Enam Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

`take risks

Mengingat Lagi 6 Karakteristik Kepemimpinan Transformasional

by Tim Vanaya Coaching Institute

Tulisan pada buku karangan James MacGregor Burns, “LEADERSHIP”, New York: Harper & Row, 1978 (lebih dari 350 halaman) ternyata merupakan wawasan baru terkait pengembangan gagasan charismatic leadership dan transformational leadership pada abad ini. Buku ini menjadikan studi baru tentang kepemimpinan terutama perbandingan antara kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional.

Kepemipinan transaksional mengemukakan ada dua karakteristik utama tipe kepemimpinan transaksional, yaitu:

Pertama, pemimpin menggunakan serangkaian imbalan untuk memotivasi para anggota.

Kedua, pemimpin hanya melakukan tindakan koreksi apabila anggota gagal mencapai sasaran prestasi yang ditetapkan.

Kepemimpinan transaksional dengan demikian mengarah pada upaya mempertahankan keadaan yang telah dicapai.

Sedangkan para pemimpin transformasional memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

Mereka (para pemimpin transformasional) dengan jelas memandang diri mereka sendiri sebagai agen-agen perubahan (change agents). Mereka berjuang untuk membuat suatu perbedaan dan untuk mentransformasikan organisasi di bawah tanggung jawab mereka.

Mereka berani (courageous). Mereka mampu berurusan dengan resistensi (pihak-pihak yang melawan). Mereka mengambil posisi, mengambil risiko, meng-konfrontir realitas.

Mereka percaya kepada orang-orang yang dipimpinnya (believe in people). Mereka mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang sudah dikembangkan dengan baik perihal motivasi, menaruh kepercayaan dan pemberdayaan.

Mereka didorong oleh seperangkat nilai yang kuat (a strong set of values). Mereka terus belajar (life-long learners). Mereka melihat kesalahan, baik kesalahan mereka sendiri atau kesalahan orang lain, sebagai kesempatan untuk belajar.

Mereka dapat mengatasi masalah-masalah yang mengandung kompleksitas (complexity), ketidakpastian (uncertainty) dan kemenduaan (ambiguity).

Mereka adalah visioner-visioner (visionaries).

Pada era saat ini,  perusahaan dihadapkan pada tantangan yang besar yaitu keberagaman para karyawan handal dan berkompeten. Keberagaman ini tidak hanya berdasarkan gender, budaya, latar-belakang pendidikan ekonomi, agama, namun juga fenomena keberagaman generasi. Saat ini di tempat kerja terdapat tiga generasi yang bertemu dan saling berinteraksi yaitu generasi zoomer, generasi X dan generasi Y.

Coaching sebagai salah satu penerapan gaya kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kemitraan dalam sebuah proses percakapan yang mendalam untuk pembangkitan pemikiran dan kreativitas berpikir, yang mengilhami sehingga dapat memaksimalkan potensi pribadi dan profesionalisme. Pemimpin didorong agar dapat mengembangkan timnya. Coaching gaya kepemimpinan masa depan ini berfokus pada perlakuan anggota tim sebagai manusia, dan menilai bawahan sebagai pribadi yang memiliki potensi besar untuk dapat berkembang dan mencapai hasil terbaik.

Kepemimpinan dan leadership coaching berperan menjaga keefektifan organisasi dengan memelihara potensi kepemimpinan dalam diri sendiri dan orang lain agar menjadi lebih produktif dan menyenangkan.  Penggabungan seorang pemimpin yang menggunakan kepemimpinan transformational dan melakukan coaching maka dia memiliki dampak perubahan perilaku dan kinerja terhadap coachee lebih baik dibandingkan tipe kepemimpinan transaksional.

Catatan : 

Artikel ini kiriman otomatis via email dari sahabat sekaligus guru saya, Ananta Dewandhono. Terima kasih ya, Mas ADD. Beliau aktif di Sembada Pratama, School of Supply Chain & Logistic bentukan Asosiasi Logistik Indonesia. Beliau adalah CEO Vanaya Coaching Institute : www.vanaya.co.id

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *