Spasi

Bung Hatta, pernah memberikan nasihat. Sangat relevan dengan kondisi kekinian negeri kita.

“Jatuhbangunnyanegaraini,sangattergantungdaribangsainisendiri.Makinpudarpersatuandankepedulian,Indonesiahanyalahsekedarnamadangambarseuntaianpulaudipeta.Janganmengharapkanbangsalainrespekterhadapbangsaini,bilakitasendirigemarmemperdayasesamasaudarasebangsa,merusakdanmencurikekayaanIbuPertiwi.”

Enak dibacakah ? Bingung ? Petuah yang hebat tersebut menjadi sulit dibaca. Walhasil sulit di mengerti.

Coba dibaca lagi dengan format ini.

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

Saya yakin, sekarang pesan ini lebih gampang dibaca. Maknyes. Lebih mengena. Cepat merasuk ke dalam jiwa.

Apa pembedanya ? Ya. Untaian kalimat terakhir menggunakan spasi. Spasi hanya jarak antar kata. Namun menjadi pembeda. Kalimat lebih mudah dicerna. Nasihat salah satu proklamator kemerdekaan negeri kita itu pun, jelas maknanya.

Tak ubahnya menggerakkan roda perusahaan. Ada kalanya perlu berhenti sejenak. Memberi jarak atas rutinitas.

Upaya jeda tersebut bisa berupa membuat kegiatan yang lain dari biasanya. Kegiatan di dalam ruang, bisa diganti dengan diskusi di kafe. Menyelesaikan masalah di kebun, misalnya. Menuntaskan masalah dengan ceria, fun.

Kalau biasa bekerja di lapangan, bagaimana ? Tiap hari ketemu hutan. Ladang. Alam terbuka. Coba, sesekali datang ke kantor pusat. Menikmati ruang kerja teman. Atau mampir di perpustakaan. Rasakan bedanya.

Bisa juga pergi ke suatu tempat favorit. Berlibur. Itu juga salah satu cara. Tidak harus mahal, kok.

 Journal Applied Research in Quality of Life menerbitkan salah satu hasil penelitiannya. Rasa bahagia akan meningkat tajam bagi orang yang berlibur dibandingkan dengan mereka yang tidak liburan. Tidak hanya itu, satu kali liburan juga dapat membuat seseorang merasa bahagia selama 8 bulan. Merefresh kinerja otak selama bekerja.

Spasi nampak sepele. Tapi ia menjadi pembeda. Mari kita temukan dan ciptakan spasi perjalanan kita. Insya Allah, itu akan menambah daya dorong berkarya.

 

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Passion !

Passion bermakna strong emotion. Love. Strong interest. Dalam Bahasa Indonesia punya arti nafsu. Gairah. Keinginan besar. Kegemaran.

Satu kata yang menggelitik karena punya banyak makna. Bisa lari kemana-kemana lamunan kita.

“Passion Gua nggak disini, nih”. Bosen, Gua. Buntu. Nggak bisa berkembang”, ujar seorang kawan.

Benarkah demikian ? Bisa juga terjadi pada sahabat ?

Semoga tidak. Tapi, jika ragu-ragu. Mari kita cek masing-masing.

Salah satu guru saya mengajarkan cara menemukan passion yang realif mudah. Ini bisa juga berbeda pendapat. Debatable. Setidaknya, metoda ini cukup untuk membantu menjawab dalam waktu singkat.

Tiga tugas yang harus dijawab. Di tambah satu pertanyaan uji.

Tugas pertama. Coba sebutkan beberapa kegiatan yang sahabat lakukan dengan suka cita. Kalau pun diajak diskusi tentang kegiatan itu, kagak ada matinye. Nyerocos terus (baca: antusias).

Tugas kedua, terkait dengan task sebelumnya. Jika keuangan terbatas. Dana cekak. Aktivitas mana dari yang disebutkan tadi, bisa menghasilkan uang. Setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Task ketiga. Coba ditemukan pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Dan yang lebih penting, menurut penilaian orang lain, sabahat melakukan aktivitas itu dengan sangat baik.

Pekerjaan atau kegiatan yang muncul di ketika task tersebut, sudah bisa dikatakan passion. Ya itulah, passion sahabat.

Mari jawaban itu diuji. Jawaban atas pertanyaan berikut ini adalah konfirmasi.

Apakah para sahabat rela berjibaku ? Rela berkorban waktu. Gampang mengeluarkan uang.  Tak surut berpeluh basah. Energi ditumpahkan. All out. Rela atas semua itu agar menjadi yang terbaik dalam bidang pekerjaan atau kegiatan itu? Apakah berkenan dengan ringan tangan. Tanpa beban. Melakukan pekerjaan itu walau tanpa dibayar?

Jika jawabannya masih ya. Maka itu benar-benar passion. Pupuk terus. Lanjutkan !

Richard Branson mengatakan :

“Finding your passion means you’ll always work, but never have a job”

Jika bukan, yuk, temukan lagi. Mari gali lagi. Bila perlu, lakukan perubahan.

Passion ini penting dalam mendorong berkarya. Menikmati setiap assignment dengan suka cita. Bahagia sepanjang hayat.

Insya Allah.

Perkenankan juga, saya membagikan artikel dari Richard Branson terkait tulisan ini.

https://www.virgin.com/richard-branson/finding-your-passion-means-youll-never-have-job

 

Salam Terobosan.

This is AriWAY

Silahkan share jika bermanfaat!

Keep Moving

Beberapa bulan terakhir ini, terasa berat. Koran memberitakan ada belasan perusahaan melakukan efisiensi. Bahasa lebih lunak dari PHK. Seorang sahabat yang bekerja di daerah Karawang pun, jadi salah satunya. Sejawat yang lain juga tidak tenang. Ada yang mulai merintis buka usaha. Mereka menyiapkan sekoci. Tak jarang ada yang volunteer tanpa menunggu pemutusan hubungan kerja. Beralih berwirausaha. Banyak juga yang berupaya menambah kompetensinya. Agar tetap jadi pilihan. Layaknya pendekar pilih tanding. Upaya beragam dilakukan agar tetap bertahan dan tumbuh berkembang.

Pengusaha ? Setali tiga uang. Meski ini tidak berlaku umum. Teman yang jadi pengusaha pun geleng-geleng kepala. Lesu. Ia malah meminta masukan, bagaimana kalau bisnisnya ditutup. Berganti bidang lain. Panjang lebar diskusinya.

Sepakat dengan beberapa solusi. Simpulan penting adalah jalan terus tapi nambah lini bisnis. Ia mengambil langkah cepat melakukan overhaul. Perbaikan menyeluruh. Seluruh tim dilibatkan. Memang bisnisnya gitu-gitu saja. Tapi efek dominonya yang patut dipertahankan. Belasan karyawan menyandarkan hidupnya melalui usaha kecil yang dikelolanya.

Memang berat. Jalan tak mulus. Tapi jika berhenti, malah menutup kesempatan. Memberi batas peluang. Meneruskan perjalanan adalah pilihan jitu. Keep moving. Apalagi jika diarungi bersama. Bisa dengan keluarga dekat. Sejawat seperjuangan. Atau bahkan kolaborasi yang lebih besar lagi.

Setidaknya hasil diskusi kecil itu memberikan tiga pesan kuat.

Berdoa dan berharap. Setiap kesulitan ada kemudahan. Itu janji Allah SWT,  Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Menyediakan waktu khusus untuk berdoa menata hati, bersimpuh berharap kepadaNYA. Saat kebanyakan manusia terlelap tidur. Bermunajat dengan sepenuh hati. Ini usaha langit.

Adaptif. Menyikapi perubahan dengan positif. Melakukan review atas apa yang terjadi. Memberikan response yang sesuai kebutuhan pelanggan. Customer accomodation. Menggunakan bantuan teknologi, jika diperlukan. Perkembangan teknologi informasi punya akselerasi yang jauh lebih cepat dai yang diharapkan. Patut dimanfaatkan.

Kolaborasi. Saat seperti ini, berjalan sendirian akan jauh melelahkan. Malah mudah dan lebih cepat kehabisan tenaga. Bergandengan tangan. Membangun budaya kerja tim. Memecahkan masalah bersama kelompok internal. Bahkan, bekerja sama dengan pihak lain. Tidak mudah. Tapi sangat mungkin dilakukan.

Pepatah Cina mengatakan :

“To get through the hardest journey we need take only one step at a time, but we must keep on stepping”

Keep moving, Sahabat !

Semoga ikhtiar itu menjadi catatan upaya kita. Highlight notes bahwa kita bukan hamba yang gampang menyerah. Allah azza wajalla, Tuhan Yang Maha Memberi juga memberikan keberkahan usaha langit dan usaha bumi. Menetapkan kita jadi juaranya.

Salam Terobosan !

This is ariWAY.

Silakan disebarkan jika tulisan ini membawa manfaat.

Silahkan share jika bermanfaat!

Kambuhan

Entah berapa sudah terkena OTT. Operasi tangkap tangan. Terlepas, masih perlu bukti lanjutan. Faktanya memang marak. Berita seliweran. Hampir setiap hari, running text senada muncul.

Suap. Korupsi. ‘Titipan’ proyek. Kongkalikong. Uang sukses pemenangan tender. Sogokan agar lulus ujian. Uang ‘terima kasih’ agar masuk sekolah tertentu.  Duit damai agar ringkas urusan. Entah apa lagi istilahnya.

Kata ahli manajemen, yang terlihat itu masih kecil. Kejadian yang tak terlihat, bisa jadi berjibun. Iceberg. Gunung es. Mungil terlihat di atas, besar menggelayut di bawah.

Bagaimana dengan kita ? Mari kita lakukan introspeksi. Masihkah untuk mendapat proyek, dilakukan iming-iming titipan ? Apa menyimpan biaya agar terlihat menggiurkan ? Atau ada yang bilang : 

“Biasa itu, kalau mau menang yang harus tahu diri. Bagi dikit nggak apalah”
“Kalau nggak ngikut gitu, kapan kita dapat proyek ? Bagaimana kita hidup ?”

Jangan anggap kecil. Kecil itu, kelak bisa jadi kesalahan fatal. Edward Coke, Hakim Agung Inggris, yang sangat disegani pada masanya, memberi nasihat :

“Though the bribe be small, yet the fault is great”

Apalagi pernah sakit parah, hampir kolaps. Terseok-seok gara-gara kasus integrity. Penyembuhannya perlu sumber daya yang tidak sedikit. Ketika sakit itu sudah sembuh. Bisa jadi belum tuntas. Tapi jangan sampai kambuh. Biasanya, obatnya lebih lama. Lebih mahal.

Lebih baik ditanggalkan. Segera. Jangan jadi penyakit kambuhan. Jangan khawatir akan rezeki Allah. Pintu rezeki akan terbuka lebar.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.”
(HR. Ahmad)

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, memberi jalan dan kemudahan bagi kita.
Silahkan share jika bermanfaat!

Pendidikan Sang Pendongkrak

Apa yang banyak ketahui tentang Australia ? Kanguru, binatang berkantong itu ? Bisa jadi. Senjata tradisional mereka, bumerang. Boleh juga. Suku aboriginnya. Tak salah juga. Tetangga yang sering berantem opini dengan Indonesia. Itu juga jawaban.

Bagaimana perekonomian Australia ? Banyak yang mengatakan, negeri ini termasuk salah satu negara maju. Tahun 2015 PDB per kapita mereka USD 52.400. PDB totalnya USD 1.200 Triliun. Tercatat 70% disumbangkan oleh sektor jasa, termasuk pendidikan.

Pendidikan atau lebih tepatnya higher education penyumbang PDB ? Ya, betul. Siapa yang tidak kenal dengan universitas ternama di Negeri Kanguru itu. Data tahun lalu, 8 universitas di Australia masuk 100 besar perguruan tinggi di dunia. Mereka disebut Group of Eight (Go8). Itulah daya tariknya. Sehingga pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara mau bersusah payah menggali ilmu di Australia. Meski biayanya pun tidak murah. Tercatat 600ribu mahasiswa dari luar Australia yang belajar di sana. Inilah yang menjadi salah satu sumber pemasukan penting. Tahun 2014 tercatat USD 16 Milyar masuk ke kantong pemerintah Australia.  Logis jika sektor pendidikan menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto.

Pengalaman negeri tetangga kita itu yang ingin saya kupas untuk ditiru.

Apakah kita punya potensi itu ? Punya. Saya ambil contoh Kota Malang. Sebuah kota di tengah Provinsi Jawa Timur.

Kenapa Malang ? Sebagai gambaran, Malang dianugerahi julukan Kota Pendidikan. Ini juga julukan yang pas. Jumlah perguruan tinggi di Malang tercatat lebih dari 50. Perguruan tinggi negeri saja, banyak pilihannya seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki), Politeknik Negeri Malang (Polinema), Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian.

Perguruan tinggi swasta diantaranya : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka Malang (Unmer), Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malang Kucecwara.

Jika kita berkaca pada Australia, maka modal dasar telah dimiliki Kota Malang. Jika perguruan tinggi yang disebutkan tadi bisa membuka kelas internasional. Tidak perlu semua program studi. Jurusan tertentu yang disiapkan. Selektif dan bersinergi. Dampak atas inisiatif itu akan menjadi efek domino.

Program Studi Ekonomi Syariah dibuka kelas internasional di UIN Maliki dosen utama dari UIN Maliki dengan dosen tamu dari UB, UM, UIN Maliki, UMM. UIN Maliki punya sumber daya yang mumpuni ketika bicara tentang syariah.

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dibuka di UM dengan dosen tamu bekerja sama dengan UIN Maliki, UMM, Unisma. Mengapa UM ? Institusi ini punya catatan moncer dalam pengembangan tenaga pendidik.

Program Studi Teknologi Pertanian diinisiasi di UB dengan dosen tamu melibatkan Unmer, UMM, ITN. UB punya resources dan reputasi yang mumpuni dalam bidang keilmuan ini.

Program studi Penyuluh Pertanian dibuka di STPP dengan dosen tamu UB, UIN Maliki. STTP sudah terkenal punya output tenaga penyukuh handal yang tersebar di negeri ini.

Bisa jadi jurusan lainnya. Masih terbuka. Rektor dan pimpinan yang lain insya Allah lebih tahu program studi yang punya potensi.

Bagaimana kualitasnya ? Saya yakin saat ini perguruan tinggi di Malang berlomba untuk meraih akreditasi yang paripurna. Assessment dilakukan oleh Kementrian Ristek dan Dikti, tapi juga lembaga internasional. Itu juga pondasi yang sangat baik.

Siapa pasarnya ? Pasar utama ditujukan di negeri seputaran Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika. Dapat menggunakan lobbying solidaritas negara ASEAN atau Konferensi Asia Afrika.

Sejarah mencatat, Negeri Jiran, Malaysia, sesuai sejarah, pernah mendatangkan tenaga pendidik Indonesia ke negerinya. Pun mengirim putra-putri terbaiknya ke Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi ternama.

Masih ingatkah pada jaman Pak Harto (Presiden Soeharto), bahwa petani terbaik dari beberapa negara di Afrika untuk belajar pertanian dan peternakan di negeri kita.

Bagaimana efeknya ? Pendapatan daerah kota Malang sesuai APBD 2016 adalah sebesar Rp. 1,73 Triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD)nya Rp. 370 M. Baru 21%. Pemko Malang punya keinginan meningkatkan PAD. Apa dampaknya jika jasa pendidikan tadi semakin mendunia ?

Inilah yang sejalan. Tempat tinggal tentunya akan lebih banyak dibutuhkan. Rumah tinggal, guest house, hotel, dan apartemen akan naik demand-nya. Ini sumber penghasilan bagi daerah. Belum lagi expenses mereka. Belanja mahasiswa juga diharapkan meningkat. Bandara Abdul Rahman Saleh frekuensi penerbangannya bisa lebih banyak. Ia lebih ramai setidaknya pas liburan semesteran. Perputaran uang relatif lebih besar. Peluang usaha menjadi lebih terbuka. Ya, efek domino.

Pendidikan yang bisa memperkuat perekonomian daerah. Ia jadi sang pendongkrak. Bukan tidak mungkin mengubah dunia, setidaknya Kota Malang.

Bagaimana Abah Anton, Walikota Malang ? Insya Allah, ide ini bisa digodok lebih matang. Dikembangkan lebih luas. Tentunya melakukan sinergi dengan para pimpinan perguruan tinggi di Malang.

Semoga ide kecil ini dapat turut serta memberikan sumbangsih upaya peningkatan pendapatan asli daerah.

Semoga Pak Walikota berkenan.

Salam satu jiwa.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Chaos !

“Pak, bisa merapat ke tempat saya?”, pinta pelanggan di ujung telpon.

“Siap, Pak. Saya langsung ke kantor Bapak”, sahut salah satu pejabat pentolan di bidang operasional.

Sejurus kemudian ia sudah kembali dan memimpin rapat internal untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sebagai perusahaan jasa layanan di bidang energi, panggilan seperti itu sudah tidak asing lagi. Pemenuhan kebutuhan mendadak adalah salah satu bisnisnya.

Tak lama, beberapa fungsi diminta bergabung. Permintaan informasi dikerjakan dan dianalisis. Mereka menyebar. Berbaur. Ada yang kirim email. Mencari data. Rapat kecil. Mengolah dan menganalisis. Hampir semua fungsi sibuk. Ada yang menemui pemasok. Tak jarang beberapa kali bertemu direksi. Nampak kalang kabut. Pating sliwer. Meski semua fungsi punya niat yang sama, effort yang sungguh-sungguh. Mereka ingin memberikan data yang pas untuk proposal agar pelanggan puas. Tak kurang dari 2 jam hal itu terjadi. Hingga akhirnya proposal jadi dan sang pejabat menghadap client untuk memberikan penawaran atas jasa yang diminta.

“Kenapa feedbacknya lama sekali ?”, sahut pelanggan dengan nada kecewa.

Harapannya, proposal komersial juga memperhatikan waktu responsenya. Masih dinilai kurang cepat.

Itulah gambaran simulasi yang diperagakan oleh sebuah perusahaan energy services company. Simulasi itu dipimpin oleh direktur utamanya. CEO langsung turun tangan yang memandu jalannya workshop. Upaya perubahan budaya dengan meretas proses bisnis yang ada. Pesertanya adalah pimpinan seksi hingga divisi. Termasuk pimpinan anak perusahaan. Senior managament. Terobosan yang dimulai dari puncak.

Setelah masukan dan perbaikan. Tim yang sama diminta menuliskan business process penerimaan order sesuai aktivitas yang telah dilangsungkan. Masih banyak aksi yang mubadzir, sia-sia. Setelahnya diminta melakukan perbaikan. Beberapa proses dipangkas. Simulasi dijalankan dengan cara yang berbeda. Diulang lagi beberapa kali.

Singkat cerita pukul 8 malam, acara disudahi. Meski belum mencapai waktu response yang diharapkan setidaknya sudah ada perbaikan yang significant.

Perubahan proses bisnis memang tidak mudah. Salah satu enablers atau saya sebut ‘pengail perubahan’ adalah dari manusianya. Pelaku utama adalah kita dan itu butuh komitmen. Lebih makjleb ketika perubahan dipimpin dan dicontohkan langsung oleh manajemen puncak. Upaya tadi adalah awal yang sangat baik. Ibarat sprinter, start yang baik salah satu penentu kemenangan.

Inisiasi yang mengikis kekalangkabutan. Mengurangi pating sliwer. Menghindari chaos ! Menjadikan setiap aksi efektif, efisien, lebih cepat dan lebih baik.

“Kenapa perlu ?” tukas sang CEO di tengah penjeasannya.

Customer requirement changes terjadi sangat cepat kadang melampaui kecepatan perubahan internal perusahaan yang melayaninya. Customer meminta layanan yang lebih cepat, lebih baik dan juga lebih murah sudah keniscayaan. Sunatullaah. Jika tidak melakukan perubahan, bukan tidak mungkin ia berpindah ke provider lain. Pindah ke lain hati. Kalau sudah begitu, hanya menunggu waktu  untuk tergilas. Hilang dari percaturan bisnis.

Mau terjadi seperti itu ? Ehm.. saya yakin tidak ada yang mau kalah dalam kompetisi.

Mari kita resapi nasihat Jack Welch, yang dinobatkan oleh Majalah Fortune sebagai “Manager Abad Ini”, pada tahun 1999 :

“A leader’s job is to look into the future and see the organization, not as it is, but as it should be”.

Begitukah ? Ya. Mari berada pada garis depan dalam melakukan perubahan. Ubah sesuai dengan yang seharusnya. Perubahan yang dipicu oleh pelanggan. Jika sahabat menjadi leader, maka jangan segan mempimpin perubahan itu hingga tuntas sesuai kebutuhan atau bahkan melebihi ekpektasi palanggan.

 

This is ariWAY

Salam Terobosan !

Terus berkarya untuk negeri.

 

Jika sahabat mendapat manfaat dari artikel ini, silakan disebarkan.

Diskusi secara rinci dapat dialamatkan melalui email : ariwijaya@gmail.com atau WA : 081 1166 1766.

Silakan juga bergabung pada Forum Terobosan dalam Proses Bisnis dengan klik FB Group :  https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?ref=ts&fref=ts

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Cost Killer

Empat tahun lalu, satu kelompok tim saya, pernah mendapat sanjungan selangit atas prestasinya dari CEO. Saya yang mendengar dari jauh pun turut bangga. Meski apa yang dilakukan bisa jadi sepele menurut ukuran tim yang lain.

Apa sih yang dilakukannya ?

Manager Procurementnya membuat langkah cepat hasil diskusi atau tepatnya rapat koordinasi di Jakarta. Ia bagi tugas kepada tim kecilnya untuk melakukan analisis pembelanjaan tiap kategori. Singkat cerita, mereka melakukan penambahan aktivitas pada tahap awal proses pengadaan. Proses bisnisnya tambah panjang dari biasanya. Hasilnya, perubahan attitude karyawan. Mereka lebih peduli dengan namanya perencaan pengadaan. Vendor melayani dengan baik dan enjoy. Barang atau jasa diperoleh dengan lebih cepat. Penambahan aktivitas pada awal, namun memudahkan proses pengadaan selanjutnya. Dan yang tak kalah penting adalah, inisiatif itu menghasilkan penghematan. Meski kecil, masih 1,5% dari total pembelanjaan sebelumnya. Tapi, inisiatif itu menciptakan perubahan.

Ini yang saya sebut “cost killer“. Ih.. serem ya. Pembunuh biaya. Nggak juga, ini adalah program memangkas biaya dengan pendekatan perubahan proses bisnis. Perubahan tidak hanya memotong atau menghilangkan satu atau lebih aktivitas. Namun, juga bisa dengan menambahkannya. Atau membuat proses bisnis baru. Itu semua bagian dari terobosan proses bisnis.

Business process breakthrough juga salah satu bentuk improvement. Tujuan melakukan perbaikan adalah ada hal baru yang lebih mudah, lebih baik, lebih cepat dan lebih murah.

Seperti yang dilakukan tim tadi. Ia menambah beberapa kegiatan di awal proses. Logikanya, proses tambah panjang. Tambah lama. Bukankah begitu ? Betul. Tapi itu hanya terjadi pada awalnya. Pada kasus inim terjadi pada awal tahun. Sepanjang tahun berjalan mereka menikmati hasilnya. Mereka menerbitkan 1 saja dokumen PO untuk waktu setahun. Proses penerimaan barang lebih cepat. Tidak ada lagi metoda lawas, ada permintaan baru menjalankan proses pengadaan. Ia menggunakan dokumen lainnya. Harga mendapat potongan khusus. Inventory tidak perlu ditumpuk di gudang kita. Persediaan ada di pemasok.

Sahabat masih penasaran ? Bagaimana secara rinci prosesnya ?

Silakan mengirimkan komentar atau pertanyaan di bawah ya. Atau kirim pertanyaan atau masukan via email : ariwijaya@gmail.com.

Salam terobosan !

Ari Wijaya, This is ariWAY

Cost Killer

http://Ari WijayaDj

Yuk bergabung dengan Forum Terobosan dalam Bisnis di  https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts

Silahkan share jika bermanfaat!
  • 3
    Shares