Keputusan itu Membuatmu Galau ? by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Pernahkah anda mendapati situasi saat pilihan, keputusan, atau proposal yang anda pilih, dibatalkan ? Ditolak ? Misal, dibatalkan pasangan anda? Tidak dikabulkan atasan anda? Ditolak partner bisnis ? Atau karena hal lain, misal salah jadwal berimbas perubahan ?

Jawaban sebagian besar orang yang saya sampling adalah pernah bahkan sering. Jika jawaban anda serupa, maka mohon perkenan untuk memutar kaset memori. Coba dikumpulkan rekaman itu. Agar lebih spesifik, mari dikerucutkan ketika keputusan itu dibatalkan oleh orang yang punya pengaruh besar kepada anda. Orang tua misalnya. Atasan di tempat kerja. Atau orang yang punya duit alias owner.

Jika anda karyawan, mohon dikerucutkan lagi. Karena bagi karyawan itu juga bisa berdampak pada kinerja.

Bagaimana perasaan anda ketika itu ? Apa reaksi anda ketika itu ?

Banyak orang yang saya temui mempunyai jawaban mirip. Merasa tidak dihargai. Kecewa. Ngedumel. Marah. Sembuhnya pun lama. Sadar atas kecewa dan marah butuh waktu. Memang, hal itu tidak perlu berlarut, harus segera berubah. Bereaksi positif. Bisa walau tidak mudah.

Ada pula memang yang bersikap easy going. Pasrah. Ada yang bersikap simple :

“Lha wong yang punya duit tidak mau, ya sudah. Kita buat kajian lain. Kita buat proposal lain. Diajukan lagi nanti”, ujar salah seorang sahabat dengan enteng menanggapi hal semacam itu.

Response yang sangat positif. Banyak sudut pandang tentang hal ini.

Saya dan tim juga pernah mengalami hal serupa. Kajian yang kami berikan sudah komprehensif. Beberapa cocerns pemegang keputusan dan wakil pemilik modal pun sudah kami tambahkan. Plus ada tim yang langsung site visit untuk melakukan perbandingan ke bisnis serupa. Menurut kacamata kami sudah sangat lengkap kajian teknis, finansial dan juga mitigasi risikonya. Tapi apa daya, ketika presentasi beberapa kali dilakukan dan presentasi final usai, keputusan manajemen telah dijatuhkan. Kami tidak diijinkan meneruskan kajian itu. Kami tidak disetujui menjalankan bisnis itu. Terlalu berisiko.

Tim pun patah arang. Tidak semangat. Bahkan ada yang marah.

“Kajian kita ini kurang apalagi ?”

“Sudah lengkap teknis, mitigasi risiko, bahkan indikator keuangan pun sudah sesuai bahkan melampaui yang disyaratkan”, tukas salah seorang anggota tim yang menjadi person in charge proyek itu.

Saya pun sempat geram. Tapi hal itu tidak boleh berlarut. Kami konsolidasi. Surat resmi sikap perusahaan, kami layangkan kepada calon partner bisnis kami.

Tim harus jalan, move-on. Masih banyak peluang lain. Kami pun melakukan persiapan pengembangan bisnis lain. Memulai kajian dari nol lagi.

Sekira 2 bulan setelah rapat keputusan itu, ada yang mengejutkan. Bisnis itu pun ternyata dibidik oleh perusahaan lain yang masih ‘saudara’ dengan kami. Infomasi disampaikan oleh pemilik bisnis yang awalnya akan kami ajak kerjasama.

Sangat memukul memang. Geram yang hilang pun timbul kembali. Ada pertanyaan besar yang menggelayut di benak saya.

“Kenapa perusahaan itu boleh memasuki bisnis itu sedangkan kami tidak ? Padahal kami serumpun. Pemilik modalnya pun boleh dikatakan sama”.

“Bukankah concern utama adalah terlalu berisiko yang tidak kuat dan sanggup dimitigasi ?”

“Apakah jika dilakukan oleh perusahaan itu, risiko menjadi turun bahkan berkurang sama sekali?”

“Ada apa sebenarnya ?”

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Karena saya yakin hal yang sama akan menjadi pertanyaan orang yang memiliki visi dan misi yang sejalan. Kadang persaaan itu yang membuat galau. Pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.

Bukan masalah diskriminasi keputusan. Bukan. Tapi kami ingin belajar banyak lagi, bagaimana memberikan presentasi yang memincut manajemen bahkan pemegang saham agar bisa mendapat persetujuan. Materi sama, obyek sama, tentunya ada yang berbeda, sehingga bisa lolos di tempat lain. Besar harapan ada yang memberikan keterangan gamblang. Penjelasan itu pun sudah sangat memadai untuk saya yang sedang belajar ini. Memang itu permintaan berlebihan.

Sembari terus mencari jawabannya. Saya kontak teman. Komunikasi dengan pihak lain. Tidak lupa, saya pun membesarkan hati. Ini perlu agar energi yang dimiliki tetap punya daya dorong. Tidak sia-sia. Terlebih ada sentilan dari guru saya ketika mengikuti kajian rutin. Diskusi singkat yang justru membuat semangat itu membara.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

 

Duh, Gusti Allah, terima kasih. Setidaknya firmanMU ini membasuh kecewa saya. Melepaskan kegaluaan saya. KetetapanMU pasti ada hikmahnya bagi saya dan tentunya bagi tim dan perusahaan ini. Saya saja yang terbatas pandangan dan pengetahuan. Manusia memang tempatnya dan punya subyektivitas.

Bisa jadi proyek itu memang tidak baik bagi saya, tim dan perusahaan.

Ya Allah, mohon luaskan wawasan Kami. Bersihkan hati Kami. Senantiasa jaga hati Kami. Berikan selalu tempat sandaranMU sebagai tempat Kami hanya bergantung dan berharap . Apa pun yang melekat pada kami, amanah, tugas, jabatan, harta, apa pun itu, senantiasa bisa lebih mendekatkan diri Kami padaMU. Kami lebih menghamba dan tambah sujud kepadaMU, Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *