Satu Brand, Menjungkit Laba

.

Saat menunggu penerbangan balik ke Jakarta, ada yang menarik. Ini terkait maskapai dan jenis pesawatnya.

Apa itu ?

Sahabat, tentu sudah tahu, maskapai Sriwijaya Air sejak akhir tahun tahun, diambil alih oleh Garuda Indonesia. Buying business strategy. Itu berarti termasuk NAM Air, anak perusahaan Sriwijaya.

Sehingga sekarang Garuda memiliki 4 anak perusahaan. Menambah daftar nama yang lebih dulu ada, Citilink. Garuda saat ini mengoperasikan 4 brand pesawat. Boeing buatan negeri Paman Sam. Airbus buatan konsorsium beberapa negara, berbasis di Toulouse, Perancis. Bombardier buatan Canada. Dan terakhir, ATR buatan bareng Perancis dan Italia. Perusahaan ini berbasis di Blagnac, Perancis.

Ini menarik menjadi bahasan.

Beda merek itu menjadikan pilot yang berlisensi Boeing tidak bisa serta merta menerbangkan Airbus. Ia butuh lisensi lagi. Ia harus menjalani pelatihan khusus. Masuk simulator. Sehingga pilot yang ada tidak dapat interchangeable. Ini butuh biaya bukan ? Demikian juga engineer yang merawat atau memperbaiki pesawat.  Training perawatan yang berbeda butuh multi talent people. Butuh biaya lebih. Atau jika single skill, maka butuh lebih banyak engineer. Belum lagi spare part-nya. Beda brand, beda suku cadang. Butuh tempat tersendiri. Butuh space gudang yang relatif lebih besar, jika dibandingkan dengan 1 jenis merek. Itu semua mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Apalagi itu menyentuh HPP atau Cost of Revenue. Penghematannya bisa mendobelkan net profit.

Kondisi ini, menjadikan perhatian saya tadi.

Saya coba mereka-reka.

Garuda mengoperasikan hanya brand Boeing saja dengan berbagai variannya. Kenapa tidak Airbus. Biarkan Airbus dipakai oleh Citilink. Sedangkan Bombardier dioperasikan oleh Sriwijaya Air. Bagaimana dengan ATR ? Pesawat ini dioperasikan oleh NAM Air. Sehingga ATR yang dulunya diperasikan Garuda dan belakangan dioperasikan oleh Citilink dialihkan ke NAM Air.

Lha terus bagaimana dengan rute pernerbangannya ? Tentunya harus diubah. Disesuaikan. Termasuk bagaimana visi misi bisnis maskapai tersebut. Diubah total.

NAM air menjadi maskapai pengumpul. Dari bandara kecil ke bandara hub. Baru setelahnya, penumpangnya diterbangkan oleh Garuda, Citilink dan juga Sriwijaya. Sriwijaya melayani rute yang relatif lebih pendek dari Garuda atau Citilink.

Ini agar pengelolaan setiap maskapai, 1 jenis pesawat saja. Pilihan ini bisa mengoptimalkan biaya.

Net profit biasa dijungkit. Perusahaan lebih sehat, bahagia pemiliknya, bahagia karyawannya.

Bagaimana dengan usaha, organisasi, perusahaan, sahabat ?

Lontaran ide singkat, yang perlu diskusi lebih dalam.

Mau joint ?

Silakan tulis interest sahabat by WA : 08111661766.

Terima kasih.

Leadership Challenge

Leadership Challenge !
By : Ari Wijaya, Master G-Coach

Sahabat, pernahkah menanam pohon? Utamanya pohon buah? Kalau mengalaminya, mari kita buka ingatkan kembali.

Bibit pohon ada yang dari biji. Stek batang. Okulasi. Atau pakai cangkokan. Bahkan ada bibit unggul dengan teknologi terbaru. Tanah dan pupuk juga beraneka. Kita pilih yang sesuai.

Setelah menanam ada yang memantau perkembangan dengan seksama. Tak jarang juga membiarkannya.

Tiba waktu yang diharapkan pohon berbuah. Nha.. inilah yang timbul berbagai reaksi. Ada yang ngedumel karena pohon tak berbuah. Ada pula yang bergembira meski baru muncul kuncup bunga. Berarti ada harapan menjadi buah.

Apalagi ketika buahnya lebat. Diluar harapan. Ukuran besar dibanding ukuran biasanya. Lebat 9-12 kali lipat. Bahkan lebih.

Selidik punya selidik, ia menggunakan bibit unggul. Pupuk dengan takaran yang pas. Perawatan berkala. Sistem penyiangan dahan yang terukur. Monitoring dipelototi. Jika tidak sesuai harapan awal, dicari akar masalah dan solusinya.

Bisnis juga demikian. Buah semacam target. Goal. Bibit, pupuk adalah sumber daya. Penyiangan rumput, memotong dahan yang tak perlu, pemupukan berkala adalah proses perawatan agar pohon tumbuh sesuai harapan.

Dewasa ini memang saatnya bisnis mengutamakan kecepatan. Kecepatan mata uang bisnis.

Tentu ingat bukan? Ada bangunan 57 lantai dibangun hanya dalam 19 hari. Itu ada di China. Mereka saat ini berhasil mencatatkan diri sebagai the most extreme performance accelaration program on earth.

Saya coba tanya kepada ahli bangunan. Normalnya, 1 lantai diselesaikan selama 5 hari. Jadi bangunan 57 lantai itu seharusnya usai selama 285 hari. Alias hampir 10 bulan.

Wow.. mereka menemukan extraordinary result hingga 15 kali dari biasanya.

Keberhasilan itu, baik buah maupun bangunan, perlu dijaga kinerjanya. Bukan karena kebetulan. Sustain Peak Performance.

Dr. Armala Armala sang Master Productivity asli Indonesia, mengatakan untuk menjaganya perlu management control system.

Norm, prosedur dan alat monitoring perlu dibuat. Ini bagian dari pelaksanaan ide besar tadi. Ini yang disebut execution process.

Mempunyai kinerja yang berkelanjutan ini penting. Bagaimanapun pelanggan kita pingin sesuatu yang faster, cheaper and closer. Lebih cepat diterima, lebih murah dan lebih dekat. Speed is the KEY.

Pencapaian hebat perlu perencanaan yang hebat. Dan itu perlu strategi pelaksanaan yang prima. Misal : perencanaan kebutuhan material. Alat berat yang dibutuhkan. Ada konstruksi yang dibuat siap pasang. Urutan proses. SDM yang memadai. You have t develop the strategy execution.

Ketika strategi telah ditetapkan, tak kalah penting adalah memberikan kewenangan sesuai fungsi dan perannya. Sehingga hal ini bisa memotong alur birokrasi. Ini yang disebut driving accountability.

Lha itu …Kan punya orang? Punya kita bagaimana?

Tak jarang kita ingin mendapatkan hasil sesuai harapan. Bahkan lebih tinggi lagi. Tapi pada perjalanannya ada celah. Ada ketinggalan target. Ini yang perlu ditelaah. Apa gapnya?

Masalah SDM kah? Apakah masalah dana? Atau metodanya? Apa masalah tools atau perangkat kerja? Atau masalah lingkungan industrinya?

Setelah tahu penyebab dominan. Kita bisa menyelesaikannya dengan sistem Pareto. 20% aksi bisa menyelesaikan 80% masalah. Sedikit sumber daya bisa menyelesaikan lebih banyak masalah. Pun bisa lebih fokus. Closing the execution gap.

Kembali kepada contoh pohon buah tadi.
Bisa jadi ia membeli bibit pohon yang mahal. Bibit unggul yang harganya 500 ribu per pohon. Dengan perawatan berkala, takaran pupuk yang pas, ia tumbuh pesat. Pohon buah sejenis dengan bibit dari buku, baru menghasilkan buah 1, saat berusaha 3 tahun. Jumlah buah masih di bawah 20. Masih belasan. Setara 10kg.

Tapi buah dengan bibit unggul, beda. Panen pertama saat usia 18 bulan. Buahnya bisa berjumlah 90-100 pcs. Setara 90kg.

Biaya bisa jadi lebih mahal dari pohon dengan bibit biji. Tapi hasilnya meningkat tajam. Waktu panen lebih cepat. Mutu buah lebih baik. Unsur BMW masuk! Biaya. Mutu. Waktu.

Mari kita hitung bagaimana produktivitasnya.

Misal harga pupuk : 8 ribu per kg. 1 pohon membutuhkan pupuk 50 kg pertahun.
Harga buah per kg, 25 ribu per kg.

Dalam 3 tahun pertama :
Hasil pohon 1 (biji) : 250.000 (panen pertama setelah usia 3 tahun.

Hasil pohon 2 (bibit unggul), panen pertama saat usia 1,5 tahun. Panen 3 kali per tahun. Sehingga 3 tahun panen 5 kali. Hasilnya sbb:
Hasil jual buah : 11.250.000
Pupuk : 1.200.000,-
Bibit : 500.000,-
Profit : 9.550.000,-

Bedanya ? Wow… 32,5 kali lipat. Itu baru 3 tahun pertama lho.. Selanjutnya.. bisa lebih dahsyat.

Inilah extreme productivity.

Jika hal tersebut secara istiqomah dilakukan, akan menumbuhkan budaya result-driven. Kinerja yang meningkat tajam bisa dipertahankan. Tim juga punya energi yang tinggi melaksanakan perannya. Create and maintain high energy, result-driven culture.

Bahagia perusahaannya. Bahagia karyawannya.

Leadership Engines

Leadership Engines
By : Ari Wijaya, Master G-Coach

 

Awal tahun menjadi salah satu waktu sibuk. Tak terkecuali bagi organisasi apa pun. Profit maupun non profit.

Galibnya mereka memberikan apresiasi kepada pencapaian periode sebelumnya. Memberi penghargaan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Ucapan syukur dan terima kasih. Willing to share achievement.

Selain itu juga menyusun rencana ke depan. Termasuk target yang akan dicapai. Target berupa angka terukur sangat disarankan. Set clear goals. Tak jarang target dipasang setelah membongkar proses bisnis. Mengurangi atau bahkan menambahkannya. Untuk mendapatkan proses yang lebih efisien. Menghasilkan output lebih baik. Challenge The Process.

Leader dalam hal ini memegang peranan penting. Ia harus punya rasa percaya diri yang tinggi. Meyakinkan bahwa target itu, meski menantang tapi bisa dicapai. Self Confident. Ia harus mampu meramu tim. Menempatkan orang yang pas. Perbedaan menjadi sumber daya yang dahsyat. Aligning People. Target yang menantang akan menghasilkan output menggembirakan. Bisa berpotensi membawa perubahan baru. Produces change

Leader perlu juga memberdayakan anggota timnya. Termasuk memberikan pelatihan, sharing knowledge dan pendampingan yang sesuai. Pengetahuan dapat diperoleh dari dalam organisasi. Atau hasil benchmark kepada perusahaan/organisasi lain. Continually Learning. Hal itu menjadi modal penting saat ia memberikan mandat ke beberapa orang termasuk kepada tim yang langsung berhadapan dengan pelanggan. Delegates to the front line.

Ladership engines yang meraung-raung, insya Allah dapat target dicapai dengan bahagia.

 

Catatan : foto diambil dari koleksi pribadi Pak Anies Baswedan.

Mata Uang Baru, Mau ?

Mata Uang Baru. Mau ?
By Ari Wijaya, Master G-Coach, Cost Optimizer

Terpampang nyata di depan mata, bukan lagi yang besar mencaplok yang kecil. Saat ini, yang cepatlah yang menyingkirkan yang lelet alias lambat. Kecepatan menjadi mata uang baru dalam bisnis. Oleh karenanya, perusahaan saat ini beruaya menjadi yang tercepat di industrinya.

Di Negeri tirai Bambu, bangunan 57 lantai dapat diselesaikan dalam 19 hari. Secara teori dan lazimnya, 1 lantai saja perlu waktu 5 hari. Waktu yang dibutuhkan, seharusnya dibutuhkan waktu 285 hari. Hampir 10 bulan !

Penghematan besar yang dilakukannya. Sumber daya yang efisien. Proses yang efektif. Memang dibutuhkan alat berat yang spesial, bukan seperti biasanya. Biaya sewa per hari bisa lebih tinggi, misalnya, crane yang biasa digunakan untuk membangun secara konvensional. Atau bahkan mereka menciptakan crane sendiri. Tapi, biaya tambahan itu ditutup dengan waktu pencapaian yang lebih cepat.

Ia tidak melakukan pembangunan layaknya perusahaan jasa konstruksi pada umumnya. Ia melakukan pre fabrikasi sebelumnya. Persiapan yang matang. Konstruksi hasil pre-fabrikasi itu tinggal pasang, seperti layaknya main lego. Pre-fabrikasi membutuhkan material dan tenaga khusus. Itu bisa menambah biaya. Lagi-lagi tambahan biaya bisa di off-set dengan lebih cepat waktu untuk menyelesaikan 1 gedung. Konstruksi dengan teknologi seperti ini, persiapan menjadi kunci.

Bagaimana dengan pelanggan ? Ehm… suka cita. Bahagia. Betapa tidak ? Misalkan, jika yang dibangun adalah apartemen. Satu lantainya berisi 40 unit. Tipe studio 1 kamar tidur. Anggaplah 55 dari 57 lantai yang disewakan. Ada 2.200 unit yang siap huni pada bulan ke-2. Let’s say, 1 unit disewakan Rp. 4 juta per bulan. Maka, ia menikmati penghasilan pada bulan ke-11, Rp. 79,2 M. Itu saat orang lain, baru saja meresmikan bangunan jika dibangun dengan cara konvensional. Siapa yang nggak bahagia melihat angka itu ? Saya yakin, banyak yang mulai ngiler. Tergiur dengan extreme productivity mereka.

Perusahaan apa itu? Broad Sustainable Building, Co. Ltd. (BSB) namanya. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2009. Usianya baru menginjak 10 tahun. Ia memang bagian dari Broad Group, perusahaan multi nasional asal Cina yang didirikan pada tahun 1988.

Saya yakin, pencapaian dan kinerja BSB menggentarkan industri konstruksi di dunia. Perusahaan jasa konstruksi lainnya, kalau tidak berbenah, bisa keok mereka.

Dalam strategi bisnis, kepemimpinan biaya (cost leadership) membangun keunggulan kompetitif dengan memiliki biaya operasi terendah di industri. Kepemimpinan biaya sering didorong oleh efisiensi, ukuran, skala, ruang lingkup, dan pengalaman kumulatif perusahaan.

Pilihan teknologi bisa menghasilkan extreme productivity. Masalah besar adalah, bagaimana kita dapat mempertahankan kinerja tersebut.

Percepatan pembangunan gedung betingkat ini menjadi bukti kecepatan masih bisa ditingkatkan. Modal inilah yang membuat BSB mempunyasi keyakinan besar memasuki industri jasa konstruksi. Mereka pun dipercaya menangani pembangunan bakal gedung tertinggi di dunia, Sky City di Changsha, Cina.
Kecepatan menjadi senjata handal menghadapi persaingan. Speed menghadirkan penghematan biaya, proses yang lebih efektif. Tentu saja, menghasilkan output yang jauh lebih dahsyat. Produktivitasnya juga sangat tinggi. Belasan bahkan puluhan kali lipat.

Inilah era, saat kecepatan menjadi mata uang baru. Bisa jadi alat tukar.

Kecepatan bukan milik leader atau operator. Mari kita hargai peran kita sekecil apa pun itu. Terpenting dan yang perlu dipatri adalah mengedepankan semangat berubah. Menjadi insan yang lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Maju terus pantang mundur.

“Pion catur boleh jadi kecil, sering dikorbankan. Tapi ia tak pernah membuat langkah mundur. Meski satu per satu, langkahnya terus maju. Saat dibutuhkan, ia bahkan bisa menjelma menjadi panglima, bahkan perdana menteri sekalipun“ (Ari Wijaya, Cost Optimizer)

Anda masih sangsi ? Atau satu dari orang yang mau bergabung dengan segera. Menjadi insan yang mengedepakan kecepatan sebagai keunggulan kompetitif.

Cost Killer vs Proses Bisnis

Di dalam dunia usaha, persaingan adalah keniscayaan. Setiap perusahaan selalu berusaha untuk bertahan dan bahkan memenangkan persaingan. Unggul dari perusahaan lain.

Bila kita cermati ternyata selalu saja ada perusahaan-perusahaan yang menemukan cara-cara cerdik untuk bertahan di tengah situasi yang tidak menguntungkan. Dan salah satu kunci pertahanan yang banyak dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut adalah mengoptimalkan biaya.

Salah satu caranya, melakukan cost killer. Tidak sembarang potong biaya. Tapi penghematan dengan melakukan perbaikan pada proses bisnis.

Misal, bagaimana mengelola proses pengadaannya. Bagaimana pun, pengadaan berperan besar pada biaya pokok produksi atau harga pokok penjualan. Kita kenal sebagai HPP. Naik turunnya HPP akan mempengaruhi margin keuntungan penjualan. Tentu saja, dari keuntungan itulah roda perusahaan digerakkan.

Hasil akhir dari persaingan sudah pasti akan menguntungkan konsumen secara umum, karena hanya perusahaan yang paling efisien yang bisa memberikan harga terbaik. Perusahaan meningkat profitnya dan tentunya dapat memberikan keleluasaan daam menjalankan misi strategis lainnya.

Efek positif lainnya, remunerasi karyawan bisa lebih baik. Misalnya, sebagian dari nilai penghematan itu disisihkan untuk pos kenaikan remunerasi karyawan. Plus pemberian bonus. Bisa jadi itu menjadi salah pemicu motivasi bekerja lebih baik. Dan akhirnya, produktivitas bisa bertambah baik.

Yuk, mulai kita petakan dan analisa proses bisnis kita. Termasuk di dalamnya mengelola hubungan kita sebagai buyer dengan pemasok. Atau proses bisnis yang lain, bisa jadi masih ada pemborosan yang perlu dikurangi bahkan dihilangkan. 

Saran saya, silakan membaca buku ‘Cost Killer’ terlebih dulu. Buku bisa diperoleh di :
https://ebooks.gramedia.com/id/buku/cost-killer

Setelah itu, kita bisa berdiskusi bersama.

 

 

Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup

Judul tersebut adalah cuplikan judul artikel karya Pak Jamil Azzaini. Isi artikel saya ambil seluruhnya, hanya gambar yang karya saya sendri. Sebagai pemanis dan penambah semangat. Bah pena ini saya pelajari karena relevan dengan situasi tempat saya berkarya . Ternyata juga dihadapi para eksekutif dan pemilik beberapa perusahaan yang menjadi teman diskusi dan berbagi beberapa bulan terakhir.

Terima kasih Pak Jamil Azzaini.

Semoga artikel ini menginspirasi sahabat yang lain.

Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup, Segera Lakukan Hal Lain Atau Perusahaan Anda Akan Punah

by ; Jamil Azzaini *)

Banyak Leader yang menyamakan retensi dan loyalitas. Sama-sama menjaga tim agar tetap berada di dalam perusahaan. Nyatanya keduanya berbeda. Retensi artinya mempertahankan tim. Eve Ash, seorang psikolog di dalam tulisannya memaparkan bahwa pendapatan yang bagus adalah satu alasan utama yang membuat tim bertahan.

Pertanyaannya, apakah karyawan bertahan saja cukup? Bagaimana kalau ia bertahan dengan performa yang stagnan atau bahkan menurun. Bagaimana kalau ia bekerja sekedarnya saja sebagai rutinitas sehari-hari tanpa peduli apa kabar dengan perusahaan? Itulah mengapa kita membutuhkan loyalitas karyawan. Komitmen kuat untuk memberikan yang terbaik.

Mungkin ada Leader yang bangga karena banyak anggota timnya punya masa kerja panjang tanpa usaha mempertahankannya. “Ah saya tidak pakai cara macem-macem, buktinya mereka bertahan. Memang mereka butuh pekerjaan ini kok” Hati-hati, sekedar bertahan karena tidak ada pilihan lain (sejauh ini), sangat berbahaya.

Tim ini bisa jadi sebetulnya dis-engaged.

“Kalau ada kesempatan keluar dengan tawaran yang lebih baik, saya pasti pergi. Wong saya juga tidak dikembangkan sama sekali kok. Tidak dipedulikan. Tapi sekarang belum ada tawaran, jadi ya sudahlah.”

Kesehariannya tanpa karya, tapi justru lebih banyak mengeluhkan segala hal di dalam perusahaan. Bahkan menularkan keluhannya pada orang lain, sehingga semakin banyak yang ikut-ikutan tidak puas bekerja.

Lalu apa yang terjadi pada perusahaan? Bila tim hanya diharapkan tetap tinggal tanpa reward dan upaya pengembangan sama sekali. Sementara perusahaan juga tidak menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Sampai kapan perusahaan akan bertahan?

Kita dapat menggunakan kesimpulan dari analisa data yang dilakukan Jeffalytics.

“If you’re not growing, you are dying”. 

Jika Anda tidak berkembang, maka Anda menuju kepunahan. Berdasarkan Jeffalytics, setiap perusahaan merekrut orang, diharapkan ada pertumbuhan revenue setidaknya pada tahun kedua. Apa yang terjadi bila ekspektasi itu tidak terpenuhi? Apalagi kalau ternyata revenue justru menurun.

Perusahaan harus mengambil keputusan di antara pilihan-pilihan sulit. Apakah perusahaan akhirnya mengurangi jumlah karyawan agar seimbang dengan kebutuhan bisnis? Apakah perusahaan mempertahankan karyawan dengan menurunkan target profit yang direncanakan? Apakah perusahaan merekrut tim sales baru untuk mencoba meningkatkan revenue? Apakah perusahaan mencari pinjaman dana agar bisnis mereka tetap bisa jalan?

Ketika kinerja tim sudah tidak optimal, perusahaan pun tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, maka menjalankan pilihan-pilihan di atas pun belum tentu membantu. Resiko terbesar pada akhirnya adalah pemilik perusahaan harus merelakan bisnisnya bangkrut.

Bila Anda adalah Leader yang ingin memastikan tim Anda betah dan loyal, maka berikan mereka berlimpah alasan untuk menikmati apa yang mereka kerjakan dan dengan siapa mereka bekerja. Berikan arahan dan tantangan, dampingi, berikan reward yang pantas, ciptakan kultur positif dan prestasi perusahaan yang membanggakan.

Survey yang dilakukan oleh High Ground memberikan bukti menarik tentang karyawan yang sangat loyal dibandingkan dengan yang tidak. Yang sangat loyal ternyata 2 kali lipat tetap bertahan di dalam perusahaan, 2 kali lipat membantu rekannya meski tidak diminta, 3 kali lipat melakukan sesuatu yang baik untuk perusahaan secara tak terduga, dan 5 kali lipat bersedia merekomendasikan teman atau kenalan untuk ikut bekerja di perusahaan.

Menjaga loyalitas tim adalah satu hal penting untuk menjaga perusahaan dari ancaman kepunahan. Tapi masih ada faktor-faktor lain yang turut berpengaruh agar perusahaan sukses dan terus berkembang. Survey yang dilakukan Bill Gross dalam Legendary Men terhadap lebih dari 200 perusahaan menemukan 5 faktor penting yang berperan di dalam kesuksesan bisnis.

Pertama adalah ide-ide yang terus relevan dan dibutuhkan pasar.

Kedua seperti yang sudah kita bahas panjang adalah tim yang solid dan berdedikasi.

Ketiga, business model yang meberikan arahan jelas bagaimana meraih revenue melalui pencapaian goal-goal terukur.

Keempat adalah funding (pembiayaan). Dengan funding yang kuat, maka operasional perusahaan pun menjadi jauh lebih baik. Namun ternyata ada yang tetap gagal meski punya dana yang memadai. Kenapa? Karena tidak memperhatikan faktor kelima berikut ini.

Timing (waktu). Kapan timing yang tepat agar energi tidak habis edukasi market karena rilis terlalu cepat, namun juga tidak terlambat sampai kehilangan market. Ketika bisnis memasuki pasar di timing yang tepat, maka ia akan meraih kesuksesan besar.

Fokuslah kepada kelima faktor, agar perusahaan jauh dari punah dan dekat dengan sukses!

Salam SuksesMulia!

Perubahan Bermula dari Saya

Sahabat tentu familiar dengan nama merek NOKIA bahkan produknya. Nokia pernah merajai pasar perponselan. Bagaimana sekarang? Bertahan? Untuk telepon seluler, ia kalah bersaing. Seiring berjalannya waktu, Nokia terpinggirkan dengan munculnya gadget yang beraneka ragam fitur. Tak ayal lagi, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia.  Itu terjadi pada tahun 2013. Itu berarti, dominasi selama 14 tahun lebih, usai sudah. Itulah milestone runtuhnya Nokia.

Pengalaman tak mengenakkan itu ternyata belum menjadi pelajaran berharga bagi BlackBerry. Mereka terlalu percaya diri dengan aplikasi andalannya yaitu BlackBerry Messenger alias BBM, yang pernah digunakan oleh jutaan orang. Black Berry lupa dan terlena, banyak orang kreatif dan cerdas yang terus melakukan inovasi. Ketika muncul aplikasi BBM yang multi platform, disusul dengan kemunculan aplikasi pesan dan percakapan seperti  line,  wechat,  whatsapp,  cacaotalk, dan sejenisnya. Eksistensi BBM mulai pudar. Jika ada yang masih pakai BBM, hampir dipastikan ada yang senyum-senyum. Kita dicap kudet, kurang update, ketinggalan zaman. Nasibnya tak beda jauh dengan Nokia. Black Berry Messenger pun terkapar. Tahta mereka di rebut WhatsApp!

Apakah  saat anda masih melihat disket ? Jika ya, berarti kita generasi tuwir alias tua. Setidaknya seumuran saya atau lebih tua, hehehe.

Saya dulu memakainya pada kurun waktu 1991-1994, saat getol membuat laporan hingga skripsi. Jika tidak hati-hati membawanya, jangankan terlipat, saat tergencet saja, bisa berabe. Kalau itu terjadi, bisa dipastikan data yang ada di dalamnya tak bisa dibaca. Hilang. Perlu upaya khusus untuk mendapatkannya kembali. Perubahan terus terjadi. Kini disket sudah beralih ke flashdisk maupun hard drive external. Bahkan, seiring dengan penemuan teknologi cloud, maka penyimpanan pundilakukan di awan, cloud storage.

Cloud storage adalah media penyimpanan yang diakses melalui jaringan internet. Cloud storage ini dapat menhemat waktu dan tempat di bandingkan menggunakan media penyimpanan lain seperti flashdisk maupun CD. Tentunya tidak perlu takut rusak secara fisik.Banyak perusahaan yang menyediakan secara gratis, seperti box, dropbox, google drive. Perubahan ini tidak bisa dicegah atau dilarang.

Teknologi komunikasi berkembang tanpa batas. Saya masih menggunakan surat untuk berkomunikasi. Saling kirim kartu pos untuk sahabat pena. Atau pakai telegram untuk mengirim berita penting. Ini telegram yang pakai ketikan dengan kata-kata pendek. Pakai kertas kecil dimasukkan amplop khusus. Tak heran dulu, bisnis wartel sangat menjamur. Tapi apa daya, dengan adanya smartphone, sekarang tidak dijumpai benda dan sistem tersebut. Gambar, dokumen bisa dikirim by WA.

Kiriman uang? Banyak teman saya menggunakan wesel pos saat menunggu kiriman dari orang tua. Jatah hidup bulanan. Saya juga pernah merasakan pengiriman uang melalui kantor pos itu. Saya harus mencari kantor pos terdekat. Sekarang? Kita bisa transfer antar rekening bank. Bisa di depan laptop atau gadget. Mobile Banking. Jika penerima tidak punya rekening, bisa merapat ke gerai chained market. Saya sebut saja merek ya, Indomaret atau Alfamaret. Kita tinggal sebut alamat lengkap. Petugas memberi kode rahasia untuk pengambilan. Tak selang berapa lama. Penerima bisa mengambil di minimarket terdekat di kotanya.

Zaman banyak berubah. Dan akan terus berubah. Dampaknya ? Bisa positif. Bahkan juga bisa negatif. Namun, pengalaman berbicara. Fakta terlihat jelas. Kemajuan zaman dan semua yang terkait teknologi, tidak bisa dilawan. Jika kita bertahan pada pilihan konvensional, maka justru akan terkubur, terlindas oleh zaman. Oleh karenanya perkembangan teknologi tak perlu dilawan. Antisipasi adalah langkah utama dan pertama. Perubahan berawal dari perubahan diri sendiri. Perubahan itu bisa berwujud kemenangan atau kekalahan. Kemenangan akan datang kepada orang punya kepantasan, memiliki faktor-faktor untuk mendapatkan kemenangan. Sebaliknya, kekalahan juga akan dialami jika faktor-faktor tersebut hilang atau berubah. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’du: 11)

Maka ketika melakukan perubahan, sudah selayaknya dimulai dari masing-masing pribadi. Berawal dari saya, anda dan akhirnya bersama kita melakukannya.

Ayo !

 

#KEY  #persaingan #limamodalkunci #memenangkanpersaingan