Tipe Menyerah atau Curang by Azrul Ananda

Tipe Menyerah atau Curang

By Azrul Ananda *)

Jawa Pos : RABU, 29 MARET 2017

ANDA tipe gampang menyerah? Atau tipe yang suka menyiasati keadaan (dalam artian curang)? Kalau jawabannya iya, bagaimana?

***

Saya beruntung bekerja di media. Tidak pernah ada dua hari yang sama, tidak pernah ada rutinitas. Bertemu banyak macam orang, bekerja dengan berbagai tipe manusia.

Saya juga bersyukur bisa menekuni sejumlah hobi. Selalu belajar sesuatu yang baru. Selalu berkenalan dengan orang baru. Selalu belajar tentang atau dari orang-orang baru itu.

Sabtu, 25 Maret lalu, saya bertemu dan berkenalan dengan begitu banyak orang baru. Ketika menyelenggarakan event bersepeda Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km, dari Surabaya menanjak ke Wonokitri, Bromo, via Pasuruan.

Bersama puluhan teman menjadi road captain, kami bekerja seperti gembala. Membawa total 1.170 cyclist dari 15 negara, termasuk yang mewakili 109 kota di berbagai penjuru Indonesia.

Semua mendaftar untuk ikut ’’sengsara’’, merasakan beratnya tanjakan menuju Wonokitri itu. Total tanjakannya hampir 40 km, menantang ketahanan fisik dan mental, dengan bagian akhir paling menyiksa: Tanjakan miring sampai 18 persen pada sekitar 250 meter memasuki Pendapa Wonokitri, di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Bagi kami cyclist di Jawa Timur (cyclist beneran yang tidak takut menanjak, bukan cyclist-cyclist-an yang hanya bike-to-eat), tanjakan menuju Wonokitri itu sudah berkali-kali kami lalui. Tapi, tidak pernah sekali pun terasa makin gampang.

Bahkan, kalau badan sedikit saja tidak fit, sangat mungkin tidak akan berhasil finis.

Nah, membayangkan ada lebih dari seribu orang mencoba menaklukkannya, dengan berbagai macam kemampuan, akan memberikan pemandangan seru.

Mereka yang kuat, tidak perlu diperhatikan. Itu merupakan hasil semangat dan dedikasi untuk berlatih, menjadikan diri semakin kuat dan tangguh.

Ada pula mereka yang tahun-tahun sebelumnya gagal finis, dan telah rutin berlatih supaya tahun ini bisa finis.

Mereka yang ’’tanggung’’, itu yang menarik untuk dibahas. Melihat pemandangan dan ulah-ulah manusia di tanjakan panjang itu, saya membayangkan seharusnya banyak dosen psikologi mengajak pelajar-pelajarnya untuk ikut mengamati. Karena di saat menghadapi tantangan berat seperti itulah, sifat-sifat manusia bisa kelihatan. Dan belum tentu sifat yang baik.

Saya dan sejumlah road captain memutuskan untuk berangkat agak belakang di bagian terakhir event. Yaitu, 17 km terakhir yang terberat, dari Desa Puspo menuju Wonokitri.

Kalau sehat, saya saja butuh sekitar 1 jam dan 20 menit untuk menyelesaikan bagian akhir itu. Kebanyakan cyclist yang tergolong mampu menanjak akan membutuhkan waktu 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Mereka yang tergolong sangat kuat atau atlet akan membutuhkan waktu di kisaran 1 jam.

Dari Desa Puspo, rombongan diberangkatkan pukul 10.15 pagi itu. Kelompok saya baru berangkat sekitar 20 menit kemudian. Selain untuk menjadi alat ukur waktu panitia, juga untuk melihat situasi dari sudut pandang belakang.

Plus, badan saya waktu itu juga tidak fit, beberapa hari sebelum event mengalami radang tenggorokan (beberapa yang lain sama).

Pemandangan dari belakang benar-benar seru. Ratusan peserta kami lalui dalam 17 km tersebut.

Sekitar 8 km sebelum finis, sudah banyak yang bergelimpangan di pinggir jalan. Entah karena kram, atau murni karena lelah. Bau balsam juga mulai tercium dari mereka.

Tidak sedikit di antara mereka yang menyerah. Memilih berputar balik turun ke bawah dan pulang. Atau naik mobil pendamping untuk pulang.

