Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup

Judul tersebut adalah cuplikan judul artikel karya Pak Jamil Azzaini. Isi artikel saya ambil seluruhnya, hanya gambar yang karya saya sendri. Sebagai pemanis dan penambah semangat. Bah pena ini saya pelajari karena relevan dengan situasi tempat saya berkarya . Ternyata juga dihadapi para eksekutif dan pemilik beberapa perusahaan yang menjadi teman diskusi dan berbagi beberapa bulan terakhir.

Terima kasih Pak Jamil Azzaini.

Semoga artikel ini menginspirasi sahabat yang lain.

Retensi dan Loyalitas Tidak Cukup, Segera Lakukan Hal Lain Atau Perusahaan Anda Akan Punah

by ; Jamil Azzaini *)

Banyak Leader yang menyamakan retensi dan loyalitas. Sama-sama menjaga tim agar tetap berada di dalam perusahaan. Nyatanya keduanya berbeda. Retensi artinya mempertahankan tim. Eve Ash, seorang psikolog di dalam tulisannya memaparkan bahwa pendapatan yang bagus adalah satu alasan utama yang membuat tim bertahan.

Pertanyaannya, apakah karyawan bertahan saja cukup? Bagaimana kalau ia bertahan dengan performa yang stagnan atau bahkan menurun. Bagaimana kalau ia bekerja sekedarnya saja sebagai rutinitas sehari-hari tanpa peduli apa kabar dengan perusahaan? Itulah mengapa kita membutuhkan loyalitas karyawan. Komitmen kuat untuk memberikan yang terbaik.

Mungkin ada Leader yang bangga karena banyak anggota timnya punya masa kerja panjang tanpa usaha mempertahankannya. “Ah saya tidak pakai cara macem-macem, buktinya mereka bertahan. Memang mereka butuh pekerjaan ini kok” Hati-hati, sekedar bertahan karena tidak ada pilihan lain (sejauh ini), sangat berbahaya.

Tim ini bisa jadi sebetulnya dis-engaged.

“Kalau ada kesempatan keluar dengan tawaran yang lebih baik, saya pasti pergi. Wong saya juga tidak dikembangkan sama sekali kok. Tidak dipedulikan. Tapi sekarang belum ada tawaran, jadi ya sudahlah.”

Kesehariannya tanpa karya, tapi justru lebih banyak mengeluhkan segala hal di dalam perusahaan. Bahkan menularkan keluhannya pada orang lain, sehingga semakin banyak yang ikut-ikutan tidak puas bekerja.

Lalu apa yang terjadi pada perusahaan? Bila tim hanya diharapkan tetap tinggal tanpa reward dan upaya pengembangan sama sekali. Sementara perusahaan juga tidak menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Sampai kapan perusahaan akan bertahan?

Kita dapat menggunakan kesimpulan dari analisa data yang dilakukan Jeffalytics.

“If you’re not growing, you are dying”. 

Jika Anda tidak berkembang, maka Anda menuju kepunahan. Berdasarkan Jeffalytics, setiap perusahaan merekrut orang, diharapkan ada pertumbuhan revenue setidaknya pada tahun kedua. Apa yang terjadi bila ekspektasi itu tidak terpenuhi? Apalagi kalau ternyata revenue justru menurun.

Perusahaan harus mengambil keputusan di antara pilihan-pilihan sulit. Apakah perusahaan akhirnya mengurangi jumlah karyawan agar seimbang dengan kebutuhan bisnis? Apakah perusahaan mempertahankan karyawan dengan menurunkan target profit yang direncanakan? Apakah perusahaan merekrut tim sales baru untuk mencoba meningkatkan revenue? Apakah perusahaan mencari pinjaman dana agar bisnis mereka tetap bisa jalan?

Ketika kinerja tim sudah tidak optimal, perusahaan pun tidak menunjukkan perkembangan yang berarti, maka menjalankan pilihan-pilihan di atas pun belum tentu membantu. Resiko terbesar pada akhirnya adalah pemilik perusahaan harus merelakan bisnisnya bangkrut.

Bila Anda adalah Leader yang ingin memastikan tim Anda betah dan loyal, maka berikan mereka berlimpah alasan untuk menikmati apa yang mereka kerjakan dan dengan siapa mereka bekerja. Berikan arahan dan tantangan, dampingi, berikan reward yang pantas, ciptakan kultur positif dan prestasi perusahaan yang membanggakan.

Survey yang dilakukan oleh High Ground memberikan bukti menarik tentang karyawan yang sangat loyal dibandingkan dengan yang tidak. Yang sangat loyal ternyata 2 kali lipat tetap bertahan di dalam perusahaan, 2 kali lipat membantu rekannya meski tidak diminta, 3 kali lipat melakukan sesuatu yang baik untuk perusahaan secara tak terduga, dan 5 kali lipat bersedia merekomendasikan teman atau kenalan untuk ikut bekerja di perusahaan.

Menjaga loyalitas tim adalah satu hal penting untuk menjaga perusahaan dari ancaman kepunahan. Tapi masih ada faktor-faktor lain yang turut berpengaruh agar perusahaan sukses dan terus berkembang. Survey yang dilakukan Bill Gross dalam Legendary Men terhadap lebih dari 200 perusahaan menemukan 5 faktor penting yang berperan di dalam kesuksesan bisnis.

Pertama adalah ide-ide yang terus relevan dan dibutuhkan pasar.

Kedua seperti yang sudah kita bahas panjang adalah tim yang solid dan berdedikasi.

Ketiga, business model yang meberikan arahan jelas bagaimana meraih revenue melalui pencapaian goal-goal terukur.

Keempat adalah funding (pembiayaan). Dengan funding yang kuat, maka operasional perusahaan pun menjadi jauh lebih baik. Namun ternyata ada yang tetap gagal meski punya dana yang memadai. Kenapa? Karena tidak memperhatikan faktor kelima berikut ini.

Timing (waktu). Kapan timing yang tepat agar energi tidak habis edukasi market karena rilis terlalu cepat, namun juga tidak terlambat sampai kehilangan market. Ketika bisnis memasuki pasar di timing yang tepat, maka ia akan meraih kesuksesan besar.

Fokuslah kepada kelima faktor, agar perusahaan jauh dari punah dan dekat dengan sukses!

Salam SuksesMulia!

Pengkhianat

Pengkhianat

Oleh: Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Lc

Awalnya Hulagu Khan, pimpinan Mongol/Tatar (cucu Jenghis Khan), ragu untuk menyerbu Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, karena takut kena kutukan langit, sebagaimana nasehat orang-orang bijak di sekitarnya.

Tetapi keraguannya hilang setelah menerima surat dari seorang ulama Syi’ah terkenal, Nashruddin ath-Thusi, yang meyakinkannya tidak akan mengalami gangguan apa pun jika ia membunuh khalifah Abbasi.

Sejak itu Hulagu Khan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan rencananya, diantaranya menjalin komunikasi intensif dengan salah seorang menteri utama di pemerintahan Abbasiyah bernama Muayiduddin bin al-Alqami, seorang penganut syi’ah rafidhi (penolak khilafah Abu Bakar dan Umar ra).

Menteri syi’ah ini menjadi orang kedua dalam khilafah Abbasiyah, orang kepercayaan khalifah al-Musta’shim Billah. Hampir seluruh kebijakan khalifah ini ditentukan oleh Menko yang satu ini. The real president.

Dalam komunikasinya, Hulagu Khan meminta Muayiduddin untuk mengurangi anggaran militer, mengurangi jumlah tentara, mengalihkan perhatian negara dari urusan persenjataan dan perang, dan mengaryakan pasukan di pekerjaan-pekerjaan sipil seperti pertanian, industri dan lainnya.

Permintaan Hulagu Khan ini dipenuhi sang menteri. Tentara yang tadinya berjumlah 100.000 pasukan di masa akhir pemerintahan al-Mustanshir Billah, tahun 640 H, dipangkas menjadi 10.000 pasukan pada tahun 654. Ini tentu melemahkan kemampuan militer negara.

Akibat pengurangan anggaran militer, banyak tentara yang hidup miskin bahkan meminta-minta di pasar-pasar. Latihan-latihan militer dihentikan hingga mereka tidak punya kemampuan membuat rencana, manajemen dan kepemimpinan. Akibat lanjutannya kaum muslimin melupakan berbagai ilmu perang dan tidak pernah berfikir tentang nilai-nilai jihad.

Semua perkembangan dan situasi ini diketahui Hulagu Khan melalui Menko ini, hingga Hulagu Khan memutuskan untuk bergerak menuju Bagdad. Karena Bagdad sebelumnya dikenal sangat kuat.

Hulagu Khan mulai pengepungan Bagdad dari arah selatan, Katbugha dari arah utara, dan Pigo dari arah utara, hingga membuat khalifah terkejut dan ketakutan.

Khalifah mengadakan pertemuan mendadak dengan semua penasehat dan menterinya.

Dalam pertemuan ini sang Menko pengkhianat mengusulkan agar khalifah mengadakan ‘perundingan damai’ dengan musuh dengan memberikan sejumlah konsesi kepada mereka.

Sang Menko memberikan gambaran tentang perbedaan sangat jauh antara kekuatan pasukan Hulagu Khan dan kekuatan kaum muslimin, agar tidak muncul ide untuk melakukan perlawanan.

