Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer

Pada kesempatan lain, saya sempat mengajak diskusi Sigit Afrianto. Ia mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.  Saat ini ia seorang Pneumatics Engineering Specialist di Bombardier Aerospace, Canada.

Mas Sigit, begitu saya memanggilnya, pernah berkarya di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Ia salah satu anak bangsa yang unggul justru berkarya di luar negeri, karena di Indonesia tidak mendapat kesempatan sepadan dengan keahliannya. Hal itu terjadi, saat IPTN, boleh dikatakan, sengaja dikerdilkan. Ketika pembiayaan proyek yang membanggakan sekaligus menggetarkan dunia penerbangan tersebut dihentikan atas desakan IMF. Mas Sigit, saat ini berkarya di Bombardier, Canada.  Ia memiliki beberapa hak paten di bidang penerbangan.

“Pengalaman saya, sebagai tenaga profesional, kita perlu memiliki kompetensi atau keahlian dalam hal tertentu. Seorang specialist yang kompeten tidak akan bisa digantikan oleh ratusan orang yang tidak kompeten. Kita bisa memberikan solusi atau mengatasi masalah yang sebelumnya selalu dianggap sebagai suatu masalah besar oleh orang yang tidak kompeten. Hasil karyanya diakui oleh sejawat profesional lainnya. Dampak positifnya, perusahaan besar tidak akan segan untuk mentransfer (baca: memperkerjakan) dia dengan ‘harga’ yang besar untuk bisa memanfaatkan kompetensinya,” tutur Mas Sigit.

Shakuntala Devi, “Manusia Komputer” dari India pernah mengatakan :

“I cannot transfer my abilities to anyone, but I can think of quicker ways with which to help people develop numerical aptitude”.

Ia menguatkan pernyataannya dengan memberi contoh pada klub sepak bola profesional. Ketika ingin menjadi kampiun, selain meracik tim, memanfaatkan talenta yang ada, mereka juga membeli pemain baru. Biasanya pemain bintang. Pemain yang punya talenta di atas rata-rata. Marquee player yang bisa membangkitkan semangat pemain yang lain. Juga menjadi magnet pendukung. Pendukung adalah pemain ke-12. Termasuk juga mandatangkan keuangan bagi klub. Membludaknya penonton dan penjualan merchandise adalah other income. Darah bagi kelangsungan hidup klub sepakbola. Untuk itu, pemilik klub rela mengocek kantong sangat dalam.

Saya mencoba membuka mesin pencari Google untuk mencari informasi siapa pemain termahal saat ini. Ada nama yang disebut, Phillip Coutinho yang dibeli Barcelona dari Liverpool. Nilai transfernya Rp. 2,6 Triliun. Dahsyat. Angka yang lebih besar dari APBD Kota Malang tahun 2018.

Menurut Mas Sigit, selain kompetensi perlu kemampuan bekerja sama apalagi saat bekerja dalam satu tim. Kesuksesan akan lebih mudah diraih ketika berbagai kompetensi yang dimiliki karyawan bisa disinergikan. Mereka saling melengkapi dan mendukung untuk mencapai tujuan yang sama.

Ada tambahan yang tidak boleh dilupakan, bahwa kita perlu berpikiran positif dan terbuka. Terbuka utamanya sikap untuk menerima sesuatu yang baru. Ia memberikan kondisi saat ini, bahwa teknologi berkembang sangat pesat disebabkan inovasi dari orang yang mampu menemukan sesuatu yang baru. Lain daripada yang lain.

Di akhir kiriman WAnya, ia memberikan contoh nyata.

“Perusahaan tempat saya bekerja bersedia mengeluarkan biaya yang besar untuk mentransfer dan merelokasi expert dibidang aerospace,” pungkasnya.

Tertarik ?

Mari mengikuti  kisah lainnya. Tentu saja, saya berharap, sahabat berkenan menunggu buku yang akan terbit pada bulan Agustus 2018 ini.

Mohon doanya, semoga sajian cerita pengalaman dan juga buah pikir yang dituangkan menjadi salah satu sumber inspirasi.

One Reply to “Pemain Profesional (Tak) Bebas Transfer”

  1. Bagus sekali Sam Ari uraiannya, jadi lbh mengerti kenapa perusahaan besar maintain tenaga ahlinya dengan baik; itu jg krn untuk keberlangsungan hidup perusahaan itu sendiri.
    Semoga cerita2 positive sehari hari sprt ini dapat membangkitkan semangat kita semua bhw begitu luas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala… Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *