Mengurangi Produk Cacat
.
Saat memulai usaha, tak jarang orang melakukan uji coba. Memadukan beberapa bahan dijadikan satu olahan. Tak jarang pula, tidak sesuai harapan kita sebagai pengolah. Belum lagi, kalau menurut sang pengolah sudah mantap, tapi menurut konsumen kurang oke. Buktinya, pelanggan tidak pesan kembali. Repeat order adalah satu satu tanda/indicator, jika produk tersebut bermutu, sesuai kebutuhan pembeli.
Kalau uji coba terus bisa rugi? Betul. Definisi produk cacat dari Peneliti Teknik Industri di beberapa perguruan tinggi adalah produk yang gagal memenuhi standar spesifikasi yang disyaratkan oleh pelanggan, tapi masih dapat diperbaiki dengan biaya tertentu.
Jelas produk cacat akan menambah biaya. Bagaimana menghindarinya?
Sebagai contoh pebisnis pemula untuk menjual paket rending siap makan. Bumbu rempah-rempahnya mudah diperoleh. Ada kemiri, bawang putih, bawang merah alias brambang, cabe merah besar, cabe merah keriting, jahe, lengkuas, kunyit, ketumbar, pala, jinten, dan garam, kadang ditambahkan juga gula. Bahan utama tentu saja daging sapi dan santan kelapa.
Meski rending ini dikenal sebagai makanan khas Padang atau Sumatera Barat, namun sudah melegenda nasional bahkan mendunia. Tentu saja ada aneka rasa rendang sesuai dengan kearifan local. Saya mengenal rending di Kota Malang, rasanya dominan manis dan gurih. Tentu beda dengan rending asli Padang.
Ini yang bisa dijadikan target pembeli yang akan disasar. Racikan bumbunya tentu berbeda. Lain komposisi, lain rasa. Bagaimana agar tidak banyak produk cacat?
Perlu kita cermati resep mana yang dipilih. Proses bisnisnya seperti apa? Proses bisnis ini termasuk alir proses memilih bumbu, kompisisi dan memasak bumbu hingga matang.
Apa boleh pakai bumbu instan yang banyak dijual di pasar. Tinggal ambil sachetnya, ikuti petunjuk. Boleh saja. Itu pilihan. Namun, ada risiko. Bumbu sachet adalah hasil pabrikan yang punya potensi menjadikan rending yang diolah tidak memiliki kekhasan produk rending yang kita mau atau pelanggan mau. Apalagi jika kita ingin mendapatkan keunikan dan rending yang lain daripada yang kebanyakan.
Bagaimana dengan bumbu giling racikan yang tren sekarang ini? Relatif mudah. Tinggal bilang sama Abang penjual bumbu giling, dia yang ambil dan langsung dimasak sesuai prosedur. Ada risiko jika langsung kita pesan bumbu racikan rending, si Abang pakai kirologi alais perkiraan saat ambil bumbu giling. Rasa bisa tidak seragam. Bisa punya potensi produk cacat.
Ada cara yang bisa dikompromikan. Kita beli bumbu giling, tapi tidai dicampur langsung jadi satu. Pencampurnya adalah kita. Disesuaikan dengan resep awal yang kita punya. Sangat dianjurkan ditimbang sesuai komposisinya. Jadi, bumbu giling dibeli secara satuan. Ketika akan meracik, kita buat tabel racikan. Berapa gram bawang putih? Bawang merah? Dst. Bisa diikuti resep-resep yang telah dimiliki atau bisa merujuk pada referensi di Mbah Google (ini ekstremnya). Ketika bumbu telah usai dimasak, sebelum santan dan potongan daging dimasukkan, bubu bisa dirasakan terlebih dulu oleh beberapa orang. Jika ada kekurangan, maka bisa dicatat dan ditambahkan. Memang ada masalah jika ada satu bumbu yang kelebihan perlu siasat lebih. Bisa juga, dikuatkan pilihan rasa sesuai keinginan konsumen yang dibidik.
Cara tersebut, dapat mengurangi produk cacat. Bagian terpenting adalah pencatatan kurang, tambah bumbu, lama proses masing-masing tahapan. Pemilihan material kemasan dan suhu saat dikemas juga tak boleh luput dari pengamatan dan pencatatan. Karena catatan ini akan menjadi proses bisnis selanjutnya. Apalagi jika produk rending sudah bisa diterima pelanggan dan siap untuk diproduksi massal.
Upaya menurunkan produk cacat, berarti menambah potensi keuntungan.
#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju
___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.