Tuhan… Ini Owe !!! by Satria Hadi Lubis

Tuhan…ini owe !!!
By Satria Hadi Lubis

Acong, seorang pegawai yang sangat lugu dan setia. Ia punya kebiasaan unik.

Tiap kali makan siang dan pulang ke rumah, dia selalu menyempatkan untuk berhenti di depan pintu rumah ibadah yang dilewatinya untuk berdoa sejenak.

Dua belas tahun sudah, ia lakukan dengan setia. Sampai suatu hari ada yang bertanya :

“Acong, apa yang loe lakukan di depan pintu rumah Tuhan setiap hari?”

Jawab Acong :

“Owe berdoa”

Ditanya lagi, “Doa apa?”

Acong menjawab :

“Singkat saja. Tuhan, ini owe, Acong”

Suatu hari Acong sakit, masuk ruang ICU.

Ia merintih kesakitan dan berseru :

“Tuhan, ini owe.”

(Setiap rasa sakit mendera tubuhnya, ia selalu panggil nama Tuhan)

Sampai suatu malam Acong bermimpi, Tuhan datang, menyentuh kening Acong dgn lembut sambil berkata :

“Acong, ini Owe”

Acong senang sekali, dia langsung duduk. Tapi, yang menyapa sudah menghilang.

Dilepasnya selang infus, dia keluar dari ruang ICU mencari Tuhan.

Perawat kaget dan bertanya :

“Mau ke mana, Koh?”

Acong menjawab singkat :

“Owe mau nyari Tuhan yang menyapa Owe”

Perawat berpikir Acong ngelindur. Tapi ia heran, waktu diperiksa ternyata Acong sudah sembuh total dan sehat seketika itu juga.

KESIMPULAN :

Tuhan sayang dengan orang yang tulus hati & setia. Tuhan tidak butuh kepandaian kita, DIA tidak butuh fasih lidah kita.

DIA tidak butuh doa yang panjang dan dahsyat..

DIA tidak kagum dengan hebatnya pelayanan kita, indah dan megahnya gedung kita.

Satu hal yang pasti, Tuhan melihat sampai jauh ke dasar hati kita, apa yang menjadi motivasi dan kerinduan kita saat mengiring DIA. Hanya dengan bilang “owe” itu sudah lebih dari cukup ! Tuhan sudah tahu dan mengerti.

Tuhan, ini owe !

Catatan khusus dari Satria Hadi Lubis :
Meskipun SEBAIKNYA berdoa dengan MENERAPKAN ADAB BERDOA, namun cerita ini menggambarkan orang yang ingin selalu bersama Allah SWT.

Dan sesungguhnya Allah Maha Tahu permintaan hamba-Nya.

 

Catatan :

Mari sahabat, kita perbanyak menyapa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bermunajat. Bersimpuh menghamba kepadaNYA. DIA dzat yang paling tepat sebagai tempat mengadu.

 

*) Satria Hadi Lubis, lahir di Jakarta bulan September 1965. Kandidat Doktor ini adalah dosen, trainer, penulis buku, dan juga motivator. Beliau dan keluarga menetap di Perumahan Amarapura, Setu, Tangerang Selatan.

Buku karya Satria Hadi Lubis yang layak disimak diantaranya : ‘Burn Yourself’, “Breaking the Time’, ‘Total Motivation’,  dll.

 

 

Kata-katamu Adalah Doamu by Awang Surya

KATA-KATAMU ADALAH DOAMU

Hari itu usai mengisi forum kajian Islam di sebuah masjid, saya buru-buru pulang. Di rumah telah menunggu seorang yang sangat spesial bagi saya. Umi, begitu saya memanggil ibu saya, tengah ada di rumah saya. Dua hari yang lalu beliau datang dari kampung untuk menengok anak laki-lakinya.

Saat saya sampai di rumah Umi sedang duduk-duduk di teras rumah. Hal itu mengingatkan saya pada kebiasaan lama di kampung. Saban malam terang bulan kami sekeluarga duduk-duduk di serambi rumah menikmati malam purnama. Maka usai mencium tangan Umi, saya menemani beliau duduk-duduk di teras rumah.

“Nak…. hati-hati kalau ngomong sama anak,” ucap Umi saat saya baru saja duduk selonjor.

“Memang kenapa, Mi?” tanyaku penasaran.

“Kata-kata Umi kepada anak-anak yang Umi ucapkan bertahun-tahun lalu, kini sudah banyak yang jadi kenyataan,” tutur Umi.

“Apa contohnya, Mi?” kejarku sambil menatap wajah beliau.

“Dulu, Nak…. ketika kamu masih kecil,” ujar Umi.

Umi terdiam. Tampak beliau menahan rasa haru yang dalam. Saya ikut terhanyut suasana haru.

“Ketika kamu masih kecil,” lanjut beliau dengan terbata-bata. “Umi sering bilang…. kalau kamu nanti besar, kamu akan jadi ustadz di Jakarta, Nak,” ungkap Umi.

“Subhaanallah!” pekikku lirih.

Saya merenungi kata-kata Umi itu baik-baik. Sekilas lamunan saya kembali pada masa kanak-kanak di kampung. Saat itu dengan berbagai keterbatasan kami sekeluarga, jangankan ke Jakarta, ke kota Kabupaten saja belum tentu sebulan sekali bisa kami lakukan. Maka ucapan Umi saat itu tentu saja sebuah kemustahilan. Tapi kenyataan hari sudah membukakan mata saya, bahwa kata Umi itu kini benar-benar telah terwujud.

Saya tentu saja bersyukur karena Umi mengucapkan kata-kata yang baik kepada saya. Andai saja saat itu Umi mengucapkan kata-kata yang buruk, maka tak tahulah apa yang akan terjadi pada saya hari ini. Saya tiba-tiba ingin membandingkan dengan tetangga saya di kampung yang gemar berkata buruk kepada anak-anaknya. Dan benar, saya mendapatkan fakta bahwa kehidupan anak-anak tetangga saya itu kini betul-betul buruk. Si anak tertua sudah dua kali keluar masuk penjara. Si adik juga kehidupannya tak pernah beranjak dari kemiskinan yang membelit.

Kini saya menjadi lebih paham makna pesan Rasulullah SAW :

Barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata yang baik atau diam. (Muttafaq ‘alaih)

Kalau boleh memilih, semua orang pasti ingin berkata-kata yang baik terutama kepada anak yang dicintainya. Tetapi kenyataan menunjukkan banyak orang mudah mengumbar kata-kata yang buruk ketimbang kata-kata yang baik. Mengapa demikian?

Pembaca budiman, kata-kata memang keluarnya dari mulut kita. Tetapi sebenarnya ia ada hasil dari apa yang pernah kita masukkan ke dalam teko jiwa kita. Manakala sebuah teko diisi kopi, maka yang keluar darinya adalah warna hitam. Saat teko diisi susu, maka saat dituang akan keluar warna putih. Demikian itu pula teko jiwa kita. Teko jiwa yang selalu diisi dengan kata-kata baik, maka tumpahannya adalah kata-kata baik. Demikian pula sebalikya.

Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita lalukan untuk mengisi teko jiwa kita dengan kata-kata positif. Pertama, perbanyaklah melafalkan kata-kata baik. Dan kata-kata yang terbaik adalah dzikrullah sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, yaitu subhaanallah, alhamdulillah, Allahu akbar. Bisa juga asma’ul husna. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka, setiap ada kesempatan lantunkanlah kalimat-kalimatthayyibah tersebut agar teko jiwa kita penuh dengan kebaikan.

Kedua, perbanyaklah membaca buku-buku tentang kebaikan. Hindari buku-buku yang berisi tentang keburukan. Hari ini di toko buku bertebaran buku-buku yang bagus. Belilah, dan bacalah. Maka akan banyak kata-kata bagus yang tersimpan di teko jiwa kita.

Ketiga, perbanyaklah mendengar kata-kata baik. Salah satunya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang baik. Dari mulut orang-orang baik, kata-kata yang keluar dari mulut mereka akan cenderung baik. Maka otomatis teko jiwa kita akan terisi dengan kata-kata  yang baik. Pantas kiranya jika Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya berteman dengan orang baik. Sabda beliau :

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

So, mari berkata-kata yang baik di depan anak-anak kita agar masa depan anak-anak kita akan menjadi baik. Bukankah kata-kata adalah doa?

 
Catatan :
*)Awang Surya : penulis, penceramah dan pengusaha tinggal di Bogor.

Beliau adalah salah satu penceramah di Masjid Baitul Hikmah Elnusa.

Alumni Teknik Mesin UB, mantan Kadiv Perusahaan EPC terkenal, yang memilih untuk mengabdikan dirinya pada pengembangan sumber daya manusia. Rekan sejawatnya berseloroh, ia alumni fakultas teknik jurusan dakwah.

Beberapa buku hasil karyanya :
‘Pesantren Dongeng’, ‘Pak Guru’, ‘Bahagia Tanpa Menunggu Kaya’, ‘Ada Masalah, Bersyukurlah’, dll.

 

Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai By Dahlan Iskan

Ketika Naga Lagi Menggigit Samurai
By Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN

 

The Wall Street Journal menyebutnya seru: Ini baru pertama terjadi. Jepang terpaksa melepas perusahaan teknologinya ke negara lain. Terutama teknologi elektroniknya.

Ideologi menjaga   ”rahasia teknologi Jepang” mulai meleleh. Padahal, Jepang dikenal sangat pelit melakukan alih teknologi. Sampai sekarang pun, kita hanya jadi pasar mobil Jepang.

Pelitnya Jepang dalam ”alih teknologi” kini berubah menjadi penyerahan total. Bukan hanya alih teknologi. Sekalian dengan perusahaannya. Terpaksa.

Sharp memang dalam kesulitan besar. Belakangan terus merugi. Berbagai usaha penyelamatan gagal.

Dua kali bailout tidak menolong. Tahun lalu masih rugi  USD 918 juta. Atau sekitar Rp 12 triliun. Belum termasuk angka meragukan yang baru diketahui belakangan.

Pertolongan paling dramatis dilakukan oleh ”dewa baru” Jepang: INCJ. Juga gagal.

INCJ adalah dewa baru. Didirikan pemerintah bersama 19 perusahaan raksasa Jepang. Tugasnya: merangsang perusahaan Jepang agar tidak kalah dalam kompetisi.

Bukan main. Jepang yang kita nilai sudah sangat hebat pun masih perlu melakukan itu:   bagaimana bisa lebih kompetitif. Maksudnya, mungkin, agar jangan kalah oleh Korea.

INCJ (Innovation Network Corporation of Japan) baru dibentuk pada 2009. Ialah yang terakhir berusaha keras menyelamatkan Sharp. Agar jangan jatuh ke asing. Caranya pun drastis: menggabungkan Sharp ke dalam grup Japan Display.

Japan Display didirikan pada 1 April 2012. Empat tahun lalu. Oleh INCJ. Tugasnya menyelamatkan raksasa-raksasa elektronik Jepang. Maka, divisi-divisi layar dari Sony, Toshiba, dan Hitachi digabung ke dalam Japan Display. Panasonic menyusul belakangan.

Maunya: Sharp dimasukkan ke situ sekalian. Tapi, penawaran dari Taiwan terlalu menggiurkan. Dan lagi bank-bank yang selama ini mendanai Sharp lebih mau jalan pintas: jual saja. Sharp bisa lebih cepat selamat. Maksudnya: Banknya juga cepat selamat.

Tawaran Foxconn memang menggiurkan: USD 6,25 miliar. Jepang pun heboh. Oleh besarnya tawaran. Dan oleh ancaman asing.

Tawaran itu dua kali lipat dari harga yang disodorkan INCJ. Dan akan dibayar cepat.

Tapi, drama pun terjadi. Saat Foxconn siap mentransfer uang, muncul data baru: Ada angka yang selama itu belum terungkap. Sharp ternyata memiliki tanggungan USD 3 miliar. Atau sekitar Rp 40 triliun.

Yang bisa jadi bom sewaktu-waktu. Foxconn terbelalak. Ini bahaya. Bisa jadi ganjalan ke depan. Bos Foxconn Terry Guo berang.

Keputusan pun dia ambil: Batal.

Ganti Sharp yang panik. Berita masuknya Foxconn ke Sharp sudah terlalu luas beredar. Ke seluruh dunia.

Jepang yang dikenal sangat ulet dalam negosiasi kini harus menghadapi naga terbang. Sampai-sampai CEO Sharp Takahashi mendadak ke Shenzhen. Mencari Guo.

Foxconn memang punya pabrik besar di Tiongkok. Karyawannya sampai satu juta orang. Komponen-komponen iPhone banyak dibikin di situ. Juga produk Apple lainnya.

Guo tahu bahwa Takahashi minta ketemu dirinya. Dia memang sudah membatalkan transaksi itu, tapi tidak dalam hatinya. Melihat respons Takahashi, Guo membatalkan liburan Imlek-nya.

Tapi, yang menemui Takahashi hanya stafnya. Dia menunggu di kamar sebelah. Alot. Data yang dibawa Takahashi dipelototi.

Rapat itu berlangsung sejak pukul 23.00 sampai 09.00. Tidak ada yang tidur. Juga Guo. Yang meringkuk di kamar sebelah.

Menjelang jam makan siang, kamar Guo diketok. Takahashi bertekuk lutut. Dia menyerah. Menerima tawaran Foxconn yang terakhir: USD 3,5 miliar.

Turun dari tawaran awal yang USD 6,25 miliar. Atau turun sekitar Rp 40 triliun.

Inilah gertakan senilai Rp 40 triliun. Inilah keuletan seharga Rp 40 triliun. Inilah tidak tidur dengan imbalan Rp 40 triliun.

Takahashi memang menyerah.  Tapi bukan karena ngantuk. Harga itu memang masih lebih tinggi daripada tawaran penyelamatan oleh dewa INCJ. Terutama tidak bisa menjamin bahwa tanggungan USD 3 miliar itu tidak berbahaya.

Mengapa pemerintah Jepang tidak all-out dalam menyelamatkan Sharp? Dari tangan asing. Yang akan menguasai saham Sharp sampai 72 persen. Taiwan lagi. Wilayah jajahannya dulu.

Pemerintah Jepang rupanya memang punya agenda tersembunyi: merevolusi mental perusahaan Jepang. Yang selama ini tertutup. Pelit investasi. Kurang mengutamakan pemegang saham.

Pemerintah Jepang ingin memulai persaingan terbuka. Termasuk dalam inovasi. Terutama inovasi jenis bisnis masa depan. Singkatnya, Jepang ingin mulai terbuka pada modal asing.

Untuk membuat manajemen Jepang lebih terbiasa dengan iklim persaingan. Persainganlah yang bisa membuat orang lebih inovatif.

Korea dianggap lebih inovatif. Musuh besarnya itu.

Saat tulisan ini muncul di koran grup Jawa Pos, saya sedang di Jepang. Ingin ke Fukushima. Dan ke Fujioka. Bukan untuk membatalkan drama Sharp-Foxconn itu. Tentu saja.

Nama Terry Guo (Guo Tai Ming) kini begitu top. Dia lambang baru dari zero to hero. Lahir sebagai anak polisi rendahan di Shanxi pada 1950, dia ikut ayahnya mengungsi ke Taiwan. Terdesak oleh pemerintahan baru komunis Mao Zedong.

Di Taiwan, Guo bekerja di pabrik karet. Buruh pemutar roda. Di umur 24 tahun, Guo memutuskan untuk berhenti jadi buruh. Bikin usaha kecil. Berkembang: industri kecil bidang plastik. Dia bikin casing televisi.

Di umur 30-an tahun, Guo pergi ke AS. Selama sebelas bulan dia menjelajah berbagai sudut negara. Mencari pasar. Dengan keberanian nekatnya. Dan kegigihan gilanya. Di usia 65 tahun saat ini, Guo menjadi orang terkaya dunia urutan 250-an.

Istrinya, Serena Lim, meninggal karena kanker payudara. Sepuluh tahun yang lalu. Istri keduanya, Zheng Xinyin, seorang koreograf. Saat menikah itu, duda Guo 55 tahun. Zheng 24 tahun.

Dunia kini menanti masa depan Sharp. Sebagai perusahaan asing di Jepang. Sukses atau kempis. Naga sedang menggigit samurai. Semua ingin tahu apa lakon berikutnya.

 

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana by Gus Mus

Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana
by Gus Mus

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana

Catatan :
Gus Mus adalah panggilan akrab dan populer KH. Ahmad Mustofa Bisri. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang. Jawa Tengah. Gus Mus dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. 

Beliau dikenal juga sebagai seorang penyair dan penulis kolom di beberapa media cetak nasional.

Gak Gue Banget By Jamil Azzaini

Ada sebagian orang yang bila diberi pekerjaan menantang menjawab dengan kalimat :

“Wah, gak gue banget.”

Kalimat ini bermakna bahwa pekerjaan tersebut tidak sejalan dengan passionnya, dia tidak menguasai, dia tidak mencintai dan sejenisnya.

Benarkah setiap pekerjaan yang tidak cocok dengan kita itu pertanda “gak gue banget”? Belum tentu.

Secara ringkas, dengan menggunakan ilmu Biologi, bisa dijelaskan sebagai berikut. Dulu, saat kita belajar Biologi disebutkan bahwa “fenotif” sama dengan “genetik” ditambah “pengaruh lingkungan”. Maknanya, apa yang tampak pada diri kita saat ini (fenotif) adalah karena ada faktor bawaan (genetik) sekaligus tempaan lingkungan pergaulan.

Sehingga, boleh jadi, pekerjaan atau profesi yang kita kuasai, cintai dan tekuni saat ini sejatinya bukan kita yang asli (genetik) tetapi karena dominannya pengaruh lingkungan. Dan, dalam jangka waktu tertentu, orang yang bekerja atau menekuni profesi tetapi tidak sejalan dengan genetiknya ia akan frustasi, stres dan mengalami kejenuhan yang tinggi.

Oleh karena itu, pernyataan “gak gue banget” bisa jadi keliru. Jangan-jangan justru pekerjaan yang ditawarkan kepada Anda itulah yang sejalan dengan genetiknya Anda. Sayangnya, genetik Anda yang merupaka “berlian” di dalam diri Anda tertutup oleh lumpur [pergaulan yang tidak sejalan dengan genetiknya].

Saran saya, jangan pernah menolak pekerjaan yang menantang apabila Anda belum menemukan siapa diri Anda sebenarnya, belum menemukan passion Anda, belum tahu kelebihan Anda. Dalam kondisi tersebut, pernyataan “gak gue banget” akan menjauhkan Anda dari menemukan jati diri Anda yang sesungguhnya.

Sementara bagi Anda yang sudah menemukan genetik, passion, dan kelebihan Anda, jawaban “gak gue banget” yang membuat Anda tetap fokus dengan pekerjaan dan profesi Anda, akan menjadikan Anda memiliki banyak karya yang luar biasa.

Bagaimana hidup Anda saat ini? Gak gue banget atau gue banget?

Catatan :
Ir. Jamil Azzaini, MM adalah CEO of PT. Kubik Group, perusahaan pelatihan dan konsultansi lokal yang mulai mendunia. Pengarang buku best seller seperti ‘Speak to Change’, ‘ON’, ‘Tuhan, Inilah Proposal Hidupku’, dll.

Jalan Perubahan by Salim A. Fillah

Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, penyihir, dukun, serta gila; bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, ruku’ lalu dijerat lehernya, sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya; bahkan lebih dari soal diboikot, dianiaya, diusir, dan dibunuhi pengikutnya; saya masih terngungun-ngungun membayangkan kesabaran lelaki agung itu.

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul ‘Atiq di hadapannya, berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya, tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta. Di saat lain dia seru-seru kaumnya, dia tunaikan amanat Rabbnya, dia sampaikan RisalahNya.

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ﷺ dan para sahabat ketika harus shalat, membaca Al Quran, dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah, di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya.

Tiga belas tahun.

Latta, ‘Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya, tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya, dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan, sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah.

Tapi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu, sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah. Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman, bukan prasarana dan bangunan.

Tanpa perubahan hati, berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari. Tanpa perubahan pemahaman, wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ﷺ terus bersabar hingga Fathu Makkah, tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai. Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap. Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim, menaburkan dinar dan dirham di kakinya, serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah.

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya. Panjang sebab bukan kayu atau batu, ladang atau hutan, dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya. Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati, perbaikan jiwa, pemulihan manusia, dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini, betapa kita menginginkan perubahan dengan segera, tapi kita lupa apa yang harus diubah.

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan, “Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan ‘aqidah.” Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang ‘aqidah. Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam, Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi ﷺ.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian. Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit. Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu? Membebaskan yang teperbudak, membagi makan pada hari susah dan sesak, pada yatim yang berkerabat, hingga orang miskin yang amat melarat.

“..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang..” (QS Al Balad [90]: 17)

 

Catatan :

Salim A. Fillah dilahirkan di Yogyakarta, 21 Maret 1984. Almuni FT UGM dan Psikologi IAIN Sunan Kalijaga. Penulis buku best seller : Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan (2003), dan beberapa buku lainnya. Selain penulis buku, ia juga aktif sebagai pengurus Masjid Jogokariyan Yogyakarta.

Ekspor dan Reindustrialisasi by Ahmad Erani Yustika

Perkembangan mutakhir menunjukkan kinerja perdagangan internasional masih jauh dari harapan. Ekspor bersih Indonesia melambat signifikan dan berpengaruh buruk terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2010 – 2011, ekspor bersih masih berkontribusi positif terhadap PDB (1,68% dan 1,41%). Tetapi, sejak 2012 – 2014 peranan ekspor bersih negatif terhadap PDB, masing-masing 1,4%; 1,81%; dan 1,76% (BPS, 2014).

Bagaimana jika ekspor tidak kunjung membaik? Pertama, neraca transaksi berjalan cenderung tertekan. Peranan transaksi perdagangan barang menjadi penopang utama kinerja neraca transaksi berjalan.

Kedua, stabilitas moneter akan terganggu (nilai tukar rupiah dan inflasi).

Ketiga, ketersediaan valas cenderung menurun, padahal dibutuhkan untuk pembayaran utang dan impor.

Figur Neraca Perdagangan

Memasuki 2015 kinerja ekspor-impor pun masih menunjukkan performa serupa. Sepanjang Januari-Maret, ekspor hanya US$ 39,1 miliar; menurun dari US$ 44,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (turun 9,75%, yoy). Ekspor nonmigas juga menurun sekitar 6,61% (yoy) dari posisi US$ 36,4 miliar menjadi US$ 33,4 miliar. Namun, secara bulanan total ekspor Maret 2015 meningkat 12,63% (mom) dan ekspor nonmigas naik 12,5% (mom).

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2015 adalah bahan bakar mineral, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada nikel. Pada sisi impor, sepanjang Januari-Maret 2015 total impor mencapai US$ 36,7 miliar (turun 13,39%, yoy), sedangkan total impor nonmigas mencapai US$ 30,5 miliar (turun 2,07%, yoy). Data Maret 2015 mendeskripsikan total impor maupun impor nonmigas meningkat 9,29% (mom) dan 5,32% (mom) [BPS, 2015].

Penurunan impor nonmigas terbesar pada golongan besi dan baja, sedangkan peningkatan terbesar bersumber dari golongan mesin dan peralatan mekanik.

Dengan begitu, realisasi data ekspor dan impor itu dapat dikatakan belum terdapat perkembangan berarti. Justru kinerja perdagangan internasional (terutama ekspor) merosot cukup tajam. Kecenderungan depresiasi nilai tukar (yang menjadikan harga komoditas nasional lebih murah di luar negeri) tidak terekam dari performa ekspor. Depresiasi nilai tukar malah memukul impor, padahal saat ini industri nasional masih bergantung bahan baku impor. Keadaan ini bisa memunculkan percepatan deindustrialisasi yang sudah terjadi sejak 8 tahun terakhir.

Data setelah 2007 menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat, di mana penurunan nilai ekspor beriringan dengan turunnya sumbangan sektor industri terhadap PDB. Dengan kata lain, reindustrialisasi bisa berjalan dengan cepat apabila ditopang dengan penguatan ekspor, demikian sebaliknya.

Jadi, dari sisi ekspor perekonomian nasional masih terpasung pada ekspor komoditas primer, yang harganya ditentukan oleh pasar internasional. Selain itu, pesaingnya pun sangat banyak. Crude Palm Oil (CPO), misalnya, bersaing dengan Malaysia. Pasar komoditas internasional masih cenderung lesu karena sektor keuangan mulai beriak sejalan dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat.

Faktor lainnya berhubungan dengan kelanjutan penurunan permintaan dari negara-negara tujuan impor utama, seperti China dan Uni Eropa. Sektor industri China cenderung memburuk, sedangkan ekonomi Uni Eropa terhalang persoalan deflasi.

Problem lainnya terkait dengan penurunan harga. Harga CPO, misalnya, pada Maret 2015 US$ 634,38 per metric ton atau turun hingga 21,8% (yoy) [Indexmundi, 2015].

Pasar Baru dan Logistik

Selain persoalan komoditas, ekspor nasional juga belum mampu menjangkau negara-negara tujuan baru. Sampai sekarang ekspor sebagian besar mengalir ke ASEAN (20,45%), Amerika Serikat (11,3%), Jepang (10,66%), dan Uni Eropa (10,89%) [BPS, 2015]. Ketergantungan yang begitu tinggi pada kawasan dan negara-negara tertentu akan berdampak buruk saat terjadi gejolak ekonomi.

Pada sisi impor, persoalan yang muncul adalah ketergantungan kepada sektor industri, dalam arti sektor industri sangat mengandalkan bahan baku impor. Data Maret 2015 menunjukkan total impor bahan baku/penolong mencapai US$ 27,6 miliar (75,45%); barang modal US$ 6,4 miliar (17,63%); dan barang konsumsi US$ 2,5 miliar (6,92%) (BPS, 2015).

Industri-industri utama di Indonesia justru memiliki kandungan impor yang sangat tinggi. Industri tekstil, misalnya, kandungan impor mencapai 90%. Contoh lainnya adalah industri makanan, yang sebagian besar menggunakan bahan baku gandum. Celakanya lagi, jenis-jenis industri ini berkarakteristik industri padat karya. Tingginya impor bahan modal juga berhubungan dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang mensyaratkan penggunaan teknologi dari negara asal.

Tentu saja, persoalan lainnya yang menekan perkembangan ekspor dan impor adalah keterbatasan infrastruktur. Sayangnya, berbagai indikator infrastruktur pendukung ekspor-impor masih sangat buruk. Biaya logistik di Indonesia mencapai 27% terhadap PDB (2012). Angka tersebut jauh di atas beberapa negara tetangga, seperti Korea Selatan 16,3%; Malaysia 15%. Sementara itu, biaya logistik terhadap PDB di Jepang hanya 10,6%; Amerika Serikat 9,9%; dan rata-rata Eropa 8 – 11% (Various Sources, 2013).

Bukan hanya itu, dari segi waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan nasional masih jauh dari efisien. Pelabuhan Tanjung Priok membutuhkan sekitar 8-8,7 hari untuk bongkar muat; Singapura (1,5 hari); Hong Kong (2 hari); Perancis (3 hari); Los Angeles (4 hari); Australia (3 hari); Malaysia (4 hari); dan Thailand (5 hari) [ALFI, 2013]. Dengan begitu, persoalan ekspor dan impor tidak bisa dirampungkan dengan jalan pintas.

Menyimak kondisi ini, dibutuhkan kebijakan yang terukur, konsisten, dan berdimensi jangka panjang. Jika ekspor hendak digalakkan bersamaan dengan kenaikan nilai tambah, maka sektor industri harus digarap serius, salah satunya ketegasan pemerintah soal regulasi ekspor bahan mentah. Pemerintah juga harus memperluas jangkauan ekspor di luar negara-negara utama. Promosi ekspor menjadi bagian yang penting dan Kementerian Perdagangan mesti sigap mengerjakan tanggung jawab ini.

Dari sisi impor, upaya mengurangi kebergantungan impor dapat dilakukan dengan membangun struktur industri domestik yang kuat. Definisi tersebut merujuk kepada industri berbasis lokal, baik dari bahan baku maupun pelaku ekonomi. Dengan demikian ketergantungan terhadap impor sekaligus juga akan menurunkan ketergantungan terhadap PMA.

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah menyediakan dan memerbaiki infrastruktur pendukung. Tema ini nyaris menjadi klise, tapi memang faktual menjadi penyakit ekonomi nasional. Pemerintah juga telah menyadari dan menetapkan berbagai target perbaikan infrastruktur dalam RAPBN-P 2015, seperti rasio biaya logistik menjadi 23,6%; dan rata-rata dwelling time menjadi 5-6 hari.

Meskipun target ini masih jauh dari kebutuhan ideal, tapi sekurangnya telah ada tekad perbaikan dari waktu ke waktu. Sinyal baik ini tentu harus dirawat lewat realisasi yang bisa dirasakan secara nyata.

 

Catatan :

Ditulis pada 21 April 2015 by Ahmad Erani Yustika di www.ahmaderani.com
*Ahmad Erani Yustika, Ekonom Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif Indef.

Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Dirjen Pembangunan & Pemberdayaan Masyarakat Desa pada Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi Republik Indonesia.
**Abdul Manap Pulungan, Peneliti Senior Indef