Proses Bisnis, Apa Lagi Itu?

Proses Bisnis, Apa Lagi Itu?

Proses Bisnis, Apa Lagi Itu?

 

Produk dengan kualitas konsisten itu salah satu harapan pelanggan. Bahkan, kadang dijumpai, pembeli tidak peduli dengan kenaikan harga ketika kualitas bisa kita jaga. Jika makanan, maka ‘rasa’ jadi kunci.

“Duh, kok rasanya beda dengan orderan kemarin?”, begitu bunyi WA yang masuk ke produsen.

Sang peracik makanan bisa dipastikan garuk-garuk kepala. Betap tidak, ia merasa sudah memasukkan bumbu dan aliran proses sama saja seperti hari berikutnya.

Kenapa bisa terjadi? Kadang ada yang dilupakan, tidak jarang orang mengandalkan ingatan. Boleh saja, tapi harus diakui, ingatan pun bisa pudar bahkan hilang. Belum lagi, ketika waktu tidak memadai dan membutuhkan orang lian, apa yang dibenak kita dan ditylarkan kepada orang lain bisa berubah. Itulah pentingnya proses bisnis.

“Walah, ini kan usaha masih kecil-kecilan, nggak perlu proses bisnis segala”, begitu alasan yang banyak didengar.

Kita harus berpikir bahwa otak kita ada batasnya. Belum lagi, kalau kapasitas membesar, kita butuh asisten. Kalau seudah begitu, kita membutuhkan semua tangan memiliki kemampuan yang relatif sama.

Proses bisnis itu sederhana. Membuat minuman kopi misalnya:

Beli biji kopi > disangrai > digiling > ditimbang > dimasukkan gelas > ditambah air panas > diaduk > disajikan.

Aliran proses tersebut ditulis. Ini kuncinya. Ditambahkan lagi. Keterangan tambahan pada tiap proses, misalnya lagi:

  • Saat membeli biji kopi (berapa % robusta, berapa % Arabica)
  • Proses sangria: disangrai dengan proses (api seberapa besar, berapa lama).
  • Penggilingan: dilakukan hingga menghasilkan butiran seberapa besar?
  • Satu sajian membutuhkan berat berapa gram kopi bubuk?.
  • Air yang diseduh, setelah mendidih ditunggu pada suhu berapa agar siap dituang dan rasa tidak berubah. Berapa mili untuk 1 sajian.
  • Proses pengadukan, apakah searah jarum jam, atau berlawanan arah jarum jam.

Itulah proses bisnis dan yang lebih penting dituliskan. Bisa di dalam buku tulis biasa. Atau dicetak dan delaminating. Yang penting saat siapa saja yang ditugaskan menyeduh kopi, melihat proses bisnis tersebut.

Idem ditto seperti meracik makanan yang lebih komplek. Bumbu yang dibutuhkan bisa belasan. Urutan proses akan sangat memperngaruhi rasa. Kadang, ada yang berpikir, lupa satu empon-empon, kemudian disusulkan pada akhir proses. Rasa bisa jadi berubah.

Proses bisnis yang ditulis akan memberikan rasa aman baik bagi pengolah atau yang ditugaskan memasak. Dan tentunya bagi pelanggan. Karena tidak ada lagi ilmu kirologi alias kiro-kiro (baca : kira-kira). Seperti apa itu? Ambil garam secukupnya dan taburkan saat air mendidih. Nha, kata ‘secukupnya’ ini sangat berbeda persepsi. Bagi seorang chef yang setiap hari melakukan mengolah makanan, bisa menggunakan jimpitan jarinya. Tapi bagi pemula, bisa jadi jimpitannya kebanyakan alias berlebih atau sebaliknya, kurang. Oleh karenanya, perlu ditulis, misal: 5 gram untuk 1 takar sajian.

Apalagi ketika membutuhkan asisten untuk mengolahnya, pembagiannya pun perlu ditulis. Si A melakukan proses apa hingga apa. Begitu juga si B dan seterusnya.

Namun, setelah proses bisnis ditulis. Harus dijaga kerahasiaannya. Karena ini salah satu rahasia dapur. Olahan resep yang bisa jadi menjadi master piece alias karya andalan sang produsen.

Proses bisnis itu bisa menjadi kunci keberhasilan, terutama untuk menjaga konsistensi mutu produk.

 

#costoptimizer #usahamikromaju #sidomakmur #rakyatsejahtera #indonesiamaju

___Ari Wijaya @this.is.ariway | 08111661766 | Grounded Coach Pengusaha Mikro Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

14 + eighteen =