Hiburan ++

Hiburan ++

by Ari Wijaya

 

Banyak cara menghabiskan waktu libur. Seperti libur akhir pekan yang disanbung dengan libur nasional. Long week end. Ada yang pulang kampung. Tak jarang, mengunjungi tempat wisata, menjadi pilihan. Banyak juga yang hanya berdiam di rumah. Merapikan rumah dan taman. Namun, beda lagi dengan sekumpulan anak muda ini. Mereka memilih menghelat acara. Mengumpulkan teman, hitung-hitung reuni. Tak hanya cukup sampai di situ. Mereka mengundang orang lain. Upaya memberi alternatif hiburan. Terlebih saat libur panjang di Jakarta.

Acara apa ?

Pergelaran ludruk pun dipilih. Kemasan acara juga dibuat unik. Pergelaran yang dimulai dengan makan siang bareng! Nah lho….  Coba, mau menyaksikan hiburan saja seluruh penonton dan pemain disuguhi makanan khas daerah Jawa Timuran khususnya Malang. Jarang ada event yang memanjakan penontonnya sedemikian rupa. Makan terus nonton. Asal jangan kekenyangan ya. Bisa-bisa pemain ludruknya yang menonton penonton. Karena yang melek pemainnya, pemirsanya angler (baca : tidur nyenyak).

Kenapa ludruk ?

Ini memang pilihan menarik sekaligus berisiko. Tontonan ini masih asing ditelinga beberapa orang di Jakarta, apalagi yang lahir setelah tahun 1990-an. Tapi semangat untuk melestarikan budaya sekaligus mengangkat kembali ludruk di pentas nasional. Itu yang menjadi dorongan kuat anak-anak muda ini. Termasuk upaya memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat.

Ludruk memang popular di kalangan masyarakat Jawa Timur. Tak jarang di beberapa tempat juga ada pementasannya. Ini salah satu seni peran yang unik. Ada Tari Remo sebagai pembuka. Parikan yang sarat makna. Oleh karenanya, saat perang kemerdekaan pun, Ludruk menjadi salah satu sarana perjuangan. Cerita keseharian yang dikemas dengan canda. Pesan yang disampaikan tetap mengena meski dengan cara guyonan. Gambaran sederhananya, seni peran dan dialognya , mirip seperti Lenong Betawi, Ketoprak dari Jawa Tengah, atau OVJ garapan salah satu stasiun tivi swasta.

Ciri khas ludruk adalah parikan (baca : semacam puisi yang dilagukan) yang sarat makna. Ini contohnya !

Eit… tunggu dulu, kalau sahabat tidak mengerti bahasa jawa, mohon para sahabat ajak tetangga sebelahnya  yang wong Jowo, untuk menerjemahkan, ya.

Pithik walik sobo prapatan

Isih cilik ojo podo pacaran

Prapatan comboran akeh krikile

Jarene pacaran iku nggarai kere

Lek wis mumet lan cukup umure

Tenimbang kebelet yuk nikah ae

 

Lek juminten kecepit cendelo

Cekap semanten atur kawulo

Unik, bukan ? Penasaran ?

Event pementasan kali ini menghadirkan Cak Kartolo. Kalau sahabat berasal dari Surabaya, Malang atau kota lain di Jawa Timur, saya yakin kenal dengan salah satu tokoh budaya Surabaya, bahkan nasional ini. Tak cukup dengan Kartolo, panitia juga memasukkan sederet nama tenar seperti Kadir, Polo, dan Tessy. Nama-nama jaminan mutu tertawa sahabat semua. Plus bintang tamu :  Ratna Listy. Mereka akan berkolaborasi pada pentas LUDRUK kekinian. Lakon yang akan mereka bawakan adalah :

“Ken Dedes, Cinta yang Terlarang” dengan sutradara Ribut Kennedy.

Judulnya saja membuat penasaran. Seperti apa jalan cerita sebenarnya ?

Saya jamin akan menjadi hiburan ++ (baca : plus plus).

Hiburan segar, promosi usaha, lepas kangen alias reuni, wisata kuliner, dan juga memberikan sumbangsih pelestarian budaya nasional.

Kapan ?

SELASA, 28 Maret 2017, 11.00 – 17.00 WIB

(jangan khawatir, ini pas TANGGAL MERAH, alias hari libur nasional!)

Di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Ckini Raya 73, Jakarta Pusat

Catat dan booking tempat duduk terbaik sahabat !

Kontak Mbak Liliek Pangat : 0819 3215 8010 agar nggak kehabisan tiket.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + seven =