Layanan Terus ON by Ari Wijaya

Layanan Terus ON
by Ari Wijaya

Seorang gubernur di Negeri Seberang mendapatkan kepercayaan dari presidennya untuk menjadi tuan rumah pertemuan para tokoh negeri serumpun. Sang gubernur berpikir keras, untuk memuliakan tamunya. Menurut dia, salah satunya adalah kesan pertama harus menggoda. Maka ia memerintahkan stafnya untuk membuat welcome drink yang cepat saji, khas dan menyehatkan. Para staf membuat teko raksasa dengan ratusan kran. Kran itu untuk memudahkan dan mempercepat pengambilan.

Gubernur membagi tugas. Sebagai penyedia welcome drink, ia meminta rakyatnya yang di lereng gunung untuk menyumbangkan susu sapi segar satu liter tiap satu keluarga. Teknisnya, setiap selesai memerah susu bakda subuh, susu dimasak dan diantar ke alun-alun kota. Susu dituangkan di teko raksasa di alun-alun kota. Pusat penyambutan para tokoh negeri serumpun.

Seluruh rakyat lereng gunung itu antusias. Tak sedikit yang mempertanyakan kebijakan itu. Tapi, mereka mulai menyiapkan susu terbaik. Susu daerah itu terkenal segar, kental dan legit. Namun, si Pulan, salah satu penduduk lereng gunung, ada yang berpikiran lain.

“Jika aku menyumbang satu liter air, aku yakin nggak kentara. Nggak terasa. Toh, masih ada 12.303 liter susu. Kalau tercampur 1 liter air, pasti tak terasa”.

Hari perhelatan pun tiba. Benar sesuai perkiraan Sang Gubernur, tamu berdatangan bergelombang. Banyak sekali. Seluruh tamu, sembari menunggu opening ceremony, diberikan gelas dan dipersilakan menikmati welcome drink. Gubernur naik panggung dan menyambut tamunya dengan bangga :

“Saudara-saudaraku serumpun, silakan menikmati minuman hasil produksi unggulan kami. Susu sapi yang segar, kental, legit, dan insya Allah menyehatkan”.

Panitia mulai mendampingi dan menunjukkan teko raksasa. Tamu pun menghampiri kran dengan tertib. Segera setelah gelas terisi, mereka meminum welcome drink. Tidak lama setelah mereguk minuman itu. Mereka heran, terpaku sejenak. Minuman yang katanya susu tadi memang segar, tapi bening dan hambar. Masya Allah ! Ternyata mereka minum air! Bukan susu yang segar, kental dan legit. Suasana pun heboh dan acara berantakan. Meski air juga menyehatkan, tapi Sang gubernur pun tetap malu pada para tokoh dan tentunya Pak Presiden.

Apa gerangan yang terjadi ? Selidik punya selidik, ternyata seluruh penduduk lereng gunung berpikiran seperti si Pulan. Menyumbang air, bukan susu sapi segar. Toh seliter ini, tak kan terasa. Begitu, pikiran yang ada dalam benak mereka. Gubrak !

Sahabat, ijinkan saya membuat perumpaan kejadian di Negeri Seberang terjadi pada perusahaan kita. Saya ambil contoh fungsi procurement. Mohon dimaklumi, karena saya pernah mendapat amanah pada bagian pembelian.

Fungsi pengadaan adalah bagian team di sebuah organisasi. Sama dan setimbang perannya seperti fungsi lainnya. Tapi coba dibayangkan. Jika salah satu saja mencoba menurunkan layanannya, maka bisa berakibat buruk.

Ini misalnya :

“Ah, sekali-kali lah, negosiasinya nggak usah repot. Kali ini harga tak perlu dinego. Toh, nanti penghematan bisa diperoleh teman-teman buyer yang lain”, gumam salah satu buyer sebutlah namanya si Fulan.

“Target penghematan bisa ditutup oleh prestasi si Badu atau yang lain. Kali ini, santai dulu lah”

Apa yang terjadi jika si Badu punya pikiran yang sama dengan si Fulan. Parahnya, seluruh team saat itu mempunyai pikiran yang sama ? Bisa jadi budget jebol. Perusahaan harus membeli lebih mahal dari seharusnya. Untung bisa menipis. Kalau pikiran itu dilakukan juga oleh insan organisasi yang lain? Berpikir dan bertindak sama untuk menurunkan tingkat layanannya kepada orang lain atau bahkan kepada pelanggannya. Kepada client-nya ? Perusahaan bisa tidak kompetitif. Bangkrut dan akhirnya tutup!

Layanan tak boleh menurun. Harus dijaga terus. Satu saja yang menurunkan, bisa saja itu terjadi bersamaan. Karena kita tidak tahu, kapan saat itu terjadi. Bisa bersamaan seperti tadi. Jika sudah begitu, bisa seperti susunan kartu domino yang tumbang. Ia tidak roboh sendirian, tapi merembet dan merobohkan susunan di sampingnya. Efek domino. Bisa berakibat fatal, bukan ? Karena tidak hanya Kita yang roboh, tapi meluluhlantakkan semuanya.

Saya yakin pada fungsi yang lain juga harus tetap nyala. Semangat. Karena kita mata rantai yang saling bergandengan.

Layanan jangan pernah ‘mati’. Kalau mulai turun, mari coba dicari segera penjungkitnya. Jangan pernah berpikir dan berniat sekali pun untuk OFF. Layanan harus terus ON.

Anda mau kita kalah ? Kita luluh tantak ?
Saya yakin tidak ada yang ingin itu terjadi.

Mari berubah.
Mari berbenah.
Mari bahu membahu. Bekerja keras. Saling mendukung. Saling mendoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *