Sabalong Samalewa by Ari Wijaya

Tulisan ini saya rangkai sekira setahun lalu…Sengaja saya tampilkan kembali untuk memberi semangat utamanya diri sendiri dan my new team, ‘the young guns’ new venture non oil and gas…

Sabalong Samalewa

by Ari Wijaya @AriWijayaDj

Menjelang maghrib, Kami mendarat di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III atau dulu dikenal dengan Bandara Brangbiji, Sumbawa Besar. Malam itu, Kami manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kami berdiskusi sembari makan ikan sepat bakar yang rasanya maknyus. Pembahasan ringan tapi serius dengan salah seorang pejabat penting di Pemprov NTB yang kebetulan sedang ada dinas di Sumbawa Besar. Beliau menyertai kunjungan Gubernur NTB di Pulau Sumbawa. Esok pagi sudah menunggu jadwal padat lainnya. Kami menginap di hotel seberang bandara. Wake-up call nya pakai ketuk pintu. Sederhana namun efektif.

Esok harinya. Kami sepakat bersama team setempat memulai perjalanan sekira pukul 06.30 WITA. Perjalanan pertama Kami meluncur ke area sejauh 70 KM arah Bima. Sebuah kota kecamatan yang kaya akan hutan bambu. Kecamatan ini masih masuk di wilayah Kabupaten Sumbawa. Beberapa bukit terlihat penuh dengan tanaman bambu. Usai melihat sekeliling, kendaraan Kami arahkan ke salah satu kampus dan pesantren di balik Bukit Olat Maras. Kami singgah karena mereka punya potensi mikrohidro. Ada dam di hulu sungai dekat pesantren. Dan yang tak kalah penting, potensi engineer masa depan yang dilahirkan kampus itu. Bakda Dhzuhur, Kami meluncur ke Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Saya mencoba menggali informasi dan teknologi  dengan teman yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan tambang emas di Sumbawa.

Dalam perjalanan darat, khususnya  di wilayah Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Saya melihat tulisan di atap beberapa kantor pemerintahan dan rumah penduduk. Tercetak tebal dan mecolok dengan huruf kapital :

“SABALONG SAMALEWA”

“Pak, dua kata itu semboyan Kabupaten Sumbawa Besar ? Apa artinya ?” tanya Saya kepada Pak Sigar, sembari mengarahkan telunjuk Saya ke atap sekolah. Pak Sigar adalah orang yang berkenan menjadi pendamping dan penunjuk arah perjalanan Kami. Ia bersama Pak Dayat yang bertugas di belakang kemudi.

“Betul. Itu artinya, membangun dunia akhirat” jawab beliau sembari tersenyum dan penuh percaya diri.

Tidak jauh dari warung makan nasi campur, tempat Kami sarapan, ada gapura dengan kalimat tambahan pada tulisan itu : ‘Lema Mampis Bawa Rungan’. Jika diterjemahkan bebas, mempunyai makna : ‘agar cepat membawa kabar baik’. Mari Kita rangkai kalimat tersebut.

“Sabalong Samalewa, Lema Mampis Bawa Rungan”.

Jika untaian kata yang menjadi visi sebuah kabupaten tersebut dengan berbekal terjemahan bebas Pak Sigar, maka akan berarti :

“Membangun Dunia Akhirat, Agar Cepat Membawa Kabar Baik”

Subhanallaah. Salah satu pernyataan tentang visi, cita-cita yang sangat luhur. Ketetapan hati para founding father Sumbawa yang visioner. Visi yang komplet dengan menggabungkan upaya duniawi dengan ukhrowi. Menurut hemat Saya, hal itu telah dibuktikan. Beberapa hasil upaya pembangunan, mulai memberikan kabar baik bagi masyarakat Sumbawa Besar. Jalan yang mulus. Setidaknya jalan yang Kami lalui, hampir tidak ditemui lubang. Kalau ada itu pun minor. Pelabuhan Badas terlihat menggeliat dengan beberapa kapal besar buang sauh untuk bongkar muat. Bandara juga terlihat ramai. Pertanian fokus pada 2 jenis bahan pangan, padi dan jagung. Sejalan dengan itu, terlihat 2 pabrik pengolahan jagung dan padi dengan silo berkapasitas sekira 6 ribu ton juga beroperasi dengan baik. Peternakan sapi dan kerbau sudah menjadi salah satu lumbung protein hewani Indonesia. Pak Sigar berseloroh bahwa jumlah hewan ternak sapi di Sumbawa bisa jadi jauh lebih besar dari jumlah penduduk Sumbawa. Sekedar informasi, jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa sebanyak sekira 480 ribu jiwa.

Pesantren dan sekolah juga dibangun dengan baik, terlebih diinisiasi oleh masyarakat. Bahkan ada 2 perguruan tinggi swasta yang siap memberikan output sarjana pendidikan, ekonom, ahli komunikasi, dan juga engineer handal. Prestasinya telah mengharumkan Indonesia. Belum lagi kehidupan sehari-hari yang religious. Masjid berdiri megah, juga dengan dana swadaya masyarkat.

Jika ditotal perjalanan darat Kami hari itu, sekira 650 KM, total 17 jam. Itu termasuk diskusi, makan, isi bahan bakar. Dan tentu saja, berhenti untuk melepas lelah. Safety first. Boleh dikatakan Kami mengiris wilayah Utara hingga Selatan Pulau Sumbawa. Sekira pukul 24.15 WITA, Kami baru tiba kembali di hotel.

Bicara visi, tentunya tidak ada ubahnya seperti perusahaan. Saya punya keyakinan, dengan visi yang jelas ada suatu yang dituju. Team yang bersama Kita pun akan menyeragamkan langkah, serempak bergerak. Berupaya bersama guna mewujudkan cita-cita korporasi.

Kami sangat terinspirasi dengan motto ‘Sabalong Samalewa’. Semoga Kami dapat menjadi bagian dalam membangun peradaban. Membangun dunia yang serasi selaras dengan membangun akhirat Kami. Rasanya, tidak berlebihan,  Saya dan team akan bangga jika menjadi bagian dari salah satu pilarnya.

Anda mau bersama membangun visi dunia akhirat ?

Mari kita tata kembali tujuan dan arah hidup kita. Agar setiap langkah bernilai ibadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *