Meniru Lirikan Penjajah

Meniru Lirikan Penjajah

Oleh : Ari Wijaya

.

Lamunan saya melayang 35 tahun lalu. Saat Guru Sejarah menerangkan era penjajahan di depan kelas. Kadang kami diminta membuka dan membaca dengan keras buku sejarah secara bergantian. Tak jarang kami mendengar paparan Pak Guru. Salah satu simpulan penting,  Orang-orang Eropa dulu berbondong-bondong ke Indonesia mencari rempah-rempah dan beberapa hasil bumi yang memang tidak ada di tanah mereka. Barang itu pun yang membuat mereka kaya raya. Barang komoditi. Bahkan membuat mereka tak hanya berdagang, membeli hasil bumi. Tapi bagaimana caranya menguasai lahan dan tenaga kerjanya. Itulah awal penjajahan. Untungnya pun berpuluh kali lipat. Mereka pun pewe alias posisi wuenaak. Betah sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

.

Saya coba mengulik tanaman-tanaman yang menjadi primadona. Ada pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, kunyit, vanili, dan lain-lain. Saya coba fokus kepada tanaman yang berkayu. Saya ambil contoh Pala. Tanaman asli Indonesia. Menurut data BPS tanaman ini banyak di daerah Maluku. Buah dan bijinya sudah tersohor, daya tarik Bangsa Eropa. Komoditi dunia. Biji pala mengandung minyak atsiri. Opo kuwi?  Minyak atsiri dikenal dengan sebutan minyak eteris (aetheric oil) atau minyak aromatik. Minyak yang dijadikan dasar dari wangi-wangian. Bisa minyak gosok untuk pengobatan alami. Ia memilik aroma khas. Atsiri juga seringkali disebut dengan bibit minyak wangi. Ia punya ciri khas, mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi. Belum lagi buah pala yang mengandung banyak nutrisi. Ia dapat dijadikan bahan dasar pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman seperti manisan, sirup, dan permen.

.

So, bahan dasar yang penting bukan? Terbayang merek minyak wangi terkenal tak akan bisa ada tanpa minyak ini. Tak bakal ada iklan menarik seperti di baliho atau acara televisi. Dengan model cantik rupawan dan gagah perkasa itu. Pantaslah kita dilirik bahkan dikuasai.

.

Lha, ayo . . kita tiru lirikan mereka. Lirikan para penjajah itu. Lahan-lahan kritis, ditanami kembali dengan Pala. Bisa pakai aeroseeding. Penyebaran biji dari udara pakai pesawat atau helikopter. Atau penanaman bibit pohon langsung sembari berwisata alam. Belum lagi bisa menggerakkan ekonomi. Tukang gali tanah dan perawatan bibit pohon Pala bisa menggunakan tenaga setempat. Tapi, pohon Pala ini kan tanaman yang lama menghasilkan? Benar bin betul itu. Tidak salah. Memang, perlu waktu normal 7-8 tahun untuk menghasilkan buah pertama dan dapat dipanen. Itu kalau kita tanam dengan bibit tradisional. Tunggu dulu, kita punya ahli dan sekolah yang punya laboratorium hebat. Ada namanya teknik pembibitan kultur jaringan. Ini bisa mempercepat tumbuh dan memperpendek masa panen pertama. Kita punya ahli pupuk organik. Dan masih banyak cara dan sumber daya yang hebat.

.

Saya melamun lagi, coba kalau daerah yang saat ini hutannya mulai gundul. Hamparan tanah terlihat tanpa pohon. Mulai meniru lirikan para penjajah itu. Pimpinannya menyerukan dan memberi contoh. Mereka mulai menanam pohon yang buah dan bijinya menjadi komoditi dunia ini. Setelah pohon muda stabil, baru disela-selanya ditanami jahe. kunyit, dll. Apalagi banyak petani handal, ahli tanah, ahli pertanian. Akan banyak cara dan metoda yang bisa diterapkan sesuai kondisi. Pohon pala ini akarnya bisa menahan erosi. Penyimpan cadangan air. Buah dan bijinya bernilai ekonomis. Lho, kalau banyak hasilnya, nanti harga anjlok. Supply lebih besar daripada demand. So what? Ya tunggu saja, sampai harga bagus. Atau kita yang mengatur harga dunia. Lha wong kita yang punya kok. Walaupun tidak semudah yang saya ucapkan. Tapi maskud saya, kalau kita berpikir begitu terus. Ya, nggak ada perubahan. Toh, Pohon Pala ini bisa hidup puluhan tahun. Dan hingga kini, masih jadi lirikan banyak orang.

.

Itu masih ngomongin Pala lho. Belum pohon-pohon lain yang juga bernilai ekonomis dan jadi lirikan para penjajah tempo dulu. Mau? Ayo kita tanam. Ayo kita pengaruhi saudara kita yang pegang kebijakan. Atau orang yang punya lahan. Saya jadi membayangkan kelak negeri kita bisa punya pemasukan yang bertumpu pada agro industri. Tanaman komoditi. Buktinya para penjajah itu, negerinya kaya raya karena memperdagangkan (baca: mengeruk) rempah-rempah kita. Dulu penduduk masih berapa? Sekarang? Berlipat-lipat tho?

.

Dulu bisa, sekarang tentunya lebih bisa.
Salam hijau lestari. Negeri hijau, rakyat sejahtera.

Tebang Pilih

Yayasan Itu Bisnis?

“Saya ini ngurusi yayasan, nggak punya bisnis. Tidak cari untung. Apa cocok pelatihan itu untuk kami?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada saya oleh seorang ibu muda yang diserahi orang tuanya mengurus sekolah di bawah yayasan keluarganya. Memang topiknya ada kata bisnisnya. Kala itu, saya membawakan materi bagaimana melakukan penghematan dengan perubahan proses bisnis.

Bisnis secara leterlek (bahasa Belanda : letterlijk) punya makna usaha komersial dalam dunia perdagangan atau bidang usaha atau usaha dagang. Namun bisnis secara umum bisa juga diartikan urusan.

Naah… segala urusan itu ada prosesnya. Benar apa betul? Ada yang tertulis ada yang belum ditulis dalam sebuah sistem. Itu yang disebut proses bisnis. Kenapa begitu? Ya, karena tetap ada pemasoknya alias vendornya. Proses juga dijalankan, dalam kasus tersebut belajar mengajar. Tentu saja, ada pelanggannya, bukan?

Yayasan atau organisasi sosial memang tidak berorientasi profit. Tapi tetap perlu juga eksis. Ada lho organisasi sosial yang berumur panjang. Artinya dia membawa manfaat secara luas, baik cakupan wilayah maupun jumlah orang yang menerima manfaaat. Agar masyarakat dan institusi yang menitipkan dana infaq atau bantuan, tetap dapat terbantu penyalurannya. Tentunya, jika dikelola dengan baik, maka manfaat yang dihasilkan jauh lebih banyak.

Mau yayasan tetap eksis? Mau tahu lebih dalam?
Mari ikut bergabung kelas on-line dengan klik: http://bit.ly/bisnistangguh

Wassalaam. Sampai jumpa.

Zonk?

“Coach, saya nggak punya produk buatan sendiri. Jualan saya tergantung dari produk orang lain. Kadang barangnya ada, kadang kosong. Bagaimana saya bisa meningkatkan penjualan?”

Ada sahabat yang mengalami hal yang sama? Pertanyaan serupa? Pas banyak order, ternyata barang kosong. Sudah dapat omelan pelanggan, penjualan turun drastis. Boro-boro untung, malah buntung. Kenapa buntung? Reptutasi kita nyungsep. Zonk!

Allah Tuhan Maha Adil. Ada yang jago produksi, tapi nggak piawai pemasaran dan penjualan. Begitu pula sebaliknya Jadi kalau berniaga tapi bukan produk hasil karya sendiri, juga sah. Bisa dikatakan sesuai istilah tren, drop shipper. Model bisnis yang saling menguntungkan. Yang penting pembeli puas. Apa sih kepuasan pembeli? Lazimnya, dapat barang bagus dan harga sesuai kantong alias budget. Secara umum dikatakan, bagus dan murah.

Kepuasan pembeli atau pelanggan ini saja yang jadi fokus para penjual.

Harga itu bisa disebabkan karena biaya produksi, biaya pendukung seperti biaya pengiriman,  dan juga biaya administrasi. Source atau sumber barang boleh kita peroleh dari mana saja. Itu harus, upaya meminimalkan kekosongan stok. Tapi harga yang diterima pelanggan setidaknya mirip. Jangan njomplang. Biaya produksi agak susah dikontrol, tapi biaya lain bisa kita kendalikan. Inilah faktor kunci pembeda dari yang lain. Kalau nggak kompetitif, bisa nggak ada repeat order. Jika sudah begitu, nggak ada pemasukan, tho? Bisnis  bisa zonk.

Nggak mau ikutan zonk ? Bagaimana caranya?

Silakan sahabat bisa mengikuti event on-line dengan klik link ini:
http://bit.ly/bisnistangguh

Terima kasih. Sampai jumpa.

Beri Solusi

Saya sangat bersyukur diberikan Allah azza wajalla karunia keberkahan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang spesial. Mereka adalah guru-guru saya. Ya spesial, karena mereka sudah masuk radar sebagai publik figur. Ada yang sudah jadi trainer nasional. Motivator yang sudah berkeliling ke beberapa negara. Konsultan perusahaan besar. Salah satu aktivitas di antara seabreg kegiatan padat mereka adalah membimbing kami, kalau boleh saya sebut, murid-muridnya, untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pesan guru saya sederhana tapi nancep dan dalem banget :

“Sebagai trainer itu bukan untuk unjuk kebolehan, kepintaran, atau kepakaran tapi jadilah solusi bagi orang lain. Beri solusi atas masalah yang terjadi”

Semangat ini tidak hanya untaian kata indah. Kami selain punya kegiatan mandiri dengan bisnis masing-masing, juga diberi ruang bersama. Kali ini kami ditantang untuk memberikan solusi kepada masyarakat. Terlebih saat musibah dan krisis terjadi. Berbagi pengalaman, pengetahuan dan kolaborasi untuk beikhtiar menjadi solusi. Uniknya, target pun dipatok dalam bentuk rupiah. Ini bukan berarti mengejar komersial semata. Tapi agar benar-benar sesuai target, ada yang ingin dibantu pemecahan masalahnya. Dan tentunya untuk mengukur para trainer, apakah mereka ‘diterima’ di masyarakat.

Saya pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Saya berikhtiar berbagi sesuai yang Allah SWT telah berikan selama ini, Pengalaman panjang di bidang manajemen operasional. Semoga bisa membantu, para pejuang dan pebisnis UMKM yang punya masalah karena bisnisnya mulai goyah. Setidaknya berdaya upaya bersama mempertahankan bisnis, bahkan kalau bisa melejit.

Kapan dan dimana ? Silakan simak  http://bit.ly/bisnistangguh

Terima kasih.
Semoga dapat memberi solusi. Semoga bermanfaat.

Ah… Ternyata

AH…TERNYATA…

Oleh : Satria Hadi Lubis *)

 

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa melafazkan Hermes, Chanel atau Louis Vuitton dengan benar…tapi ternyata apalah artinya saat gak bisa bedain lafadz huruf hijaiyah “da” dan “dza”, “ta” dan “tsa”, juga “sya”, “sho”… apalagi sampai usia segini belum bisa baca Qur’an dengan tartil…

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa naik pesawat melancong keluar negeri lalu foto-foto di berbagai negara….tapi ternyata apalah artinya kalau tidak pernah mengunjungi Baitullah sedang usia terus habis tak bisa dikembalikan…

Dulu dikira yang keren itu kalau anak masih kecil bisa bahasa Inggris dengan fasih… sehari-hari tinggal di Indonesia tapi ngomongnya pakai bahasa Inggris campuran…. tapi ternyata apalah artinya saat ditanya rukun iman, rukun Islam gak bisa menyebutkan dengan benar…gak tau doa sehari-hari, seolah anak gak pernah hidup untuk ibadah…

Dulu dikira yang keren itu kalau suami istri berkarir bersama…sukses dengan penampilan wah… tapi ternyata apalah artinya jika gak bisa menjadi partner untuk akhirat..tidak saling tolong dan menasihati dalam agama… lebih mentingin penampilan dibanding hakikat suami istri yang sesungguhnya…

Dulu dikira yang keren itu kalau rumah bagus.. ala-ala rancangan arsitek terkini ..tapi ternyata apalah artinya jika yang paling dibenci Allah itu adalah kemubaziran…. rumah luas dan mewah padahal tidak fungsional dan jarang dipakai …apalagi jika di dalamnya tidak dijadikan tempat ibadah dan jarang dibacakan ayat-ayat Allah…lagi pula rumah tidak akan pernah dibawa mati…..

Dulu dikira yang keren itu jika punya mobil mewah…Lamborghini, Ferrari, Alphard atau punya koleksi puluhan jam mewah…terus dipamerin di youtube….katanya untuk motivasi …padahal selubung untuk pamer saja….padahal Rasulullah saja malu jika di rumahnya ada uang berlebih lalu buru-buru beliau menginfakkannya….

Dulu dikira yang keren itu kalo weekend jalan-jalan dengan keluarga ke mall atau tempat rekreasi lainnya… tampak harmonis…dan sebar foto kemana-mana …tapi akankah berkumpul kelak di akherat jika suami isteri selalu mengajak anak-anaknya pada kesenangan dan lupa hakekat hidup yang sebenarnya…orang tua bahkan tak tahu jika selama ini anaknya belum bisa berwudhu dengan benar…

Dulu dikira yang keren itu jika sekolahnya tinggi…dengan gelar segambreng…tapi ternyata apalah artinya jika tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah…malah gelar segambreng itu digunakan untuk memanipulasi orang lain dan korupsi…

Dulu yang dikira keren itu kalau jadi pejabat….jadi manajer sebuah perusahaan top…rela mengeluarkan uang milyaran untuk ikut pilkada…tapi ternyata apalah artinya jika jabatan itu digunakan untuk petantang petenteng sambil menzalimi rakyat kecil….padahal Umar bin Khatab ra menangis ketika diangkat menjadi khalifah….seakan dunia mengubur akhiratnya…sampai beliau sulit tidur karena takut rakyatnya ada yang kelaparan…

Dulu dikira yang keren itu… ah banyak lagi…
Namun semua ternyata gak ada artinya jika tidak sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Apalagi jika jelas-jelas bertentangan…

Ah ternyata ……
Dunia ini menipu..
Dunia ini senda gurau belaka..

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Sedang negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (Qs. 6 ayat 32).

Renungkanlah….apa yang telah engkau langgar selama ini…wahai diri…
Dan segeralah menyerah kepada Rabbmu…
Sebelum kau tertipu lebih banyak lagi…

“Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu”

(QS Al An’am :31).

 

*) Satria Hadi Lubis, MM., MBA. adalah alumni Politeknik Keuangan Negara STAN. Beliau juga masih aktif tercatat sebagai salah satu Dosen di PKN STAN. Salah satu kesibukan lainnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U, lembaga yang menitikberatkan pada pengembangan human capital. Beliau juga salah satu penulis produktif buku-buku best seller.

Bapak

Semoga kita dapat meneladaninya. Para pria menjadi ayah yang dirindukan dan dibanggakan anak-anaknya karena kebaikannya.
____________

B. A. P. A. K

Oleh : Faris Jihady Hanifa

Lidah ini masih terasa kelu berbicara tentang Bapak. Jemari ini masih terasa kaku menulis tentang Bapak. Hati yang masih terus terguncang setiap kali teringat Bapak.

Suara Baritonnya masih lekat dalam ingatan. Suara yang terus melemah seiring dengan meringkihnya tubuh Bapak melawan penyakit yang dideritanya.

Bapak yang pejuang meyakini idealism dan kebenaran sejak usia mudanya, aktivis pergerakan Islam yang kokoh teguh di atas pendirian menentang kezaliman tirani di era 80an, hingga menjadi target penguasa. Cerita yang terus berulang disampaikan sejak kami kecil. Bapak yang mencintai AlQur’an sepanjang hayat, yang selalu berkata: “kalian boleh berprofesi jadi apapun, tapi AlQur’an harus yang paling utama”.

Di awal 90an Bapak seiring dengan era pendirian Gerakan Dakwah sering kali beri’tikaf di bulan Ramadan, kemudian berkeliling ke pesantren-pesantren untuk mendaftarkan kami menghafalkan Kitabullah.

Jarak yang tidak dekat ditempuhnya, meski beliau bukan orang yang berada, bergelantungan naik Bus Jakarta-Jawa Tengah ditempuhnya 1-2 bulan sekali untuk menengok kami. Kaki-kaki kecilku berlari membuncah gembira setiap telpon Bapak dan Ibu memanggil namaku, atau terdengar kabar bahwa Bapak atau Ibu menyambangi pondok.

Bapak yang mengalir dalam darahnya kesederhanaan, bersahaja, tidak membenci dunia, tapi sangat wara’ (berhati-hati) pada setiap harta yang dipegangnya. Sangat menghormati siapapun yang ditemuinya, tua, muda, senior, junior, semuanya diberi kesan terdalam.

Bapak yang memilih menjadi hamba Allah yang ingin lebih dikenal di langit dari pada di bumi, jabatan politik baginya hanya penugasan dan pelayanan, puritan tidak bergeming pada setiap godaan berat. Bapak yang seringkali mengembalikan uang dengan status “tidak jelas”.

Bapak adalah guru kehidupan, ia sangat mencintai ilmu, harta terbaiknya adalah ribuan judul buku. Wawasan luas, analisis yang tajam, kemampuan berpikir sistematis diajarkannya kepada kami dalam diskusi, buku, dan nasehat-nasehatnya.

Bapak yang cerita pada kami tentang Bosnia di tahun 1992, Palestina di tahun 1993, Intifadhah di tahun 1997, dan Afghanistan peroboh Uni Sovyet. Bapak yang fasih bicara politik global dan hukum positif, sefasihnya beliau mengajarkan AlQur’an kepada kami saat kami kecil.

Bapak yang tidak pandai berucap romantis, tapi tindaklakunya sarat dengan kasih sayang. Bapak yang selalu tenang dalam bicara, rasional dalam berpikir, sabar atas kekurangan anak-anaknya dalam berbakti.

Bapak yang kepeduliannya pada orang lain seperti menyatu dalam darahnya, setiap orang yang meminta tak pernah ditolaknya, Bapak yang selalu menanyakan keadaan siapapun yang berada dalam lingkaran perkenalannya, meski ia dalam keadaan sakit.

Bapak yang tidak segan terus belajar bertanya kepada anak-anaknya yang memiliki bidang akademik tertentu, bapak yang menjadikan kami partner dalam diskusi tentang apapun. Bapak yang sangat egaliter, mengedepankan musyawarah dalam hal apapun. Bapak yang mengajarkan kami mengenal dunia, mendorong kami belajar ke mana pun dan setinggi mungkin.

Bapak yang canda humornya berbobot, membuat kami tertawa, namun Bapak tidak tertawa terbahak-bahak, hanya terkekeh kecil saja.

Bapak yang: Sabbaqun fil Khairat (selalu unggul dalam segala lini kebaikan apapun), shalat malam yang tidak pernah putus, shalat berjamaah yang tidak pernah lupa.1 jam sblum adzan subuh sudah mengetuk pintu kamar anak-anaknya, bahkan dengan tongkatnya saat beliau sakit diiiringi suaranya yang parau. Bapak yang pelopor dalam menyambung tali silaturrahim. tak jarang bagi kami harus menemani beliau sampai kami bosan sendiri menemani kunjungan beliau dari pagi hingga larut malam. Bapak yang rajin menyambung tali kerabat hingga mereka yang tidak begitu mengenal. Bahkan mengunjungi mereka yang berada di luar kota.

Bapak yang tidak pernah beranjak dari duduknya setelah subuh hingga dhuha kecuali sudah menyelesaikan wirid Qur’aninya untuk hari itu. Bapak yang tidak melewatkan momen bertemu dengan siapapun kecuali menyelipkan nasehat.

Bapak yang: beriman kepada Fikrah (idealism) yang diyakininya, dan mendedikasikan seluruh komitmennya untuk merealisasikan idealism itu. Idealism tentang keluarga AlQur’an, idealism tentang perjuangan Islam, Idealisme tentang silaturrahim, idealism tentang sedekah dan kepedulian, idealism tentang memakmurkan masjidIdealism tentang politik yang bersih bermoral, yang membuatnya disegani kawan maupun competitor politik, idealism tentang semua kebaikan dengan prinsip: “jangan pernah menunda kebaikan”. Bapak yang disiplin menerjemahkan semua idealismenya dalam kesehariannya.

Bapak yang: selaras antara laku dengan kata. Jika bicara pendek-pendek. Tidak banyak berteori tapi tindakannya lebih dari cukup menjadi bukti.

Selamat jalan Bapak, insyaallah kita bertemu lagi. Cukuplah ribuan manusia menjadi syuhada (saksi)nya Allah bagi kebaikan Bapak di atas muka bumi, diiringi dengan cinta penduduk langit, insyaallah. Nilai, semangat, perjuangan, dan inspirasi Bapak akan tetap kekal dikenang sejarah dengan izin Allah.

Semoga Allah merahmati Bapak, dan kami hanya berkata apa yang membuat Allah ridha: “Innalillahi wa innailaihi rajiun”.

 

*) Faris Jihady Hanifa, Lc., MA. adalah putra ke-2 buah hati pasangan Alm. Mutammimul Ula, SH., MH. dengan Dra. Wirianingsih, M.Si. Salah keluarga yang dikenal sebagai keluarga penghafal Al Qur’an. Faris telah hafal Al Qur’an saat berusia 10 tahun. Allahu Akbar. Tahun 2018 lalu, berhasil menyelesaikan studi S2 di King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Tesisnya tentang Al Qur’an dan Politik Islam.