Kerikil Kecil

Tulisan yang saya terima selepas subuh via WA dari salah satu penulis, Satria Hadi Lubis, Ak., MM., MBA. Sungguh menyadarkan saya. Izinkan saya bagi kepada sahabat. Semoga berkenan. Semoga menginspirasi dan penjungkit aksi.

______

Kerikil Kecil

Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 3 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, maka dilemparnya uang logam Rp. 1.000,- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut uang tersebut dan melanjutkan pekerjaannya. Mungkin dikiranya itu uang logam yang tercecer.

Sang mandor akhirnya melemparkan uang sejumlah Rp. 100.000,- yang diramas-remas dan berharap si pekerja mau menengadah “sebentar saja” ke atas.

Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya, sang mandor melemparkan kerikil kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan mandornya.

Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, Allah SWT selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi “dunia” kita.

Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-Nya.

Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang

Bahkan kita selalu bilang:

“Kita lagi Hoki!” . . .

“Wajar donk…logis donk …apa yang saya dapatkan!”

Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rezeki yang sebenarnya milik Allah!

Jadi… jangan sampai kita mendapatkan lemparan “kerikil kecil” yang kita sebut MUSIBAH agar kita mau menoleh kepada-Nya.

Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-Nya, sehingga tak perlu ada lagi lemparan “kerikil kecil” saat Dia rindu dan ingin berkomunikasi dengan kita.

“Dan dari mana saja kamu keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (Allah). Dan dimana saja kamu kalian berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-KU (saja). Dan agar AKU sempurnakan nikmat-KU atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”

(QS. Al Baqarah ayat 150).

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Muslim, Motor Penggerak Perubahan

Puja dan puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah azza wajalla Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Salah satu kesyukuran terbesar adalah masih diberi kesempatan merasakan kenikmatan dan keberkahan Bulan Ramadhan. Banyak orang tua, saudara, sahabat, dan orang yang kita cintai yang telah wafat mendahului kita sehingga tak mendapatkan kesempatan ini. Mari kita sisipkan doa untuk mereka.

Bapak/Ibu rekan2, sahabat semua yang dirahmati Allah. . .

Bulan ini sungguh merupakan bulan yang penuh makna.

Perubahan malam dan siang. Pergantian bulan. Dan masih banyak peristiwa tanda alam yang dihadirkan agar kita berpikir. Mengolah rasa, batin dan akal. Kita diberikan tuntunan sesuai surat Al Imron ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (KEBESARAN ALLAH) bagi orang yang berakal”

Bulan ini kita juga melakukan banyak hal. Ibarat mesin kita melakukan overhaul. Persiapan pun dilakukan dengan cermat. Bahkan ada yang menyiapkan diri 1 bulan sebelumnya. Banyak manfaatnya. Sebuah riset yang dilakukan oleh Dokter Eric Berg DC, spesialis healthy ketosis and intermittent fasting, menyatakan bahwa puasa dapat menekan jumlah penderita kanker. Apalagi puasa penuh selama 1 bulan. Puasa yang dijalankan umat Islam adalah intermitten fasting seperti yang dikenal di dunia. Ada interval dari Subuh hingga Maghrib. Ada yang 12 jam bahkan ada yang 17 jam.

Penelitian tersebut memberikan manfaat puasa dari sisi kesehatan. Puasa menumbuhkan sel imun baru. Puasa membuat sel kanker kelaparan. Puasa meningkatkan jaringan antioksidan. Menurut penelitian beliau di Arab Saudi, dari 100.000 hanya 96 orang yang mengidap kanker. Oman dengan 104 dari 100.000 orang, Qatar 107 dari 100.000 orang, UEA 107 dari 100.000 orang, dan Kuwait 116 dari 100.000 orang. Kemudian dibandingkan dengan beberapa negara seperti Australia dengan 486 dari 100.000 orang. Irlandia yaitu dari 100.000 sekitar 347 orang mengidap kanker. Hungaria dengan 368 dari 100.000. Amerika Serikat 352 dari 100.000 orang.

Dahsyat, bukan?

Bapak/Ibu, rekan-rekan, sahabat semua  . . .

Izinkan saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bulan Ramadhan menjadikan kita melakukan re-set-up hidup. Kita dipaksa. Karena ini kewajiban. Kita mau karena ketaatan kita kepada Sang Khaliq. Tapi Allah SWT selalu memberikan hikmah besar di balik setiap peristiwa.

  1. Saat kita Sahur dan berbuka. Kita pasti menjaga dengan baik. Tertib waktu. Tak ada yang berani setelah adzan subuh tetap makan atau minum. Sebelum adzan maghrib, meski kurang beberapa detik saja, kita tunggu. Kita sangat disiplin. Amanah atas apa yang ditetapkan.
  2. Kegiatan membaca dan mengaji kandungan Al Quran atau kajian kelimuan yang lain, kita lakukan. Kita meningkatkan kualitas diri kita. Ada yang mulai belajar baca dan menghafal Al Qur’an. Kompetensi kita menjadi bertambah. Tak peduli kita dicap atau dibilang mendadak alim. Karena memang ini kesempatan langka.
  3. Dulu ada yang suka ngerumpi nggak karuan. Diskusi yang mengalir tanpa makna. Kini kita menjaganya. Lisan kita jaga. Perasaan orang lain kita jaga. Secara tidak langsung interaksi menjadi lebi harmonis.
  4. Kita juga patuh dan taat pada saat berpuasa. Makanan yang enak dan lezat menggiurkan pun tidak kita sentuh. Padahal itu makanan halal. Kita juga saling menjaga puasa kita dan rekan kita. Kita loyal.
  5. Saat Ramadhan ada yang menjadikan titik tolak utuk melakukan perubahan. Perokok berhenti megisap sigaretnya sewaktu-waktu. Bahkan tak jarang setelah Lebaran berhenti total. Banyak penyesuaian yang dilakukan. Kita sangat adaptif. Saya mendoakan bagi para perokok agar bisa berhenti.
  6. Pada malam hari, kita juga didorong melakukan sholat berjamaah, tarawih. Plus kegiatan lainnya seperti pengumpulan Zakat dan Infaq. Tak jarang ada kepanitiaan khusus untuk mengelolanya. Kita bahu membahu dengan warga lain. Biasanya jarang ketemu, sekarang menjadi lebih sering ketemu. Kegiatan yang sangat kolaboratif.

Secara tidak langsung kita semua para pejuang yang melaksanakan Puasa Ramadhan adalah pelaksana Tata Nilai AKHLAK. Tidak dirasa, bukan?

Sekarang saya ajak bermimpi. Mari kita renungkan. Berapa persen penduduk Indonesia yang muslim? Berapa banyak umat muslim yang melakukan kegiatan itu? Kita boleh menjawab secara kualitatif: SEBAGIAN BESAR. Ya, sebagian besar umat Islam menjalankan kewajiban ini.

Fenomena ini, pengalaman 1 bulan ini, adalah bukti bahwa kita bisa. Coba dibayangkan ketika apa yang kita lakukan merasuk dan memberi contoh kepada yang lain. Implementasinya tidak berhenti pada diri sendiri, tidak berhenti saat di masjid. Saya membayangkan perubahan besar di negeri ini bukan masalah rumit. Kita bisa. Bahkan menjadi motor penggerak perubahan itu.

Bagaimana tidak? Jika ketaatan kita tidak mencuri-curi waktu berbuka, sudah mendarah daging. Kita tidak mau melakukan itu karena bisa membatalkan puasa. Lebih jauh lagi, bahwa perbuatan itu mencerminkan ketidaktaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, kita tentunya akan takut mencuri barang atau mengambil hak orang lain. Kita takut mengingkari amanah.

Jika semangat menaikkan kompetensi juga diterapkan pada bisa ilmu atau pekerjaan yang digeluti, maka bukan tidak mungkin muncul generasi-generasi yang pilih tanding. Mumpuni dalam bidangnya. Selalu menjadi nara sumber dimana-mana. Pemikir dan generasi solutif terhadap permasalahan masyarakat.

Semangat bekerja sama dengan orang lain dan saling menghargai perbedaan, dihidupkan juga pada kegiatan lain. Tidak berhenti saat bulan Ramadhan usai. Tidak hilang ditelan waktu, saat pembubaran panitia dilakukan, maka bukan mustahil, banyak masalah dapat dituntaskan dengan damai dan membahagiakan.

So . . . Bapak/Ibu, sahabat saya yang saya banggakan . .

Mari kita resapi dan maknai Ramadhan ini sebagai kawah candradimukai. Tempat pelatihan yang komprehensif. Sehingga setelah Lebaran, momen dan rasa itu tetap membara dan mendarah daging. Kita lanjutkan dengan implementasi lain yang nyata. Kita teruskan hingga kita ketemu Ramadhan lagi. Kita perbaiki lagi saat Ramadhan tiba. Begitu seterusnya. Continuous Improvement. Dan itu semua, motornya adalah kita yang melaksanaan SHAUM Ramadhan. Insya Allah akan banyak perubahan positif yang terjadi. Saya sangat yakin itu. Karena perubahan itu ada di tangan kita.

Mari kita ingat janji Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri“

Mari kita jemput janji Allah tersebut. Kita wujudkan bersama.

Semoga berkenan. Mohon maaf atas segala kekhilafan.

Wassalaam.

.

__Disampaikan pada TAKJIL (sesi berbagi Masjid Baitul Hikmah Elnusa) pada Selasa, 5 April 2022 | 3 Ramadhan 1443H.

Silahkan share jika bermanfaat!

Memilah dan Memilih Amanah

Ketika tugas itu datang, hampir dipastikan kita tak bisa menolaknya. Kita tak bisa memilih mana tugas yang enak, mana yang tidak. Semua ada tantangannya masing-masing. Kita tak pernah tahu. Sudah garis tangan. Tapi itu bukan berarti pasrah bongkokan. Amanah harus dijalankan. Itu ketetapan yang terbaik untuk kita yang diberikan kepercayaan itu.

Apa itu amanah? Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia:

amanah /ama·nah/ 1 n sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain:

Nha ini, dipercaya. Sehingga sudah ditakar sebenarnya, oleh siapa? Bisa oleh atasan orang lain yang memebri tugas. Tapi yang jelas semua itu hanya perantara. Karena pasti sudah menjadi qadar dari Tuhan Sang Maha Pencipta. Terlebih Gusti Allah sudah memberikan jaminannya. Apa itu? Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

So? Dijalani saja amanah yang hadir. Tentunya menggunakan ilmu pengetahuan, pengalaman dan mentoring. Semua resources dikerahkan. Kita bisa pilah mana yang harus dikerjakan dulu dengan cepat dan tepat. Bisa pakai Prinsip Pareto. Kita pilah sesuai skala prioritas.

Sesuai nasihat guru dan beberapa kajian, keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin suatu organsiasi atau lembaga dapat dilihat dari aspek-aspek: produktivitas dan kinerjanya, kejelian dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Tentunya juga memiliki kemampuan memimpin dan kemampuan intelektual. Mampu melakukan trasnformasi (perubahan) dalam organisasi dan juga pemikiran individu dan pihak-pihak yang ada dalam organisasi.

Perusahaan idem dito. Hanya saja sebagian besar tolok ukur itu dikonversikan dalam uang. Apa saja itu? Misalnya, revenue alias penghasilan. Cost of Revenue atau biaya pokok produksi. Net Profit atau yang sering disebut keuntungan. Semua itu dikelola dengan baik, ujungnya adalah keuntungan bagi pemegang saham.

Nggak gampang memang. Benar banget. Menjalankan amanah memimpin perusahaan pasti banyak rintangan. Karena kalau banyak rantangan, itu namanya kenduri alias pesta.

Bismillaahilladzi la yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wala fissamai wahuwassami’ul ‘alim

Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Mohon doa dan dukungannya.

Silahkan share jika bermanfaat!

Start from Your Customer’s Perspective

Start from Your Customer’s Perspective

by: Pambudi Sunarsihanto *)
.
Pada tahun 1980, tiga orang engineer di Amerika bernama Ben Bertiger, Raymond Leopold dan Ken Peterson mengembangkan sebuah system telekomunikasi ampuh yang akan membuat semua manusia di permukaan bumi bisa saling menghubungi dengan mudah menggunakan jaringan satelit. Mereka menghitung bahwa jumlah satelit yang dibutuhkan ternyata ada 77 (untuk mengcover seluruh permukaan bumi). Maka mereka menamakan system ini Iridium (sesuai dengan nama unsur ke 77 di tabel periodik kimia).
Ide brilliant, dan maka para investor pun menyetorkan ratusan juta dolar modal. Akhirnya sistem ini dilaunching dengan heboh , bahkan oleh president USA pada waktu itu.
**
Beberapa tahun kemudian, Ternyata …..
– system nya kurang bisa diandalkan
– call menggunakan jaringan ini sangat lelet
– beberapa area susah dicover
– harga handset dan call nya sangat mahal
**
Dan para investor Iridium pun menelan pil pahit. Iridium dinyatakan bangkrut. Begitulah kadang kadang kalau para enterpreneur punya ide yang (secara teknis) bagus, tetapi tidak berfikir secara bisnis. Dan banyak contoh lain dari product product technology yang kelihatannya bagus banget secara teknis, para enterpreneur itu akan dengan bangganya memamerkan kepada teman-temannya, kepada investor, bahkan di depan panggung besar pameran teknology. Tetapi kemudian pada saat diluncurkan ternyata hanya bisa menghabiskan modal para investor, dan customer tidak ternyata tidak tertarik dengan productnya.
**
Kita dengar cerita Jeff Bezos, dia adalah seorang Insinyur Elektro juga (lulusan dari Princeton University).
Setelah lulus dari kuliah, dia tidak buru-buru menjadi entrepreneur. Anyway, Jeff berfikir bahwa setelah lulus teknik, sebaiknya dia bekerja dulu menjadi investment banker di sebuah bank besar di Wall Street. Tidak tanggung-tanggung, 8 tahun dia bekerja di bank itu. Tentunya bekal 8 tahun sebagai seorang investment banker semakin memperkaya kompetensinya, dan menambah mantap systematic thinking yang dia pelajari sewaktu kuliah di Electro.
Akhirnya dia pun bermimpi membuat sebuah bisnis yang baru berbasis teknology.
Dan kemudian dia pun berfikir dengan urut-urutan seperti ini:
– bisnis apa yang akan dibutuhkan dan disukai customer?
– bisnis apa yang akan mendatangkan profit secara long term?
– bisnis apa yang secara teknology bisa direalisasikan?
**
Lihat kan bagaimana urutan pemikiran Jeff?
Dari pemikiran itu, Jeff berfikir bahwa Internet akan mengalami booming, tetapi Jeff tidak terburu buru langsung membuat product canggih dengan berbasis Internet.
Jeff berfikir kira-kira product apa yang berpotensi untuk membuat customernya bilang “WOW” karena sangat kagum. Akhirnya Jeff melihat potensi pada pembuatan toko buku.
Customer pasti akan kagum kalau mereka mempunyai pilihan dari jutaan buku (saat ini Amazon menjual 12 juta buku), dan customer pasti akan lebih suka lagi kalau hanya dengan beberapa “click” di computer mereka, buku itu akan tiba di rumah keesokan harinya. Dan Jeff pun bekerja keras untuk membuat toko buku On Line yang paling sukses di dunia (Amazon). That’s because dia mulai berfikir dengan apa yang dibutuhkan customer.
Sementara insinyur-insinyur yang mendesain Iridium memulai dengan, saya punya sistem telekomunikasi yang canggih, bagaimana saya bisa menjualnya ke orang lain?
**
I am sure by now you understand the message:
– Always start fron your customer’s perspective
– Think how you can make it a long term success
– Develop a product that will make your customer say “WOW”
**
It is always great to have a good product.
Hanya saja, sebelum launching ke market, make sure you follow these steps ….
**
a) Understand the relevancy and the differentiators of your products
Pastikan bahwa product anda memang relevan saat ini dan memang dibutuhkan pelanggan anda.
Tentu nya saat ini di market sudah ada product yang sejenis dengan yang anda punya, atau at least bisa menjadi pengganti product anda saat ini, pastikan bahwa product anda mempunyai “differentiators” yang akan membuat pelanggan anda “switch” dari product yang biasa mereka gunakan selama ini.
**
b) Don’t get excited yet, but change your perspective, from your customer’s point of view

Sekarang anda berganti posisi dan menjadi pelanggan anda. Be the “devil advocate for yourself”.
Tanyakan kepada anda sendiri (sebagai customer), apakah product anda cukup menarik, menjawab kebutuhan anda dan anda memang akan bersedia berpindah dari product atau service yang selama ini.
**
c) Think, how can you make your customers say “WOW”
Anda suka makan kue coklat? Saya juga! Dan kue coklat yang enak memerlukan kue cherry merah di atasnya sebagai pelengkap. Agar yang makan kue bisa bilang “WOW” dengan penuh kekaguman. Product dan jasa anda juga demikian. Mestinya anda tidak puas dengan fungsional aspek yang berjalan lancar. Anda memerlukan WOW effect, sesuatu yang tadinya tidak diharapkan customer anda, tapi kemudian membuat customer anda kagum, dan langsung berpindah dari competitor anda ke anda.
**
d) Communicate consistent message to your customers and your employees
Sekarang, anda sudah jelas tentang apa saja yang menjadi differentiators anda.
Pada saat ini mestinya anda bisa menjawab 3 pertanyaan ini…
– Kenapa product anda relevant?
– Apa yang menjadi differentiator anda? (mengapa customer anda akan switch dari product lain ke anda)
– Apa yanv menjadi wow factor anda? (Apa yang akan membuat customer anda kagum, dan kalau perlu, akan membayar bahkan lebih mahal daripada product lainnya?)
Jawaban dari pertanyaan itu harus dikemas dalam message yang consisten dan anda kirimkan ke semua orang, baik itu di dalam perusahaan (seluruh karyawan anda) maupun keluar (seluruh partner, supplier dan customer anda).
**
d) Combine your “wow” product with “great” experiences
Anda sudah punya great product, anda sudah mengerti differentator dan wow effectnya.
Terakhir, anda harus make sure bahwa customer juga mempunyai great experience.
Dari segi kemudahan pemakaian, kenyamanan, dan segala aspeknya termasuk service dan support bilamana diperlukan.
**
Ingat, sebelum anda launcing product anda (yang berbasis teknologi), yakinkan anda sudah mengecek kelima hal di atas.

 

*) Pambudi Sunarsihanto adalah Direktur SDM Blue Birds Group. Praktisi di bidang sumber daya manusia.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Dirgahayu Indonesia

Negeri yang dijuluki untaian mutiara pada khatulistiwa ini memang menarik. Bak gadis, banyak yang melirik. Kilas balik sejarah menguatkan ungkapan itu. Sudah berapa negeri lain yang berkelana mencari sumber daya. Mereka pun kepincut menuju bumi nusantara ini. Bahkan perang pun rela mereka tempuh untuk mendapatkannya. Lada, pala, vanili, cengkeh, dan masih banyak lagi.

Tapi kini, entah kenapa komoditi itu lambat laun justru sekarang mulai pudar. Perlu usaha khusus untuk menghidupkannya kembali. Lahan dan iklim kita mendukung. Memang bukan pekerjaan mudah. Tapi peluang besar itu justru ada pada komoditi pertanian yang akan dan masih dibutuhkan manusia. Ada beberapa yang layak dikemukakan.

Lada atau sering disebut merica dikenal sebagai rajanya rempah-rempah atau King of Spiece. Produksi dunia masih dikuasai negara tetangga kita, Vietnam dan India. Di samping rasanya yang pedas sebagai salah satu bumbu masak, lada memiliki beberapa  manfaat.  Bagi kesehatan lada juga bisa digunakan sebagai zat pengeluaran keringat, pengeluaran angin, peluruhan  air kencing,  peningkatan nafsu  makan,  peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan ramuan  obat reumatik. Lada juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan (pembunuh hama kapas).

Vanili, pemasok terbesar kebutuhan dunia dihasilkan oleh negeri kita dan saling berkejaran dengan produksi dari Madagaskar dan Meksiko. Vanili awalnya adalah tumbuhan dari Meksiko dan digunakan sebagai pewangi minuman coklat. Setelah itu disebarkan oleh orang Eropa. Vanili pun berkembang sebagai penambah aroma dan rasa yang kita rasakan hingga saat ini.

Pala tanaman asli dari Maluku ini juga telah berabad-abad menjadi komoditi dunia. Penghasil terbesar justru dari Guatemala. Biji pala dapat diolah  menjadi minyak atsiri. Minyaknya sebagai campuran parfum atau bisa juga campuran sabun wangi. Bubuk Pala digunakan untuk penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar.

Kakao. Tanaman ini bijinya diolah menjadi cokelat, salah satu bahan utama makanan dan minuman. Penghasil terbesar masih didominasi oleh Pantai Gading dan Ghana. Siapa yang tak kenal manfaat produk olahannya ini.

Dan masih banyak komoditi pertanian yang mendunia dan bisa dikembangkan di Indonesia. Kalau dulu kita diincar dan dikuras habis oleh dan untuk kepentingan bangsa lain, itu artinya kita memang punya dan kaya. Seharusnya kita bisa menghasilkannya lagi. Jelas bedanya kali ini, dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Petani diberikan edukasi. Lahan dibuat lebih produktif. Bibit juga dibudidayakan dengan teknologi agar lebih unggul dan produktif.

Pemerintah memberikan arahan, koordinasi, dan juga pasar yang dikawal ketat. Pemanfaatan lahan bisa seimbang. Ekosistem terjaga, namun ekonomi terus meningkat. Ada intensifikas, ada pula ekstensifikasi. Atau apa pun namanya. Agroindustri bisa menjadi penopang sebuah negeri. Dejavu.

Kita tak kekurangan orang pintar sekaligus inovator. Pusat penelitian dan laboratorium tersebar di seantero negeri. Kalau zaman dulu saja bisa, sekarang harusnya jauh lebih bisa. Teknologi semakin canggih. Sejarah itu bisa kita ulang. Bukan sekedar siaran ulang. Kita ulang dengan tambahan sentuhan teknologi. Kita hadirkan kembali sebagai pelecut semangat dan legacy bagi generasi mendatang. Negeri gemah ripah loh jinawi, bukan impian. Jangan pernah lelah mencintai dan berkarya untuk negeri yang kita cintai ini.

Indonesia tangguh. Indonesia tumbuh.

Dirgahayu Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Garis Kebenaran Kita

Garis Kebenaran Kita

Oleh : Tri Astoto Kurniawan, ST., MT., Ph.D *)

Suatu ketika, sebuah usulan cerdas mengemuka dari seseorang dalam sebuah rapat penting nan genting, ” Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu ketika kami di negeri Persia, apabila kami dikepung (musuh), maka kami membuat parit di sekitar kami”. Rasulullah kemudian dengan kecerdasan (emosional dan intelektual) nya menyetujui usulan itu untuk segera dilaksanakan oleh kaum muslimin di Madinah. Dialog itu terjadi sekira bulan Syawal tahun kelima Hijriyah, sebagai persiapan umat Islam di Madinah yang mendengar akan datangnya serbuan dari pasukan sekutu gabungan dari kaum kafir Quraisy Mekah dan Yahudi Bani Nadhir. Selama beberapa hari, Rasulullah SAW bahu membahu dengan umat Islam lainnya menggali parit untuk membentengi Madinah. Pada saatnya tiba, pasukan sekutu datang dengan jumlah 10 ribu orang, jauh lebih besar dibandingkan dengan pasukan kaum muslimin yang hanya berkekuatan 3 ribu orang. Karena terhalang parit yang cukup lebar dan dalam, pasukan sekutu tidak mampu memasuki Madinah dan hanya bisa berputar-putar di seberang parit selama beberapa hari. Pada akhirnya, dengan ijin Allah SWT, strategi parit itu benar-benar jitu, sebuah strategi perang yang belum pernah dikenal di antero jazirah Arab ketika itu. Pasukan sekutu harus balik badan kembali ke Mekah dengan penuh keputusasaan dan kegagalan total, tanpa bisa memasuki Madinah. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai Perang Khandaq (Parit) atau Perang Ahzab. Seseorang yang punya ide brilian itu adalah Salman al-Farisiy, seorang nan cerdas yang harus menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan kisah berliku dari tanah kelahirannya di Kota Isfahan, Persia menuju Madinah dengan satu tujuan untuk mendapatkan kebenaran Islam.

Sahabat…, sebagai pribadi yang maksum (dijaga dari kesalahan) dan pribadi yang senantiasa dibimbing wahyu Allah SWT, sebetulnya Rasulullah SAW bisa saja menggunakan otoritasnya untuk memutuskan strategi apa yang harus diambil ketika itu. Dan, para sahabat tentu akan serta merta menjalankannya sebagai wujud ketaatan mereka, terlebih lagi dalam kondisi segenting itu. Namun, penggalan kisah itu ingin mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW memberikan ruang diskusi dan menerima pendapat dari perspektif atau paradigma lain, sebuah strategi perang yang tidak biasa dilakukan di jazirah Arab ketika itu. Sungguh, sebuah teladan yang sangat mulia dari pribadi agung, yang keagungan akhlaknya diabadikan di dalam Al Quran.

Sahabat…, dalam hidup ini, masing2 kita memasang garis kebenaran (meminjam istilah yang digunakan dalam Kajian Magnet Rezeki – Ustadz Nasrullah) nya sendiri; ada yang tinggi, sedang, ataupun rendah. Semakin tinggi garis kebenaran kita maka semakin kecil peluang kita untuk mampu menerima kebenaran dari orang lain dengan perspektif yang berbeda dan semakin mudah kita menganggap orang lain tidak benar. Begitulah, kita bisa memahami berbagai konflik yang terjadi di antara manusia atau kelompok manusia ketika garis kebenaran yang dipasang sama-sama tinggi. Begitu pun dalam keluarga, jika sang suami dan sang istri masing-masing memasang garis kebenaran yang tinggi maka bisa dipastikan keluarga tersebut akan banyak diwarnai dengan konflik dalam perbedaan pendapat, baik terbuka ataupun tidak, yang tidak berkesudahan. Hal yang sama bisa terjadi antara orang tua dengan anak, pimpinan dengan bawahan, dan seterusnya. Rasulullah SAW, pribadi yang kemaksumannya tidak bisa dibantah, telah memberikan teladan dengan menurunkan garis kebenarannya sehingga memungkinkan masuknya pendapat atau paradigma lain (dari orang biasa), dan selanjutnya beliau menerimanya. Dengan menurunkan garis kebenaran, kita akan mampu berpikir alternatif dan tidak monolitik, bisa jadi pandangan orang lain jauh lebih benar daripada apa yang kita yakini, sehingga pintu dialog bisa terbuka dan solusi terbaik bisa diambil.

Sahabat…, saat ini kita bersama sedang menghadapi situasi genting dengan adanya pandemi yang berlangsung secara global. Setiap bangsa mengalami ancaman yang sama meskipun dengan derajat yang berbeda yang mengakibatkan beragam aktivitas kehidupan tidak bisa dijalankan normal sebagaimana biasanya. Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, terlebih lagi kita dibayangi dengan fenomena mutasi virus penyebab pandemi ini, dimana para ahli pun tidak mampu memprediksinya. Sudah tidak terbilang, berapa dana yang telah dihabiskan untuk keperluan mitigasi selama ini, sebagaimana tidak terhitung pula berapa jiwa yang tidak bisa terselamatkan. Angka statistik korban meninggal yang terkonfirmasi positif tidak semestinya kita baca hanya sebatas deretan angka naik atau turun, karena setiap angka itu adalah nyawa manusia yang sangat berharga. Setiap angka itu harus kita pandang sebagai jiwa yang harus dilindungi karena mereka adalah makhluk Allah SWT, tanpa memandang keyakinan, jenis kelamin, strata sosial, strata pendidikan, suku dan bangsanya.

Sahabat…, dunia sedang menghadapi sebuah makhluk super kecil dan tidak kasat mata, tetapi dengan ijin Allah SWT mampu menyebabkan fatalitas yang luar biasa, sehingga kita semua dibuat kalang kabut karenanya. Boleh jadi, kita sangat yakin dengan strategi mitigasi yang selama ini kita lakukan, karena strategi yang sama diterapkan secara global terutama di negara2 maju, meskipun pada saat yang sama korban masih berjatuhan. Beberapa bulan terakhir ini, mata kita dibuka untuk bisa melihat fakta betapa fasilitas kesehatan (faskes) yang ada, berikut sarana penunjangnya (obat-obatan, vitamin, ventilator, dll.), tidak mampu merespon secara proporsional eskalasi kasus yang peningkatannya luar biasa. Situasi itu menjadikan faskes dan sarana penunjangnya menjadi sumber daya kritis, dimana tidak setiap orang (yang terpapar) bisa mengaksesnya. Jika demikian halnya, kita bisa saksikan sendiri ‘hukum alam’ berlaku sehingga memunculkan sifat dasar manusia, siapa yang kuat (kekuasaan, ekonomi, jaringan) maka dialah yang bisa mengaksesnya. Dampaknya, setiap kita akhirnya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya, yang penting bagaimana diri dan kelompoknya bisa ‘aman’, tidak peduli dengan orang/kelompok lain, berapapun harga yang harus dibayar. Sungguh situasi yang sangat mengerikan, di tengah tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung. Situasi ini semakin tidak menguntungkan akibat terjadinya panic buying sehingga seseorang (dan kelompoknya) membeli sesuatu melebihi keperluannya yang berakibat ketersediaan stok semakin terbatas, ditambah lagi dengan terganggunya rantai pasokan ( supply chain management) selama pandemi berlangsung. Lalu, apakah tidak sempat terlintas dalam pikiran kita bagaimana nasib saudara2 kita yang terpapar namun tidak memiliki ‘kekuatan’ sebagaimana yang kita miliki? Apakah mereka tidak kita anggap sebagai manusia, makhluk Allah SWT, yang jiwanya patut mendapatkan perlindungan juga? Apa yang akan kita jawab di yaumul hisab nanti ketika Allah SWT menanyakan bagaimana kita bisa ‘aman’ saat pandemi terjadi?

Sahabat…, di tengah ketidakpastian pandemi ini, ada baiknya kita mencoba rehat sejenak. Mari, kita mencoba menurunkan garis kebenaran kita agar ada ruang kebenaran atau paradigma lain bisa masuk untuk dikaji lebih dalam guna mencari strategi yang lebih baik yang bisa berlaku untuk setiap orang, karena dalam kenyataannya virus ini akan menyasar siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sebagai orang yang beriman, kita menurunkan garis kebenaran kita agar kebenaran Allah SWT bisa masuk.

Pertama, Maha Benar Allah SWT yang telah menyatakan dalam Al Quran bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling baik dan sempurna, baik dari sisi tampilan fisik maupun sistem yang bekerja di dalamnya.

Kedua, Maha Suci Allah SWT, DIA yang tidak akan pernah berlaku tidak adil kepada hamba-NYA, baik mereka beriman atau tidak.

Minimal dua kebenaran itulah yang perlu kita renungkan bersama sebagai dasar keimanan kita dalam berselancar di tengah ombak pandemi ini. Keimanan yang mendorong terjadinya eksplorasi keilmuan yang bisa dijelaskan secara rasional sehingga strategi yang dirumuskan akan sejalan dengan kehendak-Nya. Bukan keimanan yang berdiri di satu sisi, sementara keilmuan di sisi yang lain. Karena pada hakekatnya, pandemi dan segala sesuatu yang menyertainya saat ini pasti berada dalam pengetahuan dan kehendak-Nya yang itu diharapkan bisa menjadi instrumen peringatan kepada kita untuk kembali mengagungkan-Nya di dalam setiap langkah kehidupan kita selanjutnya. Semoga pemahaman yang baik terhadap kondisi dan sistem yang bekerja dalam tubuh kita, virus penyebab pandemi ini, dan medan amal kita akan mengantarkan kita pada tatanan kehidupan baru (new life order) yang lebih sesuai dengan kehendak-Nya. Aamiin YRA.

.

*) Tri Astoto Kurniawan adalah dosen di Universitas Brawijaya. Menempuh pendidikan S1 di Teknik Elektro UB, S2 Rekayasa Perangkat Lunak di ITB dan S3 Software Engineering di University of Wollongong. Australia. Pernah sebagai Software Engineer PT. Dirgantara Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Argowulas

SEJARAH SMPN 1 MALANG

SMP Negeri 1 Malang merupakan satu dari beberapa sekolah lama di Malang. Letaknya yang tersembunyi namun terjangkau untuk akses kendaraan dan dikelilingi komplek pemukiman, membuat sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorite di Kota Malang.

Gedung sekolah ini didirikan pada zaman penjajahan Belanda yaitu sekitar tahun 1927 dan diperuntukan bagi anak – anak Belanda yang tinggal disekitar jalan Ijen, jalan Merapi, jalan Semeru dan Jalan Buring. Sekolah ini awalnya bernama sekolah ELS (Europese Lager School) atau sekolah dasar Belanda 7 tahun dan termasuk juga Freubel School (TK).

Tahun 1929 gedung sekolah selesai dibangun dan mulai digunakan. Sebelumnya siswa-siswi dititipkan di sebuah gedung di jalan Arjuno (sekarang DKK) dan jalan Klojen (Sekolah St. Yusuf). Sekolah ELS ini digunakan sampai tahun 1942 .

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, karena gedungnya yang besar maka gedung sekolah tersebut digunakan sebagai rumah sakit darurat, sedangkan rumah-rumah disekitar gedung sekolahan menjadi kamp tahanan sementara.

Tahun 1945 setelah masa merdeka menjadi sekolah “Recomba” (Regeringscommissaris voor Bestuursaangelegenheden) yaitu sebuah sekolah pada masa pemerintah darurat versi Belanda yang dimana para siswanya pada waktu masuk sekolah ada yang membawa pistol dan diletakan diatas meja pada saat pelajaran berlangsung.

Pada tanggal 23 Juli 1951 sekolah ini menerima SK Penegrian dengan luas sekolah dan tanah kurang lebih 4.400 m2 dengan letak antara Jalan Argopuro (sebelah selatan), Jalan Lawu (sebelah barat), dan Jalan Lamongan (sebelah utara), atau tepatnya Jalan Lawu No. 12 Kota Malang Jawa Timur – Indonesia sampai sekarang.

Dirgahayu Argowulas!
.
Sumber: smpn1malang.blogspot

Catatan juga sering juga SMP 1 Malang disebut ARGOWULAS. Singkatan dari nama alamat sekolah. Argo (Gunung), Wu (Lawu), Las (Rolas atau Duabelas). Jl. Gunung Lawu No. 12, Malang.

Silahkan share jika bermanfaat!