Sedikit Itu Rasa

Sahabat, pernahkah membantu menghitung uang dari kotak amal ? Atau melihat isi kotak amal ?

Coba diperhatikan. Isinya beragam, bukan ? Ada uang kertas yang licin atau lusuh. Tak jarang juga berisi uang logam. Pecahannya pun variatif. Ada seribuan hingga lembaran seratus ribu. Lebih dominan mana ? Sebenarnya itulah potret kondisi ekonomi masyarakat.

Tak jarang ada komentar,

“Alhamdulillaah, ada juga yang memasukkan uang merah ini (baca : uang kertas dengan nominal 100ribu)”.

Atau celetukan dan candaan sembari merapikan lembaran-lembaran uang :

“Duh kasihan, uang ini. Lecek, kusam, tapi banyak kali jumlahnya. Jadi agak lama kita harus menghitungnya”.

Sabahat, mari kita kesampingkan dulu bentuknya. Mari kita retas bagaimana nilai dari uang itu. Kita ambil contoh, pecahan 2 ribu sang penghuni kotak amal.

Suatu profesi, katakanlah, tukang bangunan. Tukang ojek pangkalan. Atau tukang linting rokok. Ia bekerja keras dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Upah yang mereka terima biasanya harian. Profesi yang tidak boleh sakit. Apa pasal ? Kalau sakit ia tidak menerima upah. Ia kehilangan pemasukan.

Jumlah upah mereka beragam. Tergantung daerah lokasi kerja. Ada juga berdasarkan keahlian dan lamanya bekerja. Kalau boleh saya ambil sampel, jasa profesinya adalah 100 ribu per hari. Ini contoh untuk memudahkan gambaran saja.

Ia bersedekah 2 ribu rupiah. Nilai itu besar atau kecil ? Itu relatif. Itu rasa. Coba kita bandingkan uang yang dimasukkan ke kotak amal dengan penghasilannya hari itu. Hasil nya adalah 2%. Ya, dua per seratus dari hasil keringat hari itu.

Ada profesi lainnya. Pengacara misalnya. Profesional muda lainnya. Waktu kerjanya kita anggap sama. Pukul 8 pagi hingga teng kembali ke rumah pukul 5 sore. Pekerjaan yang digelutinya bisa menghasilkan Rp 2,5 juta per hari. Ini juga sebagai ilustrasi. Ia memasukkan uang Rp. 50 ribu dalam boks hijau milik masjid. Kadar ikhlasnya, anggaplah sama.

Wow.. limpul, kata Orang Medan. Lima puluh ribu rupiah !

Uang gede ? Eiit tunggu dulu, secara nilai, belum tentu, lho. Ia cemplungkan uang 50 ribu dari hasil jerih payah yang 2,5 juta rupiah. Itu artinya 2% juga !

Sama seperti gambaran sebelumnya, bukan ? So, bolehkah saya sebut, 2 ribunya orang yang berpenghasilan 100 ribu dengan 50 ribu infaqnya yang penghasilan 2,5 juta, punya nilai yang sama.

Bedanya ketika tukang bangunan mengeluarkan 2 ribu, sisa uang di sakunya 98 ribu. Bandingkan dengan satunya. Pengeluaran 50 ribunya, meninggalkan sisa 2,45 juta ! Masih relatif jauh lebih banyak.

Masihkah kita melihat bahwa seribu, dua ribu atau lima ribu, itu kecil ? Sedikit ? Ternyata itu cuma rasa, bukan ? Jumlah yang menurut perasaan yang melihat. Sudut pandang pemberi infaq ternyata berbeda. Sedikit itu rasa.

Ada yang lebih penting lagi adalah nasihat Nabi Muhammad SAW ini :

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738)

 

Yuk sedekah ! Tak usah risau dan malu, berapa pun jumlahnya.

Mari kita buka pintu lebar, bagi siapa pun yang ingin memberikan hartanya untuk sarana ibadah. Siapa tahu, kita dicatat sebagai orang yang memberikan fasilitas kebaikan. Insya Allah, semuanya dapat menjadi sarana menghantarkan ke surga. Pasrahkan kepada Allah azza wajalla, bobot penilaiannya.
Wallaahu ‘alam bish shawab.

 

Special note :

Jika ingin berinfaq membantu pembangunan Tempat Pendidikan Al Quran di Masjid Ar Ridho (lokasi : Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan), sahabat dapat menyalurkannya via :

Bank Muamalat Indonesia | 304 003 1990 | Yayasan Ridho Illahi .

Terima kasih. Jazakallaah khair.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *