Musuhnya Orang Sukses by Jamil Azzaini

Anda ingin berhasil? Ingin menikmati hidup? Anda ingin selalu bertumbuh? Bila jawabannya YA, maka Anda perlu mengenali siapa musuh Anda.

Musuh terbesar ternyata bukan dari luar diri Anda, musuh itu Anda didalam diri Anda, dia bisa ikut kemanapun Anda pergi. Maka kenalilah agar Anda bisa memenjarakan musuh sejati Anda.

Musuh pertama bernama ALASAN.

Cobalah perhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di atas rata-rata, mereka semua menjauhi alasan. Mereka lebih fokus pada peluang dan solusi dari berbagai kejadian yang terjadi.

Alasan ini terkadang datang dalam bentuk pembenaran-pembenaran. Misalnya, “Ya wajarlah dia sukses sebab semua fasilitas tersedia. Sementara saya hidup dalam banyak keterbatasan, sudah bisa hidup begini saja sudah alhamdulillah.” Ucapan itu terlihat benar dan bijak, padahal terkandung alasan yang melemahkan. Ketahuilah, alasan itu mematikan kreativitas, membuat pikiran buntu dan membuat hidup Anda semakin kalah dan terpuruk.

Musuh kedua bernama TAKUT GAGAL.

Apakah tidak boleh takut? Boleh dan sangat dianjurkan untuk takut kepada Allah, takut berbuat maksiat, takut makan gaji buta dan sejenisnya. Namun Anda tidak boleh TAKUT GAGAL. Mengapa? Karena kegagalan itu pasangan sejatinya kesuksesan.

Tak ada orang sukses yang tak pernah gagal. Bahkan setiap kita pasti punya jatah kegagalan, habiskanlah selagi masih muda. Jangan sampai kegagalan justru datang di saat kita sudah tak bertenaga karena dimakan usia. Jadikan gagal menjadi pelajaran di dalam kampus kehidupan.

Musuh ketiga bernama ENTAR.

Entar alias malas dan sering menunda-nunda pekerjaan. Saat orang tua minta tolong dengan ringan Anda menjawa “entar bu.” Saat teman Anda minta tolong ucapan yang otomatis keluar “entar ya.” Saat ada pekerjaan di depan Anda yang terucap “entar ah.”

Apabila kata entar sudah sering terucap secara otomatis dari mulut Anda, itu pertanda salah satu musuh kehidupan sudah mengalahkan Anda. Segeralah sadar, lawan dan kini giliran Anda memenjarakan musuh yang bernama entar itu. Jangan terbiasa menunda pekerjaan. “Jangan mudah berkata entar tapi segeralah enter (masuk) dalam pekerjaan Anda” begitulah nasehat dari orang bijak.

Musuh kehidupan itu banyak, tapi tiga hal tersebut adalah “pemimpinnya”.

Segera kalahkan, bila kita ingin hidup di atas rata-rata.

 

*Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia

CEO Kubik Leadership. Owner puluhan bisnis yang juga penulis buku.

Kunjungi web beliau : www.jamilazzaini.com

Chief Servant

Dua hari lalu saya dikejutkan oleh sebuah kartu nama. Di bawah namanya tertulis “Chief Servant”. Setahu saya beliau adalah CEO & President Director salah satu perusahaan asuransi ternama.

Ternyata beliau mengubah paradigma melalui sebutan dan jabatan. Ya, ‘Kepala Pelayan’. Betul juga karena ia memimpin ribuan karyawan yang memang melakukan pelayanan terkait jasa perlindungan kepada pelanggan perorangan maupun korporasi.

Ini mirip yang dilakukan Tim Supply Chain di salah satu perusahaan roti ternama di Indonesia pas saya bergabung 13 tahun lalu (Salam hormat saya untuk Pak Haji Zainal). Perubahan nama sopir menjadi Distribution Representative (Disrep) dan keneknya diberi sebutan Assistant Distribution Representative (Asdisrep). Ketika itu tugas mereka memang tidak sekedar nyupiri truk untuk mengirimkan roti ke toko pelanggan. Mereka juga melakukan aktivitas pelayanan lainnya. Mereka menata produk di rak. Melakukan pemilahan dan pengambilan kembali jika ada yang kadaluwarsa. Plus melakukan penagihan. Nama itu juga memberi kebanggaan tersendiri bagi pemegang peran.

Memori saya berputar. Saya jadi teringat pelatihan dua tahun lalu tentang bagaimana melayani dengan hati yang dibawakan Agni Shanti Mayangsari. Pelatihan untuk seluruh leader yang tersebar di Indonesia. Pemimpin pada fungsi pelayanan di jajaran bagian umum dan property manaegemnt. Pelatihan Hearty Service yang dibawakan dengan sepenuh hati. Sejatinya kita adalah pelayan. Ketika pelayan memberikan servicesnya dengan sepenuh hati, hasilnya wow, spektakuler. Di luar dugaan. Hasil yang melebihi ekspektasi seluruh stake holder.

Semoga Pak Kepala Pelayan (salam hormat saya Pak Sabam) juga segera mendapatkan hasil yang spektakuler. Meski, perubahan nama jabatan nampak sepele. Mindset bisa berubah. Hasil bisa jauh melampaui batas yang diharapkan.

Perkenankan saya berbagi buah tangan, karya Agni Shanti Mayangsari untuk dapat menjadi rujukan bagi pelaku di bidang pelayanan. Tanpa terkecuali. Karena memang sejatinya kita adalah abdi, pelayan.

Goodluck, Chief !

Pun kepada Sahabat yang lain, selamat menikmati…

Salam terobosan ! Terus bekarya untuk negeri !

Berikut ini salah satu artikel tersebut.

Tiga Jurus Jitu Menerobos Hati Customer

by Agni S. Mayangsari, Hearty Service Trainer

Surabaya, 2 September 2016

Happy Customer Day everyone!

Yup hari ini ditetapkan sebagai Hari Pelanggan. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan melakukan hal-hal berbeda hari ini untuk merayakannya. Klo kamu? Hal apa yang kamu lakukan secara berbeda hari ini untuk membahagiakan pelangganmu?

Well… Sebelum jawab pertanyaan diatas, jawab yang ini dulu ya: Siapa sih pelangganmu?

Mungkin ada yang jawab: para pasien di RS tempatnya bekerja, para nasabah di Bank tempatnya bekerja, para tamu di Hotel tempatnya bekerja, para masyarakat yang dilayani oleh instansi tempatnya bekerja, para peserta didik di Sekolah tempatnya bekerja, dll. Jika jawaban kamu adalah salah satu dari yang saya tulis ini, maka kamu memilih tipe Customer External sebagai jawabanmu.

Tapi… apakah saat menjawab pertanyaan tentang “Siapa sih pelangganmu?”, juga terlintas wajah rekan-rekan sejawat di tempatmu bekerja? Apakah kamu juga terpikir akan keluarga tercintamu di rumah? Sadarkah kita bahwa mereka juga customer kita, customer internal.

Banyak dari kita yang piawai melayani customer tipe pertama, yaitu para customer eksternal namun lupa berlaku ramah pada customer internal. Pada hari pelanggan ini, ijinkan saya berbagi 3 jurus ampuh menerobos hati customer terutama pada menit-menit pertama bertemu dengan mereka.

1. Senyum
Iya, senyum. Menggerakkan bibirmu ke kanan-kiri secara seimbang dengan setulus hati. Kuncinya ada pada kata seimbang. Karena jika gerakan bibirmu tak seimbang antara kanan-kiri, ia bisa bermakna senyum yang menghina atau sinis. Dan tahukah kamu senyum ini adalah senjata ampuh pertama yang bisa menjadikan hubungan dengan orang lain menjadi lebih mudah. Senyum juga merupakan simbol sambutan dan penerimaan pada orang lain, termasuk para customermu.

2. Kontak Mata
Apalah arti senyum jika tak disertai kontak mata. Maka, jurus kedua yang dibutuhkan untuk mendampingi senyum adalah: menatap mata customermu. Tentu dengan tatapan yang ramah. Tatapan mata yang berasal dari mata yang sedikit menyipit dan alis sedikit menurun. Bukan sekedar tatapan mata kosong bahkan melotot. Begitu pentingnya tatapan mata atau eye contact ini, sampai dianjurkan dalam dunia pelayanan untuk memberikan eye contact tidak kurang dari 60% dari total interaksimu dengan customermu.

3. Anggukan Kepala.
Jurus ketiga inilah yang bikin jlebb saat menerobos ke hati pelangganmu. Anggukan kepala adalah bentuk penghargaan pada orang lain. Dan basic needs of people is to be recognized. Kebutuhan mendasar setiap orang adalah dihargai keberadaannya. Maka sempurnakan senyum dan tatapan matamu dengan anggukan kepala. Anggukan kepala ini bisa kamu ubah arahnya sesuai tipe customermu. Jika eksternal, mengangguklah dengan anggun ke bawah. Jika ia rekanmu, customer internalmu, kamu bisa gerakkan dagumu sedikit ke depan.

Tiga jurus ampuh ini bisa kamu lakukan bahkan sebelum kamu berkesempatan melayani customermu. Hanya butuh beberapa detik saja untuk melakukan tiga jurus jitu ini. Ketika kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu atau sedang melayani customer di depanmu, misalnya, tiga jurus tadi bisa kamu gunakan untuk menerobos hati customer yang sedang menunggu atau yang baru tiba di tempat pelayananmu. Mudah bukan?

Yuk mulai sekarang perbanyak: Senyum + Kontak Mata + Anggukan Kepala, dan lihat bagaimana para hati customermu akan tertembus olehmu.

 

www.heartyservice.com

FLIP dan VUCA

FLIP dan VUCA

by Rhenald Kasali, Guru Besar UI

Koran Sindo,  21 Februari 2013

Di sana gelap di sini terang. Ketika Eropa dilanda krisis, pengusaha Aksa Mahmud bisa memborong pesawat-pesawat kecil yang dipakai untuk bisnis logistiknya menembus kota-kota terpencil di Papua. Susi Air juga maju pesat, dari 22 pesawat carter kini sudah 45.

Di Hilman Restaurant yang asri di kantor pusat Susi Air di Pangandaran, suatu malam saya menikmati makan malam bersama pilot-pilot muda Susi Air.  Saya absen mereka satu persatu. Dua  orang berkebangsaan Spanyol, dan masing-masing satu dari Prancis, Belanda, Finlandia, Italia dan New Zealand. Muda, gagah, disiplin dan sudah mulai mengerti bahasa Indonesia.

Mengapa mereka mau bekerja di Susi Air? Harap maklum, dari 700 pegawai Susi, 200 adalah berkebangsaan asing. Jangan salah, gaji mereka tidak besar-besar amat, dibandingkan mahasiswa saya yang baru lulus tentunya. Ada 2 hal, yang pertama mereka perlu jam terbang, dan pelatihan yang bagus (Susi Air memiliki fasilitas pelatihan yang baik) dan kedua, yang lebih penting, negeri mereka sedang dilanda krisis yang membuat mereka benar-benar menjadi generasi VUCA:

Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Lantas kalau Anda bertanya mengapa Susi Air tidak pakai pilot lokal saja, maka jawabnya adalah di sini terjadi short supply. Pasokan pilot jauh di bawah kebutuhan industri jasa aviasi nasional yang melonjak tinggi belakangan ini.

Lantas apakah generasi muda Indonesia yang sedang menikmati aneka gadget, gaya hidup,  berangan-angan jadi wirausaha hebat dan menikmati kemajuan ekonomi akan terbebas dari gejolak VUCA?

Pasca 2015
Benar investasi besar-besaran sedang banjir mendatangi Indonesia saat ini menyongsong pasar bebas Asean bersama mitra-mitra dagang besar lainya di 2015. Indonesia telah dilirik sebagai ladang baru bagi investor global. Kalau anda terbang rendah naik Susi Air dari Halim Perdanakusumah, anda bisa melihat secara kasat mata. Geliat roda ekonomi tengah bergerak di kantong-kantong Industial Estate mulai dari Bekasi hingga Purwakarta. Data-data di BKPM juga menunjukan kemajuan serupa di Jawa Tengah, Jawa Timur dan propinsi-propinsi yang sudah siap lainnya.

Persaingan antara para pemberi kerja dan investor akan menjadi kenyataan di tahun ini. Sementara tahun 2015 indonesia akan memiliki presiden baru yang harus bertempur habis-habisan menegakan disiplin, membuang  tradisi  “asal bapak senang”, menata kembali subsidi (yang kini banyak dihambur-hamburkan kepada pihak yang tidak berhak), meremajakan birokrasi, memperbaiki mutu pendidikan, memperkuat indrustri (dan menekan import), menjalankan komitmen moratorium ekspor tenaga kerja ke luar negri (untuk sektor-sektor informal) terutama di kantong-kantong TKI, mengharmonisasikan hubungan pusat-daerah, menghapus tumpang tindih yang begitu kuat antara satu kementrian dengan kementrian lainnya (juga intra kementrian), menerapkan UU Aparatur Sipil Negara yang baru, menjalankan UU Pengolahan sampah (yang harus sudah dijalankan sejak tahun ini), memperbaiki kualitas penegakkan hukum, meningkatkan produksi pangan , mempercepat pembangunan infrastruktur, mengeksekusi mati penjahat-penjahat narkotika, dan tentu saja memberantas korupsi.

Banyak juga ya PR nya?
Itu sebabnya Indonesia tidak lepas dari VUCA, sehingga akan ada banyak kejutan yang harus siap diantisipasi sesaat setelah presiden baru terpikih. Sampai kini Anda belum tahu siapa calon terkuat kepala Negara, apalagi kualitas mentri-mentrinya. Tetapi semakin mereka menunda masalah semakin besar Volatility (dynamic change) dan Uncertainties yang harus dihadapi dunia usaha dan birokrasi. Apalagi bila perekonomian Eropa membaik. Pilot-pilot asing akan kembali pulang, padahal dari kebutuhan 1200 – 1500 pilot baru setiap tahunnya, Indonesia hanya baru mampu menyediakan 100 – 150 orang. Belum lagi dana-dana internasional yang begitu cepat berpindah.  Jadi jauhkanlah diri anda dari pikiran kalau ekonomi membaik semua pasti akan lebih baik. Sejarah mengajarkan kepada kita, ladakan-ledakan besar justru banyak terjadi di tanjakan yang berat. Dan di sana akan ada banyak kendaraan-kendaraan yang terkapar, mogok, bahkan harus ditarik ke belakang.

FLIP
Liz Guthridge, pakar VUCA memperkenalkan metode FLIP unuk mengantarkan generasi-generasi baru menghadapi dunia VUCA. Ia mengatakan:

“If you stand still, you’ll fall behind. Movement alone, however, doesn’t guarantee success”.
Jadi diam saja tidak menyelesaikan masalah.   Anda perlu mitra-mitra yang tepat dan bisa menjadi komplemen yang tangguh.

FLIP adalah akronim dari:

Focus, Listen, Involve, dan Personalize.

Di abad VUCA ini, menurutnya, CEO-CEO dan pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu :
Menfokuskan pikiran dan tindakannya pada sasaran yang berdaya hasil tinggi (Focus),
Mendengarkan (Listen) pada siapa yang harus didengar (yang penting-penting dan berdaya hasil tinggi),
Membangun keterlibatan yang luas dengan menghapus tradisi feodalisme atau kebiasaan bekerja pada silo masing-masing (Involvement);
Dan menjalin percakapan penuh arti dengan stakeholder secara personal, bahkan massal (Personalize).

Mungkin Anda mengatakan “saya sudah FLIP kok”, namun saya harus menyampaikan FLIP yang sudah Anda jalankan mungkin tidak tepat. Telah banyak suara bising yang semuanya minta didengar di sini. Televisi saja sering mengangkat isu-isu yang tidak penting, tetapi penuh drama sehingga seakan-akan sudah menjadi masalah besar. Bayangkan, stasiun televisi berita (swasta, nasional) yang begitu besar saja menurunkan berita pagi (pukul 06.00) dari Kota Medan tentang kebakaran sebuah bengkel kecil. Kalau kemampuan reportase dan mengangkat berita para awak media saja masih seperti ini, bisa dibayangkan betapa kusutnya persepsi kita tentang dunia yang kita hadapi.  Demi kecil kita jadikan pegangan bahwa itu kemauan rakyat, tuntutan orang luka batin kita anggap sebagai hal yang harus dimenangkan.

Saya juga memiliki banyak pengalaman pribadi dalam menerima umpan balik masyarakat dari tulisan-tulisan yang saya angkat. Sebuah organisasi guru yang sangat vokal misalnya mati-matian menolak gagasan-gagasan saya tentang perubahan pendidikan. Anehnya saya menduga pandangan mereka benar karena mereka adalah kumpulan guru-guru. Mereka jugalah yang memberi umpan kepada Mahkamah Konstitusi untuk menghapuskan RSBI. Namun setelah saya dengarkan, dan pelajari ternyata mereka sebagian besar bukanlah guru.  Mereka hanya mewakili suara orang-orang iseng yang ingin eksis, ingin didengar, ingin terlihat pandai namun mempunyai goresan-goresan tajam lukan batin yang tak jelas dari mana sumbernya. Mereka telah menjadi alat kaum “losers” yang takut kehilangan proyek-proyek buku atau pelatihan-pelatihan yang biasanya bisa didapat karena buruknya sistem pendidikan nasional. Tetapi demi impresi yang besar, orang-orang seperti itu dibiarkan menjadi “member” aktif dakam beberapa organisasi guru. Bayangkan apa jadinya bila pandangan oang-orang “sakit” diterima sebagai masukan penting oleh Mahkamah Konstitusi? Kalau para pengambil keputusan sudah genit ingin jadi presiden, maka bukan masa depan lagi yang akan dibangun, melainkan popularitas yang dapat dibaca dari “keras-tidaknya” aung-an kemarahan pada social media dan social TV.

Jadi berhati-hatilah dalam berselancar di atas papan selancar FLIP. Pilih mana yang harus difokuskan, bebaskan pemimpin dari kegenitan populos, pilih siapa yang harus didengar (dan perhatikan bahasa mereka), bangun keterlibatan yang sehat, serta jalin hubungan personal (customize).

Bersiaplah memperbaharui kepemimpinan. Itulah FLIP untuk mengendalikan Volatilitas, Ketidakpastian, Kompleksitas dan Keragu-raguan.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Tawaran Reno untuk Tesla dari Gubernur Gila

 

Senin, 25 April 2016

Ini tidak mungkin terjadi di Indonesia. Seorang gubernur begitu nekatnya. Semata-mata hanya karena ingin daerahnya maju. Dengan cara melompat. Bukan dengan jalan santai.

Gubernur ini sedang bersaing dengan gubernur di Phoenix, Negara Bagian Arizona. Dua gubernur itu sedang memperebutkan investor kakap. Yang akan membangun pabrik raksasa. Dengan investasi USD 5 miliar atau sekitar Rp 70 triliun.

Dia tidak mau kalah oleh Phoenix. Investor itu harus masuk daerahnya. Memang gersang. Dan terpencil. Tapi, dia memberikan tawaran insentif yang menggiurkan. Dan pelayanan yang istimewa.

Dia hubungi sang investor. Dia rayu agar mau meninjau daerah yang dia tawarkan. Sebelum ambil keputusan. Dia tawarkan pesawat jet khusus. Yang akan menjemput sang investor di New York.

Sang investor melihat tawaran itu begitu serius. Dia memang menolak penjemputan khusus itu. Tapi setuju untuk datang. Dengan rombongannya.

Gubernur itu memang gila. Saat menjemput sang investor di bandara, dia bawa satu berkas. Dia serahkan berkas tersebut. Isinya: segala macam izin. Termasuk izin bangunan.

Dengan izin itu, sang investor sudah bisa mulai membangun. Hari itu juga. Kalau mau. Tidak perlu menunggu janji surga: yang cepat lah, yang jemput bola lah, yang gratis lah…

Berkas itu belum keputusannya yang paling gila. Dia berikan keputusan ini saat itu juga: keringanan pajak. Itu mah bukan keringanan. Melainkan pemaksaan. Pemaksaan yang menyenangkan. Sang gubernur memutuskan agar sang investor tidak perlu membayar pajak selama 20 tahun! Yang kalau dinilai uang sebesar Rp 15 triliun. Tepatnya USD 1,3 miliar.

Investor itu adalah Tesla. Produsen mobil listrik di Amerika.

Gubernur itu adalah Brian Sandoval. Gubernur Negara Bagian Nevada. Yang sebagian besar wilayahnya padang pasir. Sebagian lagi padang sabana. Sebagian lagi gunung batu. Sebagian lagi canyon. Hanya sebagian kecil yang berupa kota-kota kecil. Kalaupun ada kota besarnya, itu kota bikinan. Yang dibangun di tengah padang pasir. Khusus untuk perjudian: Las Vegas.

Kota-kota asli lainnya hanya ada di wilayah utara. Kecil-kecil semua. Ada kasinonya semua. Termasuk kota kecil Elko dan kota kecil terbesar di dunia ini: Reno. Saya sempat bermalam di Elko. Untuk merasakan kehidupan di tengah sahara. Juga bermalam di Reno. Untuk melihat proyek Tesla yang terbesar di dunia itu. Yang letaknya satu jam perjalanan mobil dari Reno ke arah Elko.

Tesla akhirnya memang memutuskan ini: menerima tawaran gubernur gila itu. Pabrik tersebut nanti seluas 1 juta hektare. Terluas di dunia. Luas bangunannya sendiri hanya kalah sedikit oleh pabrik Boeing.

Dari Reno, saya meluncur melalui I-80. Jalan raya antarnegara bagian. Interstate 80. Sepanjang jalan bergunung dan berlembah. Terlihat banyak mustang liar di lereng-lereng gunung. Bergerombol. Di kawasan itu, lebih dari 300.000 kuda liar dilindungi. Termasuk jenis mustang. Orang asli Indian yang diperbolehkan untuk berburu kuda.

Di exit 32, saya keluar dari I-80. Ada jalan baru empat jalur. Khusus dibangun untuk menuju pabrik baru Tesla. Panjangnya 8 km.

Di kanan-kiri jalan itulah bangunan-bangunan baru terlihat. Gudang-gudang. Dan bangunan pabrik. Sudah ada juga sekelompok bangunan yang terdiri atas berbagai restoran. Untuk yang bekerja di proyek mega factory itu.

Tampak juga pabrik pengolahan material bangunan. Juga pusat distribusi Walmart. Rupanya proyek itu memerlukan begitu banyak barang yang dipasok oleh Walmart.

Itulah yang diperlukan Gubernur Sandoval. Hidupnya perekonomian Nevada. Yang akan menyerap 6.000 tenaga kerja setempat.

Saya lihat, ada pembangkit listrik besar di dekat situ. Ada juga sungai. Yang mata airnya dari Danau Tahoe. Komplet. Keperluan utama pabrik tersedia.

Kawasan itu juga indah. Bergunung-gunung. Ngarainya cukup untuk lokasi mega factory tersebut. Dan suhu musim panasnya tidak sepanas Phoenix yang di selatan itu. Lokasi Tesla itu berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut. Lebih tinggi daripada Kota Bandung.

Tesla memang sudah sampai pada point of no return. Mobil listrik harus menjadi masa depan. Menggantikan mobil bensin. Pasar Tesla semakin besar. Kian laris. Tahun depan sudah akan menjual 500.000 mobil. Orang Amerika sudah mau inden. Termasuk harus bayar uang muka USD 1.000 dolar. Untuk memesan Tesla tipe baru tiga tahun lagi.

Hambatan mobil listrik sekarang ini tinggal satu: baterai. Masih mahal. Dan berat. Tesla kini memecahkan kesulitan itu. Dengan proyek USD 5 miliar di Reno ini. Inilah pabrik yang khusus akan memproduksi baterai. Bekerja sama dengan Panasonic, Jepang.

Dengan memproduksi baterai secara besar-besaran, skala ekonominya tercapai. Harga baterai bisa turun 30 persen. Persoalan utama mobil listrik teratasi.

Gubernur Sandoval pun jadi buah bibir. Tahun lalu dia terpilih lagi. Dia menjadi gubernur pertama di Nevada yang keturunan Meksiko. Istrinya juga Hispanik.

Dia berasal dari Partai Republik, tapi pro-Obama. Obamacare pun dia laksanakan. Bahkan, dia setuju dengan apa yang paling dibenci Republican: aborsi.

Saya usul agar dibangun pula museum Tesla di Reno. Museum Tesla yang berada di dekat Denver sudah tutup. Kurang dana. Saya kecele. Jauh-jauh ke Colorado Springs, menemukan museum yang tutup.

Listrik memang ditemukan Thomas Edison. Tapi, Nikola Tesla-lah yang membuat temuan itu bisa dilaksanakan. Bisa diproduksi, disalurkan, dan dipakai oleh manusia.

Saat membaca biografi orang New York kelahiran Kroasia pada 1856 itu, saya sering tersenyum. Dia mengaku hanya perlu tidur dua jam sehari. Waktunya habis di penciptaan. Lebih dari 300 paten listrik di Amerika dia miliki.

Ditanya mengapa bisa begitu cerdas, Tesla menjawab dengan enteng. Dia punya kebiasaan ini: tiap hari memelintir-melintir jari-jari kakinya.

Guyub by Salim A. Fillah

GUYUB
@salimafillah

“Dan saling tolong menolonglah di atas kebajikan dan taqwa..” (QS Al Maidah: 2)

Bulan lalu di sela menjadi pembicara dalam Kuala Lumpur International Bookfair, saya berbincang dengan wartawan stasiun televisi antarbangsa yang berpusat di Doha, Qatar. Satu kata untuk menggambarkan Indonesia ujarnya adalah, “Guyub”.

Hidup rukun bahu membahu dalam perjuangan adalah kekuatan bangsa kita.

Dia mengisahkan dengan sedih bagaimana di sebuah negeri, hanya karena berbedanya partai yang memerintah di tingkat pusat dengan negara bagiannya, penanganan banjir berlarut dan nestapa korban berlanjut.

“Di bulan ketiga sejak kejadian”, tuturnya, “Saya masih menemukan seorang nenek bekerja membersihkan lumpur setinggi lutut dari rumahnya. Sendirian. Ya, sendirian!”

“Saya katakan saat itu”, lanjutnya, “Ini haram terjadi di Indonesia. Di sana orang akan menyingsingkan lengan bersama sejak hari pertama untuk meringankan kesusahan, dan kerja dimulai dari anggota masyarakat yang paling lemah.”

Ketika berjumpa dengan orang berwenang di wilayah banjir itu saya sampaikan :

“Mengapa hanya karena perbedaan politik urusan kemanusiaan dikalahkan? Anda lihat Aceh kan? Tigapuluh tahun tentara dan orang GAM pegang senjata dan baku tembak nyaris tiap hari. Tapi begitu wilayah itu disapu tsunami, saya melihat sendiri, ada orang mengangkut mayat dengan usungan, yang depan personel tentara dan yang di belakang milisi GAM!”

“Anda sebagai orang Indonesia harus bangga”, sambung wartawan itu dengan mimik serius kepada saya,

“Karena laporan di negara-negara donor dan lembaga bantuan tentang bencana di Indonesia, ambillah contoh Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, semua mengatakan, ‘Recovery berlangsung berlipat lebih cepat dari perkiraan! Bahkan penanganan bencana topan di negara adidaya itupun kalah!”

Guyub adalah kita.

Lalu kami bertukar cerita tentang kelucuan kunjungan para donatur dari Timur Tengah di Yogyakarta sebakda gempa, 27 Mei 2006.

Saya pernah mengantar seorang Syaikh perwakilan muhsinin dari Kuwait untuk menyampaikan santunan ke sebuah wilayah di Bantul. Dalam bayangan mereka, bencana ini begitu mengerikan, pastilah yang akan mereka jumpai adalah orang-orang yang wajahnya memelas penuh penderitaan berdiri berlinang airmata di dekat rumahnya yang luluh lantak.

Rumah-rumah memang luluh lantak.

Tapi mereka bingung ketika sebuah tenda pesta lengkap dengan panggungnya dihias dekorasi cantik dan tulisan Arab “Ahlan wa Sahlan” menanti rombongan. Hidangan makan prasmanan tersedia. Kesenian Hadroh telah siap pentas untuk menyemarakkan acara. Dan hadirin, sebagian dengan batik dan sarung rapi, sebagian lagi pakaiannya masih berdebu sisa bekerja bakti bersama membersihkan puing dan membangun hunian tenda; semua wajahnya cerah ceria.

Tak ada duka. Senyum anak-anak terkembang, tawa mereka lepas saat bermain dan berkejaran.

“Ya Salim”, kata sang Syaikh, “Wein al bala’? Ini walimah namanya. Bukan musibah. Bagaimana saya bisa membuat laporan untuk atasan saya kalau suasana fotonya macam begini?”

Saya menahan tawa dan agak kesulitan menjelaskan. “Ya Sidi”, ujar saya, “Selama bukan bencana iman, bukankah senyum tetap dapat menjadi kawan bagi musibah?”

Kawan wartawan itu mengisahkan hal serupa. Donatur dari Qatar yang disertainya membayangkan bahwa penyerahan kunci hunian sementara kepada para korban gempa akan dihiasi tangis haru yang agak pilu. Tapi ternyata, di tiap pintu, dia disuguh senyum, juga teh melati yang panas, wangi, dan manis ditambah lemper, bakwan, dan jadah dengan tempe bacem buatan sendiri.

Masyarakat guyub, begitu cepat mereka bangkit.

Guyub adalah perintah Allah dan RasulNya, ‘amal kebersamaan yang menjadi ukuran iman kita di keseharian. Ia adalah cinta, kepedulian, dan gotong royong yang mencirikan tingginya keadaban.

Guyub adalah pujian Rasulullah kepada kaum Asy’ari di Yaman yang jika musim paceklik tiba, maka mereka mengumpulkan persediaan makanan yang ada dalam simpanan masing-masing menjadi satu. Sebakdanya, konsumsi masing-masing diambil seperlunya dan sama rata, tak lagi diperhatikan berapa yang disumbangkannya, kecuali dalam cinta.

Saya teringat Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang dibangun Sultan Hamengkubuwana I. Di plafon serambinya yang kaya pahatan simbol penuh makna, ada  ukiran sulur-sulur tumbuhan yang saling bertaut tiada putus. Dalam Bahasa Jawa ia disebut lung-lungan, yang jika dimekarkan menjadi “tulung-tulungan”, dan artinya adalah saling membantu dalam ketaatan.

“Wa ta’awanuu ‘alal birri wat taqwaa..”

Ah, kalau ada yang dapat kita tawarkan dari Indonesia untuk kepeloporan kebangkitan ummat Islam di seluruh dunia, barangkali ia adalah “guyub”. Dan alih-alih menunggu musibah, menajamkan kembali rasa guyub yang kian mahal di masyarakat adalah tugas peradaban kita hari ini.

Apa Peranmu ?

Menjelang sore, saya mendapat kiriman pesan dari seorang sahabat dari group WA.

Pesannya sangat mengena pada diri ini.

Makjleb !

Memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Ijinkan saya share penggalan pesan itu kepada para sahabat di sini :

“Ternyata dunia ini bukan soal di mana kita. Dunia adalah soal peran apa yang kita mainkan ke manapun takdir Allah menuzulkan jasad ini. Dan peran itulah yang kelak kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Boleh jadi ia bekal. Atau beban. Kita disilakan untuk memilihnya”.
(Salim A. Fillah)

Terima kasih ya, Allah. Terima kasih, Ust. Salim.
Kiriman pesan itu, lebih menyadarkanku.
Insya Allah terus berbenah.

Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT, kan ?

“Mainkan Saja Peranmu, Tugasmu Hanya TAAT kan?!”

Oleh : Salim A. Fillah

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.

Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab.

Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis.

Mainkan saja peranmu, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk.

Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? Tetaplah berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut.

Mainkan saja peranmu dengan sebaik sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam, menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.

Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu.
Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ya, taat. Bagai Nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasah menjadikan kekuatan untuk tetap taat.

Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-NYA, dan karena-NYA.