Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT, kan ?

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Oleh : Salim A. Fillah

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.

Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.

Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.

Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.

Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.

Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.

Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-NYA, dan karena-NYA.

Rezeki dari Sopir Angkot

Cerita ini saya untai beberapa bulan lalu. Saya munculkan lagi sebagai pengingat saya pribadi. Harapannya, juga bagi para sahabat yang membacanya.

Bagaimana menyikapi hiruk pikuk dunia ini ? Rezeki dari Allah SWT selalu ada untuk kita.

 

Rezeki dari Sopir Angkot

by Ari Wijaya

 

Setelah ngobrol sama Ibu, saya berniat bersilaturahim dengan teman lama. Apalagi silaturahim itu disertai dengan hidangan rujak cingur, menambah semangat bergegas. Javanese salad pakai bumbu petis ini jadi penarik tambahan.  Taksi pun tak kunjung dapat dihubungi nomornya. Kalau istri tahu saya nelpon taksi, sudah pasti dapat sindiran.  Ia sering menyarankan naik public transport alias angkot atau bis.

Keputusan naik angkot akhirnya saya ambil. Secara teoritis, saya harus naik 3 kali angkot untuk mencapai tempat pertemuan. Angkot menuju Terminal Landungsari tak menemui kesulitan, nangkring sebentar di pinggir jalan, sudah ada yang menghampiri. Landungsari menuju Batu yang menguji kesabaran. Angkot banyak jumlahnya, tapi kosong. Alhasil, menunggu antrian yang lama. Antrian berjejer. Banyak makna. Apakah ekonomi sedang lesu ? Jam yang tidak pas ? Banyak hal. Tapi saya tidak mau berlama-lama kebingungan. Bisa terlambat meemnuhi janji. Saya cari yang tidak antri, tetapi semuanya wait and see. Tidak berani ambil risiko. Misal berangkat kosong, berharap ada penumpang di perjalanan. Nyeser kata arek Malang.

Entah kenapa, saya mengarah kepada salah satu angkot ungu. Saya perhatikan sopirnya ramah, terlihat wajahnya santai, tidak sangar. Sembari menunggu saya ajak obrol sang sopir sesuai dengan keinginan saya agar cepat tiba di tempat tujuan.

“Mas. Kalau penumpang penuh, berapa didapat sak tarikan (maksudnya satu rit) ?” tanya saya memulai pembicaraan agak serius.

“Ya, empat puluh ribu lah, Pak” tukas dia cepat.

Langsung dia Saya salami sembari menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu.

“Kalau segini cukup ? Sampeyan anter Aku ke Pesanggrahan, tapi langsung jalan sekarang. Tapi, kalau di jalan ada penumpang, silakan ambil” kata saya bak nego dengan supplier.

Lumayan memotong waktu tunggu. Kalau pun naik taksi, kira-kira juga segitu. Namun, insya Allah beda rasanya. Sedan sama mobil van alias angkot ya, jelas beda ya..

Sekedar memberikan gambaran, jika Anda pernah berkesempatan ke Jatim Park atau Kusuma Agro Wisata di Kota Wisata Batu, Pesanggrahan itu area yang letaknya sekira 2 KM ke arah Songgoriti. Masih di dalam kota.

Dia pun tersenyum dan langsung mengiyakan sembari berucap  Alhamdulillaah sebagai tanda syukur.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang rezeki. Saya pun menyimaknya dengan seksama.

Dia sopir yang sudah 12 tahun di jalan. Punya anak yang duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Hikmah rezeki dari Gusti Allah, dia pahami dengan sangat dalam. Sang sopir ini sering disuguhi peristiwa bahwa dalam narik angkot acapkali uang yang dibawa pulang pas untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pernah suatu siang, Ia sudah dapat target. Itu luar biasa. Acapkali sore menjelang isya’, baru target didapat. Ia berniat menambah jam narik sekira satu jam atau 2 rit. Batu-Landungsari pergi pulang. Maksud hatinya, lumayan lah buat nambah tabungan.

Apa hasilnya ?

Ternyata cuma dapat 2 penumpang, alias 8 ribu. Itu pun setara untuk beli bensin perjalanan tambahan tadi. Secara total hasilnya sama, namun waktu yang malah mengurangi waktu istirahatnya. Peristiwa itu sering dirasakan bahkan berulang kali. Ketika telah dicukupkan, tapi ada semacam ingin nambah, maka ternyata belum diijinkan Gusti Allah. Begitu tuturnya lirih. Sehingga ketika angka yang dikejar sudah di tangan, maka sejak saat itu, ia putuskan pulang. Bertemu istri dan anaknya. Rezeki dalam bentuk lain yang tentunya sulit diuangkan. Mendapati dan bersua keluarga dengan waktu yang lebih banyak.

Setelah sekira 15 menit berjalan, pas tanjakan sebelum Temas, ada satu penumpang naik.

Ia pun tertawa seakan menambah yakin dan membenarkan ceritanya sembari berkata :

“Alhamdulilaah. Ini lho Mas, apa yang Aku sampaikan tadi. Sampeyan sudah kasih uang. Sudah membolehkan Saya ambil penumpang di jalan. 1 rit ketutup, wis. Tinggal cari tambahan. Aku tadi berharap banget. Tapi coba, sepanjang jalan tadi, ya cuma satu orang ini, tho Pak ?” dia bertutur sembari menoleh dan manggut-manggut kepada Saya.

Saya pun memandangnya dengan senyum tanda sepakat. Memang sepanjang jalan tadi sepi. Penumpang tidak terlihat sepanjang perjalanan kami.

“Ini yang Aku sebut sudah ditakar cukup. Aku percaya banget itu. Aku nggak boleh maksa”, sambungnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat dari sikapnya. Menurut hemat saya, ada satu hal yang dapat dipetik dari sopir angkot ini.

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, diperkuat dengan doa, dan tawakkal kepada Allah. Mas Sopir Angkot tadi telah melakukannya. Ia pun menyerahkan kepada Allah sisanya. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Ketika ikhtiar, doa serta tawakal telah dipersembahkan, Kita insya Allah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah memberi karunia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan silaturahim saya kepada teman, jelas membawa rezeki. Salah satunya adalah reminder dari Sang Sopir Angkot sekaligus kuliah setara 1 SKS. Pelajaran tentang bagaimana memaknai rezeki Allah SWT.

Anda pun tak luput dari pergulatan menjemput rezeki Allah, bukan ?

Mari kita tata kembali niat, waktu, dan tentunya cara pandang kita. Dan tiada henti meningkatkan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah SWT.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

(Surah At-Talaq ayat 2-3)

 

Layanan Terus ON by Ari Wijaya

Layanan Terus ON
by Ari Wijaya

Seorang gubernur di Negeri Seberang mendapatkan kepercayaan dari presidennya untuk menjadi tuan rumah pertemuan para tokoh negeri serumpun. Sang gubernur berpikir keras, untuk memuliakan tamunya. Menurut dia, salah satunya adalah kesan pertama harus menggoda. Maka ia memerintahkan stafnya untuk membuat welcome drink yang cepat saji, khas dan menyehatkan. Para staf membuat teko raksasa dengan ratusan kran. Kran itu untuk memudahkan dan mempercepat pengambilan.

Gubernur membagi tugas. Sebagai penyedia welcome drink, ia meminta rakyatnya yang di lereng gunung untuk menyumbangkan susu sapi segar satu liter tiap satu keluarga. Teknisnya, setiap selesai memerah susu bakda subuh, susu dimasak dan diantar ke alun-alun kota. Susu dituangkan di teko raksasa di alun-alun kota. Pusat penyambutan para tokoh negeri serumpun.

Seluruh rakyat lereng gunung itu antusias. Tak sedikit yang mempertanyakan kebijakan itu. Tapi, mereka mulai menyiapkan susu terbaik. Susu daerah itu terkenal segar, kental dan legit. Namun, si Pulan, salah satu penduduk lereng gunung, ada yang berpikiran lain.

“Jika aku menyumbang satu liter air, aku yakin nggak kentara. Nggak terasa. Toh, masih ada 12.303 liter susu. Kalau tercampur 1 liter air, pasti tak terasa”.

Hari perhelatan pun tiba. Benar sesuai perkiraan Sang Gubernur, tamu berdatangan bergelombang. Banyak sekali. Seluruh tamu, sembari menunggu opening ceremony, diberikan gelas dan dipersilakan menikmati welcome drink. Gubernur naik panggung dan menyambut tamunya dengan bangga :

“Saudara-saudaraku serumpun, silakan menikmati minuman hasil produksi unggulan kami. Susu sapi yang segar, kental, legit, dan insya Allah menyehatkan”.

Panitia mulai mendampingi dan menunjukkan teko raksasa. Tamu pun menghampiri kran dengan tertib. Segera setelah gelas terisi, mereka meminum welcome drink. Tidak lama setelah mereguk minuman itu. Mereka heran, terpaku sejenak. Minuman yang katanya susu tadi memang segar, tapi bening dan hambar. Masya Allah ! Ternyata mereka minum air! Bukan susu yang segar, kental dan legit. Suasana pun heboh dan acara berantakan. Meski air juga menyehatkan, tapi Sang gubernur pun tetap malu pada para tokoh dan tentunya Pak Presiden.

Apa gerangan yang terjadi ? Selidik punya selidik, ternyata seluruh penduduk lereng gunung berpikiran seperti si Pulan. Menyumbang air, bukan susu sapi segar. Toh seliter ini, tak kan terasa. Begitu, pikiran yang ada dalam benak mereka. Gubrak !

Sahabat, ijinkan saya membuat perumpaan kejadian di Negeri Seberang terjadi pada perusahaan kita. Saya ambil contoh fungsi procurement. Mohon dimaklumi, karena saya pernah mendapat amanah pada bagian pembelian.

Fungsi pengadaan adalah bagian team di sebuah organisasi. Sama dan setimbang perannya seperti fungsi lainnya. Tapi coba dibayangkan. Jika salah satu saja mencoba menurunkan layanannya, maka bisa berakibat buruk.

Ini misalnya :

“Ah, sekali-kali lah, negosiasinya nggak usah repot. Kali ini harga tak perlu dinego. Toh, nanti penghematan bisa diperoleh teman-teman buyer yang lain”, gumam salah satu buyer sebutlah namanya si Fulan.

“Target penghematan bisa ditutup oleh prestasi si Badu atau yang lain. Kali ini, santai dulu lah”

Apa yang terjadi jika si Badu punya pikiran yang sama dengan si Fulan. Parahnya, seluruh team saat itu mempunyai pikiran yang sama ? Bisa jadi budget jebol. Perusahaan harus membeli lebih mahal dari seharusnya. Untung bisa menipis. Kalau pikiran itu dilakukan juga oleh insan organisasi yang lain? Berpikir dan bertindak sama untuk menurunkan tingkat layanannya kepada orang lain atau bahkan kepada pelanggannya. Kepada client-nya ? Perusahaan bisa tidak kompetitif. Bangkrut dan akhirnya tutup!

Layanan tak boleh menurun. Harus dijaga terus. Satu saja yang menurunkan, bisa saja itu terjadi bersamaan. Karena kita tidak tahu, kapan saat itu terjadi. Bisa bersamaan seperti tadi. Jika sudah begitu, bisa seperti susunan kartu domino yang tumbang. Ia tidak roboh sendirian, tapi merembet dan merobohkan susunan di sampingnya. Efek domino. Bisa berakibat fatal, bukan ? Karena tidak hanya Kita yang roboh, tapi meluluhlantakkan semuanya.

Saya yakin pada fungsi yang lain juga harus tetap nyala. Semangat. Karena kita mata rantai yang saling bergandengan.

Layanan jangan pernah ‘mati’. Kalau mulai turun, mari coba dicari segera penjungkitnya. Jangan pernah berpikir dan berniat sekali pun untuk OFF. Layanan harus terus ON.

Anda mau kita kalah ? Kita luluh tantak ?
Saya yakin tidak ada yang ingin itu terjadi.

Mari berubah.
Mari berbenah.
Mari bahu membahu. Bekerja keras. Saling mendukung. Saling mendoa.

Relay Run by Ari Wijaya

Relay Run by Ari Wijaya

 

Kenalkah anda dengan Purnomo? Christian Nenepath? Mardi Lestari? Suryo Agung? Atau nama-nama itu masih asing di telinga ?

Kalau masih sulit mengambil catatan ingatan, coba ditanyakan ke ‘Mbah Gogel’.

Apakah sekarang sudah punya informasi ? Ya, benar. Mereka adalah sprinter andalan Indonesia pada masanya. Mereka atlit pelari jarak pendek. Juara 100 m, bahkan ada yang juga juara 200m. Setidaknya setingkat Asia Tenggara. Bahkan Purnomo pernah menorehkan sejarah sebagai pelari Asia pertama yang masuk semifinal Olimpiade. Itu terjadi di  Los Angeles, AS pada tahun 1984. Level dunia, kita mengenal : Carl Lewis, Ben Johnson, Donovan Balley, Ato Boldon, Tyson Gay, Asafa Powel, Usain Bolt.

Pertanyaan selanjutnya, masih terkait urusan lomba lari. Pernahkan anda melihat perlombaan lari estafet ? Relay run ? Jika anda penggemar atletik, relay run adalah salah satu cabang lari yang sangat menarik ditonton dan diamati. Adu strategi. Adu kendali ego. Tim berisi 4 pelari cepat ini. Biasanya 4 x 100 m atau 4 x 400 m. Kuartet pelari yang dapat mengontrol ego dan kompak adalah salah satu jaminan kemenangan. Seorang pelari hebat saat juara sprinter perorangan, belum tentu bisa membawa teamnya menjadi juara relay run. Bahkan misalnya mereka merebut juara 1 hingga 3 saat lari jarak pendek perorangan sekali pun.

Lari beranting adalah lomba lari yang terdiri dari 4 sprinter. Mereka harus menyerahkan tongkat pada daerah tertentu. Serah terima tidak dilakukan dalam wesel peralihan (area serah terima), maka team bisa diberikan diskualifikasi. Termasuk jika tongkat nya terjatuh. Pelari penyambung biasanya saat peralihan tidak melihat ke belakang. Terus bagaimana peralihan berlangsung lancar ? Pelari awal memberi aba-aba tertentu. Plus punya kecepatan yang hampir berimbang. Wow, memang challenging, kan ?

“Yak !” begitu biasanya mereka menyepakati saat perpindahan.

Kode bisa beragam, saat menempelkan tongkat ke telapak tangan penerima. Dengan kata itu, pelari penyambung akan segera menggenggam tongkat dan terus menambah kecepatan. Waktu perpindahan adalah krusial. Laju lari pelari pertama dan selanjutnya, harus selaras. Sama lajunya. Tidak boleh ada jeda. Tiada waktu tunggu.

Tidak jarang kita lihat ada kelompok yang tercecer saat awal lomba ternyata bisa memperbaiki posisi. Bahkan bisa menang. Mereka melakukan peralihan pada tempat yang tepat. Kecepatan lari terjaga. Tidak ada saat melambat saat tongkat dialihkan. Pergantian tongkat estafet mereka, mulus.

Sebaliknya, ada tim yang dihuni pelari-pelari hebat. Di atas kertas mereka favorit. Bagiamana tidak, 2 dari 4 pelarinya juara 1 dan 2 saat lomba perorangan. Tapi, mereka malah tercecer. Bahkan saat peralihan ada perlambatan. Transfer tidak mulus. Pelari tidak menemukan momen yang pas. Bahkan ada yang terpaksa menghentikan lomba. Penerima tongkat estafet berlari tidak pada saat yang tepat sesuai skenario. Tongkat pun terjatuh. Alhasil, satu tim gagal finish. Tereliminasi.

Salah satu buktinya adalah Olimpiade 2012 di London. Waktu lomba perorangan, sprinter putri Jamaika Shelly-Ann Fraser menjadi kampiun. Juara 3 juga sprinter dari negera yang sama, Veronica Campbell-Brown. Carmilita Jetter pelari AS hanya menyabet perak. Namun, saat lomba estafet 4 x 100m, Carmilitta-Jetter bersama Tianna Madison, Allyson Felix dan Bianca Knight, membawa Tim AS berlari cepat. Saat final, terlihat mereka kompak. Peralihan tongkat mulus. Tim Jamaika terlihat tersendat saat melakukan perpindahan tongkat pada pelari akhir. Sorak sorai penonton, seakan menambah kecepatan Tim AS. Mereka juara. Mereka menumbangkan kuartet beranting Jamaika. Tim Favorit pula. Plus menumbangkan rekor dunia yang telah bertahan selama 27 tahun. Fantastis !

Keunikan lomba lari estafet ini bisa juga kita lihat juga pada beberapa perubahan pimpinan entitas bisnis. Bagaimana penyerahan tampuk pimpinan GE dari  Jack Welch kepada Jeff Immelt pada 2001. Jack tidak ingin performa GE labil. Ia menyiapkan penggantinya dengan sangat hati-hati. Prosesnya direncanakan lumayan lama. Ia punya strategi khusus. Ada 3 kandidat kuat pengganti Jack Welch. Saat memilih Jeff Immelt, dua orang yang tidak terpilih pun pada akhirnya menjadi CEO ternama. Salah satunya menjadi CEO Boeing. Betapa 3 kandidat yang disiapkan Jack, sama hebatnya, bukan ? Bagaimana pendapat anda tentang kinerja GE saat ini ? Menurut hemat saya, tiada goyangan berarti. GE masih berjaya. Malah ia baru saja mengambil alih Alstom untuk memperkuat bisnisnya di bidang kelistrikan.

Cerita lainnya, Lee Kun-hee mendapat tongkat estafet dari ayahnya Lee Byung-chul, founder Samsung. Siapa yang tidak kenal Samsung ? Perusahaan Korea yang mendunia. Beberapa produknya menguasai pasar. Lee Kun-hee saat ini menyiapkan Lee Jae-yong sebagai pelari selanjutnya. Jay-yong tidak lain adalah salah satu anak kandungnya. Alias cucu dari founder Samsung.

Proses peralihan kepemimpinan , tak jarang ada yang melalui jalur keturunan. Banyak pula yang memilih jalur professional. Benang merahnya adalah menyiapkan tongkat tampuk kepemimpinan kepada leader baru. Proses pembentukan dan penyiapan kader yang mempunyai kesamaan visi. Selaras dengan kecepatan sebelumnya. Sejalan dengan visi misi saat ini. Saat peralihan adalah masa krusial. Tapi, ketika tongkat sudah ditangan, maka yang lebih penting ialah bagaimana berlari lebih cepat. Berusaha dan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendahului pesaing. Jadi juara !.

Berkaca pada perjuangan Tim AS, saya yakin, ketika lomba itu berlangsung, penonton yang mendukungnya, akan berteriak, bersemangat ! Adrenalinnya naik ! Turut tegang. Tidak sedikit yang ikut berdiri memberi semangat. Kalau nonton siaran langsung via televisi pun, kita seakan berada di dekatnya. Seakan kita juga sedang berlari. Turut mengejar dan berlomba menampaki garis finish.

