Tak Punya Peralatan, Masalah Buatmu?
Tantangan awal memulai usaha adalah alat yang tidak memadai. Betul? Kalau jawaban paling banyak adalah iya, maka jangan berkecil hati. Kita bisa menggunakan alat yang ada. Kalau benar-benar tidak memiliki, maka kalau mampu kita bisa beli. Masih tidak ada dana? Silakan menggunakan cara pertemanan atau hubungan darah. Pinjam ke saudara, teman atau tetangga. Kalau di kota besar, bisa jadi pinjam peralatan masak itu tidak lazim. Tapi, jika di daerah masih dimungkinkan.
Mendiang ibu saya, punya beberapa alat masak bahkan ukuran yang sekali masak bisa untuk 25 orang. Beliau dulu memang punya kegemaran memasak. Jika ada acara di desa atau kenduri tetangga, tak jarang, rumah kami jadi tempat masak. Ibu saya bertindak sebagai kepala juru masak.
Saat itu, peralatan masak yang terbilang lengkap tersebut, sering berpindah rumah. Alias dipinjam tetangga.
“Lha kalau untuk usaha, mosok pinjam?” begitu sergah salah seorang teman yang terkena PHK tapi punya keinginan usaha kecil.
Tentu saja, itu jika terpaksa. Pinjam pun bisa ke orang terdekat yang sangat mengenal pribadi peminjam. Lebih baik, jika kita membelinya. Pemblian alat produksi ini kita sebut investasi. Ini juga dihitung dalam biaya produksi.
Sahabat saya ini, berkeinginan berjualan nasi kebuli. Maklum, dia salah satu penggemar nasi olahan khas negeri Arab. Paduan beras agak panjang, ada lemak daging, rempah-rempah, di dalamnya ada potongan daging dan kurma. Setelah berpikir panjang, ia memulai dengan menjadi perantara, menjual kembali produk salah seorang anggota komunitas penggemar nasi kebuli. Tapi, ia mempunyai formula khusus. Kemasan ia sediakan dengan isi yang ia tentukan. Acarnya pun ia buat sendiri dengan penyesuaian. Ada potongan nanas muda, acar timur dan acar wortel. Ini cara cerdasnya. Kemasan nasi kebuli yang berbebtuk tampah untuk 4-6 orang. Ia ubah menjadi kemasan 1 porsi 1 kotak.
Setelah beberapa kali ia mendapatkan pelanggan dan mulai mendapatkan repeat order, ia memulai membuat mandiri. Memang masih dengan peraltan yang ada, menanak nasinya menggunakan rice cooker biasa. Rasa memang ia sadari, agak berbeda. Tapi potongan daging baik ayam, kambing, maupun sapinya ia olah sedemikian agar empuknya juga sama dengan proses pemasakah yang ditungku. Ia puny acara sendiri dengan menggunakan panci yang ada di rumah.
Peralatan bisa juga dimodifikasi dengan kapasitas yang kita rencanakan. Boleh saja membeli peralatan baru yang sesuai. Tapi tidak ada salahnya memanfaatkan yang kita punya.
Kapan kita harus investasi membeli peraltan yang sesuai? Tentu saja, ketika kapasitas produksi dengan peralatan yang ada sudah sangat tidak memadai dan menjadi tidak efisien.
Sebagai contoh penanak nasi dengan kapasitas 2 liter beras. Hasilnya setara 16 porsi nasi. Ketika mendapat order 30 porsi, menanak 2x masih bisa dikompromi. Waktu tunggu 30 menit, sekali tanak. Jika pesanan sudah 50 porsi, maka perlu dipikirkan membeli rice cooker yang lebih besar. Kenapa? Agar waktu tunggu tidak terlalu lama. Pelanggan tentunya mengingkan pesanan yang tidak terlalu lama. Maunya pesan, langsung ada dihadapan. Apalagi jika pesanan harus dikirim dengan fasilitas kendaraan. Butuh waktu lebih lama. Pembeli sudah ngeces alias ngiler dan tidak boleh dibairkan menunggu lama. Punya potensi, pelanggan pergi ke lapak lain, karena waktu saji yang terlampau lama. Itulah kenapa, menunggu adalah satu pemborosan. Pemborosan mengurangi keuntungan.
Jadi, mari mempertimbahkan peralatan produksi dengan seksama, agar bisa menambah profit.
#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju
___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.