 6-7)

Tertarik untuk turut beramal sholeh ?

Terpanggil untuk menjadi bagian dari upaya meringankan beban keuangan mahasiswa ?

Pintu amal kami bukakan melalui :

Bank BNI dengan no rekening : 777 383  839 | an. Beasiswa Alumni IKA UB

Semoga Allah SWT membalas upaya sahabat dengan kebaikan.

Kolaborasi by Ari Wijaya

Ada tim yang dihuni pemain biasa saja, tapi JUARA !

Pernahkah anda mengalaminya atau disuguhi peristiwa itu ?

Ya.

Acapkali itu terjadi, bukan ?

Kalau ditelisik lebih jauh, banyak faktor yang menjadikan tim yang katanya biasa saja itu jadi kampiun. Kemampuan team membernya rata-rata. Tak pernah dilirik orang. Tapi mereka menjelma menjadi team hebat. To be a Champion !

Apa kuncinya ?

Salah satunya adalah kerja sama mereka. Kolaborasi. Anggota tim memanfaatkan kelebihan temannya. Ia fokus pada kelebihan masing-masing. Tapi tak melupakan peran member yang lain. Mereka mudah melakukan rotasi. Karena tidak ada yang merasa paling jago ! Tak ada yang merasa paling istimewa. Setara !

Mereka bergerak satu tujuan. Punya visi yang sepaham. Memiliki misi yang tertanam sama. Bergerak untuk memenangkan kompetisi. Unggul dalampersaingan yang panjang nan melelahkan.

Bayangkan jika anggota tim itu adalah para pendekar pilih tanding ! Pemain bintang. Orang yang punya kelebihan di atas rata-rata.

Wow !

Sekumpulan orang itu jika tetap punya kolaborasi yang kuat, bukan tidak mungkin menjadi tim yang menorehkan rekor-rekor baru.

Clean sheet terpanjang ! Merajai semua jenjang kompetisi sepak bola.

Konstruktor dengan torehan juara dunia terlama. Rekor lari estafet yang tak terpecahkan selama puluhan tahun.

Atau catatan-catatan moncer yang lain.

Anda tentunya mau punya tim yang seperti itu, bukan ?

Memilih anggota tim ? Boleh saja. Tidak salah. Tapi ketika pilihan itu tidak ada. Rekrutmen baru bukan opsi. Opsi utama adalah as it is alias resources yang ada, maka langkah menelisik lebih rinci kekuatan pasukan adalah hal yang krusial.

Tidak perlu berkecil hati. Yakinkan diri anda sahabat, team member yang ada saat ini pasti punya kelebihan. Anda berdayakan kekuatan itu. Bisa jadi, mereka tampak biasa-biasa saja. Yakinlah bahwa mereka punya competitive advantages yang unik. Anda gali lagi. Anda cari seperti melakukan kajian tuntas ! Karena janji Allah SWT ada dan crystal clear, kita saja yang belum menemukannya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

(QS. Al Israa’ : 70)

Selanjutnya sahabat, silakan anda ramu sumber daya utamanya people dengan baik. Kolaborasi adalah bumbu utamanya.

Ibarat rantai sepeda jika bertaut erat, kayuhan ringan pun bisa membawa kita pergi jauh.

Selamat meracik tim, sahabat ! Proses yang insya Allah mengasyikkan dan menambah kekuatan kita juga.

Semoga tidak dalam waktu lama lagi, anda menjadi leader yang pilih tanding.

Sinergi

If you want to walk fast, walk alone. But if you want to walk far, walk together. Walk with other.

Kadang lelah tak terasa, ketika berjalan bersama.

Saling menyemangati. Saling support.

Sinergi seperti itu, sangat dibutuhkan. Saat kapan pun. Di kala susah atau senang. Ketika prestasi meredup atau moncer.

Apalagi saat krisis melanda. Saat lelah mulai terasa.