Meniru Lirikan Penjajah

Meniru Lirikan Penjajah

Oleh : Ari Wijaya

.

Lamunan saya melayang 35 tahun lalu. Saat Guru Sejarah menerangkan era penjajahan di depan kelas. Kadang kami diminta membuka dan membaca dengan keras buku sejarah secara bergantian. Tak jarang kami mendengar paparan Pak Guru. Salah satu simpulan penting,  Orang-orang Eropa dulu berbondong-bondong ke Indonesia mencari rempah-rempah dan beberapa hasil bumi yang memang tidak ada di tanah mereka. Barang itu pun yang membuat mereka kaya raya. Barang komoditi. Bahkan membuat mereka tak hanya berdagang, membeli hasil bumi. Tapi bagaimana caranya menguasai lahan dan tenaga kerjanya. Itulah awal penjajahan. Untungnya pun berpuluh kali lipat. Mereka pun pewe alias posisi wuenaak. Betah sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

.

Saya coba mengulik tanaman-tanaman yang menjadi primadona. Ada pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, kunyit, vanili, dan lain-lain. Saya coba fokus kepada tanaman yang berkayu. Saya ambil contoh Pala. Tanaman asli Indonesia. Menurut data BPS tanaman ini banyak di daerah Maluku. Buah dan bijinya sudah tersohor, daya tarik Bangsa Eropa. Komoditi dunia. Biji pala mengandung minyak atsiri. Opo kuwi?  Minyak atsiri dikenal dengan sebutan minyak eteris (aetheric oil) atau minyak aromatik. Minyak yang dijadikan dasar dari wangi-wangian. Bisa minyak gosok untuk pengobatan alami. Ia memilik aroma khas. Atsiri juga seringkali disebut dengan bibit minyak wangi. Ia punya ciri khas, mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi. Belum lagi buah pala yang mengandung banyak nutrisi. Ia dapat dijadikan bahan dasar pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman seperti manisan, sirup, dan permen.

.

So, bahan dasar yang penting bukan? Terbayang merek minyak wangi terkenal tak akan bisa ada tanpa minyak ini. Tak bakal ada iklan menarik seperti di baliho atau acara televisi. Dengan model cantik rupawan dan gagah perkasa itu. Pantaslah kita dilirik bahkan dikuasai.

.

Lha, ayo . . kita tiru lirikan mereka. Lirikan para penjajah itu. Lahan-lahan kritis, ditanami kembali dengan Pala. Bisa pakai aeroseeding. Penyebaran biji dari udara pakai pesawat atau helikopter. Atau penanaman bibit pohon langsung sembari berwisata alam. Belum lagi bisa menggerakkan ekonomi. Tukang gali tanah dan perawatan bibit pohon Pala bisa menggunakan tenaga setempat. Tapi, pohon Pala ini kan tanaman yang lama menghasilkan? Benar bin betul itu. Tidak salah. Memang, perlu waktu normal 7-8 tahun untuk menghasilkan buah pertama dan dapat dipanen. Itu kalau kita tanam dengan bibit tradisional. Tunggu dulu, kita punya ahli dan sekolah yang punya laboratorium hebat. Ada namanya teknik pembibitan kultur jaringan. Ini bisa mempercepat tumbuh dan memperpendek masa panen pertama. Kita punya ahli pupuk organik. Dan masih banyak cara dan sumber daya yang hebat.

.

Saya melamun lagi, coba kalau daerah yang saat ini hutannya mulai gundul. Hamparan tanah terlihat tanpa pohon. Mulai meniru lirikan para penjajah itu. Pimpinannya menyerukan dan memberi contoh. Mereka mulai menanam pohon yang buah dan bijinya menjadi komoditi dunia ini. Setelah pohon muda stabil, baru disela-selanya ditanami jahe. kunyit, dll. Apalagi banyak petani handal, ahli tanah, ahli pertanian. Akan banyak cara dan metoda yang bisa diterapkan sesuai kondisi. Pohon pala ini akarnya bisa menahan erosi. Penyimpan cadangan air. Buah dan bijinya bernilai ekonomis. Lho, kalau banyak hasilnya, nanti harga anjlok. Supply lebih besar daripada demand. So what? Ya tunggu saja, sampai harga bagus. Atau kita yang mengatur harga dunia. Lha wong kita yang punya kok. Walaupun tidak semudah yang saya ucapkan. Tapi maskud saya, kalau kita berpikir begitu terus. Ya, nggak ada perubahan. Toh, Pohon Pala ini bisa hidup puluhan tahun. Dan hingga kini, masih jadi lirikan banyak orang.

.

Itu masih ngomongin Pala lho. Belum pohon-pohon lain yang juga bernilai ekonomis dan jadi lirikan para penjajah tempo dulu. Mau? Ayo kita tanam. Ayo kita pengaruhi saudara kita yang pegang kebijakan. Atau orang yang punya lahan. Saya jadi membayangkan kelak negeri kita bisa punya pemasukan yang bertumpu pada agro industri. Tanaman komoditi. Buktinya para penjajah itu, negerinya kaya raya karena memperdagangkan (baca: mengeruk) rempah-rempah kita. Dulu penduduk masih berapa? Sekarang? Berlipat-lipat tho?

.

Dulu bisa, sekarang tentunya lebih bisa.
Salam hijau lestari. Negeri hijau, rakyat sejahtera.

Tebang Pilih

Kemuliaan dan Kebebasan

Tulisan ini saya salin dari kanal24.co.id

.

Kemuliaan dan Kebebasan
Oleh : Ahmad Erani Yustika *)
.
Menjelang ulang tahun ke-16, Leland Stanford Jr wafat karena penyakit tipus. Orang tuanya, Leland Stanford dan Jane Stanford, raja kereta api dan Gubernur California, merasakan duka luar biasa. Kepada istrinya, barangkali sebagai penghiburan, Leland Sr bertitah pada hari kematian putranya: “Seluruh anak-anak California akan menjadi anak kita.” Ternyata, ucapan itu terkabulkan. Pada 1 Oktober 1891 berdirilah Universitas Stanford untuk menghormati dan mengenang putra tercinta mereka. Mahasiswa pertama berjumlah hampir 600 dan semuanya tidak dipungut biaya kuliah.
.
Selanjutnya, Universitas Stanford menjadi legenda: sampai kini menjadi kampus apik dunia. Peringkatnya selalu masuk 5 besar terbaik. Calon mahasiswa hebat dari berbagai belahan benua memimpikan bisa kuliah di sana. Perjalanan memang telah mengubah kampus tersebut, salah satunya tentu biaya kuliah yang tidak lagi murah. Ini kampus swasta sehingga tidak memperoleh donasi dari pemerintah. Namun, misi awal dibangunnya universitas ini dibaluri dengan nilai kemuliaan: memberikan kesempatan anak-anak mencecap pendidikan gratis.
.
Sejarah kampus di Indonesia belum selama di AS atau negara maju lainnya, baru seabad untuk kampus tertua (ITB). Di Bandung pada 1920 didirikan “Technische Hooge School” (THS) yang pada masa itu juga dijadikan perguruan tinggi negeri. THS ini adalah kecambah ITB. Setelah itu muncul kesadaran mendirikan kampus di kota-kota lainnya, dari mulai Jakarta, Bogor, Yogyakarta, dan Malang. Pada 1957 di Malang tokoh masyarakat dan Ketua DPRD menginisiasi berdirinya kampus swasta, yang bernaung di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM), yang hanya terdiri dari Fakultas Hukum dan Ekonomi. Kuliah menumpang di gedung Balai Kota Malang.
.
Sejak itu, beberapa perubahan terjadi. YPTM membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM) pada 1 Juli 1957. Secara resmi PTHPM diakui sebagai milik Kotaparaja Malang dengan keputusan DPRD (19 Juni 1958). Saat Dies Natalis ketiga, PTHPM menggunakan nama Universitas Kotapraja Malang. Selanjutnya, pembiayaan menjadi kendala utama penyelenggaraan kuliah. Pada 11 Juli 1961 dikonversi menjadi kampus negeri dan oleh Presiden Sukarno diberi label: Universitas Brawijaya (UB). Ujungnya, UB dikukuhkan pada 5 Januari 1963 (Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan/PTIP No. 1 Tahun 1963), yang sampai sekarang diperingati sebagai hari lahir.
.
Episode kelahiran dan perkembangan UB tentu jauh lebih kaya dan rumit dari deskripsi tersebut. Tiga pesan dari sejarah UB bisa disarikan dari riwayat itu. Pertama, kampus lahir dari detak rakyat (yang diwakili tokoh masyarakat) sehingga mencerminkan kesatuan denyut nadi warga. Kedua, kampus dimintakan menjadi universitas negeri karena keterbatasan dana sehingga negara (pemerintah) mengambil alih urusan tersebut. Pendidikan ialah salah satu amanah pokok di dalam konstitusi. Ketiga, nama Brawijaya diharapkan sebagai pantulan dari nilai-nilai kepeloporan, keberanian, kesucian, keberpihakan, dan keyakinan.
.
Sekarang UB telah menjadi gurita. Prestasi dosen, mahasiswa, dan jejak alumni menjadi ular cerita. Aneka karya diproduksi dan ilmu pengetahuan dibiakkan. Ranking kampus terus menanjak dan menjadi kampus bereputasi di Indonesia. Setiap tahun animo calon mahasiswa yang ingin masuk ke UB berjubel, bahkan menjadi kampus dengan jumlah pendaftar calon mahasiswa terbanyak di Indonesia. Ketika ajang prestisius lomba riset mahasiswa nasional digelar tiap tahun (Pimnas), UB adalah langganan juara umum. Tak ada kampus lain yang bisa mengungguli. Ini sebagai pengakuan atas proses dan kredibilitas pembelajaran.
.
Sungguh pun begitu, tiga refleksi pokok perlu diajukan. Sebagai kampus negeri, yang dulu latarnya didasari oleh keterbatasan dana, apakah biaya kuliah sekarang makin bisa dijangkau oleh anak bangsa? Gedung jangkung menjulang apakah menjadi tempat yang ramah bagi kaum pinggiran yang hendak mengubah nasib ataukah semata simbol industrialisasi kampus? Sebutan kampus rakyat akan bermakna bila -salah satunya- warga negara bisa mencicipi pengetahuan tanpa dicekam oleh mahalnya ongkos. Ini yang membedakan peran etis kampus milik negara dan swasta.
.
Berikutnya, kampus tegak berdiri sebab berlangsung investasi pengetahuan dan gagasan. Nalar menjadi pedoman. Laboratorium semerbak dengan temuan dan penciptaan. Publikasi akademik dalam aneka rupa wujud wajib silih berganti dicetak. Identitas kaum yang berada di dalamnya diukur dari penguasaan dan kredibilitas pengetahuan, bukan produktivitas komentar kebencian yang diumbar dalam forum tanpa mimbar (akademik) pertanggungjawaban. Hasrat mengembangkan pengetahuan wajib melampaui keasikan mengurus kekuasaan. Semoga mandat ini dihayati dengan bening oleh penghuni Kampus Ketawanggede.
.
Terakhir, semesta bergerak dan berselancar dalam gelombang teknologi informasi. Peradaban ditopang oleh kemajuan teknologi dan ilmu yang disemai oleh penghargaan atas kemajemukan dan toleransi. Pengetahuan melahirkan kehidupan yang unggul. Kemajemukan mendorong tiap orang atau bangsa saling mentransaksikan pengalaman, kearifan, dan kebudayaan. Toleransi menjamin ruang perbedaan tumbuh dan saling memekarkan sehingga kehidupan bersama bisa disangga. Kampus biru harus menjadi tungku berkobarnya api darma tersebut, persis seperti elan masa berdirinya.
.
Sejak peringatan Dies Natalis UB ke-44, 5 Januari 2007, diperkenalkan motto anyar Universitas Brawijaya: “Building up Noble Future” (membangun kemuliaan masa depan). Kemuliaan menyembul bila nilai kerakyatan, keragaman, dan pengetahuan diletupkan dengan tangki kesadaran. Itu semua akan dicapai bila kampus menyemaikan kebebasan. Keyakinan ini pula yang diteguhkan Universitas Stanford via visi (yang dipilih oleh suami-istri Stanford) yang berasal dari percikan pemikiran Ulrich von Hutten: “Die Luft der Freiheit weht” (angin kebebasan yang berhembus). Selamat Dies Natalis ke-58, Universitas Brawijaya!
.
.
*) Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, SE.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Brawijaya 2019-2023.
Dirjen PPMD (Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa) dan 2017-2018. Dirjen PKP (Pembangunan Kawasan Perdesaan), Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Staf Khusus Presiden (bidang ekonomi) 2018-2019.

Hama Perjuangan

Judul saya ubah sendiri untuk menambah semangat saya dan bisa jadi sahabat semua. Judul asli adalah “Mengisi Kehidupan” karya KH. Imam Zarkasyi. Beliau adalah satu dari tiga orang Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yang lebih terkenal dengan Trimurti. Beliau wafat pada 30 April 1985 dalam usia 75 tahun. Meski sudah wafat 35 tahun lalu, tapi buah pikir dan karyanya masih membekas. Begini pesan beliau:
.

Yang biasa dan pada umumnya dicari setiap orang adalah kebahagiaan. Kebahagiaan di dunia terbagi dua: kebahagiaan lahir dan kebahagiaan batin. Untuk kebahagiaan lahir perlu kemakmuran atau kebendaan. Wujud kebahagiaan lahir mudah dimengerti, tapi kebahagiaan batin bagi banyak orang msih perlu dijelaskan.

.

Kemakmuran atau kekayaan harta benda, tak mutlak dapat menjamin kebahagiaan yang sesungguhnya. Orang yang tidak merasa aman dan tenteram, seperti selalu dikejar-kejar musuh yang tampak maupun tidak. Atau tak putus dirundung kemalangan karena penyakit fisik, rohani, dan sebagainya, tak akan merasakan kebahagiaan, meski secara lahir ia berada dalam keserbaadaan dan kecukupan.

.

Orangtua yang terganggu oleh perbuatan anak-anaknya yang nakal dan suka membuat malu, juga tak dapat merasakan indahnya kebahagiaan yang hakiki.

.

Hidup di dunia harus diisi dengan beragam kebaikan yang kelak akan menjadi tabungan hasanat (kebaikan-kebaikan) di akhirat. Tapi jika yang menjadi pusat perhatian seseorang dalam mengisi kehidupannya hanya urusan dunia, sungguh kasihan ia tak akan mendapat bagian di akhirat (QS al Baqarah;200).

.

Dalam hidup ini, janganlah hanya memikirkan kenikmatan sesaat hingga melupakan kehidupan di kemudian hari. Kalimat ‘kemudian hari’ dapat dipahami sebagai hari tua atau pula kehidupan setelah meninggal.

.

Jadi, yang harus dicari dan diperjuangkan bukan hanya kenikmataan sesaat di dunia, tapi juga kehidupan yang baik di akhirat, agar kebahagiaan di dua dunia itu dapat diraih.

.

Kepada generasi muda yang ditimang-timang (diharapkan) atau dalam Bahasa Jawa ‘digolo-golo’, kami berpesan agar menjadi pemuda yang dapat diandalkan sebagai pejuang yang memiliki rasa tanggungjawab atas kesejahteraan umat dan kemajuan agama. Bukan kepntingan diri sendiri.

.

Tapi, dalam kehidupan dunia pasti akan ditemui bermacam-macam hama perjuangan. Dapat berupa: harta, tahta, dan wanita. Inilah ibarat wereng-werengnya manusia.

.

Semoga para generasi muda mampu berjuang dengan benar dan tahan melawan wereng-wereng itu, sehingga mampu tampil sebagai penerus perjuangan yang bisa diandalkan.

.

Dalam perjuangan, jangan mencari yang enak-enak saja. Masing-masing mesti selalu mawas diri atau mau menilai diri sendiri, sampai dimana amal dan nilai perjuangannya untuk masyarakat, negara, dan agama? Apakah hidup kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau segelintir  manusia, atau keluarga?

.

Ingat racun kolonial yang sangat berbahaya, berupa kuatnya rasa individualisme. Pertahankanlah jiwa-jiwa sosial kemasyrakatan, kegotong-royongan atau kelektivisme. Jangan biarkan jiwa-jiwa itu menipis, atau malah habis. Jangan pula biarkan bangsa ini terpecah karena bahaya laten individualisme. Seban dengan keterpecahbelahan bangsa, kemajuan dan kesejahteraan pun hanya akan menjadi angan yang tak mungkin menjadi kenyataan.

.

Untuk itu, mari kita hidupkan dan bangkitkan jiwa perjuangan serta pengorbanan, demi meraih kebahagiaan yang hakiki.

Yayasan Itu Bisnis?

“Saya ini ngurusi yayasan, nggak punya bisnis. Tidak cari untung. Apa cocok pelatihan itu untuk kami?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada saya oleh seorang ibu muda yang diserahi orang tuanya mengurus sekolah di bawah yayasan keluarganya. Memang topiknya ada kata bisnisnya. Kala itu, saya membawakan materi bagaimana melakukan penghematan dengan perubahan proses bisnis.

Bisnis secara leterlek (bahasa Belanda : letterlijk) punya makna usaha komersial dalam dunia perdagangan atau bidang usaha atau usaha dagang. Namun bisnis secara umum bisa juga diartikan urusan.

Naah… segala urusan itu ada prosesnya. Benar apa betul? Ada yang tertulis ada yang belum ditulis dalam sebuah sistem. Itu yang disebut proses bisnis. Kenapa begitu? Ya, karena tetap ada pemasoknya alias vendornya. Proses juga dijalankan, dalam kasus tersebut belajar mengajar. Tentu saja, ada pelanggannya, bukan?

Yayasan atau organisasi sosial memang tidak berorientasi profit. Tapi tetap perlu juga eksis. Ada lho organisasi sosial yang berumur panjang. Artinya dia membawa manfaat secara luas, baik cakupan wilayah maupun jumlah orang yang menerima manfaaat. Agar masyarakat dan institusi yang menitipkan dana infaq atau bantuan, tetap dapat terbantu penyalurannya. Tentunya, jika dikelola dengan baik, maka manfaat yang dihasilkan jauh lebih banyak.

Mau yayasan tetap eksis? Mau tahu lebih dalam?
Mari ikut bergabung kelas on-line dengan klik: http://bit.ly/bisnistangguh

Wassalaam. Sampai jumpa.

Zonk?

“Coach, saya nggak punya produk buatan sendiri. Jualan saya tergantung dari produk orang lain. Kadang barangnya ada, kadang kosong. Bagaimana saya bisa meningkatkan penjualan?”

Ada sahabat yang mengalami hal yang sama? Pertanyaan serupa? Pas banyak order, ternyata barang kosong. Sudah dapat omelan pelanggan, penjualan turun drastis. Boro-boro untung, malah buntung. Kenapa buntung? Reptutasi kita nyungsep. Zonk!

Allah Tuhan Maha Adil. Ada yang jago produksi, tapi nggak piawai pemasaran dan penjualan. Begitu pula sebaliknya Jadi kalau berniaga tapi bukan produk hasil karya sendiri, juga sah. Bisa dikatakan sesuai istilah tren, drop shipper. Model bisnis yang saling menguntungkan. Yang penting pembeli puas. Apa sih kepuasan pembeli? Lazimnya, dapat barang bagus dan harga sesuai kantong alias budget. Secara umum dikatakan, bagus dan murah.

Kepuasan pembeli atau pelanggan ini saja yang jadi fokus para penjual.

Harga itu bisa disebabkan karena biaya produksi, biaya pendukung seperti biaya pengiriman,  dan juga biaya administrasi. Source atau sumber barang boleh kita peroleh dari mana saja. Itu harus, upaya meminimalkan kekosongan stok. Tapi harga yang diterima pelanggan setidaknya mirip. Jangan njomplang. Biaya produksi agak susah dikontrol, tapi biaya lain bisa kita kendalikan. Inilah faktor kunci pembeda dari yang lain. Kalau nggak kompetitif, bisa nggak ada repeat order. Jika sudah begitu, nggak ada pemasukan, tho? Bisnis  bisa zonk.

Nggak mau ikutan zonk ? Bagaimana caranya?

Silakan sahabat bisa mengikuti event on-line dengan klik link ini:
http://bit.ly/bisnistangguh

Terima kasih. Sampai jumpa.

Nambah Proses, Nambah Untung

Saya punya sahabat petani apel di lereng Gunung Arjuno. Di samping itu, dia juga punya kebun bunga mawar. Kebun bunga ini bisa dipanen tiap hari. Mawar yang mencukupi kebutuhan  harian. Ia ambil kuliah di jurusan yang sama dengan saya, Teknik Mesin. Profesi tani adalah profesi turun temurun dari leluhurnya. Kenapa kok nggak kuliah di Jurusan Pertanian saja? Ternyata alasannya sederhana, supaya bisa menciptakan alat yang mempermudah pekerjaannya. Visioner.

Saya teringat dialog beberapa tahun lalu.

“Mas, pas panen raya apel seperti ini, kadang aku sedih dan gondhok (baca: marah banget)”, tuturnya dengan tatapan kosong, saat saya main di rumahnya.

“Lho, bukannya senang? Kan panen, hasilnya dipetik dan sudah ada tengkulak yang menunggu?”, saya pun agak heran. Pikiran sederhana saya. Saat yang ditunggu tiba. Kayak menunggu kekasih yang lama nggak ketemu. Jie.. jie… Lha, pas panen banyak pembeli yang menunggu di kebun. Tidak perlu repot cari angkutan dan jual ke pasar. Uenaak tho?

“Harga ternyata jatuh. Murah banget. Kalau menunggu harga baik, takut apelnya nggak segar dan busuk. Kadang hasil jualan, ya impas kalau dihitung dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Malah tekor tenaga. Capeknya nggak kebayar”, dia menjawab dengan datar. Tergambar kegalauan di wajahnya.

Kala itu dia belum punya solusi. Apel pun terpaksa dijual dengan harga yang bukan idamannya. Terpaksa. Sungguh terlalu.

Cambuk yang menyakitkan. Tapi lebih dari cukup untuk ia melakukan inovasi dan bangkit.

Apakah ada yang mengalami seperti sahabat saya? Ya, ini memang masalah klasik. Apalagi terjadi pada produk yang keunikan dan harganya ditentukan oleh freshness alias kesegarannya. Bisa masalah, saat produk berlimpah, tapi permintaan sama saja. Maka terjadi supply lebih besar dari demand, harga turun. Bahkan boleh dibilang jatuh. Saya yakin kita semua tidak ingin itu terjadi. Harus ada pembeda, supaya harga sesuai harapan. Harga baik, bisnis bertahan. Bagaimana caranya?

Balik lagi ke Buah Khas Kota Malang itu. Inovasi banyak dilakukan. Saat ini kita bisa melihat sudah ada Sari Apel. Minuman dalam kemasan yang berisi sirup dari apel. Jenang atau dodol apel. Ada juga kripik apel.

Buah Apel jadi kripik apel? Memang mereka harus menambah proses. Biasanya setelah dipetik, dipilah dan dijual. Sekarang ada tambahan proses. Kripik apel misalnya. Ada proses membuat apel jadi kepingan tipis. Diiris pakai mesin, awalnya juga diiris manual pakai pisau dapur. Setelah itu digoreng. Proses jadi kripik dulunya pakai penggorengan biasa. Berkembang hingga menggunakan vacuum frying. Penggorengan yang ditambah alat semacam kedap udara. Titik didih bisa diturunkan, hasilnya gorengan lebih seragam, krispi dan rasa tidak banyak berubah. Plus jarang terjadi overfried alias gosong. Alatnya sudah pakai timer. Kemasan? awalnya plastik biasa. Berkembang dengan kemasan yang menggunakan alumunium foil. Masa kadaluwarsa juga bertambah panjang. Dari 6 bulan menjadi 1 tahun. Bayangkan jika dibandingkan buah segar. Bagaimana dengan nilai jualnya ? Ternyata bisa naik 3-4 kali lipat dari buah segar dengan berat setara.

Proses bisnis yang diperpanjang memang akan menambah waktu dan menambah biaya. Tapi secara total nilai produk bisa bertambah besar. Baik dampak pada produk langsung maupun tidak langsung.

Ini yang namanya, nambah proses, nambah untung.

Nah.. mau nilai produknya naik? Bagaimana menemukan ide seperti itu?

Mari bergabung pada event “Mau Bisnis Tetap Eksis?” dengan klik: http://bit.ly/bisnistangguh

Semoga bermanfaat. Sampai jumpa.