Kemesaraan Itu, Jangan Cepat Berlalu

Sahabat yang berkecimpung di dunia usaha, atau yang menggeluti fungsi pengadaan, pernahkah ditinggal pemasoknya ? Vendor tidak berkenan bekerja sama lagi ?
Terlebih ketika kita sedang mengalami kesulitan. Saat upaya mempertahankan eksistensi bisnis terkena persaingan sengit. Banting tulang membuat cost saving, agar harga jual sedikit menarik. E..e..e.. kita malah kehilangan partner. Tambah kelimpungan. Posisi kita makin goyah. Tak sedikit, karena kejadian itu, perusahaan bangkrut. Tutup. Beralih ke usaha lain. Atau justru berhenti sama sekali. Menyakitkan.
Jika jawabannya, pernah ! Bahkan sering !
Dari pada uring-uringan, sewot, maka introspeksi adalah hal yang bijak. Melakukan review seperti apa kita memperlakukan vendor. Tentu saja aksi fire fighting, harus dilakukan segera. Cari pengganti supplier, agar dampak yang lebih parah dapat dihindari. Namun, secara jangka panjang mengelola hubungan dengan pemasok sangat penting.
Tapi sebaliknya, tidak jarang, ketika kita mengalami kepanikan karena serangan kompetitor. Saat produk atau jasa kita digempur habis-habisan. Supplier kita datang dan memberi beberapa solusi. Ia membantu tak kenal lelah. Kalau sudah begitu, energi kita untuk bersaing jadi berlipat, bukan ?
Bagaimana mendapatkan kemesraan seperti itu ?
Saya mengemukakan 3 hal dalam menjalin hubungan yang bisa dibilang istimewa itu. Komunikasi yang jujur penuh keterbukaan. Mendengarkan kepentingan (termasuk masukan) pemasok. Melibatkan mereka pada proses bisnis kita.
Pada kesempatan ini, saya akan membahas poin yang ketiga. Melibatkan pemasok dalam proses bisnis kita. Upaya ini menciptakan peluang. Peluang penghematan bagi perusahaan. Peluang pengembangan keahlian bahkan bisnis baru bagi supplier. Create new opportunities for both parties.
Sebagai contoh pada saat akan meluncurkan produk baru, perusahaan fokus pada kemasan. Termasuk di dalamnya, packaging materialnya. Kemasan yang unik dan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelanggan, anak-anak.
Salah satu vendor utama diundang berdiskusi oleh research & development team. Tim internal bercerita banyak. Dicurahkan latar belakang, ide awal, desain reng-rengan (baca : belum final), termasuk di dalamnya material yang akan digunakan. Tim pemasok yang memang sudah malang melintang di dunia kemasan, menjadi pendengar. Setelah mendapatkan seluruh gambaran yang kami inginkan, mereka mengajukan material yang berbeda, desain masih tidak berubah jauh. Belum detail memang. Tapi feedback mereka sangat membantu. Mereka meminta waktu melakukan uji coba lebih rinci.
Dalam satu bulan, setelah melakukan uji coba beberapa kali, ditemukan formula lapisan yang pas bagi packaging produk yang dimaksud. Kemasan pun dilanjutkan kepada tahap uji selanjutnya, tes isi dengan produk yang akan dipasarkan.
Hasilnya, kemasan itu pas dan sesuai, bahkan harganya justru lebih murah dari desain dan bahan yang kami rencanakan sebelumnya.
Kenapa hal itu bisa terjadi ?
Perusahaan packaging memang kompetensi intinya di situ. Hampir tiap hari mereka berkecimpung dalam dunia kemasan. Riset, inovasi dan pengembangan juga di seputar itu. Sudah sego jangan (baca : makanan sehari-hari) kata orang Jawa. Sedangkan kita, sebagai penghasil produk, tentunya lebih fokus pada core competency melakukan manufaktur isinya. Inilah yang dapat menjadi salah satu penghematan bagi perusahaan. Pemasok memberikan solusi terbaik untuk kita. Di samping itu, vendor juga mendapatkan peluang baru. Bisa jadi dengan new design request tadi, bagi pemasok ada investasi mesin baru, ia punya knowledge baru, bahkan teknologi yang baru. Ia pun berkembang. Saling menguntungkan, bukan ?
Jika situasi telah terwujud seperti itu, coba dibayangkan sejenak. Ketika suatu saat ditemukan komplain dari pelanggan bahwa kemasan ada yang bocor, bukan tidak mungkin mereka yang maju pada garis terdepan. Mereka akan all out untuk mengatasinya. Betul yang terkenan dampak adalah penghasil produk jadinya. Namun, itu bisa berimbas pada perusaahan kemasan. Karena cepat atau lambat, pelanggan akan tahu kemasan diproduksi siapa. Gagal di pasar, bisa jadi kehilangan kepercayaan. Ia bisa kehilangan pelanggan lain. Teknologinya tidak laku. Kehilangan pelanggan lain, bisa menghambat perkembangan bisnisnya. Pemasok dengan tangan terbuka dan kerja keras membantu kita menyelesaikan keluhan itu.
Hubungan seperti itu, adalah kemesraan yang patut dijaga. Jangan biarkan ia cepat berlalu.  Karena justru relationship yang semacam itu yang bisa berkontribusi menyelamatkan kita di saat krisis. Menentramkan hati kita.
Jadi teringat lagu dan liriknya Iwan Fals, yang hits akhir 1980-an. Lagu yang legendaris dan banyak dibawakan oleh penyanyi top negeri ini.
Kemesraan
by : Iwan Fals
Suatu hari
Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi
Burung camar terbang
Bermain diderunya air
Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita
Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu
Hatiku damai
Jiwaku tentram di samping mu
Hatiku damai
Jiwa ku tentram
Bersamamu  
Jika tertarik lebih dalam untuk membahasnya, silakan diberikan masukan dan komentar.
Salam hangat.
This is AriWay
www.ariwijaya.com
Jika sahabat memperoleh manfaat dari buah pena ini, silakan dibagikan kepada relasi, kolega lain.
Silakan juga bergabung pada Facebook Group “Forum Terobosan dalam Proses Bisnis” dengan klik link ini : 
https://www.facebook.com/groups/1142862102437435/?fref=ts
Bisa juga menikmati pada Facebook Fanpage “Cost Killer Trainer” dengan klik link ini :
https://www.facebook.com/AriWijayaDj/?fref=ts
Follow twitter @AriWijayaDj

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *