Bertepuk Sebelah Tangan by Ari Wijaya

sepasang

 

Sayup-sayup terdengar lagu ‘Pupus’ yang dilantunkan oleh Group Band Dewa 19.

Aku tak mengerti, apa yang kurasa
rindu yang tak pernah begitu hebatnya
aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau

aku persembahkan hidupku untukmu
telah ku relakan, hatiku padamu
namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
dan hati kecilku bicara

Reff :
baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan
kau buat remuk sluruh hatiku

semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku
semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau

aku mencintaimu lebih dari yang kau tau
meski kau takkan pernah tau”

Coba kita perhatikan dan cermati bait reffren-nya mengalun sendu :

“baru ku sadari…

cintaku bertepuk sebelah tangan …

kau buat remuk sluruh hatiku…”

Rasa itu bisa terjadi juga pada dunia dagang. Hubungan pembeli dengan penjual. Kenapa demikian ? Kok bisa ?

Begini…

Pada galibnya, hubungan pembeli dengan penjual adalah hubungan yang tak terpisahkan pada pasar di mana pun. Namun, yang menjadi tidak umum, adalah bagaimana pembeli mengetahui lebih rinci kondisi penjual. Seluk beluk pemasok sangat perlu diketahui agar Kita mengenal dan mendapatkan pasangan yang serasi. Ada 3 hal utama, menurut hemat Saya, yang perlu digali lebih dalam.

Kapabilitas atau kemampuan penjual. Kinerja penjual. Pesaing penjual (pasar pasokan) atau pemain yang sama dengan penjual (peers-nya).

Lirik lagu Pupus yang dibawakan Once Dewa 19 sangat sesuai dengan pentingnya menilik kapabilitas pemasok. Faktor yang lain seperti kinerja dan persaingan pemasok, akan di bahas di lain kesempatan.

Kapabilitas penjual menjadi penting. Hal ini agar Kita tahu berhubungan dengan pasangan yang pas. Sebagai contoh, ketika Kita membeli 1-2 ekor ayam potong, maka cukup membeli di warung sebelah. Jika dibutuhkan lebih banyak, 10  ekor ayam potong misalnya, Kita langsung berhubungan dengan pemotongan ayam. Bisa di pasar atau pengepul terdekat. Bayangkan, jika ketika kita butuh 10 ekor, kita berhubungan dengan RPH atau rumah pemotongan hewan. Nah, ini kelasnya berbeda. Kebutuhan kita jauh lebih sedikit dari kapasitas rumah potong yang ribuan per hari. Kita tidak akan mendapatkan benefit yang optimal. Karena tentunya, rumah pemotongan ayam akan bersepakat dengan agen ayam potong yang dapat menyerap dalam jumlah besar. Bukannya tidak mau dapat order. Atau sombong. Tapi, mereka akan berpikir cara menjual yang sangkil dan mangkus. Melayani order kecil akan memberikan biaya administrasi, transportasi yang relatif lebih besar. Biasanya RPH memberikan batasan pembelian dalam jumlah tertentu. Minimum order quantity. Agar tidak kecewa, mereka akan mengarahkan pembeli jumlah kecil kepada agen yang telah ditunjuk. Secara tidak langsung kita tertolak. Kondisi yang tidak mengenakkan, bukan ?

Demikian pula sebaliknya. Kita punya pesanan ratusan ayam per hari. Karena ingin praktis, Kita menuju pasar terdekat. Kita berhubungan dengan penjual di pasar. Bisa juga. Namun, yang terjadi adalah kerepotan kita. Penyedia ayam potong, bisa kekurangan stok. Karena kapasitas yang disediakan tidak sampai ratusan. Paling banter puluhan. Bagaimana untuk memenuhi kebutuhan ? Kita harus berpindah beberapa penjual. Membeli di beberapa penjual. Kemudahan alat angkut tidak diperoleh. Tidak efisien. Satu mobil besar mengangkut jumlah kecil. Berpindah-pindah. Parahnya, malah ulang-alik karena multi tujuan ambil. Belum lagi, administrasi yang berbelit. Harga bisa jadi tidak optimal. Beda harga satu sama lain. Negosiasi yang alot.

Secara total, malah repot. Kita yang tidak mendapatkan benefit yang optimal. Meski penjual di pasar senang, mendapatkan profit. Penjual sumringah, Kita sebagai pembeli pontang panting. Tidak equal.

Kebutuhan ratusan ekor, layak berhubungan dengan agen besar. Beberapa kemudahan akan didapat. Kemudahan transportasi. Sekali angkut. Administrasi lebih simpel, 1 PO untuk semua. Waktu juga lebih efektif. Harga dapat lebih optimal. Bisa dipastikan akan relatif lebih rendah dari harga pasar. Setidaknya satu bahkan lebih jalur distribusi dapat dipangkas. Ujung-ujungnya penghematan belanja.

Terlihat jelas, sebagai pembeli mengetahui kondisi penjual atau pemasok sangat penting. Bagai mencari pasangan. Mendapatkan pasangan yang serasi. Agar tidak bertepuk sebelah tangan.

Hampir dipastikan, kita tidak mau cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan ? Kita tak kan mau hati remuk redam ?

Termasuk urusan bisnis, juga lho?

Mari ditelaah lagi hubungan kita sebagai pembeli dengan penjual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *