Kata-katamu Adalah Doamu by Awang Surya

ada_masalah_bersyukurlah_page_1_1

KATA-KATAMU ADALAH DOAMU

Hari itu usai mengisi forum kajian Islam di sebuah masjid, saya buru-buru pulang. Di rumah telah menunggu seorang yang sangat spesial bagi saya. Umi, begitu saya memanggil ibu saya, tengah ada di rumah saya. Dua hari yang lalu beliau datang dari kampung untuk menengok anak laki-lakinya.

Saat saya sampai di rumah Umi sedang duduk-duduk di teras rumah. Hal itu mengingatkan saya pada kebiasaan lama di kampung. Saban malam terang bulan kami sekeluarga duduk-duduk di serambi rumah menikmati malam purnama. Maka usai mencium tangan Umi, saya menemani beliau duduk-duduk di teras rumah.

“Nak…. hati-hati kalau ngomong sama anak,” ucap Umi saat saya baru saja duduk selonjor.

“Memang kenapa, Mi?” tanyaku penasaran.

“Kata-kata Umi kepada anak-anak yang Umi ucapkan bertahun-tahun lalu, kini sudah banyak yang jadi kenyataan,” tutur Umi.

“Apa contohnya, Mi?” kejarku sambil menatap wajah beliau.

“Dulu, Nak…. ketika kamu masih kecil,” ujar Umi.

Umi terdiam. Tampak beliau menahan rasa haru yang dalam. Saya ikut terhanyut suasana haru.

“Ketika kamu masih kecil,” lanjut beliau dengan terbata-bata. “Umi sering bilang…. kalau kamu nanti besar, kamu akan jadi ustadz di Jakarta, Nak,” ungkap Umi.

“Subhaanallah!” pekikku lirih.

Saya merenungi kata-kata Umi itu baik-baik. Sekilas lamunan saya kembali pada masa kanak-kanak di kampung. Saat itu dengan berbagai keterbatasan kami sekeluarga, jangankan ke Jakarta, ke kota Kabupaten saja belum tentu sebulan sekali bisa kami lakukan. Maka ucapan Umi saat itu tentu saja sebuah kemustahilan. Tapi kenyataan hari sudah membukakan mata saya, bahwa kata Umi itu kini benar-benar telah terwujud.

Saya tentu saja bersyukur karena Umi mengucapkan kata-kata yang baik kepada saya. Andai saja saat itu Umi mengucapkan kata-kata yang buruk, maka tak tahulah apa yang akan terjadi pada saya hari ini. Saya tiba-tiba ingin membandingkan dengan tetangga saya di kampung yang gemar berkata buruk kepada anak-anaknya. Dan benar, saya mendapatkan fakta bahwa kehidupan anak-anak tetangga saya itu kini betul-betul buruk. Si anak tertua sudah dua kali keluar masuk penjara. Si adik juga kehidupannya tak pernah beranjak dari kemiskinan yang membelit.

Kini saya menjadi lebih paham makna pesan Rasulullah SAW :

Barangsiapa beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata yang baik atau diam. (Muttafaq ‘alaih)

Kalau boleh memilih, semua orang pasti ingin berkata-kata yang baik terutama kepada anak yang dicintainya. Tetapi kenyataan menunjukkan banyak orang mudah mengumbar kata-kata yang buruk ketimbang kata-kata yang baik. Mengapa demikian?

Pembaca budiman, kata-kata memang keluarnya dari mulut kita. Tetapi sebenarnya ia ada hasil dari apa yang pernah kita masukkan ke dalam teko jiwa kita. Manakala sebuah teko diisi kopi, maka yang keluar darinya adalah warna hitam. Saat teko diisi susu, maka saat dituang akan keluar warna putih. Demikian itu pula teko jiwa kita. Teko jiwa yang selalu diisi dengan kata-kata baik, maka tumpahannya adalah kata-kata baik. Demikian pula sebalikya.

Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita lalukan untuk mengisi teko jiwa kita dengan kata-kata positif. Pertama, perbanyaklah melafalkan kata-kata baik. Dan kata-kata yang terbaik adalah dzikrullah sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, yaitu subhaanallah, alhamdulillah, Allahu akbar. Bisa juga asma’ul husna. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka, setiap ada kesempatan lantunkanlah kalimat-kalimatthayyibah tersebut agar teko jiwa kita penuh dengan kebaikan.

Kedua, perbanyaklah membaca buku-buku tentang kebaikan. Hindari buku-buku yang berisi tentang keburukan. Hari ini di toko buku bertebaran buku-buku yang bagus. Belilah, dan bacalah. Maka akan banyak kata-kata bagus yang tersimpan di teko jiwa kita.

Ketiga, perbanyaklah mendengar kata-kata baik. Salah satunya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang baik. Dari mulut orang-orang baik, kata-kata yang keluar dari mulut mereka akan cenderung baik. Maka otomatis teko jiwa kita akan terisi dengan kata-kata  yang baik. Pantas kiranya jika Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya berteman dengan orang baik. Sabda beliau :

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

So, mari berkata-kata yang baik di depan anak-anak kita agar masa depan anak-anak kita akan menjadi baik. Bukankah kata-kata adalah doa?

 
Catatan :
*)Awang Surya : penulis, penceramah dan pengusaha tinggal di Bogor.

Beliau adalah salah satu penceramah di Masjid Baitul Hikmah Elnusa.

Alumni Teknik Mesin UB, mantan Kadiv Perusahaan EPC terkenal, yang memilih untuk mengabdikan dirinya pada pengembangan sumber daya manusia. Rekan sejawatnya berseloroh, ia alumni fakultas teknik jurusan dakwah.

Beberapa buku hasil karyanya :
‘Pesantren Dongeng’, ‘Pak Guru’, ‘Bahagia Tanpa Menunggu Kaya’, ‘Ada Masalah, Bersyukurlah’, dll.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *