Siapa ERSA ?

Pas buku saya terbit, ada pertanyaan yang diajukan. Banyak juga yang justru bukan tentang isi buku. Tapi sosok penerbitnya. Ya, di pojok kanan buku baru saya, tertulis besar, ERSA. Itu nama penerbit.

Sembari leyeh-leyeh di ruang tunggu Bandara Adi Sutjipto, saya tergerak untuk sedikit menceritakannya.

Ersa itu kepanjangan dari Erik Salman. Nama salah satu alumni Universitas Brawijaya, almamater saya. Tepatnya, seorang insinyur sipil. Ia satu dari 5 orang pencetus lahirnya ICMI. Lima orang tokoh mahasiswa itu bersama saya dan teman-teman lain, 50 mahasiswa Teknik Univeristas Brawjaya pernah bahu membahu mengumpulkan pada cendekiawan muslim pada tahun 1990 di Malang, Jawa Timur. Pada akhir acara itu, dibentuklah ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia. Organisasi besar yang berusaha memberikan kontribusi positif  bagi peradaban baru di Indonesia. Terlepas dari pasang surutnya, ICMI pernah dan masih mewarnai Indonesia.

Mas Erik, begitu saya memanggilnya, wafat diusia muda. Saat masa produktifnya, ia dipanggil keharibaanNYA. Ia bersama 3 orang sahabat lainnya, terlibat kecelakaan lalu lintas di Mantingan, Ngawi. Dua puluh tahun lalu.

Kami sepakat mengenang dan merawat semangatnya dengan membuat Yayasan Erik Salman. Salah satu aktivitasnya adalah menerbitkan buku-buku yang menginspirasi banyak orang. Juga mendirikan dan mengembangkan Sekolah Salman Al Farisi yang dikomandoi oleh Awang Surya. Sekolah itu akan dikembangkan lebih luas jangkauannya. Sebelumnya hanya mendidik PAUD dan TK di area Cileungsi, Bogor. Kami punya rencana mendirikan sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Itulah asal muasal ERSA. Semoga menjawab sedikit rasa penasaran.

Masih kecil kontribusi kami, tapi insya Allah berupaya membesar.

Tangan kami kecil dan sedikit, saya yakin akan jauh lebih berdampak ketika sahabat semua berkenan membantu.

Mau bersama berkarya bersama kami ?

Bisa japri saya : 08111661766 atau melalui Mas Awang Surya : 085779917492

Kirim salah hormat juga untuk 4 pencetus lainnya  #alimundakir #mochammadzaenuri #Awangsurya #muhammadiqbal

Silahkan share jika bermanfaat!

Proven !

Baru saja ada yang menerima momen membahagiakan. Jadi juara. Ada juga yang sedih bercampur kecewa karena hasil karya belum optimal. Tak sesuai harapan. Wajar saja. Tapi semua itu, jangan sampai berlebihan.

Apa pun itu, hari ini pembuktian awal yang baik. Perubahan itu terjadi ketika kita memulainya. Nggak peduli itu langkah besar atau langkah sepele. Kita semua menjadi saksinya. Value creation yang dihasilkan juga dahsyat.

Perubahan besar memang perlu hal yang kecil, melakukan langkah pertama. Memulainya !

The Beckhard Harris Change Model mengemukan rumus sederhana :

C = D x V x Fs.

Dalam hal ini :

C adalah Change. D adalah Dissatisfaction.  V adalah Vision. Fs adalah First Step.

“Perubahan hanya bisa terjadi apabila ada ketidakpuasaan, adanya visi yang jelas dan yang  tak kalah penting adalah langkah pertama untuk melakukan sesuatu”

Rumus itu berbentuk perkalian. Sekedar mengingatkan pelajara matematika, dengan bentuk persamaan seperti itu, maka semua faktor harus lebih besar daripada NOL. Apabila salah satunya nol maka perubahan tidak akan terjadi. Oleh karena seluruh faktor D, V dan FS harus ada. Kalau salah satunya angkanya nol, maka hasilnya nol. Betul ?

Dissatisfaction. Ketidakpuasan akan mendorong perubahan. Bukan rahasia lagi,  kenyamanan akan membuat seseorang enggan berubah. Dengan kata lain, ketidakpuasaan akan mendorong orang melakukan sesuatu sementara kenyamanan mendorong orang untuk ketagihan menikmati apa yang ada.

Untuk itu, apabila Anda ingin memiliki semangat berubah ciptakan ketidaknyaman dan ketidakpuasaan dalam bidang yang Anda tekuni. Misalnya sebagai pebisnis, Anda menyadari bahwa dunia berubah dengan arah yang sulit diduga. Banyak bisnis lain yang berkembang pesat. Sedangkan bisnis yang ditekuni saat ini, berjalan lambat. Cenderung turun. Inovasi mendeg. Perlu perubahan mendasar dan lebih cepat.

Jika sebagai karyawan, ternyata banyak pengetahuan yang baru dan perubahannya begitu cepat. Anak muda sebagai tenaga kerja baru pun, bermunculan dengan talenta yang sesuai dengan tuntutan zaman. Kita pun perlu segera melakukan penyesuaian.

Vision. Punya visi yang jelas agar arah perubahannya juga jelas dan juga mengikuti perkembangan zaman.

First Step. Segera lakukan langkah pertama, memulai! Karena itu akan menjadi stimulus bagi langkah-langkah yang lain.

Saya sangat yakin, sahabat semua telah membuktikannya. Proven !

Melakukan langkah awal, dan  ada yang telah berlari. Selamat !

Mari terus berkarya. Mari kita rawat semangat ketidaknyamanan. Semangat melakukan perubahan. Semoga sedikit karsa dan karya kita berkontribusi menjadikan kita, perusahaan tempat kita bekerja dan juga negeri yang kita cintai ini, menjadi pendekar pilih tanding. Memenangkan persaingan !

 

#key #limamodalkunci #persaingan #CIP #UIIA2018

Silahkan share jika bermanfaat!
  • 13
    Shares

Kesempatan

Bulan terakhir menjelang tutup tahun adalah masa istimewa.  Masa sibuk memberikan penilaian. Ada penilaian hasil kerja kolektif. Hasil karya dan karsa tim. Karya inovatif. Itu berlaku bagi orang yang diberi amanah menjadi juri dan/atau juga pimpinan sebuah organisasi. Rutinitas yang jarang dilewatkan. Bagi yag dinilai juga mengumpulkan dokumen pendukung. Bahkan ada yang membuat miniatur hasil karyanya. Tak jarang ada yang berjibaku. Perlu melekan (Baca : mengurangi waktu tidur). Sebaliknya, kadang menjadi rutinitas yang bergulir begitu saja. Itu pilihan.

Momen seperti itu kadang membuat saya terlena. Saya mampu menilai orang lain, tapi lalai menilai diri sendiri. Padahal, banyak hal yang saya nasihatkan atau saya sarankan kepada orang lain, tapi luput saya eksekusi. Konsekuensinya, hasil yang tidak optimal. Pelaksanaan pekerjaan yang tertunda. Dan banyak hal lain yang terpaksa dimaafkan.

Padahal ini salah satu momen penting. Saat pengingat muncul. Reminder dari waktu dan juga karya orang lain. Tamparan melakukan perubahan.

Bukan tidak mungkin, beribu alasan dikemukan untuk segera melakukan perubahan.

“Halah, ngapain capek-capek melakukan introspeksi. Perubahan, inovasi, transformasi atau apalah namanya. Lha wong gini saja selamat. Masih hidup”.

“Sudahlah, hidup ini semakin susah. Kenapa harus menyusahkan diri lagi dengan mengubah cara kerja. Perubahan sikap. Gini aja masih hidup, kok”.

“Gini aja masih dapat bonus, ngapain ikut-ikut tim inovasi”.

“Pinter bodo, gajine podho, Lha la po repot melakukan perubahan?

Boleh saja beralasan begitu. Sah ! Tidak ada yang melarang. Kalau hidup, pasti hidup. Lha wong memang sudah sesuai janji Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Tapi apakah mau terus seperti itu?

Buya Hamka, salah satu ulama besar yang pernah dimiliki Indonesia, pada suatu kesempatan pernah mengatakan:

 “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”

Dalem ngga, Bro? Bagi saya ini dualeem banget. Nempol !

Hidup bukan hanya sekedar hidup. Hidup bukan hanya untuk makan, minum, tidur, seperti babi hutan atau binatang lainnya. Mosok kita mau disamakan dengan binatang?

Perubahan itu pangkal persaingan.  Perubahan itu tentang bagaimana menyikapi kesempatan.

Ibarat ujian, kita tidak tahu soal apa yang keluar. Kita kadang dberi kisi-kisi. Memang materi yang kita pelajari belum tentu keluar. Lha namanya juga ujian. Namun,  probabilitasnya akan muncul tinggi. Coba bayangkan ketika kita bersikap, tidak belajar saja, toh nggak tahu mana yang akan keluar. Ternyata keluar dan anda tidak bisa mengerjakan. Tidak lulus.

Atau sebaliknya, mending belajar. Kalau soalnya muncul, alhamdulillaah. Kalau tidak pun. tidak kecewa. Kita tidak melewatkan kesempatan untuk melakukan persiapan menghadapi ujian.

Ibarat mau pulang kampung naik kendaraan umum. Kita sudah mengantongi tiket. Pesan dari jauh hari. Ternyata banyak yang tidak kebagian. Saking banyaknya peminat yang ingin mudik. Parahnya, ada penundaan lama. Bahkan ditunda hari keberangkatannya. Masih ada peluang, karena tiket ditangan. Paling banter perubahan jadwal.

Coba bayangkan ketika kita tidak punya tiket. Bisa jadi mudik tinggal impian. Kalau pun mau beli tiket langsung, gambling. Berharap ada yang membatalkan keberangkatan. Peluangnya sangat kecil. Buahnya, bisa kecewa berat. Batal bertemu dan melepas kangen dengan orang tercinta.

So, mending punya tiket, bukan?

Masih mau melewatkan kesempatan?

Mari mempersiapkan diri mulai sekarang. Kita bekali diri dengan modal yang cukup. Memenangkan persaingan bukan jadi isapan jempol belaka.

#key #limamodalkunci #CIP #UIIA2018 #perubahan #persaingan #inovasi

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Awal yang Berat

Melakukan perubahan bukan perkara mudah. Lakukan dengan segera dan dengan niat karena Allah.

Perlu menyiapkan mental baja. Jangan takut ada response yang menyurutkan langkah kita.

Ketika kita sebagai orang yang melihat prubahan juga perlu memberikan dukungan. Bukan sebaliknya.

“Cie..cie… sekarang rajin ke masjid, nih. Mau naik haji ya ?”

Ada juga orang berkomentar seperti itu ketika ada seseorang yang biasanya tidak sholat berjamaah ke masjid. Namun, ia mendapatkan pencerahan dan ingin melakukan perubahan. Jika komentar tersebut muncul. Orang yang melakukan perubahan bisa mundur. Oleh karenanya, kita sebagai orang yang di sekeliling perubahan juga perlu memberi dorongan. Setidaknya, sekurnag-kurangnya, menahan diri memberi komentar yang tidak pas. Meski itu hanya bercanda. Bahkan, jika tak mampu memberi dorongan, sebaiknya diam.

Kita perlu membuat lingkungan tempat yang baik dalam memberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapat, rasa frustasi, atau bahkan hanya mendengarkan keluhan dari anggota tim yang lain. Hal tersebut dapat menguatkan tim. Anggota tim menjadi tahu bahwa mereka dapat mengekspresikan diri kepada rekan-rekannya.

Membiasakan diri dengan memberikan pendapat yang didukung dengan data. Speech with data. Mengeluh hanya untuk mengeluh tidak akan mendapatkan perhatian dari siapapun dan dimanapun. Kita harus bersiap menawarkan solusi terhadap masalah yang mereka lihat.

Jika ada ide yang baik, maka perlu diimplementasikan. Ada wadah untuk itu. Bisa juga jika dilombakan. Ide yang diterapkan akan meningkatkan rasa percaya diri. Di samping itu, akan timbul rasa pada diri anggota tim, bahwa mereka diberdayakan.

Sahabat, mari terus melakukan perubahan. Berinovasi. Awalnya berat. Tapi, seiring berjalan waktu, suatu saat akan mendarahdaging.

Imbal balik ? Yakinlah, itu pasti ada! Hanya saja, kita tidak tahu kapan saat yang tepat diberikan oleh Allah SWT.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Perusahaan Berkelas Dunia

Perusahaan Kelas Dunia

Suatu ketika saya pernah mengikuti percakapan konferensi jarak jauh dengan pimpinan perusahaan multi nasional di bidang consumer goods tempat saya bekerja. Ia mencanangkan program world class manufacturing. Menariknya, hal pertama yang disentuh adalah kesiapan sumber daya manusianya. Di samping itu, sang CEO ini melakukan perbaikan proses bisnis utamanya di bidang supply chain management-nya.

Khazanah pengetahuan saya juga bertambah. Kadang mendapatkan hasil penelitian. Business review dari beberapa perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Bacaan yang menyajikan presentasi perusahaan yang sedang maupun telah menjadi perusahaan kelas dunia. Paling mudah indikatornya adalah produknya dikenal seantero jagad. Insannya dicari banyak organisasi lain. Banyak dibajak. Salah satu cara tercepat melakukan perubahan adalah melakukan professional hire dari perusahaan lain. Bukan rahasia lagi, banyak buktinya. Ketika insan perusahaan kelas dunia itu direkrut perusahaan lain, tidak berselang lama perusahaan itu melejit kinerjanya. Organisasi itu tak perlu waktu lama untuk menjelma menjadi kampiun di bidangnya.

Akhir-akhir ini, beberapa kali saya mendengarkan arahan, buah pikir dari seorang pimpinan puncak perusahaan energi terkemuka di Indonesia. Ia menyatakan bahwa perusahaannya ingin menjadi perusahaan berkelas dunia. Sang CEO ini membuat prioritas yang harus dilakukan oleh seluruh anggota organisasi, tanpa kecuali. Di dalamnya selain produk yang berkesinambungan, kompetitif dan dapat diterima pelanggan, ia juga menyebutkan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu tokoh manajemen yang merumuskan pengertian World Class Company adalah Rosabeth Moss Kanter, seorang Guru Besar pada bidang strategi bisnis dari Harvard Business School. Ia akrab dipanggil dengan Prof. Kanter. Guru besar tersebut merumuskan minimal ada dua kualifikasi yang harus dipenuhi oleh sebuah perusahaan kelas dunia.

Pertama : operasi atau proses bisnis perusahaan tersebut harus mampu menghasilkan standar produk dan layanan yang paling tinggi, yang mampu bersaing dengan produk dan layanan di belahan dunia manapun.

Khusus kriteria ini, saya perkenankan mengambil contoh. Jika ditanya pisau cukur yang produknya bagus, hampir dipastikan disebutlah silet ! (Tulisan sebenarnya : Gillette). Saya yakin jawaban yang sama, jika disampling di beberapa kota di negara yang berbeda. Bahkan benua yang berbeda. Merek itu sudah tertanam dalam dalam benak konsumen. Top of mind. Itu karena produk mereka memang unggul. Bahkan terbaik di industri peralatan perawatan para pria.

Kedua : sumber daya manusia yang berada organisasi memiliki kualifikasi yang unggul. SDM yang mampu bekerja dan beroperasi secara lintas teritori, cross functional. Di mana pun dan pada fungsi apa pun. Multi talenta.

Saya takjub dengan alumni Citibank. Maksud saya, adalah orang yang pernah berkarya dan berkarir di bank itu. Hampir dipastikan, jika ia masuk di perusahaan lain, entah dibajak atau dengan keinginan sendiri, ia menjadi karyawan yang handal. Unggul. Tak jarang menjadi pimpinan puncak perusahaan yang dimasukinya. Bukan hanya di bidang keuangan. Bidang pelayanan pun ia bisa segera beradaptasi dan berjaya. Tidak banyak perusahaan yang punya alumni serupa. Boleh dikata, karyawannya pilih tanding.

Mau menjadi insan berkelas dunia. Pada akhirnya mendukung agar perusahaannnya pun berkelas dunia ? Siapkan kita ?

Mari mempersiapkan diri.

Temukan bagaimana langkah-langkahnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.

Silahkan share jika bermanfaat!

Aku Sudah Terlalu Tua

Kadang kita berhenti belajar atau mencoba dalam hitungan pekan atau bulan. Kolonel Sanders terus belajar dan melakukan untuk menyempurnakan resep dan tekniknya, selama 9 tahun. Belum lagi, saat memasarkannya, tak jarang sudah loyo dan ingin berhenti karena ditolak. Sementara kita baru beberapa kali ditolak dunia serasa mau kiamat. Kadang Kita ingin berhenti karena ditolak beberapa kali. Kolonel Sanders ditolak 1009 kali! Namun setetahnya ia menjadi milyarder. Bayangkan jika saat ke-1000 atau saat ke -100 kalinya, Bapak KFC ini menyerah. Apa yang terjadi? Ehm.. tentunya cerita jadi lain. Tak akan pernah kita temui logo pria berdasi kupu-kupu itu.

Saat ini, KFC telah memiliki lebih dari 18.000 outlet yang tersebar di 120 negara dengan penghasilan lebih dari USD 15 miliar tiap tahun. KFC telah berkembang menjadi salah satu bisnis waralaba yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Konon, orang yang ingin membuka gerai KFC harus merogoh kocek IDR 36 Miliar.

Di Indoensia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk yang didirikan oleh Keluarga Gelael pada tahun 1978. Tambah bertumbuh pesat setelah Group Salim masuk sebagai pemegang saham mayoritas pada tahun 1990. Jumlah gerai KFC di Indonesia saja lebih dari 500 unit.

Petuah Thomas Alva Edison memang tokcer. Ia pernah mengatakan :

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan KEBERHASILAN, saat mereka menyerah”

Cerita Kolonel Sanders adalah salah satu contoh bahwa kegagalan adalah pelajaran. Bukan sebuah kehancuran. Kita adalah pemenang.

Kolonel Sanders memulai usahanya saat berusia di atas usia pensiun. Kadang kita berpikir, setelah pensiun menikmati hidup saja. Terlalu tua memulai bisnis. Sang Kolonel mekalukan aksi anti mainstream. Itu yang dilakukan Kolonel Sanders. Ya, ia mulai usaha pada usia 65 tahun. Usia Anda berapa sekarang? Merasa tua atau muda? Sang kolonel memberi sinyal kuat, bahwa ternyata tidak ada kata terlalu tua untuk memulai dan memperjuangkan sesuatu yang kita citakan.

Masihkah kita berpikir :

“Aku sudah terlalu tua ?”

Mari kita buang jauh-jauh. Yuk … kita, saya kali ya….. Mari memulai berkarya mewujudkan yang diimpikan.

Temukan cerita yang menginspirasi lainnya di buku :

“KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan”.

Silahkan share jika bermanfaat!
  • 30
    Shares

Komunikasi Itu Porsinya Duapertiga

Komunikasi itu Porsinya Duapertiga

Kawan lama yang sekarang sudah menjadi tenaga handal di luar negeri adalah Dudi Hendi, seorang Aircraft Engineer di perusahaan perancang dan manufaktur pesawat terbang di dunia, Boeing. Saya pun mencoba meminta pendapatnya.

Menurut pengalaman Dudi Hendi, kekurangan SDM Indonesia adalah masalah komunikasi. Lebih jelasnya SDM kita acapkali tidak mampu menjual potensi dirinya.

Salah seorang manager Dudi Hendi pernah berkata bahwa untuk sukses berkarir kita harus punya 3 bagian. Sepertiga bagian yang pertama adalah knowledge, sepertiga kedua adalah communication dan sisanya communication.

Dudi sempat bingung memaknainya. Sang manager seakan tahu kebingungan salah satu timnya dari Indonesia ini. Manager itu menambahkan:

“Yup.. you need more communication to sell your potential knowledge. Sometime people that have less capabilities than you will get better position, because they can present himself to the others”.

Lambat laun teman saya ini membuktikannya. Terutama saat anaknya sudah mulai mengenyam pendidikan di Seattle. Siswa di sana sejak kecil dididik untuk terbiasa berbicara atau mempresentasikan sesuatu.

“Meskipun kadang-kadang saya melihatnya seperti hal yang sepele. Mempresentasikan sesuatu yang kayaknya remeh temeh. Ternyata, itulah cara mereka mendidik anak atau siswa sekolah. Saya jadi ingat waktu masih kuliah di Malang, saat presentasi sebelum maju ujian sarjana. Entah kenapa, semua yang disiapkan langsung hilang ketika sudah berdiri didepan kelas. Tak terbiasa, menjadikan saya grogi”, begitu tambahnya mengenang memori 24 tahun lalu.

Terima kasih Sam Dudi Prasetio yang berkenan memberi salah satu warna dalam buku : KEY, 5 Modal Kunci Insan Indonesia Memenangkan Persaingan.

Teruslah berkarya dan berbagi.

Silahkan share jika bermanfaat!