Lagi dan Lagi

Suatu saat saya di WA teman. Ternyata ia berpindah tempat berkarya.

“Mas, apa bisa kita ketemu. Ada yang ingin aku diskusikan”, pesannya singkat dan padat.

Saya langsung angkat telpon. Maklum, surprise dan janur gunung (baca : tumben), karena lama sekali kami tidak berkomunikasi. Singkat cerita, ia mendapat tugas baru untuk membenahi rantai pasokan perusahaan tempat ia bekerja. Supply chain menagement-nya perlu dirombak.

Pagi itu sesuai janji, kami bertemu di salah satu tempat nongkrong sekaligus toko kelontong. Sobat saya yang satu ini, sebelum cerita mengomentasi tubuh saya yang tambun. Tambah melar. Jauh berbeda dibanding dulu pas terakhir kami bertemu sebelum kena PHK.

Ia pun mulai menerangkan proses bisnisnya. Ia minta pendapat, darimana aksi harus dimulai. Agak sulit menggambarkannya ketika itu, meski keterangan bisnis prosesnya nampak tidak ada masalah. Sebagai upaya Saya hanya menimpali dengan cerita beberapa kasus yang saya angap serupa dengan bisnisnya. Bisnis material bahan bangunan. Tetap saja, masih ngambang. Belum ada titik temu.

Saya pun minta ijin bisa berkunjung ke lokasi pabriknya di MM2100, Bekasi. Ini penting untuk melihat kondisi nyata. Disepakati hari Jumat siang.

Kunjungan singkat dan juga peninjauan ke lapangan pun, mendapat simpulan penting. Ada 3 hal besar yang saya catat : Alur proses yang tidak efisien, mutu produk yang tidak sesuai dan  penempatan bahan baku, barang jadi dan barang rusak yang bercampur dalam satu tempat.

Saya coba fokus satu hal. Alur proses. Ternyata ada aliran  bahan baku yang bertumpuk dalam satu jalur dengan barang jadi. Sehingga tempuk alias tida bergerak, jika dipaksakan. Antrian menjadi relatif lama, utamanya untuk pengangkutan produk jadi. Tidak mengherankan ketika terlihat banyak truk yang mengular di jalan komplek industri itu.

Saya menyarankan ada sodetan atau membuat pintu baru untuk finished goods. Kebetulan masih ada space yang memungkinkan mewujudkan inisiasi itu. Pembenahan yang bisa jadi sederhana. Hasilnya bisa berbeda. Proses muat tidak perlu waktu tunggu yang lama. Pemenuhan order pelanggan juga menjadi lebih cepat.

Apa yang menjadi benang merah ? Proses bisnis sudah ada. Dokumen pun lengkap. Langkah penting lainnya adalah kondisi lapangan yang sesuai dengan alur proses yang diskenariokan. Bagaimana jika tidak memungkinkan  ? Berkaca kasus tadi, jika tanah tidak memadai lagi, maka perlu diatur jadwal yang sesuai. Agar tidak terjadi tumpah tindih aktivitas bongkar muatan bahan baku dengan muat bahan jadi.

Setiap inisiasi membumikan proses bisnis harus dicoba. Direalisasikan. Karena dengan begitu ada pengalaman. Jika gagal terus ? Sebenarnya tidak ada kata gagal. Kita belum menemukan solusi yang pas. Terus membuat aksi. Tidak diam pasrah bongkokan.

Persis seperti pesan Richard Branson :

“The best way of learning about anything is by doing.”

Sahabat, mari kita cek lagi apakah proses bisnis yang sudah kita buat sesuai dengan kondisi di lapangan ? Jika belum, masih banyak peluang adjustment. Perbaikan yang berkesinambungan. Aksi lagi dan lagi.

Salam terobosan !

Terus berkarya untuk negeri.

This is ariWAY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *