Leadership Engines

Leadership Engines
By : Ari Wijaya, Master G-Coach

 

Awal tahun menjadi salah satu waktu sibuk. Tak terkecuali bagi organisasi apa pun. Profit maupun non profit.

Galibnya mereka memberikan apresiasi kepada pencapaian periode sebelumnya. Memberi penghargaan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Ucapan syukur dan terima kasih. Willing to share achievement.

Selain itu juga menyusun rencana ke depan. Termasuk target yang akan dicapai. Target berupa angka terukur sangat disarankan. Set clear goals. Tak jarang target dipasang setelah membongkar proses bisnis. Mengurangi atau bahkan menambahkannya. Untuk mendapatkan proses yang lebih efisien. Menghasilkan output lebih baik. Challenge The Process.

Leader dalam hal ini memegang peranan penting. Ia harus punya rasa percaya diri yang tinggi. Meyakinkan bahwa target itu, meski menantang tapi bisa dicapai. Self Confident. Ia harus mampu meramu tim. Menempatkan orang yang pas. Perbedaan menjadi sumber daya yang dahsyat. Aligning People. Target yang menantang akan menghasilkan output menggembirakan. Bisa berpotensi membawa perubahan baru. Produces change

Leader perlu juga memberdayakan anggota timnya. Termasuk memberikan pelatihan, sharing knowledge dan pendampingan yang sesuai. Pengetahuan dapat diperoleh dari dalam organisasi. Atau hasil benchmark kepada perusahaan/organisasi lain. Continually Learning. Hal itu menjadi modal penting saat ia memberikan mandat ke beberapa orang termasuk kepada tim yang langsung berhadapan dengan pelanggan. Delegates to the front line.

Ladership engines yang meraung-raung, insya Allah dapat target dicapai dengan bahagia.

 

Catatan : foto diambil dari koleksi pribadi Pak Anies Baswedan.

Komunikasi Itu Porsinya Duapertiga

Komunikasi itu Porsinya Duapertiga

Kawan lama yang sekarang sudah menjadi tenaga handal di luar negeri adalah Dudi Hendi, seorang Aircraft Engineer di perusahaan perancang dan manufaktur pesawat terbang di dunia, Boeing. Saya pun mencoba meminta pendapatnya.

Menurut pengalaman Dudi Hendi, kekurangan SDM Indonesia adalah masalah komunikasi. Lebih jelasnya SDM kita acapkali tidak mampu menjual potensi dirinya.

Salah seorang manager Dudi Hendi pernah berkata bahwa untuk sukses berkarir kita harus punya 3 bagian. Sepertiga bagian yang pertama adalah knowledge, sepertiga kedua adalah communication dan sisanya communication.

Dudi sempat bingung memaknainya. Sang manager seakan tahu kebingungan salah satu timnya dari Indonesia ini. Manager itu menambahkan:

“Yup.. you need more communication to sell your potential knowledge. Sometime people that have less capabilities than you will get better position, because they can present himself to the others”.

Lambat laun teman saya ini membuktikannya. Terutama saat anaknya sudah mulai mengenyam pendidikan di Seattle. Siswa di sana sejak kecil dididik untuk terbiasa berbicara atau mempresentasikan sesuatu.

“Meskipun kadang-kadang saya melihatnya seperti hal yang sepele. Mempresentasikan sesuatu yang kayaknya remeh temeh. Ternyata, itulah cara mereka mendidik anak atau siswa sekolah. Saya jadi ingat waktu masih kuliah di Malang, saat presentasi sebelum maju ujian sarjana. Entah kenapa, semua yang disiapkan langsung hilang ketika sudah berdiri didepan kelas. Tak terbiasa, menjadikan saya grogi”, begitu tambahnya mengenang memori 24 tahun lalu.

Terima kasih Sam Dudi Prasetio yang berkenan memberi salah satu warna dalam buku : KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

Teruslah berkarya dan berbagi.

Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Persaingan, Siap atau Tidak, Akan Tetap Ada

Di dalam kehidupan ini persaingan adalah keniscayaan. Masih ingatkah kita dengan kisah dua anak Adam yang bersaing menjadi yang terbaik? Tragis memang akhir kisah itu. Salah seorang dari mereka akhirnya terbunuh. Tetapi kisah itu membuka mata kita bahwa persaingan sudah ada semenjak kehidupan ini bermula. Dan ujung dari persaingan itu adalah meninggalnya salah seorang dari dua anak Adam.

Charles Darwin sang penemu teori evolusi juga telah mengemukakan bahwa selalu ada persaingan di dalam kehidupan di alam semesta ini. Hal ini karena setiap makhluk ingin mempertahankan kehidupannya. Dan hanya spesies yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkunganlah yang akan bertahan. Yang kalah bersaing dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan akan lenyap dari bumi.

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”.

(Charles Darwin)

Persaingan akan selalu ada di setiap sektor kehidupan. Dalam dunia bisnis? Apalagi! Pertarungan untuk menjadi yang terbaik dalam bisnis layaknya masakan dengan garam. Tanpa kehadirannya, terasa hambar. Bahkan perusahaan yang tanpa pesaing akan kehilangan gairah, loyo. Dan akhirnya pelan-pelan akan hilang dari peredaran.

Setiap pemilik perusahaan atau tim leader, akan selalu berusaha agar timnya menjadi jawara. Untuk itu berbagai upaya dilakukan. Bisa market share yang bertambah. Ada juga dengan penetrasi pasar, agar seluruhpelosok negeri mengenal produknya. Dan ada juga yang menggunakan cara perbaikan produk. Perusahaan membuat produk yang unik dalam jumlah terbatas. Sedikit tapi tetap dicari. Limited edition. Upaya-upaya itu semua dilakukan agar mereka memenangkan “pertempuran” atau sekurang-kurangnya tetap bertahan.

Siapa yang kalah, produknya tidak laku. Penjualan tak beranjak naik. Atau malah cenderung turun. Tanda-tanda kematian sudah tampak. Jika tidak ada perubahan yang significant, sudah dapat dipastikan perusahaan akhirnya gulung tikar. Mati.

Dampaknya kekalahan sebuah perusahaan pasti cukup dahsyat. Pemutusan hubungan kerja tidak dapat dielakkan. Daftar pengangguran bisa bertambah panjang. Pasti akan timbul masalah baru. Baik masalah dalam ruang lingkup yang kecil, keluarga. Bisa juga dalam skala yang lebih besar. Ekonomi di dalam masyarakat sedikit terguncang. Jumlah belanja akan menurun. Ada penghematan baik dari frekuensi maupun nominal belanja. Suka tidak suka. Stok bisa menumpuk. Produsen juga mengerem produksinya. Jika berlangsung lama, maka banyak idle capacity. Kalau sudah begitu, pengurangan produksi. Pengurangan karyawan. Jadi, kalah dalam bersaing menciptakan pengangguran yang bisa menjadi beban ekonomi baru.

Setiap perusahaan akan selalu melakukan berbagai upaya. Perubahan strategi. Penemuan teknologi baru. Dan yang tak kalah pentingnya adalah pembenahan manusia, motor penggerak utama perusahaan. Apalagi dalam ruang lingkup Manajemen Rantai Pasokan. Supply Chain Management. Proses bisnis yang kompleks, di samping mengurusi dengan internal pelanggan dan pemasok. Di dalamnya juga sangat intens berhubungan dengan pihak eksternal, baik dengan pelanggan dan dengan pemasok/vendor.

Uniknya, pola persaingan mulai bergeser, sesuai zamannya. Tidak lagi yang besar mencaplok yang kecil. Atau yang kuat mengalahkan yang lemah. Salah seorang Raja Media, Robert Murdoch, mengatakan:

“The world is changing very fast. Big will not beat small anymore. It will be the fast beating the slow”.

Benar juga. Dulu memang sering kita lihat perusahaan besar mencaplok perusahaan yang lebih kecil. Baik untuk memperbesar pangsa pasar atau strategi mematikan mereknya. Sebagai contoh kasus, ada perusahaan kecap dengan merek yang dikenal secara lokal (area cakupannya hanya se provinsi), dibeli salah satu raksasa bisnis di bidang consumer goods. Lama-lama merek pun tak nampak di pasar. Ia sengaja dibeli untuk dimatikan mereknya. Merek pembeli sebagai penggantinya. Ada yang namanya tetap, namun strategi bisnis dan lainnya diubah total. Ia tetap berkibar namanya meski pemilik telah berganti.

Akhir-akhir ini perusahaan-perusahaan mapan tak lagi bisa lagi hidup tenang. Pesaing bisa berupa perusahaan yang baru lahir. Contoh kasusnya adalah sebuah perusahaan tranportasi konvensional berhadapan dengan perusahaan tranportasi berbasis teknologi informasi. Perusahaan besar dan mapan itu cenderung lambat merespon perubahan yang terjadi. Tak terelakkan, pengemudinya pun berdemo. Tak jarang terjadi konflik di lapangan. Pemicunya, tak lain tak bukan, karena tidak siap dengan persaingan. Kalah cepat mengaplikasikan teknologi. Kurang sigap melihat kebutuhan dan kecenderungan konsumen. Ini bumbu tak sedap lainnya. Intinya, yang cepat mengalahkan yang lambat.

Contoh lain, perusahaan catering, juga mulai bergeser polanya. Dominasi tidak lagi oleh perusahaan dengan asset besar. Saat ini, ada perusahaan yang tidak memiliki dapur sendiri sudah mulai menggerogoti pangsa catering besar. Perusahaan ini bermodalkan teknologi informasi dan prinsip ekonomi berbagi. Ia menggunakan dapur para jago masak di berbagai rumah tangga. Sang CEO perusahaan itu jeli. Ia tahu banyak ibu-ibu yang jago masak. Sebagian juga senang jika masakannya dijual dan dimintai. Ia memberikan standarisasi masakan. Ia memberi packaging yang menarik. Ia pooling produk itu sesuai pesanan pelanggan. Produk diantar dan siap saji. Punya usaha catering, tak harus punya dapur kan ?

So, pemenang persaingan punya syarat tambahan. Ia harus cepat dalam segala hal. Adaptasi, penguasaan teknologi, cepat menangkap perubahan pelanggan, dan lainnya. Itu semua juga perlu dukungan sumber daya manusia yang handal. SDM yang mendukung kecepatan. Ya, sumber daya manusia. Manusia yang punya daya dukung dan daya juang tinggi akan sangat membantu daya tahan perusahaan. Bak pendekar, ia pilih tanding. Ditempatkan di mana saja, ia sanggup dengan cepat beradaptasi dan segera berkontribusi.

 

Tersadar?
Tertantang?

Sahabat, saya ajak menyimak buah pikir lain dan lebih dalam, pada buku yang akan segera terbit.

Mohon doanya.

Wassalaam,

#this.is.ariway

 

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

Dorongan Mengharumkan Agama dan Bangsa

by Ari Wijaya

Enang Noerman Fachjar, sering dipanggil Aciel. Dia adalah teman sebangku saya saat SMA. Kini ia menjabat sebagai Regional Quality Assurance Director – Asia Pacific di Barry Callebaut, sebuah  perusahaan multi nasional asal Swiss. Perusahaan ini adalah penghasil biji coklat dan bubuk coklat terbesar di dunia.

Sebagai salah seorang executive muda asal Indonesia yang mendunia, Aciel dikenal ahli dalam bidang Quality Management & Food Safety. Menjadi pembicara utama dalam forum internasional sudah menjadi langganannya. Tentu saja hal ini membanggakan sekaligus memberikan inspirasi bagi saya.

Alumnus ITB ini menceritakan pengalamannya saat bergabung dengan perusahaan multi nasional. Beberapa kali pula ia berhasil menduduki posisi kunci. Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa untuk bisa bersaing dan menjadi orang pilihan berkelas dunia diperlukan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Kita harus menjadi yang terbaik di area yang kita geluti. Tanpa kompetensi, akan sangat sulit untuk bersaing.
  2. Komunikasi sangat penting untuk memastikan orang lain bisa memahami pola pikir kita. Secara lisan maupun tulisan.
  3. Kerja sama. Kita harus mau dan mampu bekerja sama dengan sejawat, lintas fungsi, maupun orang di luar organisasi.
  4. Satu suatu initiative/pekerjaan dapat dimulai dan dituntaskan ketika kita punya komitmen.
  5. Perlu semangat dan tindakan yang ajeg agar tugas yang diberikan dapat diselesaiakan dengan tuntas.

Aciel menambahkan, gabungan antara kompetensi, komunikasi dan kerjasama akan menumbuhkan kepercayaan yang sangat dibutuhkan dalam menuntaskan suatu pekerjaan. Plus ditambah kerja keras dan sifat tidak gampang menyerah.

Bagaimana jika bersaing dengan insan unggul lainnya di luar negeri? Ternyata Pak Direktur ini selalu membawa misi pribadi :

“Saya niatkan karsa dan karya saya untuk menjaga dan membawa nama baik agama dan bangsa”.

Masya Allah!

Saya merinding membaca penuturannya.

Dorongan itu yang membuatnya terus mencetak berprestasi. Ia secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwa inilah wajah Indonesia.

Suka atau tidak, Islam dan Indonesia sering dikonotasikan miring. Negative for whatever reasons. Oleh karenanya, ia merasa berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin. Itu tak lain untuk menunjukkan bahwa seorang muslim bisa berkerja secara profesional, disiplin, reliable, trusted dan competence.

Selain itu sebagai bangsa Indonesia, Enang Fachjar, bisa menunjukkan bahwa Indonesia di negeri lain bukan dikenal hanya karena tenaga pembantu, sopir, tukang bangunan. Tapi, banyak juga profesional yang berkualitas, berkelas dunia.

Selain itu, ia juga berharap bisa memberikan inspirasi.

Ia mengirim pesan sangat tegas kepada teman-teman di Indonesia. Utamanya anak muda. Kita sejajar dengan mereka, pekerja di luaran sana. Asal kita menempa diri.

Ya, dan itu harus dimulai!

Kisah inspiratif ini dan beberapa lagi lainnya, insya Allah akan hadir dalam buku yang sedang memasuki tahap editing. Semoga tidak ada halangan yang berarti. Harapannya, bisa terbit dan hadir di hadapan sabahat pada Agustus 2018 nanti.

Mohon doanya.

Semoga karya tak seberapa ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia.

 

 

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

Kewajiban Jauh Lebih Banyak daripada Waktu yang Tersedia

by Ari Wijaya

 

Umar bin ‘Abdul Aziz salah satu nama yang saya coba kemukakan dalam hal pengaturan waktu. Siapa dia? Beliau adalah salah satu khalifah tersohor karena kebijakan dan kesederhanaannya. Banyak riwayat yang menceritakan kebijaksanaan sang khalifah yang masih keturunan Umar bin Khattab ini. Salah satu kisah menuturkan bahwa Sang Khalifah pernah tidak jadi istirahat, karena ditegur oleh anaknya.

“Ayahanda, kenapa istirahat?” tanya Abdul Malik bin Umar

“Iya, ayah lelah sekali, tubuh perlu istirahat, setelah seharian keliling melihat aktivitas dan keadaan umat ini,” jawab Umar dengan mantap.

“Ayah, cepat bangun dan keliling lagi. Lihat urusan umat!” kata anaknya.

“Ayah mau rehat sebentar saja, setelah itu baru keliling lagi,” jawab Umar.

Tanggapan dari sang buah hati ini yang diluar dugaan dan mengejutkan:

“Apakah ayah bisa menjamin ketika ayah bangun masih hidup dan bisa melihat urusan umat Islam?”

Umar terperanjat mendengar pertanyaan anaknya ini. Dia langsung melompat dan memakai gamisnya kembali untuk keliling melihat keadaan umat Islam. Masya Allah!

Bagaimana dengan kita?

Yuk, introspeksi.

Sungguh, pekerjaan dan tugas kita lebih banyak dibanding waktu yang disediakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Mengatur. Pernah mengalami, pekerjaan datang bertubi. Satu belum selesai sudah ada lagi yang harus dikerjakan. Belum lagi, rasanya belum lama di depan laptop atau alat kerja kita, ternyata sudah siang. Matahari sudah tinggi. Padahal pekerjaan progressnya masih belum banyak. Pernah? Sering ?

Ini adalah satu kenyataan hidup. Kita hidup dalam ruang lingkup waktu yang sangat terbatas. Orang Arab menyatakan:

“Al-Wajibat aktsaru minal awqat” .

Arti bebasnya adalah kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia.

Betul apa benar?

Semua itu butuh manajemen yang baik dan rapi. Kita harus menghargai waktu yang ada. Waktu harus kita belanjakan dengan baik dan benar. Efektif dan efisien. Karena jumlah waktu yang diberikan Allah azza wajalla adalah sama kepada setiap mahlukNYA, 24 jam. Tidak lebih tidak kurang.

“Waduh, mana pekerjaan yang tadi belum selesai, ee sekarang diberi tugas baru lagi”

Cukup sering kita mendengar keluhan seperti itu, saat diminta presentasi atau tugas lain. Saya pun mengalaminya. Anda pernah juga merasakannya? Satu pekerjaan belum tuntas, ada lagi yang lain. Baru saja presentasi tuntas, maksud hati menghela nafas sejenak. Ternyata sudah ada perintah lain. Kadang, kita merasa waktu ini begitu panjang dan banyak. Banyak dari kita yang akhirnya menunda. Sebentar dulu, selonjoran dulu. Santai sejenak. Toh nanti selesai juga. Dan banyak lagi alasan dan pembenaran. Akhirnya, terlena. Tugas berantakan. Skala prioritas tidak jalan.  Pekerjaan yang menumpuk, acapkali kalau pun diselesaikan, lewat jalur SKS. Ya, Sistem Kebut Semalam. Hasilnya? Bisa dipastikan tidak maksimal. Pernah mengalaminya?

“Giving yourself permission to lose, guarantees a loss”

Benar juga kata Pat Riley salah seorang mantan pemain dan pelatih bola basket NBA. Ia mengatakan jika kita secara menerus memberikan kelonggaran pada diri kita, maka kerugian adalah jaminannya. Saya bilang, kesuksesan Pat Riley ini salah satu kuncinya adalah ia tidak menunda. Jika ada kesempatan ia gunakan sebai-baiknya. Ia libas tanpa menunggu kata ‘entar’. Riley adalah atlet serbabisa, bermain bola basket dan American Football.

Catatan :

Cerita ini adalah bagian dari buku yang akan terbit dalam waktu dekat. Ingin mendapatkan inspirasi lebih dalam ? Mohon doanya ya, semoga buku terbit segera dan hadir di tangan sahabat semua.

Berhenti Makan !

“Lereno mangan sa’durunge wareg ! ”

Pesan sederhana Haji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal HOS Tjokroaminoto , salah satu guru bangsa kita. Guru  yang melahirkan tokoh besar sekaliber Bung Karno. Arti bebas pesan itu dalam Bahasa Indonesia adalah berhenti makan sebelum kenyang.

Maknanya tidak sesimpel yang saya bayangkan. Pun, melaksanakan pesan itu, biyuuh.. ! Masya Allah…

Makan karena memang lapar dan butuh asupan gizi. Gizi buruk bisa terjadi karena kurang makan. Asupan nutrisi kurang dari yang dibutuhkan. Itu juga bahaya. Jadi kita memang perlu makan, tho ? Tapi kelebihan gizi karena over supply makanan juga tidak baik. Banyak penyakit melekat karena urusan perut ini. Bisa stroke, hipertensi, gagal ginjal, diabetes, jantung, dan lain-lain.

Padahal kita ini diajarkan dan termasuk golongan umat yang makan karena sudah lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang.

Di samping itu, pesan pendiri Sarekat Islam itu sarat akan pengendalian hawa nafsu. Bukan semata urusan perut. Apalagi menyetop lidah yang bergoyang karena rasa. Terlebih saat menyantap makanan kesukaan.  Makanan lezat. Kuliner khas daerah pula. Tapi lebih dari itu. Berhenti makan sebelum kenyang punya maksud pengendalian diri agar tidak serakah atau tamak. Betapa tidak, pesan ini juga mengajarkan agar kita menakar seberapa besar yang akan kita masukkan ke dalam tubuh. Supaya tidak bersisa. Makanan terbuang. Tentunya masih banyak orang lain, saudara kita, yang membutuhkannya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberi nasihat :

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”

Sahabat… mari mencobanya ! Berhenti makan ! Berhentilah sebelum kenyang.

Semoga saya pun bisa menjalankannya dengan istiqomah…..

Silih doa selalu untuk sahabat semua…