Beri Solusi

Saya sangat bersyukur diberikan Allah azza wajalla karunia keberkahan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang spesial. Mereka adalah guru-guru saya. Ya spesial, karena mereka sudah masuk radar sebagai publik figur. Ada yang sudah jadi trainer nasional. Motivator yang sudah berkeliling ke beberapa negara. Konsultan perusahaan besar. Salah satu aktivitas di antara seabreg kegiatan padat mereka adalah membimbing kami, kalau boleh saya sebut, murid-muridnya, untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pesan guru saya sederhana tapi nancep dan dalem banget :

“Sebagai trainer itu bukan untuk unjuk kebolehan, kepintaran, atau kepakaran tapi jadilah solusi bagi orang lain. Beri solusi atas masalah yang terjadi”

Semangat ini tidak hanya untaian kata indah. Kami selain punya kegiatan mandiri dengan bisnis masing-masing, juga diberi ruang bersama. Kali ini kami ditantang untuk memberikan solusi kepada masyarakat. Terlebih saat musibah dan krisis terjadi. Berbagi pengalaman, pengetahuan dan kolaborasi untuk beikhtiar menjadi solusi. Uniknya, target pun dipatok dalam bentuk rupiah. Ini bukan berarti mengejar komersial semata. Tapi agar benar-benar sesuai target, ada yang ingin dibantu pemecahan masalahnya. Dan tentunya untuk mengukur para trainer, apakah mereka ‘diterima’ di masyarakat.

Saya pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Saya berikhtiar berbagi sesuai yang Allah SWT telah berikan selama ini, Pengalaman panjang di bidang manajemen operasional. Semoga bisa membantu, para pejuang dan pebisnis UMKM yang punya masalah karena bisnisnya mulai goyah. Setidaknya berdaya upaya bersama mempertahankan bisnis, bahkan kalau bisa melejit.

Kapan dan dimana ? Silakan simak  http://bit.ly/bisnistangguh

Terima kasih.
Semoga dapat memberi solusi. Semoga bermanfaat.

Ah… Ternyata

AH…TERNYATA…

Oleh : Satria Hadi Lubis *)

 

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa melafazkan Hermes, Chanel atau Louis Vuitton dengan benar…tapi ternyata apalah artinya saat gak bisa bedain lafadz huruf hijaiyah “da” dan “dza”, “ta” dan “tsa”, juga “sya”, “sho”… apalagi sampai usia segini belum bisa baca Qur’an dengan tartil…

Dulu dikira yang keren itu kalau bisa naik pesawat melancong keluar negeri lalu foto-foto di berbagai negara….tapi ternyata apalah artinya kalau tidak pernah mengunjungi Baitullah sedang usia terus habis tak bisa dikembalikan…

Dulu dikira yang keren itu kalau anak masih kecil bisa bahasa Inggris dengan fasih… sehari-hari tinggal di Indonesia tapi ngomongnya pakai bahasa Inggris campuran…. tapi ternyata apalah artinya saat ditanya rukun iman, rukun Islam gak bisa menyebutkan dengan benar…gak tau doa sehari-hari, seolah anak gak pernah hidup untuk ibadah…

Dulu dikira yang keren itu kalau suami istri berkarir bersama…sukses dengan penampilan wah… tapi ternyata apalah artinya jika gak bisa menjadi partner untuk akhirat..tidak saling tolong dan menasihati dalam agama… lebih mentingin penampilan dibanding hakikat suami istri yang sesungguhnya…

Dulu dikira yang keren itu kalau rumah bagus.. ala-ala rancangan arsitek terkini ..tapi ternyata apalah artinya jika yang paling dibenci Allah itu adalah kemubaziran…. rumah luas dan mewah padahal tidak fungsional dan jarang dipakai …apalagi jika di dalamnya tidak dijadikan tempat ibadah dan jarang dibacakan ayat-ayat Allah…lagi pula rumah tidak akan pernah dibawa mati…..

Dulu dikira yang keren itu jika punya mobil mewah…Lamborghini, Ferrari, Alphard atau punya koleksi puluhan jam mewah…terus dipamerin di youtube….katanya untuk motivasi …padahal selubung untuk pamer saja….padahal Rasulullah saja malu jika di rumahnya ada uang berlebih lalu buru-buru beliau menginfakkannya….

Dulu dikira yang keren itu kalo weekend jalan-jalan dengan keluarga ke mall atau tempat rekreasi lainnya… tampak harmonis…dan sebar foto kemana-mana …tapi akankah berkumpul kelak di akherat jika suami isteri selalu mengajak anak-anaknya pada kesenangan dan lupa hakekat hidup yang sebenarnya…orang tua bahkan tak tahu jika selama ini anaknya belum bisa berwudhu dengan benar…

Dulu dikira yang keren itu jika sekolahnya tinggi…dengan gelar segambreng…tapi ternyata apalah artinya jika tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah…malah gelar segambreng itu digunakan untuk memanipulasi orang lain dan korupsi…

Dulu yang dikira keren itu kalau jadi pejabat….jadi manajer sebuah perusahaan top…rela mengeluarkan uang milyaran untuk ikut pilkada…tapi ternyata apalah artinya jika jabatan itu digunakan untuk petantang petenteng sambil menzalimi rakyat kecil….padahal Umar bin Khatab ra menangis ketika diangkat menjadi khalifah….seakan dunia mengubur akhiratnya…sampai beliau sulit tidur karena takut rakyatnya ada yang kelaparan…

Dulu dikira yang keren itu… ah banyak lagi…
Namun semua ternyata gak ada artinya jika tidak sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Apalagi jika jelas-jelas bertentangan…

Ah ternyata ……
Dunia ini menipu..
Dunia ini senda gurau belaka..

“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Sedang negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (Qs. 6 ayat 32).

Renungkanlah….apa yang telah engkau langgar selama ini…wahai diri…
Dan segeralah menyerah kepada Rabbmu…
Sebelum kau tertipu lebih banyak lagi…

“Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu”

(QS Al An’am :31).

 

*) Satria Hadi Lubis, MM., MBA. adalah alumni Politeknik Keuangan Negara STAN. Beliau juga masih aktif tercatat sebagai salah satu Dosen di PKN STAN. Salah satu kesibukan lainnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U, lembaga yang menitikberatkan pada pengembangan human capital. Beliau juga salah satu penulis produktif buku-buku best seller.

Beda Rasa, Panen Pahala?

Beda Rasa, Panen Pahala?

Oleh : Masturi Istamar Suhadi *)

Masih terngiang gema takbir dan tahmid berkumandang. Meski ada beda rasa. Beda suasana. Namun, yang terpenting adalah rasa syukur kita tetap sama bahkan bertambah. Hari Lebaran, Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah telah tiba. Lebaran arti riyaya bada poso. Hari Raya setelah berpuasa penuh pada bulan penuh berkah. Puasa Ramadhan.

Allah SWT telah menjadikan bulan syawal ini penuh kebahagiaan bagi  hamba-hamba-Nya yang berpuasa. Ini juga penghargaan bagi hamba-hamba-Nya yang sudah sebulan penuh melaksanakan  sholat malam, yaitu sholat tarawih.

(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)[يونس:58]؛
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“ لِلصّائِمِ فَرْحَتانِ يَفْرَحُهُما إذا أفْطَرَ فَرِحَ، وإذا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بصَوْمِهِ”
Orang yang berpuasa akan mendapatkan 2 kebahagian. Yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa, dan kebahagiaan saat bertemu dengan  Tuhannya.

Kegembiraan kita saat ini merupakan bukti keindahan  ajaran Islam. Ajaran yang sarat dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Sahabat, selamat bagi anda, bergembiralah dan berbahagialah yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan  melaksanakan sholat malamnya diiringi dengan berbagai amal Ramadhan.

Bisa jadi masih ada pertanyaan yang menggelayut. Masih ada rasa penasaran.

“Bagaimana kita bisa gembira dan bahagia, sedangkan  berbagai kesulitan dan penderitaan hidup mengelilingi umat  dan masyarakat ini? Mulai dari musibah lokal bahkan mendunia?  Pandemi yang melanda senatero jagad? Masih ada penguasaan wilayah dengan kesewenang-senangan? Belum lagi masih ada pengusiran atas umat Islam di beberapa negeri. Bagaimana umat muslim sebagai minoritas di beberapa negeri menimpa ketidakadilan. Bagaimana kita masih bisa merasa gembira?  Masih layakkah kita berbahagia?

Perkenankan saya mengajak sahabat untuk merenungkannya.

PERTAMA

Seorang  muslim yang beriman kepada Allah swt dengan keimanan yang benar, meyakini sepenuhnya, bahwa  wabah yang sedang terjadi, ujian kesulitan hidup yang merata ini tidak akan sampai kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Allah swt berfirman:

(قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)[التوبة: 51]؛
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Ditegaskan juga oleh Rasulullah SAW tentang akidah dan keyakinan ini. Pun telah dicontohkan oleh Baginda Rasul saat mengajari sepunya Sayyidina Abdullah  Ibnu Abbas yang merupakan anak dari pamannya  yaitu Al Abbas r.a.

Rasulullah SAW bersabda:

“واعلمْ أنَّ ما أصابكَ لم يكن ليُخطِئَكَ وما أخطأكَ لم يكنْ ليصيبكَ“.
Ketahuilah bahwa apa yang menimpa kalian bukan untuk menyalahkan  kalian, dan apa yang salah pada kalian. Bukan untuk menjadi  musibah buat kalian.

KEDUA

Seorang  beriman yang benar, dia akan ridho dengan takdir yang sudah Allah SWT gariskan, sehingga ia bersyukur kala mendapatkan takdir kemudahan, dan bersabar atas takdir yang menyakitkan.
Dan kedua-duanya merupakan  kebaikan bagi seorang hamba.

Sungguh benar sabda Rasulullah SAW :
“عَجِبْتُ لأمرِ المؤمنِ، إنَّ أمرَهُ كُلَّهُ خيرٌ، إن أصابَهُ ما يحبُّ حمدَ اللَّهَ وَكانَ لَهُ خيرٌ، وإن أصابَهُ ما يَكْرَهُ فصبرَ كانَ لَهُ خيرٌ، وليسَ كلُّ أحدٍ أمرُهُ كلُّهُ خيرٌ إلّا المؤمنُ“
“Aku sungguh kagum  dengan urusan orang mukmin.  Sesungguhnya semua urusannya dalam kebaikan. Ketika mendapatkan apa yang ia suka, maka ia bersyukur  kepada Allah. Dan itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa apa yang dia tidak suka, maka ia sabar. Dan itu baik baginya. Tidakl.ah semua orang itu urusannya baik, kecuali bagi seorang mukmin”.

Sehingga seorang muslim  akan bergembira di tempat dan kondisi yang menggembirakan dan bersyukur kepada Pemberi Kegembiraan, yaitu Allah SWT. Tentunya kita harus  sabar  pada saat dan  kondisi ujian. Sehingga ia selalu hidup bahagia saat takdir baik. Hidap dalam kepasrahan penuh keridhoaan saat menjalani takdir sulit.

KETIGA

Pandemi  dengan segala efek kesulitannya walaupun sehebat apapun, pasti akan berakhir dan akan datang  solusi, kemudahan, dan kebahagiaan.  Maka seorang muslim kebahagiaannya tidak akan dirusak oleh wabah, kebahagiaan mereka tidak terhalangi oleh bala.

KEEMPAT

Sesungguhnya kehidupan ini semata-mata tempat ujian, tempat menyeleksi  hamba-hamba Allah SWT. Kadang  Allah SWT menguji hamba-Nya dengan  kemudahan, kadang menguji mereka dengan kesulitan dan  berbagai musibah. Allah swt berfirman:

(وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ)[الأنبياء: 35]؛
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya  di dunia lengkap dengan perintah dan larangan. Allah SWT juga menguji dengan berbagai kemudahan dan berbagai kesulitan. Ujian berupa kekayaan dan kemiskinan. Cobaan berupa kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian.  Semua ujian tadi dalam rangka untuk menyeleksi siapa yang terbaik dari hamba-hamba-Nya.  Laykanya ujian kenaikan kelas. Ada yang  selamat dari berbagai ujian tersebut ada yang  terjatuh dalam ujian ini.

Barangsiapa yang meyakini, bahwa  inilah kondisi kehidupan dunia, ia akan hidup saat  datang kemudahan dalam naungan kegembiraan dan kesyukuran, dan saat-saat kesulitan ia hidup dalam kesabaran dan keridhoan. Kedua-dua kondisi tersebut mendatangkan  limpahan pahala yang sangat banyak dari Allah SWT.

Karena itu, janganlah anda bersedih kala anda dalam kesulitan, jangan putus asa, kala kesulitan dan kesedihan berkepanjangan. Jangan anda putus harapan kala wabah Covid19 ini tidak tentu kapan akhirnya.  Allah SWT menginginkan kita bersabar lebih panjang sehingga mendapatkan pahala  tidak terbatas yang lebih banyak.

KELIMA

Yakinlah sahabat,  yakinlah Allah SWT Tuhan Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi dan seluruh isinya sudah menentukan kepastiannya.  Bisa jadi tidak menentu bagi kita, namun bagi Sang Khalik sudah  ada ketentuan pastinya, kapan wabah corona ini selesai,  jam berapa, hari apa, bulan apa, tahun apa.  Bahkan  menit ke berapa, detik keberapa.

Mari kita lakukan apa yang bisa dari berbagai sarana dan prasarana syar’i  untuk menjadi sehat  sesuai dengan anjuran kesehatan. Selebihnya, serahkan kepada Allah SWT Yang Maha Pemberi Kesehatan dan Maha Pemurah.

Sahabat, semoga 5 renungan itu memberi harapan kita untuk bisa panen pahala. Perkenankan juga saya mengingatkan pada kesempatan ini untuk melanjutkan kesyukuran kepada Allah SWT. Mari melengkapi  berbagai kenikmatan Allah SWT dengan takbir, membesarkan asma Allah SWT, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

 

(وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)[البقرة: 185].
“ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. “
Teruslah berbaik sangka kepada Allah swt dengan  terus melakukan perbuatan baik dengan penghambaan kepada Allah swt. Karena Allah swt sesuai dengan persangkaan hamba-hamba-Nya. Dalam Hadis Qudsy Allah swt berfirman:
” أنا عندَ ظنِّ عبدي بي فلْيظُنَّ بي ما شاء“.
“ Aku tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”

Juga mengingatkan untuk  melaksanakan puasa 6 hari di bulan  Syawwal ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Abdullah Ibnu Umar r.a.  Rasulullah saw bersabda:
“مَن صام رمَضانَ وأتبَعه سِتًّا مِن شوّالٍ خرَج مِن ذُنوبِه كيومَ ولَدَتْه أُمُّه“.
Barangsiapa  yang berpuasa Ramadhan, dan diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, maka ia akan keluar dari dosanya seperti saat dilahirkan ibunya.

Jangan lupa juga untuk terus menyambung silaturahim walau dalam kondisi Covid 19 ini dengan sarana yang memungkinkan dengan tehnologi yang ada, seperti  telphon, video conference, video call dan lain sebagainya.  Untuk menjaga agar tetap dekat di hari, walau jarak  menjauhkan kita dan kondisi tidak memungkinkan bertemu muka, berpeluk mesra.

Mau panen pahala?

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini,  kita tidak tahu kapan berakhirnya. Mari tetap memohon perlindungan kepada Allah SWT. Sekaligus bertaubat, berdoa, beristighfar, melakukan berbagai amal sholeh, karena  amal sholeh akan menjaga kita dari berbagai  hal yang jelek.

Kita juga tetap disiplin dengan anjuran-anjuran kesehatan dan melaksanakannya dengan baik, dan kita jadikan sebagai ibadah kita  kepada Allah SWT di masa wabah.
Bagaimana menjadikan hal-hal di atas menjadi ibadah? Semua itu akan menjadi ibadah bila kita melaksanakannya dengan :
1. Niat, minimal niat dengan membaca bismillah.
2.Ikhlas, semua kita lakukan karena Allah SWT, mengharap ridho-Nya bukan karena ikut-ikuta, apalagi  iseng.
3. Tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tetap lakukan social distancing, jaga jarak, hindari  keramian dan  kumpul-kumpul  dengan orang yang banyak, hindari bersalaman. Sebesar apa pun kesulitan itu akan berlalu dan setelahnya adalah jalan keluar, solusi, kebahagiaan, kegembiraan. Kegembiraan orang yang beriman tidak akan  rusak karena wabah,  dan kebahagiaannya  tidak terhalang oleh ujian kesulitan.

Semoga Allah SWT melindungi dan memberi karunia keselamatan di dunia dan akhirat.

Selamat Idul Fitri 1441 H. Minal ‘aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Taqabbalallaahu minna wa minkum.

 

*)Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Salah satu lembaga yang melayani masyarakat utamanya dalam ketanggapdaruratan bencana alam. Beliau adalah alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Menyelesaikan studi S1 di Al Azhar University, Cairo, Mesir dan menamatkan program master dalam bidang hadits di International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Selain itu, Kyai Masturi adalah pengurus wilayah Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci. Masih aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan juga nara sumber di masjid dan majelis taklim.

 

Nggak Sholat Ied? Nggak Afdol?

Nggak Sholat Ied? Nggak Afdol?
Oleh: Masturi  Istamar Suhadi *)

Ada momen yang ditunggu selain adzan Maghrib, saat menjelang akhir Ramadhan? Apa itu? Hasil Sidang Isbat. Ya, tidak dapat dipungkiri, keputusan itu ditunggu jutaan umat Islam di Indonesia. Malam nya takbiran atau masih sholat tarawih?

Hasil sidang Isbat Kementerian Agama sudah turun. 1 Syawal ditetapkan bertetapan dengan Ahad, 24 Mei 2020. Kali ini ada rasa yang beda? Lho, kenapa beda? Ini yang menarik. Kita harus ingat, saat ini masih masa pendemi Covid19. Belum lagi, sudah sepekan ini, bersliweran di media, termasuk media sosial. Bagaimana menjalankan sholat Ied? Nggak lengkap nih, kalau puasa Ramadhan terus nggak Slolat Ied. Nggak afdol deh. Dan masih banyak lagi.

Saya pun mendapat banyak pertanyaan melalui WA, maupun telepon. Beberapa diantaranya seperti ini:

“Ustadz, jadi Imam dan Khotib Sholat Ied di daerah mana? Saya mau ikut sekalian silaturahim”

“Pak Dosen, saya diajak tetangga sholat Ied di gang kluster rumah kami. Lumayan ada 10 rumah. Kalau dihitung, ada 40 orang. Mohon petunjuk, apa boleh? Kalau boleh, apa tata caranya sama?”

“Pak Kyai, itu di WAGroup saya, kok katanya bisa sholat Ied di rumah masing-masing. Lha, saya gimana? Di rumah kan cuma ada suami, saya, anak perempuan dan Ibu saya. Saya bingung. Bagaimana caranya Sholat Ied di rumah?”

Sahabat, sobat muslim, muslimin/muslimat yang berbahagia. Perkenankan saya menjawab dengan syariat yang saya pahami dan sering saya utarakan pada kesempatan yang lalu. Jawaban ini saya broadcast setiap ada pertanyaan langsung wapri maupun lewat WAGroup.

“Mohon maaf Bapak/Ibu, di rumah saya tidak ada sholat Ied. Kami in sya Allah mengadakan sholat dhuha, setelah usai saya memberi kultum untuk keluarga saya. Dilanjutkan makan ketupat plus sayur lodeh menu favorit keluarga”.

Sahabat, afdol itu rasa. Lagi-lagi soal perasaan. Syariat lebih utama. Kondisi saat ini, kita harus tetap menjaga jarak. social distancing. Menjaga diri jauh lebih baik. Menjaga diri dan keluarga, berarti menjaga Indonesia.

Dan ini pesan saya, mari jangan dibikin ribet sesuatu yang sederhana.

Wallaahu a’lam.

Perkenankan dalam kesempatan ini, saya mengucapkan:

Taqabbalallaahu minna wa minkum.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H

Langit biru menentramkan batin,
Menambah rasa rindu di hati,
Mohon dimaafkan lahir batin,
Jauh di mata, tetap dekat di hati.

.

.

*)Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Salah satu lembaga yang melayani masyarakat utamanya dalam ketanggapdaruratan bencana alam. Beliau adalah alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Menyelesaikan studi S1 di Al Azhar University, Cairo, Mesir dan menamatkan program master dalam bidang hadits di International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Selain itu, Kyai Masturi adalah pengurus wilayah Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci. Masih aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan juga nara sumber di masjid dan majelis taklim.

Perlukah Masjid Dibuka?

Perlukah Masjid Dibuka?
Oleh : Masturi Istamar Suhadi *)

Beberapa hari ini, kita disuguhkan informasi yang sungguh memilukan. Apa itu? Mal dibuka pada masa pandemi belum usai. Mereka berbondong-bondong. Seakan ada sesuatu yang sangat ingin diperoleh. Seperti layaknya bendera start lomba lari marathon dibuka atau  lampu Formula 1 atau MotoGP berwarna hijau. Mak brung !

Nha, timbul pertanyaan besar yang langsung bertubi-tubi kepada saya.

“Kenapa Masjid ditutup, tapi mal, tempat, pasar dan gedung bioskop tetap dibuka?”

“Ayo ustadz, masjid kita ini, kita buka lagi. Kita sholat berjamaah lagi. Kami rindu, ustadz”.

Perkenankan saya dengan segala kerendahan hati, menanggapi hal seperti ini. Saya berpendapat mari kita kembalikan kepada ilmu syariat. Dalam kondisi seperti ini, ilmu syariat mengajarkan untuk tidak berkumpul-kumpul dan tetap menjaga social distancing.

Kita melaksanakan social distancing bukan karena ikut-ikutan atau karena emosi apalagi perasaan. Sekali lagi, rindu itu perasaan. Kangen idem ditto.

Mari kita ingat kembali, kita melakukan itu karena ibadah dan ilmu syariah yang mengajarkan kita untuk tidak membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.

لا ضرر ولا ضرارا.
Tidak bahaya dan tidak memberikan bahaya.

Jadi, saudaraku, sahabat-sahabat semua, apakah ketika mal dan gedung bioskop tetap dibuka kita layak ngiri? Tidak. Nggak perlu.

Mari kita merenung dan berpikir sejenak.

Ketika mal itu dibuka. Siapa yang mendapatkan bahaya? Pengunjung.
Kalau terpapar penyakit Covid19 siapa yang rugi? Pengunjung.
Siapa yang rugi? Pengunjung.
Apakah pemilik mal dan pemilik gedung bioskop dirugikan ketika pengunjung menjadi penderita pandemi? Tidak.
Apakah ketika pengunjung itu dirawat karena menderita Covid19 pemilik mall dan pemilik gedung bioskop dirugikan? Tidak.
Apakah ketika pengunjung menderita Covid19 dan mengeluarkan biaya pengobatan sendiri merugikan pemilik Mall dan gedung bioskop? Tidak.
Apakah ketika semua pengunjung mal dan gedung bioskop meninggal, pemilik mal dan gedung bioskop ikut bertanggung jawab dan nemberikan kepeduliannya? Tidak sama sekali. Sepeser pun mereka tidak akan mengeluarkan uang. Dan tidak akan memgeluarkan uang. Yang ada pada otak mereka itu bagaimana bisa mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya sekalipun di atas penderitaan orang lain. Naudzubillah min dzalik.

Bagaimana dengan masjid?

Masjid, pengurus masjid dan jamaah masjid selalu memberikan yang terbaik. Sebisa yang mereka lakukan. Kala ada yang kesulitan ekonomi, mereka berusaha untuk saling bantu, ketika ada yang sakit, mereka berusaha saling meringankan. Ketika ada yang meninggal dunia, paling tidak mereka membacakan doa dan mengantar ke kuburan. Itulah sebabnya mereka melaksanakan kaidah :
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Menghindari kerusakan diutamakan atas berbagai maslahah.

Menjaga nyawa adalah primer ( الضروريات ) yang didahulukan atas syiar agama ( الشعائر ). Kondisi seperti saat ini, syiar agama merupakan sekunder ( الحاجيات ).

Apakah itu bisa dibandingkan antara mal dan masjid? Jelas tidak. Beda banget.
Ditambah lagi bagi seorang muslim yang berakal dan punya pemahaman, bila tahu ada berkembangnya Covid19 dan membahayakan maka ia tidak akan menceburkan dirinya pada hal yang merusak.

Karena dia paham perintah Allah SWT:
ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة
Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian pada kehancuran.

Kala kita tahu bahwa penyebaran Covid19 itu dengan jarak dekat, maka kita tidak akan melakukan itu. Karena itu membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sebagai penutup, kalau diperhatikan kondisi kedisinian dan kekinian, dan maraknya ajakan provokatif untuk membuka masjid dalam kondisi seperti ini, saya meragukan ajakan itu. Sekali lagi dengan segala kerendahan hati. Entah itu bersumber dari orang atau lembaga. Ajakan itu perlu ditolak. Sekali lagi tolak. Saya khawatir, ada pihak-pihak yang sengaja membenturkan semua unsur anak bangsa ini. Waspadalah.

Mari kita tetap bersyukur. Mari kita jaga Indonesia. Kita pahami. Kita pahamkan sekeliling kita. Karena sahabat-sahabat adalah SDM yang unggul. Indonesia sehat. Indonesia maju.

Semoga sedikit penjelasan ini bisa menambah wawasan dan mengembalikan logika kita. Tidak gampang baper, iri, apalagi emosional.

 

*) Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Dosen dan juga Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia. Beliau Alumni Gontor, Universitas Al Azhar, Mesir dan International Islamic University Islamabad, Pakistan.

Maafkanlah Aku

Fa’fu ‘Anni

Disampaikan melalui WhatsApp oleh : Teten Kustiawan *). Semoga menjadi amal sholeh bagi penulis dan yang turut menyebarkan materi bernas ini.

Tak terasa hari-hari bersama Ramadan telah kita lalui, dan tak lama lagi biidzinillah kita akan bertemu Asyrul Awakhir. Tersisa pertanyaan untuk diri kita.

“Bagaimanakah ibadah dan amal shaleh yang telah kita lakukan ?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat mempengaruhi kesiapan kita memasuki Asyrul Awakhir. Sejauh mana target-target amaliyah Ramadan yang dicanangkan telah terpenuhi. Hal ini hendaknya menjadi muhasabah diri agar kita dapat mengukur kesiapan menyambut asyrul awakhir. Semoga hingga hari ini kita dalam keadaan tetap bersemangat menjalankan amaliyah Ramadan dan terus menyiapkan diri menyambut tibanya asyrul awakhir.

Ibunda kaum mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha memberikan gambaran bagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika tiba asyrul awakhir :

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila memasuki sepuluh hari ( yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan) mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya”. (HR Bukhari Muslim)

Aisyah radhiallahu ‘anha juga menerangkan bahwa pada asyrul awakhir Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa melakukan I’tikaf.

“Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat”. (HR Bukhari Muslim)

Beri’tikaf dengan meningkatkan kualitas serta kuantitas amaliyah Ramadan pada tahun ini memang terasa agak berbeda karena kita melakukannya di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya kita beri’tikaf di Masjid. Namun jangan sampai kita kehilangan substansinya yaitu meningkatkan taqarrub ilallah.

Salah satu keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan pada asyrul awakhir adalah lailatul qadr, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya oleh Aisyah radhiallahu ‘anha tentang doa apa yang dipanjatkan jika bertemu dengan malam lailatul qadr, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab :

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaiful Ma’arif menjelaskan tentang doa ini, beliau menganjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah subhanahu wa ta’ala di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah subhanahu wa ta’ala seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.

Merasa amal kita masih kurang dan dosa kita begitu banyak merupakan modal utama agar jiwa kita selalu butuh akan pemaafan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini akan menjadi energi yang sangat dahsyat untuk mendorong kita semakin meningkatkan ibadah dan amal shaleh sekuat kemampuan kita terutama pada asyrul awakhir. Dilengkapi dengan banyak berdoa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni pada malam-malam asyrul awakhir di mana salah satu malamnya merupakan lailatul qadr maka menjadi dambaan kita semua ketika Allah subhanahu wa ta’ala berikan pemaafan atas segala dosa dan kesalahan kita, sehingga jiwa kita bersih Kembali.

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.

Catatan :
*) Teten Kustiawan adalah salah satu nara sumber nasional di bidang zakat. Saat ini, beliau diberi amanah sebagai Direktur Eksekutif/CEO, Baitul Maal Muamalat (BMM), salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional.

Bapak

Semoga kita dapat meneladaninya. Para pria menjadi ayah yang dirindukan dan dibanggakan anak-anaknya karena kebaikannya.
____________

B. A. P. A. K

Oleh : Faris Jihady Hanifa

Lidah ini masih terasa kelu berbicara tentang Bapak. Jemari ini masih terasa kaku menulis tentang Bapak. Hati yang masih terus terguncang setiap kali teringat Bapak.

Suara Baritonnya masih lekat dalam ingatan. Suara yang terus melemah seiring dengan meringkihnya tubuh Bapak melawan penyakit yang dideritanya.

Bapak yang pejuang meyakini idealism dan kebenaran sejak usia mudanya, aktivis pergerakan Islam yang kokoh teguh di atas pendirian menentang kezaliman tirani di era 80an, hingga menjadi target penguasa. Cerita yang terus berulang disampaikan sejak kami kecil. Bapak yang mencintai AlQur’an sepanjang hayat, yang selalu berkata: “kalian boleh berprofesi jadi apapun, tapi AlQur’an harus yang paling utama”.

Di awal 90an Bapak seiring dengan era pendirian Gerakan Dakwah sering kali beri’tikaf di bulan Ramadan, kemudian berkeliling ke pesantren-pesantren untuk mendaftarkan kami menghafalkan Kitabullah.

Jarak yang tidak dekat ditempuhnya, meski beliau bukan orang yang berada, bergelantungan naik Bus Jakarta-Jawa Tengah ditempuhnya 1-2 bulan sekali untuk menengok kami. Kaki-kaki kecilku berlari membuncah gembira setiap telpon Bapak dan Ibu memanggil namaku, atau terdengar kabar bahwa Bapak atau Ibu menyambangi pondok.

Bapak yang mengalir dalam darahnya kesederhanaan, bersahaja, tidak membenci dunia, tapi sangat wara’ (berhati-hati) pada setiap harta yang dipegangnya. Sangat menghormati siapapun yang ditemuinya, tua, muda, senior, junior, semuanya diberi kesan terdalam.

Bapak yang memilih menjadi hamba Allah yang ingin lebih dikenal di langit dari pada di bumi, jabatan politik baginya hanya penugasan dan pelayanan, puritan tidak bergeming pada setiap godaan berat. Bapak yang seringkali mengembalikan uang dengan status “tidak jelas”.

Bapak adalah guru kehidupan, ia sangat mencintai ilmu, harta terbaiknya adalah ribuan judul buku. Wawasan luas, analisis yang tajam, kemampuan berpikir sistematis diajarkannya kepada kami dalam diskusi, buku, dan nasehat-nasehatnya.

Bapak yang cerita pada kami tentang Bosnia di tahun 1992, Palestina di tahun 1993, Intifadhah di tahun 1997, dan Afghanistan peroboh Uni Sovyet. Bapak yang fasih bicara politik global dan hukum positif, sefasihnya beliau mengajarkan AlQur’an kepada kami saat kami kecil.

Bapak yang tidak pandai berucap romantis, tapi tindaklakunya sarat dengan kasih sayang. Bapak yang selalu tenang dalam bicara, rasional dalam berpikir, sabar atas kekurangan anak-anaknya dalam berbakti.

Bapak yang kepeduliannya pada orang lain seperti menyatu dalam darahnya, setiap orang yang meminta tak pernah ditolaknya, Bapak yang selalu menanyakan keadaan siapapun yang berada dalam lingkaran perkenalannya, meski ia dalam keadaan sakit.

Bapak yang tidak segan terus belajar bertanya kepada anak-anaknya yang memiliki bidang akademik tertentu, bapak yang menjadikan kami partner dalam diskusi tentang apapun. Bapak yang sangat egaliter, mengedepankan musyawarah dalam hal apapun. Bapak yang mengajarkan kami mengenal dunia, mendorong kami belajar ke mana pun dan setinggi mungkin.

Bapak yang canda humornya berbobot, membuat kami tertawa, namun Bapak tidak tertawa terbahak-bahak, hanya terkekeh kecil saja.

Bapak yang: Sabbaqun fil Khairat (selalu unggul dalam segala lini kebaikan apapun), shalat malam yang tidak pernah putus, shalat berjamaah yang tidak pernah lupa.1 jam sblum adzan subuh sudah mengetuk pintu kamar anak-anaknya, bahkan dengan tongkatnya saat beliau sakit diiiringi suaranya yang parau. Bapak yang pelopor dalam menyambung tali silaturrahim. tak jarang bagi kami harus menemani beliau sampai kami bosan sendiri menemani kunjungan beliau dari pagi hingga larut malam. Bapak yang rajin menyambung tali kerabat hingga mereka yang tidak begitu mengenal. Bahkan mengunjungi mereka yang berada di luar kota.

Bapak yang tidak pernah beranjak dari duduknya setelah subuh hingga dhuha kecuali sudah menyelesaikan wirid Qur’aninya untuk hari itu. Bapak yang tidak melewatkan momen bertemu dengan siapapun kecuali menyelipkan nasehat.

Bapak yang: beriman kepada Fikrah (idealism) yang diyakininya, dan mendedikasikan seluruh komitmennya untuk merealisasikan idealism itu. Idealism tentang keluarga AlQur’an, idealism tentang perjuangan Islam, Idealisme tentang silaturrahim, idealism tentang sedekah dan kepedulian, idealism tentang memakmurkan masjidIdealism tentang politik yang bersih bermoral, yang membuatnya disegani kawan maupun competitor politik, idealism tentang semua kebaikan dengan prinsip: “jangan pernah menunda kebaikan”. Bapak yang disiplin menerjemahkan semua idealismenya dalam kesehariannya.

Bapak yang: selaras antara laku dengan kata. Jika bicara pendek-pendek. Tidak banyak berteori tapi tindakannya lebih dari cukup menjadi bukti.

Selamat jalan Bapak, insyaallah kita bertemu lagi. Cukuplah ribuan manusia menjadi syuhada (saksi)nya Allah bagi kebaikan Bapak di atas muka bumi, diiringi dengan cinta penduduk langit, insyaallah. Nilai, semangat, perjuangan, dan inspirasi Bapak akan tetap kekal dikenang sejarah dengan izin Allah.

Semoga Allah merahmati Bapak, dan kami hanya berkata apa yang membuat Allah ridha: “Innalillahi wa innailaihi rajiun”.

 

*) Faris Jihady Hanifa, Lc., MA. adalah putra ke-2 buah hati pasangan Alm. Mutammimul Ula, SH., MH. dengan Dra. Wirianingsih, M.Si. Salah keluarga yang dikenal sebagai keluarga penghafal Al Qur’an. Faris telah hafal Al Qur’an saat berusia 10 tahun. Allahu Akbar. Tahun 2018 lalu, berhasil menyelesaikan studi S2 di King Saud University, Riyadh, Arab Saudi. Tesisnya tentang Al Qur’an dan Politik Islam.