Memerdekakan Pendidikan

Memerdekakan Pendidikan

Oleh : KH. Imam Zarkasyi *)

.

Pendidikan nasional kita sudah seharusnya memasukkan pendidikan jiwa merdeka, mewujudkan kepribadian sebagai warga negara yang sudah merdeka. Pendidikan ini merupakan kebalikan dari jiwa pendidikan kolonial yang hanya menyiapkan peserta didik menjadi pegawai.

.

Cita-cita anak didik yang hanya ingin menjadi pegawai, membuat mereka tak mampu membuka mata, untuk melihat apa yang harus dikerjakan, dan harus dipikirkan. Selain sekedar menjadi pegawai. Kita sudah lama merdeka. Seharusnya sudah ada perubahan. Bahkan pembaharuan dalam jiwa pendidikan.

.

Ada beberapa kerusakan mental dari pendidikan kolonial.

  1. Orang yang sudah bersekolah tak mau bekerja kalau tidak menjadi pegawai. Mata hatinya pun tertutup dan pikirannya buntu. Tidak melihat dan mengerti pekerjaan maupun usaha yang masih amat banyak dan sangat bermanfaat dikerjakan.
  2. Anak atau pemuda yang tidak diangkat atau tidak mendapat tempat dalam kepegawaian, akan kecewa dan frustasi. Yang lebih berbahaya jika kekecewaan ini menggerakkan mereka melakukan hal-hal yang merusak dan merugikan. Seperti menjadi pencopet, penggedor, penipu, atau menuntut-nuntut, dan lain-lain.
  3. Apabila mereka sudah diangkat menjadi pegawai dan sudah meraih cita-citanya itu, mereka pun mati. Tidak berbuat apa-apa jika tidak diperintah atasannya. Tidak melihat hal-hal yang masih dapat dikerjakan dan diusahakan untuk kepentingan pribadi, masyarakat, dan negara.
  4. Lemahnya perekonomian bumiputera. Karena anak-anak pribumi yang bersekolah hanya bercita-cita menjadi pegawai, tidak berpikir dan tidak mengetahui usaha-usaha perekonomian kecil dan menengah yang masih dapat dikerjakan, akhirnya perekonomian dan perdagangan kecil dan menengah dalam negeri pun sekarang ini masih dipegang orang-orang non pribumi yang tidak bersekolah. Apa sebabnya? Karena mereka tidak mungkin dan tidak ingin menjadi pegawai.

.

Ada sedikit kalangan orang bumiputera yang tidak sekolah, lalu berhasil memegang peranan dalam ekonomi. Kemudian mereka mulai menyekolahkan anaknya agar usahanya dapat meningkat. Tetapi ternyata, sesudah anak itu lulus sekolah, sangat sedikit atau bahkan tak ada yang mau meneruskan usaha orang tuanya. Mereka lebih senang menjadi pegawai, karena banyak menganggap bahwa menjadi pegawai kedudukannya lebih terhormat, dan penghidupan akan lebih terjamin.

.

Bagaimana memberantasnya? Yang jelas, caranya dengan menanamkan pendidikan nasional yang jiwa bebas merdeka, memiliki keyakinan hidup, berkepribadian, berakhlak, dan berTuhan. Sejak pendidikan di lingkungan rumah tangga, taman kanak-kanak, hingga perguruan tinggi. Ada istilah wiraswasta. Istilah ini sering hanya diartikan sebagai pengusaha swasta yang sukses. Padahal sebenarnya yang harus diambil adalah jiwa kewiraswastaannya. Dalam kata-kata ini terkandung maksud kebebasan, kepribadian, dan keyakinan hidup.

.

Jiwa kewiraswastaan yang berdasarkan Pancasila dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), harus ditanamkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Andaikata sesudah itu mereka menjadi pegawai, in sya Allah mereka akan menjadi pegawai yang baik, yang dapat hidup tak sebagai alat yang mati.

.

.

*) KH. Imam Zarkasyi adalah salah satu pendiri Pondok Modern Darusalam Gontor,  Ponorogo, bersama KH. Ahamd Sahal dan KH Zainuddin Fananie. Lebih dikenal dengan Trimurti. Wafat di Madiun pada 30 April 1985 dalam usia 75 tahun.
Buah pena beliau ini dimuat di Majalah Gontor, Edisi 9 Tahun XVIII, Januari 2021.

Silahkan share jika bermanfaat!

Yacouba Sawadago

The Man Who Stopped The Desert
.
Namanya Yacouba Sawadogo. Dia adalah seorang luar biasa yang menghentikan penggurunan sendirian dengan waktu yang tak singkat dan akan terus berlanjut. Dia berhasil menemukan solusi untuk sebuah krisis yang membuat para ilmuwan dan organisasi pengembang meragukannya. Pertarungan melawan penggurunan di Burkina Faso Utara menuju kegersangan telah bergeser menuju kemenangan. Ini karena teknik konservasi tanah dan konservasi hutan sang petani tua tersebut.
.
Erosi tanah yang parah dan pengeringan tanah di Afrika Barat semuanya disebabkan oleh populasi yang berlebihan, pertanian berlebihan dan penggembalaan yang berlebihan juga. Para peneliti nasional dan internasional berusaha untuk memperbaiki situasi ini, namun hal itu tidak terlalu membantu. Sampai akhirnya Yacouba memulai upayanya pada tahun 1980.
.
Metode yang dia gunakan sangat aneh sehingga dia diejek oleh rekan-rekan petaninya. Namun, mereka akhirnya menyadari ketika tekniknya tersebut berhasil mengembalikan hutan. Yacouba menghidupkan kembali ‘zai’. Zai adalah praktik kuno pertanian Afrika dan ini dapat menumbuhkan hutan tumbuh dan meningkatkan kualitas tanah.
.
Zai adalah praktik pertanian yang sangat mudah dan tidak mahal. Sekop atau kapak digunakan untuk menggali lubang kecil pada tanah yang keras dan kemudian diisi dengan kompos. Biji pohon, millet atau sorgum juga ditanam ke dalam kompos. Lubang yang digali dapat menampung air yang turun saat musim hujan. Sehingga teknik tersebut mampu menjaga kelembapan dan nutrisi selama musim kemarau.
.
Zai memiliki sederatan peraturan tertentu, salah satunya Yacouba perlu menyiapkan lahan saat di musim kemarau. Itu sebenarnya berlawanan dengan kebiasaan praktik pertanian daerah setempat. Dia ditertawakan oleh para pejabat dan para petani lainnya. Lalu mereka menyadari bahwa Yacouba memang seorang jenius sejati. Hanya dalam 20 tahun, ia telah mengubah area tandus menjadi hutan yang indah seluas 12 hektar yang dilengkapi dengan lebih dari 60 jenis pohon yang berbeda.
.
Seorang spesialis pengelolaan sumber daya alam dan Pusat Kerjasama Internasional Chris Reji, mengatakan “Ribuan hektar lahan yang sama sekali tidak produktif telah dibuat produktif kembali berkat teknik Yacouba.”
.
Dia telah memilih untuk tidak menyimpan rahasia itu bagi dirinya sendiri. Dia menyelenggarakan sebuah lokakarya di pertaniannya yang mengajarkan kepada para pengunjung dan mengajak orang secara bersama-sama. “Saya ingin program pelatihan menjadi titik awal bagi banyak pertukaran yang bermanfaat di seluruh wilayah,” katanya. Para petani dari desa sekitarnya berkunjung untuk mendapatkan saran dan bibit berkualitas tinggi.
.
“Jika Anda tetap terdiam di sudut kecil Anda sendiri, semua pengetahuan Anda tidak berguna bagi kemanusiaan.”
.
Artikel saya salin dari : www.ikons.id untuk memperingati Hari Hutan Internasional, 21 Maret 2021
Silahkan share jika bermanfaat!

Es Legend

ES LEGEND

Oleh: Restu Respati *)

Berawal dari Pak Tamsir yang mulai berjualan sejak tahun 1959, berkeliling dari kampung ke kampung, di sekitar rumahnya di Kampung Sukun Gang 8 Malang. Saat anaknya Joni masuk sekolah dasar, sepulang sekolah diajaknya berkeliling juga. Jika di rumah Joni disuruhnya membantu membuat adonan es jualannya. Saat Joni mulai beranjak remaja, Joni mulai mandiri berjualan sendiri dengan gerobak yang berbeda. Dan pada akhirnya Joni setiap harinya mangkal berjualan di Jalan Tanimbar di depan SMK Negeri 4 Malang. Ini berlangsung sekitar tahun 1990-an.

Es Legend ini sebenarnya adalah Es Santan Ketan Hitam. Disebut Es Legend karena minuman ini merupakan kuliner tradisional jaman lawas yang masih ada sampai sekarang. Yang menamai sebagai Es Legend pun sebenarnya adalah para pelanggan yang menganggap bahwa es ini merupakan minuman legendaris khas Malang.

Es Legend atau Es Santan Ketan Hitam ini berisikan komposisi parutan es batu, santan, ketan hitam, dawet berwarna merah, yang dicampur menjadi satu dalam sebuah gelas, kemudian disiram dengan sirup berwarna merah. Sebagai pelengkap bisa ditambahkan roti tawar yang juga disiram sirup berwarna merah di atasnya. Yang menjadikan Es Legend ini sangat istimewa adalah roti dan sirup berwarna merah ini tetap tidak berubah cita rasanya dari dulu.

Pemandangan yang lucu dan membawa kita kembali ke masa kecil adalah saat para penikmat es legend ini mulai menyantapnya. Hampir semuanya memulai dengan mencelupkan roti ke dalam gelas es, baru kemudian menyantapnya.

Harga Es Legend ini cukup murah, segelas hanya Rp. 3.000, dan tambahan roti tawar hanya Rp. 1.000,. Cukuplah minum berdua bersama pasangan dengan modal Rp. 10.000 bahkan ada kembalian Rp. 2.000.

.

*) Restu Respati adalah Pemerhati Cagar Budaya. Pegiat sejarah ini juga didapuk sebagai Ketua Jelajah Jejak Malang. Ulasan terkait warisan budaya dan hasil pengamatan bangunan bersejarah khususnya di Kota Malang banyak di tulis di Teraskota.id

Silahkan share jika bermanfaat!

Pohon Pengirim Pesan

Pohon Pengirim Pesan
.
Kita tentu masih ingat bagaimana perjuangan Pangeran Diponegoro. Perang hampir lima tahun itu memporakporandakan Kompeni. Termauk keuangan mereka pun kedodoran. Pasukan Pangeran Diponegoro memang trengginas dan pilih tanding. Kumpeni Belanda pun harus menggunakan tipu muslihat untuk menangkap Pangeran Dopnegoro. Pemimpin boleh ditahan, tapi perjuangan para pengikutnya tak pernah padam. Semangat mereka untuk lepas dari penjajahan tetap membara.
.
Para pengikutnya terus menggalang kekuatan. Meski bentuk perlawanan berbeda, melawan lewat pendidikan. Bagaimana membentuk leader masa depan. Singkat cerita, mereka pun menyebar ke seluruh penjuru Jawa. Ada kesepakatan unik. Mereka menanam Pohon Sawo sebagai tetenger atau tanda bahwa mereka berasal dari satu pergerakan, satu guru. Pohon Sawo ditanam di halaman rumah guru. Tak jarang ditanam di halaman tempat mondok santri. Beberapa Kyai juga meminta muridnya yang kembali ke daerahnya juga menanam pohon ini.
.
Kenapa Pohon Sawo? Bisa jadi karena pohon ini termasuk pohon buah yang berumur panjang. Buahnya pun manis. Namun, ada juga yang mengaitkan dengan semangat perjuangan : “rapatkan barisan, luruskan barisan” alias bersatu padu. Sawwu Shufufakum. Sebuah kalimat yang sering diucapkan imam sesaat sebelum melaksanakan sholat berjamaah. Sawwu bisa terdengar SAWO.
.
Masya Allah. Memang tindakan para pinisepuh bangsa Indonesia itu penuh dengan hikmah. Sarat akan perlambang yang indah dan bermakna.
.
Oleh karenanya, jika di halaman rumah guru atau pendiri pesantren atau di halaman pesantren, utamanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tumbuh dengan besar dan kokoh, Pohon Sawo, maka bisa diartikan satu jejaring. Keberadaan Pohon Sawo seakan memberikan kabar kepada murid, orang tua murid atau pengunjung bahwa pesantren-pesantren itu adalah satu guru. Satu nafas perjuangan.
.
Pohon pun bisa mengirim pesan. Pesan sejarah perjuangan. Pesan bagaimana kita merawat cita-cita luhur para founding father negeri yang kita cintai ini.
.
Yuk.. mari, kita tanam pohon untuk memberi pesan kepada generasi mendatang. Silakan dipilih jenis pohonnya. Coba kita bayangkan jika sahabat kita, handai taulan ikut menanam juga. Tumbuh membesar dan semakin menyebar. Ehm..
Silahkan share jika bermanfaat!

Gorila Tak Tampak

Tulisan ini saya salin dari FB.
.
GORILA TAK TAMPAK
Oleh: Awang Surya *)
.
Ada sebuah penelitian yang menarik. Dua tim basket yang selama ini menjadi musuh bebuyutan sedang bertanding. Pertandingan berlangsung seru. Mereka saling berbalas memasukkan bola ke jaring lawan. Menjelang akhir suasana semakin ramai. Penonton tak henti-hentinya bersorak dan bertepuk tangan memberikan dukungan.
.
Di tengah suasana ramai itu, seorang pemain badut berpakaian gorila masuk ke arena pertandingan. Ia berlari-lari di pinggir lapangan basket. Baju badut itu berwarna mencolok.
.
Pertandingan basket itu pun selesai. Semua penonton yang keluar dari gelanggang olahraga itu diwawancarai oleh beberapa anggota tim peneliti. Mereka diminta menyebutkan warna baju yang dikenakan oleh badut gorila yang beberapa saat lalu berlari -lari di pinggir lapangan.
.
Hasilnya? Hampir semua penonton tidak mengetahui bahwa ada badut gorila yang berlari di pinggir lapangan basket!
.
Kawan, ada orang-orang yang hampir tidak pernah menemukan keadaan pahit dalam hidupnya. Situasi yang terasa sulit bagi banyak orang tidak pernah terasa bagi dia. Mengapa? Karena pikirannya fokus pada impian-impian besar. Begitu fokusnya dia pada impiannya, sampai-sampai dia tidak “melihat” hal-hal lain. Persis seperti kasus penelitian di atas.
.
Kawan, milikilah impian besar. Teruslah berusaha keras mewujudkannya. Jika itu terjadi, situasi sesulit apa pun tidak akan pernah “terlihat” olehmu, seperti gorila yang tidak terlihat oleh para penonton pertandingan basket.
.
.
*) Awang Surya adalahMotivator Spiritual Indonesia. Lahir di Lamongan, Jawa Timur, 52 tahun lalu. Penulis buku best seller. Ia juga dosen di Sekolah Tinggi Teknik Muhammadiyah, Cileungsi.
Silahkan share jika bermanfaat!

Ganti Bahan, Buah Simalakama

Ganti Bahan, Buah Simalakama

 

Banyak persaing baru adalah tantangan. Apalagi bagi pemain bisnis skala mikro. Galibnya, siapa pun ingin menang. Paling tidak bisa bertahan. Keniscayaan. Sering dijumpai, jualan produk yang sama, setidaknya sama judul. Saus sambal, misalnya. Harganya bisa beda lumayan besar. Nama merek juga beragam. Bagi pedagang bakso, mie ayam, siomay, saus sambal semacam pasangan abadi. Jualan mereka tanpa saus sambal, pasti nggak lengkap. Bisa-bisa penjual kelabakan kalau tiba-tiba saus sambal habis. Meski pendamping, harga saus sambal juga mempengaruhi harga jual produk mereka. Mereka harus pintar memilih saus sambal sesuai dengan pasar yang disasar.

Sebantar, itu tadi lho? Kok harga saus sambal bisa beda gitu? Mari kita bahas dari kacamata pembuat saus sambal. Sisi produsen. Kita cermati bahan baku saus sambal hasil produksinya. Dimana kita melihatnya? Pada kemasan, baik sachet, botol, atau kemasan pouch. Pasti ada. Kalau tidak ada, seharusnya tidak boleh beredar oleh pemerintah. Ada kolom yang bertuliskan: “Komposisi” atau “Ingredient”.

Sekarang coba dijejerkan beberapa merek saus sambal. Jika sudah, yuk dicari kata kunci: “komposisi”. Bagaimana sudah ketemu? Betul. Selain beriis air, agram, dll. Ada yang perlu kita focus. Tulisan CABE. Ada yang mencantumkan cabe 16%, 20%, 25% ada pula 30%. Ada bahan lain yang menarik: pengental nabati, ada yang tertulis pati termodifikasi, atau pati tapioca. Bahan ini punya fungsi yang sama untuk memberikan kekentalan si saus sambal. Mari dicek bahan lain: penguat rasa (alias micin atau vetsin). Menarik bukan?

Mari kita bedah satu persatu. Cabe menurut Kementrian Pertanian, dibagi dalam 3 jenis besar; cabe besar, cabe rawit dan cabe hibrida. Ada pendapat ahli yang menyatakan dan memasukkan cabe hibrida ke dalam golongan cabe besar. Pernah dengar cabe rawit keriting? Ya, itu masuk golongan cabe besar. Panjangnya sekitar 6-8 cm. Harga pada kondisi normal antara Rp. 48ribu-78ribu per kg.

Sedangkan cabe rawit ukurannya antara 2-4 cm. Kecil mungil. Ada yang berwarna hijau, kuning, oranye, atau merah. Tentu saja cabe rawit ini relatif lebih pedas dari cabe besar. Harga pada situasi normal, tidak ada cuaca ekstrim atau bencana lain, pada kisaran: Rp. 60ribu-100ribu. Pada kondisi normal, range harga tentu saja dipengaruhi jumlah yang dibeli dan tingkat kesegaran cabe (freshness). Lebih banyak, lebih murah, itu juga lumrah.

Terus apa hubungannya dengan bahan tadi? Ini menariknya, produsen menyatakan dalam komposisinya adalah CABE. Di samping karena jumlah cabe dalam satu adonan memang berbeda, ada juga perpaduan cabenya. Sang pembuatm tidak spesifik memberikan pembeda, cabe keriting atau cabe rawit. Perpaduan ini juga menjadi kunci harga. Ini juga rahasia produsen. Mereka akan melakukan kombinasi. Harusnya, semuanya cabe dan bumbu, namanya saus sambal. Kalau semua saus isinya cabe, harganya bisa melangit. Tinggi banget.

Lha terus bagaimana agar tetap kental? Oleh karenanya, ditambah pati tapioka. Dikenal juga tepung aci atau tepung kanji. Produsen mengganti sebagian besar cabe dengan tepung ini. Cabe kan warnanya merah. Tepung warnanya putih. Putihnya kebanyakan, warnanya kok tetap merah kayak cabe. Tentu saja agar warna tetap merah, ada tambahan pewarna makanan. Ada penguat rasa agar tetap nyos.

Ganti bahan memang bisa untuk memangkas biaya. Kalau kita cek di pasar, tepung tapioka harganya Rp. 12ribu-25ribu per kg. Lagi-lagi harag pada saat situasi normal. Perbedaan harga biasanya karena jumlah pembelian dan mutunya. Bandingkan dengan harga 1 kg cabe. Lumayan besar bukan?

Ganti bahan memang bisa menurunkan mutu. Jika kita bisa menyiasatinya dengan baik, maka mutu saus sambal tetap dapat dijaga. Mari kita ingat, bahwa mutu itu suatu kriteria yang sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Maksudnya, ketika memang dibutuhkan penjual sioamy misalnya, saus sambal yang sesuai harga jual produk yang didukungnya tidak terlalu mahal, maka saus sambal dengan cabe 16% juga bermutu. Ganti bahan memang seperti buah simalakama. Ada pilihan sulit, dengan kosekuensi yang sama berat, tapi harus dipilih.

Nha, sekarang sudah bisa menjawab, kenapa harga saus sambal berbeda pada mereka yang berbeda?

Silakan disesuaikan dengan strategi penetapan harga jual produk kepada pelanggan. Tentu saja juga disesuaikan dengan pasar yang dibidik.

 

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Kenapa Harus Beli Produk Saya?

 

Masa seperti sekarang ini, jamu gendong pun punya saingan. Ada beraneka ragam jamu dijual secara daring. Kemasannya juga ciamik. Kesan pertema bgitu menggoda. Dipandang saja sudah menggiurkan, apalagi rasanya. Belum lagi, kemasan dalam bentuk botol. Memudahkan saat ingin menikmatinya. Nggak pakai repot. Kocok, buka tutupnya, langsung tenggak. Suegeer. Ketemu langsung dengan penjual jamu menjadi prioritas nomor sekian. Itu ilustrasi untuk menggambarkan betapa persaingan pun sudah begitu terbuka. Bahkan pendatang baru terasa lebih bersahabat, inovatif, dan lebih menarik perhatian. Kondisi itu juga dirasakan oleh seluruh pengusaha skala mikro yang berhubungan dengan memanjakan perut.

“Lha, terus.. apa dong yang membuat pelanggan tetap suka sama produk saya. Mereka tetap mau membeli produk saya?” banyak pertanyaan serupa seperti itu.

Ada yang reaktif. Langsung meniru apa yang dilakukan pendatang baru. Tapi tak lama, dia pun nyonyor bin dlosor. Kelimpungan dan akhirnya tak bisa bertahan. Padahal kalau soal rasa. Jamu racikannya banyak dipuji orang.

Coba cek lagi apa sebenarnya apa yang dibutuhkan pelanggan. Biasanya tak jauh dari harga dan kepraktisan. Apalagi kondisi seperti ini, harga miring alias lebih murah bisa jadi pilihan utama. Meski kemasan juga menjadi daya tarik. Ada juga pembeli kecele.

“Rasa beda jauh. Keren di tampang doang”, kata beberapa orang yang kecele.

Tampang itu maksudnya, kemasan. Hasil curi dengar, pernah ada lontaran dari penikmat jamu saat ada produk baru. Mereka bergumam, sebenarnya ini jamu atau sirup. Muaniis pool. Jadi sebenarnya pelanggan meminta rasa jamu yang khas, komposisi pas, dan tentunya harga terjangkau. Nggak gampang memang. Kalau semua sudah pas, tentu menambahkan kebutuhan pelanggan. Kepraktisan. Menambah kemasan botolnya.

Jadi pelanggan setia selama ini karena rasa dan komposisi, kita tambah kemasan yang memudahkan mereka. Memang ada tambahan botol plastik, seakan-akan bisa ada tambahan biaya. Sehingga mempengaruhi harga jual. Perlu siasat khusus agar pelanggan tidak berpaling karena penambahan harga.

Begini salah satu caranya, harga jual dibuat tetap. Lho, kan bisa menurunkan keuntungan? Bisa merugi? Belum tentu. Bisa menggunakan strategi volume.

Jamu gendong dijajakan berkeliling. Ada yang benar-benar digendong. Ada juga yang pakai gerobak dorong.

  • Harga jual per gelas (perkiraan isi : 180 ml) : 3.000
  • Harga botol plastik 260 ml + label : 1.000.
  • Jamu yang dimasukkan botol, 240 ml : 4.000.

Jika harga ke konsumen (belum termasuk ongkos kirim) adalah 5.000, maka harga jamu ‘kelihatan’ naik. Namun, itu sama. Volume atau isi jamu yang ditambah. Nha, terus untungnya dimana? Tetap dari jamunya, masih sama dengan keuntungan sebelumnya. Jika dari komponen jamu sebelumnya bisa untung 20%, maka pas jualan dalam gelas, untung 600. Ketika pindah ke botol, untung 800. Itu istilahnya profit margin. Jadi kelihatan lebih untung jualan dalam botol, tapi sebenarnya tetap.

Apa ada potensi keuntungan lain? Ada, dari pembelian botol plastik. Bagaimana caranya? Misal 1 hari ditargetkan 100 botol, maka bisa juga pembelian dilakukan dengan perjanjian. Pembuat jamu bisa membicarakan dengan sang penjual botol, kalau beli banyak dapat diskon berapa? Lho, banyak itu berapa? Kok beli banyak, bukannya sehari cuma 100 pcs. Betul, kita buat peramalan berdasarkan data, jualan jamu optimis selama 6 bulan misalnya. Sebulan butuh, 3.000 botol.  Berarti. 6 bulan, butuh 18.000 botol. Jika beli sebanyak itu, berapa dapat potongan harga? Pengiriman misal setiap 5 hari, dikirim 500 pcs. Jika sepakat dan mendapat potongan harga, katakanlah Rp. 50,-, maka angka itu menjadi keuntungan tambahan. Tadinya, untung Rp. 800,- per botol menjadi Rp. 850,- per botol dalam kemasan. Itu setara dengan 17,5%. Penghasilan bersih per bulan bisa Rp. 2,6 juta. Angka yang patut disyukuri.

Gambaran ini perlu dihitung lebih rinci sehingga mendapatkan angka atau harga jual yang pas. Karena situasi kondisi di setiap daerah tentunya berbeda.

Dengan upaya itu, harapannya, usaha tetap jalan. Adaptif. Dan yang lebih penting adalah produk tetap bisa menjadi pilihan dengan cita rasa dan khasiat yang sama, namun dengan kemasan yang praktis.

Kocok, buka, dan mak glek.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

.

Silahkan share jika bermanfaat!