Dalam organisasi, bisa jadi kita tidak turut menentukan strategi relay run. Kita nggak ngerti. Para pelari itu punya cara memenangkan perlombaan. Kekompakan. Kesamaan visi. Dan tentunya, cara dan semangat memenangkan kompetisi. Tapi, penonton tetap bisa mengambil peran. Menjadi bagian dari strategi pemenangan itu. Dukungan tak kenal lelah. Serasa kecil memang. Tapi bukan tidak mungkin, justru upaya itu bisa menambah energi tim untuk menjadi kampiun.

Saya yakin, anda pun ingin menjadi bagian dari tim untuk meraih kemenangan. Karena ketika jadi juara, cerita sukses itu akan terasa manis untuk ditularkan. Masa perjuangan pun terkenang Indah. Ada rasa bangga terbersit di dada kita.

Mau merasakan aura kemenangan itu ? Mari berkontribusi. Mari mengambil peran. Sekecil apa pun itu.

Bertepuk Sebelah Tangan by Ari Wijaya

 

Sayup-sayup terdengar lagu ‘Pupus’ yang dilantunkan oleh Group Band Dewa 19.

Aku tak mengerti, apa yang kurasa
rindu yang tak pernah begitu hebatnya
aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

aku persembahkan hidupku untukmu
telah ku relakan, hatiku padamu
namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

Reff :
baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau

aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau”

Coba kita perhatikan dan cermati bait reffren-nya mengalun sendu :

“baru ku sadari…

cintaku bertepuk sebelah tangan …

kau buat remuk sluruh hatiku…”

Rasa itu bisa terjadi juga pada dunia dagang. Hubungan pembeli dengan penjual. Kenapa demikian ? Kok bisa ?

Begini…

Pada galibnya, hubungan pembeli dengan penjual adalah hubungan yang tak terpisahkan pada pasar di mana pun. Namun, yang menjadi tidak umum, adalah bagaimana pembeli mengetahui lebih rinci kondisi penjual. Seluk beluk pemasok sangat perlu diketahui agar Kita mengenal dan mendapatkan pasangan yang serasi. Ada 3 hal utama, menurut hemat Saya, yang perlu digali lebih dalam.

Kapabilitas atau kemampuan penjual. Kinerja penjual. Pesaing penjual (pasar pasokan) atau pemain yang sama dengan penjual (peers-nya).

Lirik lagu Pupus yang dibawakan Once Dewa 19 sangat sesuai dengan pentingnya menilik kapabilitas pemasok. Faktor yang lain seperti kinerja dan persaingan pemasok, akan di bahas di lain kesempatan.

Kapabilitas penjual menjadi penting. Hal ini agar Kita tahu berhubungan dengan pasangan yang pas. Sebagai contoh, ketika Kita membeli 1-2 ekor ayam potong, maka cukup membeli di warung sebelah. Jika dibutuhkan lebih banyak, 10  ekor ayam potong misalnya, Kita langsung berhubungan dengan pemotongan ayam. Bisa di pasar atau pengepul terdekat. Bayangkan, jika ketika kita butuh 10 ekor, kita berhubungan dengan RPH atau rumah pemotongan hewan. Nah, ini kelasnya berbeda. Kebutuhan kita jauh lebih sedikit dari kapasitas rumah potong yang ribuan per hari. Kita tidak akan mendapatkan benefit yang optimal. Karena tentunya, rumah pemotongan ayam akan bersepakat dengan agen ayam potong yang dapat menyerap dalam jumlah besar. Bukannya tidak mau dapat order. Atau sombong. Tapi, mereka akan berpikir cara menjual yang sangkil dan mangkus. Melayani order kecil akan memberikan biaya administrasi, transportasi yang relatif lebih besar. Biasanya RPH memberikan batasan pembelian dalam jumlah tertentu. Minimum order quantity. Agar tidak kecewa, mereka akan mengarahkan pembeli jumlah kecil kepada agen yang telah ditunjuk. Secara tidak langsung kita tertolak. Kondisi yang tidak mengenakkan, bukan ?

Demikian pula sebaliknya. Kita punya pesanan ratusan ayam per hari. Karena ingin praktis, Kita menuju pasar terdekat. Kita berhubungan dengan penjual di pasar. Bisa juga. Namun, yang terjadi adalah kerepotan kita. Penyedia ayam potong, bisa kekurangan stok. Karena kapasitas yang disediakan tidak sampai ratusan. Paling banter puluhan. Bagaimana untuk memenuhi kebutuhan ? Kita harus berpindah beberapa penjual. Membeli di beberapa penjual. Kemudahan alat angkut tidak diperoleh. Tidak efisien. Satu mobil besar mengangkut jumlah kecil. Berpindah-pindah. Parahnya, malah ulang-alik karena multi tujuan ambil. Belum lagi, administrasi yang berbelit. Harga bisa jadi tidak optimal. Beda harga satu sama lain. Negosiasi yang alot.

Secara total, malah repot. Kita yang tidak mendapatkan benefit yang optimal. Meski penjual di pasar senang, mendapatkan profit. Penjual sumringah, Kita sebagai pembeli pontang panting. Tidak equal.

Kebutuhan ratusan ekor, layak berhubungan dengan agen besar. Beberapa kemudahan akan didapat. Kemudahan transportasi. Sekali angkut. Administrasi lebih simpel, 1 PO untuk semua. Waktu juga lebih efektif. Harga dapat lebih optimal. Bisa dipastikan akan relatif lebih rendah dari harga pasar. Setidaknya satu bahkan lebih jalur distribusi dapat dipangkas. Ujung-ujungnya penghematan belanja.

Terlihat jelas, sebagai pembeli mengetahui kondisi penjual atau pemasok sangat penting. Bagai mencari pasangan. Mendapatkan pasangan yang serasi. Agar tidak bertepuk sebelah tangan.

Hampir dipastikan, kita tidak mau cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan ? Kita tak kan mau hati remuk redam ?

Termasuk urusan bisnis, juga lho?

Mari ditelaah lagi hubungan kita sebagai pembeli dengan penjual.

Keputusan itu Membuatmu Galau ? by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Pernahkah anda mendapati situasi saat pilihan, keputusan, atau proposal yang anda pilih, dibatalkan ? Ditolak ? Misal, dibatalkan pasangan anda? Tidak dikabulkan atasan anda? Ditolak partner bisnis ? Atau karena hal lain, misal salah jadwal berimbas perubahan ?

Jawaban sebagian besar orang yang saya sampling adalah pernah bahkan sering. Jika jawaban anda serupa, maka mohon perkenan untuk memutar kaset memori. Coba dikumpulkan rekaman itu. Agar lebih spesifik, mari dikerucutkan ketika keputusan itu dibatalkan oleh orang yang punya pengaruh besar kepada anda. Orang tua misalnya. Atasan di tempat kerja. Atau orang yang punya duit alias owner.

Jika anda karyawan, mohon dikerucutkan lagi. Karena bagi karyawan itu juga bisa berdampak pada kinerja.

Bagaimana perasaan anda ketika itu ? Apa reaksi anda ketika itu ?

Banyak orang yang saya temui mempunyai jawaban mirip. Merasa tidak dihargai. Kecewa. Ngedumel. Marah. Sembuhnya pun lama. Sadar atas kecewa dan marah butuh waktu. Memang, hal itu tidak perlu berlarut, harus segera berubah. Bereaksi positif. Bisa walau tidak mudah.

Ada pula memang yang bersikap easy going. Pasrah. Ada yang bersikap simple :

“Lha wong yang punya duit tidak mau, ya sudah. Kita buat kajian lain. Kita buat proposal lain. Diajukan lagi nanti”, ujar salah seorang sahabat dengan enteng menanggapi hal semacam itu.

Response yang sangat positif. Banyak sudut pandang tentang hal ini.

Saya dan tim juga pernah mengalami hal serupa. Kajian yang kami berikan sudah komprehensif. Beberapa cocerns pemegang keputusan dan wakil pemilik modal pun sudah kami tambahkan. Plus ada tim yang langsung site visit untuk melakukan perbandingan ke bisnis serupa. Menurut kacamata kami sudah sangat lengkap kajian teknis, finansial dan juga mitigasi risikonya. Tapi apa daya, ketika presentasi beberapa kali dilakukan dan presentasi final usai, keputusan manajemen telah dijatuhkan. Kami tidak diijinkan meneruskan kajian itu. Kami tidak disetujui menjalankan bisnis itu. Terlalu berisiko.

Tim pun patah arang. Tidak semangat. Bahkan ada yang marah.

“Kajian kita ini kurang apalagi ?”

“Sudah lengkap teknis, mitigasi risiko, bahkan indikator keuangan pun sudah sesuai bahkan melampaui yang disyaratkan”, tukas salah seorang anggota tim yang menjadi person in charge proyek itu.

Saya pun sempat geram. Tapi hal itu tidak boleh berlarut. Kami konsolidasi. Surat resmi sikap perusahaan, kami layangkan kepada calon partner bisnis kami.

Tim harus jalan, move-on. Masih banyak peluang lain. Kami pun melakukan persiapan pengembangan bisnis lain. Memulai kajian dari nol lagi.

Sekira 2 bulan setelah rapat keputusan itu, ada yang mengejutkan. Bisnis itu pun ternyata dibidik oleh perusahaan lain yang masih ‘saudara’ dengan kami. Infomasi disampaikan oleh pemilik bisnis yang awalnya akan kami ajak kerjasama.

Sangat memukul memang. Geram yang hilang pun timbul kembali. Ada pertanyaan besar yang menggelayut di benak saya.

“Kenapa perusahaan itu boleh memasuki bisnis itu sedangkan kami tidak ? Padahal kami serumpun. Pemilik modalnya pun boleh dikatakan sama”.

“Bukankah concern utama adalah terlalu berisiko yang tidak kuat dan sanggup dimitigasi ?”

“Apakah jika dilakukan oleh perusahaan itu, risiko menjadi turun bahkan berkurang sama sekali?”

“Ada apa sebenarnya ?”

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Karena saya yakin hal yang sama akan menjadi pertanyaan orang yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Kadang persaaan itu yang membuat galau. Pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.

Bukan masalah diskriminasi keputusan. Bukan. Tapi kami ingin belajar banyak lagi, bagaimana memberikan presentasi yang memincut manajemen bahkan pemegang saham agar bisa mendapat persetujuan. Materi sama, obyek sama, tentunya ada yang berbeda, sehingga bisa lolos di tempat lain. Besar harapan ada yang memberikan keterangan gamblang. Penjelasan itu pun sudah sangat memadai untuk saya yang sedang belajar ini. Memang itu permintaan berlebihan.

Sembari terus mencari jawabannya. Saya kontak teman. Komunikasi dengan pihak lain. Tidak lupa, saya pun membesarkan hati. Ini perlu agar energi yang dimiliki tetap punya daya dorong. Tidak sia-sia. Terlebih ada sentilan dari guru saya ketika mengikuti kajian rutin. Diskusi singkat yang justru membuat semangat itu membara.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

 

Duh, Gusti Allah, terima kasih. Setidaknya firmanMU ini membasuh kecewa saya. Melepaskan kegaluaan saya. KetetapanMU pasti ada hikmahnya bagi saya dan tentunya bagi tim dan perusahaan ini. Saya saja yang terbatas pandangan dan pengetahuan. Manusia memang tempatnya dan punya subyektivitas.

Bisa jadi proyek itu memang tidak baik bagi saya, tim dan perusahaan.

Ya Allah, mohon luaskan wawasan Kami. Bersihkan hati Kami. Senantiasa jaga hati Kami. Berikan selalu tempat sandaranMU sebagai tempat Kami hanya bergantung dan berharap . Apa pun yang melekat pada kami, amanah, tugas, jabatan, harta, apa pun itu, senantiasa bisa lebih mendekatkan diri Kami padaMU. Kami lebih menghamba dan tambah sujud kepadaMU, Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Speak to Change dan Hikmahnya

Saya bersyukur suatu ketika diberi kepercayaan menjadi komandan regu gerak jalan. Pak Wasiyo atau lebih akrab dipanggil Pak Yoyok (Doa saya untuk almarhum). Beliau adalah guru kelas lima sekaligus Pembina Pramuka. Sudah 2 tahun saya masuk tim inti gerak jalan. Salah satu kegiatan prestisius anak sekolah pada jaman itu. Pasalnya, Pemerintah Kota Malang mengadakan lomba gerak jalan setiap menjelang peringatan hari ulang tahun kota. Diikuti hampir seluruh sekolah setingkat SD, SMP, SMA di Kota Malang. Pada hari penyelenggaraan, Kota Malang berwarna warni. Bendera, umbul-umbul, kain rentang plus seragam peserta yang membuat semarak Kota Apel itu. Perhelatan lomba itu seakan daya tarik tersendiri bagi warga kota. Hiburan gratis.

Khusus team SD Cor Jesu, Suster Melanie selaku kepala sekolah punya kebijakan tersendiri. Anggota tim harus punya prestasi akdemik yang baik. Hanya boleh diikuti siswa kelas 5 dan 6. Terseleksi 50 orang dari 300 siswa. 25 untuk Tim Putra. 25 lagi untuk Tim Putri. Syarat itu bukan tanpa alasan. Selama sebulan penuh, kami digembleng di area Tembalangan. Tentunya meninggalkan jam pelajaran. Tapi prestasi sekolah tidak boleh keteteran. Prestasi harus tetap moncer. Fisik juga tetap fit.

Rasa syukur itu bertambah dengan kebanggaan. Kami 2 tahun berturut menyabet juara tingkat SD se Kota Malang. Di samping itu, saya pun mulai berani bicara di depan umum dengan pede. Mau tidak mau saya harus berbicara di depan tim. Melakukan pengarahan atau hal lain sebagai penyambung pesan Pak Yoyok, Sang Pelatih. Sejak saat itulah saya acapkali mengambil peran di depan.

