Dirgahayu Indonesia

Dirgahayu Indonesia

Negeri yang dijuluki untaian mutiara pada khatulistiwa ini memang menarik. Bak gadis, banyak yang melirik. Kilas balik sejarah menguatkan ungkapan itu. Sudah berapa negeri lain yang berkelana mencari sumber daya. Mereka pun kepincut menuju bumi nusantara ini. Bahkan perang pun rela mereka tempuh untuk mendapatkannya. Lada, pala, vanili, cengkeh, dan masih banyak lagi.

Tapi kini, entah kenapa komoditi itu lambat laun justru sekarang mulai pudar. Perlu usaha khusus untuk menghidupkannya kembali. Lahan dan iklim kita mendukung. Memang bukan pekerjaan mudah. Tapi peluang besar itu justru ada pada komoditi pertanian yang akan dan masih dibutuhkan manusia. Ada beberapa yang layak dikemukakan.

Lada atau sering disebut merica dikenal sebagai rajanya rempah-rempah atau King of Spiece. Produksi dunia masih dikuasai negara tetangga kita, Vietnam dan India. Di samping rasanya yang pedas sebagai salah satu bumbu masak, lada memiliki beberapa  manfaat.  Bagi kesehatan lada juga bisa digunakan sebagai zat pengeluaran keringat, pengeluaran angin, peluruhan  air kencing,  peningkatan nafsu  makan,  peningkatan aktivitas kelenjar-kelenjar pencernaan, dan ramuan  obat reumatik. Lada juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan (pembunuh hama kapas).

Vanili, pemasok terbesar kebutuhan dunia dihasilkan oleh negeri kita dan saling berkejaran dengan produksi dari Madagaskar dan Meksiko. Vanili awalnya adalah tumbuhan dari Meksiko dan digunakan sebagai pewangi minuman coklat. Setelah itu disebarkan oleh orang Eropa. Vanili pun berkembang sebagai penambah aroma dan rasa yang kita rasakan hingga saat ini.

Pala tanaman asli dari Maluku ini juga telah berabad-abad menjadi komoditi dunia. Penghasil terbesar justru dari Guatemala. Biji pala dapat diolah  menjadi minyak atsiri. Minyaknya sebagai campuran parfum atau bisa juga campuran sabun wangi. Bubuk Pala digunakan untuk penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar.

Kakao. Tanaman ini bijinya diolah menjadi cokelat, salah satu bahan utama makanan dan minuman. Penghasil terbesar masih didominasi oleh Pantai Gading dan Ghana. Siapa yang tak kenal manfaat produk olahannya ini.

Dan masih banyak komoditi pertanian yang mendunia dan bisa dikembangkan di Indonesia. Kalau dulu kita diincar dan dikuras habis oleh dan untuk kepentingan bangsa lain, itu artinya kita memang punya dan kaya. Seharusnya kita bisa menghasilkannya lagi. Jelas bedanya kali ini, dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Petani diberikan edukasi. Lahan dibuat lebih produktif. Bibit juga dibudidayakan dengan teknologi agar lebih unggul dan produktif.

Pemerintah memberikan arahan, koordinasi, dan juga pasar yang dikawal ketat. Pemanfaatan lahan bisa seimbang. Ekosistem terjaga, namun ekonomi terus meningkat. Ada intensifikas, ada pula ekstensifikasi. Atau apa pun namanya. Agroindustri bisa menjadi penopang sebuah negeri. Dejavu.

Kita tak kekurangan orang pintar sekaligus inovator. Pusat penelitian dan laboratorium tersebar di seantero negeri. Kalau zaman dulu saja bisa, sekarang harusnya jauh lebih bisa. Teknologi semakin canggih. Sejarah itu bisa kita ulang. Bukan sekedar siaran ulang. Kita ulang dengan tambahan sentuhan teknologi. Kita hadirkan kembali sebagai pelecut semangat dan legacy bagi generasi mendatang. Negeri gemah ripah loh jinawi, bukan impian. Jangan pernah lelah mencintai dan berkarya untuk negeri yang kita cintai ini.

Indonesia tangguh. Indonesia tumbuh.

Dirgahayu Indonesia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

18 − twelve =