Ada yang tetap bertekad untuk mencapai finis dengan segala kekuatan. Walau kadang harus berjalan menuntun sepeda. Dan mereka terus berusaha mencapai finis sampai jam berapa pun, walau time limit sudah terlewati dan segala acara di puncak telah selesai.

Bagi saya, ini yang tergolong ’’terhormat’’, karena tetap berupaya finis menggunakan tenaga sendiri.

Ada pula yang mulai ’’mencari bantuan’’ mobil atau motor pendamping. Caranya tetap duduk di atas sepeda, tapi tangannya memegangi mobil atau motor sehingga dapat ’’tenaga lain’’. Lalu, ketika mendekati finis, mereka kembali mengayuh sepeda, sehingga seolah-olah finis beneran.

Ada lagi yang tidak punya akses terhadap mobil atau motor pendamping, lalu memutuskan mencari cara lain. Yaitu: Melobi motor-motor penduduk untuk mau membantu mereka naik ke puncak. Alias ngojek. Teman saya yang tinggal di kawasan itu bilang, Sabtu itu ojek laku keras.

Melihat itu semua, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Panitia sudah menyediakan banyak truk dan pikap untuk mengevakuasi peserta-peserta yang melewati time limit. Tapi, banyak yang tetap memilih pakai ojek atau bantuan pihak lain.

Jangan-jangan, mereka malu kalau diangkut pakai mobil resmi. Dan merasa lebih gagah atau bergengsi kalau menggunakan cara-cara ’’alternatif’’ tersebut.

Dan di berbagai cycling event di Indonesia, trik-trik itu sudah sangat lazim. Pernah waktu di kawasan Jogjakarta, ada peserta dari Jawa Tengah yang sengaja tidak ikut start dengan peserta lain. Mereka memilih naik mobil dulu sampai kaki tanjakan, lalu baru memulai bersepeda ketika rombongan sudah sampai di sana.

Hadeh-hadeh… Lha gitu itu maksudnya apa?

Ulah-ulah orang-orang itu benar-benar bikin geleng-geleng kepala, dan bahkan menggelikan.

Mereka orang dewasa. Kebanyakan berpendidikan. Banyak yang tergolong mampu. Tapi tetap memilih cara-cara seperti itu.

Dan kalau dipikir-pikir, bukankah itu cerminan banyak masyarakat Indonesia? Yang memilih jalan pintas –yang sering tidak terhormat– daripada bersusah-susah payah?

Bagi mereka-mereka itu, saya hanya bisa berdoa dan berharap. Semoga hati mereka dibuka, diberi kekuatan, supaya terpacu untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Supaya kelak tidak harus curang, tidak harus mencari jalan pintas.

Mau kuat? Ya latihan. Saya dulu juga tertatih-tatih kok kali pertama menanjak Bromo. Harus berhenti belasan kali sebelum benar-benar sampai ke atas. Tapi, waktu itu tidak mau menyerah. Harus bisa finis dengan kekuatan sendiri.

Saya tidak finis juga pernah saat latihan. Dan itu tidak apa-apa. Karena kaki sudah kram tidak mungkin dipaksakan lagi.

Saya juga berdoa dan berharap supaya event seperti Bromo 100 Km itu bisa menjadi pelajaran untuk tidak menjadi cyclist yang ’’manja’’. Yang ke mana-mana minta dikawal, membawa mobil pendamping.

Ikut event-event serupa di luar negeri, sepeda-sepedanya tidak seheboh atau semahal di Indonesia. Tapi, pesertanya mandiri-mandiri, bisa mengganti ban sendiri atau menyelesaikan masalah sendiri.

Semoga kelak di Indonesia juga sama. Karena itu cerminan masyarakatnya juga. Yang tangguh-tangguh, tidak manja-manja. Yang tidak mencoba mengakali situasi.

Selamat berlatih. Sampai jumpa di event berikutnya. Dan semoga di event berikutnya itu semua semakin kuat. Semangat !

 

*) Azrul Ananda, CEO dari Jawa Pos Group. Perusahaan media lokal yang menasional. Baru-baru ini juga membeli klub sepakbola Persebaya Surabaya.

Foto diambil dari jawaposcycling.com

Silahkan share jika bermanfaat!

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi by Dahlan Iskan

Saya mengobrak-abrik Mbah Gogel, ketika mencoba mencari contoh nyata apa itu transformasi budaya. Bukan perkara gampang mengawal program agar membumi dan menggerakkan aksi. Artikel yang ditulis hampir 5 tahun lalu ini, menurut hemat saya mewakilinya.

Ya, perubahan yang dilakukan pada perusahaan pelat merah, PT. KAI (Persero) dengan komando ketika itu Pak Ignasius Jonan. Adalah satu dari sekian cerita sukses perubahan pada Badan Usaha Milik Negara.

Mari kita simak bersama. Semoga menjadi inpsirasi kita semua.

Tidak Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi

by Dahlan Iskan *)

Manufacturing Hope : Senin, 3 September 2012

Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: Stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang lebaran.

Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. Ke Senenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yang menyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan, orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkan kereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.

Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawan foto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan, himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untuk difoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggu momentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.

Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto ke HP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik: seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik, memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawan memotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawan pun memotret akuarium!

Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikut upacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya:

“Seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakan kemerdekaan!”

Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langit seperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapat pujian itu.

Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward ke Jonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api di bawahnya.

Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat foto utama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompas bahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikan pujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembaca mengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya, khawatir saya tidak membacanya.

Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pasti sudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja keras itu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkan nyaris setengah halaman.

Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memuji perbaikan layanan KAI belakangan ini.

Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonan sendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bank Amerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.

Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kini dia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulai layanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.

Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar.

Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukan karena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisan belakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.

Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisa mencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisan depan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.

Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali, kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yang dibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.

Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depan sambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurus sehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perlu minggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dan nada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidak melihat.

Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkena kartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.

Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidak akan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonan adalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta api memang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum dengan Menteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unik seperti Jonan.

Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, motto majalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harus dimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.

Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” seperti Jonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun ini dia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidak ber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang timbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya.

“Pak Dis, ini diteruskan atau tidak?”.

Jawaban saya pun biasanya pendek saja: Teruuuuus!

Tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan kebijakan yang sangat sensitif: tidak boleh ada asongan yang berjualan dengan cara masuk ke gerbong-gerbong kereta api. Belum lagi reaksi reda, muncul instruksi Bapak Presiden agar kiri-kanan jalan kereta api ditertibkan.

Ini sungguh pekerjaan yang berat. Dan makan perasaan. Lahir dan batin. Tapi Jonan, dengan cara dan kiat-kiatnya, bisa melaksanakan instruksi tersebut dengan, tumben he he, agak bijak.

Gol demi gol terus dia ciptakan. Dia keluarkan lagi kebijakan ini: tiap penumpang harus mendapat tempat duduk. Termasuk penumpang kelas ekonomi. Ini berarti penjualan karcis harus sama dengan jumlah tempat duduk. Tidak boleh lagi ada penumpang yang berdiri.

Banyak orang yang dulu hobinya berdiri di pintu KA (seperti kebiasaan saya di masa remaja), tidak bisa lagi meneruskan hobinya itu. Reaksi keras atas kebijakannya ini sungguh luar biasa.

Mengapa?

Kebijakannya kali ini ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati orang dalam sendiri. Di sinilah tantangan terberat Jonan. Tidak lagi dari luar atau dari penumpang, tapi dari jaringan ilegal orang dalam sendiri. Jaringan yang sudah turun-temurun, menggurita, beranak-pinak, dan kait-mengait.

Marahnya orang luar bisa dilihat, tapi dendamnya orang dalam bisa seperti musuh dalam selimut: bisa mencubit sambil memeluk. Orang Surabaya sering mengistilahkannya dengan hoping ciak kuping: sahabat yang menggigit telinga.

Peristiwa karcis ganda, penumpang tidak dapat tempat duduk, harga karcis yang jauh di atas tarif, kursi kosong yang dibilang penuh, dan ketidaknyamanan lainnya, pada dasarnya, ujung-ujungnya adalah permainan jaringan yang sudah menggurita itu.

Berbagai cara untuk menyelesaikannya selalu gagal. Spanduk “berantas calo!”, “tangkap calo!”, dan sebangsanya sama sekali tidak ada artinya.

Seruan seperti itu hanyalah omong kosong. Jonan tahu: teknologilah jalan keluarnya. Tapi teknologi juga harus ada yang menjalankannya. Dan yang menjalankannya harus juga manusia. Dan yang namanya manusia, apalagi manusia yang lagi marah, ngambek, jengkel dan dendam, bisa saja membuat teknologi tidak berfungsi.

Tapi Jonan sudah menaikkan gaji karyawannya. Sudah memperbaiki kesejahteraan stafnya. Seperti juga terbukti di PLN, orang-orang yang mengganggu di sebuah organisasi sebenarnya tidaklah banyak. Hanya sekitar 10 persen. Yang terbanyak tetap saja orang yang sebenarnya baik. Yang mayoritas mutlak tetaplah yang menginginkan perusahannya atau negaranya baik.

Hanya saja mereka memerlukan pemimpin yang baik. Bukan pemimpin yang justru membuat perusahaannya bobrok. Bukan juga pemimpin yang justru menyingkirkan orang-orang yang baik. Jonan yang sudah meninggalkan kedudukan tingginya di bank asing, bisa menjadi pemimpin yang tabah, tangguh, dan sedikit ndablek.

Di PT Kereta Api Indonesia pun sama: mayoritas karyawan sebenarnya menginginkan kereta api berkembang baik dan maju. Buktinya, langkah-langkah perbaikan yang digebrakkan manajemen akhirnya bisa dijalankan oleh seluruh jajarannya.

Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah. Tapi organisasi besar KAI, dengan karyawan 20.000 orang, ternyata bisa berubah relatif cepat.

Transformasi di PT KAI sungguh pelajaran yang amat berharga bagi khasanah manajemen di Indonesia.

Lebaran tahun 2012 ini, harus dicatat dalam sejarah percaloan di Indonesia. Inilah sejarah di mana tidak ada lagi calo tiket kereta api. Semua orang bisa membeli tiket dari jauh: dari rumahnya dan dari ratusan outlet mini market di mana pun berada. Orang bisa membeli tiket kapan pun untuk pemakaian kapan pun.

Orang pun bisa melihat di komputer masing-masing, kursi mana yang masih kosong dan kursi mana yang diinginkan. Orang juga bisa melihat kereta yang mereka tunggu sedang di stasiun mana dan kereta itu akan tiba berapa menit lagi.

Naik kereta api juga harus menggunakan boarding pass. Setiap penumpang akan diperiksa apakah nama yang tertera di tiket sama dengan nama yang ada pada ID si penumpang.

Dengan cara ini, bukan saja orang tanpa tiket tidak bisa masuk kereta, yang dengan tiket pun akan ditolak kalau namanya berbeda. Persis seperti naik pesawat.

Dengan cara ini, memang praktis tidak memberi peluang calo untuk beroperasi. Tapi jasa membelikan tiket bisa saja tetap hidup, bahkan berkembang dengan legal.

Dengan gebrakan terakhir ini, jumlah penumpang kereta api menurun. Tapi, anehnya, dalam keadaan jumlah penumpang menurun, penghasilan kereta api naik 110 persen!

Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program kereta ekonomi ber-AC, tempat turun penumpang yang kadang masih di luar peron (sehingga harus loncat dan terjatuh), membuat kereta lebih bersih lagi, mengurangi kerusakan, mempercantik stasiun, dan menata lingkungan di sekitar stasiun adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.

Toilet-toilet juga akan banyak diubah dari toilet jongkok menjadi toilet duduk. Selama ini wanita yang mengenakan celana jeans mengalani kesulitan dengan toilet jongkok. Gaya hidup penumpang kereta memang sudah banyak berubah sehingga pengelola kereta juga harus menyesuaikan diri.

Kini banyak sekali penumpang yang merasa nyaman di KA: charger HP sudah tersedia di semua kursi. Kompor gas di kereta makan tidak ada lagi. Toilet-toilet di stasiun sudah lebih bersih (bahkan di beberapa stasiun sudah lebih bersih daripada toilet di bandara).

Perbaikan manajemen ini akan mencapai puncaknya 18 bulan lagi: saat jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya selesai dibangun. Di pertengahan 2014 itu, di jalur Jakarta-Surabaya memang belum ada Sinkansen, tapi harapan baru kereta yang lebih baik sudah di depan mata!

 

*) Dahlan Iskan, adalah Menteri Negara BUMN Republik Indonesia tahun 2011 -2014.

Catatan : ilustrasi adalah koleksi pribadi Ari Wijaya

Silahkan share jika bermanfaat!

Siapa Suruh Datang ke Malang ?

Memberikan materi pelatihan kepada orang lain, bukan perkara mudah. Perlu cara dan kiat spesial. Pun perlu menyesuaikan dengan peserta. Cara menyampaikan juga sangat mempengaruhi. Tak ayal, berbagai metoda disiapkan.

Buku Cost Killer adalah kemasan lain dari bagaimana memberikan informasi tentang ilmu manajemen rantai pasok dan bagaimana itu bisa memberikan manfaat. Rangkaian proses ada dalam setiap bisnis. Ketika kita berhasil memahaminya, melakukan perubahan untuk mendapatkan penghematan akan menjadi upaya yang tidak sulit. Profit pun bisa merambat naik.

Upaya itu dilakukan juga dengan metoda penyampaiannya. Kemasan acaranya. Karena memang tujuannya adalah materi mudah diterima, diserap, dan tentunya memicu untuk melakukan aksi. Sehingga guliran setelahnya bisa berdampak luas.

Alhamdulillaah, pada kesempatan ini, Pak Laksita Utama Suhud berkenan menguatkan upaya itu. Keluasan wawasan, pengalaman dan keahlian beliau dalam bisnis dan marketing akan sangat membantu agar tujuan besar tadi tercapai. Beliau seakan anugerah. Sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi saya bisa satu panggung dengan sosok yang kaya pengalaman ini.

Cost Killer pun insya Allah mampir di Malang, tepatnya di Gedung Prof. Ir. Suryono, Fakultas Teknik UB, Jl. MT. Haryono 167.

Kapan ? Pada hari Sabtu, 29 April 2017. Launching event ini dimulai dengan sarapan kudapan bareng pada 07.30 pagi. Harapannya, sebelum acara, peserta dapat saling berkenalan. Tukar informasi. Ide membuka usaha. Bahkan juga bisa membuka jaringan usaha.

Sahabat ingin mendapatkan benefit acara ini ?

Segera pesan tempat duduk anda.

Format pendaftaran : CK-Nama-Profesi

Dikirimkan melalui WA kepada :

Nazilatul | 0855 4652 5524 atau Vania | 0858 1528 6268 atau Sisrie | 0811 9090 190

Jika ada informasi yang ingin digali lebih dalam, silakan drop email ke : info@airbizconsulting.com

Oh ya.. ada harga khusus bagi mahasiswa atau pelajar : Rp. 75.000,- . Sedangkan pelaku usaha, karyawan, atau calon pengusaha diberikan harga tiket masuk : Rp. 200.000,-. Biaya dapat ditransfer melalui :

Bank Syariah Mandiri (kode antar bank : 451)

A/C : 7107 458 365 an. PT. Asahinsani Inovasi Rekombinan

Jangan khawatir, kami berusaha memberikan value of money atas investasi yang telah dikeluarkan. Ya, sahabat juga akan mendapatkan 1 buah buku ‘Cost Killer’ dan juga voucher senilai Rp. 250.000,-. Voucher ini dapat digunakan sebagai peringanan biaya pelatihan yang diselenggarakan oleh AIR Business Consulting.

So, siapa suruh datang ke Malang ?

Pastikan itu adalah dorongan dari dalam diri untuk terus belajar, berkarya, dan membawa manfaat kepada lebih banyak orang.

Sampai jumpa di Malang.

Rutam nuwus ! Terima kasih ! Thank you !

Silahkan share jika bermanfaat!

Buku yang Dirindukan !

Sahabat,

Launching buku pekan lalu di Tangerang Selatan, mendapat sambutan yang meriah dan penuh antusiasme. Kota lain akan menyusul.

Kota Malang adalah jadwal terdekat. Insya Allah, Sabtu : 29 April 2017 pagi ! Tunggu pengumuman detailnya, segera.

Event lalu agak istimewa. Peserta mendapatkan bukunya pas hadir. Buku memang saya terima dari Gramedia Pustaka Utama, sesuai jadwal yang dijanjikan, sepekan sebelum acara. Distribusi kepada peserta dipertimbangkan tidak dilakukan sebelum acara. Menahan dan menambah rasa penasaran.

Semoga yang sudah menerima, ditambah materi saat peluncuran, bisa menikmatinya. Terlebih mulai tergerak mengaplikasikannya. Wow, itu kebanggaan tersendiri. Rasa yang tak ternilai.

Sahabat, yang ingin tahu lebih dulu sebelum di bedah, boleh juga melakukan pemesanan buku kepada kami. Ehm… mengobati rasa ingin tahu.

Boleh juga lho, kalau diberikan sebagai hadiah kepada kolega. Rekan sejawat. Harapannya, mempunyai pemahamanan yang sama. Aksi serupa. Perubahan yang menggelora.

Semoga menjadi buku yang dirindukan !

 

Pemesanan silakan kontak :

Ayu (by WA) di 0856 9205 3051

Untuk memudahkan identifikasi, mohon sahabat menggunakan format :

Nama#Alamatlengkap#Jumlahbuku

 

Terima kasih atas perkenan dan perhatian, sahabat!

Silahkan share jika bermanfaat!

Berbeda tapi Satu

Perjalanan panjang lembaga pendidikan tentunya mewarnai warganya. Membanggakan. Utamanya, alumninya. Tak beda jauh dengan salah satu sekolah di Malang ini. SMA 3 Malang. Ada yang menyebutnya Bhawikarsu. Singkatan atas motto sekolah itu. Bhaktya Widagdha Karya Sudira.

Bhaktya : Berbakti, bertakwa. Widagdha : Berilmu-pengetahuan, belajar, berguna. Karya : Bekerja. Sudhira : Berani, berjuang, berteguh-hati

Tahun 2017 ini serasa spesial. Alumninya bahu membahu menghelat acara besar. Reuni 65 tahun. Panitianya dari yang sepuh alias umur di atas 50, maupun yang masih kinyis-kinyis (baca : muda banget). Ini nggak bisa dilepaskan dari kebiasaan semasa di sekolah. Kegiatan berjibun, seperti tak ada hentinya. Tapi itu semua, Alhamdulillaah, itu tidak mempengaruhi prestasi akademik. Salah satu buktinya, panitia kali ini juga punya catatan sekolah dan karir yang tetap moncer.

Perencanaan pun dilakukan. Bagaimana menyusun organisasi sebagai pengarah maupun panitia pelaksana. Termasuk pengelolaan pendanaannya. Rangakaian itu dikemas dalam gerbong : “Gerak Gemilang Agitma 2017”.

Banyak mata cara. Kombinasi antara fundraising, bakti sosial, kangen-kangenan, dan tentunya kontribusi untuk almamater. Berbeda tapi Satu ! Benar, satu ! Satu tujuan ! Bagaimana alumni tetap berkontrisusi dan mengabdi kepada negeri yang kita cintai ini. Sekecil apa pun itu.

Salah satu milestone event adalah Pergelaran Ludruk. Seperti lazimnya kegiatan siswa maupun alumni SMA 3 Malang. Kegiatan ini pun multi obyektif. Bagaimana menghidupkan budaya tradisional. Menjalin keakraban anggota. Alumni berkarya dan berkontribusi. Ada juga charitynya. Sekaligus menggalang dana untuk kegiatan besarnya.

Ya. Ludruk Kekinikian digelar esok Selasa 28 Maret 2017 pukul 12.30 WIB, diawali makan siang bersama di Taman Budaya, TIM, Jl. Cikini Raya, Jakarta. Pemainnya adalah alumni dengan tetap mengundang tokoh ludruk nasional seperti Cak Kartolo., dll. Lha iyo, kalau alumni thok yang main,  yo garing…

Acara ini dikomandoi oleh seorang perempuan yang kata teman-temannya (dan kata saya juga, sih), gak ono menenge (baca : sangat aktif). Ia adalah Dewi Bob. Pengusaha juga aktivis kegiatan sosial. Pingin tahu siapa dia ? Plus para panitia yang sueger-sueger… Yuk.. esok siang, merapat ke TIM.

Nang pasar Comboran, tuku manuk cicak rowo …

Lha kok wis larang kok ora iso ngoceh dagelan…

Ayo bagi peran dulur,  karo nggowo bolo kurowo…

ono lakon Cinta Terlarang, ojo sampai kelewat tanggalan..

 

Arep menek omah kecepit cendelo, wis sakmene ae, atur kawulo.

Semoga satu acara ini usai dengan baik dan sukses. Tentunya akan menjadi dorongan semangat untuk generasi muda.

 

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Bukan Perjalanan Biasa

Hari-hari itu, terasa ringan. Meski perjalanan melelahkan. Penat pun tak terasa. Penuh berkah. Hampir tiap perjalanan diisi dengan pesan-pesan moral. Kajian tentang kehidupan. Sejarah. Kadang juga kajian manajerial. Leadership. Berenergi dan bergizi, puool !

Sembilan hari saya merasakan hal itu. Ups.. saya ralat ! Tidak hanya saya ternyata ! Tapi sekawanan yang berangkat bersama. Hampir 30 orang, satu rombongan.

Berkunjung ke tanah suci, Mekkah dan Madinah, adalah dambaan setiap muslim. Tak terkecuali saya. Bisa jadi juga sahabat, bukan ?

Ibadah kali itu terasa beda. Ustadz pembimbingnya tetap ada. Mumpuni. Bagi yang pertama kali umroh, tak perlu risau. Bedanya, ada 1 orang lagi yang membersamai kami. Seorang pengusaha, pemimpin perusahaan, motivator sekaligus penulis buku nasional yang mulai mendunia.

Tak ayal, setiap perjalanan, bahkan menunggu dan menuju masjid saja, ada pesan yang disampaikan. Paling lima hingga 10 menit. Pesannya tetap bernas. Memberi motivasi, menggerakkan. Apalagi ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Perjalanan yang kadang melelahkan, menjadi ceria, ada gelak tawa, tapi materi kajiannya pun tetap mengena. Maknyus.

Bukan perjalanan biasa. Ibadah dapat, ilmu manajemen pun dapat.

Sahabat ingin mendapatkan pengalaman seperti itu ?

Mari bergabung bersama, insya Allah Januari 2018, program serupa akan dibuka. Umroh bersama Jamil Azzaini dan juga trainer & motivator handal lainnya.

Belum punya dana ? Ada solusinya.

Bisa kok dicicil mulai sekarang.

Bahkan, bisa juga berangkat umroh tanpa biaya.

Mosok ? Bagaimana caranya ?

Bisa kontak saya, ya :

Ari Wijaya | 081 1166 1766 | ariwijaya@gmail.com

atau

Yuniar Ade Chandra | 0822 4440 1635 | tmd_candra@yahoo.co.id  (khusus untuk daerah Grebangkertosusila (Gresik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sisoarjo Lamongan)

 

Mari kita siapkan segala sesuatunya. Rencana ke Baitullah dimatangkan dari sekarang. Semoga menjadi catatan amal sholeh.

Silahkan share jika bermanfaat!

Marketing Langit by Laksita Utama Suhud

 Artikel ini ditulis hampir 2 tahun lalu oleh Pak Laks. Namun, saya sangat merasakan getarannya. Saya juga yakin masih relevan dengan kondisi kekinian dan kedisinian kita.

Perkenankan saya berbagi kepada sahabat semua  . . .

 

Marketing Langit

by Laksita Utama Suhud

 

Sehebat apa pun strategi kita..
Sehebat apa pun team kita dalam mengeksekusinya..
Seluar biasa apa pun kekuatan financial dan jaringan kita untuk menjalaninya..

Kalau Allah SWT tidak berkehendak, mau apa..

Itulah mengapa kita perlu menguasai teknik MARKETING LANGIT..

Sebuah teknik mendatangkan rezeki melalui pertolongan Allah SWT dengan pasukan malaikat langitnya yang sebenarnya sudah diajarkan kepada kita dan sudah kita lakukan sejak kita mulai memasuki masa baligh kita. Kita mengenalnya dengan istilah SHALAT ..

Sekilas ini hanyalah sebuah ritual wajib bagi kita kaum Muslimin, tetapi saya lebih melihatnya bukan lagi kewajiban.. lebih dari itu.. UNDANGAN KEHORMATAN bagi kita bertemu langsung dengan Allah SWT langsung tanpa perantara, disaksikan oleh seluruh Malaikatnya.

Mengapa saya sebut UNDANGAN KEHORMATAN ?

Bagaimana rasanya kalau kita diundang olah pejabat yang kita hormati? Oleh atasan kita?

Dimana mencari waktu untuk bisa ketemu langsung dengan mereka susahnya setengah mati. Tentu kita tidak akan menyia-nyiakan moment tersebut dengan datang tepat waktu, kalau bisa lebih awal. Datang dengan pakaian terbaik kita, dan saat ketemu pun kita juga akan berusaha sebaik mungkin mencuri simpati mereka dengan bersikap dan bertutur kata sebaik mungkin agar mereka bersimpati kepada kita.

SHALAT lebih dahsyat lagi..

Kita mendapat undangan kehormatan dari Penguasa Alam Semesta ini. Sampai kita disiapkan waktu khusus untuk menemuiNya tanpa perantaraan siapapun. Jadi seyogyanya kita datang jauh lebih tepat waktu lagi, dengan pakaian terbaik yang kita miliki, dengan tutur kata dan sopan santun terbaik yang bisa kita lakukan. Agar seluruh malaikat yang hadir di sana saat itu, juga ikut menilai baik kesungguhan kita. Dan ikut meng-aamiinkan setiap permohonan kita kepada Allah SWT saat itu.

Dan itulah saat terbaik kita berusaha sebaik mungkin mempresentasikan permohonan kita di dalam shalat kita. Langsung di hadapan Allah SWT

Selain waktu yang tepat (tepat waktu).. Agar presentasi kita betul betul mendapatkan perhatian dari para malaikat yang menilai seberapa bersungguh sungguhnya kita dan menguasainya kita akan materi di dalam presentasi proposal rahmat kita.. Kita juga perlu tahu tempat-tempat yang tepat untuk mempresentasikan proposal rahmat tersebut dalam shalat kita kepada Allah SWT.

Walaupun kita bisa melakukannya di mana saja di muka bumi ini. Bisa di rumah, di mushalah, di masjid.

Tetapi di depan Ka’bah inilah salah satu tempat terbaik dan paling ijabah di muka bumi ini untuk mempresentasikan proposal marketing langit di dalam shalat kita kepada Sang Pencipta Langit dan Bumi, Allah SWT. Agar Allah SWT berkenan segera menurunkan para malaikatnya untuk membantu semua niat dan upaya baik yang kita sampaikan dalam presentasi proposal tersebut..

Mengapa demikian ?
Karena kalau kekuatan langit sudah Allah turunkan untuk membantu kita, maka sudah tidak akan ada satu pun kekuatan di muka bumi ini yang akan sanggup menghentikannya..

Itulah sebabnya mengapa.. kita mengucapkan :

inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan muslimaw wa ma ana minal musyrikin

Aku tundukkan wajah dan hatiku padamu ya Allah wahai Tuhanku Sang pencipta langit dan bumi, dengan hati yang lurus dan pasrah. Sesungguhnya hambamu ini tiada berani menyamakanMu dengan yang lain.

Mengapa “Pencipta Langit dan Bumi” sering sekali kita temukan di Al Qur’an..

Karena ukuran dan dimensi langit yang maha luas bahkan tanpa batas. Sementara ukuran dan dimensi Bumi yang tidak ada apa apanya jika dibandingkan luasnya langit.

Ini adalah analogi yang berserakan di dalam Al Quran.. untuk mengingatkan kita..

Upaya kita sebagai penghuni bumi ini harus senantiasa dibarengi dengan permohonan agar Allah juga berkenan menurunkan pertolongan langitnya yang maha luas dan maha dahsyat untuk memudahkan semua urusan baik kita yang sangat kecil dan tidak berarti apapun dengan semua kekuatan Allah.

Berarti shalat itu adalah presentasi langit ?

Betul.. shalat itu adalah presentasi proposal bagi program marketing langit kita. Dalam upaya memohon dengan sebaik-baiknya perkenan Allah SWT untuk sudi mengampuni dosa-dosa dan khilaf kita serta berkenan menurunkan pertolonganNya bagi semua urusan kita.

Dan namanya juga mempresentasikan sebuah proposal, maka diterima dan tidaknya proposal kita sangat tergantung dari seberapa bersungguh-sungguhnya kita saat mempresentasikannya di hadapan Allah dan seluruh malaikatnya tersebut. Apakah presentasi kita cukup meyakinkan atau tidak untuk diproses..

Karena yang kita hadapi saat itu tahu betul.. kita ini sedang tulus atau tidak.. kita ini sedang bersungguh-sungguh atau tidak.. kita ini saat itu betul-betul bersungguh-sungguh meminta atau hanya berpura-pura..

Terima kasih ya Allah..
Telah meluruskan kembali tujuan hidup ini..

Silahkan share jika bermanfaat!