Pengalaman masa kecil itu hingga beberapa rentetan peristia setelahnya melintas di benak saya, ketika membaca buku ‘Speak to Change’ karya Pak Jamil Azzaini. Salah satu guru yang dikirimkan Allah kepada saya. Banyak hal dikemukakan tentang bagaimana kemampuan bicara itu bisa memberikan perubahan. Saya ingin lebih menekankan pada pokok bahasan ‘Manfaat Bicara”.

 

Self improvement.

Saya yakin setiap individu punya keunikan. Khusus hal bicara juga demikian. Bagi saya yang dulunya dapat dikatakan pendiam, ketika dipaksa harus bicara, mau tidak mau harus dilakukan. Berani ngomong saja sudah OK. Tapi setelah diberikan latihan sedikit dan meniru yang dilakukan Pak Yoyok atau guru yang lain, saya pun bisa meningkatkan kemampuan diri lebih baik lagi. Saya pun lebih banyak dikenal orang. Kalau yang ini nampak ge er sedikit ya.

 

Mengubah orang.

Alhamdulillaah, hampir setiap kelas hingga kuliah, saya dipercaya menjadi ketua kelas. Bahkan ketika kuliah ditunjuk jadi Danki (baca : komandan kompi) untuk mahasiswa Fakultas Teknik UB angkatan 1989. Ketika menjadi orang yang ditunggu bicaranya, maka saya pun mulai memilih kata atau kalimat yang tepat. Apalagi ketika diminta memberikan masukan dan memompa semangat seorang teman yang hampir terkenan DO. Drop out karena prestasinya cenderung menurun. Ternyata dengan pilihan kalimat dan momen yang pas, bisa mengubah pola pikir dan pola hidup. Puji syukur, seijin Allah SWT, ia pun berubah menjadi mahasiswa yang lolos kualifikasi. Ia pun lulus dan punya keahlian khusus. Kini ia menjadi salah satu alumni yang membanggakan almamater kami.

 

Networking.

Kegemaran suka berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada perguruan tinggi atau perusahaan lain, telah memberikan kesan tersendiri bagi orang lain. Saya tidak menyangka pernah mendapat telepon dari seseorang agar saya berkenan menjadi nara sumber. Penelpon ternyata salah satu peserta beberapa bulan sebelumnya. Ia terkesan dan ingin mendapatkan hal serupa untuk timnya. Hal itu juga berlangsung beberapa kali dengan orang yang berbeda. Bahkan pernah diundang interview karena pejabat perusahaan ini menjadi peserta salah satu seminar saya. Kemampuan bicara saya menambah teman bahkan saudara.

 

Passive Pahala.

Saya suatu ketika bertemu dengan mantan teman kerja di salah satu perusahaan. Ia ternyata menjadi pengusaha. Beberapa koleganya malah menyebutnya pengusaha sukses. Ia dengan semangat menceritakan perjalanan usahanya. Ada hal yang membuat saya trenyuh. Beliau mengungkapkan :

“Pak Haji (beliau selalu memanggil saya dengan sebutan itu), masih ingat 8 tahun lalu, ketika itu kita berdiskusi beberapa kali. Apa yang Pak Haji sampaikan, saya terapkan pada perusahaan yang saya bangun. Alhamdulillaah, jadinya seperti ini”.

Ya Allah, saya pun sudah lupa tepatnya kapan. Memang beberapa tahun lalu, saya intens diminta mendampingi proses pengembangan usahanya. Saya pun lama tidak kontak fisik lama sekali karena pindah pekerjaan dan bermigrasi ke Medan. Ternyata ide kecil itu diterapkannya. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal sholeh.

 

Menciptakan Mesin Uang.

Pernah suatu ketika saya menjadi pembicara karena direkomendasikan oleh orang lain. Pemberi rekomendasi adalah orang yang sering menyimak tulisan saya. Pun beliau beberapa kali menikmati sesi pelatihan yang saya bawakan. Saya takjub ketika disodori kontrak yang nilainya seperempat gaji saya sebagai karyawan. Padahal ketika itu saya hanya diminta mengisi 4 sesi atau selama 8 jam. Subhanallaah.

Saya pun tambah terlecut untuk menerbitkan ide dan tulisan saya menjadi buku. Mohon doanya ya, semoga bisa segera terbit. Berharap menajdi ladang amal yang lain.

 

Masih banyak butiran hikmah dan bagaimana kita dibimbing dan disemangati Pak Jamil dalam bukunya. Guidance untuk menjadikan kemampuan bicara kita yang dapat mengubah.

“Semua orang yang mau naik kelas, wajib bicara” (Jamil Azzaini)

Bicara kita adalah ide yang menggerakkan, baik tim atau masyarakat. Bahkan bukan tidak mungkin, mampu memberikan kontribusi positif untuk membangun negeri yang kita cintai ini, Indonesia.

Tak lupa senantiasa memanjatkan doa :

“Ya Rabb-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

(QS. Thaha : 25-28)