Bukan Teknologi, Tapi MANUSIA by Josef Bataona

“Technology is nothing. What’s important is that you have a faith in people, that they’re basically good and smart, and if you give them tools, they’ll do wonderful things with them.” (Steve Jobs)
SUDAH BANYAK CERITA yang dibagi, entah dalam bentuk artikel di media cetak ataupun media sosial lainnya, tentang kisah di balik akhir kejayaan Nokia:

“Ketika Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, saat konferensi pers, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia, dia mengatakan kalimat terakhir :

‘Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah.’

Lalu, bersama-sama dengan puluhan eksekutif Nokia-nya tidak tahan menitikan air mata.”

Penelusuran lebih jauh lagi, ditemukan alasan yang jauh lebih menarik lagi.

Lain Pengakuan Lain di Lapangan

Dalam laporannya yang dicantumkan dalam SALAMANDER, majalah alumni INSEAD, edisi 28 Januari 2016, Quy Huy dan Timo Vuori mengawalinya dengan penjelasan dari Executive Nokia, tentang kejatuhan Nokia.

“1) that Nokia was technically inferior to Apple,
2) that the company was complacent and
3) that its leaders didn’t see the disruptive iPhone coming.”

Semua alasan sepertinya bisa diterima dan  mudah diprediksi masyarakat. Namun laporan mereka yang berjudul “Who Killed Nokia” mengatakan alasan paling mendasar bukan ketiga hal tersebut di atas:

“Nokia lost the smartphone battle because of divergent shared fears among the company’s middle and top managers led to company-wide inertia that left it powerless to respond to Apple’s game changing device.”

Di sini unsur manusia, terutama yang bernama Leader di level Top maupun Middle, yang membuat perusahaan ini terjun bebas.

Kontribusi Leader Memajukan Juga Menjatuhkan

Penelusuran lebih lanjut dengan menginterview 76 Top/Middle Managers, engineers dan pakar eksternal diketahui bahwa “ketakutan” yang dialami perusahaan itu disebabkan oleh budaya pimpinan yang temperamental yang membuat middle manager tidak berani berbicara jujur.

Ternyata reputasi menakutkan dari  top leader sudah diketahui umum, Board dan Top management sering berteriak pada bawahannya, ancaman memecat atau demosi sering terjadi. Dan ini sulit bagi bawahan untuk menyampaikan berita yang pimpinan tidak ingin dengar.

Nokia dikenal dengan high task and performance focus, karena itu Top Management ketakutan bila masyarakat luar tahu kalau mereka tidak mencapai target, karena itu mereka akan menekan bawahannya lagi, bahwa mereka kurang ambisius dalam mencapai “stretched targets”.

Cerita kecil yang ditemukan dari seorang middle manager yang tidak berani men-challenge keputusan Top Manager dan mengatakan: “Saya tidak punya keberanian. Saya masih punya keluarga dan anak kecil.” Alhasil, middle manager akan tinggal diam atau memberikan informasi yang sudah difilter.

Singkat cerita, menurut penelusuran tersebut:

“Nokia people weakened Nokia people and thus made the company increasingly vulnerable to competitive forces.

When fear permeated all levels, the lower rungs of the organisation turned inward to protect resources, themselves and their units, fearing harm to their personal careers.

Top managers failed to motivate the middle managers with their heavy-handed approaches and they were in the dark with what was really going on.”

Andaikan…

Sedikit ketakutan tidak apa-apa, bahkan bisa memotivasi, mendorong semangat mencari jalan keluar. Luapan emosi berlebihan ibarat memberikan obat over dosis. Rasa takut yang diciptakan baru bermakna, kalau leader-nya juga membantu bawahannya untuk mengatasi ketakutan itu.

Saya hanya bisa membayangkan….. seandainya para pimpinan menyadari ini lebih awal… inisiatif “Team Alignment” bisa diselenggarakan dengan cara FUN, misalnya dengan menggunakan LEGO Serious Play …..

Nasi memang sudah jadi bubur, tapi pembelajaran akan tetap diingat oleh sejarah dari generasi ke generasi: “Bahwasanya penyebab jatuhnya Nokia bukan melulu pada teknologi, tapi terutama pada manusianya.” Dan manusia dalam kisah ini adalah para Top Leader yang memberikan kontribusi terbesar. Andaikan saja… mereka tampil lebih autentik, jadi role model, rajin membangun dialog, terbuka menerima feed-back.

“The human spirit must prevail over technology.” (Albert Einstein)

 
* Josef Bataona, Lahir di Flores pada tahun 1953. Sejak 2013 ditunjuk sebagai HR Director PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Sebelumnya menjabat sebagai HR Director PT. Bank Danamon selama 4 tahun. Beliau berkarir di PT. Unilever Indonesia selama 31 tahun. 10 tahun terakhir di Unilever, Pak Josef dipercaya menjabat sebagai HR Director.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *