Tugas Sepele tapi Berdampak

Belanja ke pasar saat saya masih pelajar SMP adalah hal rutin. Hampir setiap pagi saya melakukan tugas itu. Ibu saya memberikan pelatihan pembelian sejak dini. Upaya itu dilakukan untuk mengoptimalkan waktu. Beliau bisa melakukan hal lain.

Bapak saya memang membuat aturan bahwa paspor kami keluar rumah adalah sarapan pagi. Jika tidak melaksanakan, jangan harap bisa keluar rumah. Apa pun alasannya, harus makan pagi.

Guna mempercepat belanja, Ibu saya memberikan catatan kecil. Daftar belanja, jumlah yang harus dibeli dan beli dimana.Khusus jumlah yang harus dibeli, Ibu memberikan perintah ringan :

“Beli sop-sopannya (sayur mayur : kol, kentang, wartel), 50 rupiah saja. Beli di Mbok Ijah. Tempe 50 di Mas Kardi, minta dipotong sekalian”, begitu biasanya.

Saya tahu tempatnya, karena saya pas es de sudah sering diajak Ibu ke pasar. Tempat penjual yang dimaksud pun jadi di luar kepala. Karena memang posisi mereka sudah paten. Tidak berpindah. Pukul 5 lebih sedikit, biasanya sudah beres belanja. Wal hasil, sebelum pukul 6 pagi, sarapan beres. Rumah pun sudah rapi. Ibu dengan tenang pergi ke kantor. Saat itu beliau masih aktif menjadi PNS di sebuah instansi militer.

Jarak pasar dengan rumah ketika itu hanya 10 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh. Secara tidak langsung juga olah raga pagi.

Proses yang dilakukan Ibu tersebut, adalah juga terobosan menurut saya. Ada 3 hal yang dapat saya petik.

Berpikir dari akhir.

Beliau punya target, pukul 6 pagi sarapan beres. Rumah Rapi. Sehingga, beliau melakukan pemetaan apa dan bagaimana pekerjaan dilakukan. Dengan diketahui lebih awal, maka bisa dihitung juga berapa lama dibutuhkan waktu untuk menuntaskannya. Jadi tidak heran, Jika beliau hampir selalu bangun pukul 4 pagi. Rentang waktu 2 jam, sudah memadai untuk menyelesaikan task force tersebut.

Delegasi .

Kita tidak dapat melaksanakan seluruh pekerjaan pada waktu yang sama. Delegasi diperlukan. Saya belanja ke pasar. Kakak ada yang membantu membersihkan kandang ayam. Bapak membersihkan kandang burung dan memberi makan. Sehingga tenggat yang diberikan tetap masuk. Sarapan tersedia sebelum pukul 6 pagi.

Efektivitas waktu.

Untuk menggunakan waktu yang efektif dan efisien, maka dilakukan urutan pekerjaan. Proses mana yang bisa dilakukan sendiri. Pekerjaan mana yang perlu dilakukan orang lain. Ada juga, task force yang dapat dilakukan paralel. Misal dalam konteks tadi, Ibu menanak nasi sembari melakukan pekerjaan lain. Maklum kami keluarga besar, proses menanak dilakukan 2 tahap. Ngaru dan adang (mengaru dalam panci besar dan menanak di dalam dandang). Saat adang, sembari membersihkan rumah.

Proses belanja pun dibuat lebih simple. Tidak ada negosiasi saat saya membeli. Karena proses negosiasi dilakukan saat awal belanja. Beliau pun sudah punya penjual tetap. Loyal vendor. Sehingga dengan harga tertentu, beliau tahu akan mendapatkan barang seberapa banyak.

Meski sederhana, proses tersebut sedikit banyak mewarnai hidup saya saat ini. Ibu mengajarkan banyak hal. Termasuk mengajari saya jadi buyer. Memberikan pelajaran jadi planner. Bisa jadi itu semua hal kecil, tapi telah memberikan sumbangsih pembentukan pribadi. Sepele tapi berdampak.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *