Mau Beramal Sholeh ?

AWW
Salam keselamatan dan sejahtera selalu..

Semangat pagi !

Sahabat, sederek sedoyo,

Perkenankan kami, paguyuban Genaro Ngalam, orang yg pernah bersekolah di Malang,  membuka peluang beramal sholeh pada bulan penuh maghfiroh ini.

Insya Allah, kami akan memudikkan sekira 1000 (uwes) orang ke Malang. NGALUP BARENG, Sabtu 2 Juli 2016, 07.00 WIB.

Upaya ini meringankan biaya mudik bagi saudara kita yang beringinan kuat silaturahim ke sanak saudaranya di Malang.

Dengan ijin Allah, saya yakin dengan gotong royong kita upaya kami jadi ringan.

Donasi sahabat, sederek sedoyo, saya yakin dapat berkontribusi terhadap inisiasi ini. Bisa sesuai nilai voucher. Jika ingin lebih bisa dengan kelipatannya.

Donasi dapat ditransfer ke Rekening atas nama Bendahara Panitia.

Nana Andeina Kemala.
BCA : 474 000 9856.
Bank Mandiri : 128 000 007 2931

Tanpa mengurangi keikhlasan sahabat, sederek sedoyo, konfirmasi untuk pencatatan dan akuntabilitas, melalui inbox saya ini :

Ari WijayaDj

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari Kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.”

[HR. Muslim no. 2699]
Mugi2 Gusti Allah membalas upaya sahabat, sederek sedoyo, dengan kebaikan.

Rutam nuwus.

Salam
WWW
Ari ‘SINYO’ Wijaya (Ari WijayaDj)
Sing didapuk dadi Ketua Panitia.

 

 

Maklum by Ari Wijaya

Maklum

by Ari Wijaya

 

Kata maklum jika ditilik dari arti katanya sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah ‘dapat dipahami (dimengerti)’.

Saya dan bisa jadi sahabat semua, juga sering menemui atau bahkan menggunakan kata ini dalam keseharian.

Ini biasa kita pakai ketika menemui sesuatu yang tidak sesuai harapan. Hal yang tidak sesuai kaidah. Kita menerima dengan lapang dada, walau dengan catatan. Perbaikan diharapkan dengan berjalannya waktu. Learning curve.

“Hasil rajutannya, masih kurang halus. Maklum baru belajar sepekan”.

Kata maklum itu, tentunya kita sepakat, sebagai hasil awal sudah bisa diterima. Sebagai user atau pemberi kerja, sudah sewajarnya memberikan masukan. Harapannya hasil berikutnya akan lebih baik. Itulah menerima dengan catatan yang saya maksud. Ada pemberitahuan, ada arahan, bahkan training singkat sebagai upaya perbaikan.

Namun, menurut hemat saya, penggunaan kata maklum yang tidak pada tempatnya, bisa berakibat buruk. Parahnya, berdampak jangka panjang.

Kenapa ?

Misalnya kita yang berkendara di jalan tol. Kondisi traffic padat merayap. Tiba-tiba, ada satu bahkan lebih, kendaraan merangsek melaju menggunakan ‘bahu jalan’. Kata maklum terlontar :

“Maklum, dia sedang buru-buru, kali!”

Atau kondisi lain, menemukan mobil memasuki area yang dilarang.

“Ooo dia sopir baru, Pak. Belum tahu aturan kalau lewat situ dilarang. Maklumlah, Pak”.

Bisa juga kejadian lainnya, seperti :

“Ia tamu, Pak. Ia tidak familiar dengan jalur khusus pejalan kaki. Mohon dimaklumi”.

“Maklum, Pak. Jalan memutar jauh dan macet. Makanya mereka melawan arus”.

Pernahkah dibayangkan ? Jika dimaklumi terus, bisa berdampak parah. Maklum tanpa kita barengi dengan pemberitahuan. Maklum plus peringatan. Atau apa pun namanya, agar pelaku menyadarinya bahwa itu salah. Kita perlu konfirmasi, apakah ia tidak tahu ? Atau apa ? Karena memang perlu perbaikan. Karena tanpa itu, ada potensi pengulangan. Atau merasa benar.

Tidak jarang, ada orang yang segan memberitahu, melakukan hal perbaikan.

“Nggak enak, Pak. Dia kan seharusnya tahu. Ngapain cari ribut. Dimaklumi sajalah !”

Bahkan malah lebih parah :

“Emang siapa, Lu ! Berani-beraninya atur Gua !

“Sok tertib ! Udah biasa mah, begini ini tiap hari ! Dari dulu juga tidak apa-apa !”

Ini yang berbalik, back fire. Justru orang yang melakukan hal yang benar mendapatkan perlawanan. Tapi, melakukan hal yang dilarang, malah diberi maklum. Sedangkan orang yang justru berusaha melakukan perbaikan, tidak mendapatkan kata maklum itu.

“Maklum, ia memang tahu peraturannya. Ikuti saja”

He he.. komentar seperti itu malah jarang ditemui.  Maklum yang seperti ini jadi barang langka.

Itu yang saya sebut, bahaya. Berdampak luas. Bisa membudaya. Ketika maklum yang tidak pada tempatnya dibiarkan, bukan tidak mungkin kejadian yang salah menjadi budaya. Meski ia dan hasil tindakannya merugikan orang lain, kalau menerus, bisa dianggap benar. Bahkan banyak pengikutnya pula. Itu semua karena maklum. Hanya maklum, tiada kata peringatan. Jangan samapi terjadi, bukan ?

Padahal kita ditekankan berbuat adil. Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut KBBI, adil berarti berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang.

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

(QS An Nahl : 90)

Maukah kita berada pada lingkungan yang terlanjur salah jadi budaya ?

Relakah kita berada pada wilayah yang semrawut ? Area yang tidak safe ?

Tentunya tidak mau, bukan ? Tidak rela, bukan ?

Mari kita tempatkan maklum pada tempatnya. Agar kita termasuk golongan orang adil.

Ayo jangan segan memberitahu atau memberi peringatan, jika ada orang yang berbuat tidak sesuai aturan. Salah ambil jalur alias melawan arus. Tidak mengikuti kaidah safety. Ia belum memberi hasil sesuai harapan. Mari kita ingatkan. Saling mengingatkan. Saling peduli.

Ayo sahabat, kita lakukan. Kita mulai ! Sekecil apa pun. Sesederhana apa pun. Tegur ia, peringatkan dia ! Setidaknya kita berkontribusi menjadikan lingkungan, perusahaan bahkan negeri kita tertib, aman dan selamat.

Cermat Hingga Akhir

Cermat hingga Akhir

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

 

Batu bata merah atau bata bisa jadi sudah jarang digunakan sebagai bahan pembuat dinding bangunan. Mereka sebagian telah tergantikan oleh material lain. Batako. Bata ringan. Dan beberapa contoh lain.

Bata, walaupun hampir tergerus oleh jaman, namun masih menyisakan pelajaran bagi Kita. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari bata ?

Bata dibuat dari tanah liat. Pembuatnya memilih tanah liatnya. Tidak semua jenis tanah dapat dibuat bata merah. Pencetakan dan hasilnya pun disusun rapi.  Agar panas matahari mengeringkannya dengan merata. Kering tapi tidak retak.

Saat pembakaran bata itu pun disusun sangat rapi. Pembakaran adalah proses yang krusial. Tidak sembarangan. Panas api harus merata. Saat di ‘linggo’ (baca : disusun ke atas, siap dibakar), dilakukan dengan teratur. Dinding luar susunan (seperti candi), ditutup dengan tanah liat. Panas pun efektif dan efisien. Bahkan acapkali diberikan tanda dengan menancapkan cabe merah besar. Itu sinyal api/panas telah mencapai ketinggian tertentu. Panasnya cukup, atau kayu bakar perlu ditambah lagi. Tanda yang bisa jadi sepele. Tapi itu bisa menghemat pengeluaran.

Bata harus berwarna merah tua. Makanya ada istilah warna, merah bata. Merah kecoklatan. Karena merah itu menunjukkan kekuatan bata. Merah tua adalah bata yang siap dijadikan bahan bangunan.

Pada tahap pengiriman pun bata itu pun disusun rapi. Memudahkan pemuatan dan pembongkaran. Loading and unloading. Cepat dan hemat biaya. Bayangkan jika sembarangan juga. Bak truk tidak efisien. Bahkan bata bisa pecah. Sangat hati-hati. Mereka tahu, bata pecah membutuhkan waktu relatif lama untuk menyusun. Harus dirapikan sebelum dipasang. Ada kerugian. Ada losses. Artinya biaya tambahan.

Proses pembuatan bata tadi, ibarat kita akan menyusun team. Maka perlu kecermatan yang jauh lebih presisi, bukan ?

Kenapa ?

Manusia adalah salah satu sumber daya utama menyusun sebuah team. Human Capital. Kita harus memilih orang. Orang yang telah terpilih pun, harus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Setiap individu juga harus menjadi pilihan, punya kelebihan. Ibaratdalam dunia persilatan, maka ia adalah pendekar pilih tanding. Ditempatkan di mana saja. Siap beradaptasi, Siap bersaing. Memberikan hasil sesuai bahkan lebih dari ekspektasi.

Peran leader juga perlu kecermatan. Proses pembentukan team juga harus diperhatikan karakter masing-masing anggota team. Tidak ada yang sempurna. Pemetaan perlu dilakukan. Fokus terhadap program yang menjadi peluang perbaikan pada setiap individu. Materi disesuaikan. Tolok ukur ditetapkan. Jika ada yang masih belum sesuai, maka dipoles lagi. Tentunya dengan batasan waktu tertentu. Penugasan juga disesuaikan dengan kelebihan masing-masing.

Penugasan yang tidak sesuai, masih bisa dipaksakan. Namun, tentunya punya konsekuensi. Perlu energi dan biaya tambahan. Baik dari sisi individu, maupun team secara keseluruhan. Dengan kesadaran itu, cermat pada setiap tahapan.

Ia siap menjadi salah satu soko guru organisasi yang mantap. Ia juga memberikan sumbangsih terbaiknya. Bukan rahasia lagi, begitu digabungkan dengan elemen yang lain, organisasi lebih kuat, kokoh, tak tertandingi.

Team adalah salah satu daya tahan persaingan. Kemenangan dalam kompetisi juga ditentukan oleh tim yang kuat.

“The team with the best players wins”

Begitu petuah Jack Welch, salah satu CEO kelas wahid yang idenya banyak dijadikan panutan pemimpin bisnis dunia hingga kini.

Cermat hingga akhir, layaknya bata. Bahan baku pilihan. Pemetaan atau proses persiapan, cermat. Pelatihan atau proses pembakaran, cermat. Penugasan atau penempatan, layaknya proses pengiriman, juga cermat. Hasilnya, suatu bahan bangunan yang dapat diandalkan. Siap membentuk tembok yang kokoh, kuat, sulit dirobohkan.

Anda tentunya juga ingin punya team yang kuat, bukan ? Ingin menang dalam persaiangan ?

Mari kita cermat memilihnya, mengembangkannya dai awal hingga akhir. Layaknya, kita akan menjual batu bata merah kelas wahid.

Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT, kan ?

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Oleh : Salim A. Fillah

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.

Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.

Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.

Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.

Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.

Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.

Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-NYA, dan karena-NYA.

Rezeki dari Sopir Angkot

Cerita ini saya untai beberapa bulan lalu. Saya munculkan lagi sebagai pengingat saya pribadi. Harapannya, juga bagi para sahabat yang membacanya.

Bagaimana menyikapi hiruk pikuk dunia ini ? Rezeki dari Allah SWT selalu ada untuk kita.

 

Rezeki dari Sopir Angkot

by Ari Wijaya

 

Setelah ngobrol sama Ibu, saya berniat bersilaturahim dengan teman lama. Apalagi silaturahim itu disertai dengan hidangan rujak cingur, menambah semangat bergegas. Javanese salad pakai bumbu petis ini jadi penarik tambahan.  Taksi pun tak kunjung dapat dihubungi nomornya. Kalau istri tahu saya nelpon taksi, sudah pasti dapat sindiran.  Ia sering menyarankan naik public transport alias angkot atau bis.

Keputusan naik angkot akhirnya saya ambil. Secara teoritis, saya harus naik 3 kali angkot untuk mencapai tempat pertemuan. Angkot menuju Terminal Landungsari tak menemui kesulitan, nangkring sebentar di pinggir jalan, sudah ada yang menghampiri. Landungsari menuju Batu yang menguji kesabaran. Angkot banyak jumlahnya, tapi kosong. Alhasil, menunggu antrian yang lama. Antrian berjejer. Banyak makna. Apakah ekonomi sedang lesu ? Jam yang tidak pas ? Banyak hal. Tapi saya tidak mau berlama-lama kebingungan. Bisa terlambat meemnuhi janji. Saya cari yang tidak antri, tetapi semuanya wait and see. Tidak berani ambil risiko. Misal berangkat kosong, berharap ada penumpang di perjalanan. Nyeser kata arek Malang.

Entah kenapa, saya mengarah kepada salah satu angkot ungu. Saya perhatikan sopirnya ramah, terlihat wajahnya santai, tidak sangar. Sembari menunggu saya ajak obrol sang sopir sesuai dengan keinginan saya agar cepat tiba di tempat tujuan.

“Mas. Kalau penumpang penuh, berapa didapat sak tarikan (maksudnya satu rit) ?” tanya saya memulai pembicaraan agak serius.

“Ya, empat puluh ribu lah, Pak” tukas dia cepat.

Langsung dia Saya salami sembari menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu.

“Kalau segini cukup ? Sampeyan anter Aku ke Pesanggrahan, tapi langsung jalan sekarang. Tapi, kalau di jalan ada penumpang, silakan ambil” kata saya bak nego dengan supplier.

Lumayan memotong waktu tunggu. Kalau pun naik taksi, kira-kira juga segitu. Namun, insya Allah beda rasanya. Sedan sama mobil van alias angkot ya, jelas beda ya..

Sekedar memberikan gambaran, jika Anda pernah berkesempatan ke Jatim Park atau Kusuma Agro Wisata di Kota Wisata Batu, Pesanggrahan itu area yang letaknya sekira 2 KM ke arah Songgoriti. Masih di dalam kota.

Dia pun tersenyum dan langsung mengiyakan sembari berucap  Alhamdulillaah sebagai tanda syukur.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang rezeki. Saya pun menyimaknya dengan seksama.

Dia sopir yang sudah 12 tahun di jalan. Punya anak yang duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Hikmah rezeki dari Gusti Allah, dia pahami dengan sangat dalam. Sang sopir ini sering disuguhi peristiwa bahwa dalam narik angkot acapkali uang yang dibawa pulang pas untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pernah suatu siang, Ia sudah dapat target. Itu luar biasa. Acapkali sore menjelang isya’, baru target didapat. Ia berniat menambah jam narik sekira satu jam atau 2 rit. Batu-Landungsari pergi pulang. Maksud hatinya, lumayan lah buat nambah tabungan.

Apa hasilnya ?

Ternyata cuma dapat 2 penumpang, alias 8 ribu. Itu pun setara untuk beli bensin perjalanan tambahan tadi. Secara total hasilnya sama, namun waktu yang malah mengurangi waktu istirahatnya. Peristiwa itu sering dirasakan bahkan berulang kali. Ketika telah dicukupkan, tapi ada semacam ingin nambah, maka ternyata belum diijinkan Gusti Allah. Begitu tuturnya lirih. Sehingga ketika angka yang dikejar sudah di tangan, maka sejak saat itu, ia putuskan pulang. Bertemu istri dan anaknya. Rezeki dalam bentuk lain yang tentunya sulit diuangkan. Mendapati dan bersua keluarga dengan waktu yang lebih banyak.

Setelah sekira 15 menit berjalan, pas tanjakan sebelum Temas, ada satu penumpang naik.

Ia pun tertawa seakan menambah yakin dan membenarkan ceritanya sembari berkata :

“Alhamdulilaah. Ini lho Mas, apa yang Aku sampaikan tadi. Sampeyan sudah kasih uang. Sudah membolehkan Saya ambil penumpang di jalan. 1 rit ketutup, wis. Tinggal cari tambahan. Aku tadi berharap banget. Tapi coba, sepanjang jalan tadi, ya cuma satu orang ini, tho Pak ?” dia bertutur sembari menoleh dan manggut-manggut kepada Saya.

Saya pun memandangnya dengan senyum tanda sepakat. Memang sepanjang jalan tadi sepi. Penumpang tidak terlihat sepanjang perjalanan kami.

“Ini yang Aku sebut sudah ditakar cukup. Aku percaya banget itu. Aku nggak boleh maksa”, sambungnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat dari sikapnya. Menurut hemat saya, ada satu hal yang dapat dipetik dari sopir angkot ini.

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, diperkuat dengan doa, dan tawakkal kepada Allah. Mas Sopir Angkot tadi telah melakukannya. Ia pun menyerahkan kepada Allah sisanya. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Ketika ikhtiar, doa serta tawakal telah dipersembahkan, Kita insya Allah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah memberi karunia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan silaturahim saya kepada teman, jelas membawa rezeki. Salah satunya adalah reminder dari Sang Sopir Angkot sekaligus kuliah setara 1 SKS. Pelajaran tentang bagaimana memaknai rezeki Allah SWT.

Anda pun tak luput dari pergulatan menjemput rezeki Allah, bukan ?

Mari kita tata kembali niat, waktu, dan tentunya cara pandang kita. Dan tiada henti meningkatkan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah SWT.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

(Surah At-Talaq ayat 2-3)

 

Layanan Terus ON by Ari Wijaya

Layanan Terus ON
by Ari Wijaya

Seorang gubernur di Negeri Seberang mendapatkan kepercayaan dari presidennya untuk menjadi tuan rumah pertemuan para tokoh negeri serumpun. Sang gubernur berpikir keras, untuk memuliakan tamunya. Menurut dia, salah satunya adalah kesan pertama harus menggoda. Maka ia memerintahkan stafnya untuk membuat welcome drink yang cepat saji, khas dan menyehatkan. Para staf membuat teko raksasa dengan ratusan kran. Kran itu untuk memudahkan dan mempercepat pengambilan.

Gubernur membagi tugas. Sebagai penyedia welcome drink, ia meminta rakyatnya yang di lereng gunung untuk menyumbangkan susu sapi segar satu liter tiap satu keluarga. Teknisnya, setiap selesai memerah susu bakda subuh, susu dimasak dan diantar ke alun-alun kota. Susu dituangkan di teko raksasa di alun-alun kota. Pusat penyambutan para tokoh negeri serumpun.

Seluruh rakyat lereng gunung itu antusias. Tak sedikit yang mempertanyakan kebijakan itu. Tapi, mereka mulai menyiapkan susu terbaik. Susu daerah itu terkenal segar, kental dan legit. Namun, si Pulan, salah satu penduduk lereng gunung, ada yang berpikiran lain.

“Jika aku menyumbang satu liter air, aku yakin nggak kentara. Nggak terasa. Toh, masih ada 12.303 liter susu. Kalau tercampur 1 liter air, pasti tak terasa”.

Hari perhelatan pun tiba. Benar sesuai perkiraan Sang Gubernur, tamu berdatangan bergelombang. Banyak sekali. Seluruh tamu, sembari menunggu opening ceremony, diberikan gelas dan dipersilakan menikmati welcome drink. Gubernur naik panggung dan menyambut tamunya dengan bangga :

“Saudara-saudaraku serumpun, silakan menikmati minuman hasil produksi unggulan kami. Susu sapi yang segar, kental, legit, dan insya Allah menyehatkan”.

Panitia mulai mendampingi dan menunjukkan teko raksasa. Tamu pun menghampiri kran dengan tertib. Segera setelah gelas terisi, mereka meminum welcome drink. Tidak lama setelah mereguk minuman itu. Mereka heran, terpaku sejenak. Minuman yang katanya susu tadi memang segar, tapi bening dan hambar. Masya Allah ! Ternyata mereka minum air! Bukan susu yang segar, kental dan legit. Suasana pun heboh dan acara berantakan. Meski air juga menyehatkan, tapi Sang gubernur pun tetap malu pada para tokoh dan tentunya Pak Presiden.

Apa gerangan yang terjadi ? Selidik punya selidik, ternyata seluruh penduduk lereng gunung berpikiran seperti si Pulan. Menyumbang air, bukan susu sapi segar. Toh seliter ini, tak kan terasa. Begitu, pikiran yang ada dalam benak mereka. Gubrak !

Sahabat, ijinkan saya membuat perumpaan kejadian di Negeri Seberang terjadi pada perusahaan kita. Saya ambil contoh fungsi procurement. Mohon dimaklumi, karena saya pernah mendapat amanah pada bagian pembelian.

Fungsi pengadaan adalah bagian team di sebuah organisasi. Sama dan setimbang perannya seperti fungsi lainnya. Tapi coba dibayangkan. Jika salah satu saja mencoba menurunkan layanannya, maka bisa berakibat buruk.

Ini misalnya :

“Ah, sekali-kali lah, negosiasinya nggak usah repot. Kali ini harga tak perlu dinego. Toh, nanti penghematan bisa diperoleh teman-teman buyer yang lain”, gumam salah satu buyer sebutlah namanya si Fulan.

“Target penghematan bisa ditutup oleh prestasi si Badu atau yang lain. Kali ini, santai dulu lah”

Apa yang terjadi jika si Badu punya pikiran yang sama dengan si Fulan. Parahnya, seluruh team saat itu mempunyai pikiran yang sama ? Bisa jadi budget jebol. Perusahaan harus membeli lebih mahal dari seharusnya. Untung bisa menipis. Kalau pikiran itu dilakukan juga oleh insan organisasi yang lain? Berpikir dan bertindak sama untuk menurunkan tingkat layanannya kepada orang lain atau bahkan kepada pelanggannya. Kepada client-nya ? Perusahaan bisa tidak kompetitif. Bangkrut dan akhirnya tutup!

Layanan tak boleh menurun. Harus dijaga terus. Satu saja yang menurunkan, bisa saja itu terjadi bersamaan. Karena kita tidak tahu, kapan saat itu terjadi. Bisa bersamaan seperti tadi. Jika sudah begitu, bisa seperti susunan kartu domino yang tumbang. Ia tidak roboh sendirian, tapi merembet dan merobohkan susunan di sampingnya. Efek domino. Bisa berakibat fatal, bukan ? Karena tidak hanya Kita yang roboh, tapi meluluhlantakkan semuanya.

Saya yakin pada fungsi yang lain juga harus tetap nyala. Semangat. Karena kita mata rantai yang saling bergandengan.

Layanan jangan pernah ‘mati’. Kalau mulai turun, mari coba dicari segera penjungkitnya. Jangan pernah berpikir dan berniat sekali pun untuk OFF. Layanan harus terus ON.

Anda mau kita kalah ? Kita luluh tantak ?
Saya yakin tidak ada yang ingin itu terjadi.

Mari berubah.
Mari berbenah.
Mari bahu membahu. Bekerja keras. Saling mendukung. Saling mendoa.

Relay Run by Ari Wijaya

Relay Run by Ari Wijaya

 

Kenalkah anda dengan Purnomo? Christian Nenepath? Mardi Lestari? Suryo Agung? Atau nama-nama itu masih asing di telinga ?

Kalau masih sulit mengambil catatan ingatan, coba ditanyakan ke ‘Mbah Gogel’.

Apakah sekarang sudah punya informasi ? Ya, benar. Mereka adalah sprinter andalan Indonesia pada masanya. Mereka atlit pelari jarak pendek. Juara 100 m, bahkan ada yang juga juara 200m. Setidaknya setingkat Asia Tenggara. Bahkan Purnomo pernah menorehkan sejarah sebagai pelari Asia pertama yang masuk semifinal Olimpiade. Itu terjadi di  Los Angeles, AS pada tahun 1984. Level dunia, kita mengenal : Carl Lewis, Ben Johnson, Donovan Balley, Ato Boldon, Tyson Gay, Asafa Powel, Usain Bolt.

Pertanyaan selanjutnya, masih terkait urusan lomba lari. Pernahkan anda melihat perlombaan lari estafet ? Relay run ? Jika anda penggemar atletik, relay run adalah salah satu cabang lari yang sangat menarik ditonton dan diamati. Adu strategi. Adu kendali ego. Tim berisi 4 pelari cepat ini. Biasanya 4 x 100 m atau 4 x 400 m. Kuartet pelari yang dapat mengontrol ego dan kompak adalah salah satu jaminan kemenangan. Seorang pelari hebat saat juara sprinter perorangan, belum tentu bisa membawa teamnya menjadi juara relay run. Bahkan misalnya mereka merebut juara 1 hingga 3 saat lari jarak pendek perorangan sekali pun.

Lari beranting adalah lomba lari yang terdiri dari 4 sprinter. Mereka harus menyerahkan tongkat pada daerah tertentu. Serah terima tidak dilakukan dalam wesel peralihan (area serah terima), maka team bisa diberikan diskualifikasi. Termasuk jika tongkat nya terjatuh. Pelari penyambung biasanya saat peralihan tidak melihat ke belakang. Terus bagaimana peralihan berlangsung lancar ? Pelari awal memberi aba-aba tertentu. Plus punya kecepatan yang hampir berimbang. Wow, memang challenging, kan ?

“Yak !” begitu biasanya mereka menyepakati saat perpindahan.

Kode bisa beragam, saat menempelkan tongkat ke telapak tangan penerima. Dengan kata itu, pelari penyambung akan segera menggenggam tongkat dan terus menambah kecepatan. Waktu perpindahan adalah krusial. Laju lari pelari pertama dan selanjutnya, harus selaras. Sama lajunya. Tidak boleh ada jeda. Tiada waktu tunggu.

Tidak jarang kita lihat ada kelompok yang tercecer saat awal lomba ternyata bisa memperbaiki posisi. Bahkan bisa menang. Mereka melakukan peralihan pada tempat yang tepat. Kecepatan lari terjaga. Tidak ada saat melambat saat tongkat dialihkan. Pergantian tongkat estafet mereka, mulus.

Sebaliknya, ada tim yang dihuni pelari-pelari hebat. Di atas kertas mereka favorit. Bagiamana tidak, 2 dari 4 pelarinya juara 1 dan 2 saat lomba perorangan. Tapi, mereka malah tercecer. Bahkan saat peralihan ada perlambatan. Transfer tidak mulus. Pelari tidak menemukan momen yang pas. Bahkan ada yang terpaksa menghentikan lomba. Penerima tongkat estafet berlari tidak pada saat yang tepat sesuai skenario. Tongkat pun terjatuh. Alhasil, satu tim gagal finish. Tereliminasi.

Salah satu buktinya adalah Olimpiade 2012 di London. Waktu lomba perorangan, sprinter putri Jamaika Shelly-Ann Fraser menjadi kampiun. Juara 3 juga sprinter dari negera yang sama, Veronica Campbell-Brown. Carmilita Jetter pelari AS hanya menyabet perak. Namun, saat lomba estafet 4 x 100m, Carmilitta-Jetter bersama Tianna Madison, Allyson Felix dan Bianca Knight, membawa Tim AS berlari cepat. Saat final, terlihat mereka kompak. Peralihan tongkat mulus. Tim Jamaika terlihat tersendat saat melakukan perpindahan tongkat pada pelari akhir. Sorak sorai penonton, seakan menambah kecepatan Tim AS. Mereka juara. Mereka menumbangkan kuartet beranting Jamaika. Tim Favorit pula. Plus menumbangkan rekor dunia yang telah bertahan selama 27 tahun. Fantastis !

Keunikan lomba lari estafet ini bisa juga kita lihat juga pada beberapa perubahan pimpinan entitas bisnis. Bagaimana penyerahan tampuk pimpinan GE dari  Jack Welch kepada Jeff Immelt pada 2001. Jack tidak ingin performa GE labil. Ia menyiapkan penggantinya dengan sangat hati-hati. Prosesnya direncanakan lumayan lama. Ia punya strategi khusus. Ada 3 kandidat kuat pengganti Jack Welch. Saat memilih Jeff Immelt, dua orang yang tidak terpilih pun pada akhirnya menjadi CEO ternama. Salah satunya menjadi CEO Boeing. Betapa 3 kandidat yang disiapkan Jack, sama hebatnya, bukan ? Bagaimana pendapat anda tentang kinerja GE saat ini ? Menurut hemat saya, tiada goyangan berarti. GE masih berjaya. Malah ia baru saja mengambil alih Alstom untuk memperkuat bisnisnya di bidang kelistrikan.

Cerita lainnya, Lee Kun-hee mendapat tongkat estafet dari ayahnya Lee Byung-chul, founder Samsung. Siapa yang tidak kenal Samsung ? Perusahaan Korea yang mendunia. Beberapa produknya menguasai pasar. Lee Kun-hee saat ini menyiapkan Lee Jae-yong sebagai pelari selanjutnya. Jay-yong tidak lain adalah salah satu anak kandungnya. Alias cucu dari founder Samsung.

Proses peralihan kepemimpinan , tak jarang ada yang melalui jalur keturunan. Banyak pula yang memilih jalur professional. Benang merahnya adalah menyiapkan tongkat tampuk kepemimpinan kepada leader baru. Proses pembentukan dan penyiapan kader yang mempunyai kesamaan visi. Selaras dengan kecepatan sebelumnya. Sejalan dengan visi misi saat ini. Saat peralihan adalah masa krusial. Tapi, ketika tongkat sudah ditangan, maka yang lebih penting ialah bagaimana berlari lebih cepat. Berusaha dan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mendahului pesaing. Jadi juara !.

Berkaca pada perjuangan Tim AS, saya yakin, ketika lomba itu berlangsung, penonton yang mendukungnya, akan berteriak, bersemangat ! Adrenalinnya naik ! Turut tegang. Tidak sedikit yang ikut berdiri memberi semangat. Kalau nonton siaran langsung via televisi pun, kita seakan berada di dekatnya. Seakan kita juga sedang berlari. Turut mengejar dan berlomba menampaki garis finish.

Dalam organisasi, bisa jadi kita tidak turut menentukan strategi relay run. Kita nggak ngerti. Para pelari itu punya cara memenangkan perlombaan. Kekompakan. Kesamaan visi. Dan tentunya, cara dan semangat memenangkan kompetisi. Tapi, penonton tetap bisa mengambil peran. Menjadi bagian dari strategi pemenangan itu. Dukungan tak kenal lelah. Serasa kecil memang. Tapi bukan tidak mungkin, justru upaya itu bisa menambah energi tim untuk menjadi kampiun.

Saya yakin, anda pun ingin menjadi bagian dari tim untuk meraih kemenangan. Karena ketika jadi juara, cerita sukses itu akan terasa manis untuk ditularkan. Masa perjuangan pun terkenang Indah. Ada rasa bangga terbersit di dada kita.

Mau merasakan aura kemenangan itu ? Mari berkontribusi. Mari mengambil peran. Sekecil apa pun itu.