Beli atau Buat Sendiri

Beli atau Buat Sendiri

Beli atau Buat Sendiri

 

Ada warung di dekat salah satu sekolah favorit di Pondok Aren yang berjualan dengan menu dasar tunggal. Apa itu? Mi rebus atau mi goreng. Variannya dibedakan dengan segala macam teman si mi instan. Ada telor dadar. Telur rebus. Kornet. Baso. Atau pangsit bsah dan kering.. Minumnya ada yang dingin dan panas. Teman makan juga disediakan, krupuk dan gorengan.

Warungnya laris manis. Saya pernah mencoba menikmati bersama teman-teman setelah usai sebuah acara. Saya takjub. Ternyata mi gorengnya menggunakan mi instan produksi pabrik mi di Surabaya. Bumbunya juga pakai bumbu yang sudah ada dalam kemasan. Ia tak membuat bumbu baru. Kalau kita pesan Mi Goreng Kornet, maka ia pun mengambil kornet kaleng. Dia korek pakai sendok makan dan diaduk saat mi hasil tirisan dimasukkan mangkok. Jadilah mi goreng siap santap. Kadang dia menyiapkan cabe rawit diiris sebagai penambah rasa pedas.

Minumannya juga tidak ada yang dia buat dari nol. Sang penjual menggunakan minuman sachet yang dijual lazimnya di pasar. Kalau pingin Es Mangga, dia ambil sachet dari merek terkenal itu yang dia potong dan tuangkan serbuknya ke dalam gelas. Ia memang bilang, ini bukan mangga segar.

Gorengan juga begitu. Ternyata ia tidak menggoreng sendiri. Buktinya, kami tidak melihat wajan atau percikan minyak goreng di tembok. Kedainya Nampak bersih. Setelah, kami cek. Betul. Ia memesan dari tetangganya yang memang biasanya jual gorengan. Hanya saja ia memesan dengan irisan yang khas.

Abang ini sudah berjualan 3 tahun saat, kami mampir makan sore itu. Artinya ia survive. Usahanya bertahan. Ia bisa membayar 2 karyawan yang membantunya. Ia juga tidak pernah terlambat membayar sewa kedai mungil itu.

Fenomena ini banyak kita temui. Bahan yang kita jual, memang tidak harus membuat sendiri. Bisa jadi dengan pesan atau beli dari orang lain, bisa lebih efisien. Bisa meraup untung.

Gorengan misalnya, bisa dipesan dengan harga khusus. Misal, minta dibuatkan tempe kemul (tempe diselaputi tepung dan digoreng) dengan harga Rp. 500 per bijinya. Nanti kita bisa jual lagi dengan paket mi atau memang dijual ketengan (alias per pc atau per biji). Tak jarang kita lihat, orang makan mi rebus atau mi goreng, ambil tempe goreng atau tahu gorengnya, bisa 2-5 pc sekali makan.

Kenapa mi menggunakan mi instan bukan mi basah yang diolah dulu? Nha itu, penjual memanfaatkan salah satu ciri pembeli. Pembeli inginnya mi cepat saji. Kebetulan juga, ia tak perlu mengolah atau membuat bumbu. Sudah ada dalam kemasan. Satu paket dengan bungku mis instan. Belum lagi, rasanya standar. Ini juga keuntungan sendiri. Rasa yang seragam.

Yang terpenting konsumen diberikan pemahaman bahwa yang dia jual adalah mi yang berasal dari mi instan. Bukan mi masak dadakan. Nilai tambahnya di samping dari ongkos memasak dan juga ongkos mencuci piring. Bisa diambil dari ‘teman’ nya mi. Telur, kornet, baso, atau pangsit.

Harga mi instan, Rp. 2.500,- per bungkus, setelah dimasak dan ditambah variasi, dijual Rp. 10.000, – pun masih bisa diterima konsumen. Apalagi penyajiannya menarik.

Sehingga dengan menggunakan bahan yang kita beli semua bahan setengah jadinya, juga tidak menjadi masalah. Karena dalam usaha tujuan utama adalah mendapatkan keuntungan.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

13 + 10 =