Perlukah Masjid Dibuka?

Perlukah Masjid Dibuka?

Perlukah Masjid Dibuka?
Oleh : Masturi Istamar Suhadi *)

Beberapa hari ini, kita disuguhkan informasi yang sungguh memilukan. Apa itu? Mal dibuka pada masa pandemi belum usai. Mereka berbondong-bondong. Seakan ada sesuatu yang sangat ingin diperoleh. Seperti layaknya bendera start lomba lari marathon dibuka atau  lampu Formula 1 atau MotoGP berwarna hijau. Mak brung !

Nha, timbul pertanyaan besar yang langsung bertubi-tubi kepada saya.

“Kenapa Masjid ditutup, tapi mal, tempat, pasar dan gedung bioskop tetap dibuka?”

“Ayo ustadz, masjid kita ini, kita buka lagi. Kita sholat berjamaah lagi. Kami rindu, ustadz”.

Perkenankan saya dengan segala kerendahan hati, menanggapi hal seperti ini. Saya berpendapat mari kita kembalikan kepada ilmu syariat. Dalam kondisi seperti ini, ilmu syariat mengajarkan untuk tidak berkumpul-kumpul dan tetap menjaga social distancing.

Kita melaksanakan social distancing bukan karena ikut-ikutan atau karena emosi apalagi perasaan. Sekali lagi, rindu itu perasaan. Kangen idem ditto.

Mari kita ingat kembali, kita melakukan itu karena ibadah dan ilmu syariah yang mengajarkan kita untuk tidak membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.

لا ضرر ولا ضرارا.
Tidak bahaya dan tidak memberikan bahaya.

Jadi, saudaraku, sahabat-sahabat semua, apakah ketika mal dan gedung bioskop tetap dibuka kita layak ngiri? Tidak. Nggak perlu.

Mari kita merenung dan berpikir sejenak.

Ketika mal itu dibuka. Siapa yang mendapatkan bahaya? Pengunjung.
Kalau terpapar penyakit Covid19 siapa yang rugi? Pengunjung.
Siapa yang rugi? Pengunjung.
Apakah pemilik mal dan pemilik gedung bioskop dirugikan ketika pengunjung menjadi penderita pandemi? Tidak.
Apakah ketika pengunjung itu dirawat karena menderita Covid19 pemilik mall dan pemilik gedung bioskop dirugikan? Tidak.
Apakah ketika pengunjung menderita Covid19 dan mengeluarkan biaya pengobatan sendiri merugikan pemilik Mall dan gedung bioskop? Tidak.
Apakah ketika semua pengunjung mal dan gedung bioskop meninggal, pemilik mal dan gedung bioskop ikut bertanggung jawab dan nemberikan kepeduliannya? Tidak sama sekali. Sepeser pun mereka tidak akan mengeluarkan uang. Dan tidak akan memgeluarkan uang. Yang ada pada otak mereka itu bagaimana bisa mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya sekalipun di atas penderitaan orang lain. Naudzubillah min dzalik.

Bagaimana dengan masjid?

Masjid, pengurus masjid dan jamaah masjid selalu memberikan yang terbaik. Sebisa yang mereka lakukan. Kala ada yang kesulitan ekonomi, mereka berusaha untuk saling bantu, ketika ada yang sakit, mereka berusaha saling meringankan. Ketika ada yang meninggal dunia, paling tidak mereka membacakan doa dan mengantar ke kuburan. Itulah sebabnya mereka melaksanakan kaidah :
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Menghindari kerusakan diutamakan atas berbagai maslahah.

Menjaga nyawa adalah primer ( الضروريات ) yang didahulukan atas syiar agama ( الشعائر ). Kondisi seperti saat ini, syiar agama merupakan sekunder ( الحاجيات ).

Apakah itu bisa dibandingkan antara mal dan masjid? Jelas tidak. Beda banget.
Ditambah lagi bagi seorang muslim yang berakal dan punya pemahaman, bila tahu ada berkembangnya Covid19 dan membahayakan maka ia tidak akan menceburkan dirinya pada hal yang merusak.

Karena dia paham perintah Allah SWT:
ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة
Janganlah kalian menjerumuskan diri kalian pada kehancuran.

Kala kita tahu bahwa penyebaran Covid19 itu dengan jarak dekat, maka kita tidak akan melakukan itu. Karena itu membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sebagai penutup, kalau diperhatikan kondisi kedisinian dan kekinian, dan maraknya ajakan provokatif untuk membuka masjid dalam kondisi seperti ini, saya meragukan ajakan itu. Sekali lagi dengan segala kerendahan hati. Entah itu bersumber dari orang atau lembaga. Ajakan itu perlu ditolak. Sekali lagi tolak. Saya khawatir, ada pihak-pihak yang sengaja membenturkan semua unsur anak bangsa ini. Waspadalah.

Mari kita tetap bersyukur. Mari kita jaga Indonesia. Kita pahami. Kita pahamkan sekeliling kita. Karena sahabat-sahabat adalah SDM yang unggul. Indonesia sehat. Indonesia maju.

Semoga sedikit penjelasan ini bisa menambah wawasan dan mengembalikan logika kita. Tidak gampang baper, iri, apalagi emosional.

 

*) Masturi Istamar Suhadi, Lc., M.Phil. adalah Dosen dan juga Direktur Eksekutif Komite Kemanusiaan Indonesia. Beliau Alumni Gontor, Universitas Al Azhar, Mesir dan International Islamic University Islamabad, Pakistan.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leave a Reply

ten − 7 =