Pemasaran Seni (Mengenang Alm. Didi Kempot)

Seni menawarkan pengalaman yang kaya bukan hanya kepada seniman dan konsumen, tetapi juga untuk pemasar seni dan peneliti. Bidang pemasaran seni sangat beragam dan masih berusaha untuk mendefinisikan identitas dan peran dalam disiplin pemasaran sebanyak yang dipahami secara luas seperti halnya produksi dan konsumsi budaya.

Pemasaran seni (Arts Marketing by Krzysztof Kubacki & Daragh O’Reilly, 2009) terletak dalam kerangka produksi dan konsumsi budaya yang lebih besar. Fokus utamanya adalah pemasar dalam hal seni. Hubungan antara seni dan pasar sangat kompleks, yang berarti bahwa pemasar seni perlu memperhatikan masalah yang mungkin tidak muncul dengan cara yang sama, atau pada tingkat yang sama, seperti halnya yang dijumpai pada pemasaran produk konvensional.

Danto (1964) memberikan pandangan Socrates yang menyatakan ‘seni sebagai cermin yang dipegang teguh oleh alam’. Sama seperti yang juga didapat melalui poster Andy Warhol yang terkenal ‘seni adalah apa yang bisa Anda dapatkan’ (art is what you can get away with). Hal ini untuk memberikan tanggapan atas pendapat Morris Weitz yang mengatakan bahwa seni tidak dapat didefinisikan karena merupakan konsep terbuka.

Di sisi lain, definisi memang beragam dan tidak clear. Justru uniknya, kondisi itu membuat orang lebih kreatif. Ketidakkonsistenan definisi seni dan seniman membawa dampak pada beberapa aspek termasuk bagaimana mendefinisikan pemasaran seni. Studi terkait pemasaran seni juga melakukan dengan patern yang berbeda. Hal ini membawa dampak positif. Banyak pihak yang membuat definisi sendiri dan melakukan aksi sendiri. Kreativitas justru lebih terdorong.

Industri kreatif dan budaya (CCI, culture & creative industry) bermunculan. Seni angklung yang biasanya dinikamati oleh sekelompok orang, saat ini sudah mendunia. Dan dimainkan dengan patren tertentu. Contoh Angklung Ujo. Saat ini, dimainkan dengan cara berbeda. Peminat baik yang ingin memainkan dan menikmatinya juga berbeda. Bahkan, dampaknya luar biasa, mendunia. Belum lagi, ada desa dengan tradisi tertentu yang tertutup dari dunia luar, saat ini dibuka dan bisa mendongkrak perekonomian lokal bahkan nasional. Desa wisata di Jambi, Banten, Bali bahkan di Nusa Tenggara dan Papua. Kehadiran mereka menstimulus industri lainnya. Industri restoran, transportasi, perhotelan, dan lain-lain.

Keberpihakan terhadap seni, seniman dan pemasaran seni, dilakukan terpusat dan integral. Indonesia sebagai contoh membuat Badan Otonomi di bawah Presiden, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang saat ini menjadi Kementerian Pariwisata dan Eknomi Kreatif. Tentu saja hal ini menujukkan concern pemerintah terhadap perkembangan seni, seniman dan potensi ekonomi yang dikreasikan seniman. Bekraf pun berperan sebagai pemasar seni.

Sejumlah seniman juga berani memberikan label atas musik yang dikembangkan. Sebut saja, Campur Sari, ini adalah kesenian tradisional gamelan Jawa sebagi instrumen utamanya. Namun, tidak saja mendendangkan lagu tradisional seperti lazimnya. Tapi, ditambahkan lagu pop dan dangdut. Bahkan genre musik lainnya. Alat musiknya pun ditambahkan dari kesenian lain (drum, biola, dll).

Didi Kempot adalah salah satu merek seni Campur Sari. Sempat tenggelam, karena musiknya dianggap sebagai konsumsi seni kaum tertentu (kalau boleh di bilang kaum marjinal). Namun, dalam beberapa bukan terakhir dapat dianggat kembali dengan konsep yang berbeda. Layaknya konser musik pop. Tentu saja dengan gaya pemasaran seni yang berbeda. Alhasil, konser Campur Sari tersebut menyedot perhatian publik dan mengangkat citra genre Campur Sari. Pelanggannya pun sudah tidak mengenal batas. Sebagian besar lagu yang digubahnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Saat ini justru populer dengan komunitas loyalnya: Sobat Ambyar. Konon, banyak diantara pengagumnya adalah orang-orang yang mengalami  patah hati, hatinya ambyar. Didi Kempot pun mendapat julukan “The Lord of Broken Heart”.

Pemasar seni menjadi pekerjaan idaman generasi saat ini. Mereka mempunyai kebebasan waktu dan finansial. Terlebih bisa juga mereka menjadi self employee. Bekerja tergantung kepada dirinya sendiri.

 

Catatan :

  1. Mohon izin, tulisan ini untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan Alm. Didi Prasetyo (Didi Kempot) yang wafat di Solo, 5 Mei 2020. Semoga karya dan karsa beliau menjadi amal jariyah. Allaahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
  2. Tulisan ini adalah cuplikan dari paper terkait Pemasaran Seni. Mata Kuliah: Teori Isu-Isu Kontemporer Pemasaran, Administrasi Bisnis, Universitas Brawijaya (Dosen Pengampu: Andriani Kusumawati, S.Sos., M.Si., DBA)

Pendidikan, Senjata Mengubah Dunia

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada Pasal 3 menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Saya coba fokus pada frase “membentuk watak”. Watak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah :

watak/wa·tak/ n sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat.

Ada pameo yang bisa jadi sudah sering kita dengar. Watuk iso ditambani, watak angel tambanane. Kurang lebih mempunyai arti batuk ada obatnya, tapi kalau watak sulit mengubahnya. Watak punya sinonim karakter.

Membangun karakter tidak semudah membangun benda fisik, seperti jalan, gedung bertingkat atau kendaraan tempur. Tapi hal yang bisa dilakukan dengan berkesinambungan dan melibatkan banyak pihak. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti (Thomas Lickona, 2015).

Banyak metoda bagaimana melaksanakan pendidikan karakter. Salah satu yang diterapkan Rasulullah SAW dalam mengajarkan banyak hal kepada umatnya adalah pendidikan dengan keteladanan. Bagaimana pun, secara psikologis manusia butuh akan teladan yang lahir dalam naluri dan bersemayam dalam jiwa yang disebut juga dengan taqlid.

teladan/te·la·dan/ n sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya)

Metoda ini yang membuat Rasulullah SAW dan juga para sahabat hasil didikan Nabi Muhammad bisa mengubah dunia. Bahkan menciptakan peradaban baru.

“Satu keteladanan lebih utama daripada seribu nasihat” (anonim)

Semoga dampak bencana ini, memberikan kita kelonggaran lebih banyak. Mari kita cari dan simak kembali keteladanan Rasulullaah SAW dan juga para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Salam hormat kepada guru, ustadz/ustadzah, dosen dan tenaga pendidik lainnya.

Yuk Kenali Zakat

Kenali Zakat (lebih lanjut) Yuk!

by: Teten Kustiawan*)

 

Zakat sebagai Rukun Islam

Dari Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma-, katanya, “Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Islam dibangun di atas lima: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Setiap muslim wajib meyakini dan memahami bahwa zakat merupakan salah satu dari 5 rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam Hadits Muttafaqun ‘alaihi tersebut. Pemahaman ini harus mencakup juga bahwa berlaku kaedah “siapa yang menunaikan zakat maka dia menegakkan agama dan siapa yang menolak/tidak menunaikan zakat maka dia merobohkan agama”. Inilah yang dipahami oleh Sahabat Rasulullaahu sholallahu ‘alaihi wassalam, Abu Bakar r.a. sehingga Beliau mendeklarasikan perang terhadap orang yang tidak mau membayar zakat.

Sikap yang benar bagi seorang muslim sejalan dengan pemahaman bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam adalah:
1. Memiliki tekad yang kuat dan early warning system untuk selalu menunaikan zakat sesuai syariah dan tepat waktu.
2. Menunaikan seluruh jenis zakat yang menjadi kewajibannya dengan ridho dan ikhlas. Jangan cukupkan diri dengan menunaikan satu jenis zakat jika pada dirinya ada lebih dari satu kewajiban zakat, khususnya terkait zakat maal.

Pendekatan Ijmaali dan Tafsiili

UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada Pasal 4 menyatakan :

  1. Zakat meliputi zakat mal dan zakat fitrah.
  2. Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
    a. emas, perak, dan logam mulia lainnya;
    b. uang dan surat berharga lainnya;
    c. perniagaan;
    d. pertanian, perkebunan, dan kehutanan;
    e. peternakan dan perikanan
    f. pertambangan;
    g. perindustrian;
    h. pendapatan dan jasa; dan
    i. rikaz.

Ada dua pendekatan dalam memahami zakat maal, yakni pendekatan ijmaali dan pendekatan tafsiili. Pendekatan tafsiili adalah memahami langsung rinci per jenis zakat maal seperti yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2011 Pasal 4 ayat (2) di atas. Masing-masing jenis zakat tersebut kita pahami satu per satu, setidaknya, tentang pengertian, nishab, haul, dan kadarnya.

Adapun pendekatan ijmaali adalah memahami zakat maal secara umum, yakni dari pendekatan kategori obyek harta wajib zakat. Berdasarkan pendekatan ini, setidaknya dapat kita pahami zakat maal sebagai berikut:

  1. Ada dua kategori obyek harta wajib zakat, yakni asset (kekayaan) dan income (pendapatan).
  2. Contoh obyek zakat kategori aset yaitu emas, perak, perniagaan, dan hewan ternak. Adapun contoh obyek zakat kategori pendapatan yaitu pertanian, pendapatan dan jasa, dan rikaz.
  3. Selain hewan ternak, nishab obyek zakat kategori aset mengacu pada nishab emas. Adapun nishab obyek zakat kategori pendapat mengacu pada nishab pertanian atau emas.
  4. Haul obyek zakat kategori aset adalah 1 tahun hijriyah dan untuk obyek zakat kategori pendapatan adalah yauma hashoodih (saat panen).
  5. Kadar obyek zakat kategori aset hanya satu yakni 2,5%. Adapun kadar obyek zakat kategori pendapatan bisa 2,5%, 5%, 10%, atau 20%.
  6. Sumber informasi menghitung kewajiban zakat dari obyek zakat kategori aset adalah Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Adapun sumber informasi menghitung kewajiban zakat dari obyek zakat pendapatan adalah Laporan Laba/Rugi.

Memahami zakat maal dengan pendekatan mana pun, orang yang wajib zakat maal pada umumnya mempunyai lebih dari satu jenis zakat maal. Mari cek kewajiban zakat atas aset dan pendapatan kita.

Wallaahu’alam.
Semoga bermanfaat.

 

Catatan :
*) Teten Kustiawan adalah salah satu nara sumber nasional di bidang zakat. Saat ini, beliau diberi amanah sebagai Direktur Eksekutif/CEO, Baitul Maal Muamalat (BMM), Lembaga Amil Zakat Nasional.

Aksi Bersama, Mempermudah Urusan

Muqim dapat diartikan orang yang mempunyai tujuan bermukim atau menatap di suatu daerah lebih dari 4 hari atau bahkan menetap sampai bertahun-tahun, asalkan ada niat untuk kembali ke tanah kelahirannya. Muqim dapat diartikan menetap sementara.

Kalau dalam sekolah/pesantren, menginap di sekolah/tempat belajar.

Muqim for teen, adalah salah satu program HCQ Tlogomas. Sistem belajar dan menghafal Al Qur’an untuk remaja (kali ini masih untuk perempuan). Program dikemas selama 1 tahun dengan harapan menuntaskan hafalan 30 juz. Program ini berasrama penuh. Siswi menetap di HCQ Tlogomas dengan kebutuhan akomodasi dan biaya pendidikan ditanggung yayasan. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Saat ini masih dalam tahap penerimaan dan seleksi calon penerima bea siswa.

Biaya yang diperlukan sesuai hitungan kami adalah Rp. 15 juta per siswa per tahun. Besar kecil itu relatif. Saya yakin, jika dipikul bersama, tidak ada yang tidak mungkin. Semangat membantu, aksi bersama, bisa mempermudah segala urusan.

Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.

(HR Muslim)

Sahabat, jika ingin turut dalam aksi bersama menjadi donatur atau bahkan orang tua asuh, silakan kontak saya atau langsung menyalurkan donasi melalui:

BNI Syariah Cabang Malang | No. rekening: 6016106019 | an. Yayasan Tarbiyatul Ummah Qaulun Marufun

Semoga Allah SWT memberi ridlo atas upaya ini.

Terima kasih. Jazakallaah khair.
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Bahagia Menyambut Ramadhan

Saya mendapat kiriman artikel dari WAGroup. Nampaknya juga sudah viral. Isinya, sangat bagus, menginspirasi dan memotivasi saya. Saya berinisitaif menyalin dan membagikan kepada sahabat-sahabat. Semoga berkenan.

Semoga manjadi amal jariyah, amal yang tidak kenal putus, bagi yang menulisnya.

—–  —–  —–  —–  —–

Ramadhan 1441 H tahun ini terbilang berbeda dan sangat istimewa. Bersamaan dengan hadirnya Ramadhan, hadir pula makhluk Allah SWT yang bernama covid 19. Tentu bukan sebuah kebetulan, namun harus kita maknai sebagai batu ujian apakah kita tetap mampu menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Bahkan jauh lebih baik, berbanding tahun-tahun sebelumnya.

Ramadhan hadir untuk memberikan banyak kebaikan dan keberkahan bagi umat. Pertanyaannya, bagaimana kita menyambut Ramadhan agar tetap memberikan kebaikan imani (penguatan iman), ta’abbudi (peningkatan ibadah), khuluqi (Cerminan akhlak mulia), da’awi (pengkayaan dakwah), dan ijtima’i (ketahanan masyarakat), bagi seluruh umat.

Menyambut tamu agung Ramadhan dalam beragam situasi dan kondisi yang kita hadapi secara prinsip sama, namun secara teknis praktis tentu ada penyesuaian program disesuaikan dengan keadaan. Shalat wajib dan shalat sunnah tetap dijalankan, meskipun di rumah masing-masing secara berjama’ah bersama keluarga. Tilawah Al-Qur’an, Penunaian zakat, infak, sedekah dan wakaf tetap diperkuat, khususnya di saat banyak yang sangat membutuhkan. I’tikaf, do’a, dan munajat tetap terus dipanjatkan di waktu-waktu yang mulia. Artinya, wabah covid 19 bukan menjadi alasan untuk tidak meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan. Justru menjadi cambuk ujian Ramadhan di suasana yang berbeda.

Berikut beberapa tuntunan menyambut Ramadhan secara umum yang mungkin dijalankan dengan sebaik-baiknya, merujuk kepada contoh dari Rasulullah saw dan para sahabatnya:

1. Menyampaikan kabar gembira berupa keutamaan Ramadhan melalui jejaring media yang ada, serta mengajak seluruh keluarga, sahabat, dan masyarakat ikut serta membahagiakan bulan mulia ini. Demikian yang dijalankan oleh Rasulullah SAW, sebelum dan menjelang Ramadhan. Beliau senantiasa menyampaikan kabar gembira dengan kedatangan bulan penuh keberkahan kepada para sahabatnya.

“Adalah Rasulullah SAW membahagiakan sahabatnya dengan mengatakan: “Telah datang kepada kalian bulan yang penuh dengan keberkahan”.

(HR. Ahmad dan Nasa’i)

Penyampaian kabar gembira atas datangnya Ramadhan dimasksudkan agar dipersiapkan dengan baik oleh sahabatnya, demi mendulang keberkahan yang sebanyak-banyaknya. Dipersiapkan secara fisik dengan membiasakan puasa dan amal shalih lainnya. Dipersiapkan mental spritual dengan memotifasi diri untuk meraih keutamaan Ramadhan, serta menjadikan Ramadhan adalah bulan terbaik sesungguhnya.

2. Membiasakan puasa sunnah bulan Sya’ban, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya yang akan menjadi ibadah rutin bulan Ramadhan, sebagaimana Nabi Muhammad saw memperbanyak puasa di bulan jelang Ramadhan. Bahkan disebutkan beliau hampir berpuasa sebulan penuh.

“Dari Aisyah RA :Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa (puasa sunah) di bulan Sya’ban.

(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

3. Rasulullah SAW terbiasa jika hendak memasuki bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan . memberi setiap orang yang meminta. Tujuannya agar setiap orang dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan perasaan senang, tenang dan penuh kekhusyu’an bersama keluarga dan sanak kerabat.

“Adalah RasulullahSAW jika akan masuk bulan Ramadhan, beliau membebaskan semua tawanan dan memberi setiap yang meminta (membutuhkan)”.

(HR. Al-Baihaqi).

4. Berdo’a menyambut kedatangan bulan Ramadhan dan dan memohon keselamatan bulan tersebut, agar terhindar dari fitnah, musibah, atau gangguan sepanjang menjalankan ibadah di bulan mulia. Diantara do’a para sahabat yang dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab Latha’if Al-Ma’arif diantaranya:

“Ya Allah, hantarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan hantarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”

(Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Dan pada saat melihat hilal, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika masuk Ramadhan. Meskipun do’a ini hakikatnya adalah doa umum, dapat dibaca pada semua awal bulan. Namun kebiasaan melihat hilal di tengah masyarakat adalah saat menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal.

“Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.”

(HR. Ahmad 888, Ad-Darimi no. 1729, dan Ahmad, 3/171).

5. Dalam kondisi wabah COVID-19 ini, ibadah harta menjadi ibadah yang tidak boleh dilupakan jelang Ramadhan tahun ini. Betapa banyak keutamaan ibadah harta dikaitkan dengan ampunan, keselamatan dari musibah, dan api neraka. Diantaranya sabda Rasulullah SAW:

“Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.”

(HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016)

“Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

(HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abil Iman)

Demikian agung tamu tahunan ini.

Sayang jika kita tidak menyambutnya dengan penuh suka cita dan kebahagiaan. Kebahagiaan kita menyambut Ramadhan adalah bukti keimanan dan keyakinan kita akan kemuliaan dan keutamaan bulan agung ini. Khususnya kebahagiaan menyambut Ramadhan dan menjalankan seluruh amaliahnya, bersama keluarga di rumah kita masing-masing.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mari terus berbagi justru pada masa yang sangat membutuhkan ini. Selamat berlomba mengambil manfaat dan hikmah sebanyak-banyaknya.

Peran Penting Perempuan

Suatu malam,  Aslam sedang menemani Khalifah Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika beliau merasa lelah, beliau bersandar ke dinding di tengah malam.

Saat menikmati istirahatnya, beliau mendengar seorang wanita berkata kepada putrinya:

“Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.”

Putrinya menjawab:

“Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin hari ini? Beliau memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.”

Ibunya berkata:

“Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.”

Gadis itu menjawab:

“Ibu, tidak patut bagiku menaatinya di depan khalayak demikian juga menyelesihinya walaupun di belakang mereka.”

Sementara Umar bin Khattab mendengar semua perbincangan tersebut, saat beliau istirahat.

Umar berkata :
“Aslam, tandai pintu rumah tersebut dan kenalilah tempat ini.”

Lalu Umar bergegas melanjutkan patrolinya.

Di pagi hari Umar berkata:

“Aslam, pergilah ke tempat itu, cari tahu siapa wanita yang berkata demikian dan kepada siapa dia mengatakan hal itu. Apakah keduanya mempunyai suami?”

Aslam pun berbegas menunaikan perintah Khalifah Umar. Hasil penyelidikannya adalah bahwa ia adalah seorang gadis yang belum bersuami dan lawan bicaranya adalah ibunya yang juga tidak bersuami. Aslam pun pulang dan mengabarkan kepada Umar. Tak lama berselang itu, Umar langsung memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka.

Umar berkata :

“Adakah di antara kalian yang ingin menikah?”

Ashim menjawab:

“Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku”

Mendengar jawaban anaknya, Khalifah Umar segera meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan ini lahir seorang putri bernama LAILA (Ummu Ashim) yang di kemudian hari menjadi IBU yang melahirkan Umar bin Abdul Aziz. Seorang pemimpin yang saleh, kharimastik, bijaksana, dan dekat dengan rakyatnya. Sosoknya begitu melegenda. Banyak peristiwa pada masa kepemimpinannya yang menimbulkan rasa cinta untuk meneladaninya.

 

Cerita ini dikisahkan oleh Abdullah bin Zubair bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya yang bernama Aslam.

Cerita ini saya ambil dari kisahmuslim.com, semoga menginspirasi leader-leader Indonesia, kini dan masa mendatang. Izinkan kami mengambil peran kecil untuk turut menyiapkan perempuan tangguh.

 

Perubahan Besar dalam 2 Tahun

Umar bin Abdul Azis baru saja diangkat sebagai khalifah. Beliau mendapat mandat seperti tertulis dalam surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat. Sejarah mencatat suksesi kepemimpinan itu terjadi pada tahun 771M.
 
Sesaat setelah menerima tampuk pimpinan, beliau pun bersama rakyatnya mengurus pemakaman Khalifah Sulaiman. Beliau nampak kelelahan usai rangkaian prosesi pemakaman dan pelantikan tersebut. Sang Khalifah berniat untuk tidur, istirahat barang sejenak.
 
Belum sempat meluruskan punggung, mata pun belum sempat terpejam, terdengar suara :
 
‘’Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?’’
 
Ternyata itu suara salah satu anak beliau, Abdul Malik.
 
‘’Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini,’’ jawab Umar lirih.
 
Sang anak menimpali:
 
‘’Lalu apa yang akan engkau lakukan ayahanda?’’
 
‘’Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu dhzuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat,” ucap Umar.
 
Tak perlu menunggu lama, Abdul-Malik menimpali:
 
‘’Wahai ayah, siapa yang menjamin engkau masih hidup sampai waktu dhzuhur? Padahal sekarang engkau adalah Amirul Mukminin yang bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi.’’
 
Mendengar peringatan sang anak, Khalifah Umar pun segera bangkit dari peraduan sembari berkata:
 
‘’Segala puji bagi Allah yang menghadirkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.’’
 
Umar pun segera beraksi dan bekerja keras, mendarmabaktikan dirinya bagi rakyat.
 
Sejarah mencatat dengan tinta emas. Pada masa kepemimpinannya, negara meraih puncak kejayaan. Dan itu, dilakukan dalam 2 tahun, tepatnya 866 hari. Ya, hanya 2 tahun. Memang singkat masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Tapi, kualitas leadership beliau bisa dilihat dari hasilnya, bagaimana tatanan masyarakat dan tata negara ketika itu.
 
Banyak perubahan yang mengguncang kemapanan, diantaranya :
 
1. Melarang pejabat negara untuk berbisnis.
2. Pekerja tanpa bayaran dianggap ilegal.
3. Tanah penggembalaan dan cagar alam yang diperuntukkan bagi keluarga para pejabat tinggi dibagikan secara merata pada orang miskin dan tujuan budidaya.
4. Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan orang-orang. Beliau pada setiap kesempatan, memberi maklumat bahwa jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah mulai dari 100 hingga 300 dirham.
 
Perubahan itu bisa dilakukan dan berhasil. Hanya perlu waktu 2 tahun. Itu sudah memadai.