Es Legend

ES LEGEND

Oleh: Restu Respati *)

Berawal dari Pak Tamsir yang mulai berjualan sejak tahun 1959, berkeliling dari kampung ke kampung, di sekitar rumahnya di Kampung Sukun Gang 8 Malang. Saat anaknya Joni masuk sekolah dasar, sepulang sekolah diajaknya berkeliling juga. Jika di rumah Joni disuruhnya membantu membuat adonan es jualannya. Saat Joni mulai beranjak remaja, Joni mulai mandiri berjualan sendiri dengan gerobak yang berbeda. Dan pada akhirnya Joni setiap harinya mangkal berjualan di Jalan Tanimbar di depan SMK Negeri 4 Malang. Ini berlangsung sekitar tahun 1990-an.

Es Legend ini sebenarnya adalah Es Santan Ketan Hitam. Disebut Es Legend karena minuman ini merupakan kuliner tradisional jaman lawas yang masih ada sampai sekarang. Yang menamai sebagai Es Legend pun sebenarnya adalah para pelanggan yang menganggap bahwa es ini merupakan minuman legendaris khas Malang.

Es Legend atau Es Santan Ketan Hitam ini berisikan komposisi parutan es batu, santan, ketan hitam, dawet berwarna merah, yang dicampur menjadi satu dalam sebuah gelas, kemudian disiram dengan sirup berwarna merah. Sebagai pelengkap bisa ditambahkan roti tawar yang juga disiram sirup berwarna merah di atasnya. Yang menjadikan Es Legend ini sangat istimewa adalah roti dan sirup berwarna merah ini tetap tidak berubah cita rasanya dari dulu.

Pemandangan yang lucu dan membawa kita kembali ke masa kecil adalah saat para penikmat es legend ini mulai menyantapnya. Hampir semuanya memulai dengan mencelupkan roti ke dalam gelas es, baru kemudian menyantapnya.

Harga Es Legend ini cukup murah, segelas hanya Rp. 3.000, dan tambahan roti tawar hanya Rp. 1.000,. Cukuplah minum berdua bersama pasangan dengan modal Rp. 10.000 bahkan ada kembalian Rp. 2.000.

.

*) Restu Respati adalah Pemerhati Cagar Budaya. Pegiat sejarah ini juga didapuk sebagai Ketua Jelajah Jejak Malang. Ulasan terkait warisan budaya dan hasil pengamatan bangunan bersejarah khususnya di Kota Malang banyak di tulis di Teraskota.id

Silahkan share jika bermanfaat!

Pohon Pengirim Pesan

Pohon Pengirim Pesan
.
Kita tentu masih ingat bagaimana perjuangan Pangeran Diponegoro. Perang hampir lima tahun itu memporakporandakan Kompeni. Termauk keuangan mereka pun kedodoran. Pasukan Pangeran Diponegoro memang trengginas dan pilih tanding. Kumpeni Belanda pun harus menggunakan tipu muslihat untuk menangkap Pangeran Dopnegoro. Pemimpin boleh ditahan, tapi perjuangan para pengikutnya tak pernah padam. Semangat mereka untuk lepas dari penjajahan tetap membara.
.
Para pengikutnya terus menggalang kekuatan. Meski bentuk perlawanan berbeda, melawan lewat pendidikan. Bagaimana membentuk leader masa depan. Singkat cerita, mereka pun menyebar ke seluruh penjuru Jawa. Ada kesepakatan unik. Mereka menanam Pohon Sawo sebagai tetenger atau tanda bahwa mereka berasal dari satu pergerakan, satu guru. Pohon Sawo ditanam di halaman rumah guru. Tak jarang ditanam di halaman tempat mondok santri. Beberapa Kyai juga meminta muridnya yang kembali ke daerahnya juga menanam pohon ini.
.
Kenapa Pohon Sawo? Bisa jadi karena pohon ini termasuk pohon buah yang berumur panjang. Buahnya pun manis. Namun, ada juga yang mengaitkan dengan semangat perjuangan : “rapatkan barisan, luruskan barisan” alias bersatu padu. Sawwu Shufufakum. Sebuah kalimat yang sering diucapkan imam sesaat sebelum melaksanakan sholat berjamaah. Sawwu bisa terdengar SAWO.
.
Masya Allah. Memang tindakan para pinisepuh bangsa Indonesia itu penuh dengan hikmah. Sarat akan perlambang yang indah dan bermakna.
.
Oleh karenanya, jika di halaman rumah guru atau pendiri pesantren atau di halaman pesantren, utamanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tumbuh dengan besar dan kokoh, Pohon Sawo, maka bisa diartikan satu jejaring. Keberadaan Pohon Sawo seakan memberikan kabar kepada murid, orang tua murid atau pengunjung bahwa pesantren-pesantren itu adalah satu guru. Satu nafas perjuangan.
.
Pohon pun bisa mengirim pesan. Pesan sejarah perjuangan. Pesan bagaimana kita merawat cita-cita luhur para founding father negeri yang kita cintai ini.
.
Yuk.. mari, kita tanam pohon untuk memberi pesan kepada generasi mendatang. Silakan dipilih jenis pohonnya. Coba kita bayangkan jika sahabat kita, handai taulan ikut menanam juga. Tumbuh membesar dan semakin menyebar. Ehm..
Silahkan share jika bermanfaat!

Gorila Tak Tampak

Tulisan ini saya salin dari FB.
.
GORILA TAK TAMPAK
Oleh: Awang Surya *)
.
Ada sebuah penelitian yang menarik. Dua tim basket yang selama ini menjadi musuh bebuyutan sedang bertanding. Pertandingan berlangsung seru. Mereka saling berbalas memasukkan bola ke jaring lawan. Menjelang akhir suasana semakin ramai. Penonton tak henti-hentinya bersorak dan bertepuk tangan memberikan dukungan.
.
Di tengah suasana ramai itu, seorang pemain badut berpakaian gorila masuk ke arena pertandingan. Ia berlari-lari di pinggir lapangan basket. Baju badut itu berwarna mencolok.
.
Pertandingan basket itu pun selesai. Semua penonton yang keluar dari gelanggang olahraga itu diwawancarai oleh beberapa anggota tim peneliti. Mereka diminta menyebutkan warna baju yang dikenakan oleh badut gorila yang beberapa saat lalu berlari -lari di pinggir lapangan.
.
Hasilnya? Hampir semua penonton tidak mengetahui bahwa ada badut gorila yang berlari di pinggir lapangan basket!
.
Kawan, ada orang-orang yang hampir tidak pernah menemukan keadaan pahit dalam hidupnya. Situasi yang terasa sulit bagi banyak orang tidak pernah terasa bagi dia. Mengapa? Karena pikirannya fokus pada impian-impian besar. Begitu fokusnya dia pada impiannya, sampai-sampai dia tidak “melihat” hal-hal lain. Persis seperti kasus penelitian di atas.
.
Kawan, milikilah impian besar. Teruslah berusaha keras mewujudkannya. Jika itu terjadi, situasi sesulit apa pun tidak akan pernah “terlihat” olehmu, seperti gorila yang tidak terlihat oleh para penonton pertandingan basket.
.
.
*) Awang Surya adalahMotivator Spiritual Indonesia. Lahir di Lamongan, Jawa Timur, 52 tahun lalu. Penulis buku best seller. Ia juga dosen di Sekolah Tinggi Teknik Muhammadiyah, Cileungsi.
Silahkan share jika bermanfaat!

Ganti Bahan, Buah Simalakama

Ganti Bahan, Buah Simalakama

 

Banyak persaing baru adalah tantangan. Apalagi bagi pemain bisnis skala mikro. Galibnya, siapa pun ingin menang. Paling tidak bisa bertahan. Keniscayaan. Sering dijumpai, jualan produk yang sama, setidaknya sama judul. Saus sambal, misalnya. Harganya bisa beda lumayan besar. Nama merek juga beragam. Bagi pedagang bakso, mie ayam, siomay, saus sambal semacam pasangan abadi. Jualan mereka tanpa saus sambal, pasti nggak lengkap. Bisa-bisa penjual kelabakan kalau tiba-tiba saus sambal habis. Meski pendamping, harga saus sambal juga mempengaruhi harga jual produk mereka. Mereka harus pintar memilih saus sambal sesuai dengan pasar yang disasar.

Sebantar, itu tadi lho? Kok harga saus sambal bisa beda gitu? Mari kita bahas dari kacamata pembuat saus sambal. Sisi produsen. Kita cermati bahan baku saus sambal hasil produksinya. Dimana kita melihatnya? Pada kemasan, baik sachet, botol, atau kemasan pouch. Pasti ada. Kalau tidak ada, seharusnya tidak boleh beredar oleh pemerintah. Ada kolom yang bertuliskan: “Komposisi” atau “Ingredient”.

Sekarang coba dijejerkan beberapa merek saus sambal. Jika sudah, yuk dicari kata kunci: “komposisi”. Bagaimana sudah ketemu? Betul. Selain beriis air, agram, dll. Ada yang perlu kita focus. Tulisan CABE. Ada yang mencantumkan cabe 16%, 20%, 25% ada pula 30%. Ada bahan lain yang menarik: pengental nabati, ada yang tertulis pati termodifikasi, atau pati tapioca. Bahan ini punya fungsi yang sama untuk memberikan kekentalan si saus sambal. Mari dicek bahan lain: penguat rasa (alias micin atau vetsin). Menarik bukan?

Mari kita bedah satu persatu. Cabe menurut Kementrian Pertanian, dibagi dalam 3 jenis besar; cabe besar, cabe rawit dan cabe hibrida. Ada pendapat ahli yang menyatakan dan memasukkan cabe hibrida ke dalam golongan cabe besar. Pernah dengar cabe rawit keriting? Ya, itu masuk golongan cabe besar. Panjangnya sekitar 6-8 cm. Harga pada kondisi normal antara Rp. 48ribu-78ribu per kg.

Sedangkan cabe rawit ukurannya antara 2-4 cm. Kecil mungil. Ada yang berwarna hijau, kuning, oranye, atau merah. Tentu saja cabe rawit ini relatif lebih pedas dari cabe besar. Harga pada situasi normal, tidak ada cuaca ekstrim atau bencana lain, pada kisaran: Rp. 60ribu-100ribu. Pada kondisi normal, range harga tentu saja dipengaruhi jumlah yang dibeli dan tingkat kesegaran cabe (freshness). Lebih banyak, lebih murah, itu juga lumrah.

Terus apa hubungannya dengan bahan tadi? Ini menariknya, produsen menyatakan dalam komposisinya adalah CABE. Di samping karena jumlah cabe dalam satu adonan memang berbeda, ada juga perpaduan cabenya. Sang pembuatm tidak spesifik memberikan pembeda, cabe keriting atau cabe rawit. Perpaduan ini juga menjadi kunci harga. Ini juga rahasia produsen. Mereka akan melakukan kombinasi. Harusnya, semuanya cabe dan bumbu, namanya saus sambal. Kalau semua saus isinya cabe, harganya bisa melangit. Tinggi banget.

Lha terus bagaimana agar tetap kental? Oleh karenanya, ditambah pati tapioka. Dikenal juga tepung aci atau tepung kanji. Produsen mengganti sebagian besar cabe dengan tepung ini. Cabe kan warnanya merah. Tepung warnanya putih. Putihnya kebanyakan, warnanya kok tetap merah kayak cabe. Tentu saja agar warna tetap merah, ada tambahan pewarna makanan. Ada penguat rasa agar tetap nyos.

Ganti bahan memang bisa untuk memangkas biaya. Kalau kita cek di pasar, tepung tapioka harganya Rp. 12ribu-25ribu per kg. Lagi-lagi harag pada saat situasi normal. Perbedaan harga biasanya karena jumlah pembelian dan mutunya. Bandingkan dengan harga 1 kg cabe. Lumayan besar bukan?

Ganti bahan memang bisa menurunkan mutu. Jika kita bisa menyiasatinya dengan baik, maka mutu saus sambal tetap dapat dijaga. Mari kita ingat, bahwa mutu itu suatu kriteria yang sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Maksudnya, ketika memang dibutuhkan penjual sioamy misalnya, saus sambal yang sesuai harga jual produk yang didukungnya tidak terlalu mahal, maka saus sambal dengan cabe 16% juga bermutu. Ganti bahan memang seperti buah simalakama. Ada pilihan sulit, dengan kosekuensi yang sama berat, tapi harus dipilih.

Nha, sekarang sudah bisa menjawab, kenapa harga saus sambal berbeda pada mereka yang berbeda?

Silakan disesuaikan dengan strategi penetapan harga jual produk kepada pelanggan. Tentu saja juga disesuaikan dengan pasar yang dibidik.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Masa seperti sekarang ini, jamu gendong pun punya saingan. Ada beraneka ragam jamu dijual secara daring. Kemasannya juga ciamik. Kesan pertema bgitu menggoda. Dipandang saja sudah menggiurkan, apalagi rasanya. Belum lagi, kemasan dalam bentuk botol. Memudahkan saat ingin menikmatinya. Nggak pakai repot. Kocok, buka tutupnya, langsung tenggak. Suegeer. Ketemu langsung dengan penjual jamu menjadi prioritas nomor sekian. Itu ilustrasi untuk menggambarkan betapa persaingan pun sudah begitu terbuka. Bahkan pendatang baru terasa lebih bersahabat, inovatif, dan lebih menarik perhatian. Kondisi itu juga dirasakan oleh seluruh pengusaha skala mikro yang berhubungan dengan memanjakan perut.

“Lha, terus.. apa dong yang membuat pelanggan tetap suka sama produk saya. Mereka tetap mau membeli produk saya?” banyak pertanyaan serupa seperti itu.

Ada yang reaktif. Langsung meniru apa yang dilakukan pendatang baru. Tapi tak lama, dia pun nyonyor bin dlosor. Kelimpungan dan akhirnya tak bisa bertahan. Padahal kalau soal rasa. Jamu racikannya banyak dipuji orang.

Coba cek lagi apa sebenarnya apa yang dibutuhkan pelanggan. Biasanya tak jauh dari harga dan kepraktisan. Apalagi kondisi seperti ini, harga miring alias lebih murah bisa jadi pilihan utama. Meski kemasan juga menjadi daya tarik. Ada juga pembeli kecele.

“Rasa beda jauh. Keren di tampang doang”, kata beberapa orang yang kecele.

Tampang itu maksudnya, kemasan. Hasil curi dengar, pernah ada lontaran dari penikmat jamu saat ada produk baru. Mereka bergumam, sebenarnya ini jamu atau sirup. Muaniis pool. Jadi sebenarnya pelanggan meminta rasa jamu yang khas, komposisi pas, dan tentunya harga terjangkau. Nggak gampang memang. Kalau semua sudah pas, tentu menambahkan kebutuhan pelanggan. Kepraktisan. Menambah kemasan botolnya.

Jadi pelanggan setia selama ini karena rasa dan komposisi, kita tambah kemasan yang memudahkan mereka. Memang ada tambahan botol plastik, seakan-akan bisa ada tambahan biaya. Sehingga mempengaruhi harga jual. Perlu siasat khusus agar pelanggan tidak berpaling karena penambahan harga.

Begini salah satu caranya, harga jual dibuat tetap. Lho, kan bisa menurunkan keuntungan? Bisa merugi? Belum tentu. Bisa menggunakan strategi volume.

Jamu gendong dijajakan berkeliling. Ada yang benar-benar digendong. Ada juga yang pakai gerobak dorong.

  • Harga jual per gelas (perkiraan isi : 180 ml) : 3.000
  • Harga botol plastik 260 ml + label : 1.000.
  • Jamu yang dimasukkan botol, 240 ml : 4.000.

Jika harga ke konsumen (belum termasuk ongkos kirim) adalah 5.000, maka harga jamu ‘kelihatan’ naik. Namun, itu sama. Volume atau isi jamu yang ditambah. Nha, terus untungnya dimana? Tetap dari jamunya, masih sama dengan keuntungan sebelumnya. Jika dari komponen jamu sebelumnya bisa untung 20%, maka pas jualan dalam gelas, untung 600. Ketika pindah ke botol, untung 800. Itu istilahnya profit margin. Jadi kelihatan lebih untung jualan dalam botol, tapi sebenarnya tetap.

Apa ada potensi keuntungan lain? Ada, dari pembelian botol plastik. Bagaimana caranya? Misal 1 hari ditargetkan 100 botol, maka bisa juga pembelian dilakukan dengan perjanjian. Pembuat jamu bisa membicarakan dengan sang penjual botol, kalau beli banyak dapat diskon berapa? Lho, banyak itu berapa? Kok beli banyak, bukannya sehari cuma 100 pcs. Betul, kita buat peramalan berdasarkan data, jualan jamu optimis selama 6 bulan misalnya. Sebulan butuh, 3.000 botol.  Berarti. 6 bulan, butuh 18.000 botol. Jika beli sebanyak itu, berapa dapat potongan harga? Pengiriman misal setiap 5 hari, dikirim 500 pcs. Jika sepakat dan mendapat potongan harga, katakanlah Rp. 50,-, maka angka itu menjadi keuntungan tambahan. Tadinya, untung Rp. 800,- per botol menjadi Rp. 850,- per botol dalam kemasan. Itu setara dengan 17,5%. Penghasilan bersih per bulan bisa Rp. 2,6 juta. Angka yang patut disyukuri.

Gambaran ini perlu dihitung lebih rinci sehingga mendapatkan angka atau harga jual yang pas. Karena situasi kondisi di setiap daerah tentunya berbeda.

Dengan upaya itu, harapannya, usaha tetap jalan. Adaptif. Dan yang lebih penting adalah produk tetap bisa menjadi pilihan dengan cita rasa dan khasiat yang sama, namun dengan kemasan yang praktis.

Kocok, buka, dan mak glek.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

.

Silahkan share jika bermanfaat!

Aku Harus Bagaimana?

Aku Harus Bagaimana?

 

Pendemi Covid19 mengagetkan banyak pihak. Tak terkecuali pelaku bisnis skala mikro. Usaha mikro ini bagian dari UMKM yang selama ini kita kenal. Ehm..bagaimana menggolongkan sebuah bisnis itu masuk skala mikro? Menurut beberapa ahli, sebuah usaha disebut mikro, jika omzet atau hasil penjualannya menthok di Rp. 50 juta per bulan. Tak jarang usaha ini dijalankan oleh 1 hingga 5 orang, biasanya anggota keluarga sendiri. Administrasi keuangan juga tidak dilakukan dengan baik dan tertulis. Acapkali, keuangan pun bercampur antara uang usaha dengan harta kekayaan yang dimilikinya.

Pandemi ini mengharuskan banyak orang mengubah cara belanja. Biasanya bisa langsung ke pasar. Tawar menawar di tempat. Bagi beberapa orang interaksi yang mengasyikkan bahkan semacam pembuktian. Ada negosiator ulung. Bagi yang buru-buru dan tidak pandai menawar, ingin kepastian. Ia meluncur ke supermarket sembari sedikit ngadem. Harga pas bandrol.

Situasi beberapa bulan ini jadi pembeda, pembeli bisa belanja lewat aplikasi. Paling banter kalau pun ada komunikasi lewat udara juga. Tak perlu tatap muka secara fisik. Transaksi daring, dalam jaringan atau on-line. Harga tetap, tak ada ruang negosiasi. Kalau pun ada fasilitas, seperti potongan harga, ongkos kirim gratis, itu semua diset-up oleh penjual. Pasrah bongkokan.

Belum lagi, pandemi membawa dampak tak kalah dahsyat. Banyak karyawan yang menjadi pedagang dadakan. Ada karyawan yang mulai ancang-ancang, bersiap diri. Mengantisipasi kondisi terburuk datang. Apalagi bekerja dari rumah memberikan banyak waktu yang bisa diatur secara mandiri. Tak jarang meski masih memegang posisi tertentu, mulai menekuni hobinya. Biasanya untuk dikonsumsi atau dinikmati sendiri. Kali ini mulai dijual. Suka masak, mulai meracik menu dan jadi olahan. Punya kegemaran kerajinan tangan, mengutak-atik sesuatu untuk bisa menghasilkan uang tambahan. Parahnya, ada yang terpaksa jadi pedagang, karena terkena PHK. Melamar ke perusahaan lain tak kunjung dapat panggilan. Padahal, dapur harus terus ngebul. Segala upaya dilakukan. Apa pun dilakukan menjual dan juga menjual barang. Awalnya untuk kalangan terbatas. Konsumen yang dibidik bisa di sekitar rumah atau teman dekat.  Penawaran melalui whatsapp grup. Tak ayal, komunikasi serius atau begejekan alias candaan, tak jarang diselingi postingan penawaran barang dan jasa. Ada yang terganggu, tak jarang memaklumi. Admin pun harus membuat aturan-aturan baru, Memang kita memasuki dunia baru.

Kondisi ini juga, di satu sisi membawa keuntungan. Selalu ada kebaikan di setiap kejadian. Allah SWT, Tuhan Maha Adil. Kali ini, pelaku usaha tak perlu repot lagi menyewa tempat usaha. Ia bisa berjualan dari rumah, kapan pun ia mau. Bisa  buat dan langsung jualan. Tak ada jeda pengurusan sewa atau bahkan beli ruko atau lapak di pasar/mall. Tak perlu lagi menjajakan dagangannya ke toko. Istilah kerennya, product listing. Biaya promosi juga relatif lebih rendah. Tak perlu mencetak dan menempelkan media promosi. Cukup daring.

Dengan segala hiruk pikuk itu, pengusaha mikro juga kelabakan. Bagaimana tidak? Ia juga harus mengubah cara berdagang. Mereka belum siap. Tergopoh-gopoh. Panik bagaimana kulakan alias membeli bahan baku. Banyak pasar yang jam operasinya dibatasi. Pedagang di pasar juga banyak yang memilih menutup lapak untuk sementara. Kalau pun dapat barang, menggunakan kontak telpon. Belum lagi, menjual pun tak bisa menjajakan langsung. Mereka mulai menjual secara daring. Tak gampang. Masih asing. Tapi tantangan di depan, mata, disadari atau tidak jumlah pedagang bertambah. Pedadang Dadakan Dampak Pandemi bermunculan. Banyak banget.

“Aku harus bagaimana?” Pertanyaan ini sering menggelayut pengusaha mikro hingga kini.

Wajar. Masa pendemi tak bisa diduga durasinya. Bulan-bulan ini pun masih saja meningkat jumlah penderitanya. Sedih. Karena dampaknya bisa lebih parah. Termasuk sector ekonomi.

Tentu saja, ada jawaban yang sangat klasik. Klasik tapi manjur. Harus tetap usaha. Karena kalau berhenti berarti mematikan pemasukan. Pasti itu. Bukankah jika usaha diteruskan, kalau kembang kempis alias tersendat, lama-lama bisa mati juga? Tidak salah anggapan itu. Tapi harus diingat, kalau berhenti, langsung mati. Nah, jika diteruskan masih ada peluang hidup. Potensi untuk tetap eksis bahkan berkembang. Tentu saja, kita harus menyesuaikan dengan kondisi. Adaptif. Tak bisa lagi berdagang dengan cara yang sama. Perlu perubahan.

Gusti Allah sudah berjanji dalam Surat Al-Insyirah ayat 6:

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Yuk, terus berupaya, adaptif dan berdoa. Tak ada kata menyerah. Selalu ada kebaikan pada setiap kondisi yang menurut kita, sangat buruk sekalipun.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Mari Berbenah

Data awal tahun yang membuat sedih dan berduka. BNPB otoritas yang diberikan amanah melakukan penanggulangan bencana memberikan informasi awal tahun. Informasi bencana selama 16 hari awal Tahun 2021, menyatakan ada 136 kejadian. Saya coba highlight 2 kejadian pareto : 95 kejadian banjir dan 25 tanah longsor. Kejadian 120 dari 136, 88%.

.

Semoga saudara-saudara kita yang terdampak mendapat bantuan dan dimudahkan urusannya oleh Allah SWT. Alhamdulillaah banyak pihak yang membantu dampak secara langsung, rekonstruksi dan lain-lain.  Salah satu bukti bahwa masyarakat kita memang peduli dan sifat kegotongroyongannya masih menonjol. Untuk jangka pendek memang harus dibantu dulu warga yang terdampak. Semoga menjadi amal kebaikan kita semua.

.

Bagaimana setelah itu? Cukuplah data itu sebagai pertanda Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa ada yang tidak seimbang. Ada kelakuan kita sebagai manusia yang patut ditinjau ulang. Menurut hemat saya, perlu juga dipikirkan aksi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir dan tanah longsor. Kita kaji kembali apa akar masalahnya. Saya punya simpulan dini, jumlah pohon tidak sebanding dengan beban yang harus diterimanya. Bisa jadi, karena ditebang. Lahannya dikonversi dengan tidak bijak. Kalau perlu pemerintah menetapkan luasan hutan lindung, beberapa hutan yang telah menjadi hutan produksi atau kawasan lainnay bisa diambil alih. Bila perlu melakukan pembebasan lahan kembali untuk dijadikan hutan lindung. Sesuai Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan:

“Hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah”.

Hutan lindung boleh dimanfaatkan? Boleh tapi tujuan dari pemanfaatan hutan lindung adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Pemanfaatannya juga diatur pada peraturan perundangan yang sama. Pemanfaatan yang dilakukan dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Dan yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran agar fungsi hutan tetap terjaga dan lestari. Harus beriringan sejalan seperti sepasang sepatu.

.

Tidak ada kata terlambat. Lebih baik mulai disusun kembali langkah-langkahnya nyata. Beberapa kepala daerah telah memulai dan melaksanakan reboisasi dengan berbagi cara. Tapi, masih perlu terobosan dana bersicepat agar hasilnya lebih nendang. Jelas, banyak yang terdampak membuat pilu kita semua. Kita tentu tidak ingin melihat kembali terjadi. Atau bahkan merasakan sendiri bencana itu. Semoga tidak.

.

Menurut pendapat sahabat, aksi apa lagi yang secara jangka panjang dapat mengurangi risiko banjir dan tanah longsor? Silakan ditulis pada komentar. Semoga bisa menggerakan hati kita semua dan pihak-pihak yang punya kewenangan. Mari berbenah bersama. Terima kasih.
.
Sumber infografis : @BNPB_Indonesia

Silahkan share jika bermanfaat!