Hiburan ++

Hiburan ++

by Ari Wijaya

 

Banyak cara menghabiskan waktu libur. Seperti libur akhir pekan yang disanbung dengan libur nasional. Long week end. Ada yang pulang kampung. Tak jarang, mengunjungi tempat wisata, menjadi pilihan. Banyak juga yang hanya berdiam di rumah. Merapikan rumah dan taman. Namun, beda lagi dengan sekumpulan anak muda ini. Mereka memilih menghelat acara. Mengumpulkan teman, hitung-hitung reuni. Tak hanya cukup sampai di situ. Mereka mengundang orang lain. Upaya memberi alternatif hiburan. Terlebih saat libur panjang di Jakarta.

Acara apa ?

Pergelaran ludruk pun dipilih. Kemasan acara juga dibuat unik. Pergelaran yang dimulai dengan makan siang bareng! Nah lho….  Coba, mau menyaksikan hiburan saja seluruh penonton dan pemain disuguhi makanan khas daerah Jawa Timuran khususnya Malang. Jarang ada event yang memanjakan penontonnya sedemikian rupa. Makan terus nonton. Asal jangan kekenyangan ya. Bisa-bisa pemain ludruknya yang menonton penonton. Karena yang melek pemainnya, pemirsanya angler (baca : tidur nyenyak).

Kenapa ludruk ?

Ini memang pilihan menarik sekaligus berisiko. Tontonan ini masih asing ditelinga beberapa orang di Jakarta, apalagi yang lahir setelah tahun 1990-an. Tapi semangat untuk melestarikan budaya sekaligus mengangkat kembali ludruk di pentas nasional. Itu yang menjadi dorongan kuat anak-anak muda ini. Termasuk upaya memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat.

Ludruk memang popular di kalangan masyarakat Jawa Timur. Tak jarang di beberapa tempat juga ada pementasannya. Ini salah satu seni peran yang unik. Ada Tari Remo sebagai pembuka. Parikan yang sarat makna. Oleh karenanya, saat perang kemerdekaan pun, Ludruk menjadi salah satu sarana perjuangan. Cerita keseharian yang dikemas dengan canda. Pesan yang disampaikan tetap mengena meski dengan cara guyonan. Gambaran sederhananya, seni peran dan dialognya , mirip seperti Lenong Betawi, Ketoprak dari Jawa Tengah, atau OVJ garapan salah satu stasiun tivi swasta.

Ciri khas ludruk adalah parikan (baca : semacam puisi yang dilagukan) yang sarat makna. Ini contohnya !

Eit… tunggu dulu, kalau sahabat tidak mengerti bahasa jawa, mohon para sahabat ajak tetangga sebelahnya  yang wong Jowo, untuk menerjemahkan, ya.

Pithik walik sobo prapatan

Isih cilik ojo podo pacaran

Prapatan comboran akeh krikile

Jarene pacaran iku nggarai kere

Lek wis mumet lan cukup umure

Tenimbang kebelet yuk nikah ae

 

Lek juminten kecepit cendelo

Cekap semanten atur kawulo

Unik, bukan ? Penasaran ?

Event pementasan kali ini menghadirkan Cak Kartolo. Kalau sahabat berasal dari Surabaya, Malang atau kota lain di Jawa Timur, saya yakin kenal dengan salah satu tokoh budaya Surabaya, bahkan nasional ini. Tak cukup dengan Kartolo, panitia juga memasukkan sederet nama tenar seperti Kadir, Polo, dan Tessy. Nama-nama jaminan mutu tertawa sahabat semua. Plus bintang tamu :  Ratna Listy. Mereka akan berkolaborasi pada pentas LUDRUK kekinian. Lakon yang akan mereka bawakan adalah :

“Ken Dedes, Cinta yang Terlarang” dengan sutradara Ribut Kennedy.

Judulnya saja membuat penasaran. Seperti apa jalan cerita sebenarnya ?

Saya jamin akan menjadi hiburan ++ (baca : plus plus).

Hiburan segar, promosi usaha, lepas kangen alias reuni, wisata kuliner, dan juga memberikan sumbangsih pelestarian budaya nasional.

Kapan ?

SELASA, 28 Maret 2017, 11.00 – 17.00 WIB

(jangan khawatir, ini pas TANGGAL MERAH, alias hari libur nasional!)

Di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Ckini Raya 73, Jakarta Pusat

Catat dan booking tempat duduk terbaik sahabat !

Kontak Mbak Liliek Pangat : 0819 3215 8010 agar nggak kehabisan tiket.

 

Book Launching Event – COST KILLER – Sabtu, 25 Maret 2017

Alhamdulillaah, persiapan telah mendekati paripurna.

Bersyukur pada kesempatan perdana ini, Mas Tri Sumono berkenan memberikan materi pengantar. Plus Mas Davied Verronica yang support dari belakang. Tim juga bergerak trengginas, meski perlu berbenah lagi. Momen ini semoga menjadi awal yang baik dan menjadi awal catatan amal sholeh.

Terima kasih Pak Ridwan, Pak Ika, Bunda Sisrie, Mas Bernaz, Mas Said atas dukungannya. Mari rapatkan barisan lagi untuk menyongsong event perdana ini. Selanjutnya acara serupa di Malang, Surabaya, Medan, Samarinda, Balikpapan, Yogyakarta, dan Mataram, insya Allah menyusul.

Sahabat semua, jika berkesempatan hadir akan menjadi sebuah kehormatan dan kebanggaan kami dalam upaya membumikan dan menerapkan ilmu Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management). Utamanya bagi pelaku bisnis UMKM, pemula, atau yang punya rencana menjalankan usaha sendiri.

Perkenankan saya berbagi promosi acara kami.

—-

Peluncuran Buku – Cost Killer

Tujuan perusahaan baik skala mikro, menengah maupun raksasa bisnis adalah PROFIT. Hal ini dilakukan dengan memberi nilai tambah pada produk dan jasanya yang dihasilkannya.

Pada saat perusahaan tumbuh semakin besar, perusahaan akan dihadapkan dengan adanya kebutuhan untuk bisa melakukan pembelian tepat waktu, tepat mutu dan tepat harga. Bagaimana dengan biayanya? Bukankah makin besar?

Bukan hal yang tidak mungkin, sebuah perusahaan dapat tetap menjaga dan menaikkan kualitas produk dan/atau jasanya, bahkan ketika dilakukan upaya menurunkan biaya sekali pun. Melakukan pengurangan biaya tanpa merugikan  para vendor yang terlibat.

Tertarik untuk mengikuti lebih lanjut ?

Kami mengundang sahabat semua untuk menyimak acara “Book Launching : Cost Killer” pada :

SABTU, 25 Maret 2017 : 08.00 – 12.00 WIB

Bertempat di Graha Titan Center, Jl. Boulevard Raya, Bintaro, Tangerang Selatan

https://goo.gl/maps/5fQuyGMTt2C2

Acara ini akan diisi dengan materi yang bernas dari :

  • Tri Sumono, pemilik beberapa perusahaan yang tergabung dalam 3 Jaya Group. Ia merintis usaha dari semasa menjadi tukang sapu.
  • Ari Wijaya, penulis buku ‘Cost Killer’
  • Ridwan Malawi, professional di bidang project management sekaligus CEO AIR Business Consulting.

Silakan pesan tempat duduk dari sekarang. Jangan lupa membawa serta kartu nama. Kami menyediakan sesi network breakfast. Sarapan kudapan pagi sembari bertukar pengalaman atau mencari peluang usaha baru. Tentunya juga 1 set buku ‘Cost Killer’ dan voucher diskon pelatihan menjadi oleh-oleh sahabat. Buah tangan yang semoga membawa manfaat.

Spare your time, book your seat !

 

Untuk memudahkan administrasi, biaya investasi kehadiran :

Rp. 200.000,- per orang

Khusus mahasiswa mendapatkan harga spesial :

Rp. 150.000,-

Investasi kehadiran dapat ditransfer melalui :

BNI Syariah (kode antar bank : 009)

A/C No. : 99 33 66 33 9

An. : Yayasan Cerdas Sehat Gemilang Indonesia

 

Mohon mengirim konfirmasi dengan format : “CK-Nama-Profesi”, melalui WA kepada :

0811 9090 190

Informasi lebih rinci dapat melayangkan surat elektronik via :

coach.sisrie@gmail.com

 

Ikhtiar Membumikan Ilmu SCM

Hampir 2 tahun ini, saya mencoba menuangkan dan menggabungkan ilmu yang pernah diberikan Allah SWT melalui guru-guru saya dengan pengalaman langsung di lapangan.

Ya, ilmu SCM, supply chain management. Banyak juga disebut manajemen logistik yang lebih luas.

Alhamdulillaah, bisa menjadi sebuah buku. Insya Allah akan terbit dan berada di toko buku Gramedia, pada akhir Maret 2017 ini.

‘Cost Killer’

Panduan 3 Langkah Besar Melakukan Penghematan Biaya dengan Pendekatan Terobosan pada Proses Bisnis

Mohon doa restunya, agar proses editing, pencetakan, dan distribusinya lancar.

Berikut sokongan dari beberapa rekan sejawat. Terima kasih atas dukungannya.

“Mengelola biaya dengan tepat bisa melesatkan profit. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman sejalan dengan teori para ahli ini sangat pas bagi Anda yang tidak ingin perusahaannya banyak mengalami kebocoran atau pemborosan yang tidak perlu.”

*Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership

 

“Buku ini luar biasa. Bisa jadi panduan pelaku bisnis, terutama yang bergerak di bidang produksi. Trik-trik menarik dan mudah yang bisa dicoba, pasti Anda akan merasakan aura suksesnya…”
*Temmi Wahyuni, Owner Nibras Group | www.rumahnibras.com

“Biaya perlu dicermati. Pembengkakan bisa membuat harga tidak kompetitif. Apalagi bagi industri kecil seperti kami. Upaya terobosan yang dicontohkan di buku ini, sangat membantu”.
*Unang Supriadi, Pengusaha UKM Garmen dan Seragam | www.rumahjahit.com

“Jika Anda ingin memangkas biaya-biaya yang tidak perlu dalam bisnis Anda, silahkan baca buku ini !!”
*Davied Verronica, Owner Smart Travel dan People Development Trainer

“Pengalaman panjang di dunia industri yang telah dijalani penulis, Mas Ari Wijaya, membuat buku yang berat ini menjadi ringan karena sarat contoh dan penerapannya, tidak sekedar teori”.
*Awang Surya, Pengusaha Kuliner, Dosen, sekaligus Penulis Buku | www.awangsurya.com

“Fungsi pengadaan (dan pembelian) selama ini dipandang sebelah mata dalam suatu organisasi. Bila kita melihat proses Supply Chain secara keseluruhan, tidak mungkin terjadi aliran produk ke pelanggan tanpa adanya proses pengadaan. Istilah Supply Chain sendiri, atau Rantai Pasok, menunjukkan adanya kegiatan pemasokan dari supplier (pemasok). Pemasok baru dapat mengirimkan barangnya setelah proses pengadaan dimulai. Sdr. Ari mengungkapkan secara gamblang pentingnya proses pengadaan dalam suatu organisasi dan pentingnya membina hubungan dengan pemasok, karena pemasok adalah mitra. Didukung dengan pengalaman kerja di bidang pengadaan, Sdr. Ari membuktikan pentingnya melakukan terobosan perbaikan proses bisnis, yang langsung dirasakan dampaknya oleh perusahaan baik berupa perbaikan kinerja pelayanan pelanggan maupun keuntungan. Dalam tulisannya, Sdr. Ari mendorong pembaca untuk tidak takut melakukan terobosan, walaupun kelihatannya kecil. Dengan mulai melakukan perbaikan yang nampaknya kecil, maka akan berkembang menjadi perbaikan yang lebih besar, yang hasil akhirnya akan memberikan dampak positif yang luar biasa besar bagi organisasi”.

*Ir. Harry Purwoko MM, MBA, CSLP. Direktur Program Sembada Pratama, School of Supply Chain.

“Cost Effective is key success to win competition. Situasi ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada ketidakpastian iklim bisnis membuat pengusaha harus mencari terobosan. Efisien biaya dan re-engineering bisnis proses adalah strategi bertahan, minimalisir risiko bisnis dan sekaligus menjadi pemenang. Mas Ari Wijaya mempermudah konsep ini dan membuatnya gamblang mudah dicerna serta bisa langsung dipraktekkan.”
*Ferry Hermansyah, Praktisi Bisnis, Founder Leadership Nasional, Konsultan dan Trainer Strategi Bisnis & Manajemen Risiko. | www.leadershiptravel.co.id, www.lnkonsultan.com

“Pada saat perusahaan tumbuh semakin besar, perusahaan akan dihadapkan dengan adanya kebutuhan untuk bisa melakukan pembelian tepat waktu, tepat mutu dan tepat harga. Di sinilah peran dari kegiatan strategic sourcing diperlukan. Buku ini memberikan banyak contoh kegiatan pengadaan barang dan jasa termasuk strategic sourcing yang bagus untuk referensi para pembacanya”.
*Satrio Daru Sasongko, Praktisi Pengembangan Usaha, Jakarta.

“Apa yang ditulis oleh Pak Ari Wijaya ini adalah hal-hal yang lazim dialami oleh banyak perusahaan. Beliau mencoba mengajak pelaku bisnis untuk berpikir lebih cerdas memanfaatkan berbagai celah dalam menekan biaya yang pada gilirannya akan meningkatkan profit. Tulisan yang sangat patut Anda baca.”
*Zaki Jauhar, CEO of Nibras Group, Former CEO of PT. Sofyan Hotels, Tbk.

‘Tujuan perusahaan baik skala Mikro maupun Raksasa Bisnis adalah Profit. Hal ini dilakukan dengan memberi Nilai Tambah pada produk dan jasanya. Lalu bagaimana dengan biayanya? bukankah makin besar? Buku ini menunjukkan bahwa Anda dan perusahaan Anda dapat tetap menjaga atau menaikkan kualitas bahkan ketika Anda menurunkan biaya. Berdasar hands on experience belasan tahun dan passion yang besar untuk bisnis yang lebih efektif dan efisien, Mas Ari Wijaya menyajikannya sepenuh hati untuk Anda. Jangan hanya baca, praktekkan dan buktikan hasilnya!”
*Wirzal Taufiq, Owner EO & Training Provider : Pranala Magni Daya sekaligus Value Awareness Coach

“Mendapatkan HPP (Harga Pokok Produksi) yang rendah merupakan target usaha dari setiap UKM agar mendapatkan margin laba yang lebih baik. Penulis sangat piawai memaparkan konsep yang sederhana serta efektif agar tujuan tercapai yaitu HPP yang optimal. Saya menyarankan agar setiap pelaku UKM dapat meluangkan waktu sejenak agar dapat memahami konsep yang ditawarkan Penulis sekaligus sarana kontemplasi menikmati gaya penulisan yang mengalir. Semoga Penulis dapat melahirkan karya-karya selanjutnya, yang akan selalu menginspirasi para Pelaku UKM…”
*Pricahyo Bea Examinanto, Pengembang Perumahan & Apartemen Syariah

“Suatu buku yang sangat baik untuk para mahasiswa yang tertarik ke dunia Supply Chain Management dan para praktisi SCM untuk mengurangi biaya pengadaan tanpa merugikan para vendor yang terlibat. Tulisan yang terkandung di dalam buku ini sangat mudah untuk dipahami dan sangat praktis. Tentu saja, karena tulisan tersebut mengandung teori dan terapan praktis berdasarkan pengalaman penulisnya. Besar harapan , ide-ide yang terkandung dalam buku “best praktis” ini dapat ditransformasikan menjadi produk / aplikasi fintech agar dapat digunakan di semua industri dengan cepat”.
*Insan Kurniawan, ST., MM. Pemerhati Supply Chain Management. Owner FRID-UKM Flame Retardant Indonesia.

“Buku ini sangat bermanfaat bagi sebuah organisasi yang sedang berkembang maupun yang sedang dalam titik jenuh untuk melakukan cost efficiency dan mengembangkan nilai bisnis organisasi. Berisi trik-trik pengelolaan bisnis yang menarik dan patut dicoba oleh para pelaku bisnis”.
*Retno Mardiningsih, Pemilik & Direktur Kasaba Pratama, Komisaris Spice Agro International, Pengusaha Bidang Ekpor Komoditi Pertanian.

Mendunia by Salim A. Fillah

Cerita yang menyemangati diri ini. Terus berkarya. Berbuat lebih baik. Terbaik. Berupaya memberikan warisan yang semerbak harum dan bermanfaat. Silakan disimak karya Mas Salim A. Fillah ini.

MENDUNIA

Dalam sebuah perjalanan ke negeri Paman Sam pada tahun 1980-an, begitu Prof. Dr. Umar Kayam bercerita dalam serial ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’-nya, pramugari Pan-American yang rutenya Jakarta-Honolulu-San Francisco bertanya pada beliau sambil meringis dengan manis.

“Would you like French Dressing, Italian Dressing, or Javanese Dressing for your salad, Sir?”

Serius ini, pikir Pak Kayam, ada Javanese Dressing? Gek kayak apa itu ya? Apa ya bisa tanding disejajarkan dengan penggerujuk salad ala Perancis yang terbuat dari vinegar wine, mustard, merica hitam, garam, dan minyak itu, atau cara Italia yang bahan utamanya minyak zaitun, bawang putih, peterseli, dan lada putih.

“Javanese Dressing, of course!”, jawab Pak Kayam lebih karena ingin tahu.

Dan jreng jreng jreng…

Javanese Dressing rupanya adalah Sambal Brambang Asem. Itu sedikit cabe, ditambah garam, gula jawa, bawang merah, dan asam jawa digerus bersama hingga menjadi cairan kecoklatan yang sedap segar. Variasinya bisa ditambah wijen atau kacang sangrai sedikit. Di desa-desa antara Solo-Yogya, ia biasa dipakai mengguyur rebusan kuluban, utamanya kangkung sak-ubarampenya.

Sambal Brambang Asem pernah menjadi Javanese Dressing yang mendunia bersama maskapai penerbangan yang kala itu jaya.

Yang hendak saya katakan kali ini agaknya adalah, jangan menyerah ketika salah satu tapak yang diayun untuk mendunia dipatahkan orang. Ya, saya sedang berada di pabrik pesawat Boeing di Everett, Seattle, tempat saya berjumpa dengan para engineer yang pernah berbakti di IPTN. Ada getir dan ada pilu mengenang N-250 dan calon N-2130 kala itu. Tapi saya tahu, kita seharusnya tak meratap. Jika brambang asem pernah bisa terselip jelita di pesawat buatan Amerika yang dioperasikan maskapai Amerika, ada banyak hal lagi yang dapat kita karyakan untuk mendunia.

Duhai keramahan senyum Indonesia, duhai gotong royong yang amat hangat, duhai keakraban di pengajian sembari makan-makan, duhai rendang, bakso, juga sate, duhai pelajar-pelajar pintar, duhai kerajinan tangan dan seni budaya, duhai rampaknya saman, duhai tenaga kerja yang menebari jagat, duhai animasi yang halus, duhai apps yang diunduh-pasang, duhai start-up yang cerdas, duhai senapan serbu yang jitu, duhai kapal PT PAL, duhai terus berlanjutnya CN-235, dan duhai segala industri strategis yang kembali bangkit merintis.

Duhai Indonesia, teruslah berkarya, mendunia.

Beli Produk Teman

Beberapa pekan terakhir ini, saya mengamati kantin kantor. Food court. Saya perhatikan, makanan yang tersaji masih lumayan banyak saat jeda makan siang usai. Mereka sewa tempat. Masak dadakan. Servicenya dari makan pagi hingga makan siang. Hanya beberapa yang buka hingga selepas Isya’.

Pengamatan itu masih saya simpan. Namun, jumlahnya saya perbanyak. Sesekali pas saya makan telat . Makan siang pernah pukul 2 siang. Ternyata, menu pilihan pun masih banyak. Antara senang dan sedih. Campur aduk. Senang karena menu yag saya inginkan, masih ada. Sedih sebab penjual stoknya masih banyak. Pertanda kurang laku.

Dialog singkat pun, saya lakukan dengan penjual. Memang benar dugaan saya. Omset mereka turun. Kadang 40%, bahkan bisa 60%. Indikator yang sederhana tadi mencerminkan kondisi itu. Biasanya, pukul 1 siang, makan di etalase mereka licin tandas. Beberapa pemilik warung nimbrung. Mereka mengungkapkan hal yang setali tiga uang.

Pekan lalu, saya bertemu sahabat yang pebsnis kuliner. Ia sekaligus mubaligh. Selepas memberikan ceramah Jumat. Ia berkenan makan bareng. Saya menceritakan dan meminta pendapatnya tentang kondisi tadi. Surprised. Ia pun beberapa pekan ini merasakan hal yang sama. Revenue turun separo !

Subhanallaah.

“Aku juga penasaran. Aku silaturahim ke beberapa ruko sebelah wrung saya di Cileungsi. Meraka juga idem ditto. Omsetnya turun drastis”, begitu tambah sabahat saya ini.

Sahabat, apakah merasakan hal yang sama ? Omset turun ? Apakah ini karna daya beli menurun ? Bisa jadi. Atau sebab lain. Saya yang bekerja pun merasakan kondisi perusahaan yang tidak semanis seperti rencana. Prihatin.

Bagaimana mengatasinya ? Banyak cara. Tapi diskusi singkat itu membawa kami berupaya. Beberapa teman dekat berkumpul. Ada satu aksi kecil yang disepakati. Ruang lingkup masih sebatas orang yang dekat jangkaunnya. Saudara, teman, tetangga, temannya teman. Lingkungan bisa tetangga, kantor, atau suatu komunitas.

Kami membuat program #promosiusahateman #beliprodukteman. Teman yang punya usaha, kita promosikan. Pakai medsos atau dari mulut ke mulut. Plus aksi tambahan yang lebih nyata. Jika ada event, rapat, pelatihan. Atau bisa jadi untuk dibawa pulang ke rumah. Kudapan, makanan berat (baca : menu nasi komplit), maka kami pesan dari teman. Ini yang disebut #beliprodukteman. Ini juga mencakup jasa lho. Misal, pelatihan atau perbaikan rumah, perawatan AC, dll.

Kolusi ? Tentu tidak. Kami tetap professional. Ada budget dan mereka menyesuaikannya. Saling menguntungkan. Jika order besar, kami juga tawarkan ke beberapa pengusaha. Bagaimana kualitasnya ? Tentu saja tidak boleh turun. Jangan sampai lebih rendah dari spesifikasi yang ditetapkan. Fair enough.

Bisa jadi pengaruhnya kecil. Tapi upaya keberpihakan itu, kami pupuk. Kami jadikan aksi nyata. Semoga bisa menular dan menjalar.

Ayo sahabat kita mulai. Ada rencana belanja, ingat produk teman dulu ya. Semoga omset mereka setidaknya terdongkrak kembali.

#promosiusahateman #beliprodukteman

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.

(HR. Thabrani)

Inilah Dedikasi Kami untuk Indonesia

Inilah Dedikasi Kami Untuk Indonesia

by : Dwi Wahyu Daryoto *)

 

Hari ini kita semua menyaksikan…
Sebuah batu bata kembali terpasang pada bangunan cita-cita menjadikan Pertamina sebagai perusahaan kelas dunia yang unggul dan bermartabat…

Satu lagi sejarah tertoreh…
Sebuah buku kumpulan pemikiran insan-insan pertamina kembali lahir…

Lima puluh sembilan karya tulis dari para pelaku sejarah di perusahaan kita tercinta, berhasil kita rangkum menjadi pelengkap bagi keberhasilan yang telah kita capai hingga 59 tahun Pertamina berkarya…

Tahun 2015 dan 2016, berkat komitmen dan kerja keras kita bersama, kita berhasil melakukan pembenahan yang mampu meningkatkan efesiensi milyaran US$. Ini akan meningkatkan daya saing kita di lingkungan yang kian kompetitif.

Kita juga sukses membukukan keuntungan bersih sekitar 3 miliar dolar amerika atau dua kali lipat lebih dari capaian kita di tahun 2015.

Kita juga berhasil menginisiasi program BBM satu harga di seluruh Nusantara, meski pelayanan ini harus terus kita sempurnakan, namun saya yakin manfaatnya bagi Negeri kita tercinta khususnya saudara saudara kita yang berada di pelosok sangat berarti.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, Kita akan terus fokus mengelola Profit, People dan Plannet..

Insan Pertamina yang saya banggakan…

Usia jabatan kita apapun tingkatannya dapat diukur…3, 5, 10, 20 atau bahkan 30 tahun ……berapapun lamanya…pasti ada batas dan ada akhir.

Begitupun usia kita di dunia ini…ada batas dan ada akhir…

Namun usia sebuah karya intelektual yang lahir dari komitmen dan dedikasi yang tinggi, ia dapat dikenang selamanya… tak lekang oleh waktu.

Para penulis dalam buku ini bisa saja, lusa atau tahun depan masuk masa purna bakti, namun sumbangsihnya pada Pertamina akan tercatat dan dikenang selamanya. Buku ini menjadi saksi.

Insan Pertamina yang saya cintai…

Jangan pernah berhenti berkarya, terus berjuang menegakkan cita-cita untuk keberhasilan Pertamina…

Menjadi baik saja tidak cukup…Menjadi baik adalah hal mudah…cukup berdiam diri dan tak perlu berbuat apa-apa maka yang tampak adalah kebaikan…

Yang sulit adalah menjadi BERMANFAAT, karena itu butuh perjuangan, komitmen dan dedikasi…

HOS Tjokroaminoto, founding father kita mengingatkan kepada kita bahwa keberhasilan perjuangan ditentukan oleh tiga hal:

“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

“setinggi-tinggi ilmu” dapat kita maknai sebagai center of excellence, terus tingkatkan kompetensi, bergerak dan bertindak berdasarkan informasi dan fakta yang akurat.

“semurni-murni tauhid” dapat kita maknai sebagai kelurusan niat, tegakkan integritas, bahwa seluruh yang kita lakukan untuk pengabdian dan ibadah.

“sepintar-pintar siasat” dapat kita terjemahkan sebagai perencanaan, strategi dan taktik yang cemerlang, resilient, yang tangguh menghadapi setiap perubahan dan tantangan.

Buku hasil karya insan pertamina ini adalah bagian dari center of excellence itu, sebagai pagar bagi kelurusan niat kita untuk terus menjaga integritas serta sekaligus sebagai pemantik lahirnya strategi unggul untuk keberhasilan perjuangan kita bersama …

Untuk Pertamina Jaya….

Untuk Indonesia Sejahtera.

 

 

*Dwi Wahyu Daryoto adalah Direktur SDM, Teknologi Informasi & Umum, PT. Pertamina (Persero). Tulisan tersebut merupakan refleksi beliau yang dibacakan pada saat closing acara Bedah Buku dan Peluncuran Buku “Inilah Dedikasi Kami untuk Indonesia” di Lobby Ground Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, 31 Januari 2017.

Orang Kaya dan Orang Pintar by Azrul Ananda

Orang Kaya dan Orang Pintar

Oleh : AZRUL ANANDA*) | JawaPos, RABU, 13 JULI 2016 05:10

ORANG pintar belum tentu kaya, orang kaya belum tentu pintar. Lalu, bagaimana?

***

Waktu senggang di Jakarta, saya mampir ke sebuah toko sepeda mewah di kawasan SCBD. Lihat-lihat sepeda yang harganya di atas Rp 100 juta per buah.

Saya ditemani seorang mantan atlet sepeda hebat, yang sangat-sangat tahu soal sepeda.

Kebetulan, ada seseorang yang sedang asyik menjajal salah satu sepeda yang dijual. Dia punya banyak permintaan kepada mekaniknya. Minta sadelnya terus dinaikkan, walau sang mekanik (yang saya rasa sangat mengerti sepeda) bilang itu sudah ketinggian.

Teman saya yang ahli sepeda itu pun ikut nimbrung. Dia juga mengingatkan calon pembeli itu bahwa posisi sadelnya sudah ketinggian. Saya –yang sudah lumayan paham sepeda– ikut merasa sama, tapi tidak bilang apa-apa.

Yang jelas, karena tingginya sadel, posisi duduk orang itu memang sudah agak konyol.

Tapi, tetap saja orang itu ngotot. Bahkan dengan nada tinggi bilang posisi itu adalah yang benar.

”Badan kita kalau siang lebih panjang daripada di pagi hari,” katanya dengan nada tinggi.

Dia lantas bercerita tentang pembalap kelas dunia Mark Cavendish, yang memang dikenal cerewet soal setelan sepeda, selalu mengutak-atik tinggi sadelnya (dan bagian lain) sesuai keadaan.

Malas berargumen, kami ya diam saja.

Dalam hati, saya nyeletuk, ”Emange loe Mark Cavendish?”

Orang potongan badan aja sama sekali gak kayak pembalap! Paling mancalnya biasa-biasa saja, tapi sok tahunya minta ampun…

Tentu saja itu hanya cerita yang saya ingat di toko sepeda mewah. Belum lagi cerita-cerita lain saat lihat pameran mobil mewah, toko baju, atau tempat-tempat lain yang lazimnya orang berduit mampir dan berbelanja.

Mungkin ini pemandangan familier: Ada orang –yang mungkin kaya– mengomeli sebuah mobil yang dipamerkan. Ngomel kurang ini, kurang itu. Modelnya jelek lah, warnanya jelek lah, audionya jelek lah, mesinnya seharusnya begini lah, dan lain sebagainya.

Padahal, dia mungkin sama sekali tidak punya pengetahuan teknis soal mobil, tidak punya background desain, dan –kalau melihat cara berpakaiannya– kayaknya juga tidak fashionable. Dia memang pakai baju bermerek, bahkan mereknya kelihatan sampai menyakitkan mata, tapi tetap tidak terlihat fashionable.

Kalau melihat gaya orang-orang seperti itu, pusing juga. Dan kasihan melihat salesman-nya atau orang-orang yang bertugas meladeninya. Di satu sisi ingin menjelaskan yang baik itu seperti apa, kenapa itu seperti itu, tapi yang mau diberi penjelasan mungkin juga tidak bisa menyerapnya.

Parahnya lagi, yang mengeluh dan mengomel itu juga belum tentu beli! Lebih parahnya lagi, yang mengeluh dan mengomel itu terus menyampaikan pendapatnya yang belum tentu benar itu kepada orang lain.

Konsumen adalah raja. Raja adalah yang berkuasa. Tapi, yang berkuasa belum tentu orang pintar. Dan sangat sulit untuk meladeni raja yang bukan orang pintar.

***

Cerita senada juga banyak muncul dari kalangan profesional, yang sering kebingungan menghadapi bos-bosnya, yang notabene orang yang lebih kaya. Apalagi kalau itu benar-benar owner dan sudah agak/sangat berumur.

Di satu sisi, ada profesional yang sekolahnya bagus dan tinggi, kemampuan sebenarnya juga mumpuni. Apesnya saja, dia kalah kaya, jadi tetap harus bekerja untuk orang yang lebih kaya. Dan orang yang lebih kaya itu belum tentu pernah bersekolah. Atau paling tidak, sekolahnya zaman dahulu kala dan sudah tidak update.

Sang profesional ingin melakukan sesuatu dan mengusulkan program/strategi yang mungkin bisa membuat perusahaan lebih besar serta maju. Belum tentu benar, belum tentu berhasil, tapi dasar logika dan pemikirannya mungkin benar.

Sang bos tentu tidak memahami serta memaksakan harus begini dan begitu.

Saya bertemu dengan seorang profesional dari Tiongkok, seorang pimpinan marketing sebuah perusahaan. Kami berdiskusi tentang desain dan branding, juga bagaimana di Asia ini sulit sekali menerapkan promosi desain yang halus dan elegan.

Alasannya simpel: Karena bosnya lebih suka logo yang besar menyakitkan mata. Kalau ada billboard ukuran 8 x 12 meter, logonya kalau bisa memenuhi itu, atau paling tidak pesan-pesannya memenuhi setiap sudutnya. Karena yang dibayar kan 8 x12 meter itu. Masak cuma dipakai separonya, lalu sisanya ”hanya” dijadikan visual rest area.

Memang, sekali lagi, sang profesional belum tentu benar. Elegan belum tentu efektif. Tapi, paling tidak ini bisa dijadikan contoh. Bahwa telah terjadi gap pola berpikir.

Kalau berlanjut, bisa lebih membahayakan. Sebab, yang kaya dan berkuasa itu –kalau ternyata salah– bisa menghambat, mematikan, bahkan membuat frustrasi mereka yang pintar.

***

Sebagai orang yang pernah frustrasi menghadapi yang lebih berkuasa (orang tua, wkwkwkwk), aneh rasanya ketika saya dalam posisi lebih kaya dan berkuasa.

Apalagi ketika punya tim yang harus bekerja keras mengikuti kemauan saya.

Di satu sisi, ada banyak hal yang ingin saya paksakan, karena saya merasa memang harus begitu dan begini. Karena saya merasa mereka belum paham garis besarnya dan belum pernah merasakan nantinya seperti apa.

Di sisi lain, jangan-jangan saya salah dan mereka yang benar. Dan saya menghambat mereka untuk membantu memajukan perusahaan.

Untung, saya belum masuk kategori tua (kayaknya sih begitu, kan belum kepala empat, wkwkwk). Jadi, saya masih cukup fleksibel untuk mencoba memahami sekaligus cukup senior untuk bersabar menunggu hasil. Baik maupun buruk.

Kalau ada anggota tim yang ingin melakukan sesuatu, dengan alasan ini yang katanya diinginkan konsumen, saya akan menahannya dulu.

Sebab, dalam pelajaran marketing, konsumen memang raja, tapi mereka belum tentu tahu apa yang mereka mau. Mereka mungkin teriak-teriak pengin begini dan begitu, tapi mereka belum tentu tahu kalau itu benar atau baik.

Seperti kata Steve Jobs :

It’s not the customer’s job to know what they want.”

Berdasar pengalaman, rasanya itu benar. Kalau saya ”mendengarkan dengan baik dan taat” semua keluhan dan omelan yang saya terima dulu, mungkin banyak karya saya sekarang tidak jadi kenyataan yang besar.

Misalnya ketika Jawa Pos berfokus ke anak muda, membuat banyak pembaca ”tuwir” mengomel dan mengeluh. Misalnya ketika membuat liga basket SMA menjadi DBL, yang dulu juga mengundang banyak cibiran dan protes.

Untung, dulu saya cuek bebek waktu diomeli.

Tapi, saya sendiri juga sering memaksakan kemauan sebagai yang berkuasa (dan yang lebih kaya, wkwkwkwk…). Sekarang saya sudah belajar untuk agak mengerem dan berpikir lebih lanjut.

Lagi-lagi, omongan idola saya, Steve Jobs, saya jadikan pegangan.

Dia bilang :

It doesn’t make sense to hire smart people and then tell them what to do; we hire smart people so they can tell us what to do.”

Kalau merasa punya tim yang pintar, biarkan saja lah mereka berkreasi dan berkarya. Kalau berhasil, itu sangat baik buat mereka (dan masa depan mereka), juga sangat baik untuk perusahaan (dan masa depan perusahaan).

Kalau tidak berhasil, toh ya sudah jelas harus bagaimana…

 

*Azrul Ananda, dilahirkan di Samarinda pada tahun 1977. CEO 0f Jawa Pos Group. Peraih penghargaan World Young Reader Prize pada tahun 2011

silakan juga di klik link : http://www.jawapos.com/read/2016/07/13/38943/orang-kaya-dan-orang-pintar