Pendapat sang Menko inilah yang akhirnya menjadi keputusan rapat kabinet. Hanya ada dua menteri yang menginginkan perlawanan, yaitu Mujahiduddin Aibek dan Sulaiman Syah. Tetapi ide ini terlambat. Karena masa persiapan perang sudah lewat, sehingga perlawanan yang kemudian dilakukan oleh kedua menteri ini tidak mampu menghadapi pasukan Tatar.

Khalifah bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah kebingungan ini menteri pengkhianat bangsa ini datang memanfaatkan kesempatan dengan menyarankan agar duduk bersama Hulagu Khan di meja perundingan.

Hulagu Khan setuju bertemu khalifah tetapi dengan syarat tidak sendirian, ia harus membawa serta semua menteri, pejabat-pejabat negara, para ahli fikih Bagdad, semua ulama Islam dan tokoh-tokoh masyarakat. Semua harus dihadirkan agar hasil perundingan mengikat semua pihak, kata Hulagu Khan memperdaya.

Khalifah tidak punya pilihan kecuali harus mengikuti keinginan Hulagu Khan, hingga ia datang dengan rombongan besar berjumlah 700 orang.

Ketika mendekati kemah Hulagu Khan, rombongan ditahan oleh para pengawal Hulagu Khan dan tidak diijinkan masuk. Hanya khalifah bersama 17 pendampingnya yang diperkenankan masuk sedangkan rombongan lainnya diinterogasi dan dibunuh di tempat terpisah.

Seluruh rombongan telah dibunuh kecuali khalifah karena Hulagu Khan ingin memanfaatkannya untuk tujuan lain.

Hulagu Khan memaksa khalifah mengeluarkan perintah kepada seluruh penduduk Bagdad agar melucuti senjata dan tidak melakukan perlawanan apa pun.

Khalifah kemudian dirantai dan diseret ke kota untuk menunjukkan tempat penyimpanan harta keluarga dan para menteri Abbasiyah. Kedua anaknya dibunuh di hadapannya. Khalifah dipaksa memanggil tokoh-tokoh ulama Sunnah yang daftar nama-nama mereka telah diberikan oleh sang menko pengkhianat kepada Hulagu Khan, untuk dibunuh.

Terakhir khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak lehernya agar tidak mengeluarkan darah, karena menurut sebagian pembantu Hulagu Khan jika darah khalifah muslim menetes ke tanah maka kaum muslimin akan menuntut balas atas kematiannya di suatu saat.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari fakta sejarah yang memilukan ini.

Great Leader by Simon Sinek

Great leaders don’t see people as a commodity to be managed to grow profits. Great leaders see profits as the commodity to be managed to grow the people.

_ Simon Sinek

FIVE  INSPIRING LEADERSHIP LESSONS 

1. START WITH WHY

Everyone in an organization knows “WHAT” it is that they do. Some know “HOW” they do it. But, very few know “WHY” they do what it is that they do. He points out that the reason can’t be to make a profit. That’s a result, and it will always be a result, of providing something of value.

By “why” means: What’s your purpose? What’s your cause? What’s your belief? Why does your organization exist? Why do you get out of the bed in the morning and why should anyone care?

Sinek points out some great leadership success stories examples. I don’t believe that any of these leaders were looking for their “WHY.” Instead, I believe that something happened in their lives that caused an emotional reaction. That reaction naturally instilled their driving purpose. This is the most powerful “WHY” a person can have. It’s also important to note that none of these leaders set out to “be first,” instead they set out to serve others.

Unfortunately, most of us are not so lucky when it comes to understanding our “WHY.” Although it is a simple concept, it’s derived by looking back on past personal experiences.

Every company, organization or group with the ability to inspire starts with a person or small group of people who were inspired to do something bigger than themselves. – Simon Sinek

We live by many beliefs on a daily basis. These can also be limiting beliefs that cause us to fall into the working-for-work’s sake trap of the 40-hour work week.

To find your “WHY” I would recommend that you set goals balanced around the three most important areas of your life:

  • Establish clear personal, family and health goals. These are your “WHY” goals.
  • Determine your personal professional development goals. These are your “HOW” goals.
  • Set your business, career and financial goals. These are your “WHAT” goals.

 

2. HAVE CLARITY, DISCIPLINE AND CONSISTENCY

Clarity of WHY – If you don’t know WHY you do WHAT you do, how will anyone else?Having clarity is what enables great leaders to articulate “WHY” their organization. It exists beyond its products and services. First to their employees, and then to their customers. To lead requires those who willingly follow. It requires being a part of something bigger than oneself. To inspire others to follow, starts with having clarity of WHY.

“People don’t buy “what” you do, they buy “why” you do it”

– Simon Sinek

Discipline of HOW – Have clarity in WHY will lead you to the question of HOW will you do it?  How you do things are your values or principles that bring your cause to life. Finding your “WHY” is simple, compared to having the discipline necessary to never veer from your cause. To be accountable to HOW you do things is the most difficult part.

For values or guiding principles to be truly effective, they have to be verbs.

– Simon Sinek

Sinek points out that it’s not “integrity”, it’s “always do the right thing.” It’s not “innovation,” it’s “look at the problem from a different angle.”

The discipline of “HOW” hinges on having the discipline to stay focused on the “WHY” (what you believe) to remain true to your values.

Consistency of WHAT – Everything you do and say, must prove what you believe. Your “WHAT” is the result of your beliefs and the actions you take to realize the belief.  It’s everything you say or do; your products, services, marketing, PR, culture and the people you hire.

If you’re not consistent in the things you say and do, no one will know what you believe.

– Simon Sinek

3. LEADERS NEED A FOLLOWING

Being a leader requires having people that choose to follow you. Trust must be established before anyone will make the decision to follow you. Trust doesn’t emerge simply because a customer makes a decision to buy something. Trust is not a checklist. Fulfilling all your responsibilities does not create trust.

Trust is a feeling that begins to emerge when we have a sense that another person or organization is driven by things other than their own self-gain. You must earn trust by communicating and demostrating that you share the same values and beliefs.

This leads us to the heretical belief of Herb Kelleher – Founder and former CEO of Southwest Airlines. It’s the company’s responsibility to look after your employees first. Happy employees ensures happy customers. Happy customers ensures happy shareholders – in that order.

4. COMMUNICATION ISN’T ABOUT SPEAKING, IT’S ABOUT LISTENING

Most companies have logos, but few have been able to convert those logos into meaningful symbols. Most companies are bad at communicating what they believe, their “WHY.” Without clarity of “WHY,” a logo is nothing more than just that. To say that a logo stands for quality, service, innovation and the like only reinforces its status as just a logo. These qualities are about the company and not the about the cause.

For a logo to become a symbol, people must be inspired to use that logo to say something about who they are. In his book, “START WITH WHY” Sinek shares the profound example of Harley Davidson.

There are people who walk around with Harley-Davidson tattoos on their bodies — and some of them don’t even own the product!  Why would a rational person tattoo a corporate logo on their bodies? Harley Davidson has been crystal clear about what they believe. After years of discipline about their “WHY” and being consistent in everything they say or do, their logo has become a symbol. It no longer identifies a company and it’s products; it identifies a belief.

It’s not just WHAT or HOW you do things that matters; what matters more is that WHAT and HOW you do things is consistent with your WHY.”

– Simon Sinek

Sinek share a simple metaphor called the “Celery Test” that you can apply to find out exactly WHAT and HOW is right for you.

5. SERVING THOSE THAT SERVE OTHERS

Being a great leader is like being a parent. Just as we provide our children opportunity — to build self confidence, education and discipline when necessary all so that they can achieve more that we can imagine.

Leadership is not a rank. While there are people that have authority, that does not make them a leader. There are people who have no authority, but they themselves are leaders.

We call them leaders because:

  • They go first, they take the risk before anyone else does.
  • They choose to sacrifice so that their people may be safe, protected and so that they may gain.

When they do, the response is incredible.  Their people will sacrifice for them, give them their blood, sweat and tears to see that their leaders vision comes to life. When they are asked “WHY” the response is always the same; “Because they would have done it for me”.

Isn’t that the type of organization we all would like to work for?

 

Catatan :

Artikel ini disalin sebagian dari tulisan Keith Gutierrez, September 2016 (sumber inspirasi : TEDx Talk di Puget Sound Washington tahun 2009)

Vitamin

Meski sehat, kadang orang masih perlu vitamin. Tak ubahnya saya. Usaha dan segala daya upaya fisik dan non fisik telah dilakukan. Kami berharap buah hati kami bisa ikhlas dan kerasan. Ia juga bisa segera beradaptasi dengan situasi dan kondisi baru.

Saat melakukan cek kiriman pesan di telepon genggam,  ada beberapa pesan masuk. Salah satunya, ternyata berisi nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal. Pas banget. Pipi ini kayak ditampar. Sakit tapi menyadarkan. Tapi tetap saja jadi vitamin. Suplemen penambah semangat.

Di bawah ini saya salinkan isi pesan itu. Siapa tahu ada sahabat yang punya kondisi yang serupa dengan saya.

“Manja itu yang akan menghambat masa depan anakmu karena nanti mereka gak bisa mandiri, gak paham agama, gak ngerti Qur’an, gak punya akhlaq. Ujung ujungnya gak bisa jadi jariyahmu kalau kamu mati.

Anak mau masuk pondok apalagi menghafal Qur’an gak usah ditangisi. Itu rezeki, kamu harus bersyukur. Bayangkan kalau anak-anakmu hidup di luar sekarang. Apa iya kamu tega setiap jam 4 maksa mereka untuk tahajud ? Apa iya setiap hari kamu ada waktu menyimak setoran hafalan mereka ? Coba kamu lihat dirimu sekarang sudah yakinkah kira-kira sholatmu, puasamu, bisa buat kamu masuk surga ?

Kalo kamu yakin amalmu bisa menjamin kamu masuk surga, yo sak karepmu. Urusen anakmu dengan budaya bubrah yang sekarang lagi trend di luar sana.

Anak-anak  kecil wes podo pinter dolanan hape buka situs apa saja bisa, bangga punya ini itu, baju sepatu tas ber-merk. Lha pas di suruh ngaji blekak-blekuk. Di tanya tentang agama prengas-prenges.

Arep dadi opo…?

Kamu hanya dititipi mereka, nanti kamu akan di mintai pertanggungjawaban atas mereka. Kiro-kiro kalo anakmu lebih bangga kenal artis artis, lebih bangga dengan benda benda ber-merk, lebih seneng menghafal lagu ora genah, gak kenal Gusti Allah, gak kenal kanjeng Nabi, gak bisa baca dan paham Qur’an gak ngerti budi pekerti.. ?

Lha kamu mati mau jawab apa di hadapan Gusti Allah ?

Apa hakmu menghalangi anak-anakmu lebih dekat dengan pemiliknya dengan jalan tholabul ilmi di lingkungan yang mendukung mereka menjadi lebih arif dan berbudi ? Kamu hanya perantara, dipinjami, dititipi, diamanahi…”

Mbah Sahal, kalimat “arep dadi opo?” jadi vitamin hari ini.

Tak terasa mata mulai basah. Nasihat yang langsung mengubah aksi. Jazakallaah khair.

Anakku, kamu yang ikhlas, yang kuat. Bersandarlah pada Illahi Robbi. Tetaplah istiqomah, besarkan semangatmu. Doa kami untukmu. Semoga ketikan ini, bacaan dalam hati ini, meresonansi hingga ke hatimu. Menambah vitamin juga untukmu.

Insya Allah, doa sahabat bapak dan ibumu juga akan menambah kekuatanmu.

 

Growth Mindset

Era Sekarang Memerlukan Growth Mindset

by Jamil Azzaini *)

Studi yang dilakukan Dweck (Mindset: The New Psychology of Success, 2006) mengungkapkan bahwa terdapat dua jenis mindset bagi setiap pembelajar yaitu fixed mindset dan growth mindset. Ada pembelajar yang melakukan sesuatu karena ingin dinilai dan ada yang melakukan karena ingin hidupnya berubah.

Mereka yang ingin dinilai biasanya kurang berani menghadapi sesuatu yang baru, apalagi berisiko tidak bisa atau gagal. Mereka sangat takut dinilai buruk oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka enggan menghadapi tantangan baru, mudah menyerah, metasa terancam dengan keberhasilan orang lain, dan enggan menerima kritikan yang membangun.

Mereka dengan ciri-ciri tersebut di atas termasuk dalam kelompok fixed mindset. Saya yakin Anda paham, orang-orang yang termasuk dalam kelompok fixed mindset tidak akan bertahan di era yang berubah begitu cepat, seperti saat ini.

Ada kelompok lain yang disebut Growth Mindset. Mereka belajar karena ingin hidupnya berubah. Mereka siap dan suka menerima tantangan baru. Tahan banting, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi rintangan. Mereka senang berusaha dan melatih keahliannya. Mereka senang mendapat kritikan, feedback dan saran. Bagi orang-orang yang memiliki growth mindset, kritikan, feedback dan saran adalah sarapan atau vitamin yang bisa menguatkan dirinya.

Selain itu, orang yang memiliki growth mindset akan mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain. Ia tidak iri tetapi justeru mengambil inspirasi. Ia mencari polanya kemudian ia terapkan dalam kesehariannya. Ia mengambil hikmah dan pelajaran dari keberhasilan orang-orang yang ia kenal.

Coba duduk sejenak, Anda termasuk kelompok yang fixed mindset atau growth mindset? Apabila termasuk yang fixed mindset segeralah untuk bertaubat. Apabila Anda termasuk yang merasa growth mindset perlu dibuktikan di lapangan. Benarkah Anda tahan banting? Benarkah Anda senang mendapat feedback? Benarkah Anda sering mengambil pelajaran dari kesuksesan orang lain?

Dunia saat ini memerlukan orang-orang yang memiliki growth mindset, terus bertumbuh, terus belajar, terus berlatih, terus mencari tantangan dan tidak mudah menyerah. Semoga Anda termasuk orang-orang yang memiliki growth mindset sehingga Anda tidak terlempar dari orbit kehidupan.

Catatan :

*) Jamil Azzaini adalah pengusaha, motivator, inspirator SuksesMulia. Saat ini menjadi CEO of Kubik Leadership. Salah satu perusahaan jasa pelatihan dan konsultansi ternama di Indonesia.

Pancasila Market Economy

PANCASILA MARKET ECONOMY : JANGAN PRETELI PANCASILA
(Sebuah Pencarian Maklumat untuk Ekonomi yang Berkeadilan)
Oleh : dr. Gamal Albinsaid

Dua pekan lalu, setelah memenuhi undangan dari Bupati Banyuwangi, Bapak Azwar Anas, saya langsung terbang ke Jakarta untuk bersilaturahim dengan tokoh yang saya idolakan semenjak kecil. Empat belas tahun lalu, dalam kelas bahasa inggris ketika saya bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, pernah guru bahasa inggris saya menanyakan siapa tokoh yang saya kagumi. Dengan penuh kebanggaan saya jawab Pak Habibie. Ada 4 hal yang menjadikan saya begitu mengagumi sosok Eyang B.J. Habibie, antara lain, kemampuan intelektualitasnya yang memiliki daya saing global, ketulusan cintanya yang begitu mendalam kepada Indonesia, spiritualitas yang menjadi dasar berpijak dan bergerak, dan yang keempat kemampuannya membangun harmoni keluarga dan jiwa pengabdiannya.

Mengejar kekuasaan itu sulit, tapi lebih sulit lagi meninggalkan kekuasaan. Kebanyakan politisi berambisi mengejar kekuasaan dan begitu berat sekali melepaskan kekuasaan. Namun, kekuasaan menghampiri Pak Habibie dengan mudahnya dan beliau lepaskan dengan mudahnya. Beliau benar-benar menunjukkan sebuah prinsip yang saya dapatkan dari Profesor saya 7 tahun lalu.

“If you get scientific position, it’s easy for you to get political position”.

Pak Habibie pun pada saat itu mengatakan kepada kami bahwa “I am survive in politic, but I’m not a politician. I am a technocrat”. Sebagaimana Ibu Ainun pernah menyampaikan bahwa service terbesar beliau untuk Indonesia itu memastikan Habibie menjadi teknokrat, menjadi orang yang berguna. Itu semua menjadikan saya mengagumi karakter, sosok, dan yang paling penting saya mengikuti dan meyakini gagasan -gagasan kebangsaan beliau yang visioner.

Dalam kesempatan silaturahim dengan beliau, saya menanyakan soal bagaimana menyelesaikan masalah kesenjangan di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun hingga menghantarkan kesenjangan kita terbesar ke-4 di dunia dengan koefisien gini 0,40. Tidak sampai disitu Bank Dunia angkat bicara bahwa 61% masyarakat kita memilih pertumbuhan ekonomi yang melambat asalkan kesenjangan juga menurun.

Bayangkan tahun ini kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia.

Dari diskusi panjang dengan beliau, beliau menyajikan pemikiran yang mangajak rejuvenasi pemikiran ekonomi bangsa dengan menghadirkan jawaban dari berbagai kesenjangan dan permasalahan ekonomi yang ada melalui Pancasila Market Economy (PME), yaitu Ekonomi Pancasila yang berorientasi pada pasar. Di akhir tahun 2017 ini saya sengaja menghabiskan hari demi hari untuk memahami dan menterjemahkan Prinsip Pancasila Market Economy dalam perspektif saya sesuai arahan Eyang Habibie.

Pancasila Market Economy ini penting kawan-kawan, karena diharapkan mampu membangun kesadaran baru, paradigma baru, dan sistem ekonomi baru yang hadir untuk melawan ketidakadilan ekonomi dan kesenjangan yang semakin merajalela dan menjajah keadilan sosial di Indonesia. Selama ini, kita telah mengasingkan Pancasila dalam sistem ekonomi kita, kita terjebak menjadikan Pancasila dalam slogan politik, orasi politik, dan kepentingan politik. Kita terlalu sering mengatakan Pancasila dalam lisan kita, tapi kita tidak meneladankan dalam kerja – kerja kita.

Melalui Pancasila Market Economy, perusahaan yang pro-rakyat akan tumbuh dan perusahaan yang tidak pro-rakyat akan jatuh. Market oriented itu akan menjadikan perusahaan-perusahaan tumbuh dan membangun keberpihakan sosial bukan karena peraturan, tapi karena kebutuhan pasar. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan akan menyesuaikan value yang ada dengan value yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Perusahaan tidak lagi hanya berfikir soal profit, tapi juga berfikir soal peran dalam pembangunan sosial di masyarakat.

Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan di masyarakat. Pancasila Market Economy akan menjadikan tumbuhnya tanggung jawab masyarakat yang beruntung dan sukses untuk membiayai masyarakat yang belum beruntung.

Eyang Habibie mencontohkan dengan menanyakan kepada saya mengapa saya mengembangkan Indonesia Medika, kemudian beliau melanjutkan,

“Why ? Because you are not blind. You care about them is the beginning of everything”.

Pancasila Market Economy dalam perspektif Ketuhanan Yang Maha Esa menghadirkan sebuah pemahaman bahwa sumber daya dipandang sebagai pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

Pancasila Market Economy dalam konteks Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat kita diwujudkan dalam implementasi sistem perekonomian yang bukan hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi pembangunan, tapi memastikan besarnya dampak ekonomi pada tumbuhnya kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam konteks pemerataan, dan perkembangan masyarakat yang berkeadilan. Pancasila Market Economy ini harus mampu mendorong tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertakwa yang dihasilkan dari proses pembudayaan agama dan norma masyarakat. Pancasila Market Economy ini juga harus membentuk masyarakat yang punya kapasitas dan berdaya saing.

Pada implementasi pasar, Pancasila Market Economy akan mampu berperan menampilkan wajah ekonomi Indonesia yang menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kepedulian, mengutaman kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi dan golongan. Pancasila Market Economy pada konteks ini harus mampu diterjemahkan dalam konteks etika ekonomi, etika bisnis, dan orientasi ekonomi.

Pancasila Market Economy dalam perpektif Persatuan Indonesia adalah ekonomi harus digerakkan dengan semangat kerjasama manusia yang saling menguntungkan, menjadikan kehidupan sesama lebih baik, mempererat persatuan, dan menerapkan prinsip gotong royong. Pancasila dalam konteks Persatuan Indonesia harus dilihat sebagai aktivitas yang menunjukkan tolong-monolong dan menanggung beban hidup dan tanggung jawab bersama-sama.

Pancasila Market Economy dalam konteks kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan perwakilan dapat dilihat sebagai adanya sebuah tatanan, kebijakan, dan regulasi yang memberikan dukungan kepada masyarakat ekonomi lemah. Pancasila Market Economy harus membuat peraturan yang mampu mengawal dalam pembangunan pasar berkeadilan yang memberikan peluang dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha. Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan adanya perselingkuhan antara pemimpin bangsa dan perwakilan rakyat dengan pengusaha-pengusaha untuk memperkaya mereka dan melakukan transaksi politik dan kebijakan.

Pancasila Market Economy akan memudahkan kita melihat dan membedakan perusahaan – perusahaan mana yang punya misi pembangunan sosial dan pancasilais. Kita juga akan mampu melihat perusahaan – perusahaan mana yang menjelma menjadi VOC gaya baru, mengambil sumber daya di Indonesia, menjajah hak – hak keadilan sosial masyarakat Indonesia, dan anti Pancasila. Pancasila Market Economy seyogyanya menjadi rujukan para pemimpin untuk mengambil kebijakan yang bijaksana dengan prinsip keberanian, keadilan, dan keberpihakan pada masyarakat ekonomi lemah. Konsep Pancasila Market Economy harus mendorong dan memberikan keberanian melawan VOC – VOC gaya baru ini.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dilihat pada perpektif kepemilikan aset, tanah, modal tidak boleh bertumpuk pada segelintir orang yang berakibat pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mendapatkan hak-hak sosial dan hak-hak dasar dalam kehidupannya. Secara praktis, Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan ada orang atau sedikit masyarakat yang memiliki kekayaan yang sangat besar, namun disisi lain ada masyarakat yang tak mampu berobat, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dan tak mampu tinggal di tempat yang layak. Pancasila Market Economy tidak akan membiarkan akumulasi kekayaan yang melampaui batas pada satu atau kelompok orang dan memberikan kesengsaraan kepada sebagian besar masyarakat lain. Tidak boleh terjadi so few have so much, so many have so little.

Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus mampu memastikan adanya jaminan pendidikan, kesehatan, dan terpenuhinya sandang, pangan, dan papan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila Market Economy pada akhirnya mampu memastikan kepemilikan masyarakat terhadap sumber daya yang ada dan memastikan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Pancasila Market Economy diyakini mampu melawan globalisasi yang manifestasinya adalah pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara lain, setelah dilakukan proses produksi, produk-produk tersebur dijual kembali ke negara asal. Dengan demikian produk-produk yang seharusnya dapat diproduksi oleh jam kerja masyarakat Indonesia digantikan oleh jam kerja masyarakat negara lain. Hal ini mengakibatkan terbatasnya lapangan kerja dan peluang ekonomi masyarakat. Menurut Eyang Habibie, Implementasi sila ke-5 dalam Pancasila Market Economy adalah memperjuangkan jam kerja bagi rakyat Indonesia sendiri. Hal tersebut dapat dicapai melalui dukungan regulasi dan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Saya melihat Pancasila Market Economy ini mampu memberikan nafas baru, semangat baru, dan harapan baru diantara berbagai keterpurukan ekonomi bangsa yang hari ini kian memburuk dan memberikan rasa ketidakadilan di masyarakat. Lebih jauh lagi, Pancasila Market Economy akan mampu melahirkan kesadaran baru untuk mengembalikan semangat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dalam perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, Pancasila Market Economy ini harus mampu memberikan rasa adil melalui kesejahteraan.

Titik utama dari nasehat Eyang Habibie yang saya tangkap adalah adanya kesungguhan untuk menjamin, memastikan, dan mendorong penerapan Pancasila secara menyeluruh. Saya secara pribadi melihat bahwa Pancasila Market Economy tidak boleh disimplifikasi dalam mengejawantahkan sila kelima pancasila saja, tapi lebih dari itu, mampu membawa nilai luhur kelima sila Pancasila secara holistik dan menyeluruh dalam penerapan ekonomi yang berfokus pada tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara.

Pada implementasi konsep ini, saya fikir kita pemuda-pemudi Indonesia harus mulai menyuarakan dan mengawal Pancasila Market Economy. Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan pancasila secara keseluruhan sebagai sebuah kesungguhan dan harus seimbang. Tidak boleh dipreteli seenaknya. Jika pancasila dipreteli seenaknya jangan kaget kalau bangsa ini dikuasai oleh segelintir orang.

Siapapun yang membiarkan ketidakadilan sosial tumbuh dimasyarakat, melakukan penguasaan akumulasi ekonomi pada pribadi secara berlebihan, dan mengakibatkan ketidakmampuan jutaan masyarakat memenuhi hak-hak dasarnya, maka ia telah mengkhianati pancasila. Bagi saya, 1 teladan pengamalan pancasila lebih baik dari 1000 pekikan pancasila.

Akhir kata, ketika berpamitan dengan beliau, saya memohon izin untuk memeluk beliau dan saya menancapkan dalam hati dan fikiran saya untuk menyebarkan pemikiran beliau kepada generasi muda Indonesia. Terima kasih Eyang Habibie sudah menyebut kami sebagai Intelectual Grandchild. Bagi saya, we are not only your intellectual grandchild, but we are also your ideological grandchild to ensure the Indonesian people get social justice.

Selamat datang Pancasila Market Economy.

Buah Harapan

Beberapa kali artikel ini saya baca. Menggugah dan menyemangati, terlebih ketika hati sedang gundah gulana.

Perkenankan saya berbagi. Semoga sahabat berkenan mengambil hikmah dari buah pena Adimas Ust. Salim A. Fillah ini.

BUAH HARAPAN

“Sebuah harapan, sekecil apapun, jika dibandingkan dengan keputusasaan, adalah kemungkinan tanpa batas.”
(Silver, dalam ‘L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties’)

“Al Quran”, demikian Syaikh Muhammad Al Ghazali : “Adalah Kitab tentang kegagalan & harapan. Ia hargai setiap perjuangan insan, bukan hasilnya; ia larang mereka berputus asa dari kasih sayang Penciptanya. Maka siapapun, dalam keadaan apapun, akan menemukan semangat baru untuk bangkit jika membacanya.”

Kegagalan apa yang lebih besar dari melanggar larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga?

Tapi Adam & Hawa dengan doa sesalnya telah memberi harapan pada anak cucu mereka; kesempatan masih dianugrahkan selama hayat dikandung badan.

Kekhilafan apa yang lebih ngeri dari membunuh?

Tapi Musa, pelarian, & jalan pengabdiannya di Madyan telah menyalakan binar di mata manusia yang hendak menempuh jalan juang bahwa Allah selalu berlimpah memfasilitasi tekad suci.

Keberpalingan apa yang lebih bodoh daripada meninggalkan tugas dariNya dengan hati murka?

Tapi Yunus di dalam perut ikan di dasar samudera telah menerbitkan ilham bagi siapapun, bahwa di puncak rasa tak berdaya itulah akan datang pertolonganNya yang Maha Jaya.

Dan seindah-indah harapan pernah diucapkan Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam di tengah tawaran sedahsyat-dahsyat kekuatan. Saat itu, di Qarnul Manazil, setelah 3 hari dakwah di Thaif yang menguras jiwa & raganya, berbuah usiran & sambitan.

“Wahai Rasulallah,” ucap malaikat penjaga gunung :

“Perintahkanlah, maka akan kubalikkan gunung Akhsyabain ini agar membinasakan mereka yang telah mendustakan, menista, & mengusirmu”

“Tidak,” jawab Nabi Muhammad SAW :

“Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Aku berharap agar dari sulbi dan rahim mereka, Allah keluarkan anak keturunan yang mengesakanNya & tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”

Bersebab hati yang ditanami harapan semacam ini, orang yang pernah berniat membunuhnya kini berbaring mesra di sampingnya, dan dari penista Quran Walid ibn Al Mughirah, lahirlah pedang Allah.