Rezeki dari Sopir Angkot

batu malang

Cerita ini saya untai beberapa bulan lalu. Saya munculkan lagi sebagai pengingat saya pribadi. Harapannya, juga bagi para sahabat yang membacanya.

Bagaimana menyikapi hiruk pikuk dunia ini ? Rezeki dari Allah SWT selalu ada untuk kita.

 

Rezeki dari Sopir Angkot

by Ari Wijaya

 

Setelah ngobrol sama Ibu, saya berniat bersilaturahim dengan teman lama. Apalagi silaturahim itu disertai dengan hidangan rujak cingur, menambah semangat bergegas. Javanese salad pakai bumbu petis ini jadi penarik tambahan.  Taksi pun tak kunjung dapat dihubungi nomornya. Kalau istri tahu saya nelpon taksi, sudah pasti dapat sindiran.  Ia sering menyarankan naik public transport alias angkot atau bis.

Keputusan naik angkot akhirnya saya ambil. Secara teoritis, saya harus naik 3 kali angkot untuk mencapai tempat pertemuan. Angkot menuju Terminal Landungsari tak menemui kesulitan, nangkring sebentar di pinggir jalan, sudah ada yang menghampiri. Landungsari menuju Batu yang menguji kesabaran. Angkot banyak jumlahnya, tapi kosong. Alhasil, menunggu antrian yang lama. Antrian berjejer. Banyak makna. Apakah ekonomi sedang lesu ? Jam yang tidak pas ? Banyak hal. Tapi saya tidak mau berlama-lama kebingungan. Bisa terlambat meemnuhi janji. Saya cari yang tidak antri, tetapi semuanya wait and see. Tidak berani ambil risiko. Misal berangkat kosong, berharap ada penumpang di perjalanan. Nyeser kata arek Malang.

Entah kenapa, saya mengarah kepada salah satu angkot ungu. Saya perhatikan sopirnya ramah, terlihat wajahnya santai, tidak sangar. Sembari menunggu saya ajak obrol sang sopir sesuai dengan keinginan saya agar cepat tiba di tempat tujuan.

“Mas. Kalau penumpang penuh, berapa didapat sak tarikan (maksudnya satu rit) ?” tanya saya memulai pembicaraan agak serius.

“Ya, empat puluh ribu lah, Pak” tukas dia cepat.

Langsung dia Saya salami sembari menyodorkan selembar uang pecahan 50 ribu.

“Kalau segini cukup ? Sampeyan anter Aku ke Pesanggrahan, tapi langsung jalan sekarang. Tapi, kalau di jalan ada penumpang, silakan ambil” kata saya bak nego dengan supplier.

Lumayan memotong waktu tunggu. Kalau pun naik taksi, kira-kira juga segitu. Namun, insya Allah beda rasanya. Sedan sama mobil van alias angkot ya, jelas beda ya..

Sekedar memberikan gambaran, jika Anda pernah berkesempatan ke Jatim Park atau Kusuma Agro Wisata di Kota Wisata Batu, Pesanggrahan itu area yang letaknya sekira 2 KM ke arah Songgoriti. Masih di dalam kota.

Dia pun tersenyum dan langsung mengiyakan sembari berucap  Alhamdulillaah sebagai tanda syukur.

Sepanjang jalan dia bercerita tentang rezeki. Saya pun menyimaknya dengan seksama.

Dia sopir yang sudah 12 tahun di jalan. Punya anak yang duduk di kelas 8 alias 2 SMP. Hikmah rezeki dari Gusti Allah, dia pahami dengan sangat dalam. Sang sopir ini sering disuguhi peristiwa bahwa dalam narik angkot acapkali uang yang dibawa pulang pas untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pernah suatu siang, Ia sudah dapat target. Itu luar biasa. Acapkali sore menjelang isya’, baru target didapat. Ia berniat menambah jam narik sekira satu jam atau 2 rit. Batu-Landungsari pergi pulang. Maksud hatinya, lumayan lah buat nambah tabungan.

Apa hasilnya ?

Ternyata cuma dapat 2 penumpang, alias 8 ribu. Itu pun setara untuk beli bensin perjalanan tambahan tadi. Secara total hasilnya sama, namun waktu yang malah mengurangi waktu istirahatnya. Peristiwa itu sering dirasakan bahkan berulang kali. Ketika telah dicukupkan, tapi ada semacam ingin nambah, maka ternyata belum diijinkan Gusti Allah. Begitu tuturnya lirih. Sehingga ketika angka yang dikejar sudah di tangan, maka sejak saat itu, ia putuskan pulang. Bertemu istri dan anaknya. Rezeki dalam bentuk lain yang tentunya sulit diuangkan. Mendapati dan bersua keluarga dengan waktu yang lebih banyak.

Setelah sekira 15 menit berjalan, pas tanjakan sebelum Temas, ada satu penumpang naik.

Ia pun tertawa seakan menambah yakin dan membenarkan ceritanya sembari berkata :

“Alhamdulilaah. Ini lho Mas, apa yang Aku sampaikan tadi. Sampeyan sudah kasih uang. Sudah membolehkan Saya ambil penumpang di jalan. 1 rit ketutup, wis. Tinggal cari tambahan. Aku tadi berharap banget. Tapi coba, sepanjang jalan tadi, ya cuma satu orang ini, tho Pak ?” dia bertutur sembari menoleh dan manggut-manggut kepada Saya.

Saya pun memandangnya dengan senyum tanda sepakat. Memang sepanjang jalan tadi sepi. Penumpang tidak terlihat sepanjang perjalanan kami.

“Ini yang Aku sebut sudah ditakar cukup. Aku percaya banget itu. Aku nggak boleh maksa”, sambungnya.

Terlepas dari perbedaan pendapat dari sikapnya. Menurut hemat saya, ada satu hal yang dapat dipetik dari sopir angkot ini.

Rezeki merupakan salah satu rahasia Allah. Ia tidak bisa dikalkulasi dengaan nalar manusia. Seringkali ia bergerak diluar jangkauan nalar. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menyempurnakan ikhtiar, diperkuat dengan doa, dan tawakkal kepada Allah. Mas Sopir Angkot tadi telah melakukannya. Ia pun menyerahkan kepada Allah sisanya. Biarlah Allah yang Maha Mengatur. Ketika ikhtiar, doa serta tawakal telah dipersembahkan, Kita insya Allah diberikan kelapangan rezeki oleh Allah. Allah memberi karunia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan silaturahim saya kepada teman, jelas membawa rezeki. Salah satunya adalah reminder dari Sang Sopir Angkot sekaligus kuliah setara 1 SKS. Pelajaran tentang bagaimana memaknai rezeki Allah SWT.

Anda pun tak luput dari pergulatan menjemput rezeki Allah, bukan ?

Mari kita tata kembali niat, waktu, dan tentunya cara pandang kita. Dan tiada henti meningkatkan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah SWT.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.”

(Surah At-Talaq ayat 2-3)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *