Maklum by Ari Wijaya

Maklum

by Ari Wijaya

 

Kata maklum jika ditilik dari arti katanya sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah ‘dapat dipahami (dimengerti)’.

Saya dan bisa jadi sahabat semua, juga sering menemui atau bahkan menggunakan kata ini dalam keseharian.

Ini biasa kita pakai ketika menemui sesuatu yang tidak sesuai harapan. Hal yang tidak sesuai kaidah. Kita menerima dengan lapang dada, walau dengan catatan. Perbaikan diharapkan dengan berjalannya waktu. Learning curve.

“Hasil rajutannya, masih kurang halus. Maklum baru belajar sepekan”.

Kata maklum itu, tentunya kita sepakat, sebagai hasil awal sudah bisa diterima. Sebagai user atau pemberi kerja, sudah sewajarnya memberikan masukan. Harapannya hasil berikutnya akan lebih baik. Itulah menerima dengan catatan yang saya maksud. Ada pemberitahuan, ada arahan, bahkan training singkat sebagai upaya perbaikan.

Namun, menurut hemat saya, penggunaan kata maklum yang tidak pada tempatnya, bisa berakibat buruk. Parahnya, berdampak jangka panjang.

Kenapa ?

Misalnya kita yang berkendara di jalan tol. Kondisi traffic padat merayap. Tiba-tiba, ada satu bahkan lebih, kendaraan merangsek melaju menggunakan ‘bahu jalan’. Kata maklum terlontar :

“Maklum, dia sedang buru-buru, kali!”

Atau kondisi lain, menemukan mobil memasuki area yang dilarang.

“Ooo dia sopir baru, Pak. Belum tahu aturan kalau lewat situ dilarang. Maklumlah, Pak”.

Bisa juga kejadian lainnya, seperti :

“Ia tamu, Pak. Ia tidak familiar dengan jalur khusus pejalan kaki. Mohon dimaklumi”.

“Maklum, Pak. Jalan memutar jauh dan macet. Makanya mereka melawan arus”.

Pernahkah dibayangkan ? Jika dimaklumi terus, bisa berdampak parah. Maklum tanpa kita barengi dengan pemberitahuan. Maklum plus peringatan. Atau apa pun namanya, agar pelaku menyadarinya bahwa itu salah. Kita perlu konfirmasi, apakah ia tidak tahu ? Atau apa ? Karena memang perlu perbaikan. Karena tanpa itu, ada potensi pengulangan. Atau merasa benar.

Tidak jarang, ada orang yang segan memberitahu, melakukan hal perbaikan.

“Nggak enak, Pak. Dia kan seharusnya tahu. Ngapain cari ribut. Dimaklumi sajalah !”

Bahkan malah lebih parah :

“Emang siapa, Lu ! Berani-beraninya atur Gua !

“Sok tertib ! Udah biasa mah, begini ini tiap hari ! Dari dulu juga tidak apa-apa !”

Ini yang berbalik, back fire. Justru orang yang melakukan hal yang benar mendapatkan perlawanan. Tapi, melakukan hal yang dilarang, malah diberi maklum. Sedangkan orang yang justru berusaha melakukan perbaikan, tidak mendapatkan kata maklum itu.

“Maklum, ia memang tahu peraturannya. Ikuti saja”

He he.. komentar seperti itu malah jarang ditemui.  Maklum yang seperti ini jadi barang langka.

Itu yang saya sebut, bahaya. Berdampak luas. Bisa membudaya. Ketika maklum yang tidak pada tempatnya dibiarkan, bukan tidak mungkin kejadian yang salah menjadi budaya. Meski ia dan hasil tindakannya merugikan orang lain, kalau menerus, bisa dianggap benar. Bahkan banyak pengikutnya pula. Itu semua karena maklum. Hanya maklum, tiada kata peringatan. Jangan samapi terjadi, bukan ?

Padahal kita ditekankan berbuat adil. Kata adil berasal dari bahasa Arab yang secara harfiyah berarti sama. Menurut KBBI, adil berarti berpihak kepada yang benar, berpegang kepada kebenaran dan sepatutnya. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenang-wenang.

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kamu kerabat, dan Allah  melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

(QS An Nahl : 90)

Maukah kita berada pada lingkungan yang terlanjur salah jadi budaya ?

Relakah kita berada pada wilayah yang semrawut ? Area yang tidak safe ?

Tentunya tidak mau, bukan ? Tidak rela, bukan ?

Mari kita tempatkan maklum pada tempatnya. Agar kita termasuk golongan orang adil.

Ayo jangan segan memberitahu atau memberi peringatan, jika ada orang yang berbuat tidak sesuai aturan. Salah ambil jalur alias melawan arus. Tidak mengikuti kaidah safety. Ia belum memberi hasil sesuai harapan. Mari kita ingatkan. Saling mengingatkan. Saling peduli.

Ayo sahabat, kita lakukan. Kita mulai ! Sekecil apa pun. Sesederhana apa pun. Tegur ia, peringatkan dia ! Setidaknya kita berkontribusi menjadikan lingkungan, perusahaan bahkan negeri kita tertib, aman dan selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *