Terima Kasih

Terima kasih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna : rasa syukur.

Saya memaknai hal yang serupa dengan melebarkan artinya. Terlebih ketika memberikan pelatihan atau sharing session kepada orang lain.

Terima punya arti menerima ilmu dari orang lain atau mendapatkan dari media lain. Termasuk mengolah ilmu dan pengetahuan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Kasih sebenarnya berarti rasa sayang, cinta. Kami memaknai juga dengan memberi (bahasa Jawa informal, kasih berarti memberi).

Itulah semangat yang saya tanamkan di dalam hati ketika diminta memberikan ceramah, memotivasi atau memberikan pelatihan kepada orang atau organisasi lain. Terima ilmu dan pengetahuan itu, kemudian saya berikan lagi kepada yang membutuhkannya. That’s the real meaning of ‘terima kasih’. Mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada orang lain adalah rasa syukur yang sesungguhnya. Insya Allah.

Semoga itu menjadi catatan amal sholeh yang pantas saya sodorkan di Padang Maghsyar kelak.

Mau bergabung dengan semangat dan gerakan yang sama ? Yuk, kita mulai dengan berbagi dan beraksi setidaknya untuk lingkungan di sekitar kita.

Beraksilah !

 

Jari jemari saya mengetik nama Bung Hatta. Nampaknya, Allah SWT memberikan saya waktu untuk mengenang beliau. Menapaktilasi sejarah panjang sepak terjang beliau. Meski saya tidak pernah mengalami langsung interaksi. Tapi rasa itu membawa saya seakan berada di dalamnya. Saat saya membaca beberapa artikel tentang beliau.

Apalagi ditemani lagu ciptaan Bung Iwan Fals. Lagu dan lirik yang didedikasikan untuk mendiang Mohammad Hatta.

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Reff :
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

Saya mencoba memahami pesan-pesan beliau. Pesan yang tentunya mengena dan tepat di mana pun kita berada. Apa pun peran kita. Salah satu quote Bung Hatta adalah :

“Apa yang DILAKUKAN oleh orang SETELAH mendengar suatu KHOTBAH, jauh LEBIH PENTING dari apa yang DIKATAKANNYA tentang khotbah itu”

(Mohammad Hatta | 12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980)

Bapak bangsa kita itu, mengajarkan tentang aksi ! Berperan serta. Singsingkan lengan baju. Kerja nyata ! Tidak sekedar berteori. Saur manuk (baca : debat kusir) tanpa ada simpulan.

Diskusi boleh ? Boleh saja. Tapi yang lebih penting adalah mewujudkan hasil diskusi. Apalagi ketika berbicara mengenai kemaslahatan ummat. Termasuk di dalamnya berhubungan dengan pelanggan.

Siapa yang tidak kenal konsep-konsep beliau ? Tapi siapa juga yang tidak mengenal aksi-aksi beliau ? Sangat seimbang, bukan ?

Saya punya anggota tim. Ketika ada komplain dari pelanggan, ia berpikir keras. Jika ini meluas, maka ia bisa kehilangan pelanggan. Apalagi situasi seperti sekarang, pelanggan belum banyak. Itu artinya pemasukan juga masih minim.

Komplain bisa jadi dipandang sederhana. Ada tamu mengunjungi pelanggan kami. Pelanggan itu adalah penyewa ruang di gedung kami. Sang visitor kebingungan mencari lokasi ruang yang ia tuju di gedung yang kami bangun. Tidak ada penunjuk jalan di tembok pas dekat lift. Kebetulan, front line officer (baca : penerima tamu yang merangkap tenaga pengamanan) juga belum ada. Tamu bingung sehingga ia kehilangan waktu.

Ia langsung melakukan aksi. Dia mendesain bagan penunjuk jalan. Setelah jadi dan akan dipasang. Signage tadi ternyata tetap membingungkan ketika diuji. Beberapa rekan kerja, ketika diminta menerjemahkan arti tanda arah tersebut, masih menunjukkan tidak sesuai arah yang diinginkan pembuat. Ia pun agak kecewa.

Apakah sepertinya itu sia-sia ? Sama sekali, tidak ! Dia action ! Itu yang terpenting. Jika ada yang belum sesuai harapan, ada peluang perbaikan. Setidaknya aksi pertamanya menjadi tolok ukur membuat desain revisi.

Beraksilah. Meski kadang itu belum tepat. Jangan takut salah. Itu jauh lebih bermakna, daripada hanya sekedar menyampaikan atau meneruskan berita.

Biaya Bukan Alasan Lagi !

Sore ini, proses visitasi akreditasi Teknik Mesin Universitas Brawijaya (UB), tuntas sudah. Selanjutnya, masih ada upaya yang jauh lebih penting. Ya, berdoa. Bersimpuh bermunajat kepada Illahi Robbi. Saya melihat, upaya civitas akademika UB, utamanya Teknik Mesin UB sudah maksimal. All out. Semoga akreditasi A dapat dipertahankan.

Usai acara itu, baru mulai beranjak pulang, saya mendapatkan pesan WA dari salah seorang senior. Isinya adalah hasil rembugan (baca : musyawarah) dari Ikatan Alumni UB di tempat yang terpisah. Satu saja ! Intinya ajakan bagaimana memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda untuk kuliah. Utamanya yang punya kendala keuangan. Nampak sejalan dengan salah satu komentar assessor saat visitasi tadi :

“Prosentase mahasiswa penerima beasiswa masih minim”

Gayung bersambut. Alumni menggagas membuat rekening khusus untuk Bea Siswa. Dari alumni untuk mahasiswa. Sehingga tak ada lagi alasan tidak bisa kuliah karena biaya. Saatnya bergerak. Terus bersemangat bagi mahasiswa. Biaya bukan alasan lagi. Tancap gas, kejar prestasi.

Semoga ini salah satu perwujudan :

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”

(QS 94 : 6-7)

Tertarik untuk turut beramal sholeh ?

Terpanggil untuk menjadi bagian dari upaya meringankan beban keuangan mahasiswa ?

Pintu amal kami bukakan melalui :

Bank BNI dengan no rekening : 777 383  839 | an. Beasiswa Alumni IKA UB

Semoga Allah SWT membalas upaya sahabat dengan kebaikan.

Kolaborasi by Ari Wijaya

Ada tim yang dihuni pemain biasa saja, tapi JUARA !

Pernahkah anda mengalaminya atau disuguhi peristiwa itu ?

Ya.

Acapkali itu terjadi, bukan ?

Kalau ditelisik lebih jauh, banyak faktor yang menjadikan tim yang katanya biasa saja itu jadi kampiun. Kemampuan team membernya rata-rata. Tak pernah dilirik orang. Tapi mereka menjelma menjadi team hebat. To be a Champion !

Apa kuncinya ?

Salah satunya adalah kerja sama mereka. Kolaborasi. Anggota tim memanfaatkan kelebihan temannya. Ia fokus pada kelebihan masing-masing. Tapi tak melupakan peran member yang lain. Mereka mudah melakukan rotasi. Karena tidak ada yang merasa paling jago ! Tak ada yang merasa paling istimewa. Setara !

Mereka bergerak satu tujuan. Punya visi yang sepaham. Memiliki misi yang tertanam sama. Bergerak untuk memenangkan kompetisi. Unggul dalampersaingan yang panjang nan melelahkan.

Bayangkan jika anggota tim itu adalah para pendekar pilih tanding ! Pemain bintang. Orang yang punya kelebihan di atas rata-rata.

Wow !

Sekumpulan orang itu jika tetap punya kolaborasi yang kuat, bukan tidak mungkin menjadi tim yang menorehkan rekor-rekor baru.

Clean sheet terpanjang ! Merajai semua jenjang kompetisi sepak bola.

Konstruktor dengan torehan juara dunia terlama. Rekor lari estafet yang tak terpecahkan selama puluhan tahun.

Atau catatan-catatan moncer yang lain.

Anda tentunya mau punya tim yang seperti itu, bukan ?

Memilih anggota tim ? Boleh saja. Tidak salah. Tapi ketika pilihan itu tidak ada. Rekrutmen baru bukan opsi. Opsi utama adalah as it is alias resources yang ada, maka langkah menelisik lebih rinci kekuatan pasukan adalah hal yang krusial.

Tidak perlu berkecil hati. Yakinkan diri anda sahabat, team member yang ada saat ini pasti punya kelebihan. Anda berdayakan kekuatan itu. Bisa jadi, mereka tampak biasa-biasa saja. Yakinlah bahwa mereka punya competitive advantages yang unik. Anda gali lagi. Anda cari seperti melakukan kajian tuntas ! Karena janji Allah SWT ada dan crystal clear, kita saja yang belum menemukannya.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

(QS. Al Israa’ : 70)

Selanjutnya sahabat, silakan anda ramu sumber daya utamanya people dengan baik. Kolaborasi adalah bumbu utamanya.

Ibarat rantai sepeda jika bertaut erat, kayuhan ringan pun bisa membawa kita pergi jauh.

Selamat meracik tim, sahabat ! Proses yang insya Allah mengasyikkan dan menambah kekuatan kita juga.

Semoga tidak dalam waktu lama lagi, anda menjadi leader yang pilih tanding.

Sinergi

If you want to walk fast, walk alone. But if you want to walk far, walk together. Walk with other.

Kadang lelah tak terasa, ketika berjalan bersama.

Saling menyemangati. Saling support.

Sinergi seperti itu, sangat dibutuhkan. Saat kapan pun. Di kala susah atau senang. Ketika prestasi meredup atau moncer.

Apalagi saat krisis melanda. Saat lelah mulai terasa.

Mau Beramal Sholeh ?

AWW
Salam keselamatan dan sejahtera selalu..

Semangat pagi !

Sahabat, sederek sedoyo,

Perkenankan kami, paguyuban Genaro Ngalam, orang yg pernah bersekolah di Malang,  membuka peluang beramal sholeh pada bulan penuh maghfiroh ini.

Insya Allah, kami akan memudikkan sekira 1000 (uwes) orang ke Malang. NGALUP BARENG, Sabtu 2 Juli 2016, 07.00 WIB.

Upaya ini meringankan biaya mudik bagi saudara kita yang beringinan kuat silaturahim ke sanak saudaranya di Malang.

Dengan ijin Allah, saya yakin dengan gotong royong kita upaya kami jadi ringan.

Donasi sahabat, sederek sedoyo, saya yakin dapat berkontribusi terhadap inisiasi ini. Bisa sesuai nilai voucher. Jika ingin lebih bisa dengan kelipatannya.

Donasi dapat ditransfer ke Rekening atas nama Bendahara Panitia.

Nana Andeina Kemala.
BCA : 474 000 9856.
Bank Mandiri : 128 000 007 2931

Tanpa mengurangi keikhlasan sahabat, sederek sedoyo, konfirmasi untuk pencatatan dan akuntabilitas, melalui inbox saya ini :

Ari WijayaDj

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari Kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.”

[HR. Muslim no. 2699]
Mugi2 Gusti Allah membalas upaya sahabat, sederek sedoyo, dengan kebaikan.

Rutam nuwus.

Salam
WWW
Ari ‘SINYO’ Wijaya (Ari WijayaDj)
Sing didapuk dadi Ketua Panitia.

 

 

Maklum by Ari Wijaya

Maklum

by Ari Wijaya

 

Kata maklum jika ditilik dari arti katanya sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah ‘dapat dipahami (dimengerti)’.

Saya dan bisa jadi sahabat semua, juga sering menemui atau bahkan menggunakan kata ini dalam keseharian.

Ini biasa kita pakai ketika menemui sesuatu yang tidak sesuai harapan. Hal yang tidak sesuai kaidah. Kita menerima dengan lapang dada, walau dengan catatan. Perbaikan diharapkan dengan berjalannya waktu. Learning curve.

“Hasil rajutannya, masih kurang halus. Maklum baru belajar sepekan”.

Kata maklum itu, tentunya kita sepakat, sebagai hasil awal sudah bisa diterima. Sebagai user atau pemberi kerja, sudah sewajarnya memberikan masukan. Harapannya hasil berikutnya akan lebih baik. Itulah menerima dengan catatan yang saya maksud. Ada pemberitahuan, ada arahan, bahkan training singkat sebagai upaya perbaikan.

Namun, menurut hemat saya, penggunaan kata maklum yang tidak pada tempatnya, bisa berakibat buruk. Parahnya, berdampak jangka panjang.

Kenapa ?

Misalnya kita yang berkendara di jalan tol. Kondisi traffic padat merayap. Tiba-tiba, ada satu bahkan lebih, kendaraan merangsek melaju menggunakan ‘bahu jalan’. Kata maklum terlontar :

“Maklum, dia sedang buru-buru, kali!”

Atau kondisi lain, menemukan mobil memasuki area yang dilarang.

“Ooo dia sopir baru, Pak. Belum tahu aturan kalau lewat situ dilarang. Maklumlah, Pak”.

Bisa juga kejadian lainnya, seperti :

“Ia tamu, Pak. Ia tidak familiar dengan jalur khusus pejalan kaki. Mohon dimaklumi”.

“Maklum, Pak. Jalan memutar jauh dan macet. Makanya mereka melawan arus”.

Pernahkah dibayangkan ? Jika dimaklumi terus, bisa berdampak parah. Maklum tanpa kita barengi dengan pemberitahuan. Maklum plus peringatan. Atau apa pun namanya, agar pelaku menyadarinya bahwa itu salah. Kita perlu konfirmasi, apakah ia tidak tahu ? Atau apa ? Karena memang perlu perbaikan. Karena tanpa itu, ada potensi pengulangan. Atau merasa benar.

Tidak jarang, ada orang yang segan memberitahu, melakukan hal perbaikan.

“Nggak enak, Pak. Dia kan seharusnya tahu. Ngapain cari ribut. Dimaklumi sajalah !”

Bahkan malah lebih parah :

“Emang siapa, Lu ! Berani-beraninya atur Gua !

“Sok tertib ! Udah biasa mah, begini ini tiap hari ! Dari dulu juga tidak apa-apa !”

Ini yang berbalik, back fire. Justru orang yang melakukan hal yang benar mendapatkan perlawanan. Tapi, melakukan hal yang dilarang, malah diberi maklum. Sedangkan orang yang justru berusaha melakukan perbaikan, tidak mendapatkan kata maklum itu.

“Maklum, ia memang tahu peraturannya. Ikuti saja”

He he.. komentar seperti itu malah jarang ditemui.  Maklum yang seperti ini jadi barang langka.

Itu yang saya sebut, bahaya. Berdampak luas. Bisa membudaya. Ketika maklum yang tidak pada tempatnya dibiarkan, bukan tidak mungkin kejadian yang salah menjadi budaya. Meski ia dan hasil tindakannya merugikan orang lain, kalau menerus, bisa dianggap benar. Bahkan banyak pengikutnya pula. Itu semua karena maklum. Hanya maklum, tiada kata peringatan. Jangan samapi terjadi, bukan ?

Padahal kita ditekankan berbuat adil. Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut KBBI, adil berarti berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang.

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

(QS An Nahl : 90)

Maukah kita berada pada lingkungan yang terlanjur salah jadi budaya ?

Relakah kita berada pada wilayah yang semrawut ? Area yang tidak safe ?

Tentunya tidak mau, bukan ? Tidak rela, bukan ?

Mari kita tempatkan maklum pada tempatnya. Agar kita termasuk golongan orang adil.

Ayo jangan segan memberitahu atau memberi peringatan, jika ada orang yang berbuat tidak sesuai aturan. Salah ambil jalur alias melawan arus. Tidak mengikuti kaidah safety. Ia belum memberi hasil sesuai harapan. Mari kita ingatkan. Saling mengingatkan. Saling peduli.

Ayo sahabat, kita lakukan. Kita mulai ! Sekecil apa pun. Sesederhana apa pun. Tegur ia, peringatkan dia ! Setidaknya kita berkontribusi menjadikan lingkungan, perusahaan bahkan negeri kita tertib, aman dan selamat.