Beda Rasa, Panen Pahala?
Oleh : Masturi Istamar Suhadi *)
Masih terngiang gema takbir dan tahmid berkumandang. Meski ada beda rasa. Beda suasana. Namun, yang terpenting adalah rasa syukur kita tetap sama bahkan bertambah. Hari Lebaran, Hari Raya Idul Fitri yang penuh berkah telah tiba. Lebaran arti riyaya bada poso. Hari Raya setelah berpuasa penuh pada bulan penuh berkah. Puasa Ramadhan.
Allah SWT telah menjadikan bulan syawal ini penuh kebahagiaan bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa. Ini juga penghargaan bagi hamba-hamba-Nya yang sudah sebulan penuh melaksanakan sholat malam, yaitu sholat tarawih.
(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)[يونس:58]؛
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“ لِلصّائِمِ فَرْحَتانِ يَفْرَحُهُما إذا أفْطَرَ فَرِحَ، وإذا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بصَوْمِهِ”
Orang yang berpuasa akan mendapatkan 2 kebahagian. Yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa, dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.
Kegembiraan kita saat ini merupakan bukti keindahan ajaran Islam. Ajaran yang sarat dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Sahabat, selamat bagi anda, bergembiralah dan berbahagialah yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan melaksanakan sholat malamnya diiringi dengan berbagai amal Ramadhan.
Bisa jadi masih ada pertanyaan yang menggelayut. Masih ada rasa penasaran.
“Bagaimana kita bisa gembira dan bahagia, sedangkan berbagai kesulitan dan penderitaan hidup mengelilingi umat dan masyarakat ini? Mulai dari musibah lokal bahkan mendunia? Pandemi yang melanda senatero jagad? Masih ada penguasaan wilayah dengan kesewenang-senangan? Belum lagi masih ada pengusiran atas umat Islam di beberapa negeri. Bagaimana umat muslim sebagai minoritas di beberapa negeri menimpa ketidakadilan. Bagaimana kita masih bisa merasa gembira? Masih layakkah kita berbahagia?
Perkenankan saya mengajak sahabat untuk merenungkannya.
PERTAMA
Seorang muslim yang beriman kepada Allah swt dengan keimanan yang benar, meyakini sepenuhnya, bahwa wabah yang sedang terjadi, ujian kesulitan hidup yang merata ini tidak akan sampai kepadanya kecuali yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Allah swt berfirman:
(قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)[التوبة: 51]؛
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
Ditegaskan juga oleh Rasulullah SAW tentang akidah dan keyakinan ini. Pun telah dicontohkan oleh Baginda Rasul saat mengajari sepunya Sayyidina Abdullah Ibnu Abbas yang merupakan anak dari pamannya yaitu Al Abbas r.a.
Rasulullah SAW bersabda:
“واعلمْ أنَّ ما أصابكَ لم يكن ليُخطِئَكَ وما أخطأكَ لم يكنْ ليصيبكَ“.
Ketahuilah bahwa apa yang menimpa kalian bukan untuk menyalahkan kalian, dan apa yang salah pada kalian. Bukan untuk menjadi musibah buat kalian.
KEDUA
Seorang beriman yang benar, dia akan ridho dengan takdir yang sudah Allah SWT gariskan, sehingga ia bersyukur kala mendapatkan takdir kemudahan, dan bersabar atas takdir yang menyakitkan.
Dan kedua-duanya merupakan kebaikan bagi seorang hamba.
Sungguh benar sabda Rasulullah SAW :
“عَجِبْتُ لأمرِ المؤمنِ، إنَّ أمرَهُ كُلَّهُ خيرٌ، إن أصابَهُ ما يحبُّ حمدَ اللَّهَ وَكانَ لَهُ خيرٌ، وإن أصابَهُ ما يَكْرَهُ فصبرَ كانَ لَهُ خيرٌ، وليسَ كلُّ أحدٍ أمرُهُ كلُّهُ خيرٌ إلّا المؤمنُ“
“Aku sungguh kagum dengan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya dalam kebaikan. Ketika mendapatkan apa yang ia suka, maka ia bersyukur kepada Allah. Dan itu baik baginya. Dan apabila dia ditimpa apa yang dia tidak suka, maka ia sabar. Dan itu baik baginya. Tidakl.ah semua orang itu urusannya baik, kecuali bagi seorang mukmin”.
Sehingga seorang muslim akan bergembira di tempat dan kondisi yang menggembirakan dan bersyukur kepada Pemberi Kegembiraan, yaitu Allah SWT. Tentunya kita harus sabar pada saat dan kondisi ujian. Sehingga ia selalu hidup bahagia saat takdir baik. Hidap dalam kepasrahan penuh keridhoaan saat menjalani takdir sulit.
KETIGA
Pandemi dengan segala efek kesulitannya walaupun sehebat apapun, pasti akan berakhir dan akan datang solusi, kemudahan, dan kebahagiaan. Maka seorang muslim kebahagiaannya tidak akan dirusak oleh wabah, kebahagiaan mereka tidak terhalangi oleh bala.
KEEMPAT
Sesungguhnya kehidupan ini semata-mata tempat ujian, tempat menyeleksi hamba-hamba Allah SWT. Kadang Allah SWT menguji hamba-Nya dengan kemudahan, kadang menguji mereka dengan kesulitan dan berbagai musibah. Allah swt berfirman:
(وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ)[الأنبياء: 35]؛
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.
Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya di dunia lengkap dengan perintah dan larangan. Allah SWT juga menguji dengan berbagai kemudahan dan berbagai kesulitan. Ujian berupa kekayaan dan kemiskinan. Cobaan berupa kemuliaan dan kehinaan, dengan kehidupan dan kematian. Semua ujian tadi dalam rangka untuk menyeleksi siapa yang terbaik dari hamba-hamba-Nya. Laykanya ujian kenaikan kelas. Ada yang selamat dari berbagai ujian tersebut ada yang terjatuh dalam ujian ini.
Barangsiapa yang meyakini, bahwa inilah kondisi kehidupan dunia, ia akan hidup saat datang kemudahan dalam naungan kegembiraan dan kesyukuran, dan saat-saat kesulitan ia hidup dalam kesabaran dan keridhoan. Kedua-dua kondisi tersebut mendatangkan limpahan pahala yang sangat banyak dari Allah SWT.
Karena itu, janganlah anda bersedih kala anda dalam kesulitan, jangan putus asa, kala kesulitan dan kesedihan berkepanjangan. Jangan anda putus harapan kala wabah Covid19 ini tidak tentu kapan akhirnya. Allah SWT menginginkan kita bersabar lebih panjang sehingga mendapatkan pahala tidak terbatas yang lebih banyak.
KELIMA
Yakinlah sahabat, yakinlah Allah SWT Tuhan Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi dan seluruh isinya sudah menentukan kepastiannya. Bisa jadi tidak menentu bagi kita, namun bagi Sang Khalik sudah ada ketentuan pastinya, kapan wabah corona ini selesai, jam berapa, hari apa, bulan apa, tahun apa. Bahkan menit ke berapa, detik keberapa.
Mari kita lakukan apa yang bisa dari berbagai sarana dan prasarana syar’i untuk menjadi sehat sesuai dengan anjuran kesehatan. Selebihnya, serahkan kepada Allah SWT Yang Maha Pemberi Kesehatan dan Maha Pemurah.
Sahabat, semoga 5 renungan itu memberi harapan kita untuk bisa panen pahala. Perkenankan juga saya mengingatkan pada kesempatan ini untuk melanjutkan kesyukuran kepada Allah SWT. Mari melengkapi berbagai kenikmatan Allah SWT dengan takbir, membesarkan asma Allah SWT, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
(وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)[البقرة: 185].
“ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. “
Teruslah berbaik sangka kepada Allah swt dengan terus melakukan perbuatan baik dengan penghambaan kepada Allah swt. Karena Allah swt sesuai dengan persangkaan hamba-hamba-Nya. Dalam Hadis Qudsy Allah swt berfirman:
” أنا عندَ ظنِّ عبدي بي فلْيظُنَّ بي ما شاء“.
“ Aku tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”Juga mengingatkan untuk melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawwal ini. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Abdullah Ibnu Umar r.a. Rasulullah saw bersabda:
“مَن صام رمَضانَ وأتبَعه سِتًّا مِن شوّالٍ خرَج مِن ذُنوبِه كيومَ ولَدَتْه أُمُّه“.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, dan diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, maka ia akan keluar dari dosanya seperti saat dilahirkan ibunya.
Jangan lupa juga untuk terus menyambung silaturahim walau dalam kondisi Covid 19 ini dengan sarana yang memungkinkan dengan tehnologi yang ada, seperti telphon, video conference, video call dan lain sebagainya. Untuk menjaga agar tetap dekat di hari, walau jarak menjauhkan kita dan kondisi tidak memungkinkan bertemu muka, berpeluk mesra.
Mau panen pahala?
Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, kita tidak tahu kapan berakhirnya. Mari tetap memohon perlindungan kepada Allah SWT. Sekaligus bertaubat, berdoa, beristighfar, melakukan berbagai amal sholeh, karena amal sholeh akan menjaga kita dari berbagai hal yang jelek.
Kita juga tetap disiplin dengan anjuran-anjuran kesehatan dan melaksanakannya dengan baik, dan kita jadikan sebagai ibadah kita kepada Allah SWT di masa wabah.
Bagaimana menjadikan hal-hal di atas menjadi ibadah? Semua itu akan menjadi ibadah bila kita melaksanakannya dengan :
1. Niat, minimal niat dengan membaca bismillah.
2.Ikhlas, semua kita lakukan karena Allah SWT, mengharap ridho-Nya bukan karena ikut-ikuta, apalagi iseng.
3. Tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tetap lakukan social distancing, jaga jarak, hindari keramian dan kumpul-kumpul dengan orang yang banyak, hindari bersalaman. Sebesar apa pun kesulitan itu akan berlalu dan setelahnya adalah jalan keluar, solusi, kebahagiaan, kegembiraan. Kegembiraan orang yang beriman tidak akan rusak karena wabah, dan kebahagiaannya tidak terhalang oleh ujian kesulitan.
Semoga Allah SWT melindungi dan memberi karunia keselamatan di dunia dan akhirat.
Selamat Idul Fitri 1441 H. Minal ‘aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.
Taqabbalallaahu minna wa minkum.
*)Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI). Salah satu lembaga yang melayani masyarakat utamanya dalam ketanggapdaruratan bencana alam. Beliau adalah alumni Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo. Menyelesaikan studi S1 di Al Azhar University, Cairo, Mesir dan menamatkan program master dalam bidang hadits di International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Selain itu, Kyai Masturi adalah pengurus wilayah Perguruan Beladiri Indonesia Tapak Suci. Masih aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi dan juga nara sumber di masjid dan majelis taklim.